background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Stres
dalam Kehidupan Sehari-hari
J. Karnadi
Kelompok Psikiatri Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre, Jakarta
PENDAHULUAN
Stres merupakan istilah yang dikenal luas dalam masya-
rakat. Tetapi batasan atau pengertian tentang istilah stres sendiri
beraneka ragam. Umumnya yang dimaksudkan dengan stres
adalah pola adaptasi umum dan pola reaksi menghadapi stresor,
yang dapat berasal dari dalam di individu maupun dari ling-
kungannya. Bila proses adaptasi berhasil dan stresor yang di-
hadapi dapat diatasi secara memadai, maka tidak akan timbul
stres. Baru bila gagal dan terjadi ketidakmampuan, timbullah
stres. Menurut Hans Selye: Stres tidak selalu merupakan hal
yang negatif. Hanya bila individu menjadi terganggu dan ke-
walahan serta menimbulkan distres, barulah stres itu merupakan
hal yang merugikan.
Fight or flight response
Reaksi tubuh terhadap stresor, bahaya atau tantangan di-
mulai dengan reaksi awal di hipotalamus yang memulai reaksi
rantai melalui serabut saraf dan reaksi biokimiawi, selanjutnya
melalui sistem saraf otonom simpatik menimbulkan pelbagai
perubahan di seluruh tubuh. Individu menjadi waspada penuh,
dan tersedia enersi untuk menghadapi tantangan, baik untuk
nenghadapi ancaman bahaya maut, berlomba, atau hanya se-
kadar mengejar jadual waktu. Terjadi peninggian tekanan darah,
mama jantung, intake oksigen, dan aliran darah ke otot, dan
terhimpunlah tenaga, enersi dan konsentrasi pikir yang diperlu-
kan. Bagian tubuh lain juga terpengaruh oleh reaksi tersebut:
misalnya pencernaan terhenti (hingga misalnya timbul nyeri
dan tukak lambung), kulit berkeringat dan otot tegang sebagai
persiapan untuk mengambil suatu tindakan, termasuk pilihan
fight or flight.
Proses adaptasi dan Sindrom Adaptasi Umum
Pada proses adaptasi fisik, jantung dan pembuluh darah,
ini sangat berperan, dan perubahan fungsi tubuh sejak dari tahap
eksitasi sampai tahap recovery dapat direpresentasikan dengan
kenaikan tekanan darah.
Pada awalnya kinerja fisik meningkat bersama tahap
eksitasi, tetapi kemudian dapat menurun bila individu terus
memaksakan diri setelah terjadinya tahap keletihan. Bila hal
inipun dibiarkan berlanjut, individu dapat jatuh sakit. Individu
sendiri mungkin tidak menyadari hal ini, dan masih meng-
anggap bahwa kinerjanya masih berada pada taraf yang di-
kehendaki.
Dalam menghadapi suastu stresor, reaksi individu dapat
dipengaruhi antara lain oleh: stres yang dthadapi, sisa stres ter-
dahulu maupun antisipasi atau persepsi akan stres yang akan
datang.
Dorongan kebutuhan
Selain menghadapi stresor dan lingkungannya, individu
juga menghadap stresor dari dalam dirinya. Individu berturut-
turut umumnya mempunyai kebutuhan dasan akan Rasa Aman
dan Biologik, kebutuhan Sosial untuk menjadi bagian dari
kelompok, kebutuhan Emosional dan Pribadi, atau kebutuhan
Ekspresi Diri.
ADAPTASI DAN STRES
Stres dapat menimbulkan dorongan yang perlu untuk
mengubah pikiran menjadi tindakan, baik itu memenuhi suatu
jadual waktu, berlomba, melarikan diri dari kebakaran, dan lain.
sebagainya. Stres dapat merupakan hal yang positif, yang
Makalah untuk Pertemuan Ilmiah RS MMC, Stress, Depresi dan Putao.
Jakarta 11 April 1998
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
20
background image
membantu kelanjutan hidup dan memberikan dinamika yang
membedakan hidup yang dinamik dan produktif dengan
eksistensi yang pasif semata. Stres juga dapat dimanfaatkan
sebagai bagian dari suatu permainan maupun suatu kegemaran
yang mengandung unsur ketegangan (suspense), tantang atau
bahaya.
Namun kehidupan masa kini lebih majemuk, lebih keras
dan lebih tidak alami. Perubahan yang terjadi dengan cepat
menyeluruh membuat manusia terdesak untuk menyesuaikan,
mengikuti dan bersaing demi kelangsungan hidupnya. Stres
lebih sering terjadi bila individu terperangkap dalam suatu pola
hidup yang tidak dikehendakinya, atau ia tidak dapat merubah
pola hidupnya tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhan diri-
nya. Individu yang mempunyai kemampuanpun juga tidak selalu
berhasil mengatasi stresor yang dihadapinya.
Kesehatan dan kelangsungan hidup didasarkan pada
kemampuan individu untuk selalu menyesuaikan diri terhadap
stresor serta perubahan-perubahan dan kemampuan mengem-
balikan serta mempertahankan keseimbangan (homeostase)
semua proses fisik dan mental. Bila stresor dapat diatasi,
individu akan cenderung kembali kepada keseimbangan
(homeostase) semula. Stresor atau perubahan hidup yang ber-
lebih akan membebani kemampuan penyesuaian tersebut dan
dapat mengakibatkan individu jatuh sakit. Dan bila gangguan
keseimbangan tersebut terjadi cukup lama dapat timbul kondisi
ansietas kronik.
Timbulnya stres dan faktor kepribadian
Dalam bereaksi dan menyiagakan diri menghadapi suatu
bahaya, individu sering tidak dapat membedakan apakah bahaya
tersebut konkret/nyata ataukah hanya persepsi/bayangan
antisipasi semata, tergantung dari sikap tidak sadar individu
terhadap suatu stresor. Antisipasi emosional secara negatif dapat
memperberat atau memperpanjang reaksi lebih dan sewajarnya.
Juga dapat timbul reaksi terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak
pernah terjadi. Stres psikologik dapat menumpuk dan mem-
pengaruhi kesehatan. Kepnibadian dan pola perilaku individu
menentukan pola reaksi terhadap suatu situasi atau kejadian.
Sikap, tata nilai dan kebiasaan yang kurang lugas maupun
ketakutan antisipatif akan yang hal-hal yang belum diketahui,
tidak sabar, marah, cemas, dan lain sebagainya dapat menimbul-
kan rangsang saraf dan reaksi biokimia yang sama seperti dalam
menghadapi stresor yang konkret dan menimbulkan stres yang
tidak perlu.
Dua orang kardiolog, M. Friedman dan R. Rosenman me-
ngembangkan penggolongan berikut: Kepribadian tipe A yang
cenderung akan eksitasi: sangat sadar waktu, tidak sabaran,
hostil kompetetif, ambisius, agresif, pekerja keras, menetapkan
target yang tinggi bagi dirinya dan orang lain, dan cenderung
mengembangkan emosi antisipasi yang mengarah pada stres
seperti cemas. Kepribadian tipe B sebaliknya menunjukkan sikap
tenang, santai, tidak ambisi berlebihan, dan kurang rentan
terhadap stres dan penyakit jantung.
Pada umumnya seseorang berada di antara kedua tipe ter-
sebut; dengan menyadari berkembangnya kecenderungan stres
dalam diri individu dapat menolong mengurangi resiko terhadap
stres.
Perubahan pola hidup
Perubahan pola hidup dapat merupakan stresor yang men-
datangkan tantangan untuk mengambil resiko dan menyesuai-
kan diri. Makin baik taraf kesehatan seseorang akan makin baik
pula kemampuan mengatasi perubahan tersebut.
T.H. Holmes & R.H. Rahe menciptakan suatu skala pe-
nyesuaian sosial dengan membuat nilai bobot skor yang diperlu-
kan oleh seseorang untuk berubah atau menyesuaikan diri dalam
pelbagai situasi perubahan hidup: Lebih dari 300 dalam satu
tahun berarti resiko jatuh sakit pada 80% individu; 150­299
resiko berkurang 30%; dan kurang dari 150 berarti resiko ringan.
Para pakar lain berpendapat bahwa kejadian eksternal saja
tidak cukup untuk menimbulkan gangguan, tetapi kombinasi
dan faktor pengalaman dari genetik harus ada untuk jatuh sakit.
Kepribadian seseorang dan kemampuannya mengatasi perubah-
an hidup tersebut menentukan seberapa baik reaksinya dalam
suatu perubahan hidup tersebut.
Tuntutan prestasi
Kita sering memperoleh kemajuan dan stres yang disertai
tantangan prestasi fisik maupun keterampilan. Hal ini merupa-
kan hal yang sehat asalkan kita tetap percaya diri, dan dapat
mempergunakan enersi dan ketegangan yang timbul dari
tuntutan tambahan tersebut.
Kondisi emosional tertentu juga dapat merupakan stresor
sekunder; Kebosanan dengan kurangnya rangsangan atau minat
pada pekerjaan, menganggur, atau pensiun dapat menimbulkan
depresi, apati, dan stres. Keraguan akan apakah masih dibutuh-
kan atau dihargai dapat menimbulkan citra diri yang buruk dan
rasa terasing. Kesedihan atau kehilangan pasangan dengan
perceraian, perpisahan atau kematian dapat menimbulkan
pengaruh yang dalam dan berkepanjangan. Dan bila kesedihan
tetap tidak dapat diatasi dapat mencetuskan sakit mental atau
fisik.
Faktor lingkungan dan kimiawi
Penduduk di kota besar dihadapkan pada banyak iritasi dan
faktor stres, seperti udara panas dan lembab, debu, asap mobil,
asap rokok, bau tidak sedap dan lain sebagainya. Juga pelbagai
macam polusi, kebisingan, kekerasan, berjubelnya orang, ber-
dempet-dempetnya ruangan dapat menimbulkan iritasi yang
menyeluruh dan tidak terkendali.
Sifat-sifat Stresor
Beratnya stresor tidak selalu menentukan gangguan adap-
tasi yang terjadi, tetapi juga ditentukan oleh interaksi beberapa
faktor seperti kuantitas, kualitas, lamanya, reversibilitas, ling-
kungan dan konteks kepribadian yang bersangkutan. Stresor
dapat tunggal, majemuk, berulang, maupun terus menerus.
TANDA-TANDA STRES DAN KETEGANGAN
Tanda-tanda fisik: Gerakan motorik yang tidak disadari
berupa menggigit kuku, mengepalkan tinju, mengencangkan
rahang, mengetuk-ngetuk jan, menggesek gigi, menarik bahu,
mencubit kulit muka, mengetuk-ngetukkan kaki, menyentuh
rambut dan lain sebagainya. Penyakit fisik yang berhubungan
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 21
background image
Gangguan, psikiatrik yang mungkin timbul bila proses
adaptasi gagal atau menjadi berkepanjangan antara lain adalah:
dengan stres: asma, nyeri punggung, gangguan pencernaan,
sakit kepala, migren, nyeri otot, gangguan seksual, gangguan
kulit dan lain sebagainya. Dalam kondisi yang luar biasa berat,
melalui pelbagai gangguan fungsi tubuh, individu bahkan
mungkin sampai pada kematian.
·
Gangguan psikiatrik khusus yang berkaitan dengan stres:
Gangguan Pasca Trauma, dan Reaksi psikosis akut.
·
Gangguan Neurotik, seperti Gangguan Penyesuaian, atau
Gangguan Psikosomatik.
Tanda-tanda emosi: Cemas, depresi, kecewa, marah atau
bermusuhan, tidak berdaya, tidak sabar, mudah tersinggung,
gelisah dan lain sebagainya.
·
Pelbagai Gangguan Psikotik.
Tanda-tanda perilaku: Agresi, gangguan pola tidur, me-
ngerjakan beberapa hal sekaligus, ledakan emosional, mening-
galkan pekerjaan yang belum selesal, reaksi berlebih, berbicara
terlalu keras atau cepat. Gangguan emosi dan perilaku yang
timbul dapat merupakan gangguan psikiatrik yang memerlukan
penatalaksanaan khusus.
KESIMPULAN
Stres dalain hidup sehari-hari dapat menimbulkan rasa
kurang atau tidak nyaman, tetapi dapat pula justru memberi
rasa nyaman. Sebagai elemen yang memberi rasa nyaman stres
dapat dimanfaatkan, sebagai pendorong untuk maju dalam
hidup, atau bahkan dinikmati. Sebagai faktor yang memberi
distres, akan timbul banyak keluhan, dalani keadaan akut dalam
bentuk kegelisahan, dan dalam bentuk kroms sebagai gangguan
fisik maupun mental, kebosanan, keletihan dan akhirnya ke-
matian. Beberapa gangguan psikiatrik dapat ditemukan berkait-
an dengan kondisi stres akut dan yang berkepanjangan.
Pasien Rumah Sakit: Reaksi pasien atas penjelasan dan
konfirmasi adanya suatu penyakit dapat menimbulkan pelbagai
reaksi, dan menyangkal dan menolak, marah, mencunigal dok-
ternya, menyalahkan pelbagai pihak, sampai depresi, menyerah
atau akhirnya menerima.
Easily gained, easily spent
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
22