background image
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
181
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
182
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan pembunuh nomor
satu di banyak negara maju, bahkan di negara berkembang, seperti
Indonesia, angka kejadian penyakit jantung koroner selama 5 tahun
terakhir menduduki peringkat pertama sebagai pembunuh nomor
satu dan ke depan akan makin meningkat dengan adanya pola
makan serba lemak dan instan serta kemudahan yang membuat
manusia makin malas beraktifitas fisik.
Awal penyakit jantung koroner adalah akumulasi lipoprotein
yang teroksidasi pada dinding arteri yang berkembang menjadi
plak atherosklerotik, Pada suatu saat plak tersebut akan meng-
hambat aliran darah dan menyebabkan thrombus dan akan
bermanifestasi sebagai nyeri dada bila sumbatan terdapat di
pembuluh koroner.
1
Faktor risiko PJK antara lain: dislipidemia, diit atherogenik, merokok,
hipertensi, sindrom metabolik, resistensi insulin, diabetes, inakti-
vitas, obesitas, stres mental, dan depresi. Menurut studi Framing-
ham terdapat 4 variabel yang merupakan prediktor terjadinya
PJK yaitu: umur, kadar kolesterol plasma total, kadar HDL-C
plasma, dan tekanan darah; dibedakan antara pria dan wanita.
Terdapat faktor yang lebih mendasar, yaitu kadar LDL kolesterol
(LDL-C) plasma karena awal terbentuknya atherosklerosis adalah
LDL-C yang teroksidasi dan small dense LDL yang terakumulasi
dalam dinding arteri.
4
DEFINISI DAN KLASIFIKASI
Lemak dapat larut dalam darah karena berikatan dengan apoprotein
membentuk lipoprotein. Terdapat berbagai jenis lipoprotein menurut
kandungan lemak dan apoproteinnya (tabel 1).
1
Lipoprotein
adalah kompleks makromolekul yang membawa lemak plasma
hidrofobik, yaitu kolesterol dan trigliserida, dalam darah.
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang ditandai
dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lemak dalam
plasma. Kelainan fraksi lemak yang utama adalah kenaikan
kadar kolesterol total (total-C), kolesterol LDL (LDL-C), trigliserida
(TG), serta penurunan kadar kolesterol HDL (HDL-C).
Lebih dari separuh angka kejadian penyakit jantung koroner di
Amerika Serikat disebabkan oleh kelainan metabolisme lemak
plasma dan lipoprotein. Peningkatan lipoprotein merefleksikan
pola hidup tidak sehat, obesitas, diit tinggi lemak pada individu
dengan kelainan metabolisme lemak yang berawal dari defek
tingkat genetik.
2
Tabel 1. Jenis Lipoprotein, Apoprotein dan Kandungan Lipid
Kadar LDL-C dapat dihitung melalui rumus: LDL-C = total choles-
terol (triglycerides/5) HDL-C.Kadar VLDL-C dapat diketahui
melalui estimasi TG/5. Rumus ini cukup akurat apabila diperiksa
saat puasa dan kadar TG tidak melebihi 300 mg/dl.
2
Untuk kepentingan klinis, National Cholesterol Education Program-
Adult Treatment Panel III telah membuat klasifikasi pada tahun
2001 (Tabel 2).
3
Tabel 2. Klasifikasi Kadar Lipoprotein (mg/dl)
PATOGENESIS ATHEROSKLEROSIS
8
Struktur normal arteri
Dinding arteri terdiri dari struktur tri-laminar, yaitu: tunika intima,
tunika media, tunika adventitia. Pada tunika intima terdapat
lapisan sel endotel yang selalu kontak dengan aliran darah. Sel
endotel banyak berperan dalam homeostasis vaskular.
Inisiasi proses atherosklerosis
Pada awalnya terjadi akumulasi partikel kecil LDL-C pada intima
yang dipicu oleh diit atherogenik. Lipoprotein ini akan melekat
pada dinding proteoglikan intima; suatu saat akan melewati
dinding intima sehingga berada dalam dinding arteri.
LDL-C dapat terikat dan menembus dinding proteoglikan karena
reaksi oksidasi atau proses kimia lain. Proses ini diyakini oleh banyak
peneliti sebagai komponen penting di awal atherosklerosis. Studi
lain berpendapat bahwa peningkatan permeabilitas dinding
endotel di daerah yang terakumulasi LDL-C juga penting. Kontributor
reaksi oksidasi adalah oksidasi NADH/NADPH yang dibangkitkan
oleh sel vaskular, lipooksigenase yang dibangkitkan oleh sel leukosit,
atau pengaruh enzim myeloperoksidase.
Rekruitmen leukosit
Setelah LDL-C berada dalam dinding arteri, akan terjadi rekruitmen
dan akumulasi leukosit pada endotel yang akan menembus
melalui celah antar sel. Pada sel endotel yang normal hal ini tidak
terjadi. Setelah leukosit menembus dinding arteri, monosit akan
ikut bermigrasi ke dalam dinding ateri, karena respon sitokin
mengubah monosit menjadi makrofag yang akan memfagositosis
LDL teroksidasi dan terbentuklah sel busa. Sel busa merupakan
sumber berbagai mediator seperti sitokin dan molekul efektor;
mediator tersebut mempengaruhi sel otot polos sehingga ber-
migrasi ke tunika intima membentuk matriks ekstraselular yang
makin terakumulasi dan membentuk plak atherosklerosis. Selanjutnya
plak akan berevolusi menjadi fibro-fatty lesion. Pada tahap akhir
akan terjadi kalsifikasi dan fibrosis berlanjut membentuk kapsul
yang mengandung lipid-rich core dan sel-sel mati.
PENGARUH DISLIPIDEMIA TERHADAP ATHEROSKLEROSIS
LDL-C sebagai faktor utama pembentukan atherosklerosis
4
Kenaikan serum LDL-C pada binatang dapat menginisiasi
atherosklerosis. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa
peningkatan LDL-C saja, tanpa faktor risiko lain, sudah dapat
menyebabkan atherosklerosis. Mekanismenya adalah karena
deposit LDL-C di dinding arteri bersifat pro-inflamasi: respon
inflamasi kronik yang mengawali terjadinya atherosklerosis.
Peningkatan LDL-C juga bertanggung jawab terhadap semua
fase atherosklerosis: disfungsi endotel, pembentukan dan
pertumbuhan plak, ketidakstabilan dan rupturnya dinding plak,
dan trombosis. Peningkatan LDL-C plasma menyebabkan retensi
LDL-C di dinding arteri, lalu teroksidasi dan menyebabkan sekresi
mediator inflamasi. Penurunan LDL-C dapat mengembalikan
fungsi endotel.
Trigliserida
Secara patofisilogi kadar TG tidak berhubungan langsung dengan
atherosklerosis, tetapi secara klinis dapat membantu mengeta-
hui faktor risiko terhadap PJK karena kadar TG darah cenderung
berubah secara terbalik dengan kadar HDL-C darah.
5
Abnormalitas TG-HDL axis lebih sering ditemukan pada pasien
PJK atau dengan faktor risko PJK daripada peningkatan LDL-C.
Data pada literatur tentang intervensi farmakologis TG-HDL axis
masih sedikit dibanding dengan data mengenai LDL-C. Obat
primer untuk intervensi TG-HDL axis adalah fibrat, asam nikotinat,
asam lemak omega 3.
6
Peningkatan kadar TG sering ditemukan pada penderita
sindroma metabolik, diabetes, obesitas sentral, diit tinggi kalori,
karbohidart dan asam lemak jenuh. Peningkatan kadar TG yang
sangat tinggi dapat ditemukan pada penyakit genetik dan diabe-
tes tidak terkontrol.
7
HDL7
Kadar HDL-C yang rendah secara konsisten berhubungan
dengan progresifitas PJK. Penurunan HDL-C disebabkan oleh
Dislipidemia Sebagai Faktor Risiko Utama
Penyakit Jantung Koroner
Sany Rahmawansa S.
Dokter Umum RS Krian Husada, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur
ABSTRAK
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi
lemak dalam plasma.. Penelitian terbaru kedokteran molekuler menemukan bahwa dislipidemia yang paling berbahaya
adalah dislipidemia atherogenik. Deposit kolesterol LDL pada dinding arteri menyebabkan disfungsi endotel, melalui
berbagai mekanisme membentuk plak atherosklerosis. Penyakit jantung koroner terjadi akibat plak atherosklerosis
pada arteri koroner. Panduan NCEP ATP III 2004 mempermudah klinisi dalam menangani penderita dislipidemia.
Sistematisasi dalam manajemen dislipidemia adalah stratifikasi risiko, penentuan target, dan tatalaksana terapi non
farmakologis dan farmakologis.
Kata kunci :
dislipidemia, LDL kolesterol, HDL kolesterol, atherosklerosis, penyakit jantung koroner, panduan NCEP ATP III 2004.
Kandungan Lipid (%)
Jenis
Lipoprotein
Kilomikron
VLDL
IDL
LDL
HDL
Jenis
Apoprotein
Apo-B48
Apo-B-100
Apo-B-100
Apo B-100
Apo-Al & Apo-All
Trigliserida
80-95
55-80
20-50
5-15
5-10
Kolesterol
2-7
5-15
10-20
20-40
15-25
Fosfolipid
3-9
10-20
15-25
20-25
20-30
Kolesterol Total
< 200
200-239
> 240
Kolesterol LDL
< 100
100-129
130-159
160-189
> 190
Kolesterol HDL
< 40
> 60
Trigliserida
< 150
150-199
200-499
> 500
Yang diinginkan
Batas tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Normal
Batas tinggi
Tinggi
Sangat tinggi
Optimal
Mendekati Optimal
Batas tinggi
Tinggi
Sangat Tinggi
background image
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
181
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
182
TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan pembunuh nomor
satu di banyak negara maju, bahkan di negara berkembang, seperti
Indonesia, angka kejadian penyakit jantung koroner selama 5 tahun
terakhir menduduki peringkat pertama sebagai pembunuh nomor
satu dan ke depan akan makin meningkat dengan adanya pola
makan serba lemak dan instan serta kemudahan yang membuat
manusia makin malas beraktifitas fisik.
Awal penyakit jantung koroner adalah akumulasi lipoprotein
yang teroksidasi pada dinding arteri yang berkembang menjadi
plak atherosklerotik, Pada suatu saat plak tersebut akan meng-
hambat aliran darah dan menyebabkan thrombus dan akan
bermanifestasi sebagai nyeri dada bila sumbatan terdapat di
pembuluh koroner.
1
Faktor risiko PJK antara lain: dislipidemia, diit atherogenik, merokok,
hipertensi, sindrom metabolik, resistensi insulin, diabetes, inakti-
vitas, obesitas, stres mental, dan depresi. Menurut studi Framing-
ham terdapat 4 variabel yang merupakan prediktor terjadinya
PJK yaitu: umur, kadar kolesterol plasma total, kadar HDL-C
plasma, dan tekanan darah; dibedakan antara pria dan wanita.
Terdapat faktor yang lebih mendasar, yaitu kadar LDL kolesterol
(LDL-C) plasma karena awal terbentuknya atherosklerosis adalah
LDL-C yang teroksidasi dan small dense LDL yang terakumulasi
dalam dinding arteri.
4
DEFINISI DAN KLASIFIKASI
Lemak dapat larut dalam darah karena berikatan dengan apoprotein
membentuk lipoprotein. Terdapat berbagai jenis lipoprotein menurut
kandungan lemak dan apoproteinnya (tabel 1).
1
Lipoprotein
adalah kompleks makromolekul yang membawa lemak plasma
hidrofobik, yaitu kolesterol dan trigliserida, dalam darah.
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang ditandai
dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lemak dalam
plasma. Kelainan fraksi lemak yang utama adalah kenaikan
kadar kolesterol total (total-C), kolesterol LDL (LDL-C), trigliserida
(TG), serta penurunan kadar kolesterol HDL (HDL-C).
Lebih dari separuh angka kejadian penyakit jantung koroner di
Amerika Serikat disebabkan oleh kelainan metabolisme lemak
plasma dan lipoprotein. Peningkatan lipoprotein merefleksikan
pola hidup tidak sehat, obesitas, diit tinggi lemak pada individu
dengan kelainan metabolisme lemak yang berawal dari defek
tingkat genetik.
2
Tabel 1. Jenis Lipoprotein, Apoprotein dan Kandungan Lipid
Kadar LDL-C dapat dihitung melalui rumus: LDL-C = total choles-
terol (triglycerides/5) HDL-C.Kadar VLDL-C dapat diketahui
melalui estimasi TG/5. Rumus ini cukup akurat apabila diperiksa
saat puasa dan kadar TG tidak melebihi 300 mg/dl.
2
Untuk kepentingan klinis, National Cholesterol Education Program-
Adult Treatment Panel III telah membuat klasifikasi pada tahun
2001 (Tabel 2).
3
Tabel 2. Klasifikasi Kadar Lipoprotein (mg/dl)
PATOGENESIS ATHEROSKLEROSIS
8
Struktur normal arteri
Dinding arteri terdiri dari struktur tri-laminar, yaitu: tunika intima,
tunika media, tunika adventitia. Pada tunika intima terdapat
lapisan sel endotel yang selalu kontak dengan aliran darah. Sel
endotel banyak berperan dalam homeostasis vaskular.
Inisiasi proses atherosklerosis
Pada awalnya terjadi akumulasi partikel kecil LDL-C pada intima
yang dipicu oleh diit atherogenik. Lipoprotein ini akan melekat
pada dinding proteoglikan intima; suatu saat akan melewati
dinding intima sehingga berada dalam dinding arteri.
LDL-C dapat terikat dan menembus dinding proteoglikan karena
reaksi oksidasi atau proses kimia lain. Proses ini diyakini oleh banyak
peneliti sebagai komponen penting di awal atherosklerosis. Studi
lain berpendapat bahwa peningkatan permeabilitas dinding
endotel di daerah yang terakumulasi LDL-C juga penting. Kontributor
reaksi oksidasi adalah oksidasi NADH/NADPH yang dibangkitkan
oleh sel vaskular, lipooksigenase yang dibangkitkan oleh sel leukosit,
atau pengaruh enzim myeloperoksidase.
Rekruitmen leukosit
Setelah LDL-C berada dalam dinding arteri, akan terjadi rekruitmen
dan akumulasi leukosit pada endotel yang akan menembus
melalui celah antar sel. Pada sel endotel yang normal hal ini tidak
terjadi. Setelah leukosit menembus dinding arteri, monosit akan
ikut bermigrasi ke dalam dinding ateri, karena respon sitokin
mengubah monosit menjadi makrofag yang akan memfagositosis
LDL teroksidasi dan terbentuklah sel busa. Sel busa merupakan
sumber berbagai mediator seperti sitokin dan molekul efektor;
mediator tersebut mempengaruhi sel otot polos sehingga ber-
migrasi ke tunika intima membentuk matriks ekstraselular yang
makin terakumulasi dan membentuk plak atherosklerosis. Selanjutnya
plak akan berevolusi menjadi fibro-fatty lesion. Pada tahap akhir
akan terjadi kalsifikasi dan fibrosis berlanjut membentuk kapsul
yang mengandung lipid-rich core dan sel-sel mati.
PENGARUH DISLIPIDEMIA TERHADAP ATHEROSKLEROSIS
LDL-C sebagai faktor utama pembentukan atherosklerosis
4
Kenaikan serum LDL-C pada binatang dapat menginisiasi
atherosklerosis. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa
peningkatan LDL-C saja, tanpa faktor risiko lain, sudah dapat
menyebabkan atherosklerosis. Mekanismenya adalah karena
deposit LDL-C di dinding arteri bersifat pro-inflamasi: respon
inflamasi kronik yang mengawali terjadinya atherosklerosis.
Peningkatan LDL-C juga bertanggung jawab terhadap semua
fase atherosklerosis: disfungsi endotel, pembentukan dan
pertumbuhan plak, ketidakstabilan dan rupturnya dinding plak,
dan trombosis. Peningkatan LDL-C plasma menyebabkan retensi
LDL-C di dinding arteri, lalu teroksidasi dan menyebabkan sekresi
mediator inflamasi. Penurunan LDL-C dapat mengembalikan
fungsi endotel.
Trigliserida
Secara patofisilogi kadar TG tidak berhubungan langsung dengan
atherosklerosis, tetapi secara klinis dapat membantu mengeta-
hui faktor risiko terhadap PJK karena kadar TG darah cenderung
berubah secara terbalik dengan kadar HDL-C darah.
5
Abnormalitas TG-HDL axis lebih sering ditemukan pada pasien
PJK atau dengan faktor risko PJK daripada peningkatan LDL-C.
Data pada literatur tentang intervensi farmakologis TG-HDL axis
masih sedikit dibanding dengan data mengenai LDL-C. Obat
primer untuk intervensi TG-HDL axis adalah fibrat, asam nikotinat,
asam lemak omega 3.
6
Peningkatan kadar TG sering ditemukan pada penderita
sindroma metabolik, diabetes, obesitas sentral, diit tinggi kalori,
karbohidart dan asam lemak jenuh. Peningkatan kadar TG yang
sangat tinggi dapat ditemukan pada penyakit genetik dan diabe-
tes tidak terkontrol.
7
HDL7
Kadar HDL-C yang rendah secara konsisten berhubungan
dengan progresifitas PJK. Penurunan HDL-C disebabkan oleh
Dislipidemia Sebagai Faktor Risiko Utama
Penyakit Jantung Koroner
Sany Rahmawansa S.
Dokter Umum RS Krian Husada, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur
ABSTRAK
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi
lemak dalam plasma.. Penelitian terbaru kedokteran molekuler menemukan bahwa dislipidemia yang paling berbahaya
adalah dislipidemia atherogenik. Deposit kolesterol LDL pada dinding arteri menyebabkan disfungsi endotel, melalui
berbagai mekanisme membentuk plak atherosklerosis. Penyakit jantung koroner terjadi akibat plak atherosklerosis
pada arteri koroner. Panduan NCEP ATP III 2004 mempermudah klinisi dalam menangani penderita dislipidemia.
Sistematisasi dalam manajemen dislipidemia adalah stratifikasi risiko, penentuan target, dan tatalaksana terapi non
farmakologis dan farmakologis.
Kata kunci :
dislipidemia, LDL kolesterol, HDL kolesterol, atherosklerosis, penyakit jantung koroner, panduan NCEP ATP III 2004.
Kandungan Lipid (%)
Jenis
Lipoprotein
Kilomikron
VLDL
IDL
LDL
HDL
Jenis
Apoprotein
Apo-B48
Apo-B-100
Apo-B-100
Apo B-100
Apo-Al & Apo-All
Trigliserida
80-95
55-80
20-50
5-15
5-10
Kolesterol
2-7
5-15
10-20
20-40
15-25
Fosfolipid
3-9
10-20
15-25
20-25
20-30
Kolesterol Total
< 200
200-239
> 240
Kolesterol LDL
< 100
100-129
130-159
160-189
> 190
Kolesterol HDL
< 40
> 60
Trigliserida
< 150
150-199
200-499
> 500
Yang diinginkan
Batas tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi
Normal
Batas tinggi
Tinggi
Sangat tinggi
Optimal
Mendekati Optimal
Batas tinggi
Tinggi
Sangat Tinggi
background image
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
184
TINJAUAN PUSTAKA
peningkatan kadar TG plasma atau apo-B dan berinteraksi dengan
faktor risiko lain yang termasuk dalam sindrom metabolik. Secara
umum, setiap kenaikan kadar HDL-C sebesar 1 mg/dl dapat
menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 2-3%. HDL
menurunkan kadar kolesterol melalui transpor keluar dinding sel
dan meningkatkan katabolisme kolesterol di perifer. HDL juga
membawa enzim antioksidan sehingga dapat menurunkan
fosfolipid yang teroksidasi di lesi atheromatous. Pada NCEP-ATP
III guideline HDL dikategorikan sebagai faktor risiko negatif, yang
akan mengurangi risiko bila kadarnya tinggi.
Dislipidemia atherogenik: hipertrigliseridemia, kadar HDL
rendah, small dense LDL
4
Kombinasi antara peningkatan trigliserida, small dense LDL, dan
kadar HDL-C rendah disebut dislipidemia atherogenik. Keadaan
tersebut merupakan hasil gangguan metabolik yang berkorelasi
dengan resistensi insulin.
KOMPLIKASI ATHEROSKLEROSIS
9
Komplikasi atherosklerosis adalah stenosis arteri, thrombosis, plak
ruptur, thrombosis karena erosi superfisial plak, radang sistemik
dan difus akibat atherogenesis, ketidakstabilan plak selama athero-
genesis. Stenosis pembuluh darah koroner akan menyebabkan
penyakit jantung koroner.
Stratifikasi risiko penderita penyakit jantung koroner
(NCEP ATP III 2004)
3
Hal terpenting sebelum memulai pengobatan dislipidemia ialah
menentukan besarnya risiko PJK (stratifikasi risiko). Stratifikasi
risiko ini diperlukan untuk menentukan target LDL-C. Setelah
pemeriksaan laboratoris, tentukan adanya penyakit atherosklerosis
secara klinis melalu temuan adanya gejala PJK, penyakit arteri
karotis, penyakit arteri perifer dan aneurisma aorta abdominal.
Selanjutnya tentukan adanya faktor risiko mayor (tabel 3).
Tabel 3. Faktor risiko mayor yang mempengaruhi target LDL-C
Sasaran kadar LDL-C disesuaikan dengan banyaknya faktor risiko.
Faktor risiko dibagi 5 kategori (NCEP ATP III 2004):
1. Sangat tinggi: ditemukan gejala menetap PJK dengan:
a. Faktor risiko mayor multipel (terutama diabetes)
b. Faktor risiko berat dan tidak terkontrol (terutama merokok)
c. Faktor risiko multipel dari sindrom metabolik (terutama
kadar trigliserida >200 mg/dL, non HDL-C >130 mg/dL
dan HDL-C rendah <40 mg/dL)
d. Penderita dengan sindrom koroner akut.
2. Tinggi: menderita PJK atau faktor risiko yang setara PJK
(atherosklerosis non koroner, diabetes, faktor risiko multipel
2+ dengan kriteria Framingham 10 tahun risiko PJK >20%)
3. Tinggi sedang : faktor risiko multipel 2+ dan kriteria Framing-
ham 10 tahun risiko PJK 10%-20%
4. Sedang : faktor risiko multipel 2+, pada kriteria Framingham
10 tahun risiko PJK <10%
5. Rendah : Nol sampai satu (0-1) faktor risiko
Panduan NCEP ATP III merekomendasikan kriteria Framingham untuk
menentukan kategori faktor risiko pada penderita dengan 2+
faktor risiko sehingga terbagi lagi menjadi 3 kategori berdasarkan
risiko 10 tahun mendapatkan PJK berat (infark miokard akut, kematian
akibat PJK): tinggi ( >20%), sedang (10-20%), rendah ( <10%).
Sasaran pengobatan berdasar faktor risiko berdasar
panduan NCEP ATP III 2004
3
Sasaran primer pengobatan dislipidemia adalah LDL-C dan sasaran
sekunder adalah non HDL-C. Non HDL-C adalah VLDL + LDL-C.
Target terapi non HDL-C 30 mg/dL lebih tinggi dari target LDL-C.
Sasaran non HDL-C ditetapkan bila terdapat peningkatan kadar
trigliserida (>200 mg/dL) karena pada hipertriglisedemia lipopro-
tein yang potensil atherogenik meningkat.
Tabel 4. Sasaran Kadar LDL-C Serta Batasan untuk Mulai Perubahan Gaya Hidup
dan Pemberian obat
2,5
Tatalaksana dislipidemia
3
Secara umum pengobatan dibagi non-farmakologis (perubahan
gaya hidup) dan farmakologis.
Terapi non-farmakologis adalah terapi gaya hidup, yaitu:
· Diit rendah lemak, rendah kolesterol, tinggi serat
· Penyesuaian berat badan ideal sesuai Body Mass Index.
· Peningkatan aktivitas fisik.
Terapi gaya hidup esensial diterapkan sebagai terapi awal. Terapi
farmakologis dapat diberikan jika setelah 3 bulan terapi gaya
hidup tidak menurunkan kadar LDL-C. Semua penderita risiko
tinggi atau risiko tinggi sedang dengan faktor risiko gaya hidup
(obesitas, inaktivitas, kadar trigliserida tinggi, HDL-C rendah,
sindrom metabolik) adalah kandidat terapi gaya hidup tanpa
melihat kadar LDL-C.
Obat pada terapi farmakologis terutama HMG CoA reductase
inhibitor (statin). (tabel 5). Pada penderita risiko tinggi atau
risiko tinggi sedang sangat dianjurkan pemberian intensif untuk
menurunkan kadar LDL-C 30%-40% dari kadar semula.
Tabel 5. Dosis standar Statin yang dapat menurunkan LDL-C 30%-40%.
Pada penderita risiko sangat tinggi terapi gaya hidup dan terapi
farmakologis dilakukan secara simultan. Target LDL-C adalah <
70 mg/dL.
Pada penderita risiko tinggi jika kadar LDL-C >100 mg/dL maka
terapi gaya hidup dan terapi farmakologis dilakukan secara
simultan. Jika kadar LDL-C awal < 100 mg/dL pada risiko tinggi
dengan menggunakan obat penurun LDL-C, maka target < 70
mg/dL adalah opsional. Apabila pada penderita risiko tinggi
didapatkan kadar trigliserida tinggi atau kadar HDL-C rendah,
dapat diberikan kombinasi obat penurun LDL-C dengan fibrat
atau asam nikotinat.
Pada penderita risiko tinggi-sedang, pengobatan awal adalah
terapi gaya hidup jika kadar LDL-C >130 mg/dL. Apabila kadar
LDL-C menetap baru dilakukan terapi farmakologis. Apabila
kadar LDL-C normal atau < 130 mg/dL tetapi terdapat faktor
risiko gaya hidup maka terapi gaya hidup harus dimulai.
Pada penderita dengan risiko tinggi sedang dengan kadar LDL-C
awal 100-129 mg/dL atau sedang dalam pengobatan, maka
target LDL-C < 100 mg/dL adalah opsional.
SIMPULAN
· Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang
ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi
lemak
plasma
· Kelainan fraksi lemak yang utama adalah kenaikan kadar
kolesterol total (total-C), kolesterol LDL (LDL-C), trigliserida
(TG), serta penurunan kadar kolesterol HDL (HDL-C).
· Kolesterol LDL adalah faktor utama dalam pembentukan plak
atherogenik.
· Proses pembentukan atherosklerosis adalah deposit kolesterol
pada dinding arteri sehingga terjadi respon inflamasi kronik
yang mengakibatkan disfungsi endotel, melalui bebagai
mekanisme terbentuk plak atherosklerosis.
· Penyakit jantung koroner adalah akibat terbentuknya plak
atherosklerosis
pada
arteri
koroner.
· Panduan NCEP ATP III 2004 merupakan manajemen dislipi-
demia
yang
evidence based.
· Panduan NCEP ATP III berdasarkan stratifikasi risiko, penentuan
target LDL-C, dan tatalaksana dislipidemia dengan terapi non
farmakologis
dan
farmakologis.
· Target primer adalah LDL-C, target sekunder adalah non HDL-C.
· Terapi non-farmakologis adalah terapi gaya hidup, yaitu: 1.diit
rendah lemak, rendah kolesterol, tinggi serat ;2.Penyesuaian
berat badan ideal sesuai Body Mass Index; 3.Peningkatan
aktivitas
fisik.
· Terapi farmakologis dapat diberikan apabila setelah 3 bulan
terapi gaya hidup tidak menurunkan kadar LDL-C. Obat yang
digunakan
terutama
HMG CoA reductase inhibitor (statin).
DAFTAR PUSTAKA
1. Adam JMF, Soegondo S, Semiardji G, et al. Petunjuk Praktis Penatalaksanaan
Dislipidemia, PB. PERKENI 2004; 1, 5-6.
2. Braunwald E, Hauser SL, Fauci A, Longo DL et al. The pathogenesis, preven-
tion, and treatment of atherosclerosis. In: Harrison»s Principles of Internal
Medicine, 17th ed. Vol.2, Mc Graw-Hill 2008;235.
3. Grundy M S, Cleeman IJ, Merz CNB et al. Implications of Recent Clinical Trials
for the National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III
Guidelines. Circulation 2004; 110:227-239.
4. Maron D J, Ridker PM, Grundy SM et al. Preventing strategies for coronary
heart disease, in: Hurst»s the Heart. 12th ed. Vol.1, Mc Graw-Hill 2008;1203-10.
5. Genest J, Libby P. Lipoprotein disorders and cardiovascular disease. In:
Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 8th ed.,
Mc-Graw Hill 2008;42
6. Braunwald E, Hauser SL, Fauci A, Longo DL et al. Disorder of lipoprotein
metabolism, in: Harrison»s Principles of Internal Medicine, 17th ed. Vol.2.
Mc Graw-Hill 2008;350.
7. Ridker PM, Libby P. Risk Factors for Atherothrombotic Disease. In: Braunwald's
Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 8th ed. Mc-Graw Hill
2008;39
8. Libby P. Atherosclerosis initiation. In: Braunwald's Heart Disease: A Textbook
of Cardiovascular Medicine, 8th ed., Mc-Graw Hill 2008.
9. Libby P. Complication of atherosclerosis.In: Braunwald's Heart Disease:
A Textbook of Cardiovascular Medicine, 8th ed., Mc-Graw Hill 2008.
·
Merokok
·
Hipertensi (Tekanan darah >140/90 mmHg atau sedang dalam pengobatan
antihipertensi)
·
HDL-C rendah (<40 mg/dL)
·
Diabetes
mellitus
·
Riwayat keluarga kejadian PJK prematur
PJK pada kerabat pria 1 tingkat <55 tahun
PJK pada kerabat wanita 1 tingkat <65 tahun
·
Umur
(pria
>45 tahun; wanita >55 tahun)
·
Faktor gaya hidup
·
Obesitas
(BMI
>30 kg/m2)
·
Inaktivitas
·
Diit
atherogenik
·
Faktor risiko lain
Lipoprotein(a)
Homocysteine
Faktor
Prothrombotik
Faktor
Proinflammatory
Gangguan
toleransi
glukosa
Atherogenesis
subklinis
Obat
Atorvastatin
Lovastatin
Pravastatin
Simvastatin
Fluvastatin
Rosuvastatin
Dosis, mg/hari
10
40
40
20 - 40
40 - 80
5 - 10
Penurunan LDL-C, %
39
31
34
35 - 41
25 - 35
39 - 45
183
Kelompok
Risiko
Risiko sangat
tinggi
Risiko tinggi
Risiko
tinggi-sedang
Risiko sedang
Risiko rendah
Sasaran
LDL-C (mg/dL)
<70
< 100
(target
opsional LDL-C
<70mg/dL)
< 130
(target opsional
LDL-C <1
00
mg/dL)
< 130
< 160
Kadar LDL-C
saat harus
dimulai
perubahan
gaya hidup
(mg/dL)
> 70
> 100
> 130
> 130
> 160
Kadar LDL-C saat
perlu dipertimbangkan
pemberian obat
(mg/dL)
> 70
>100
(<100mg/dL dapat
dipertimbangkan pemberian
obat)
> 130
(100-129mg/dL dapat
dipertimbangkan pemberian
obat)
> 160
> 190
(160-189 mg/dL: obat
penurun LDL dapat
dipertimbangkan)
background image
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
184
TINJAUAN PUSTAKA
peningkatan kadar TG plasma atau apo-B dan berinteraksi dengan
faktor risiko lain yang termasuk dalam sindrom metabolik. Secara
umum, setiap kenaikan kadar HDL-C sebesar 1 mg/dl dapat
menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 2-3%. HDL
menurunkan kadar kolesterol melalui transpor keluar dinding sel
dan meningkatkan katabolisme kolesterol di perifer. HDL juga
membawa enzim antioksidan sehingga dapat menurunkan
fosfolipid yang teroksidasi di lesi atheromatous. Pada NCEP-ATP
III guideline HDL dikategorikan sebagai faktor risiko negatif, yang
akan mengurangi risiko bila kadarnya tinggi.
Dislipidemia atherogenik: hipertrigliseridemia, kadar HDL
rendah, small dense LDL
4
Kombinasi antara peningkatan trigliserida, small dense LDL, dan
kadar HDL-C rendah disebut dislipidemia atherogenik. Keadaan
tersebut merupakan hasil gangguan metabolik yang berkorelasi
dengan resistensi insulin.
KOMPLIKASI ATHEROSKLEROSIS
9
Komplikasi atherosklerosis adalah stenosis arteri, thrombosis, plak
ruptur, thrombosis karena erosi superfisial plak, radang sistemik
dan difus akibat atherogenesis, ketidakstabilan plak selama athero-
genesis. Stenosis pembuluh darah koroner akan menyebabkan
penyakit jantung koroner.
Stratifikasi risiko penderita penyakit jantung koroner
(NCEP ATP III 2004)
3
Hal terpenting sebelum memulai pengobatan dislipidemia ialah
menentukan besarnya risiko PJK (stratifikasi risiko). Stratifikasi
risiko ini diperlukan untuk menentukan target LDL-C. Setelah
pemeriksaan laboratoris, tentukan adanya penyakit atherosklerosis
secara klinis melalu temuan adanya gejala PJK, penyakit arteri
karotis, penyakit arteri perifer dan aneurisma aorta abdominal.
Selanjutnya tentukan adanya faktor risiko mayor (tabel 3).
Tabel 3. Faktor risiko mayor yang mempengaruhi target LDL-C
Sasaran kadar LDL-C disesuaikan dengan banyaknya faktor risiko.
Faktor risiko dibagi 5 kategori (NCEP ATP III 2004):
1. Sangat tinggi: ditemukan gejala menetap PJK dengan:
a. Faktor risiko mayor multipel (terutama diabetes)
b. Faktor risiko berat dan tidak terkontrol (terutama merokok)
c. Faktor risiko multipel dari sindrom metabolik (terutama
kadar trigliserida >200 mg/dL, non HDL-C >130 mg/dL
dan HDL-C rendah <40 mg/dL)
d. Penderita dengan sindrom koroner akut.
2. Tinggi: menderita PJK atau faktor risiko yang setara PJK
(atherosklerosis non koroner, diabetes, faktor risiko multipel
2+ dengan kriteria Framingham 10 tahun risiko PJK >20%)
3. Tinggi sedang : faktor risiko multipel 2+ dan kriteria Framing-
ham 10 tahun risiko PJK 10%-20%
4. Sedang : faktor risiko multipel 2+, pada kriteria Framingham
10 tahun risiko PJK <10%
5. Rendah : Nol sampai satu (0-1) faktor risiko
Panduan NCEP ATP III merekomendasikan kriteria Framingham untuk
menentukan kategori faktor risiko pada penderita dengan 2+
faktor risiko sehingga terbagi lagi menjadi 3 kategori berdasarkan
risiko 10 tahun mendapatkan PJK berat (infark miokard akut, kematian
akibat PJK): tinggi ( >20%), sedang (10-20%), rendah ( <10%).
Sasaran pengobatan berdasar faktor risiko berdasar
panduan NCEP ATP III 2004
3
Sasaran primer pengobatan dislipidemia adalah LDL-C dan sasaran
sekunder adalah non HDL-C. Non HDL-C adalah VLDL + LDL-C.
Target terapi non HDL-C 30 mg/dL lebih tinggi dari target LDL-C.
Sasaran non HDL-C ditetapkan bila terdapat peningkatan kadar
trigliserida (>200 mg/dL) karena pada hipertriglisedemia lipopro-
tein yang potensil atherogenik meningkat.
Tabel 4. Sasaran Kadar LDL-C Serta Batasan untuk Mulai Perubahan Gaya Hidup
dan Pemberian obat
2,5
Tatalaksana dislipidemia
3
Secara umum pengobatan dibagi non-farmakologis (perubahan
gaya hidup) dan farmakologis.
Terapi non-farmakologis adalah terapi gaya hidup, yaitu:
· Diit rendah lemak, rendah kolesterol, tinggi serat
· Penyesuaian berat badan ideal sesuai Body Mass Index.
· Peningkatan aktivitas fisik.
Terapi gaya hidup esensial diterapkan sebagai terapi awal. Terapi
farmakologis dapat diberikan jika setelah 3 bulan terapi gaya
hidup tidak menurunkan kadar LDL-C. Semua penderita risiko
tinggi atau risiko tinggi sedang dengan faktor risiko gaya hidup
(obesitas, inaktivitas, kadar trigliserida tinggi, HDL-C rendah,
sindrom metabolik) adalah kandidat terapi gaya hidup tanpa
melihat kadar LDL-C.
Obat pada terapi farmakologis terutama HMG CoA reductase
inhibitor (statin). (tabel 5). Pada penderita risiko tinggi atau
risiko tinggi sedang sangat dianjurkan pemberian intensif untuk
menurunkan kadar LDL-C 30%-40% dari kadar semula.
Tabel 5. Dosis standar Statin yang dapat menurunkan LDL-C 30%-40%.
Pada penderita risiko sangat tinggi terapi gaya hidup dan terapi
farmakologis dilakukan secara simultan. Target LDL-C adalah <
70 mg/dL.
Pada penderita risiko tinggi jika kadar LDL-C >100 mg/dL maka
terapi gaya hidup dan terapi farmakologis dilakukan secara
simultan. Jika kadar LDL-C awal < 100 mg/dL pada risiko tinggi
dengan menggunakan obat penurun LDL-C, maka target < 70
mg/dL adalah opsional. Apabila pada penderita risiko tinggi
didapatkan kadar trigliserida tinggi atau kadar HDL-C rendah,
dapat diberikan kombinasi obat penurun LDL-C dengan fibrat
atau asam nikotinat.
Pada penderita risiko tinggi-sedang, pengobatan awal adalah
terapi gaya hidup jika kadar LDL-C >130 mg/dL. Apabila kadar
LDL-C menetap baru dilakukan terapi farmakologis. Apabila
kadar LDL-C normal atau < 130 mg/dL tetapi terdapat faktor
risiko gaya hidup maka terapi gaya hidup harus dimulai.
Pada penderita dengan risiko tinggi sedang dengan kadar LDL-C
awal 100-129 mg/dL atau sedang dalam pengobatan, maka
target LDL-C < 100 mg/dL adalah opsional.
SIMPULAN
· Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak yang
ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi
lemak
plasma
· Kelainan fraksi lemak yang utama adalah kenaikan kadar
kolesterol total (total-C), kolesterol LDL (LDL-C), trigliserida
(TG), serta penurunan kadar kolesterol HDL (HDL-C).
· Kolesterol LDL adalah faktor utama dalam pembentukan plak
atherogenik.
· Proses pembentukan atherosklerosis adalah deposit kolesterol
pada dinding arteri sehingga terjadi respon inflamasi kronik
yang mengakibatkan disfungsi endotel, melalui bebagai
mekanisme terbentuk plak atherosklerosis.
· Penyakit jantung koroner adalah akibat terbentuknya plak
atherosklerosis
pada
arteri
koroner.
· Panduan NCEP ATP III 2004 merupakan manajemen dislipi-
demia
yang
evidence based.
· Panduan NCEP ATP III berdasarkan stratifikasi risiko, penentuan
target LDL-C, dan tatalaksana dislipidemia dengan terapi non
farmakologis
dan
farmakologis.
· Target primer adalah LDL-C, target sekunder adalah non HDL-C.
· Terapi non-farmakologis adalah terapi gaya hidup, yaitu: 1.diit
rendah lemak, rendah kolesterol, tinggi serat ;2.Penyesuaian
berat badan ideal sesuai Body Mass Index; 3.Peningkatan
aktivitas
fisik.
· Terapi farmakologis dapat diberikan apabila setelah 3 bulan
terapi gaya hidup tidak menurunkan kadar LDL-C. Obat yang
digunakan
terutama
HMG CoA reductase inhibitor (statin).
DAFTAR PUSTAKA
1. Adam JMF, Soegondo S, Semiardji G, et al. Petunjuk Praktis Penatalaksanaan
Dislipidemia, PB. PERKENI 2004; 1, 5-6.
2. Braunwald E, Hauser SL, Fauci A, Longo DL et al. The pathogenesis, preven-
tion, and treatment of atherosclerosis. In: Harrison»s Principles of Internal
Medicine, 17th ed. Vol.2, Mc Graw-Hill 2008;235.
3. Grundy M S, Cleeman IJ, Merz CNB et al. Implications of Recent Clinical Trials
for the National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III
Guidelines. Circulation 2004; 110:227-239.
4. Maron D J, Ridker PM, Grundy SM et al. Preventing strategies for coronary
heart disease, in: Hurst»s the Heart. 12th ed. Vol.1, Mc Graw-Hill 2008;1203-10.
5. Genest J, Libby P. Lipoprotein disorders and cardiovascular disease. In:
Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 8th ed.,
Mc-Graw Hill 2008;42
6. Braunwald E, Hauser SL, Fauci A, Longo DL et al. Disorder of lipoprotein
metabolism, in: Harrison»s Principles of Internal Medicine, 17th ed. Vol.2.
Mc Graw-Hill 2008;350.
7. Ridker PM, Libby P. Risk Factors for Atherothrombotic Disease. In: Braunwald's
Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine, 8th ed. Mc-Graw Hill
2008;39
8. Libby P. Atherosclerosis initiation. In: Braunwald's Heart Disease: A Textbook
of Cardiovascular Medicine, 8th ed., Mc-Graw Hill 2008.
9. Libby P. Complication of atherosclerosis.In: Braunwald's Heart Disease:
A Textbook of Cardiovascular Medicine, 8th ed., Mc-Graw Hill 2008.
·
Merokok
·
Hipertensi (Tekanan darah >140/90 mmHg atau sedang dalam pengobatan
antihipertensi)
·
HDL-C rendah (<40 mg/dL)
·
Diabetes
mellitus
·
Riwayat keluarga kejadian PJK prematur
PJK pada kerabat pria 1 tingkat <55 tahun
PJK pada kerabat wanita 1 tingkat <65 tahun
·
Umur
(pria
>45 tahun; wanita >55 tahun)
·
Faktor gaya hidup
·
Obesitas
(BMI
>30 kg/m2)
·
Inaktivitas
·
Diit
atherogenik
·
Faktor risiko lain
Lipoprotein(a)
Homocysteine
Faktor
Prothrombotik
Faktor
Proinflammatory
Gangguan
toleransi
glukosa
Atherogenesis
subklinis
Obat
Atorvastatin
Lovastatin
Pravastatin
Simvastatin
Fluvastatin
Rosuvastatin
Dosis, mg/hari
10
40
40
20 - 40
40 - 80
5 - 10
Penurunan LDL-C, %
39
31
34
35 - 41
25 - 35
39 - 45
183
Kelompok
Risiko
Risiko sangat
tinggi
Risiko tinggi
Risiko
tinggi-sedang
Risiko sedang
Risiko rendah
Sasaran
LDL-C (mg/dL)
<70
< 100
(target
opsional LDL-C
<70mg/dL)
< 130
(target opsional
LDL-C <1
00
mg/dL)
< 130
< 160
Kadar LDL-C
saat harus
dimulai
perubahan
gaya hidup
(mg/dL)
> 70
> 100
> 130
> 130
> 160
Kadar LDL-C saat
perlu dipertimbangkan
pemberian obat
(mg/dL)
> 70
>100
(<100mg/dL dapat
dipertimbangkan pemberian
obat)
> 130
(100-129mg/dL dapat
dipertimbangkan pemberian
obat)
> 160
> 190
(160-189 mg/dL: obat
penurun LDL dapat
dipertimbangkan)