background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Tumor-tumor Ovarium Borderline
Chrisdiono M. Achadiat
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah
Dari pelbagai penyakit yang mengenai wanita, neoplasia
ovarium dan intra-abdominal adalah yang paling sulit didiagno-
sis dan diobati. Sejauh ini hanya sedikit kemajuan untuk melacak
prekursor ataupun stadium dini lesi-lesi ini. Kajian-kajian epide-
miologikpun belum mampu menetapkan kelompok risiko tinggi
di mana penemuan kasus secara dini dapat segera dilakukan.
Dengan demikian kasus-kasus biasanya ditemukan secara "pasif"
di rumahsakit-rumahsakit, sedangkan penemuan kasus dini di
masyarakat masih menemui kesulitan
(1,2,3,4)
.
Neoplasia intra-abdominal yang hampir selalu dikaitkan
dengan keganasan ovarium, ditemukan dengan proporsi sebesar
± 8% dan seluruh tumor ganas ginekologik, dapat dijumpai pada
segala usia tetapi 60% dijumpai pada usia di atas 50 tahun dan
30% pada usia reproduksi serta lainnya pada usia muda
(1,2)
.
Akhir-akhir ini diperkirakan terjadi peningkatan kasus dengan
gambaran histopatologik antara neoplasma ovarium jinak dan
ganas, dikiasifikasikan sebagai neoplasma ovarium borderline,
yang penanganannya masih belum disepakati oleh para ahli.
Diperkirakan sekitar 9,2­20% dan seluruh keganasan ovarium
adalah neoplasma kelompok ini, yang angka ketahanan hidupnya
dapat mencapai 95% meskipun kemungkinan rekurensi dan
kematian dapat terjadi 10­20 tahun kemudian. Hal ini dise-
babkan karena neoplasma kelompok ini tetap memiliki kemam-
puan metastasis ke organ-organ jauh di luar genitalia interna.
Di Indonesia tumor ganas ovarium banyak dijumpai dan
merupakan penyebab kematian ke tiga terbesar setelah tumor
ganas serviks dan tumor ganas payudara, padahal five-years
survival rate nya dalam 50 tahun terakhir ini tidak banyak
mengalami kemajuan, yakni berkisar antara 20­37%
(5-9)
.
KLASIFIKASI TUMOR OVARIUM
Pelbagai kesulitan dijumpai ketika menyusun klasifikasi
tumor ovarium dengan menggunakan kriteria histologik, se-
hingga WHO pada tahun 1973 mengajukan klasifikasi sebagai
berikut
(1,2)
:
I. Neoplasma epitel
1) Jenis serosum
2) Jenis musinosum
3) Endometrioid
4) Mesonefroid
5) Tumor Brenner (transisional)
6) Kombinasi jenis epitelial
7) Kombinasi epitelial dengan unsur lain
8) Karsinorna tak terdiferensiasi
II. Neoplasma stroma gonad
1) Tumor sel granulosa/tekofibroma
2) Tumor sel Sertoli-Leydig
3) Gonadoblastoma
III. Tumor sel hpoid
IV. Neoplasma germinal
1) Disgerminoma
2) Tumor sinus endodermal
3) Karsinoma embrional
4) Khoriokarsinoma
5) Teratoma
V. Tumor jaringan lain yang tidak khas ovarium
VI. Limfoma maligna
VII. Tumor primer unclassified
VIII. Tumor metastatik.
Sedangkan klasifikasi yang didasarkan pada embriologi dan
fisiologi tumor ovarium, memasukkan golongan lesi-lesi non-
neoplastik serta membaginya menjadi 2 bagian besar, yakni
(9)
:
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 21
background image
1) Penyakit-penyakit radang pada ovarium
Perlekatan-perlekatan yang diakibatkan oleh proses infeksi
sub-akut dan kronik, endometriosis dan inklusi peritoneal.
2) Kista ovarium non-neoplastik
Kista granulosa dan teka lutein, ovarium pohkistik (Stein-
Leventhal), proliferasi fokal ataupun difus (misalnya tekosis,
granuloma kortikal, luteoma kehamilan).
Beberapa hal yang dikatakan dapat meningkatkan risiko
untuk mendapatkan neoplasma ganas ovarium, antara lain
(3)
:
1) wanita yang terpapar bahan tertentu (misalnya asbes)
2) penggunaan talkum
3) faktor genetik (riwayat neoplasma ganas dalam keluarga)
4) ovulasi yang banyak.
MASALAH DIAGNOSTIK TUMOR-TUMOR OVARIUM
YANG DICURIGAI GANAS
Semua penulis sepakat bahwa diagnostik tumor-tumor ga-
nas ovarium sangat sulit, karena letaknya yang tersembunyi di
dalam rongga perut dan pada tahap-tahap awal tidak memberikan
keluhan sama sekali. Karenanya penderita biasanya datang pada
stadium lanjut; padahal pengobatan yang dimulai pada stadium
awal cukup memberikan harapan, sedangkan pada stadium lan-
jut hasil pengobatan sejauh ini masih mengecewakan
(4,5,6,8)
.
Taylor pada tahun 1929 mengajukan kategori tumor ova-
rium borderline dan diterima oleh FIGO pada tahun 1961, kemu-
dian dipublikasi oleh WHO tahun 1973. Secara histopatologi
kelompok tumor ini merupakan "perbatasan" antara jinak dan
ganas, sehingga dikenal pula sebagai intermediate proliferative
neoplasma atau tumor of borderline malignancy. Meskipun
tidak terdapat invasi ke dalam stroma, tetapi tumor memiliki
kemampuan metastasis ke organ lain yang jauh dan genitalia
interna. Secara epidemiologik penderita tumor kategori ini ter-
nyata berusia sekitar satu dekade lebih muda dibanding kelom-
pok karsinoma, yakni rata-rata 46,6 tahun (Kliman dan kawan-
kawan, 1986)
(7)
. Angka ketahanan hidup kelompok ini dapat
mencapai 95­100% pada neoplasma ovarium borderline sta-
dium I, bila dibandingkan dengan 60­70% pada kelompok
tumor invasif stadium I.
Karakteristik neoplasma ovarium borderline adalah pro-
liferasi sel epitel yang tidak normal, namun tanpa disertai invasi
ke dalam stroma. Gambaran morfologi terdiri atas stratifikasi sel
epitel, peningkatan aktivitas mitosis, inti abnormal dan sitologi
atipik. Ciri-ciri demikian ini ternyata sesuai dengan karakteristik
tumor ganas ovarium
(7)
.
Sedangkan kriteria WHO tahun 1973 tentang tumor ova-
rium borderline ini adalah:
1) Dipenuhinya kriteria-kriteria morfologi di atas
2) Tidak ada invasi ke dalam stroma.
Hart dan Norris (1973) mengemukakan, bahwa untuk tumor
ovarium musinosum yang termasuk kelompok borderline bila
terdapat 3 lapis epitel atau kurang, sedangkan 4 lapis atau lebih
digolongkan dalam karsinoma.
Sejauh ini pemeriksaan potong-beku (frozen section) masih
dipertanyakan untuk menentukan tingkat borderline tersebut,
mengingat pada sediaan parafin sekalipun harus dilakukan
pemeriksaan yang amat cermat untuk menentukannya. Pe-
meriksaan harus dilakukan setiap 1­2 sentimeter pada jaringan
contoh, untuk memastikan ada atau tidaknya invasi ke dalam
stroma. Nuranna dan kawan-kawan (1991) menjumpai 22 kasus
(dari keseluruhan 34 kasus neoplasma ovarium borderline) ter-
nyata tidak dilakukan potong-beku, disebabkan antara lain tidak
adanya kecurigaan borderline atau ganas sebelum dilakukan
pembedahan
(7)
. Barber (1982) mengingatkan perlunya perhatian
khusus, bila dalam pemeriksaan dijumpai hal-hal sebagai ber-
ikut
(6)
:
1) Adanya massa tumor di daerah ovarium
2) Gerakan tumor terbatas
3) Permukaan tumor irreguler
4) Adanya tumor di daerah cul de sac
5) Massa tumor bilateral
6) Tumor daerah panggul yang membesardalam observasi
7) Adanya asites
8) Adanya omental cake atau hepatomegali
9) Tumor di daerah panggul setelah menopause.
Disaia (1989) mengamati perbedaan-perbedaan antara tumor
jinak dan ganas ovarium, baik pada pemeriksaan panggul mau-
pun pada saat pembedahan; sehingga kewaspadaan terhadap ada-
nya keganasan tersebut dapat lebih terarah lagi (Tabel 1 dan 2).
Sedangkan Sudaryanto(1989) mengemukakan penggunaan suatu
indeks untuk melakukan diagnosis keganasan ovarium prabedah
(Tabel 3), dengan 8 variabel yang masing-masing diberi bobot
dengan skor dan nilai pisah untuk indeks ini adalah 3. Skor 3-5
menunjukkan kecurigaan keganasan, sedangkan skor 6 atau
lebih dapat dikatakan ganas
(6)
.
Tabel 1. Penemuan pada pemeriksaan panggul (Disaia, 1989)
Jinak
Ganas
Sifat
Konsistensi
Gerakan
Permukaan
Asites
Benjolan di daerah cul de sac
Pertumbuhan
unilateral
kistik
bebas
licin
sedikit/tidak ada
tidak ada
lambat
bilateral
padat
terbatas
tidak licin
banyak
ada
cepat
Tabel 2. Penemuan pada seat pembedahan (Disaia,1989)
Kondisi tumor
Jmak
Ganas
Permukaan papiler
Intrakistik papiler
Konsistensi padat
Bilateral
Perlengketan
Asites -
Nekrosis
Implantasi pada peritoneum
Kapsel utuh
Konsistensi kistik
jarang
jarang
jarang
jarang
jarang
jarang
jarang
jarang
sering
sering
sangat sering
sangat sering
sangat sering
sering
sering
sering
serng
sering
jarang
jarang
Mengenai pemeriksaan sitologik (servikal/vaginal ataupun
dengan kuldosentesis) sampai sekarang masih diperdebatkan.
Beberapa peneliti menjumpai hasil 40% positif, sedangkan kul-
dosentesis dikatakan dapat memperoleh hasil 90% positif. Namun
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
22
background image
Tabel 3. Indeks keganasan ovarium (Sudaryanto, 1989)
No. Petunjuk
diagnosis
Variabel
Skor
1
Lamanya pembesaran
a. Lambat (lebih dari 16 bulan
0
2
perut atau tumor
Keadaan umum
atau tak ada pembesaran)
b. Cepat(16 bulan atau kurang)
a. Baik
1
0
3
Tingkat kekurusan
b. Kurang/tidak balk
a. Normal/gemuk
1
0
b.
Kurus
1
4
Konsistensi tumor
a. Kistik homogen
0
b. Solid homogen
c. Macam-macam
1
2
5
Permukaan tumor
a. Rata/licin
0
b. Berbenjol/tak teratur
1
6
Gerakan tumor
a. Bebas
0
b. Tak bebas
1
7 Asites
a.
Tak
ada
0
b.
Ada
1
8
LED I jam
a. Rendah (60 mm atau kurang)
0
b. Tinggi (lebih dari 60 mm)
1
demikian banyak peneliti lain menyatakan, bahwa pemeriksaan
sitologik tidak memberikan hasil memuaskan. Barber (1984)
dan Disaia (1989) menyatakan bahwa pemeriksaan sitologik
mungkin berguna untuk penderita usia lanjut dan stadium
lanjut, karena tindakan bedah akan membahayakan penderita
(6)
.
Peranan radiografi (misalnya ultrasonografi dan CT-scan)
dikatakan mempunyai peranan yang terbatas untuk diagnosis
dini, namun dimungkinkan untuk membedakan antara suatu
kista dengan massa yang padat. Saks (1986) menyebutkan bahwa
suatu massa yang terpisah dan uterus dengan gambaran tak
teratur, dapat dicurigai sebagai suatu keganasan ovarium
(4,6,9)
.
Sebagai alat diagnostik, laparoskopi/parasentesis dikatakan
juga mempunyai peranan yang sangat terbatas, tetapi dapat
membantu usaha menentukan stadium tumor ganas ovarium dan
dalam keperluan pemeriksaan lanjutan (fol1ow-up)
(4,9)
.
Pemeriksaan serologik/imunologik petanda ganas seperti
CEA, AFP, LDH atau CA-125, sampai saat ini lebih banyak
berarti untuk keperluan pemantauan respons penderita terhadap
pengobatan yang diberikan, dibanding untuk sarana diagnos-
tik
(6)
.
PENATALAKSANAAN
Pada dasarnya setiap tumor ovarium yang diameternya lebih
dari 5 sentimeter merupakan indikasi untuk tindakan laparatomi,
karena kecenderungan untuk mengalami komplikasi. Apabila
tumor ovarium tidak inemberikan gejala dan diameternya kurang
dari 5 sentimeter, biasanya merupakan kista folikel atau kista
lutein
(8,9,10)
.
Tindak bedah yang dilakukan dapat bervariasi, mulai dari
ooforekton unilateral saja sampai pada tindakan histerektomi
totalis, salpingo-ooforektomi bilateral dan omentektomi. Bebe-
rapa pertimbangan untuk melakukan pembedahan konservatif
pada tumor ganas ovarium adalah
(7)
:
1) Usia muda dan fungsi reproduksi masih diperlukan.
2) Stadium IA: tidak ada asites, tidak ada perlekatan, tidak
pecah, unilateral, tak ada pertumbuhan papiler pada permukaan
tumor.
Tabel 4. Stadium kanker ovarium (FIGO, 1987)
Stadium Deskripsi
Stadium I
Stadium Ia
Stadium Ib
Stadium Ic
Stadium II
Stadium IIa
Stadium IIb
Stadium IIc
Stadium III
Stadium IIIa
Stadium IIIb
Stadium IIIc
Stadium IV
Tumor terbatas pada ovarium
Tumor terbatas pada satu ovarium, tidak ada asites, tidak ada
tumor pada permukaan luar, kapsel utuh
Tumor terbatas pada dua ovarium, tidak ada asites, tidak ada
tumor pada permukaan luar, kapsel utuh.
Seperti Ia atau lb, tetapi dengan tumor pada permukaan luar
satu atau keduaovarium; atau kapsel pecah; atau dengan asites
yang mengandung sel-sel ganas; atau dengan bilasan perito-
neal positif.
Tumor tumbuh pada satu atau dua ovarium dengan perluasan
ke organ pelvis lainnya.
Perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba.
Perluasan ke organ pelvis lainnya, termasuk ke peritoneum.
Sesuai dengan IIa atau Ilb, tetapi dengan tumor pada per-
mukaan satu atau kedua ovarium; atau kapsel pecah; atau
dengan asites yang mengandung sel-sel ganas; atau bilasan
peritoneal positif.
Tumor pada satu atau dua ovarium dengan implantasi peri-
toneal di luar pelvis dan/atau kelenjar retroperitoneal atau
inguinal yang positif. Metastasis hati superfisial dinilai se-
bagai stadium III. Tumor terbatas pada pelvis, namun pe-
meriksaan histologik positif untuk perluasan keganasan pada
usus halus atau omentum.
Tumor terbatas pads pelvis minor dan kelenjar negatif, tetapi
dikonfirmasikan secara histologik bahwa terdapat perlakuan
mikroskopik pada permukaan peritoneal abdomen.
Tumor pads satu atau dua ovarium; konfirmasi histologik
adanya implantasi pada permukaan peritonel abdomen de-
ngan diameter kurang dari 2 sentimeter; kelenjar getah bening
negatif.
Implantasi abdomen diameter2 sentimeter dan/atau kelenjar
retroperitonel atau inguinal positif.
Pertumbuhan meliputi satu atau dua ovarium dengan meta-
stasis jauh; jika terdapat efusi pleural, tes sitologik harus
positif. Metastasis pada parenkhim hati menugjukkan sta-
dium IV.
3) Penilaian patologi yang memadai/adekuat.
Bila fungsi reproduksi telah terpenuhi/terlampaui, dianjur-
kan untuk dilanjutkan dengan histerektomi dan mengangkat sisa
ovarium pada kasus-kasus yang telah dilakukan pembedahan
konservatif
(7)
. Pada kasus-kasus yang termasuk kategori neo-
plasma ovarium borderline (yang umumnya terjadi pada usia
muda), pertimbangan untuk melakukąn pembedahan konserva-
tif menjadi lebih sering. Tazelaar dan kawan-kawan (1985)
mengamati 61 kasus neoplasma ovarium borderline dan di-
dapatkan untuk kasus stadium IA yang hanya dilakukan ooforek-
tomi unilateral, ternyata 23% mengalami pertumbuhan tumor
kembali; sedangkan untuk kasus yang dilakukan histerektomi
totalis dan salpingo-ooforektomi bilateral, tumor timbul kembali
hanya pada 7% kasus
(7,9,10)
.
Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan pada saat
tindakan pembedahan, ialah melakukan staging dan keganasan
yang dicurigai tersebut, sēsuai dengan klasifikasi FIGO tahun
1987. Disadari bahwa besarnya metastase intra-abdomen turut
menentukan keberhasilan pengobatan, sehingga FIGO meng-
anggap perlu menentukan stadium keganasan tersebut berdasar-
kan hasil-hasil yang diperoleh dalam pembedahan, yakni
(5)
:
1) Hasil sitologi bilasan peritoneum daerah kavum Douglasi,
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996 23
background image
cekungan parakolika kiri-kanan dan diafragma.
2) Hasil biopsi peritoneum, kerokan/biopsi diafragma dan usus
halus serta hasil histopatologi dan omentektomi, kelenjar getah
bening pelvis dan para-aorta.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih atas saran serta buku-buku referensi
untuk penulisan makalah ini, yaitu: Dr. H. Nugroho Kampono, DSOG, FICS;
Dr: H. Farid Azis, DSOG. FICS; Dr. H. Sjahrul Sjamsuddin, DSOG, FICS;
Dr. H. Andrijono, DSOG, FICS; Dr. Hj. Laila Nuranna, DSOG beserta seluruh
staf Subbagian Onkologi Ginekologi Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI/
RSCM.
PROGNOSIS
Tumor-tumor ovarium borderline mempunyai prognosis
yang bervariasi dan aspek diagnostik (khususnya ketika pem-
bedahan) sangatlah esensial. Bila tumor ternyata bukan suatu
keganasan, prognosisnya dapat dikatakan baik, namun bila
suatu keganasan maka prognosisnya akan sangat dit oleh sta-
diumnya. Dengan demikian prosedur diagnostik intrabedah se-
bagaimana disebutkan tadi adalah andalan utama dalam penen-
tuan stadium.
KEPUSTAKAAN
1. Harahap RE. Tumor ganas pada alat-alat genital. Dalam: Prawirohardjo S,
Wiknjosastro H, Sumapradja S, Saifuddin AB, eds. lImu Kandungan Edisi
Pertama. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka, 1982; 333-9.
Sekitar 20% kasus yang sebelumnya tergolong stadium I-II
pada laparotomi, ternyata menunjukkan gambaran abnormalitas
kelenjar getah bening retropentoneal pada limfografi. Hal inilah
yang dapat menerangkan tingginya angka kegagalan terapi ra-
diasi setelah pembedahan pada tumor ganas ovarium stadium
klinis I­II. Pada penderita stadium Minis I dan II yang dikirim
untuk terapi lanjutan, ternyata 28% (untuk stadium I) dan 43%
(untuk stadium klinis II), telah menjadi stadium III
(5,8,9)
.
2.
Harahap RE. Kanker Ginekologik. Jakarta: Penerbit Gramedia, 1984;
141­54.
3. Peel KR. Benign and malignant tumors of the ovaly. In: Whitfield CR, ed.
Dewhursts Textbook of Obstetrics and Gynaecology for Postgraduates.
Fourth Ed. London: Blackwell Scient. PubI. 1986; 733­54.
4. Rutledge FN. Neoplastic Ovarium Tumors. In: Mattingly RF, Thompson
JD, eds. Te Linde's Operative gynecology. Sixth Ed. Singapore: JB
Lippin- cott Go, 1985; 877­907.
5. Santoso HH. Penentuan Stadium Surgikal pada Tumor GanasOvarium.
Makalah pada Simposium Onkologi PTP VII POGI, Surakarta 1991.
Tabel 5. Five Years Survival Rate untuk Keganasan Epitel Ovarium
(8)
Stadium
Jumlah kasus
FYSR (%)
Ia 940 69.0
lb 227 63.9
Ic 157 50.2
IIa 251
51.7
IIa = IIb
672
42.4
III 2.074 13.3
IV 933 4.1
Jumlah 5.254 30.6
6. Kurnen A. Ketajamandiagnostikpra-bedahtumorganas ovarium. Makalah
pada Simposium Onkologi FTP VII P0(31. Surakarta, 1991.
7. Nuranna L. Neoplasma Ovarium Borderline Masalah Diagnostik dan Te-
rapi. Makalah pada Simposium Onkologi PTP VII P0(31, Surakarta, 1991.
8. Nilloff JM. Ovarian Cancer. In: Friedman BA, Borten M, Chapin DS, eds.
Gynecological Decision Making. Second Ed. Toronto Philadelphia: BC
Decker Inc. 1988; 192­3.
9. Woodruff JD. Benign, Premalignant, & Malignant Disorders of the Ovaries
& Oviducts. In: Pernoll ML, Benson RC, eds. Current Obstetric & Gyneco-
logic Diagnostic & Treatment. Sixth Ed. Norwalk, Connecticut/Los Altos,
California: Appleton & Lange, 1987; 670­714.
10. Monaghan JM. Bonneys Gynaecological Surgery: Operations for Ma-
lignant Ovarian Disease. Ninth Ed. London:Bailliere-Tindall, 1986;179-84.
The great indestructible mirace is man's faith in miracle
(Jean Paul)
Cermin Dunia Kedokteran No. 112, 1996
24