TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Penanganan Psikologik
pada Obesitas
Sylvia D. Elvira
Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta,Indonesia
PENDAHULUAN
Obesitas merupakan suatu kondisi yang dahulu
dianggap sebagai lambang kesejahteraan dan tidak berkaitan
dengan penyakit. Insidens dan prevalensinya meningkat, baik
di negara maju maupun di negara-negara berkembang, sejalan
dengan perkembangan teknologi yang memberikan ke-
mudahan dan perubahan gaya hidup. Namun, berkaitan
dengan risiko kesehatan dan dampaknya terhadap kualitas
hidup, kini obesitas merupakan problem atau penyakit
(1,3)
.
Obesitas merupakan masalah yang diperhatikan
karena berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan
mortalitas berbagai penyakit, antara lain hipertensi, gangguan
kardiovaskuler, diabetes, gangguan endokrin lainnya, pe-
nyakit kandung empedu, problem paru dan pernafasan,
artritis, gangguan tidur, ketidakmampuan untuk berpartisipasi
pada aktivitas-aktivitas rekreasi dan olahraga, rendahnya harga
diri dan problem citra-tubuh
(1,4)
.
Akhir-akhir ini obesitas dinyatakan sebagai penyakit
kronik dengan penyebab multifaktorial. Dari penelitian-
penelitian didapatkan bahwa obesitas tidak disebabkan oleh
penyebab tunggal melainkan oleh hubungan yang kom-
pleks antara faktor genetik, fisiologik, metabolik,
psikologik, sosioekonomik, gaya hidup dan faktor budaya.
Bila ditinjau dan aspek psikologik, obesitas dapat me-
rupakan suatu kondisi tersendiri yang antara lain
merupakan gejala dari gangguan makan (misalnya bulimia
nervosa), atau merupakan kondisi yang berkaitan dengan
citra-diri dan harga-diri, yang mempunyai dasar psiko-
dinamika tertentu. Pada makalah ini hanya akan dibahas
mengenai obesitas sebagai gejala dari gangguan makan,
disertai penanganannya secara garis besar.
OBESITAS
Kata obesitas berasal dari bahasa Latin: obesus, obedere,
yang artinya gemuk atau kegemukan. Obesitas atau gemuk
merupakan suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan
penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Pendapat
lain mengatakan bahwa obesitas merupakan gangguan medik
kronik yang tidak dapat disembuhkan dan hanya dapat
diobati
(4,5)
.
Sebagian orang menggolongkan obesitas sebagai suatu
kelainan akibat kurangnya pengendalian diri dan hal tersebut
bisa jadi telah menjadi anggapan umum
(3)
. Pengendalian diri
yang dimaksud di sini tentunya pengendalian terhadap ke-
inginan untuk makan Bila kita melihat seseorang dengan
obesitas, yang terbayang adalah bahwa orang itu telah makan
sedemikian banyak sehingga bentuk tubuhnya menjadi seperti
yang kita lihat. Mengapa ia makan sedemikian banyak? Tidak
merasa kenyangkah ia hingga tidak berhenti makan saat ia sudah
merasa kenyang? Atau, apakah porsi makannya memang
sedemikian besar dan hal itu telah menjadi kebiasaannya sejak
lama, atau bahkan sejak kecil? Mengapa ia tidak dapat me-
ngendalikan keinginan makannya?
TERJADINYA OBESITAS
Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan
dan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang
selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak
(2)
. Etiologinya
multifaktorial, baik faktor individual (biologik dan psikologik)
maupun lingkungan. Bila faktor yang dapat merupakan etiologi
yang berasal dari individu seperti gangguan endokrin, serta
faktor organik lainnya ternyata tidak ditemukan, kondisi ini
dapat merupakan konsekuensi dari suatu keadaan yang
dialami seseorang, yang tidak dapat mengendalikan keinginan-
nya untuk makan, bagi orang tersebut makan dilakukan bukan
untuk memenuhi kebutuhan untuk mengganti energi yang telah
digunakan dan dikeluarkan pada aktivitas fisik atau psikologik
tertentu, melainkan karena memang ingin makan dan makan,
yang tidak mampu dikendalikan olehnya.
Kondisi ingin makan dan makan itu termasuk dalam kelom-
pok gangguan makan dalam PPDGJ-III (Pedoman Penggolong-
an dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia) maupun dalam
DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
disorders).Gangguan makan tersebut, yang kondisi pasien-
Dibacakan pada Simposium Penanganan Gangguan Obesitas dan
Metabolisme Androgen pada Masa Reproduksi, Jakarta 31 Agustus 2002
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 21
nya biasanya tampak gemuk atau mengalami obesitas, terdiri
atas binge-eating disorder dan bulimia nervosa
(6,7)
.
Pada binge-eating disorder gejala yang ditemui yaitu
seseorang makan pada suatu periode tertentu, dengan jumlah
yang lebih banyak dan lebih cepat daripada kebanyakan orang,
hingga ia merasa benar-benar sangat kenyang (uncomfortably
full). Biasanya makan dilakukan tidak pada saat lapar,
seorang diri karena malu makan dalam jumlah besar. Biasanya
orang tersebut mengalami depresi atau merasa bersalah setelah
makan
(6,9,10)
.
Bulimia adalah kecenderungan atau dorongan untuk makan
banyak, berlebihan, mungkin disertai nafsu makan besar mungkin
pula tidak
(11)
.Gejalanya serupa dengan binge-eating disorder
disertai perilaku mengeluarkan kembali makanan tersebut,
baik dengan cara memuntahkan atau dengan menggunakan
pencahar
(6,9,10)
.
PSIKODINAMIK OBESITAS
Obesitas terjadi karena makan berlebih (over-eating).
Pada awal kehidupan, seorang bayi mempersepsikan makanan
sebagai pengekspresian rasa cinta, dan persepsi tersebut sering
masih tersisa. Pada saat pemberian makan, seorang ibu dapat
memindahkan perasaan cemas atau ansietas yang dialaminya
kepada anaknya. Makan dapat menjadi cara untuk mengatasi
kecemasan, yang terjadi karena frustrasi yang dialami, karena
adanya persepsi bahwa cinta dan perhatian setara dengan
makanan. Kelebihan makan mungkin merupakan indikasi adanya
ansietas dini tersebut
(12)
.
Menurut Hamburger, makan berlebih merupakan respons
terhadap ketegangan emosional yang tidak spesifik, atau
merupakan substitusi dari gratifikasi yang tidak dapat di-
toleransi pada situasi-situasi tertentu dalam kehidupan,
atau merupakan gejala dari gangguan emosional yang
mendasarinya, terutama depresi
(12)
.
Bulimia nervosa maupun binge-eating disorder dapat
dialami seseorang mungkin karena ketidakmampuannya
untuk mengatasi masalah-masalah hidup secara praktis.
Ketidakmampuan tersebut biasanya dalam pengendalian
emosi, pemrosesannya, serta mengatasinya. Ini terjadi
mungkin karena adanya depresi yang mendasarinya. Depresi
tersebut dapat terjadi karena terhambatnya proses per-
kembangan mental seseorang sehingga ia lebih nyaman
menggunakan mekanisme adaptasi (atau defensi) yang biasa
digunakannya pada fase perkembangan yang lebih dini, yaitu
fase oral (fase di saat seseorang mengatasi problem hidupnya
terutama dengan mulut, biasanya pada usia antara 0-18
bulan). Mekanisme defensi yang digunakan adalah intro-
yeksi, yaitu memasukkan suatu objek ke dalam struktur psikis
individu
(11)
objek ini semula bersifat kongkrit (karena ke-
mampuan berpikir yang masih terbatas dan didominansi oleh
proses pikir primer) berupa makanan, tetapi kemudian
secara bertahap dapat berkembang menjadi lebih abstrak
(misalnya ibu atau orang lain yang dicintai atau dianggap
dekat dan nantinya dapat berupa lain ide, harga diri, prestasi,
dan sebagainya)
(l)
.
Depresi dapat pula terjadi secara sekunder karena
obesitasnya individu mengalami obesitas namun mempunyai
keinginan atau bayangan mengenai bentuk tubuh yang 'ideal'
sehingga mengalami depresi karena bayangan bentuk tubuh
tersebut tidak dapat dicapainya. Kemungkinan lain, depresi
terjadi karena gangguan citra-tubuh (sering berupa distorsi,
yaitu bila melihat di depan cermin, seseorang tidak melihat
tubuhnya seperti apa adanya dalam realitas) seseorang yang
obes, jarang menyadari seberapa gemuk dirinya
(14)
.
Mengenai
kedua hal ini tidak akan dibahas lebih mendalam dalam
makalah ini.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan terhadap obesitas merupakan pen-
dekatan holistik dan komprehensif, termasuk meneliti latar
belakang terjadinya obesitas pada seseorang, apakah murni
karena gangguan metabolik atau gangguan organik lainnya,
ataukah berperan pula faktor psikologik tertentu sebagaimana
telah dibahas sebelumnya
(610)
. Biasanya penatalaksanaannya
meliputi pemberian farmakoterapi, pengaturan diet, latihan fisik,
pengubahan gaya hidup.
PENANGANAN PSIKOLOGIK
Pada pasien dengan obesitas yang dasarnya adalah ganggu-
an makan yang didasari oleh depresi, maka penanganannya
sesuai dengan penatalaksanaan terhadap gangguan depresi,
yaitu pemberian psikofarmaka dan psikoterapi. Psikofarmaka
yang diberikan berupa antidepresi golongan apa saja, antara lain:
Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI) (sertraline 1 x 50
mg per hari, atau fluoxetine 1 x 20 mg per hari, atau
fluvoxamine Ix 50 mg per hari), reversible monoamine
oxidase inhibitor (RIMA) (moclobemide 2 x 150 mg per
hari), maupun trisiklik dan tetrasiklik (imipramin, maprotilin),
disesuaikan dengan kondisi pasien (umur, pekerjaan dan
kegiatan sehari-harinya serta sosio-ekonomi).
Psikoterapi yang diberikan dapat berupa psikoterapi dengan
pendekatan dinamik, atau non-dinamik, seperti terapi kognitif-
perilaku, atau modifikasi perilaku. Pemilihan jenis psikoterapi
disesuaikan dengan kondisi dan kepribadian pasien. Pada psiko-
terapi dinamik, tujuan utama adalah pencapaian tilikan
(insight),yaitu mengajak pasien untuk lebih memahami diri dan
kehidupannya (termasuk konflik dan pelbagai problem yang
pernah dihadapi dan cara mengatasinya), baik pasien maupun
dokter berperan aktif dalam proses. Pada setiap pertemuan,
topik yang dibahas disesuaikan dengan yang ingin dikemuka-
kan oleh pasien topik mengenai hal-ihwal yang berkaitan
dengan depresi atau gangguan makan atau obesitas yang
dialami dapat dibahas sesuai dengan kebutuhan. Biasanya
dilakukan dalam jangka panjang, minimal 3-12 bulan.
Pada terapi kognitif-perilaku, pasien diajak untuk menilai
cara berpikirnya selama ini yang lebih cenderung ke arah
irasional (sering berpikir negatif secara otomatis tentang diri
dan kondisi yang dialaminya), pasien diajak untuk mengubah
cara berpikirnya ke arah yang lebih rasional pasien juga
diajak untuk dapat menggunakan cara lain untuk meng-
hadapi stres dan perasaan-perasaan negatif lainnya yang
mengarah pada perilaku 'bingeing' dan makan berlebihan.
(14)
Pada terapi perilaku (behavior modification), tujuan
terapi adalah membantu pasien memodifikasi kebiasaan
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
22
makannya, meningkatkan aktivitas fisik, meningkatkan ke-
sadaran akan kedua hal tersebut (pengubahan kebiasaan
makan dan latihan fisik). Pasien diminta mengidentifikasi dan
mencatat saat, suasana dan tempat sewaktu keinginan makan
timbul serta frekuensi makannya pasien kemudian diarahkan
untuk dapat mengontrol stimulus agar dapat memutuskan
rantai antara peristiwa yang membangkitkan keinginan
makan dengan perilaku makannya (contohnya antara lain
dengan membatasi tempat-tempat makannya, atau dengan
mengambil segelas air putih di antara setiap gigitan
makanan, mengunyah dengan frekuensi tertentu). Kemu-
dian pasien diajak untuk memodifikasi konsekuensi dari
perilaku makannya untuk self-reward (termasuk mengem-
bangkan kemampuan assertive, belajar menyatakan 'tidak'
serta mengembangakn self-talk yang positif)
(6,14-16)
.
KESIMPULAN
Obesitas merupakan gangguan yang disebabkan oleh
pelbagai macam faktor, yang merupakan hubungan yang
kompleks antara faktor genetik, fisiologik, metabolik,
psikologik, sosioekonomik, gaya hidup dan faktor
budaya. Faktor psikologik juga berperan dalam terjadinya
obesitas, antara lain berupa terdapatnya gangguan makan
yaitu bulimia nervosa atau binge-eating disorder, yang
didasari oleh adanya depresi yang dialami seseorang.
Penanganan psikologik terhadap obesitas adalah sesuai
dengan yang dilakukan terhadap depresi, yaitu pemberian
psikofarrnaka berupa anti depresi, serta psikoterapi, baik
dengan pendekatan dinamik, atau terapi kognitif-perilaku,
atau modifikasi perilaku yang disesuaikan dengan kondisi dan
kepribadian pasien.
KEPUSTAKAAN
1. Waspadji S. Kegemukan: pendekatan klinis dan pemilihan obatnya,
dalam Prosiding Temu Ilmiah Akbar 2002. Pusat Informasi dan Penerbitan
Bagian Imu Penyakit Dalam FKUI2002: 69-71.
2.
Sjarif DR. Evaluasi dan tatalaksana obesitas pada anak, dalam Prosiding
Temu Ilmiah Akbar 2002. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu
Penyakit Dalam FKUI 2002:
3.
Soegondo S. Obesitas dan permasalahannya, dalam Prosiding Temu
Ilmiah Akbar 2002. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Imu Penyakit
Dalam FKUI 2002: 64.
4.
Obesity, is it an eating disorder? Anorexia Nervosa & Related Eating
Disorders, Inc. ANRED, 2002.
5.
Myers MD. Comprehensive obesity treatment. www.weight.com. 2000
6.
Brownell KD, Wadden TA. Obesity dalam Comprehensive Textbook of
Psychiatry, ed. VII, Kaplan , Sadock. (eds.) 2000: 1787, 1789, 1792.
7.
Direktorat Kesehatan Jiwa, Ditjen Pelayanan Medik, Departemen
Kesehatan RI. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia edisi III (PPDGJ-III) -1995.
8.
Schwartz M. Binge eating disorder: a new eating disorder
category.webmaster@ct. addictionprofessionals. com 1998.
9.
Fairburn. Risk factors for binge eating disorder. Arch. Gen. Psychiatr.
1998,55: 425
10. Grinker RR, Robbins FP. Obesity, dalam Psychosomatic case book,
NewYork Toronto: The Blakiston Co. Inc. 1954: 191-2
11. Lubis DB. Pengantar psikiatri klinik. Jakarta, Balai Penerbit FKUI, 1989:
91.
12.
Psychological causes of obesity
13.
Eating disorder and obesity.www.austinpsych.com/services.eating dis. html.
14.
Palmer MP. Complexity of obesity. www.innerself.com.
15. Autres Traitements. Psychotherapy for obesity. www.obesity-diet.com
16. Bray GA. Behavior modification in the treatment of obesity. Lousiana State
University Jan 2001.
17. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical
Manual for Mental Disorders -fourth edition (DSM-IV), 1994.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 23
Document Outline