background image
Surveilans Infeksi Nosokomial
Luka Operasi di Bagian Bedah dan di
Bagian Kebidanan/Penyakit Kandungan
RSU Bekasi
Dean Wahjudy Satyaputra, Harlo Untoro
Panitia Pemantauan Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Umum Kabupaten DT. II Bekasi, Jawa Barat
PENDAHULUAN
Di Indonesia saat ini kejadian penyakit infeksi merupakan
yang tertinggi. Infeksi Nosokomial, walaupun belum ada angka
yang pasti, juga ikut serta dal= mengkontribusi jumlah kejadian
infeksi. Di samping itu juga sering menimbulkan kematian,
memperpanjang waktu rawat nginap, menambah beban pende-
rita dengan biaya tambahan untuk perawatan clan pengobatan
pasien.
Rumah Sakit Umum Bekasi sebagai tempat rujukan di
daerah, berfungsi menyelenggarakan upaya kesehatan yang
bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien. Bukan sebaliknya
menambah jumlah orang sakit karena terjadinya infeksi noso-
komial.
Surveilans sebagai inti dari pengendalian infeksi noso-
komial, berguna untuk memperkirakan Incidence Rate infeksi
luka operasi di RSU DT. II Bekasi; juga merupakan data dasar
untuk mengidentifikasi masalah. Sebagai kegiatan pertama,
kami membatasi surveilans ini pada Infeksi Nosokomial Luka
Operasi pasien Bedah dan Kebidanan ­ Kandungan yang di-
operasi di RSU DT. II Bekasi selama bulan Februari s/d April
1991.
BAHAN DAN CARA KERJA
Pengumpulan data dilakukan secara prospektif. Status
pasien yang termasuk ke dalam cohort diberi tanda dan dicatat
identitasnya t dalam formulir yang telah disediakan. Pencatatan
dilakkukan sebelum operasi, setelah operasi dan selama penga-
wasan dalam ruang perawatan. Data dikumpulkan, dibuat ta-
bulasi kemudian dianalisis untuk selanjutnya dibuat laporan.
HASIL
.Selama bulan Februari s/d April 1991 tercatat sebanyak
228 operasi dilakukan oleh bagian Bedah dan Kebidanan ­ Kan-
dungan RSU DT. II Bekasi (Tabel 1). Jumlah ini mencakup
84,1% dari seluruh operasi yang dilakukan. Pemilihan cohort
sepenuhnya diserahkan pada operator dengan pertimbangan
bahwa pasien tersebut dirawat lebih dari 3 hari pasca operasi
dan petugas tidak mendapatkan kesulitan dalam teknis
observasi pasien.
Dari 228 pasien, terkumpul 41 pasien yang dimonitor
dengan surveilans. Sebagian besar dari mereka adalah pasien
operasi dari bagian kebidanan ­ kandungan (75,6%).
Angka kejadian infeksi nosokomial luka operasi bedah dan
kebidanan ­ kandungan RSU Bekasi adalah 14,6%, sedangkan
Cause Specified Rate adalah nol perseratus ribu (Tabel 2).
Tabel 1. Jenis Operasi menurut Bagian di RSU DT. II Bekasi bulan
Februari
s/d
April
1991
Bagian/Jenis Operasi
Besar
Sedang
Kecil
Jumlah
Bedah Umum
Kebidanan & Kandungan
Mata + THT + Gigi Mulut
8
31
10
33
18
8
60
78
25
101
127
43
Jumlah 49
59
163
271
Tabel 2. Gambaran Umum Hasil Survellans Infeksi Nosokomial Luka
Operasi Baglan Bedah dan Kebidanan ­ Kandungan RSU
DT. II Bekasi, bulan Februari s/d April 1991
A. Jumlah Pasien
Jumlah
%
Jumlah pasien Surveilans
41
100
­ Bedah Umum
­ Kebidanan ­ Kandungan
10
31
24,4
75,6
Jumlah 41
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
24
background image
B. Golongan Luka
Kasus IN
Golongan Luka
Jumlah
%
n 9b
Luka bersih
Luka bersih terkontaminasi
Luka terkontaminasi
Luka kotor
34
6
­
1
83
14,6
­
2,4
4
1
­
1
11,7
16,7
­
100
41
100
6
14,6
PEMBAHASAN
Dari tabel 1 dapat dilihat jumlah seluruh operasi adalah
alas 228 pasien terdiri dari 101(44,3%) kasus Bedah Umum
dan 127 (55,7%) kasus Kebidanan ­ Kandungan. Tabel 2 me-
nunjukkan dari 41 pasien yang dimasukkan sebagai cohort 10
orang (24,4%) pasien Bedah dan 31 (75,6%) pasien Kebidanan
­ Kandungan. Pasien yang memenuhi cohort dari bagian Bedah
lebih sedikit; ini terjadi karena banyak pasien yang hari
rawatnya kurang dari 3 hari. Selain itu ada juga pasien yang
dikeluarkan dari cohort karena petugas sulit memonitor luka
operasi (misalnya operasi haemorrhoidektomi).
Dari penggolongan luka operasi didapatkan : sebagian
besar adalah luka bersih yaitu 34 orang (83,0%) sisanya 6
orang luka bersih terkontaminasi dan 1 orang luka kotor. Pasien
dengan luka operasi bersih pada surveilans ini menjadi infeksi
sebanyak 4 orang (11,7%), pada yang golongan luka bersih
terkontaminasi 1 dari 6 pasien menjadi infeksi (16,7%) dan
100% terjadi infeksi pada yang kotor.
Hasil ini sesuai dengan temuan Haley (1985) yang berhasil
mengembangkan satu model faktor-faktor yang paling dominan
dalam kaitan dengan perkiraan kemungkinan risiko terjadinya
infeksi; salah satunya adalah derajat luka.
Surveilans Infeksi Nosokomial Luka Operasi di bagian
Bedah dan Kebidanan ­ Kandungan RSU DT. II Bekasi men-
dapatkan Incidence Rate sebesar 14,6% (Tabel 2). Untuk
memperkirakan angka infeksi dapat dipergunakan Insidens atau
Prevalens asal saja metodenya diterangkan dengan jelas. Lagi
pula penelitian Prevalens mungkin bisa mengandung bias oleh
karena representasi yang berlebih dari penderita yang dirawat
terlalu lama.
Angka kejadian infeksi (Insidens) luka operasi di atas sulit
untuk dibandingkan dengan yang lainnya mengingat situasi dan
kondisi yang saling berbeda. Tabel 3 memperlihatkan hasil
beberapa penelitian di tempat lain.
Tabel 3. Hasil Beberapa Penelitlan Infeksi Nosokomial
Penelitian Cara
Pelaksana
Raglan
Jumlah
Kasus
% IN
Ismono. Retrospektif
Dr.
Ahli
Onhopedi
580
19,6
RSHS ­ 1983
Djojo Sugito
ICN/Ahli
Bedah 848
16,9
RSHS ­ 1989
Bedah
maidens
Orthopedi
Orthopedi
806
23,1
Wahjudy.
RS Bekasi 1991
maidens Dr.
Umum
Bedah
dan
41 14,6
Kebidanan
Hasil Surveilans ini ada baiknya bila bisa dibandingkan
dengan hasil Rumah Sakit lain yang setingkat (Rumah Sakit
Daerah Type C). Sayangnya belum ada referensi yang seperti
ini. Meskipun begitu surveilans ini sangat berguna sebagai data
dasar bagi RSU DT. II Bekasi; juga bisa digunakan sebagai
pembanding untuk Rumah Sakit daerah lain. Dalam pelaksana-
an perawatan pasien, Surveilans ini digunakan untuk meng-
evaluasi tindakan penanggulangan pasien dengan memonitor
perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
KESIMPULAN
Incidence Rate infeksi nosokomial luka operasi di RSU
DT. II Bekasi adalah 14,6%. Meskipun sulit mencari referensi
penelitian yang sejenis, angka ini berguna sebagai data dasar
bagi Rumah Sakit kami dan bisa dipergunakan sebagai
pembanding apabila Rumah Saki' yang setingkat melakukan
kegiatan yang sama.
Didapatkan pula bahwa faktor golongan luka pada pasien
mempengaruhi risiko terjadinya infeksi.
KEPUSTAKAAN
1.
Ramah Surbakti R. Pelaksanaan Surveilans Infeksi Nosokomial Dit. Jen.
PPM dan PLP, Dep.Kes RI Jakarta, 1983.
2.
Ismono D. Infeksi Luka Pasca Bedah Orthopaedi di Rumah Sakit Hasan
Sadikin, 1982.
3.
Haley RW, Culver DH, Morgan WM, White JW, Emori TG, Hooton TM.
Identifying patients at high risk of surgical wound infection. A simple
multivariate index of patient susceptibility and wound contamination, Am
J Epidemiol 1985; 121 : 206 -15.
4.
Djojosugito MA. Infeksi Luka Operasi Nosokomial (Penentuan faktor
risiko, kuman penyebab dan cars surveilans serta penentuan pengaruhnya
terhadap biaya langsung perawatan biaya Rumah Sakit. Disertasi, Jakarta,
November 1990.
Keep your mouth shut and your eyes open
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 25