background image
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
218
B E R I T A T E R K I N I
Ejakulasi dini (PE) merupakan masalah seksual yang paling sering terjadi pada laki-laki.
PE mengenai 25-40% laki-laki. PE mempunyai ciri-ciri kurangnya
kontrol volunter ( kontrol yang disadari ) terhadap ejakulasi.
Tramadol untuk Penanganan Ejakulasi Dini
S
ebagian besar laki-laki mengalami PE setidaknya
sekali dalam hidupnya. Sering laki-laki dewasa muda
mengalami PE pada saat melakukan hubungan intim
untuk yang pertama kalinya, namun selanjutnya mereka
belajar mengontrol ejakulasi. Bukti terakhir menunjuk-
kan bahwa intravaginal ejaculation latency time (IELT)
rata-rata pada laki-laki usia 18-30 tahun adalah 6.5
menit. Seorang laki-laki disebut menderita PE jika
persentil IELT <2.5 (IELT <1.5 menit). PE dapat disebab-
kan oleh depresi sementara, stres masalah keuangan,
ekspektasi yang tidak realistis terhadap penampilan diri,
riwayat represi seksual, atau kurangnya kepercayaan diri.
PE merupakan masalah mendunia yang tidak memiliki
acuan penanganan yang disetujui secara luas. Selective
serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) merupakan anti-
depresan yang digunakan secara luas dalam penanga-
nan PE. Namun penggunaan SSRIs dan antidepresan
lainnya belum mendapatkan FDA approved (off label).
Banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui agen
farmakologi yang paling tepat untuk penanganan PE.
Berikut ini disampaikan uji klinik mengenai tramadol
dalam penanganan PE.
Salem dkk melakukan studi efikasi tramadol dalam
penanganan PE. Dalam studi ini IELT digunakan sebagai
parameter. Single-blind, placebo-controlled, crossover,
stopwatch monitored two-period study dilakukan pada
60 pasien dengan riwayat PE sepanjang hidupnya.
Disebut PE jika IELT <2 menit pada 80% hubungan
intim yang dilakukan. Tramadol HCl 25 mg diberikan
pada 30 pasien sebelum melakukan hubungan intim
dan plasebo diberikan pada 30 pasien lainnya selama 8
minggu. Obat ditelan 1-2 jam sebelum melakukan aktivi-
tas seksual dan setidaknya hubungan intim harus di-
lakukan 1 kali/minggu. Setelah periode 8 minggu, grup
yang awalnya mendapat plasebo kemudian ditukar
dan mendapatkan tramadol, begitu juga pada grup
yang satunya; penukaran tersebut dilakukan selama
8 minggu. Antara dua periode 8 minggu dipisahkan oleh
periode 1 minggu saat seluruh pasien tidak mengkonsumsi
tramadol ataupun plasebo. IELT diukur dengan stop watch
setiap kali melakukan hubungan intim dan hasilnya di-
laporkan oleh pasien atau pasangan seksualnya. IELT awal
(rata-rata ± SD) sebelum terapi adalah 1.17± 0.39 menit.
Pada akhir periode terapi, IELT rata-rata meningkat secara
bermakna pada pasien saat mendapatkan tramadol,
1.
yaitu 7.37± 2.53 menit (P<0.0001). IELT rata-rata pada
pasien saat mendapatkan plasebo adalah 2.01±0.71
menit. Para pasien melaporkan kepuasan mereka
akan hasil terapi terhadap kontrol ejakulasi. Kesim-
pulan : tramadol, obat anti inflamasi yang sudah
terbukti keamanannya, menunjukkan potensinya
sebagai terapi untuk menangani PE.
Safarinejad dan Hosseini melakukan studi evaluasi
efikasi dan keamanan tramadol dalam menunda
ejakulasi pasien PE. 64 laki-laki dengan PE secara
acak diberi 50 mg tramadol (grup 1, n = 32) atau
plasebo (grup 2, n = 32) kira-kira 2 jam sebelum
melakukan hubungan intim, selama 8 minggu. Sebe-
lum terapi, dilakukan evaluasi mengenai : riwayat PE,
pemeriksaan fisik, IELT, International Index of Erectile
Function, dan tes Meares-Stamey. Efikasi kedua
terapi yang diberikan, dinilai berdasarkan respon
pasien terhadap International Index of Erectile Func-
tion, dan IELT. 57 pasien (89%) berhasil menyele-
saikan seluruh terapi. IELT rata-rata meningkat dari
19 detik menjadi 243 detik setelah pemberian tramadol,
sedangkan IELT rata-rata untuk plasebo meningkat
dari 21 detik menjadi 34 detik (p<0.001). Frekuensi
rata-rata hubungan intim dalam seminggu mening-
kat dari 1.07 menjadi 2.3 setelah pemberian tramadol
dan dari 1.1 menjadi 1.3 setelah pemberian plasebo
(p<0.05). Nilai domain kepuasan setelah melakukan
hubungan intim berdasarkan International Index of
Erectile Function, meningkat dari 10 menjadi 14
setelah pemberian tramadol dan dari 11 menurun
menjadi 10 setelah pemberian plasebo (p<0.05). Tidak
terdapat penghentian terapi akibat efek samping trama-
dol maupun plasebo, namun efek samping akibat pem-
berian tramadol lebih banyak dibandingkan dengan
plasebo (p<0.05). Kesimpulan : tramadol memperlihat-
kan hasil yang lebih baik secara bermakna dalam IELT
dan kepuasan hubungan intim dibandingkan dengan
plasebo.
(VKS)
Referensi :
Premature Ejaculation. www.wikipedia.com
Salem EA et al. Tramadol HCL has Promise in On-Demand Use to
Treat Premature Ejaculation. J Sex Med 2008;5:188­193.
www. blackwell-synergy.com
Safarinejad MR., Hosseini SY. Safety and efficacy of tramadol in
the treatment of premature ejaculation: a double-blind, placebo-
controlled, fixed-dose, randomized study. J Clin Psychopharma-
col. 2006;26(1):27-31. www.ncbi.nlm.nih
2.
1.
2.
3.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
211
B E R I T A T E R K I N I
O
bat-obatan saat ini dibagi ke dalam 2 kelas yaitu:
yang memerlukan resep dan tidak perlu resep. Obat resep
dikontrol sedangkan obat bebas (over the counter/OTC).
diberi kelonggaran. Pihak pengawas (misalnya BPOM)
harus menimbang manfaat kemudahan akses terhadap
kerugian potensial akibat penggunaan tidak terkontrol
dan tidak tepat, sebelum memutuskan klasifikasi suatu
obat. Setelah diklasifikasikan, mereka menjadi subyek
untuk tinjauan ulang keamanan.
Pasien, dokter dan apoteker mendapatkan manfaat bila
obat tersedia secara bebas. Contohnya, pasien dapat
menelpon apotek kapanpun dibandingkan menunggu
bertemu dokter, tidak perlu menunggu penulisan resep
untuk penyakit ringan dan apoteker dapat mengguna-
kan keterampilan profesionalnya lebih baik. Perusahaan
obat dan apotek dapat memanfaatkan secara komersil
klasifikasi obat bebas.
Namun demikian, ada kekhawatiran, misalnya bahaya
potensial pasien yang keliru mendiagnosis dan meng-
gunakan obat bebas yang salah akan terlambat diagno-
sisnya. Juga tidak ada kesempatan untuk menekankan
cara penggunaan yang aman seperti yang dilakukan saat
memberikan obat resep.
Regulasi dapat mengurangi potensi bahaya obat bebas
dengan mengkhususkan konsentrasi, dosis atau ukuran
kemasan sehingga apoteker dapat memberikannya tanpa
resep. Namun demikian beberapa obat seperti statin
mungkin kurang efektif dalam dosis rendah dibanding-
kan dosis yang biasanya diresepkan.
Belanja melalui internet saat ini juga membuat keputu-
san pembelian obat langsung lebih mudah tanpa me-
libatkan dokter atau apoteker. Royal Pharmaceutical
Society of Great Britain memperkirakan 2 juta orang
Inggris mendapatkan obat melalui cara seperti ini.
Jadi, apa yang diperlukan untuk meningkatkan
keamanan obat-obat OTC ?
Keamanan obat OTC harus dievaluasi secara berkala,
walaupun sulit dipraktekkan. Karena para profesional
kesehatan tidak dilibatkan, laporan efek samping hanya
mengandalkan masyarakat. Pihak regulator harus juga
menanyakan bukti lebih jelas mengenai manfaat dosis
obat OTC jika lebih rendah dibandingkan yang biasa
diresepkan.
(NFA)
Sumber : http://www.bma.org
Para ahli memperingatkan bahwa peningkatan akses pada obat bebas
risikonya lebih besar daripada manfaatnya. Mereka menyarankan bahwa
obat-obat bebas harus di bawah pengawasan ketat dan pasien harus
didorong untuk melaporkan setiap kejadian/efek yang tidak diinginkan.
Risiko obat-obat bebas (OTC)
Risiko obat-obat bebas (OTC)
Risiko obat-obat bebas (OTC)