background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Tinjauan Ulang Masalah Pneumonia
yang Didapat di Rumah Sakit
Zul Dahlan
Bagian/SMF Ilma Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung
PENDAHULUAN
Infeksi nosokomial merupakan keadaan yang dapat
dialami pasien yang dirawat di rumah sakit; keadaan ini
merupakan masalah RS di seluruh dunia. Di USA sebanyak
5,7% pasien yang dirawat secara akut mengalami infeksi
nosokomial.Jumlah ini lebih besar daripada jumlah pasien yang
dirawat untuk kanker atau kecelakaan, dan 4 kali lebih banyak
dari pasien infark miokard akut
(1)
.
Kekerapan infeksi nosokomial saluran nafas bawah menem-
pati urutan ke 2 setelah infeksi saluran kemih, yaitu sebanyak
13­18% atau 6­10 episode per 1.000 perawatan di RS
(2)
. Pen-
derita pneumonia nosokomial (PNO) sebagian besar adalah
penderita sakit berat di RS yang kemudian mengalami infeksi.
Penderita ini disertai dengan gangguan daya tahan tubuh, telah
mendapat antibiotika sebelumnya hingga biasanya infeksi yang
terjadi disebabkan jenis kuman resisten. Terapi utama adalah
pemberian segera antimikroba terhadap kuman penyebabnya.
Angka kematian PNO berkaitan dengan kondisi pasien, jenis
kuman dan terapi yang diberikan.
INSIDEN
PNO di ICU lebih sering daripada di ruangan umum yaitu
42%: 13%, sebagian besar (47%) terjadi pada pasien yang meng-
gunakan ventilator mekanik. Kelompok pasien ini merupakan
bagian terbesar dari pasien yang meningal di ICU akibat PNO
(3)
.
Laporan lain menyebutkan terjadinya PN pada 22­24% pasien
ICU yang menggunakan ventilator mekanik dalam waktu 7,9
hari setelah pemakaian ventilator, dan kemudian menimbulkan
kematian pada 33­42% pasien di antaranya
(3)
.
DEFINISI
Infeksi Saluran Pernafasan Nosokomial atau PNO adalah
infeksi pada pasien rawat inap yang pada saat masuk RS belum
terinfeksi atau belum menjalani masa inkubasi penyakit. PNO
biasanya terjadi setelah dirawat lebih dari 72 jam. Penyakit ini
terutama terjadi pada pasien sakit berat yang tidak mampu men-
ceritakan penyakitnya secara benar dan pada penderita yang pe-
nyakit primemya mungkin menutupi atau menyerupai gambaran
pneumonia bakteril
(4)
. PNO ini dapat terjadi di ruang perawatan
umum atau di ICU.
Kriteria PNO diuraikan pada bagian diagnosis adalah seperti
terlihat pada Tabel 5.
PATOGENESIS
Pada pasien rawat inap penyebab infeksi dapat sampai ke
saluran pernafasan hawah melalui 3 cara
(1)
:
1) Aspirasi cairan gaster atau orofaring yang mengandung
koloni kuman patogen.
2)
Penyebaran kuman secara hematogen ke paru misal pada
pneumonia candidiasis.
3)
Penyebaran melalui udara oleh aerosol atau droplet yang
mengandung mikroba.
Ad 1 .Merupakan cara yang paling sering terjadi akibat penurunan
refleks batuk dan muntah yang berhubungan dengan berbagai
keadaan, terutama akibat narkosa umum, sedatif. intoksikasi dan
penggunaan alat bantu nafas atau tube sonde. Ventilator mekanik
merupakana tempat tumbuh dan jalan masuk terpenting kuman.
Proses PNO tergantung pada jumlah dan virulensi kuman yang
mencapai saluran nafas bawah dan kemampuan daya tahan
tubuh untuk mengatasinya.
Faktor risiko dapat dilihat pada Tabel 1. Urutan kejadian
terjadinya PNO adalah seperti terlihat pada Tabel 2. Kolonisasi
orofaring biasanya terjadi oleh kuman Gram (­), dan dipacu oleh
penggunaan antibiotika (AB) spektrum lebar sebelumnya, pe-
ningkatan pH lambung, penularan kuman dari pasien lain akibat
tindakan petugas kesehatan
(1)
.
background image
Tabel 1. Faktor risiko pneumonia nosokomial
PN Umum (CDC)
(1)
PN di ICU
(3)
Usia >70 tahun
Penyakit paru kronik
Penurunan kesadaran
Posisi pasien
Aspirasi dalam jumlah banyak
Trauma torak
Monitoring tekanan intrakranial
Penggunaan penghambat histamin tipe II
Gangguan aliran ventilator yang sering
Musim dingin
Peralatan:
Nebuliser langsung
Nasogastric feeding
Endotracheal tube
Ventilasi mekanik
Perawatan ICu yang lama
Intubasi yang lama
Malnutrisi pada pasien sakit berat
Peyakit paru kronik
Antasid dan H2 Blocker
Usia lanjut
Obesitas
Gangguan refleks respirasi
Perokok
Pelembab udara
Enteral feeding
Tabel 2. Urutan kejadian pneumonia nosokomial
(1)
Kolonisasi orofaring oleh kuman batang Gram (­)
Peningkatan pH lambung
Kolonisasi gaster oleh kuman Gr (­)
Penurunan defensif tubuh seluler dan mekanik
Refluks dan aspirasi cairan gaster/orofaring
ETIOLOGI
Bakteri adalah penyebab yang tersering dari PNO. Jenis
kuman penyebab ditentukan oleh berbagai faktor antara lain
berdasarkan imunitas pasien, tempat dan cara pasien terinfeksi.
Kuman penyebab PNO sering berbeda jenisnya antara di ruang-
an biasa dengan ruangan perawatan intensif (ICU): infeksi me-
lalui slang infus sering berupa Staphylococcus aureus sedangkan
melalui ventilator Ps. aeruginosa dan Enterobacter.
PNO bakteril dapat dibagi atas PNI onset awal dalam waktu
kurang dari 3 hari yang sering pula didapat di luar RS, biasanya
disebabkan oleh Streptococcus pneumonia (5­10%). M. catarr-
halis (< 5%) dan H. influenza. PNO onset lanjut bila lebih dari
3 hari, Sering disebabkan oleh kuman Gr(­) aerob (60%) berupa
K. Pneumonia. Entcrobacter spp, Serratia spp. P. aeruginosa:
atau S. aureus ( 20­25%). Kelompok kedua ini biasanya me-
rupakan kuman yang resisten terhadap antibiotika. Kuman
anaerob dapat ditemukan pada kedua kelompok (35%)
(2)
.
Akhir-akhir ini sejumlah kuman baru/oportunis telah
menimbulkan infeksi pada pasien dengan kekebalan tubuh yang
rendah, misal- nya Legionella. Chlamydia ,Trachomatis. TB. M
atypical, berbagai jenis jamur (C albicans, Aspergillus
fumigatus) dan vi-rus
(4)
.
Penyebab PNO pada RS besar adalah
seperti terlihat pada Tabel 3.
Penelitian di RSUP Dr. Hasan Sadikin menunjukkan bahwa
semakin banyak dijumpai pasien ISNBA/pneumonia rawat inap
yang mengidap penyakit kronik atau gangguan kesehatan lain-
nya hingga disertai perubahan pola kuman. Dengan demikian
pneumonia bentuk tipikal yang biasa disebabkan oleh Str pneu-
monia lebih jarang dijumpai, sebaliknya lebih sering dijumpai
bentuk yang tidak tipikal/campuran
(5)
. Pada umumnya kuman
penyebab pneumonia yang didapat di masyarakat (PDDM)
ataupun yang didapat di RS (PDRS/PNO) adalah imperil di-
laporkan pada Tabel 4.
T
abel 3. Mikroba penyebab pneomonia nosokomial
Jenis
Brennan
(1)
(1994)
Toews GB
(4)
(1987)
Bakteri :
Pseudomonas aeruginosa
Staphylococcus aureus
Enterobacter spp.
Klebsiella pneumonia
Escherichia coli
Serratia marcescens
Proteus mirabilis
Enterococcus
Staphylococcus Coag.(­)
Streptococcus grup B
Lain-lain :
- Anaerob
- Virus
- Candida spp.
17 %
16 %
11 %
7 %
6 %
4 %
3 %
2 %
2 %
1 %
35 %
5 %
5 %
13,1%
13,0%
9,5%
13,4%
8,0%
5,1%
.
5,8%
1,7%
0,8%
24,3%
0,3%
4,0%
Tabel 4. Urutan kuman penyebab tersering pada pneumonia bakteril
(6)
Diagnosa
Str
pn
Str
spp
Sta
aur
Esch
coli
Kl
pn
Pse
aur
Ent
aer
Ent
coc
Unae
rob
1. PDDM
Tipikal
Campuran
2. PDRS
Ruangan
ICU
4
2
1
­
­
­
2
2
3
3
3
4
1
3
4
3
1
4
4
3
­
1
2
2
­
­
1
2
­
­
1
2
­
1
1
2
NB : Besarnya angka menunjukkan tingginya frekuensi kejadian
DIAGNOSIS
Diagnosis umumnya ditegakkan secara klinis dengan kon-
firmasi oleh hasil kultur cairan pleura. punksi paru atau kultur
darah. Namun hasil baru tersedia dalam setelah 2 hari. Diagnosis
dengan demikian dapat dibual menurut kriteria diagnosis PNO
dan CDC
(5)
.
Gambaran Klinik
Dapat berupa gambaran pneumonia bakteril akut yang di-
tandai oleh demam tinggi, batuk produktif, dahak purulen yang
produktif, dan sesak nafas. Tetapi pada pasien rawat inap tidak
selalu hal ini dapat dikaitkan secara langsung karena berbagai
keadaan penyakit yang gejalanya mirip pneumonia. Berbagai
keadaan yang mengaburkan diagnosis PNO adalah proses yang
berhubungan dengan toksik dan alergi obat atau inspirasi O
2
.
atelektasis,emboli dan intark paru, ARDS gagal jantung konges-
tif, dan trakheobronkitis. Pneumonia aspirasi bahan kimia bisa
mirip dengan pneumonia bakteril.
Kriteria Diagnosis
Terdapat berbagai kriteria diagnosis PNO antara lain yang
diajukan oleh Center forDisease Control and Prevention/CDC)
(Tabel 5). Acuan ini mengandalkan diagnosis kepada hasil
kultur, gambaran radiologi dan gambaran klinik yang melihat
kepada perubahan sputum dan auskultasi.
Diagnosis Empirik
Pelaksanaan terapi empirik didasarkan kepada diagnosis
yang terarah yang sesuai dengan patogenesis ISNBA dan al-
goritma penatalaksanaan PNO. Diagnosis ini mencakup ben-
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
22
background image
Tabel 5. Kriteria diagnosis pneumonia nosokomial dari CDC
(1)
Harus memenuhi satu dari 4 kriteria :
1. Ronkhi atau Dullness pada perkusi torak. Ditambah salah satu :
a. Onset baru sputum purulen atau perubahan karakteristiknya
b. Isolasi kuman dari darah
c. Isolasi kuman dari bahan yang didapat aspirasi transtrakheal, biopsi
atau
sapuan
bronkhus
2. Gambaran radialogik berupa infiltrat baru atau yang progresif, konsoli-
dasi, kavitasi, atau efusi pleura. Dan salah satu dari a, b, atau c di atas.
d. Isolasi virus atau deteksi antigen virus dari sekret respirasi
e. Titer antibodi tunggal yang diagnostik (IgM), atau peningkatan 4 kali
titer IgG dari kuman
f. Bukti histopatologik dari pneumonia
3. Pasien 12 tahun dengan 2 dari gejala-gejala berikut: apnea, tachypnea,
bradycardia, wheezing, rhonki atau batuk. Dan disertai salah satu dari :
g. Peningkatan produksi sekresi respirasi atau salah satu dari kriteria no 2
di
atas
4. Pasien12 tahun yang menunjukkan infiltrat baru atau progresif, kavitasi.
konsolidasi atau efusi pleura pada foto torak. Ditambah salah satu dari
kriteria
No.3 di atas.
Sumber : Garner et. al. Am J Infect Control 1988: (16(3) : 128­140.
tuk manifestasi ISNBA, tingkat berat sakit (ringan, sedang atau
berat), dan kemungkinan kuman penyebab. Berdasarkan hal ini
kemudian dilaksanakan terapi
(5)
.
TERAPI
Terapi terdiri dari pemberian antibiotika. terapi suportif, dan
pengelolaan penyakit dasar yang ada. Dalam penggunaan AB
secara rasional diterapkan pola berfikir "PANCA TEPAT" yaitu
Diagnosis Tepat, pilihan AB yang Tepat, dan Dosis yang Tepat,
dalam Jangka waktu yang Tepat, dan Pengertian patogenesis
penderita secara Tepat
(7)
. Namun karena kuman penyebab
umumnya helum diketahui, maka terapi biasanya diberikan
secara empirik tanpa menunggu kepastian kuman penyebabnya.
Untuk melaksanakan pengobatan empirik ini perlu dipahami
epidemiologi dan patogenesis dengan baik agar dapat menegak-
kan diagnosis empirik yang disertai dengan kuman penyebab PN
hingga akan mengarahkan kepada terapi yang akurat. Diagnosis
empirik berdasarkan kepada anamnesis, beratnya penyakit dasar,
saat terinfeksi di RS, data epidemiologi dan tes kepekaan dan
hasil apus Gram. Terapi empirik yang diberikan harus cukup luas
spektrumnya untuk mencakup kuman yang dicurigai, baik berupa
AB tunggal ataupun kombinasi 2 jenis AB antipseudomonas, dan
harus waspada terhadap problem superinfeksi dan timbulnya
resistensi kuman
(2)
.
Akhir-akhir ini telah diupayakan terapi preventif dengan
imunoterapi terhadap PNO.
Terapi supportif dan tindakan lain yang mungkin perlu di-
lakukan pada PN tidak akan diuraikan lebih lanjut.
1) Pemberian Antibiotika
Pemilihan AB pada terapi empirik selalu harus dibuat sesuai
dengan pola kepekaan kuman di RS setempat. Mengingat se-
makin banyaknya kejadian resistensi kuman dan masalah biaya
pengobatan yang semakin tinggi, maka obat yang dipakai pada
PN perlu segera disesuaikan dan pengeluaran biaya obat sedapat-
nya dikurangi setelah ada hasil kultur dan kepekaan kuman
(1)
.
Bila perlu ditetapkan pengalihan atau penyesuaian terapi. Bila
kuman sensitif terhadap berbagai AB, maka dipilih AB dengan
aktifitas spektrum yang lebih sempit dan kurang mahal.
Pemakaian antibiotika dapat berupa :
a) AB pemakaian tunggal. Dipakai yang paling ampuh ter-
hadap kuman dan cocok untuk pasien.
b) AB kombinasi. Misalnya B laktam antipseudomonas de-
ngan aminoglikosida perlu diberikan bila PN diduga
disebabkan oleh kuman yang resisten terutama Ps. aeruginosa
dan Enterobacter
(1)
. Co-trimoxazole mempunyai aktifitas yang
baik terhadap kebanyakan Enterobacter spp., dengan risiko
kecil untuk terjadinya resistensi selama terapi. Pada saat ini
aztreonam dan fluoroquinolone dicadangkan untuk pasien
yang alergi atau sudah tidak mempan dengan B laktam.
Pada umumnya spektrum semua AB tidak mencakup semua
kuman penting yang biaya menjadi penyebab PNO, kecuali
cefpirom dan carbapenem. Cefpirom merupakan sefalosporin
generasi ke-4 yang spektrumnya mencakup sebagian besar kuman
penyebab infeksi nosokomial di ruangan umum/ICU termasuk
Staphylococcus aureus dan Staphylococcus coagulase (­). Se-
perti halnya sefalosporin lain dan imipenem, cefpirom kurang
aktif terhadap Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus
(MRSA). Untuk MRSA yang diperkirakan terjadi pada 20%
daripada infeksi Staphylococcus dapat dipergunakan vancomy-
cin
(3)
.
Pada PNO dengan imunitas normal terapi AB biasanya di-
berikan selama 2 minggu, tapi bisa diperpanjang bila terdapat
gangguan daya tahan tubuh. Pasien ini biasanya menyelesaikan
terapi AB parenteral di RS dan tidak ada kesempatan untuk di-
lakukan pengalihan obat (switch therapy) kepada bentuk oral
(8)
.
Dapat dipergunakan dua cara dalam pemberian terapi em-
pirik, yaitu :
a. Pemilihan AB berdasarkan berat ringannya keadaan sakit
pasien PNO
(1)
(Tabel 6 dan 7).
b. Berdasarkan onset terjadinya PNO (Tabel 8) (disadur dari
2).
PENCEGAHAN
Pencegahan PNO berkaitan erat dengan prinsip umum pen-
cegahan infeksi, penggunaan yang tepat peralatan invasif. Perlu
dilakukan terapi agresif terhadap penyakit pasien yang akut atau
dasar. Pada pasien dengan gagal organ multipel (multiple organ
failure), skor Apache-II yang tinggi dan penyakit dasar yang
dapat berakibat fatal perlu diberi terapi pencegahan
(2)
.
Dari berbagai risiko PN (Tabel 1) beberapa faktor penting
tidak bisa dikoreksi. Tabel 9 memperlihatkan faktor-taktor yang
dapat dikoreksi untuk mengurangi terjadinya PN, antara lain de-
ngan membatasi pemakaian tube nasogastrik atau endotrakheal
atau memakai obat sitoprotektif sebagai pengganti antagonis H2
dan antasid
(1)
.
Nutrisi Enteral
Penilaian status nutrisi yang tepat dan pembatasan pemakai-
an can pemberian nutrisi enteral dapal mengurangi risiko PNO.
Pelaksanaan pemberian nutrisi enteral secara dini dapat mem-
bantu pemeliharaan epitel pencernaan dan mencegah terjadinya
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 23
background image
Tabel 6. Terapi empirik PNO berdasarkan tingkat berat sakit
(1)
Pilihan obat IV
Keadaan klinik/sediaan gram
Monoterapi
B laktam 1)
Aztreonam/fluoroquinolone
Vancomycin
Penisilin spektrum luas
Imipenem
Kombinasi
B laktam 3) + antianaerob 4)
B laktam 5) + aminoglikosida
Aztreonam + aminoglikosida
Vancomycin/aztreonam/
metronidazole
Tidak sakit berat; hanya terdapat kuman Gram
(­) 2)
Idem atas: alergi B laktam
Tidak sakit berat:hanya terdapat kuman Gram
(+) pada RS dengan prevalent MRSA yang
tinggi
Tidal, sakit berat: terdapat kuman campuran
Idem
Tidak diintubasi:sakit berat:kuman campuran
Diintubasi:.sakit berat kuman Gr (­)
Idem; alergi B laktam
Sakit berat;kuman campuran. alergi B laktam
Keterangan:
1) B laktan yang dipilih tergantung sensitifitas kuman terhadap obat tersebut
2) Pertimbangan terapi kombinasi bila diduga disebabkan Ps. Aeruginosa
dan Enterobacter
3) Sefalosporin gen. ke 3 +/­ aktifitas antipseudomonas
4) Antianaerob (misalnya metronidazole atau clindamycin) perlu ditambah-
kan bila dipakai sefalosporin dengan kemampuan terbatas terhadap spektrum
anaerob (misalnya ceftazidime, cefoperazone, ceftriaxone).
5) Sefalosporin gen. ke 3 dengan aktifitas antipseudomonas
Tabel 7. Pilihan antibiotika pada pneumonia nosokomial
(1)
Golongan antibiatika
Jenis
1. Beta laktam:
a. Penisilin - stabil terhadap
B
laktamase
b. Kombinasi B laktamase
inhibitor
c. Penisilin antipseudomonas
d. idem b. dengan B laktamase
inhibitor
e. Sefalosporin gen. ke 3
f. idem e - antipseudomonas
g. Sefalosporin gen. ke 4 &
antipseudomonas
h. Carbapenem
2. Aminoglikosida sistemik
3. Monobactam
4. Fluoroquinolone
5. Glycopeptide
6. Antianaerob
Cloxacillin, dicloxacillin, Methicillin,
Nafcillin, oxacillin
Amox-clavulanat, ampisilin-sulbaktam
Carbenicillin, ticarcillin, meclozcillin.
Azlocillin, piperacillin
Ticarcillin-clavulanat, piperacillin-
tazobactam
Cefotaxime, ceftazidime, ceftizoxime,
ceftriaxone
Ceftazidime, cefoperazone, cefsulodine
Cefpirome, cefepime
Imipenem, meropenem
Amikacin, gentamisin, netilmisin.
Toramisin, aztreonam
Cipofloxacin, ofloxacin, fleroxacin.
Sparfloxacin,
vancomysin.
Clindamycin, metronidazole
translokasi kuman, dengan peningkatan risiko distensi gaster,
kolonisasi, aspirasi dan PNO. Posisi pasien setengah
dudukdapat menurunkan risiko aspirasi
(2)
.
PROGNOSIS
PN di USA merupakan penyebab kematian ke dua yang di-
akibalkan infeksi nosokomial. PN merupakan penyebab ke-
matian utama oleh infeksi pada pasien yang berusia tua, pasca
operatif, dan yang menjalani ventilasi mekanik
(1)
.
Tabel 8. Terapi empirik PNO berdasarkan saat onset sakit dan keadaan
klinik pasien
(1)
Penyakit
Kuman
tersangka
Antibiotika Keterangan
1. Onset dini
2. Onset lanjut
3. Onset awal/
lanjut
Keadaan klinik
4. Aspirasi
5. Penyakit da-
sar (alkohol,
Sirosis hati,
r. jompo,
Terapi AB)
(DM; ginjal)
(di ICU)
6. Intubasi
7. Netropeni
(< 5000/mm
3
)
Str. pneumonia
H. influenza
M. catarrhalis
Kuman Gr (­);
E. coli
Kl. pneumonia
Enterobacteria
lain
Ps. aeruginosa
Gr(+) kokkus:
Staph. aureus
Anaerob
Legionella
pneumoniae
Anaerob,
Str. pneumonia
Anaerob, kuman
batang Gr(­)
Aerob Gr(­)
batang:
Ps. aeruginosa
St. aureus
Gr(­) batang +
St. aureus
Penisilin; ampisilin;
clindamycin;
erythromycin
Ampisilin.
sefalosporin 2-3
TMX-SMX;
Ciprofloxacin;
Erythromycin;
sefalosporin 2-1
Aminoglikosida +/­
sefalosporin 3 atau
antipseudomonas
penisilin ampisilin/
sulbactam;ticarcillin/
clavulanic acid.
Kombinasi 2 jenis
dari aminoglikosida/
Ceftazidime/anti-
pseudomonas
Penisilin imipenem.
atau ciproxin
Oxacillin/nafcillin:
sefalosporin 1:
vancomycin
Penicillin:
clindamycin
Erythromycin
Penisilin:
clindamycin.
ampisilin
Penisilin: clinda-
mycin + amino-
glikosid: cefoxitin:
ampisilin/sulbactam:
ticarcilin/clav. acid.
penisilin/ampisilln+
aztreonam
Idem no 2
Oxaclllin. nafcillin:
clindamycin
Idem no. 2
Hindari quinolon:
Sefalosporin - 3
Terhadapampisi-
linresisten 15-25%
idem 50-70%
Aztreonam dapat
mengganti
aminoglikosid.
imipenem.
idem
MRSA dengan
vancomycin:
cefuroxim:
cefamandol
Berhubungan
dengan aspirasi
Perlu
> 2 minggu
Kalau curiga,
terapi terhadap:
S. aureus
Ps. aeruginosa
Bila perlu:
Imipenem.
Vancomysin
Vancomycin
untuk S. aureus
Tabel 9. Pencegahan pneumonia nosokomial
(1)
Mengobati penyakit dasar
Menghindari H2-blockers dan antasida
Meninggikan posisi kepala
Pengangkatan tube nasogastrik dan endotrakheal
Mengontrol pemakaian antibiotika
Menghindari stress bleeding
Mengontrol infeksi :
­ pengawasan
­ pendidikan
­ mencuci
tangan
­ desinfektasi
peralatan
­ perawatan saluran nafas yang benar
Dekontaminasi selektif saluran cerna
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998
24
background image
RINGKASAN
Pneumonia nosokomial merupakan pneumonia yang terjadi
di rumah sakit dan menyebabkan angka kematian yang tinggi di
antara penderimnya terutama yang terinfeksi di ICU. Berbagai
aspek penyakit ini perlu dipahami untuk dapat mengatasinya
dengan baik. Terapi empirik perlu segera diberikan dengan
pemilihan antibiotika yang tepat dan selanjutnya dilakukan
penyesuaian pemberian AB untuk mendapatkan hasil yang
maksimal, hingga biaya obat dapat ditekan seoptimal mungkin
dengan risiko angka mortalitas yang sekecil-kecilnya. Tindakan
pencegahan perlu diambil untuk mengurangi angka morbiditas
penyakit, khususnya dengan mengurangi faktor risiko untuk
Ierjadinya pneumonia tersebut.
KEPUSTAKAAN
1. Brennan PJ In.Nosocomial pneumonia. Pulmonary Diseases and Disorders.
Companion Book. Second Ed. By Fishman AP. McGraw-Hill Int. Ed..
New York. 1994; 39: 325­31.
2 Craven DE, Steger KA, Duncan RA. Prevention and control of nosocomial
pneumonia 2nd Ed, by Wenzel RP, Williams & Wilkins. Baltimore, 1993;
Ch 25: 580­99.
3.
Bihari DJ. Spencer RC. Bacterial infection in IntensiveCare Medicom
Excel, UK. 1995.
4.
Toews GB. Nomcomial pneumonia. Clinic In Chest Medicine 1987; 8(3)
September: 467­80.
5.
Zul Dahlan. Penegakan diagnosa etiologik dinar. upaya pemberian terapi
empirik yang terarah pada pneumonia yang
diperdapat di masyarakat.
Kumpulan Naskah Lengkap Penemuan Berkola Ilmiah dan Organisasi Per-
kumpulan Respimlogi Indonesia. Bandung. 2­4 September 1994.
6.
ES Soenuotd, Zul Dahlan. Baku Pedotmn Pengelolean dan Penelitian
Infeksi Salami Pemafasan Bawah Akut. Subunit Pulmonologi, Bagian/UPF
IP Edam FK Unpad/RS Hawn Sadikin, Bandung, 1992.
7.
Hendro Wahjono. Penggunaan antibiotika secan rn;octal pada penyakit
infeksi. Medika 1994;2:42­7.
8. Cunha BA. The antibiotic treatment of community acquired. atypical and
nodocomial pneumonia. Med Clin N Am 1995; 79(5) 581­97.
Cermin Dunia Kedokteran No. 121, 1998 25