Gambaz 2:
DISTRIBUSI P.PALCIPARUM YANG RESISTEN DAN SENSITIF DI INDONESIA
pelayanan sangat tergantung dari kemampuan perekonomi-
an negara dan Pemerintah Daerah:
· Peningkatan peran serta masyarakat dalam program ke-
sehatan sangat dipengaruhi oleh kemampuan sosial ekonomi
dan pendidikannya:
Dengan suatu koordinasi dan sinkronisasi program lintas
sektoral maka penyakit malaria dapat diatasi dan hasilnya akan
lebih mantap:
KEPUSTAKAAN
1. Leimena: Pemberantasan Malazia, Kesehatan Rakyat Indonesia,
1955, halaman 37 - 45:
2. Winckel CWP: Indonesia before the World War II, the Public Health
Service in Indonesia: 1949, Doc Trop Med I, halaman 201:
3. Malaria Control Programme in Indonesia, G:O1 - WHO - USAID
assesment 1972 1977:
4. Pedoman Pemberantasan Malaria Pelita 11 III di Jawa Bali:
5. Pedoman Pemberantasan Malazia di Luar Jawa Pelita II III:
6. Laporan tahunan pelaksanaan pemberantasan malaria:
Tinjauan Farmakologik dari Obat-obat Anti
Malaria yang digunakan di lndonesia
R H Yudono
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Terutama di negara-negara yang sedang berkembang, karena
kurangnya biaya dan kurangnya keinsyafan akan sanitasi
lingkungan, malaria masih meminta banyak korban. Menurut
hasil survey rumah tangga oleh team dari Badan Lit. Bang: Kes:
RI di tahun 1972, malaria di Indonesia merupakan penyakit
nomor 6 dari 18 penyakit yang terdapat di daerah-daerah
yang telah disurvey dan merupakan penyakit nomor 3 di
antara penyakit-penyakit menular dengan angka morbiditas
2,5 per 1000 penduduk (1).
Dengan lebih diintensifkannya program pemberantasan
malaria dengan bantuan USAID angka morbiditas dapat di-
tekan: Program pemberantasannya terdiri dari program jangka
pendek dan jangka panjang:
Menurut kami :
· Program jangka pendek berupa pemberian petunjuk tentang
sanitasi lingkungan di sekitar rumah-rumah penduduk yang
Simposium Masalah Penyakit Parasit
20
untuk berhasilnya lebih baik dilakukan serentak bergotong-
royong sebulan sekali atau tiga bulan sekali atau setengah
tahun sekali, sedang untuk mempertahankan hasil yang telah
dicapai masing-masing penghuni rumah sedapat mungkin
mengusahakan keadaan rumah dan pekarangan sesuai dengan
peraturan kesehatan: Jika perlu diadakan suatu perlombaan
:
"
lingkungan sehat" sebulan sekali atau tiga bulan sekali
atau setengah tahun sekali dengan memberikan sedikit peng-
hargaan yang didapat dari pengumpulan dana dari satu RT
(Rukun tetangga) atau satu RK (rukun kampung):
Selain itu, harus pula diberikan pengobatan yang serasi,
yaitu yang mudah diterima, sedapat mungkin dengan kuur
pendek, cocok dengan indikasi, tidak toxis dan tidak ber-
kontraindikasi: Terutama dalam pengobatan masal, yang
mungkin dilakukan oleh paramedisi, kontraindikasi sering
tidak diketahui, padahal kemungkinan ada antaraksi yang
merugikan : antara obat dan obat lain yang bersama-sama
masuk ke dalam badan dan antara obat dan keadaan badan
pada waktu obat itu diberikan:
Pada umumnya obat-obat anti malaria adalah poten dan obat-
obat poten biasanya juga lebih toxis:
Antaraksi antara obat yang agak toxis dengan organ-organ
badan tertentu dapat merusak organ-organ tersebut, apalagi
kalau sebelumnya organ-organ itu sudah agak terganggu:
Lebih-lebih kalau organ-organ yang paling besar affinitasnya
terhadap obat itu organ-organ yang vital seperti otak, jantung,
hati, ginjal, maka sudah pasti penderita yang disembuhkan dari
malaria itu berada dalam keadaan lebih berbahaya daripada
keadaan sebelum diobati:
· Program jangka panjang, yang biasanya memerlukan pe-
robahan-perobahan tata lingkungan yang besar, rencana pen-
didikan integral tentang kesehatan dan yang tentunya me-
merlukan biaya yang besar itu, dapat dilaksanakan tentunya
setelah waktu berpuluh-puluh tahun:
Malaria di Indonesia ditularkan dengan perantaraan nyamuk
pembawa kuman malaria (vektor) dari jenis Anopheles, ter-
utama
An: aconitus
dan
An: sundaicus:
Kuman-kuman malaria
yang berbentuk sporozoit (berasal dari sporocyste) dari
kelenjar ludah nyamuk dengan secara regurgitasi dipindahkan
kedalam pembuluh darah manusia yang digigit nyamuk itu:
Kuman-kuman malaria (plasmodia) yang terdapat di Indo-
nesia adalah terutama :
Plasmodium vivax
(lebih dari 50%) dan
Plasmodium falciparum
(kurang dari 50%); kecuali itu, dalam
jumlah yang kecil masih juga terdapat
Plamodium malariae
(0,1 -- 0,2%) dan
Plasmodium ovale
(sangat sedikit) (1):
Untuk memberantas vektor-vektornya digunakan insektisi-
da: Insektisida yang mula-mula digunakan adalah dichlorodi-
phenyltrichlorethan (DDT), akan tetapi karena kemudian
terjadi resistensi dari
An: aconitus,
maka kemudian juga di-
gunakan insektisida lain seperti fenitrothion, malathion, dan
sebagainya (1):
Untuk membunuh plasmodia digunakan bermacam-macam
obat tergantung keperluannya :
Untuk terapi supresif, yaitu untuk membunuh bentuk eritro-
sitik asexual yang menjadi penyebab dari timbulnaya gejala
penyakit yang utama yaitu demam dengan menggigil (clinical
attack) digunakan chloroquine dan amodiaquine (4-amino-
quinolines), chloroguanide (biguanides) dan pyrimethamine
(diaminopyrimidines): Terapi supresif ini dapat digunakan
untuk menyembuhkan penyakit malaria yang disebabkan oleh
P: falciparum:
Untuk menyembuhkan penyakit malaria yang disebabkan
oleh P:
vivax
diperlukan terapi radikal (radical cure) berupa
terapi supresif disertai obat-obat pembunuh bentuk exoeritro-
sitik/preeritrositk: Hal ini disebabkan karena bentuk eritrositik
dari
P: vivax
dapat memasuki sel-sel jaringan (hepar) yang ke-
mudian dapat lagi membentuk bentuk eritrositik baru (clinical
relapse): Di samping terapi-terapi tersebut di atas yang diberi-
kan jika penderita sudah sakit, masih juga ada terapi untuk
membunuh gametosit-gametosit (bentuk eritrositik sexual)
karena bentuk inilah yang jika terhisap oleh nyamuk dapat
membentuk generasi baru yang dalam bentuk sporozoit dapat
dipindahkan ke korban baru: Bentuk eritrositik asexual di
dalam perut nyamuk akan mati: Suatu penularan dari bentuk
eritrositik asexual melalui transfusi darah jarang terjadi.
Untuk membunuh bentuk
exoeritrositik/pre-eritrositik
dan gametosit digunakan : primaquine (8-aminoquinolines):
Di samping itu masih ada lagi obat-obat pencegah terjadinya
siklus plasmodium di dalam perut nyamuk yaitu yang disebut
sporontosida : pyrimethamin dan chloroguanida: Bagi orang-
orang yang akan memasuki daerah di mana penyakit malaria
itu autochton (endemik) dapat diberikan pengobatan pen-
cegahan (causal prophylaxis) dengan memberikan obat-obat
yang membunuh bentuk exoeritrositik/preeritrositik berupa :
primaquine, pyrimethamine dan chlorguanida: Terhadap
cycloguanil embonat yang hanya dapat diberikan intramusku-
lar terdapat keberatan-keberatan dari pihak 30% dari pen-
derita, karena reaksi lokal yang sakit (2,3,4):
Obat-obat antimalaria :
I. Obat-obat antimalaria yang efektif terhadap bentuk
eritrositik dari plasmodium:
II. Obat-obat antimalaria yang efektif terhadap bentuk
exoeritrositik dari plasmodium:
III. Obat-obat antimalaria yang dapat menekan bentuk
eritrositik dan exoeritrositik dari plasmodium:
Obat-obat antimalaria yang efektif terhadap bentuk eritro-
sitik dari plasmodium.
4
-- AMINOQUINOLINES
Terdiri atas chloroquine dan amodiaquine:
Mekanisme kerja : Obat-obat ini mengikat DNA, sehingga
menekan sintesa asam nukleat dari plasmodium: Selain itu
obat-obat ini juga mengikat protein, DNA dan RNA dari sel-sel
hospes, karena komposisi dasar dari molekul-molekul DNA
dan RNA dari plasmodium dan sel hospes itu sama: Oleh sebab
itu obat-obat ini dapat juga menekan pertumbuhan dari sistem-
sistem sel yang bermultiplikasi cepat seperti sumsum tulang,
kulit dan epitel tractus gastrointestinalis: Dasar inilah yang
pada penggunaan yang lama di antaranya dapat menimbulkan
agranulocytosis:
Perbedaan toxisitas selektif antara plasmodium dan sel hos-
pes
terletak pada perbedaan konsentrasi obat-obat ini dan
dapatnya eritrosit yang dihuni oleh plasmodium itu meninggi-
kan konsentrasi obat-obat ini intraseluler
sampai beberapa kali
konsentrasi di dalam plasma darah:
Antaraksi dalam serum dapat terjadi dengan obat-obat lain
yang juga terikat pada protein serum (albumin):
Untuk mendapatkan kadar darah efektif dari bagian-
bagian yang bebas dari obat-obat ini, mula-mula harus diberi-
kan loading dose sebanyak 2 x maintenance dose.
21
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Waktu paruh obat-obat ini adalah beberapa hari : hal ini
disebabkan karena pelepasan dari ikatannya dari jaringan itu
lama: Ini berbeda dengan quinine, yang juga efektif terhadap
bentuk-bentuk eritrositik dari plasmodium, karena quinine
berwaktu-paruh singkat, sehingga karena itu tidak memerlukan
suatu loading dose pada permulaan terapi:
Quinacrine, yang juga mempunyai efektivitas yang sama
dengan 4-aminoquinolines, mempunyai
waktu-paruh yang
lebih lama:
Toxisitas : Dosis 4-aminoquinolines yang terlalu tinggi
atau penggunaan yang terlalu lama dapat menimbulkan intoxi-
kasi dengan gejala-gejala pusing, pening, kesukaran meng-
akomodasi, alopecia, rambut memutih, leukopeni dan kerusak-
an mata (
"
bull s eye
"
) yang pathognomonik untuk retinopati
karena chloroquine. Retinopati yang dapat menyebabkan
kebutaan itu dapat timbul beberapa bulan sesudah terapi
dihentikan.
Peneliti-peneliti tertentu dalam simposium di Rabat 1974
mengatakan bahwa pemberian obat ini dalam dosis terapeutis
(500 mg/hari) untuk beberapa bulan saja tak menyebabkan
resistensi: Yang perlu dicatat dari toxisitas ini ialah bahwa
antaraksi dengan DNA dari 4-aminoquinolines ini khususnya
dan obat-obat yang mengadakan antaraksi dengan DNA pada
umumnya dapat mutagenik dan karsinogenik (Bruce Chwatt,
Canfield dan lain-lain):
QUININE
Alkaloid yang berasal dari kulit pohon cinchona ini seka-
rang mestinya sudah tak digunakan lagi karena kurang poten
dan lebih toxis dari 4-aminoquinolines (quinine disebut-sebut
sebagai racun protoplasma):
Tak disangka bahwa lalu terjadi resistensi terhadap 4-
aminoquinolines, terutarna dari
P:
falciparum: Ternyata sebagai
gantinya dapat digunakan lagi quinine, yang jika dikombinasi-
kan dengan pyrimethamine dan sulfadiazin, dapat menyem-
buhkan 95-98% dari penyakit-penyakit yang disebabkan oleh
P.
falciparum (Malaria tropika). Terhadap quinine belum ter-
bentuk resistensi; sebabnya tidak diketahui sampai sekarang:
Mekanisme kerja : Seperti halnya dengan 4-aminoquino-
lines, quinine juga langsung mengikat DNA, sehingga menekan
sintesa asam nukleat:
Quinine dapat diberikan hanya dengan dua cara, yaitu
secara oral dan intravena, tidak boleh diberikan secara intra-
muskuler atau subkutan, karena terlalu iritatif.
Quinine mengalami metabolisme di dalam hepar, sebagian
besar menjadi hasil
hidroxilasi yang dengan cepat diexkresi
melalui ginjal: Berbeda dengan 4-aminoquinolines, quinine
tidak mengalami akumulasi di dalam jaringan, dan karena itu
waktu paruhnya agak singkat: Untuk mendapat efek terapeu-
tik yang maksimal quinine harus diberikan tiap 6 atau 8 jam:
Toxisitas : Dosis yang terlalu · tinggi dapat menyebabkan
suatu komplex gejala yang disebut cinchonisme : tinnitus
aureum, penglihatan kabur, nausea, pening dan kurang pen-
dengaran. Jika dosis ini diteruskan maka dapat terjadi kerusak-
an yang permanen dari alat penglihatan, alat pendengaran
dan alat keseimbangan.
Terhadap jantung dosis tinggi quinine dapat langsung me-
nekan miokard seperti dextro-isomernya : quinidine. Suatu
pemberian quinine HCI intravena secara cepat dapat me-
nyebabkan shock karena vasodilatasi dan depresi miokard;
karena itu, pemberian intravena hanya dilakukan jika perlu
sekali seperti misalnya untuk mengobati malaria cerebral dan
untuk itupun haruslah quinine diberikan lambat (4):
Obat-obat antimalaria yang efektif terhadap bentuk exoeri-
trositik dari plasmodium.
8--AMINOQUINOLINES
Termasuk golongan ini yang paling baik adalah primaquine.
Selain efektif terhadap bentuk-bentuk exoeritrositik, juga
dapat membunuh bentuk-bentuk sexual eritrositik gametosit.
Mekanisme kerja : mengikat DNA.
Toxisitas : Penderita yang mempunyai defisiensi glukose-
6-phosphat dehydrogenase (G6PD) mudah menderita hemoli-
sis
dan methemoglobinemia pada pemberian primaquine,
chinine,4-aminoquinolines, sulfonamides dan chloramphenicol.
Hal ini disebabkan karena untuk mencegah rusaknya membran
lipoprotein dari eritrosit diperlukan GSH:
Untuk mereduksi GSSG (oxidized glutathion menjadi GSH
(reduced glutathion) diperlukan NADPH (Nikotinamide Ade-
nine Dinukleotide Phosphat Hydrogen) sebagai donor H
+
.
Oleh pengoksida-pengoksida seperti 6-hydroxyprimaquine dan
lain-lainnya NADPH diubah menjadi NADP. Untuk merubah
NADP kembali menjadi NADPH diperlukan energi
yang
di-
dapat dari reaksi Glukose-6-Phosphat menjadi 6-fosfoglukonat
dan reaksi ini memerlukan enzim, yaitu G6PD:
Sesuai dengan keterangan untuk terbentuknya GSH yang
diperlukan
untuk mempertahankan integritas membran
eritrosit, maka donor H
+
juga diperlukan untuk mencegah
diubahnya hemoglobin menjadi methemoglobin (lihat gam-
bar).
Keterangan : (1) Oksidansia-oksidansia : hasil-hasil metabolis-
me dari chloroquine, quinine, sulfonamides dll: (2) Gluthation reduc-
tase (3) Perobahan non-enzimatik (4) Perobahan enzimatik (NADPH
diaphorase) (5) Glukose -6-phosphat dehydrogenase (G6PD) (6) He-
molisis (7) Membran lipoprotein dari eritrosit
Obat-obat antimalaria yang dapat menekan bentuk eritrosi-
tik dan exo-eritrositik dari plasmodium.
PYRIMETHAMINE
Mekanisme kerja : Menekan sintesa folat: Selain pyrimetha-
mine, yang mempunyai mekanisme kerja serupa ialah : trime-
thoprim, chloroguanide dan cycloguanil.
Suatu persamaan cara sintesa asam hydrofolat antara
Simposium Masalah Penyakit Parasit
22
bakteria dan plasmodia menyebabkan obat-obat antimalaria
dari golongan ini juga digunakan terhadap bakteria
.
Dengan menggunakan NADPH sebagai donor H
+
dan dihy-
drofolat reduktase sebagai enzim maka asam dihydrofolat di-
ubah menjadi asam tetrahydrofolat. Asam tetrahydrofolat
selanjutnya diperlukan untuk mensintesa thymidines dan puri-
nes yang diperlukan untuk membentuk DNA, tidak hanya dari
plasmodia, akan tetapi juga dari manusia sebagai hospesnya
.
Inilah sebabnya mengapa obat-obat antifolat itu juga toxis
untuk manusia seperti misalnya juga sitostatika antifolat
(methotrexat dan lain-lain). Pyrimethamine agak berbeda dari
methotrexat dalam hal bahwa pyrimethamine adalah selektif
lebih toxis terhadap plasmodia.
Suatu cara untuk lebih melindungi penderita terhadap sifat
antifolat pyrimethamine ialah : memberikan asam foiinat
kepada penderita. Asam folinat yang dikonsumsi penderita
ini tak dapat masuk ke dalam sel plasmodium.
Terapi kombinasi Pyrimethamine dengan Sulfonamides atau
Sulfones.
Dasar : Sulfonamides atau sulfones
menghalang-halangi ter-
bentuknya asam dihydropteroat: Asam dihydropteroat dengan
glutamat dapat membentuk asam dihydrofolat.
Karena di-
halang-halangi oleh sulfonamides atau sulfones, maka tidak
akan dapat terbentuk asam dihydrofolat.
Pyrimethamine
menekan dihydrofolat reduktase. Oleh
karena itu suatu kombinasi pyrimethamine dengan sulfonami-
da atau sulfone memperkuat daya antitetrahydrofolat. Dalam
hal ini yang digunakan ialah preparat-preparat sulfonamides
dan sulfones yang long-acting.
Kombinasi-kombinasi lain yang lebih baik ialah :
kombinasi
tiga macam obat untuk yang resisten terhadap 4-aminoquino-
lines.
1. Quinine sulfat 3 x sehari 600 - 650 mg selama 10 - 14 hari,
plus
2. Pyrimethamine 2 x sehari 25 mg selama 3 hari, plus.
3. Sulfadiazine 4 x sehari 500 mg selama 5 hari
Prosentase penyembuhan tercatat 95 - 98% (3)
Kombinasi dua macam obat untuk resistensi yang demikian
dapat juga diberikan :
1. Quinine sulfat 3x sehari 650 mg selama 3 hari, plus
2. Tetracycline hydrochloride 4 x sehari 250 mg (2 x sehari
500mg) selama 10 hari (3).
Selain kombinasi-kombinasi obat-obat ini, perlu juga diusaha-
kan pembuatan obat-obatan baru dan ini sedang dalam perco-
baan klinis. Obat-obatan baru yang mempunyai harapan besar
ini ialah : (i) 9-penanthrenemethanols, dan (ii) phenanthrene-
propanols dan triazines.
Cara-cara pengobatan yang baik dapat juga kita pelajari dari
Thailand
.
Regimen pengobatan (Dept. of Clinical Tropical Medicine,
Mahidol University)
.
MALARIA TROPIKA (Falciparum malaria)
1. Manifestasi pernicious.
a. Infus tetes 500 cc dengan 5% dextrose dalam air berisi
10 gram quinine, diberikan selama h - 1 jam: Infus tetes
ini dapat diulangi tiap 8 jam. Jika sudah kurang mem-
bahayakan pengobatan diteruskan secara oral, diberikan
selama 10 - 14 hari:
b. Hari ke-1 : Sulfadoxin 1 gram + pyrimetamine 50 mg;
hari-hari berikut : quinine 10 gram tiap 8 jam selama
3 hari.
II. Tidak pernicious
Sulfadoxine 1 gram + pyrimetamine 50 mg sebagai
single
dose.
Dapat ditambah dengan quinine 10 gram 3 x sehari
selama 2 - 3 hari.
Untuk menghindari transmisi oleh nyamuk,. suatu
single dose
dari primaquine
45 mg
dapat diberikan sebelum penderita di
bebaskan dari klinik.
Untuk keperluan yang sama dapat juga diberikan primaquine
15 mg sehari selama 5 hari:
MALARIA TERTIANA
a. Chloroquine 1,5 gram (base) sehari selama 3 hari, diikuti
oleh primaquine 15 mg (base) sehari selama 14 hari.
b. Chloroquine 1,5 gram (base) sehari selama 3 hari, diikuti
oleh suatu kombinasi : chloroquine 300 mg (base) dan
primaquine 45 mg seminggu selama 8 minggu:
Chemoprophylaxis dari Malaria Tropica yang chloroquine
resistent.
1. Sulfadoxine 1 gram + Pyrimethamine 50 mg tiap 2 minggu
sekali:
2. Sulfadoxine 1,5 gram + Pyrimethamine 75 mg tiap 4
minggu sekali:
Obat-obat ini harus diberikan pada hari pertama memasuki
daerah endemik dan diteruskan sampai 4 minggu setelah me-
ninggalkan daerah endemik:
Chemoprophylaxis dari Malaria Tertiana.
1. Chloroquine 300 mg (base) seminggu sekali
.
2. Sulfadoxine 1 gram + pyrimethamine 50 mg 2 minggu
sekali
.
3. Sulfadoxine 1,5 gram + pyrimethamine 75 mg 4 minggu
sekali
.
Obat-obat ini harus diberikan pada hari pertama memasuki
daerah endemik dan diteruskan sampai
10 minggu setelah
meninggalkan daerah endemik.
Peninjauan
Telah diuraikan macam-macam pengobatan dengan titik
tangkapnya pada bentuk-bentuk kuman malaria: Dari obat
yang obsolet (kurang poten + lebih toxis) sampai macam-
macam kombinasi obat modern yang tampaknya aneh (sulfo-
namides, sulfones, tetracyclines), akan tetapi setelah diketahui
mekanisme kerjanya, dapat dimengerti, telah dikemukakan.
Saya berpendapat bahwa dua masalah pokok yang me-
nyebabkan penyakit malaria tak terberantas adalah :
1. Hubungan antar bangsa menjadi makin mudah
2. Tiap kuman mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup.
· Mengenai 1 : saya kira hal ini sudah jelas dan selama ada
carriers, terutama dari daerah endemik, dan selama masih ada
vektor-vektornya, tentu ada yang ditulari.
Makin bertambah banyak penduduknya dan makin miskin
bangsanya, makin sulit untuk mengatur suatu program ke-
sehatan: Ini fakta: Penguraiannya saya serahkan kepada yang
lebih kompeten:
Jadi, walaupun pada suatu ketika dengan bantuan WHO atau
23
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
tidak, penyakit malaria di suatu negara itu sudah terberantas,
bangsa dari negara tersebut dapat ditulari lagi oleh pendatang
dari negara lain yang merupakan carrier, kecuali kalau kita
dapat menciptakan
imunitas aktif
terhadap penyakit malaria:
Hal ini sedang dalam penelitian; di antaranya dengan mencoba
menggunakan sporozoite dan bentuk-bentuk eritrositik yang
telah diradiasi untuk membuat
vaksin malaria:
· Mengenai 2 : Pada umumnya kuman dapat menjadi resisten
terhadap obat melalui beberapa cara :
1. Mutasi spontan : tanpa suatu sebab yang hingga sekarang
diketahui kuman berobah genotip sehingga menjadi resisten
terhadap obat-obat yang ada:
2. Transduksi : Resistance factor dapat ditularkan ke kuman
lain (Suatu percobaan di Jepang dari
Escherichia coli
ke
Shigella):
Multiresistance demikian juga dapat ditularkan.
3. Konjugasi : Resistance factor dengan 1 atau beberapa
resistance-determinants dengan RTF (= resistance transmis-
sion factor), yang mengatur pemindahan plasmid-plasmid
atau episome-episome yang mengandung macam-macam
resistance determinants dari kuman yang satu ke yang lain
pada peristiwa konjugasi.
4. Resistensi yang disebabkan karena underdose: Underdose
dapat diberikan pada waktu penyakitnya sedang bermani-
festasi atau obat itu dapat diberikan sebagai profilaksis
kausal pada penderita yang kuman-kumannya bersifat tidak
sensitif terhadap obat ataupun juga obat itu dapat diberikan
untuk
keperluan
non khemotherapeutik (chloroquine
untuk rheumatoid arthritis; totaquina sebagai amarum
dalam tonika; kinine yang masih banyak digunakan sebagai
anti-piretikum):
Kesimpulan :
Di dalam daerah yang sedang berkembang, diperlukan
tindakan-tindakan jangka panjang dan jangka pendek:
Dalam jangka panjang diperlukan perbaikan kesejahteraan
bersama pendidikan kesehatan masyarakat, sehingga kemung-
kinan-kemungkinan terdapatnya tempat-tempat pengeraman
telur-telur nyamuk berkurang. Hal ini penting karena sekalipun
ada carrier, jika tidak ada vektor-vektor dari plasmodia tentu-
nya juga penyakit malaria tak dapat ditularkan (jarang sekali
terjadi penularan melalui transfusi darah dan lain-lain:):
Juga pada masyarakat yang sejahtera kecil kemungkinan
adanya carrier yang secara epidemiologis merugikan itu karena
berobat sampai sembuh bukan merupakan masalah.
Dalam jangka pendek perlu diusahkan kampanye peng-
obatan yang efisien, sehingga sebanyak mungkin penderita
dapat tertolong, tanpa menimbulkan kerugian karena obat-
obat anti-malaria (toxisitas, antaraksi yang merugikan). Suatu
penyakit rakyat nyata-nyata akan mengganggu pembangunan
karena mudah menghinggapi sejumlah besar tenaga yang
diperlukan pembangunan, sedang biaya yang seharusnya dapat
digunakan untuk pembangunan banyak harus dihambur-
hamburkan untuk pengobatan:
Dalam hal pengobatan perlu dipikirkan adanya kemungkin-
an terjadinya resistensi karena penggunaan obat yang kurang
efektif, penggunaan kausal profilaksis pada orang yang se-
benarnya menderita malaria latent, dan penggunaan obat-
obat anti-malaria untuk keperluan lain; di negara yang sedang
berkembang terdapat penderita-penderita malaria menahun
yang lemah dan tak suka makan, sehingga mudah mengguna-
kan tonika yang mengandung totaquina sebagai amarum;
juga karena kurang waspadanya dokter dan penderita kadang-
kadang digunakan pengobatan chloroquine dalam dosis anti-
malaria subterapeutik terhadap arthritis rheumatoid dan
kelainan-kelainan lain.
Di samping kampanye pengobatan yang efisien perlu juga
masyarakat disadarkan untuk hidup menurut aturan-aturan
kesehatan, terutama karena menjadi sakit sekarang ini adalah
sesuatu yang lux.
KEPUSTAKAAN
1:Arwati: Masalah Penyakit Malaria di Indonesia: Direktorat P2B,
Direktorat Jenderal P3M Departemen Kesehatan RI; 1977.
2.Symposium on Malaria Research. 1 - 5 April 1974, Rabat, Maroc.
Bull Wld Hlth Org 1974; 50 (3 - 4) : 143 - 571:
3: Goodman LS, Gilman A: The pharmacological basis of therapeutics,
5 th ed: New York : Macmillan Publishing Co; 1975; 1045 - 1066:
4:ISO Indonesia (Informasi specialite obat Indonesia) vol: 1, Jakarta :
ISO Indonesia, 1979:
5:Pratt WB: Fundamentals of chemotherapy; London, Toronto :
Oxford University Press, 1973; 145 - 176:
6: Remington JP: Remington s pharmaceutical sciences; 5 th ed;
Easton : Mack Publishing Company, 1975; 1154 - 1158:
7:Rieckmann KH: In : Conn MF ed: Current Therapy 1978: Philadel-
phia/London/Toronto : WB Saunders Co, 1978; 34 - 37.
Resistensi Plasmodium falciparum terhadap
Chloroquine di lndonesia
Wita
Pribadi, Legia S Dakung
Bagian Parasitologi dan Ilmu Penyakit Umum Fakultas Ke-
dokteran UI.
PENDAHULUAN
Resistensi terhadap obat-obat dari golongan 4-aminokuino-
lin hingga saat ini masih terbatas pada species
Plasmodium
falciparum:
Untuk pertama kali resistensi
Plasmodium falci-
parum
terhadap chloroquine dilaporkan dalam tahun 1961 oleh
Moore dan Lanier di Colombia, Amerika Selatan (1). Sejak itu
dilaporkan pula kasus-kasus dari Brazil, Guyana, Suriname,
Venezuela, Bolivia dan Panama (2): Di Asia Tenggara resistensi
dilaporkan untuk pertama kali di Muangthai dalam tahun
1961, kemudian berturut-turut di Malaysia (1962), Kamboja
(1964), Laos (1964), Vietnam (1967), Filipina (1970), Birma
(1971) dan Sabah (1972) (2): Di Afrika, hasil penyelidikan
yang dilakukan dalam tahun 1972, menyatakan bahwa
Plasmo-
dium falciparum
masihsensitif terhadap chloroquineyaitu di
daerah Kenya dan Tanzania di Afrika Timur dan di Nigeria,
Ghana, Upper Volta, Liberia, Siera Leone, Guinea dan Senegal
di Afrika Barat sekitar Pantai Gading (2): Akan tetapi sejak
1978 mulai ada laporan kasus malaria yang resisten terhadap
chloroquine dari Sudan (3), Zambia (4), Kenya (5), Tanzania
(6) dan Nigeria (7):
Di Indonesia, resistensi parasit malaria, terutama
Plasmodi-
um falciparum
terhadap obat antimalaria telah dikenal sejak
lebih dari 40 tahun yang
,
lalu: Tillema dalam tahun 1936
melaporkan adanya resistensi
Plasmodium falciparum
terhadap
kina dan atebrin, yaitu obat-obat antimalaria yang digunakan
Simposium Masalah Penvakit Parasit
24