background image
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
404
SARAN
Asma bronkial dengan GERD harus bersama-sama diobati
untuk menghindari komplikasi yang lebih berat karena pengo-
batan terhadap refluks mempunyai efek pada fungsi paru dan
juga mengurangi dosis obat asmanya.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
DAFTAR PUSTAKA
A Dina Abidin Mahdi. Penatalaksanaan penyakit alergi. Airlangga University
Press 1997.
Lapova M et al. Gastroesophageal reflux as the basis of recurent and chronic
respiratory diseases II, Destha Klinika 2. Lekar le fakulty university karlovy aFN,
Praha motal 1 lesk pediatry 1991 mar 46(3) 142-145. (Article in Czech)
Field KSM et al. Prevalence of gatroesophageal reflux symptons in asthma.
Chest 1996; 109:316-322.
Fenerty MB. Extraesophageal GERD : Presentation and approach to treatment GI
in the next century, clinical advances in esophageal and gastro intestinal
disorder. AGA. Post Graduate Course, Orlando, Florida 1999.1-10.
Field SK, Sutherland. Does medical antireflux therapy improve asthma in
asthmatic with gastroesophageal reflux. A critical review of literature. Chest
1998;115: 654-9.
Juwanto, Chudahman Manan. Clinical manifestation and management of
extraesophageal gastroesophageal reflux disease. Gastroenterology Hematology
and Digestive Endoscopy 2002;3(2):17-23.
Hudviks datter et al. Habitual coughing and its assosiations with asthma, anxiety
and gastroesophageal reflux. Chest 1996.109.1262-7.
Meier MJH et al. Does omeprazole improve respiratory function in asthmatic
with gastroesophageal reflux ? Digestive disease and science 1994.39:2127-33.
Plattova Z, Dolina et al. Pathologic gastroesophageal reflux in patients with
bronchial asthma. Interni gastroenterologicka klinika FNBno, proeoviste
Bohunice. Vintr hek,2001 Jul 47 (7 ) : 450-3. (Article in Czech)
Snajdouf S et al. Hate result after surgical treatment of gastroesophageal reflux
in childhood. Klinikal desthe chirurgic FN molal 2 LFUK, subkatedra desthe
chirurgic, IPVZ, Praha. Rozl chir 1997, Agust, 76(8): 370-3. (Article in Czech)
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
405
PENDAHULUAN
Rinitis alergi merupakan penyakit hipersensitivitas tipe 1 yang di-
perantarai oleh Ig E pada mukosa hidung dengan gejala karakteristik
berupa bersin-bersin, rinore encer, obstruksi nasi dan hidung gatal
1
.
Berdasarkan atas saat pajanan rinitis alergi diklasifikasikan menjadi
rinitis alergi musiman (seasonal) dan rinitis alergi tahunan (perennial).
ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) bekerja sama
dengan WHO 2001 membuat klasifikasi baru rinitis alergi ber-
dasarkan parameter gejala dan kualitas hidup penderita. Berdasar-
kan atas lama dan beratnya penyakit, rinitis alergi diklasifikasi-
kan menjadi intermiten ringan, intermiten sedang berat, persisten
ringan dan persisten sedang berat
1
.
Rinitis alergi berdampak pada penurunan kualitas hidup pende-
ritanya, penurunan produktifitas kerja, prestasi di sekolah, akti-
fitas sosial dan malah pada penderita dengan alergi berat dan
lama dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti depresi
2,3,4
.
Rinitis alergi juga dapat mengganggu fungsi fisiologik tuba
Eustachius
5
. Gangguan fungsi ventilasi tuba menyebabkan peruba-
han tekanan udara telinga tengah menjadi tekanan negatif.
Mekanisme gangguan fungsi tuba Eustachius pada rinitis alergi
didasari atas kesamaan antara mukosa rongga hidung, nasofaring,
tuba Eustachius dan telinga tengah, sehingga proses inflamasi
alergi di mukosa hidung dapat berlanjut ke mukosa nasofaring
dan tuba Eustachius
6
.
Gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius dapat dideteksi
melalui pemeriksaan timpanometri. Dengan melihat tekanan udara
dengan compliance maksimum pada timpanogram maka tekanan
telinga tengah dapat ditentukan. Jika dalam batas normal berarti
fungsi ventilasi tuba Eustachius dikatakan normal sebab tuba
Eustachius dapat menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah
dengan tekanan udara sekitarnya. Jika tuba Eustachius tersumbat,
maka akan terjadi tekanan negatif tinggi dalam telinga tengah
akibat absorpsi gas oleh mukosa telinga tengah. Tekanan
negatif lebih dari -100 mm H
2
O menandakan adanya gangguan
fungsi ventilasi tuba Eustachius
7-10
. Pada membran timpani
adesiva atau ruang telinga tengah dipenuhi cairan pada otitis
media serosa, maka tidak ada titik compliance maksimum sehingga
timpanogramnya menjadi mendatar.
Pengaruh Rinitis Alergi
(ARIA WHO 2OO1)
terhadap Gangguan Fungsi Ventilasi
Tuba Eustachius
I Wayan Karya, Aminuddin Aziz, Sutji Pratiwi Rahardjo, Nani Irķani Djufri
Bagian / SMF Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, Indonesia
ABSTRAK
Latar Belakang : Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat serta dapat
berdampak pada penurunan kualitas hidup penderitanya. Salah satu akibat rinitis alergi adalah gangguan fungsi tuba Eusta-
chius. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh rinitis alergi sesuai klasifikasi ARIA WHO 2001 terhadap fungsi ventilasi tuba
Eustachius dan membandingkannya dengan kelompok kontrol. Metode Penelitian : Dilakukan pemeriksaan timpanometri
pada 30 orang penderita rinitis (ARIA WHO 2001) dan 30 orang kontrol normal. Seluruh penderita rinitis alergi sebelumnya
menjalani tes cukit kulit dengan alergen inhalan. Hasil : Di kelompok kasus hanya ditemukan 1 orang (3,3%) dengan timpa-
nogram tipe B, 3 orang (10,0%) tipe C dan sisanya 26 orang (86,7%) tipe A. Sedangkan di kelompok kontrol hanya ditemu-
kan timpanogram tipe A. Hanya pada rinitis alergi persisten sedang berat didapat timpanogram tipe B dan C. Kesimpulan :
Rinitis alergi (ARIA WHO 2001) berpengaruh tidak signifikan terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius.
Kata Kunci: rinitis alergi, ventilasi tuba Eustachius, timpanometri
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
406
Penelitian mengenai gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius
pada penderita rinitis alergi telah dilaporkan oleh Lazo Saenz
dkk. Pada 60 orang penderita rinitis alergi dan 50 orang normal
dilakukan pemeriksaan timpanometri. Di kelompok penderita
rinitis alergi didapatkan 15,5% dengan timpanogram abnormal
( 13% tipe C dan 3% tipe B) sedangkan di kelompok kontrol
seluruhnya dengan timpanogram tipe A
11
. Kudelska dkk.
melakukan pemeriksaan audiometri dan timpanometri pada 30
penderita rinitis alergi seasonal dan 30 penderita rinitis alergi
perennial. Hasilnya pada penderita rinitis alergi perennial ditemu-
kan gangguan pendengaran tipe konduktif 26,7% dengan
gambaran timpanogram tipe B dan tipe C masing-masing 20%
sedangkan pada penderita rinitis alergi seasonal ditemukan
gangguan pendengaran tipe konduktif 10% dengan gambaran
timpanogram tipe B 3,33% dan tipe C 6,67%
12
.
Mempertimbangkan dampak gangguan tuba Eustachius akibat
rinitis alergi pada telinga tengah, maka perlu dilakukan deteksi
fungsi ventilasi tuba Eustachius pada penderita rinitis alergi.
BAHAN dan CARA
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional study.
Sampel penelitian terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok kasus
dan kelompok kontrol. Kelompok kontrol adalah penderita
rinitis alergi yang datang ke Poliklinik THT-KL RS. Perjan Dr. Wahidin
Sudirohusodo, Makassar dengan hasil prick test alergen inhalan
positif, berusia 17 sampai 60 tahun, membran timpani utuh,
bebas obat antihistamin, kortikosteroid dan dekongestan minimal
5 hari, dan tidak pernah mendapat imunoterapi.
Penderita rinitis alergi dengan infeksi saluran nafas atas, deviasi
septum nasi berat, polip nasi stadium 2 dan 3, riwayat operasi
telinga tengah, hidung, nasofaring dan tumor di sinonasal serta
nasofaring tidak diikutkan dalam penelitian ini. Kelompok kontrol
adalah orang tanpa kelainan THT secara klinis. Pengambilan
sampel menggunakan tehnik purposive sampling. Pada pen-
derita rinitis yang datang ke poliklinik THT dilakukan anamnesis,
pemeriksaan THT, tes alergi, dan pemeriksaan timpanometri
dengan alat impedance audio traveler tipe AA 222, dengan
serial no. 128998 dan software version 1.09116 kalibrasi tahun
2005.
HASIL PENELITIAN
Sampel penelitian berjumlah 30 orang terdiri dari laki-laki 14
(46,7%) dan perempuan 16 (53,3%), berumur antara 17 - 60
tahun, rerata umur 27,9 tahun. Kelompok umur paling banyak
adalah 20 tahun.
Pada kelompok kasus 14 orang (46,7%) termasuk rinitis alergi
persisten sedang berat, 11 orang (36,7%) persisten ringan, 4
orang (13,3%) intermiten ringan dan 1 orang (3,3%) intermiten
sedang berat.
Gambaran tipe timpanogram berdasarkan derajat rinitis alergi
dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 dengan gambaran timpanogram
terbanyak adalah tipe A. Tipe B hanya ada 1 (3,3%) dan tipe C
3 (10 %). Berdasarkan derajat rinitis alergi, semua kelainan
timpanogram ada di kalangan penderita rinitis alergi persisten
sedang berat.
Tabel 1. Distribusi tipe timpanogram telinga kanan pada kelompok kontrol dan kelompok kasus
A
28
4
9
1
11
25
93,3%
100,0%
81,8%
100,0%
78,7%
83,3%
As
2
0
2
0
1
3
6,7%
0,0%
18,2%
0,0%
7,1%
10,0%
B
0
0
0
0
0
0
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
C
0
0
0
0
2
2
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
14,2%
6,7%
Total
30
4
11
1
14
30
100,0%
p = 0,698
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
Tipe
Timpano
gram
Kontrol
Intermiten
ringan
Persisten
ringan
Intermiten
sedang berat
Persisten
sedang berat
Total
K a s u s
www.kalbe.co.id
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
409
Tabel 2. Distribusi tipe timpanogram telinga kiri pada kelompok kontrol dan kelompok kasus
Tabel 3. Distribusi hasil tes Valsava telinga kanan pada kelompok kontrol dan kelompok kasus
Tabel 4. Distribusi hasil tes Valsava telinga kiri pada kelompok kontrol dan kelompok kasus
Tes Valsava positif pada telinga kanan kelompok kontrol 15 orang (50,0%) sedangkan pada kelompok kasus hanya 7 orang (23,3%).
Penderita rinitis alergi intermiten ringan 1 orang (25,0%) dengan tes Valsava positif dan 3 orang (75,0%) negatif. Pada rinitis alergi
persisten ringan 3 orang (27,3%) dengan tes Valsava positif dan 8 orang (72,7%) negatif. Hasil tes Valsava pada rinitis alergi persisten
sedang berat didapat hanya 2 orang (14,7%) positif dan 12 orang (85,3%) negatif.
Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa tes Valsava positif pada telinga kiri kelompok kontrol 13 orang (43,3%) dan hanya 7 orang
(23,3%) pada kelompok kasus. Penderita rinitis alergi intermiten ringan dan intermiten sedang berat semuanya (100,0%) dengan
tes Valsava negatif. Pada rinitis alergi persisten ringan 3 orang (27,3%) dengan tes Valsava positif, 8 orang (72,7%) negatif. Hasil
tes Valsalva pada persisten sedang berat adalah 4 orang (28,6%) positif dan 10 orang (71,4%) negatif.
Tes
Valsalva
Kontrol
Intermiten
ringan
Persisten
ringan
Intermiten
sedang berat
Persisten
sedang berat
Total
K a s u s
Positif
15
1
3
1
2
7
50,0%
25,0%
27,3%
100,0%
14,7%
23,3%
Negatif
15
3
8
0
12
23
50,0%
75,0%
72,7%
0,0%
85,3%
76,7%
Total
30
4
11
1
14
30
100,0%
p = 0,258
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
Tes
Valsalva
Kontrol
Intermiten
ringan
Persisten
ringan
Intermiten
sedang berat
Persisten
sedang barat
Total
K a s u s
Positif
13
0
3
0
4
7
43,3%
0,0%
27,3%
100,0%
28,6%
23,3%
Negatif
17
4
8
1
10
23
56,7%
100,0%
72,7%
0,0%
71,4%
76,7%
Total
30
4
11
1
14
30
100,0%
p = 0,608
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
A
26
3
11
1
11
26
86,7%
75,0%
100,0%
100,0%
78,7%
86,7%
As
4
1
0
0
1
2
13,3%
25,0%
0,0%
0,0%
7,1%
6,7%
B
0
0
0
0
1
1
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
7,1%
3,3%
C
0
0
0
0
1
1
0,0%
0,0%
0,0%
0,0%
7,1%
3,3%
Total
30
4
11
1
14
30
100,0%
p = 0,787
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
Tipe
Timpano
gram
Kontrol
Intermiten
ringan
Persisten
ringan
Intermiten
sedang berat
Persisten
sedang berat
Total
K a s u s
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
410
PEMBAHASAN
Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang penderita rinitis
alergi dan 30 orang kontrol berusia antara 17 - 60 tahun dengan
rerata (mean) umur 27,97 tahun. Perempuan sedikit lebih banyak
daripada laki-laki, terbanyak di kelompok umur 20 tahun;
paling sedikit kelompok umur 51 - 60 tahun.
Sesuai klasifikasi ARIA WHO 2001, penderita rinitis alergi persisten
sedang berat merupakan sampel terbanyak pada penelitian ini
yaitu 46,7% kemudian rinitis alergi persisten ringan (36,7%),
intermiten ringan (13,3%) dan rinitis alergi intermiten sedang
berat (3,3%). Alimah Y (2005) dalam penelitiannya juga men-
dapatkan rinitis alergi persisten sedang berat yang paling banyak
yaitu 57,5% dari seluruh sampel. Hal ini karena rinitis alergi umum-
nya dianggap bukan penyakit yang amat serius bahkan sering
diabaikan. Biasanya penderita baru datang memeriksakan diri
apabila gejala-gejala rinitis alergi sudah berlangsung lama dan
mengganggu aktifitas sehari-hari seperti ada gangguan tidur,
kegiatan di sekolah / pekerjaan, bersantai maupun berolahraga
atau telah timbul komplikasi rinitis alergi.
Pada penelitian ini dilakukan timpanometri terhadap kedua
kelompok sampel. Hasilnya menunjukkan bahwa pada penderita
rinitis alergi didapatkan 1 orang (3,3%) timpanogram tipe B dan
3 orang (10,0%) timpanogram tipe C. Sedangkan pada kelompok
kontrol semuanya dengan timpanogram tipe A dan tipe As.
Angka ini hampir sama dengan hasil penelitian Lazo-Saenz,dkk.
yang melakukan pemeriksaan timpanometri pada 80 orang rinitis
alergi dan 50 orang normal sebagai kontrol, didapatkan 3%
kelompok rinitis alergi dengan timpanogram tipe B dan 13%
tipe C sedangkan pada kelompok kontrol semua dengan timpa-
nogram tipe A.
Bila dilihat dari klasifikasi rinitis alergi, timpanogram tipe B dan
tipe C hanya didapatkan pada penderita rinitis alergi persisten
sedang berat (4 orang -13,3%). Ini menunjukkan bahwa penderita
tersebut telah mengalami gangguan ventilasi tuba Eustachius.
Keadaan ini akibat proses inflamasi alergi di mukosa nasofaring
dan tuba Eustachius yang berlangsung lama dan berat sehingga
tuba tidak mampu menyeimbangkan tekanan telinga tengah
dengan tekanan udara sekitarnya. Hasil uji statistik (Chi-Square, p
< 0,05) antara tipe timpanogram dengan rinitis alergi (ARIA
WHO 2001) pada telinga kanan dan kiri didapatkan nilai p yang
tidak bermakna (kanan p = 0,698 dan kiri p = 0,787 ).
Tabel 3 menunjukkan tes Valsava lebih banyak yang gagal di
kelompok kasus (76,7%). Ini berarti tuba Eustachius pada
penderita rinitis ini tidak mampu menyeimbangkan tekanan
telinga tengah dengan udara sekitarnya yang lebih tinggi. Pada
kedua pemeriksaan tes fungsi tuba ini, kegagalan proses ekualisasi
karena obstruksi oleh edema mukosa tuba Eustachius dan muara
tuba di nasofaring.
Uji statistik (Chi-Square) antara tes Valsava kelompok kontrol dan
kelompok kasus pada kedua telinga menghasilkan nilai p yang
tidak bermakna (kanan p =0,258 dan kiri p =0,608). Selain itu,
dilakukan juga pengujian terhadap klasifikasi, tipe timpanogram,
tes Toynbee, dan tes Valsava antara telinga kanan dan telinga kiri.
Dengan uji statistik Chi-Square didapatkan tidak ada perbedaan
yang bermakna antara telinga kanan dan telinga kiri pada rinitis
alergi ( ARIA WHO 2001) dengan tipe timpanogramnya. Demikian
pula pada tes Toynbee dan tes Valsava tidak didapatkan perbe-
daan yang bermakna antara telinga kanan dan telinga kiri.
Semua nilai p yang tidak bermakna tersebut mungkin karena
besar sampel penelitian yang merupakan jumlah minimal yang
dapat digunakan untuk penelitian.
SIMPULAN
Rinitis alergi (ARIA WHO 2001) tidak berpengaruh bermakna
terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius diband-
ingkan dengan kelompok kontrol.
Berbagai derajat rinitis alergi (ARIA WHO 2001) tidak berpen-
garuh bermakna terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba
Eustachius.
SARAN
Meskipun ditemukan pengaruh yang tidak bermakna, penga-
ruh rinitis alergi terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba tidak
dapat diabaikan.
Penanganan rinitis alergi jangan hanya difokuskan pada
gejala di hidung saja tetapi perlu juga diingat komplikasinya
terhadap fungsi tuba Eustachius.
Perlu penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar
dengan metode dan alat lain untuk mendapat hasil yang lebih
akurat.
KEPUSTAKAAN
Bousquet J, Cauwenberge P V, Khaltaev N. ARIA Workshop Group. WHO. Allergic Rhinitis
and Its Impact on Asthma. J Allergy Clin Immunol. 2001, 108 (5 suppl); S147-S276.
Quraishi SA, Davies MJ, Craig TJ. Inflammatory Responses in Alergic Rhinitis: Traditional
Approaches and Novel Treatment Strategies. JAODA 2004; 104 (5suppl):57-S15.
Roland P, McCluggage CM, Sciinneider GW. Evaluation and Management of Allergic Rhinitis:
a Guide for Family Physicians. Texas Acad. Fam. Physicians 2001, 1- 15.
Virant FS. Allergic Rhinitis, Immunol. Allerg. Clin. North Am. 2000;20(2):265-282.
Mandel E, Casselbrant M, Fireman P. Otitis Media. In: Atlas of Allergies and Clinical Immuno-
logy 3
th
ed, Fireman P (ed.) Philadelphia: Mosby, Elsevier, 2002, 79 -93.
Restuti RD, Sosialisman. Otitis Media Efusi kaitannya dengan Rinitis Alergi. Dalam: Kumpulan
Naskah Simposium Nasional Perkembangan Terkini Penatalaksanaan Beberapa penyakit
Penyerta Rinitis Alergi. Malang. 2006, 1-9.
Ghosh MS, Kumar A. Study of Middle Ear Pressure in Relation to Eustachian Tube Patency. Ind
J Aerospace Med 2002;46(2): 27-31.
O
,
Connor AF. Exanination of The Ear. In: Scott-Brown
,
s Otolaryngology, 6
th
ed. Kerr AG.(ed.)
Butterworth; London: 1997 , p.20-23.
Peck JE. Audiology. In: Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 8
th
ed. Lee KJ (ed.)
New York:McGraw-Hill, 2003, p.24-64.
Bluestone CD, Klein JO. Otitis Media. Atelectasis and Eustachian Tube Dysfunction, in
Pediatric Otolaryngology 3
th
, vol 1. Bluestone et al. (eds.) Philadelphia:WB. Saunders Co.
1996.p.388-450
Lazo-Saenz JG, Galvan-Aguilera AA, Martinez-Ordaz VA et al. Eustachian Tube Dysfunction
in Allergic Rhinitis. Otolaryngol Head and Neck Surg. 2005;132(4): 626-9.
Kudelska, Poludniewska B, Biszewska J, Silko, Godlewska. Assessment of the Hearing Organ
in the Patients with Perennial and Seasonal Allergic Rhinitis. Otolaryngol Pal. 2005;59(1):
97-100.
Cauwenberge PV, Wang D. Rhinitis and Otitis. In: Rhinitis Mechanisms and Management.
Naclerio et al.(eds.) New York: Marcel Dekker. 1999.p. 447- 458
Sweetow RW, Bold JM. Eustachian Tube Dysfunction Test. Available at www.
audiologyonline.com, accessed 3/24/2007
1.
2.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
411
PENDAHULUAN
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan
secara keseluruhan dan perihal hidup sehingga perlu dibudi-
dayakan diseluruh masyarakat (Yuyus. R, 1996). Gigi yang sehat
adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi
yang kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal,
dari gigi dan mulut yang sehat tidak tercium bau tidak sedap.
Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan perawatan yang tepat
(1, Lesmana, 1999). Keadaan oral hygine yang buruk seperti
adanya kalkulus dan stain, banyak karies gigi, keadaan tidak
bergigi atau ompong dapat menimbulkan masalah dalam
kehidupan seharihari
(2)
.
Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai
dengan terjadinya mineralisasi bagian anorganik dan deminer-
alisasi substansi organik
(3)
. Karies dapat terjadi pada setiap gigi
yang erupsi, pada tiap orang tanpa memandang umur, jenis
kelamin, bangsa, maupun status ekonomi
(4)
.
Periodontium adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri dari
jaringan gusi, tulang alveolar, ligamentum periodontal dan
cementum yang melekat pada akar gigi (5,Lesmana, 1999).
Marshall-Day menyatakan umumnya keradangan gingiva
pada usia muda rata-rata mencapai 75% atau lebih dan akan
meningkat mendekati 100%
(6,7.8)
.
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut : kelainan gigi dan mulut tersering manakah yang dapat
ditemui dan adakah perbedaan antara tahun 1994 dan 2004 ?
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan
cross sectional. Subjek penelitian ini semua adalah pasien yang
datang berobat ke poliklinik gigi dan mulut RSUD dr Muwardi
pada tahun 1994 dan 2004. Data yang dikumpulkan berupa
macam kelainan gigi dan tindakan pada tahun 1994 dan 2004.
HASIL PENELITIAN
Berikut hasil penelitian yang dilakukan di RSUD dr Muwardi
Solo seperti yang disajikan dalam gambar berikut:
ABSTRAK
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan secara keseluruhan dan perihal hidup. Gigi yang sehat adalah
gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui macam kelainan dan tindakan yang dilakukan di RSUD dr Muwardi Solo. Jenis Penelitian ini adalah
observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien yang datang berobat ke poliklinik Gigi
dan Mulut RSUD dr Muwardi, Surakarta. Jumlah sampel adalah semua pasien yang datang ke poliklinik selama 1 tahun pada
tahun 1994 dan 2004. Data berupa macam kelainan gigi dan mulut dan tindakan. Data yang terkumpul dianalisis dengan
analisa kuantitatif dan disajikan dalam gambar. Kesimpulan penelitian ini adalah ada perbedaan dalam macam kelainan gigi
dan mulut dan ada perbedaan tindakan antara tahun 1994 dan 2004. Ada kenaikan jumlah pada macam kelainan dan tinda-
kan yang nyata.
Kata kunci : Kelainan Gigi; Kelainan Jaringan Pendukung Gigi; Tindakan; Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut
Kelainan Gigi dan Jaringan
Pendukung Gigi yang Sering Ditemui
Adi Prayitno
Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta /
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Muwardi Surakarta.
Gambar 1. Menunjukkan macam kelainan gigi dan jaringan pendukung gigi tahun 1994