cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
77
Histofi siologi Sel Endotel dan Sel Progenitor
Endotel dalam Sirkulasi Darah
Spooz!Lbsvoefoh
Bagian Anatomi-Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado
BCTUSBL
Sel mononuklear yang tidak tergolong sel darah pada sirkulasi darah tepi ternyata berperan pada keseha-tan
sistem kardiovaskuler. Peningkatan sel endotel pada sirkulasi darah tepi menunjukkan kejadian inflamasi pembu-
luh darah, sebaliknya peningkatan sel progenitor endotel dalam sirkulasi darah tepi menunjukkan sifat proteksi
terhadap pembuluh darah dan memperbaiki jaringan iskemik dengan reendotelialisasi dan neovaskularisasi.
Perlu upaya peningkatan sel progenitor endotel untuk mempertahankan kesehatan sistem kardiovaskuler.
Kata kunci. Sel endotel, sel progenitor endotel, kesehatan kardiovaskuler.
QFOEBIVMVBO
Dengan mikroskop cahaya dan pulasan rutin darah tepi
biasanya dapat dilakukan diferensiasi berbagai jenis sel
lekosit, eritrosit dan trombosit. Dengan teknik imuno-
histokimia ternyata di darah tepi juga dijumpai sel-sel
bukan termasuk sel-sel darah, yaitu sel endotel dan sel
progenitor endotel, yang terlihat sebagai sel mononuk-
lear biasa de-ngan mikroskop cahaya bia-sa
1,2
.
Hal ini dapat dimengerti sebab histogenesis awal
perkembangan sistem kardiovaskuler (vaskulogenesis)
dan hemopoietik dimulai berupa pembuluh darah primi-
tif di daerah
mesoderm chorionic yolk sac
pada hari
ke dua puluh setelah fertilisasi, diikuti dengan terben-
tuknya sistem sirkulasi primitif pada embrio yang se-
dang berkembang. Jadi terdapat sumber sel induk yang
sama antara komponen seluler sistem kardiovaskuler
dan komponen seluler sistem hemopoietik.
3,4,5
Timbul pertanyaan apakah terdapat hubungan antara
sel endotel dan sel progenitor endotel dalam sirkulasi
dengan keadaan sistem kardiovaskuler itu sendiri.
Dalam makalah ini akan dibahas histofisiologi sel en-
dotel dan sel progenitor endotel dalam sirkulasi.
FOEPUFM
Endotel yang menyusun lapisan
monolayer
permukaan
adluminal
sistem kardiovaskuler sebelum tahun 1960
dianggap hanya berfungsi sebagai lapisan sawar seder-
hana antara lumen pembuluh darah de-ngan jaringan
sekitarnya, sesuai dengan gambaran histologis yang
hanya memiliki sangat sedikit struktur organela. Pene-
litian-penelitian kemudian menunjukkan endotel memi-
liki fungsi yang sangat kompleks dalam mengendalikan
keseimbangan hemostasis sistem kardiovaskuler,
de-ngan menghasilkan berbagai bahan vasoaktif yang
tidak disimpan dalam sel tapi langsung dilepaskan ke
dalam darah atau sel/jaringan sekitarnya.
3,5,6
Tjgbu.tjgbu!vnvn!tfm!foepufm
Histogenesis sistem kardiovaskuler pada embrio
dimulai di daerah vaskulosa, permukaan
yolk sac
yang
berasal dari mesenkimal, dinamai sel angioblas atau
hemangioblas. Sel angioblas mengawali pembentu-
kan kapiler primitif, dinamakan vaskulogenesis.
1,5,7
Sel
angioblas berkemampuan berkembang menjadi sel
endotel dan sel-sel hemopoietik.
6
Sel angioblas yang
menjadi endotel kemudian membentuk jala-jala kapiler
dan jantung sejak masa-masa awal perkembangan
embrio; pada hari ke 32 setelah konsepsi denyut jan-
tung telah terdeteksi dengan ekokardiografi.
8
Pada tahun 1960 endotel berhasil dibiakkan dan de-
ngan kemajuan biomolekuler, terbukti endotel berpe-
ran sangat kompleks dalam mengatur hemodinamik
sistem kardiovaskuler.
6
Sel endotel berbentuk poligonal, lebar 10-15 m, pan-
jang 25-50 m dengan sumbu panjang mengikuti ali-
ran darah. Luas permukaan seluruh endotel manusia
bila direntangkan sekitar 150 m
2
pada bayi dan dapat
mencapai 1000 m
2
pada usia dewasa dengan jum-
lah sel sekitar 6 x 1013 dan berat kira-kira 1,5 kilo-
gram atau setara dengan berat hepar.
8
Tahun 1964,
dengan mikroskop elektron ditemukan batang-batang
kecil dalam sitoplasma sel endotel oleh Weibel dan
Palade, berpenampang 0,1 m dan panjang sampai 3
m, dinamai badan Weibel Palade. Badan Weibel Pa-
lade ini mengandung faktor
Von Willebrand
(faktor VIII)
suatu glikoprotein yang disintesis oleh sel endotel dan
disimpan di badan
Weibel Palade arteri
(satu-satunya
bahan yang disimpan dalam sel endotel). Faktor VIII
ini disekresikan ke dalam darah dan berfungsi untuk
agregasi trombosit. Faktor Von Willebrand ini dapat
dideteksi dengan teknik imnohistokimia, sekarang di-
gunakan sebagai
marker
sel endotel dewasa .
2,5,9,10,11
Hasil Penelitian
78
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
Sel endotel normal masa hidupnya mencapai 30 ta-
hun, dalam sediaan histologik sangat jarang terlihat
sel endotel dalam keadaan berproliferasi, hanya seki-
tar satu dari 10.000 atau 0.01%.
5,9,12
Gvohtj!tfm!foepufm
Endotel normal memiliki beberapa fungsi utama:
1. Garis pertahanan (sawar) terhadap hampir semua
elemen asing yang mencoba masuk ke dalam or-
gan;
2
. Tempat metabolisme, katabolisme senyawa-
senyawa tertentu, seperti Angiotensin Converitng
Enszym (ACE),
3. Tempat sintesis berbagai senyawa vasoaktif, seper-
ti:
Endothelium Derived Relaxation Factor
(EDRF),
prostasiklin dan Endothelium Derived Hyperpola-
rising Factor
(EDHF) bekerja sebagai vasodilator
dan antiagregasi trombosit, dan endotelin sebagai
senyawa vasokonstriktor;
4. Sebagai organ imunokompeten yang mensintesis
berbagai mediator inflamasi, mediator proliferasi
sel-sel subendotel dan sebagai membran trombo-
resisten yang menghasilkan berbagai faktor hemo-
statis.
3,6,8,13
Penelitian selanjutnya mendapatkan EDRF adalah gas nitrik
oksida (NO), berperan sentral dalam mengatur hemostatis
vaskuler, seperti: menghambat agregasi trombosit, meng-
hambat adhesi lekosit dan mempunyai efek antimitogenik.
3,13
Ejtgvohtj!!foepufm
Istilah disfungsi endotel kini banyak digunakan untuk me-
nyatakan adanya gangguan pada kemampuan res-pons
vasodilatasi terhadap asetilkolin, istilah ini bersifat san-
gat umum dan tidak spesifik menggambarkan kelainan
dasar endotel itu sendiri. Disfungsi endotel disebabkan
oleh menurunnya produksi NO atau penurunan aktivi-
tas NO meskipun produksinya normal karena dipenga-
ruhi oleh superoksida. Disfungsi endotel menyebabkan
berkurangnya daya pengendalian hemostatis vaskuler
dari endotel sehingga dapat menyebabkan kelainan de-
generatif pembuluh darah terutama aterosklerosis.
13
Roos dan Glomest (1976) pertama kali mempublikasi-
kan bahwa ateroma akan terbentuk di daerah endotel
yang dibuat cedera oleh balon kateter ; sehingga timbul
teori cedera endotel.
29
Ross selanjutnya menyatakan
bahwa aterosklerosis adalah penyakit inflamasi yang
menurunkan produksi dan aktivitas NO; keadaan ini ke-
mudian dikenal sebagai disfungsi endotel.
14,15,16
Berbagai keadaan dapat menyebabkan terjadi dis-
fungsi endotel. Studi Framingham menyimpulkan ber-
bagai faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit
kardiovaskuler. Faktor-faktor risiko Framigham baik
faktor kovensional (faktor risiko mayor) maupun fak-
tor risiko nonkonvensional dapat mengakibatkan ter-
jadinya disfungsi endotel, kemudian memicu perkem-
bangan aterosklerosis.
17,18,19
Tfm! foepufm! cfstjslvmbtj! )
Djsdvmbujoh! Foepuifmjbm!
Dfmmt<!dFD
*
Kira-kira tiga puluh tahun lalu para ahli telah mengeta-
hui sel-sel mononuklear yang bersirkulasi bukan hanya
limfosit dan monosit saja, tapi masih terdapat bebera-
pa jenis sel lain, salah satunya adalah sel endotel.
2
Sel endotel yang berdeskuamasi dari endotelium, ma-
suk ke dalam
sistem sirkulasi perifer
dan dapat didetek-
si melalui ekspresi faktor
von Willebrand
(vWf) dan CD
146.
2
Normal dapat sekitar 0,5-2 buah sel/ml darah,
dapat meningkat 10 kali lipat atau lebih pada penyakit
kardiovaskuler, penyakit jaringan ikat, penyakit infeksi
dan hematologik. Meningkatnya cEC merupa-kan suatu
petanda adanya gangguan atau kerusakan vaskuler,
sebab itu juga dinamakan
Circulating Inflammatory En-
dothelial Cells
(IEC).
20
Peningkatan cEC akan mengek-
spresi molekul
Vascular Adhesion Protein-1
(VAP-1),
MHC class I-related chain A
(MICA),
inducible nitric ox-
ide synthase
(i-NOS) dan
neutrophil-activating chemokin
,
yang biasanya akan meningkat pada penyakit vaskuler.
Jumlah cEC berkorelasi positip dengan CRP pada ke-
adaan-keadaan inflamasi. Meningkatnya cEC yang ber-
hubungan dengan penyakit-penyakit inflamasi serta
peningkatan CRP, berhubungan dengan disfungsi endo-
tel.
21
Peningkatan cEC menandai ada-nya kerusakan en-
dotel oleh beberapa proses penyakit, seperti: sitotoksik
pada transplantasi, hipertensi pulmonal, septik sjok, he-
modialisis, inflamasi vaskulitis, diabetes, penyakit ginjal
dan akut miokard infark.
2,22,23
Masih belum jelas apakah
deskuamasi endotel akan menyebabkan hipertensi dan
vasospasme atau meningkatkan trombosis.
2
Dari beberapa penelitian hitung cEC dapat merupakan
cermin beberapa penyakit vaskuler dan disfungsi en-
dotel. Hitung endotel ini mungkin dapat dikembangkan
sebagai suatu marker baru dalam memprediksi be-
berapa jenis penyakit kardiovaskuler.
Tfm!Qsphfojups!Foepufm
Sudah menjadi perdebatan sejak beberapa waktu lalu
apakah sel-sel turunan hematopoietik, sekarang dikenal
sebagai sel progenitor endotel (SPE) berperan pada
proses angiogenesis postnatal, terutama pada perkem-
bangan tumor.
12
Vaskulogenesis postnatal ini baru mu-
lai terungkap pada beberapa tahun terakhir ini.
TFKBSBI!QFOFNVBO!TQF
Pada tahun 1977 Asahara dkk berhasil mengisolasi
populasi sel mononuklear dari darah perifer yang memi-
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
79
liki antigen permukaan CD34+ dan berpotensi berkem-
bang menjadi sel endotel.
1
Tidak lama setelah Asahara,
Shi dkk membuktikan bahwa sel mononuklear yang me-
miliki antigen permukaan CD34+ tersebut merupakan
derivat dari sel hemositoblas sumsum tulang, yang
in vi-
tro
akan berdiferensiasi menjadi sel endotel pada koloni
aorta yang diberi implant Dacron.
24
Npsgpmphj!TQF
Sejak penemuan di atas, sel mononuklear darah tepi
yang memiliki antigen permukaan CD34, diyakini ber-
asal dari sumsum tulang, sebab hemangioblas juga me-
milki antigen permukaan CD34, CD133 dan CD45.
1,25
Beberapa waktu kemudian berhasil diidentifikasi 3
marker
spesifik pada permulaan perkembangan SPE,
yaitu: CD133 (AC133), CD 34 dan
Vascular Endothelial
Growth Factor Receptor-2
(VEGFR-2), juga dinamakan
kinase insert domain receptor
(KDR) atau Flk-1.
26
Sel
ini terutama masih terdapat dalam sumsum tulang ke-
mudian akan masuk ke dalam sirkulasi perifer; CD133
mulai akan menghilang tapi CD34 dan VEGFR-2 masih
tetap ada. Perkembangan selanjutnya menjadi sel endo-
tel CD34 sudah menghilang tinggal VEGFR-2 dan mulai
terekspresi VE-cadherin dan faktor von Willebrand
saja.
27
CD133 sudah tidak terdeteksi pada permukaan
sel endotel vena umbilikalis manusia.
28
Histologis sel CD34+ asal kultur terlihat sebagai sel
kecil bulat dan menjadi lebih besar dengan sitoplas-
ma lebih banyak setelah hari ke dua. Proliferasi sudah
mulai terlihat pada hari ke tiga. Sel-sel tersebut akan
melekat pada media yang diberi fibronektin. Setelah
melekat pada media fibronektin morfologiknya dapat
dari bulat kecil, bulat besar atau berbentuk spindel.
29
Sel-sel SPE berbentuk spindel ini banyak menyusun
daerah neovaskularisasi tumor.
30
Sejak mobilisasi sel progenitor dari sumsum tulang
masuk sirkulasi, terjadi pematangan sel-sel tersebut
secara bertahap. Mula-mula sel progenitor tersebut
memiliki CD133, masuk sirkulasi mulai muncul CD34
dan CD133 mulai menghilang, diikuti dengan munculnya
marker-marker VEGFR-2,
VE-cadherin
dan faktor von
Willebrand.
1,30,31,32
Penelitian Friedrich dkk atas ateroek-
tomi koronaria manusia menunjukkan SPE subpopulasi
CD34-/133+ lebih banyak pada plak yang stabil diband-
ingkan dengan subpopulasi CD34+/133+. Pada tikus
percobaan dengan penyuntikan sel SPE subpopulasi
CD34-/133+ ternyata lebih banyak sel endotel yang ter-
transplantasi pada arteri karotis dibandingkan dengan
subpopulasi CD34+/133+. Hasil penelitian ini menun-
jukkan bahwa SPE subpopulasi CD34-/133+ atau yang
lebih muda, lebih poten terhadap regenerasi vaskuler.
31
Qfsbo!TQF!qbeb!sffoepufmjbmjtbtj!ebo!ofpwbtlvmbsjtbtj
Reendotelialisasi (regenerasi endotel) dan neovasku-
larisasi merupakan kunci pengobatan kualitas pembu-
luh darah dan memperbaiki keadaan iskemi jaringan.
Sebaliknya pada tumor menghambat neovaskularisasi
berakibat menghambat perkembangan tumor.
Sffoepufmjbmjtbtj
Penelitian saat ini menunjukkan reendotelialisasi bera-sal
dari sel-sel SPE. Pada cedera endotel yang dibuat den-
gan implan Dacron pada anjing, beberapa saat kemu-
dian permukaan daerah implan akan ditutupi oleh sel-sel
CD34+.
24,33
Permukaan ventrikel manusia yang dipasangi
alat akan tertutupi oleh sel hemopoietik immatur CD133+,
bersamaan dengan terekspresinya reseptor VEGF-2.
34
Walter dkk memperlihatkan SPE dapat homing ke bagian
endotel yang dicederai dengan balon kateter.
50
Transplan-
tasi sel-sel turunan sumsum tulang dapat menyebabkan
reendotelialisasi pada endotel yang dibuat cedera.
35,36
Regenerasi endotel dapat mengurangi restenosis dan
penipisan miointimal dinding arteri secara bermakna,
karena endotel tersebut telah dapat mensintesis kem-
bali bahan antiproliferasi terutama nitrik oksida (NO).
25
Hasil penelitian di atas menunjukkan SPE dapat memper-
baiki integritas endotel yang monolayer dengan menem-
pati bagian-bagian endotel yang cedera atau disfungsionil.
Ofpwbtlvmbsjtbtj
Neovaskularisasi
merupakan langkah penting dalam me-
nyelamatkan jaringan
iskemi
, sebaliknya
neovaskularisasi
akan mempercepat pertumbuhan tumor. Infus sel-sel
yang diambil dari sumsum tulang atau sel-sel sumsum
tulang yang dibiak ex vivo akan meningkatkan densitas
kapiler dan neovaskularisasi di jaringan iskemik.
25
Pada
model miokard infark binatang percobaan, infus SPE atau
stem sel sumsum tulang, memajukan vaskularisasi da-
rah dan fungsi jantung serta mengurangi pembentukan
jaringan ikat ventrikel kiri secara bermakna.
37,38
Pemberian sel CD34, CD133, SPE, MAPC (mesenchy-
mal stem cell) memberi efek neovaskularisasi sama
baik, tapi bila digunakan sel-sel SPE atau sel
progenitor
berbentuk spindel yang lebih matur efek neovaskulari-
sasinya lebih rendah.
25
Aktivitas sel progenitor dalam
meningkatkan neovaskularisasi tergantung dari jenis
sel yang digunakan.
25
Jumlah SPE yang bersirkulasi akan menentukan daya
reendotelialisasi dan neovaskularisasi; peningkatan SPE
akan menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler iskemik
atau berkorelasi negatif dengan skor faktor risiko pe-
nyakit kardiovaskuler dari Framingham.
39
Peningkatan
80
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
SPE dalam sirkulasi tergantung dari daya mobilisasi sel
stem sumsum tulang masuk ke sirkulasi darah. Rendo-
telialisasi dan neovaskularisasi tergantung pada mobil-
isasi, homing, diferensiasi, adhesi, migrasi transendotel,
kemotaksis, migrasi dan invasi SPE.
25,37,40,41
Peningkatan SPE dalam sirkulasi penting karena berkorela-
si positif dengan reendotelialisasi dan neovaskularisasi, yang
berhubungan erat dengan kesehatan kardiovaskuler.
Penelitian menunjukkan beberapa faktor pertumbu-
han/sitokin, bahan farmakologis dan latihan fisik dapat
meningkatkan cEPCs.
25
Granulocyte Colony-Stimulating Factor
(G-CSF) dapat
meningkatkan jumlah SPE dan
homing receptors
sel
endotel penderita penyakit jantung koroner.
42
Perco-
baan binatang menunjukkan
Granulocyte-Monocyte
Colony-Stimulating Factor
(GM-CSF) dan
Stromal cell-
Derived Factor
(SDF)
intramiokardial
akan memobil-
isasi SPE dan
neovaskularisasi
daerah iskemik jantung
sehingga terjadi remodelling ventrikel kiri dan kema-
juan fungsi kontraksi miokardium.
43
Eritropoietin (Epo) dapat merangsang proliferasi sel
stem hematopoietik dan meningkatkan jumlah SPE
pada penelitian-penelitian in-vivo. Pemberian Vascular
Endothelial Growth Factor (VEGF) juga akan mening-
katkan cEPCs sebanyak 2,1 kali.
44
Bahan-bahan farmakologis seperti: HMG-CoA reduk-
tase (statin), estrogen dan rosiglitasone meningkat-
kan SPE. Latihan fisik teratur juga dapat meningkatkan
SPE dalam sirkulasi.
25
LFNVOHLJOBO!BQMJLBTJ!LMJOJL!FQDt!
Beberapa penelitian mulai dilakukan untuk menjajaki
penggunaan SPE dalam klinik meskipun dasar bio-
molekuler SPE belum dipahami secara menyeluruh, be-
berapa penelitian menunjukkan hasil menjanjikan. Peneli-
tian terutama dilakukan pada binatang percobaan.
Pada tikus percobaan, arteri karotis dibuat cedera, ke-
mudian ke dalam lumen arteri tersebut ditransplantasi
SPE dari kultur; terjadi reendotelialisasi yang cepat dis-
ertai peningkatan fungsi endotel dan dapat mencegah
perkembangan ateroma di daerah tersebut.
45,46
Pada percobaan pengikatan arteri koronaria desend-
ing anterior sinistra jantung tikus, kemudian diberi SPE
(CD34+)
intramiokardial
melalui kateter; terjadi pening-
katan neovaskularisasi pada miokardial yang iskemik.
47
Pada tikus-tikus yang jantungnya dibuat iskemik dengan
mengikat
arteri coronaria desending anterior sinistra
,
pemberian SDF, GM-CSF atau kombinasi keduanya
ternyata akan meningkatkan SPE, neovaskularisasi,
memperbaiki geometri dan kontraktilitas jantung yang
telah mengalami kardiomiopati iskemik.
43,48,49
Penderita penyakit obstruksi arteri perifer ternyata
memiliki daya angiogenik yang rendah disebabkan
menurunnya ekspresi molekul spesifik SPE dalam
sumsum tulang dan darah. Transplantasi sel mono-
nuklear sumsum tulang akan meningkatkan SPE dan
kemajuan gejala iskemik tungkai.
50
Penelitian Werner dkk dari Maret 2003 - Januari 2004
terhadap 519 penderita penyakit jantung koroner yang
semua-nya dibuktikan angiografi koroner. Mereka diob-
servasi selama 12 bulan untuk melihat hubungan antara
SPE dengan kejadian penyakit jantung koroner. Ternya-
ta di kalangan penderita dengan kadar SPE yang lebih
tinggi, angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler,
kejadian penyakit kardiovaskuler berat, revaskularisasi
dan hospitalisasi lebih rendah. Tetapi kadar SPE sendiri
tidak dapat memprediksi terjadinya miokard infark atau
kematian akibat penyakit kardiovaskuler.
51
Penderita penyakit jantung koroner memiliki SPE lebih
rendah dibandingkan dengan kontrol sehat dan akan
berespon terhadap sitokin G-CSF dalam meningkat-
kan SPE dan ekspresi homing reseptor yang dapat
meningkatkan neovaskularisasi.
42
QFOVUVQ
Di darah tepi terdapat sel-sel mononuklear bukan sel
darah, sel endotel berasal dari endotel pembuluh darah
dan sel progenitor endotel berasal dari sumsum tulang.
Pada penyakit-penyakit tertentu, seperti penyakit kardio-
vaskuler, penyakit jaringan ikat, penyakit infeksi dan he-
matologik akan lebih banyak sel endotel yang terlepas.
Makin tinggi sel progenitor endotel di dalam sirkulasi ma-
kin protektif terhadap pembuluh darah terutama untuk
reendotelialisasi dan neovaskularisasi jaringan iskemik.
Diharapkan jumlah sel endotel dan sel progenitor
dapat digunakan sebagai indikator penyakit kardio-
vaskuler di kemudian hari.
EBGUBS!QVTUBLB
1. Asahara T, Murohara T, Sullivan A, Silver M, Zee R, Tong L, Witzen-
bichler B, Schatlemen G, Isner JM . Isolation of putative progenitor
endothelial cells for angiogenesis. Science 1997;275:964-7.
2. Blann AD, Pretorius A. Circulating Endothelial Cells and Endothelial
Progenitor Cells: Two side of the same coin, or two different coin?.
www.elsevier/locate/atherosclerosis, Elsevier Ireland Ltd., 2006:
Down load 25 April 2006.
3. Karundeng R. Angiologi morfofungsional sistem vaskuler. Manado. FK
Unsrat 1995. p.66-116.
4. Risau W. Mechanisms of angiogenesis. Nature 1997; 386:671-4
5. Fawcett DW. Bloom, Fawcett A Textbook of Histology 12th ed, New
cdk 161/vol.35 no.2 Mar-Apr 2008
81
York: Chapman & Hall 1994; p 133.
6. Vane JR, Anggard EE, Botting RM. Regulatory function of the Vascular
Endothelium. N Engl J Med. 1990; 233: 27-30.
7. Folkman J. Shing Y. Angiogenesis. J Biol Chem 1992; 267: 10931-4
8. Camilleri JP. The Normal Arterial Wall in Hypertension and Arterial
Aging. Monograf. Les Laboratories Servier 1989.
9. Junquiere LC, Carneiro J. Basic Hstology 7th ed. New Jersey, Lange
Med. Publ., Los Angeles California 1989:95 (57)
10. Leeson TS, Leeson CR, Paparo AA. The Circulatory System in Text/At-
las of Histology. Philadelphia, WB. Saunders; 1988: 309-330 (58)
11. Barber CL, Iruela-Arispe ML. The Ever-Elusive Endothelial Progenitor Cell: Identi-
ties, Function and Clinical Implication. Pediatr 2006; res 59: 26R-32R. (60)
12. Fenton RG, Longo DL. Cancer cell biology and angiogenesis. In: Kasper
DI, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL (eds).
Harrison Principles of Internal Medicine 16th ed. Vol I, New York Mc-
Graw-Hill 2005. p.453-64.
13. Baraas F. Stres oksidatif, disfungsi endotel dan faktor resiko aterosklerosis
: dimana letak hubungannya?. Penyakit kardiovaskular dari pediatrik sam-
pai geriatrik. Kaligis RWM, Kalim H, Yusak M, Ratnaningsih E, Soesanto A.
(Eds). Balai Penerbit RS Jantung Harapan Kita 2001;167-77.
14. Roos R. The pathogenesis of atherosclerosis : an update. N Engl J
Med 1986;314:488-98.
15. Roos R. Atherosclerosis-an inflammatory disease. N Engl J Med
1999;340:115-26.
16. Wijaya A. Disfungsi endotil aterosklerosis dan trombosis. Forum Di-
agnosticum Prodia 1988;1:1-23.
17. Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL, Jones
DW, Materson BJ, Oparil S, Wright JT, Roccella EJ. the National High Blood
Pressure Education Program Coordinating Commitee. The Seventh Report
of the Joint National Committee on prevention, detection, evaluation, and
treatment of high blood pressure. JAMA 2003;289:2534-2573.
18. Libby P. Prevention and Treatment of Atherosclerosis. Kasper DI,
Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL(eds). In
Harrison Principles of Internal Medicine 16th ed. Vol II, New York Mc-
Graw-Hill 2005. p.1430-1433.
19. Wijaya A, Kurniasih R. High sensitivity c-reactive protein (hs-CRP)
suatu petanda untuk menentukan resiko penyakit jantung koroner
yang menjanjikan. Forum Diagnosticum Prodia 2001; 2:1-15.
20. Makin A, Chung NAY, Silverman SH. Assessment of endothelial dam-
age in atherosclerotic vascular disease by quantification of circulating
endothelial cells. Eur Heart J 2004; 25: 371-6.
21. Holmen C, Elsheikh E, Stenvivkel P, Qureshi AR, Petersson E, Jalkanen S,
Sumitran-Holgersson S. Circulating inflammatory endothelial cells con-
tribute to endothelial progenitor cell dysfunction in patients with vasculi-
tis and kidney involvment. J Am Soc Nephrol 2005, 16: 3110-20.
22. Quilici J, Banzet N, Paule P. Circulating endothelial count as a diagnostic marker for
non-ST elevation acute coronary syndrom. Circulation 2004; 110: 1586-91.
23. Mutunga M, Fulton B, Bullock R. Circulating endohelial cell in patient
with septic shock. Am J Respir Crit Care Med 2001; 163: 195-200.
24. Shi Q, Rafii S, Wu MH, Wijelath ES, Yu S, Ishida A, Fujita Y, Khotari S, Mohle
R, Sauvage LR, Moore MA, Strob RF, Hammond WP. Evidence for circulat-
ing bone marrow-derived endothelial cells. Blood 1998; 92:362-7.
25. Urbich C, Dimmeler S. Endothelial progenitor cells. Characterization
and role in vascular biology. Circ Res. 2004;95:343-53
26. Peichev M, Naiyer AJ, Pereira D, Zhu Z, Lane WJ, William M, Hicklin
DJ, Witte L, Moore MA, Rafii S. Expression of VEGFR-2 and AC133
by circulating human CD34+ cell identifies a population of functional
endothelial precussor. Blood 2000; 95: 952-8.
27. Yin AH, Miraglia S, Zanjani ED, Almeida-Porada G, Ogawa M, Leary
AG, Olweus J, Kearny J, Buck DW. AC 133, a novel marker for human
hematopoietic stem progenitor cells. Blood 1997; 90: 5002-12.
28. Fan CL, Li Y, Gao PJ, Liu JJ. Zhang XJ, Zhu DL. Differentiation of endo-
thelial progenitor cells from human umbilical cord blood CD34+ cell
in vitro. Acta Pharmacol Sin 2003: 24 (3) 212-8.
29. Vajkoczy P, Blum S, Lamparter M, Mailhammer R, Erber R, Engelhardt B,
Vestweber D, Hatzopoulos AK. Multistep nature of microvascular recuit-
ment of ex vivo-expanded embryonic endothelial progenitor cells during
tumor angiogenesis. T J Experiment Med 2003; 197: 1755-65.
30. Friedrich EB, Walenta K, Scharlau J, Nickenig G, Werner N. CD34-/
CD133+/VEGFR-2+ endothelial progenitor cell subpopulation with
potent vasoregenerative capacities. Circulation Res. 2006; 98: 20.
31. Hristov M, Erl W, Weber P. Endothelial progenitor cells. Mobilization, differ-
entiation and homing. Aterioscler Thromb Vasc Biol.2003;23:1185-9.
32. Aoki M, Yasutake M, Murohara T. Derivation of functional endothelial
progenitor cells from human umbilical cord blood mononuclear cell iso-
lated by a novel cell filtration device. Stem cell 2004; 22: 994-1002.
33. Quirici N, Soligo D, Caneva L, Servida F, Bollolasco P, Deliliers GL. Dif-
ferentiation and expansion of endothelial cells from human bone mar-
row CD133+ cells. Br J Haematol 2001;115:186-194
34. Peichev M, Naiyer AJ, Pereira D, Zhu Z, Lane WJ, Williams M, Oz MC,
Hicklin DJ, Witte L, Moore MA, Rafii S. Expression of VEGFR-2 and
AC133 by circulating human CD34(+) cell identifies a population of
functional endothelial precursor. Blood 2000;95: 952-958.
35. Walter DH, Ritting K, Bahlmann FH, Kirchmair R, Silver M, Murayama T, Nishimu-
ra H, Losordo DW, Asahara T, Isner JM. Statin therapy accelerates reendothe-
lialization: a novel effect involving mobilization and incorporation of bone marrow-
derived endothelial progenitor cells. Circulation 2002;105:3017-3024.
36. Werner N, Junk S, Laufs U, Link A, Walenta K, Bohm M, Nickenig G.
Intravenous transfusion of endothelial progenitr cells reduces neo-
intima formation after vascular injury. Circ Res. 2003;93:e17-e24.
37. Ruel M, Suuronen EJ, Song J, Kapila V, Gunning D, Rubens FD, Me-
sana TG. Effect of off-pump versus on-pump coronary artery bypass
grafting on function and viability of circulating endothelial progenitor
cells. J Thorac Cardiovasc Surg 2005;130:633-639.
38. Kawamoto A, Gwon HC, Iwaguro H, Yamaguchi JI, Uchida S, Masuda
H, Silver M. Endothelial progenitor cell for myocardial ischaemia. Cir-
culation 2001; 103:634-637.
39. Hill JM, Zalos G, Halcox JP, Schenke WH, Waclawiw MA, Quyyumi AA,
Finkel T. Circulating endothelial progenitor cell, vascular function, and
cardiovascular risk. N Engl J Med 2003; 348: 593-600.
40. Vajkoczy P, Blum S, Lamparter M, Mailhammer R, Erber R, Engelhardt
B, Vestweber D, Hatzopoulos AK. Multistep nature of microvascular
recruitment of ex vivo-expanded embryonic endothelial progenitor
cells during tumor angiogenesis. J Exp Med. 2003;197:1755-1765.
41. Carlos TM, Harlan JM. Leukocyte-endothelial adhesion molecules.
Blood 1994;84:2068-2101.
42. Powell TM, Paul JD, Hill JM, Thompson M, Benjamin M, Rodrigo M,
McCoy P, Read EJ, Khuu HM, Leitman TF, Finkel T, Cannon RO. Granu-
locyte Colony-Stimulating Factor mobilized functional endothelial pro-
genitor cells patient with coronary artery disease. Arterioscler Tromb
Vasc Biol. 2005;25:296-301.
43. Woo YJ, Grand TJ, Berry MF, Atluri P, Moise MA, Hsu VM, Cohen J,
Fisher O, Burdick J, Taylor M, Zentko S, Liao G, Smith M, Kolakowski
S, Jayasankar V, Gardner T, Sweeney HL. Stromal cell-derived factor
and granulocyte-monoctye colony-stimulating factor form a combined
neovasculogenic therapy for ischemic cardiomyopathy. J Thorac Car-
diovasc Surg 2005;130:321-9.
44. Heeschen C, Aicher A, Lehmann R, Fichtlscherer S, Vasa M, Urbich
C, Mildner-Rihm C, Martin H, Zeiher A, Dimmeler S. Erythropoietin is
a potent physiologic stimulus for endothelial progenitor cell mobiliza-
tion. Blood 2003;102:1340-6.
45. He T, Smith LA, Harrington S, Nath SH, Caplice NM, Katusic ZS.
Transplantation of circulating endothelial progenitor cells restores
endothelial function of denuded rabbit carotid arteries. Stroke
2004;35:2378-84.
46. Griese DP, Ehsan A, Melo LG, Kong D, Zhang L, Mann M, Pratt RE,
Mulligan RC, Dzau VJ. Isolation and transplantation of autologous cir-
culating endothelial cells into denuded vessels and prosthetic graft.
Circulation 2003;108:2710-15.
47. Kawamoto A, Tkebuchava T, Yamaguchi J-I, Nishimura H, Uchida S,
Masuo O, Iwaguro H, Ma H, Hanley A, Silver M, Losordo DW, Isner
JM, Asahara T. Intramyocardial transplantation of autologous endo-
thelial progenitor cells fot therapeutic neovascularization of myocar-
dial ischemia. Circulation 2003;107:461.
48. Fazel S, Chen L, Weisel RD, Fazel A, Cheung P, Lam J, Fedak PWM,
Yau TM, Li R-K. Cell transplantation preserves cardiac function after
infraction by infarct stabilization: augmentation by stem cell factor. J
Thorac Cardiovasc Surg 2005;130:1310-1318.
49. Kawamoto A, Murayama T, Kusano K, Ii M, Shintani S, Iwakura A,
Johnson I, Samson P, Hanley A, Gavin M, Curry C, Silver M, Ma H, Los-
ordo DW. Synergistic effect of bone marrow mobilization and vascu-
lar endothelial growth factor-2 gene therapy in myocardial ischemia.
Circulation 2004;110:1398-1405.
50. Yamamoto K, Kondo T, Suzuki S, Izawa H, Kobayashi M, Emi N, Komori K,
Naoe T, Takamatsu J, Murohara T. Molecular evaluation of endothelial
progenitor cells in patients with ischemic limbs: therapeutic effect by stem
cell transplantation. Arterioscler Thromb Vasc Biol 2004;24:192-196.
51. Werner N, Kosiol S, Schiegl T, Ahlers P, Walenta K, Link A, Bohm M,
Nickening G. Circulating endothelial progenitor cells and cardiovascu-
lar outcomes. N Engl J Med 2005;353:999-1007.