H A S I L P E N E L I T I A N
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
24
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
PENDAHULUAN
HPV (Human Papilloma Virus) termasuk ke dalam familia Papova-
viridae, memiliki diameter 555 nm dengan genom yang berukuran
8kbp, struktur kapsid Ikosahedral tak beramplop. HPV merupakan
virus DNA yang memiliki hampir 100 tipe. Berdasarkan karsino-
genitasnya, HPV terbagi ke dalam dua kelompok yaitu high-risk
HPV (hr-HPV) dan low-risk HPV (lr-HPV)
(12)
. Infeksi lr-HPV menyebab-
kan kutil pada kulit dan kulit kelamin, sedangkan infeksi hr-HPV
menyebabkan kanker serviks atau leher rahim.
Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita
setelah kanker payudara
(14)
. Terdapat lebih dari 440.000.000 individu
yang terinfeksi HPV
(19)
. Pada tahun 2005 lebih dari 250.000
kematian disebabkan oleh kanker serviks
(14)
. Hampir 80% kanker
serviks terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Di Indonesia sendiri, kanker serviks menjadi ancaman tersendiri
bagi para wanita
(1)
. Setiap hari ditemukan 41 kasus baru dan 20
kematian akibat kanker serviks. Diperkirakan 40.000 kasus baru
kanker serviks ditemukan setiap tahunnya
(11)
. Kanker serviks itu
sendiri adalah jenis kanker yang telah diketahui protein karsinogen-
nya yaitu protein E6 dan E7
(1)
.
Protein E6 dan E7 merupakan vektor pembawa karsinogen dari
HPV yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel tidak normal
yang disebut displasia, displasia inilah yang berkembang menjadi
kanker
(9)
. Kanker serviks 90% berasal dari sel skuamosa yang
melapisi serviks dan 10% berasal dari sel kelenjar penghasil lendir
pada saluran servikal yang menuju uterus
(7)
. Sel yang terinfeksi
HPV akan menyebabkan metabolisme sel menjadi tidak normal
sehingga mengakibatkan perubahan sel normal menjadi sel yang
abnormal. Para dokter menyebut sel abnormal tersebut sebagai
pra-kanker sedangkan perubahan awal pra-kanker pada permu-
kaan sel disebut displasia atau lesi intra epithelial squamosa
(9)
.
Pencegahan kanker serviks yaitu dengan pencegahan primer dan
sekunder. Pencegahan Primer yaitu dengan mencegah terjadinya
infeksi HPV melalui vaksinasi. Pencegahan sekunder melalui
deteksi dini dengan metode Pap Smear, kolposkopi, pendetek-
sian DNA virus dengan teknik PCR dan Hybrid Capture-II.
Pap Smear merupakan teknik yang paling mudah dilakukan dengan
melihat perubahan sel-sel epitelium serviks. Infeksi HPV dapat
merusak atau mengubah susunan sel-sel epitelium serviks; perubahan
inilah yang dideteksi menggunakan Pap smear. Teknik Pap smear
kurang efektif karena bisa meragukan.
Pertama sering ditemukan sel epitelium abnormal sehingga
diduga sebagai kanker serviks, namun ternyata sel tersebut
bukan terinfeksi HPV melainkan oleh mikoorganisme lain
misalnya bakteri. Kedua pada saat pengamatan tidak ditemukan
kelainan sel epitelium tapi setelah diselediki lebih lanjut pasien
tersebut terinfeksi HPV
(20)
.
Oleh karena itu para peneliti mengembangkan teknik lain
sebagai pelengkap Pap smear untuk mengetahui tingkat akurasi
sel-sel epitelium tersebut; apakah benar-benar terinfeksi HPV
atau hanya terinfeksi bakteri. Teknik tersebut adalah teknik
deteksi DNA virus dengan menggunakan perangkat HC-II. HC-II
merupakan teknologi terbaru di bidang biologi molekuler
sehingga dapat melengkapi tes sitologi Pap smear dan dapat
membantu diagnosis dokter.
Prinsip kerja HC-II adalah melakukan hibridisasi DNA, DNA virus
akan terikat oleh probe sehingga terbentuk ikatan DNA virus
dengan probe yang merupakan RNA. Ikatan yang terbentuk
disebut hibrid DNA : RNA. Hibrid DNA : RNA akan terikat oleh
antibodi spesifik yang ada di dalam sumur microplate. Ikatan
antibodi dengan hibrid DNA : RNA akan bereaksi dengan alkaline
phosphatase. Reaksi ini dideteksi oleh chemiluminescent yang
akan menghasilkan sinyal amplifikasi dalam bentuk emisi cahaya.
Emisi cahaya diukur oleh luminometer menghasilkan nilai RLU
(Relative Light Unit). Nilai RLU inilah yang akan menentukan
apakah pasien tersebut terinfeksi atau tidak oleh HPV
(8)
.
Tes DNA HPV menggunakan perangkat HC-II memiliki keaku-
ratan yang lebih tinggi dibandingkan teknik lainnya
(3)
, selain
karena dilengkapi oleh teknik komputerisasi, juga karena HC-II
memiliki nilai sensitivitas 98%, nilai spesifisitas 98%, dan nilai
prediksi negatif 99% sehingga kemungkinan kesalahan diagno-
sis negatif palsu sangat kecil.
MAKSUD, TUJUAN, DAN KEGUNAAN PENELITIAN
Maksud penelitian ini adalah mempelajari metoda hibridisasi
DNA untuk identifikasi keterdapatan hr-HPV yang menyebabkan
kanker serviks dengan menggunakan perangkat diagnostik
Hybrid Capture
®
2 HPV DNA TESTTM. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui kemampuan sistem HC-II untuk mendeteksi
adanya HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk
menguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara
deteksi dini kanker serviks.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan : koleksi sampel, set bahan kimia Hybrid Capture II System
terdiri atas: 0,35 mL larutan indicator pewarna, 50 mL reagen
denaturasi, 5 mL larutan pengencer probe, 200 mL probe HPV
high risk, 2 mL control (-), 1 mL kalibrator HPV High risk, 1 mL
control kualitas HPV high risk, 12 mL reagen pendeteksi 1, 12 mL
reagen pendeteksi 2, dan 100 mL konsentrat buffer pencuci.
Bahan pendukung lain antara lain: parafilm, plate sealer, reservoir
plastic, kertas tisu.
Prosedur kerja: pengujian sampel menggunakan perangkat
diagnostik HC-II. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel,
persiapan reagen, persiapan perangkat lunak, denaturasi DNA,
persiapan kontrol dan kalibrator HC-II, persiapan larutan probe,
hibridisasi, penangkapan hibrid, pendeteksian hibrid DNA-RNA
menggunakan amplifikasi sinyal (reagen pendeteksi satu), pencu-
cian, pendeteksian amplifikasi sinyal menggunakan substrat
chemiluminescent.
HASIL DAN DISKUSI
Nilai RLU pada Pasien :
HC-II dirancang untuk mendeteksi 18 tipe HPV (hr-HPV dan lr-
HPV)
(10)
yang telah diakui dunia serta disahkan oleh FDA (Food
and Drug Administration) Amerika Serikat
(13)
. Tes ini mempunyai
satu keuntungan tambahan yaitu memperkirakan jumlah kuanti-
tatif virus
(4;17)
.
HC-II memiliki keakuratan yang tinggi dalam mendeteksi infeksi
HPV
(15;2)
karena sistem ini mampu mendeteksi keberadaan DNA
HPV dalam jumlah yang sangat kecil. Keakuratan uji atau tes
berdasarkan pada nilai sensitivitas dan spesifisitas
(18)
. Nilai sensiti-
vitas suatu uji berarti yang menjamin bahwa nilai positif yang
dihasilkan adalah benar positif dengan peluang nilai negatif palsu
yang kecil sedangkan nilai spesifisitas suatu uji adalah yang
menjamin bahwa nilai negatif yang dihasilkan adalah benar
negatif dengan peluang nilai positif palsu yang kecil
(3
). Nilai
sensitivitas HC-II adalah sebesar 98% sedangkan pada Pap smear
sekitar 51-76% sedangkan nilai spesifisitas HC-II 98 % dan Pap
smear 97% sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan diagno-
sis negatif palsu dari pemeriksaan ini sangat kecil.
Prinsip kerja HC-II hibridisasi antibodi adalah menggunakan
pendeteksian chemiluminescent
(16)
. Hibridisasi antara DNA virus
dengan probe RNA menghasilkan DNA-RNA hybrid yang ditang-
kap oleh antibodi di dalam sumur microplate yang kemudian
akan bereaksi dengan antibodi ke dua yang dikonjugasikan
dengan alkaline phosphate. Antibodi ke dua ini bertindak sebagai
sinyal amplifikasi; makin banyak hibrid DNA-RNA yang tertang-
kap pada dinding capture plate, makin banyak pula antibodi
kedua yang dapat mengenali hibrid DNA-RNA.
Aplikasi Hybrid Capture II System
Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks
Sinta Sasika Novel
1
, Ratu Safitri
2
, Sukma Nuswantara
3
1
Mahasiswa Biologi, FMIPA Universitas Padjadjaran.
2
Dosen Mikrobiologi, FMIPA Universitas Padjadjaran.
3
Biotech Coordinator, Sandia Biotech Diagnosis Centre, Santosa Bandung International Hospital.
ABSTRAK
Penelitian mengenai Aplikasi Hybrid Capture II System dalam deteksi dini kanker serviks dimaksudkan untuk mem-
pelajari metoda hibridisasi DNA dalam identifikasi keterdapatan HPV yang menyebabkan kanker serviks dengan
menggunakan perangkat diagnostik Hybrid Capture® 2 Digene. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
kemampuan sistem Hybrid Capture-II (HC-II) untuk mendeteksi keberadaan HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian
ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara dalam deteksi dini kanker serviks.
Hasil yang didapatkan dari 12 pasien adalah 9 pasien negatif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU
(Relative Light Unit): pasien (kode 08070088) 0,21; pasien (kode 08070089) 0,32; pasien (kode 08070090) 0,23;
pasien (kode 08070091) 0,27; pasien (kode 08070092) 0,26; pasien (kode 08040043) 0,97; pasien (kode
08040045) 0,17; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040050) 0,12; dan
3 pasien positif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU: pasien (kode 08040044) 1293,03; pasien
(kode 08040047) 44,44; pasien (kode 08040048) 1,85.
Kata kunci : Kanker serviks, HPV, Hybrid Capture-II System, RLU.
25
Pasien Kode
RLU
Hasil
Pasien
1
08070088
0,21
Negatif
Pasien
2
08070089
0,32
Negatif
Pasien
3
08070090
0,23
Negatif
Pasien
4
08070091
0,27
Negatif
Pasien
5
08070092
0,26
Negatif
Pasien
6
08040043
0,97
Negatif
Pasien
7
08040044
1293,03
High risk
Pasien
8
08040045
0,17
Negatif
Pasien
9
08040046
0,18
Negatif
Pasien
10
08040047
44,44
High risk
Pasien
11
08040048
1,85
High risk
Pasien
12
08040050
0,12
Negatif
H A S I L P E N E L I T I A N
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
24
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
PENDAHULUAN
HPV (Human Papilloma Virus) termasuk ke dalam familia Papova-
viridae, memiliki diameter 555 nm dengan genom yang berukuran
8kbp, struktur kapsid Ikosahedral tak beramplop. HPV merupakan
virus DNA yang memiliki hampir 100 tipe. Berdasarkan karsino-
genitasnya, HPV terbagi ke dalam dua kelompok yaitu high-risk
HPV (hr-HPV) dan low-risk HPV (lr-HPV)
(12)
. Infeksi lr-HPV menyebab-
kan kutil pada kulit dan kulit kelamin, sedangkan infeksi hr-HPV
menyebabkan kanker serviks atau leher rahim.
Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita
setelah kanker payudara
(14)
. Terdapat lebih dari 440.000.000 individu
yang terinfeksi HPV
(19)
. Pada tahun 2005 lebih dari 250.000
kematian disebabkan oleh kanker serviks
(14)
. Hampir 80% kanker
serviks terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Di Indonesia sendiri, kanker serviks menjadi ancaman tersendiri
bagi para wanita
(1)
. Setiap hari ditemukan 41 kasus baru dan 20
kematian akibat kanker serviks. Diperkirakan 40.000 kasus baru
kanker serviks ditemukan setiap tahunnya
(11)
. Kanker serviks itu
sendiri adalah jenis kanker yang telah diketahui protein karsinogen-
nya yaitu protein E6 dan E7
(1)
.
Protein E6 dan E7 merupakan vektor pembawa karsinogen dari
HPV yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel tidak normal
yang disebut displasia, displasia inilah yang berkembang menjadi
kanker
(9)
. Kanker serviks 90% berasal dari sel skuamosa yang
melapisi serviks dan 10% berasal dari sel kelenjar penghasil lendir
pada saluran servikal yang menuju uterus
(7)
. Sel yang terinfeksi
HPV akan menyebabkan metabolisme sel menjadi tidak normal
sehingga mengakibatkan perubahan sel normal menjadi sel yang
abnormal. Para dokter menyebut sel abnormal tersebut sebagai
pra-kanker sedangkan perubahan awal pra-kanker pada permu-
kaan sel disebut displasia atau lesi intra epithelial squamosa
(9)
.
Pencegahan kanker serviks yaitu dengan pencegahan primer dan
sekunder. Pencegahan Primer yaitu dengan mencegah terjadinya
infeksi HPV melalui vaksinasi. Pencegahan sekunder melalui
deteksi dini dengan metode Pap Smear, kolposkopi, pendetek-
sian DNA virus dengan teknik PCR dan Hybrid Capture-II.
Pap Smear merupakan teknik yang paling mudah dilakukan dengan
melihat perubahan sel-sel epitelium serviks. Infeksi HPV dapat
merusak atau mengubah susunan sel-sel epitelium serviks; perubahan
inilah yang dideteksi menggunakan Pap smear. Teknik Pap smear
kurang efektif karena bisa meragukan.
Pertama sering ditemukan sel epitelium abnormal sehingga
diduga sebagai kanker serviks, namun ternyata sel tersebut
bukan terinfeksi HPV melainkan oleh mikoorganisme lain
misalnya bakteri. Kedua pada saat pengamatan tidak ditemukan
kelainan sel epitelium tapi setelah diselediki lebih lanjut pasien
tersebut terinfeksi HPV
(20)
.
Oleh karena itu para peneliti mengembangkan teknik lain
sebagai pelengkap Pap smear untuk mengetahui tingkat akurasi
sel-sel epitelium tersebut; apakah benar-benar terinfeksi HPV
atau hanya terinfeksi bakteri. Teknik tersebut adalah teknik
deteksi DNA virus dengan menggunakan perangkat HC-II. HC-II
merupakan teknologi terbaru di bidang biologi molekuler
sehingga dapat melengkapi tes sitologi Pap smear dan dapat
membantu diagnosis dokter.
Prinsip kerja HC-II adalah melakukan hibridisasi DNA, DNA virus
akan terikat oleh probe sehingga terbentuk ikatan DNA virus
dengan probe yang merupakan RNA. Ikatan yang terbentuk
disebut hibrid DNA : RNA. Hibrid DNA : RNA akan terikat oleh
antibodi spesifik yang ada di dalam sumur microplate. Ikatan
antibodi dengan hibrid DNA : RNA akan bereaksi dengan alkaline
phosphatase. Reaksi ini dideteksi oleh chemiluminescent yang
akan menghasilkan sinyal amplifikasi dalam bentuk emisi cahaya.
Emisi cahaya diukur oleh luminometer menghasilkan nilai RLU
(Relative Light Unit). Nilai RLU inilah yang akan menentukan
apakah pasien tersebut terinfeksi atau tidak oleh HPV
(8)
.
Tes DNA HPV menggunakan perangkat HC-II memiliki keaku-
ratan yang lebih tinggi dibandingkan teknik lainnya
(3)
, selain
karena dilengkapi oleh teknik komputerisasi, juga karena HC-II
memiliki nilai sensitivitas 98%, nilai spesifisitas 98%, dan nilai
prediksi negatif 99% sehingga kemungkinan kesalahan diagno-
sis negatif palsu sangat kecil.
MAKSUD, TUJUAN, DAN KEGUNAAN PENELITIAN
Maksud penelitian ini adalah mempelajari metoda hibridisasi
DNA untuk identifikasi keterdapatan hr-HPV yang menyebabkan
kanker serviks dengan menggunakan perangkat diagnostik
Hybrid Capture
®
2 HPV DNA TESTTM. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui kemampuan sistem HC-II untuk mendeteksi
adanya HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk
menguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara
deteksi dini kanker serviks.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan : koleksi sampel, set bahan kimia Hybrid Capture II System
terdiri atas: 0,35 mL larutan indicator pewarna, 50 mL reagen
denaturasi, 5 mL larutan pengencer probe, 200 mL probe HPV
high risk, 2 mL control (-), 1 mL kalibrator HPV High risk, 1 mL
control kualitas HPV high risk, 12 mL reagen pendeteksi 1, 12 mL
reagen pendeteksi 2, dan 100 mL konsentrat buffer pencuci.
Bahan pendukung lain antara lain: parafilm, plate sealer, reservoir
plastic, kertas tisu.
Prosedur kerja: pengujian sampel menggunakan perangkat
diagnostik HC-II. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel,
persiapan reagen, persiapan perangkat lunak, denaturasi DNA,
persiapan kontrol dan kalibrator HC-II, persiapan larutan probe,
hibridisasi, penangkapan hibrid, pendeteksian hibrid DNA-RNA
menggunakan amplifikasi sinyal (reagen pendeteksi satu), pencu-
cian, pendeteksian amplifikasi sinyal menggunakan substrat
chemiluminescent.
HASIL DAN DISKUSI
Nilai RLU pada Pasien :
HC-II dirancang untuk mendeteksi 18 tipe HPV (hr-HPV dan lr-
HPV)
(10)
yang telah diakui dunia serta disahkan oleh FDA (Food
and Drug Administration) Amerika Serikat
(13)
. Tes ini mempunyai
satu keuntungan tambahan yaitu memperkirakan jumlah kuanti-
tatif virus
(4;17)
.
HC-II memiliki keakuratan yang tinggi dalam mendeteksi infeksi
HPV
(15;2)
karena sistem ini mampu mendeteksi keberadaan DNA
HPV dalam jumlah yang sangat kecil. Keakuratan uji atau tes
berdasarkan pada nilai sensitivitas dan spesifisitas
(18)
. Nilai sensiti-
vitas suatu uji berarti yang menjamin bahwa nilai positif yang
dihasilkan adalah benar positif dengan peluang nilai negatif palsu
yang kecil sedangkan nilai spesifisitas suatu uji adalah yang
menjamin bahwa nilai negatif yang dihasilkan adalah benar
negatif dengan peluang nilai positif palsu yang kecil
(3
). Nilai
sensitivitas HC-II adalah sebesar 98% sedangkan pada Pap smear
sekitar 51-76% sedangkan nilai spesifisitas HC-II 98 % dan Pap
smear 97% sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan diagno-
sis negatif palsu dari pemeriksaan ini sangat kecil.
Prinsip kerja HC-II hibridisasi antibodi adalah menggunakan
pendeteksian chemiluminescent
(16)
. Hibridisasi antara DNA virus
dengan probe RNA menghasilkan DNA-RNA hybrid yang ditang-
kap oleh antibodi di dalam sumur microplate yang kemudian
akan bereaksi dengan antibodi ke dua yang dikonjugasikan
dengan alkaline phosphate. Antibodi ke dua ini bertindak sebagai
sinyal amplifikasi; makin banyak hibrid DNA-RNA yang tertang-
kap pada dinding capture plate, makin banyak pula antibodi
kedua yang dapat mengenali hibrid DNA-RNA.
Aplikasi Hybrid Capture II System
Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks
Sinta Sasika Novel
1
, Ratu Safitri
2
, Sukma Nuswantara
3
1
Mahasiswa Biologi, FMIPA Universitas Padjadjaran.
2
Dosen Mikrobiologi, FMIPA Universitas Padjadjaran.
3
Biotech Coordinator, Sandia Biotech Diagnosis Centre, Santosa Bandung International Hospital.
ABSTRAK
Penelitian mengenai Aplikasi Hybrid Capture II System dalam deteksi dini kanker serviks dimaksudkan untuk mem-
pelajari metoda hibridisasi DNA dalam identifikasi keterdapatan HPV yang menyebabkan kanker serviks dengan
menggunakan perangkat diagnostik Hybrid Capture® 2 Digene. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
kemampuan sistem Hybrid Capture-II (HC-II) untuk mendeteksi keberadaan HPV dalam sampel. Kegunaan penelitian
ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik HC-II sebagai salah satu cara dalam deteksi dini kanker serviks.
Hasil yang didapatkan dari 12 pasien adalah 9 pasien negatif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU
(Relative Light Unit): pasien (kode 08070088) 0,21; pasien (kode 08070089) 0,32; pasien (kode 08070090) 0,23;
pasien (kode 08070091) 0,27; pasien (kode 08070092) 0,26; pasien (kode 08040043) 0,97; pasien (kode
08040045) 0,17; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040046) 0,18; pasien (kode 08040050) 0,12; dan
3 pasien positif terinfeksi HPV tergolong high risk dengan nilai RLU: pasien (kode 08040044) 1293,03; pasien
(kode 08040047) 44,44; pasien (kode 08040048) 1,85.
Kata kunci : Kanker serviks, HPV, Hybrid Capture-II System, RLU.
25
Pasien Kode
RLU
Hasil
Pasien
1
08070088
0,21
Negatif
Pasien
2
08070089
0,32
Negatif
Pasien
3
08070090
0,23
Negatif
Pasien
4
08070091
0,27
Negatif
Pasien
5
08070092
0,26
Negatif
Pasien
6
08040043
0,97
Negatif
Pasien
7
08040044
1293,03
High risk
Pasien
8
08040045
0,17
Negatif
Pasien
9
08040046
0,18
Negatif
Pasien
10
08040047
44,44
High risk
Pasien
11
08040048
1,85
High risk
Pasien
12
08040050
0,12
Negatif
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
26
SIMPULAN
1. Teknik HC-II dapat mendeteksi HPV high risk dan low risk.
2. Hasil HC-II jika melebihi nilai ambang positif maka spesimen
dinyatakan positif terinfeksi HPV.
3. Teknik HC-II dapat melengkapi tes sitologi Pap smear dan
dapat membantu diagnosis dokter.
DAFTAR PUSTAKA
1. Andrijono. Kanker Serviks. Jakarta: Divisi Onkologi Departemen Obstetri-Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007; 1-81
2. Castle PE, Lorincz AT, Lohnas IM, dkk. Results of human papillomavirus DNA testing
with the hybrid capture II assay are reproducible. J Clin Microbiol. 2002; 40:1088-90.
3. Clavel C, Masure M, Putaud I, dkk. Hybrid capture II, a new sensitive test for human
papillomavirus detection. Comparison with hybrid capture I and PCR results in cervical
lesions. J. Clin. Pathol. 1998; 5: 737-40.
4. Cox JT, Lorincz AT, Schiffman MH. Human Papillomavirus Testing by Hybrid Capture
Appears to be Useful in Triaging Women with a Cytologic Diagnosis of ASCUS. Am J
Obstet Gynecol. 1995; 172: 946-54.
5. Cuzick J. Human Papillomavirus Infection of the Prostate. Cancer Surveys.1995; 23: 91-5.
6. Doorbar J. Molecular Biology of Human Papillomavirus Infection and Cervical Cancer.
Clin. Sci. 2006; 110: 525-41.
7. Greer CE, Wheeler CM, Ladner MB, dkk. Human papillomavirus (HPV) type Distribution
and Serological Response to HPV type 6 Virus-like Particles in Patients with Genital Warts.
J Clin Microbiol 1995; 33:2058-63.
8. Lörincz AT, Reid R, Jenson AB, dkk. Human Papillomavirus Infection of the Cervix:
Relative Risk Associations of 15 Common Anogenital Types. Obstet Gynecol. 1992; 79:
328-37.
9. Maciag PC, Villa LL. Genetic Susceptibility to HPV Infection and Cervical Cancer. Brazilian
Journal of Medical and Biological Research. 1999; 32: 915-22.
10. Maria OOC, Almeida RW, Leite FMS, dkk. Detection of Human Papillomavirus DNA by
the Hybrid Capture Assay. Braz. J. Infect. Dis. 2003; 7(2): 121-5.
11. Marianda GW. Harapan Baru dalam Penanganan Kanker yang Terinfeksi Human
Papillomavirus dengan Penggunaan Vaksin. Denpasar: Program Pendidikan Dokter
Spesialis I Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Udayana, 2004.
12. Muńoz N, Bosch FX, de Sanjosé S, dkk. Epidemiologic classification of human papilloma
virus types associated with cervical cancer. N. Engl. J. Med. 2003; 348(6): 518-2.
13. Nuswantara S. Deteksi Human Papilloma Virus dalam Pencegahan Dini Kanker Leher
Rahim. Bandung: Seminar Deteksi Dini dan Penangannan Terkini Kanker Leher Rahim.
Santosa Bandung International Hospital, 2008.
14. Rasjidi I. Panduan Penatalaksanaan Kanker Ginekologi. Jakarta: EGC, 2008.
15. Schiffman MH, Kiviat NB, Burk RD, dkk. Accuracy and interlaboratory reliability of
human papillomavirus DNA testing by hybrid capture. J Clin Microbiol. 1995; 33: 545-550.
16. Slawa S, Klimek M, Zawilinska B, Kopec J, Daszkiewicz E. Detection of human papillomavirus
in cervical cell specimens by hybrid capture and PCR with different primers. Acta
Biochimica Polonica. 2006; 53(3): 603-607.
17. Sun CA, Liu JF, Wu DM, dkk. Viral load of high-risk human papillomavirus in cervical
squamous intraepithelial lesions. Int J Gynecol Obstet. 2002; 76: 41-47.
18. Terry G, Ho L, Londesborough P, dkk. Detection of high-risk HPV types by the hybrid
capture 2 test. J Med Virol. 2001; 65:155-162.
19. Torpy JM, Burke AE, Glass RM. Human Papillomavirus Infection. JAMA 2007; 297(8): 912.
20. Walboomers JM, Jacobs MV, Manos MM, dkk. Human Papillomavirus is A Necessary
Cause of Invasive Cervical Cancer Worldwide. J. Pathol. 1999; 189(1): 12-9.
21. Winer RL, Kiviat NB. Development and Duration of Human Papillomavirus Lesions, After
Initial Infection. J Infect Dis. 2005; 191(5): 731-738.
22. Wright TC, Cox JT, Massad LS, Twiggs LB, Wilkinson EJ. Consensus Guidelines for the
Management of Women with Cervical Cytological Abnormalities. JAMA 2002; 287(16):
2120-212.
Kuantitas antibodi yang terikat pada hibrid DNA-RNA diukur
dengan menambahkan zat chemiluminescent atau 1,2-dioxetan.
Intensitas cahaya yang dipancarkan menandakan ada atau
tidaknya DNA target dalam sampel. Cahaya berasal dari dioxetan
yang memiliki waktu paruh singkat dan memiliki reaksi oksidasi
intermediet yang tidak stabil. Alkaline phosphatase mendefosfo-
rilasi substrat adamantil-1,2-dioxetan fosfat secara hidrolitik
membentuk anion yang metastabil. Sifat metastabil inilah yang
membuat anion akan terfragmentasi membentuk adamanta-
none dan anion metil-m-oksibenzoat. Anion metil-m-oksibenzoat
yang tereksitasi akan mengemisikan sinar dengan panjang
gelombang 447 nm.
Cahaya yang dihasilkan dari reaksi pemutusan substrat chemilu-
minescent oleh alkaline phosphatase kemudian dideteksi oleh
luminometer dan diinterpretasikan dalam satuan RLU oleh
luminometer yang sebanding dengan l pglmL kontrol positif
DNA HPV tipe 16 dan 5000 genom HPV. Penentuan nilai positif
uji DNA HPV didasarkan pada perbandingan sampel dengan
rata-rata triplikasi RLU kontrol positif (RLU/PC). Jika perbandingan
RLU/PC (relative light unit/posirif kontrol) melebihi nilai ambang
positif maka spesimen dinyatakan positif terhadap tes DNA HPV.
Nilai positif palsu artinya tes DNA HPV positif tetapi setelah
melalui pengujian lain seperti kolposkopi, IVA, dan Pap smear
ternyata tidak ditemukan kelainan yang mengacu pada kanker
serviks. Penentuan konsentrasi ambang DNA HPV yang akan
berpeluang terbentuknya kanker serviks adalah sangat penting.
Digene menetapkan nilai ambang positif sebesar 1.0 RLU/PC
(2)
.
Infeksi HPV ke dalam luka berlangsung antara 8 sampai 12
minggu
(6)
. Infeksi HPV dipengaruhi faktor usia dan kondisi sistem
imunitas pasien, kedua faktor ini juga mempengaruhi nilai positif
palsu. Nilai positif palsu menurun sampai tiga kali lipat untuk
pasien yang berusia di atas 30 tahun jika dibandingkan dengan
pasien yang berusia di bawah 30 tahun
(5)
. Wanita berusia di
bawah 30 tahun cenderung memiliki sistem imunitas yang cukup
untuk mengurangi infeksi HPV, sedangkan wanita berusia di atas
30 tahun cenderung mengalami infeksi HPV yang persisten atau
menetap
(22)
.
Infeksi HPV yang bersifat laten dapat berkembang menjadi displa-
sia (kelainan) pada sel epitel serviks
(21)
. Peluang terjadinya displa-
sia sel epitel serviks lebih besar apabila penderita mengalami
imunosupresi, misalnya orang yang terinfeksi HIV akan lebih
mudah terinfeksi HPV karena infeksi HIV dan HPV sama-sama
ditularkan melalui aktivitas seksual. Penurunan sistem imunitas
akibat infeksi HIV akan memudahkan infeksi virus HPV
(6)
.
Selain itu faktor lain misalnya kebiasaan merokok, penggunaan
kontrasepsi oral, dan terinfeksi penyakit menular seksual lainnya
akan meningkatkan peluang terjadinya kanker serviks yang ber-
sifat invasif
(22).