TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Giardiasis ( Demam Linsang )
Faisal Yatim
Pusat Penelitian Pemberantasan Penyakit, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Giardiasis, mungkin lumrah terdapat pada penderita diare di negeri kita, tetapi karena tidak
begitu berbahaya, kurang sekali laporan dan publikasi penyakit ini di majalah kesehatan.
Demikian juga masih langka presentasi para ahli pada seminar penyakit tropis. Boleh dikatakan
tidak ada perhatian pakar terhadap penyakit Giardiasis. Maksud publikasi ini juga untuk
menggugah para klinikus, agar tidak mengabaikan penyakit ini.
Kata kunci: Giardia lamblia, gejala klinik, pengobatan, pencegahan.
PENDAHULUAN
Penyakit ini, termasuk penyakit yang ditularkan melalui air
minum yang tidak bersih. Disebut demam linsang, karena
parasit Giardia lamblia penyebab penyakit, terdapat pada
kotoran berang berang (linsang). Sebetulnya parasit ini juga
terdapat pada kotoran tikus kesturi (cecurut) dan juga kotoran
hewan peliharaan lain baik yang ternak, atau binatang rumah
lain, seperti kucing dan anjing. Manusia yang tertular parasit
ini melalui minum air yang tercemar kotoran hewan yang
mengandung parasit, mungkin tidak memperlihatkan gejala
sakit. Sedangkan pada yang sakit timbul gejala :
· Diare,
· Kramp perut,
· Mual mual,
· Berat badan turun, dan rasa letih (cape) meskipun istirahat
seharian.
Keluhan ini bisa berlangsung 1-3 minggu. Meskipun tidak
menunjukkan gejala sakit, seseorang yang sudah tertular
parasit, dapat menularkannya ke orang lain, misalnya di dalam
keluarga, teman dekat di sekolah. Penyakit ini terdapat di
seluruh dunia, terutama di pedesaan, yang sanitasi air
minumnya masih kurang mendapat perhatian. Penularan,
seperti penyakit saluran cerna lain, terjadi secara tangan ke
mulut (hand-to-mouth transfer). Misalnya juru masak yang
kurang bersih mencuci tangan sebelum mengolah bahan
makanan, atau ibu yang kurang memperhatikan kebersihan
tangan selesai mengganti popok bayinya, atau perawat bayi yang
memindahkan parasit ke bayi lain, karena kurang menjaga
kebersihan tangan. Penderita giardiasis sering anak anak dan
bayi, atau orang dewasa berumur 20-40 tahun
PARASIT GIARDIA LAMBLIA
Parasit ini sudah diidentifikasi oleh Leewenhoek pada tahun
1681, dengan menggunakan mikroskop konvensional; dia
menemukannya saat memeriksa tinja encer dari seorang
penderita diare.
Parasit ini ditemukan di semua negara di dunia. Penularan
dimulai dari menelan parasit dalam bentuk kista. Dinding kista
yang tebal akan pecah terkena asam lambung, dan keluarlah
bentuk tropozoit Bentuk tropozoit segera membelah dua, dan
bergerombol dengan parasit lain di daerah usus halus, yang
kemudian mulai menimbulkan gejala gangguan saluran cerna.
Bentuk tropozoit ini mirip buah pear yang dibelah dan
mempunyai sepasang cambuk (flagella) untuk membantu
bergerak dan berenang bebas di dalam lumen usus.
Bentuk tropozoit ini kontak dengan cairan empedu,
mengubah campuran makanan dan enzim pencernaan, Kemudian
mulai menembus lapisan selaput lendir usus, sambil terus
membelah memperbanyak diri sampai bertahun tahun. Bentuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
22
tropozoit ada yang mati karena enzim pencernaan dan ada yang
berubah menjadi bentuk kista berdinding tebal dan keras.
Yang ikut aliran cairan usus, akan ikut keluar bersama kotoran,
mencemari air sungai, air danau, air selokan, atau mata air di
pegunungan.
Parasit G. lamblia mencemari air permukaan, bersama-sama
· Virus Hepatitis A, menyebabkan sakit kuning (hepatitis)
· Kuman Salmonella menyebabkan penyakit demam tipus,
· Kuman Campilobacter menyebabkan diare pada manusia
yang tertular melalui konsumsi daging babi, atau susu
mentah.
Sanitasi air minum perlu diperhatikan untuk menghindari
penularan parasit, virus dan kuman penyebab penyakit tersebut.
EPIDEMIOLOGI
Giardiasis terjadi pada 4 kondisi:
1. Kejadian Luar Biasa akibat kurangnya kebersihan air
minum.
2. Pada penjelajah hutan dan pendaki gunung di daerah
endemis, seperti Rusia, Amerika Tengah, pegunungan
Rocky, dan India .
3. Giardia pada hewan sebagai pembawa parasit.
4. Penularan dari seorang ke orang lain, yang terjadi di
fasilitas perawatan , misalnya tempat penitipan bayi.
Jarang sekali dilaporkan terjadi Kejadian Luar Biasa Giardiasis
akibat penularan melalui makanan (food-borne diseases).
Giardiasis terjadi di negara berkembang maupun di negara
maju. Menurut para ahli, dengan menelan 10 kista sudah bisa
menimbulkan gejala sakit.
Penularan banyak terjadi di pusat pusat perawatan dengan
sanitasi tinja kurang baik, seperti tempat penitipan bayi dan
asrama anak anak; penularan juga mungkin terjadi pada
pengikut perilaku seksual tidak wajar (anal sex).
Penularan juga sering terjadi pada penjelajah hutan dan pendaki
gunung, karena kebersihan air minum kurang diperhatikan.
Penularan di perkotaan biasanya karena kurang ketatnya
pengawasan sanitasi sarana penyediaan air minum, hingga kista
Giardia ikut aliran air yang didistribusi ke rumah rumah.
GEJALA KLINIK
Umumnya penderita mencret, kejang perut, kembung,
mual, tinja buyar, berlemak, berat badan turun, badan lemah.
Infeksi parasit Giardia lamblia, bervariasi mulai dari tanpa
keluhan sampai diare yang berat gangguan penyerapan, hingga
pertumbuhan anak terhambat.
Gejala giardiasis akut, biasanya berlalu dalam 1 minggu,
dapat berlanjut menjadi khronis dengan gejala gangguan
pencernaan dan penyerapan makanan menyebabkan penurunan
berat badan, dehidrasi, dan sangat jarang menimbulkan
kematian. Selain itu dapat timbul kaligata (urticaria), uveitis
dan radang sendi (arthritis). Kematian penderita Giardiasis,
biasanya pada keadaan rendahnya gamma globulin
(hipogammaglobulin) yang menurunkan kekebalan. Penyakit
Giardiasis bisa bersama sama dengan penyakit saluran cerna
lain, seperti cystic fibrosis.
DIAGNOSA DAN PENGOBATAN
Diagnosa Giardiasis hanya dapat ditegakkan melalui
pemeriksaan tinja. Kecurigaan pada Giardiasis, terutama
diarahkan pada penderita yang mengalami diare, apalagi jika
disokong oleh epidemiologi dan dengan adanya gejala klinik
lain. Pada diare karena Giardia, biasanya tinja tidak berbau,
disertai perut kembung, banyak buang angin, kramp usus dan
pada pemeriksaan fisik, ditemukan perut kembung, bising usus
yang berlebihan serta keluhan nyeri menyeluruh pada
pemeriksaan raba (palpasi) perut.
Tinja berlendir dan darah jarang ditemukan pada Giardiasis.
Pemeriksaan tinja, bisa tidak menemukan kista parasit, karena
kadang kadang kista tidak ikut keluar bersama tinja; untuk itu
pemeriksaan perlu di ulang di hari lain. Biopsi jaringan selaput
lendir usus halus juga perlu untuk melihat keberadaan parasit.
Pemeriksaan antigen parasit di dalam tinja kurang berhasil baik.
PENCEGAHAN
1. Menjaga kebersihan perorangan dengan baik untuk
mencegah penularan dari seorang ke orang lain.
2. Mengobati penderita yang tanpa keluhan, tetapi pada
pemeriksaan tinja mengandung kista untuk mencegah
penularan.
3. Memanaskan air minum sampai 70° C selama 10 menit,
4. Beberapa alat penyaring bisa membersihkan air minum dari
parasit Giardia
KOMPLIKASI
· Seperti biasanya penyakit diare, bisa terjadi dehidrasi.
· Gangguan penyerapan preparat besi, hingga menyebabkan
anemi; dilaporkan dari 10 penderita Giardiasis, 8 di
antaranya menderita anemi kekurangan zat besi.
· Hipoproteinemia akibat gastrointestinal protein loss -
gangguan penyerapan akibat infeksi parasit G. lamblia.
KESIMPULAN DAN SARAN
Meskipun penyakit Giardiasis lumrah ditemukan pada
masarakat di negara berkembang, tetap perlu diperhatikan karena
komplikasi yang bisa terjadi menurunkan produktivitas
penderitanya.
KEPUSTAKAAN
1.
Giardiasis (beaver fever) http://www.bchealthguide.org/healthfiles
3.
Stevens DP, Gillin FD. Giardiasis, in Tropical and Geographical Medicine,
edisi 2, 1990, pp. 344-47.
4.
Harrison's Principles of Internal Medicine edisi 15, th 2000, p. 1227.
5. Beers MH, Berkow R. The Merck Manual of Diagnosis And Therapy,
ed.17, 1999, p. 1257.
6.
7.
DEvizi B, Poggi V, Vajro P, Cuchiara S, Acampora A.. Iron malabsorption
in Giardiasis, Pub Med J. Pediatr. Mi 1985;107(l);75-8.
8.
Dubey R. Intestinal giardiasis: an unusual cause for hypoproteinemia.
Indian J. Gastroenterol. Department of Pediatrics, Seth GS Medical
college, Mumbai
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 23