serokonversi terhadap Vaksin Polio Oral
pada Anak-anak yang Menderita Diare
Gendrowahyuhono
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Rl, Jakarta
ABSTRAK
Penelitian mengenai serokonversi terhadap vaksin polio oral pada anak-anak yang
menderita diare ringan telah dilakukan di daerah Cempaka Putih, Jakarta, pada tahun
1989.
Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui apakah adapenurunan bermakna
(lebih dari 20%, p <0,05) dari serokonversi anak yang diare terhadap vaksinasi polio oral
yang diberikan satu kali, dibandingkan dengan anak yang tidak diare.
Sampel diambil secara random dari anak-anak yang berumur 3 bulan 1 tahun,
berupa darah (serum), kemudian diperiksa dengan uji netralisasi mikro-tehnik pada
biakan primer sel ginjal kera.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada anak-anak yang menderita diare setelah
diberi vaksinasi polio oral satu kali, memberikan seroconversion rate terhadap virus polio
vaksin tipe I , 2 dan 3 masing-masing sebesar 64%, 72% dan 47%. Sedangkan pada anak-
anak yang tidak diare, serokonversi terhadap virus polio tipe 1, 2 dan 3 adalah masing-
masing sebesar 66%, 72% dan 54%.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan serokonversi terhadap pem-
berian vaksinasi polio pads anal( yang menderita diare dan anak yang sehat; dapat di-
simpulkan bahwa pemberian vaksinasi polio oral pada anal( yang sedang diare tidak
menghambat respons imun anal( untuk membentuk antibodi.
Dari hasil penelitian ini dapat disarankan untuk tetap memberikan vaksinasi polio
oral pada anak yang sedang diare ringan, sehingga dapat meningkatkan cakupan imuni-
sasi polio terutama di daerah yang sulit dijangkau oleh petugas puskesmas.
PENDAHULUAN
Cennin
Attila
Kodakter+mr Na
100, 1995 21
Poliomielitis adalah salah satu penyakit menular yang dapat
dicegah dengan imunisasi. Pemerintah Indonesia, melalui De-
partemen Kesehatan telah mentargetkan bebas penyakit polio
pada tahun 2000. Untuk mencapai target tersebut telah dilakukan
berbagai langkah dan strategi pemberantasan penyakit polio
yaitu antara lain dengan meningkatkan cakupan imunisasi dan
pemantapan sistem surveillance penyakit polio.
Dalam pelaksanaan di lapangan, untuk meningkatkan ca-
kupan imunisasi polio, ternyata masih banyak hambatan dan
masalah yang harus ditanggulangi. Salah satu hambatan adalah
adanya missed opportunities yaitu ibu dan anak sudah datang ke
fasilitas kesehatan tetapi tidak mendapat pelayanan imunisasi.
Hal ini disebabkan antara lain : anak sedang sakit (misalnya
diare), kontra indikasi yang tidak tepat, petugas tidak mau ambil
risiko memberikan lebih dari satu macam vaksin dalam satu kali
vaksinasi, dan petugas merasa sayang untuk membuka vaksin
hanya untuk satu bayi
(1)
.
Menurut anjuran WHO
(2)
diare bukan merupakan kontra
indikasi untuk diberi vaksinasi polio. Akan tetapi masih banyak
pendapat yang meragukannya. Secara logika maka vaksin yang
diberikan secara oral tersebut akan segera dikeluarkan lagi pada
saat anak buang air besar. Untuk membuktikan hal tersebut maka
penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah
anak yang sedang diare apabila diberi vaksinasi polio tidak ter-
.hambat respons imunnya dan dapat membentuk antibodi seperti
pada anak yang sehat.
METODOLOGI
Penelitian dilakukan di lokasi daerah kumuh di Kecamatan
Cempaka Putih, dengan jumlah penduduk 18.304 jiwa dan kepa-
datan penduduk 4000 jiwa per kilometerpersegi (data 1989).
Penelitian menggunakan sampel sebanyak 45 anak yang
diare dan 45 anak sehat, dan belum pernah mendapat vaksinasi
polio. Setiap anak yang datang ke puskesmas untuk tujuan
vaksinasi, yang berumur 2 4 bulan, diperiksa kesehatannya ter-
lebih dahulu. Anak yang sehat diambil darahnya dari ujung jari
tangan dengan menggunakan tabung kapiler, kemudian diberi
vaksinasi polio yang pertama. Demikian juga dengan bayi-bayi
yang datang ke puskesmas untuk berobat karena diare, apabila
belum divaksinasi polio diminta untuk diberi vaksinasi polio dan
diambil darahnya sebelum vaksinasi. Setelah mendapat vaksi-
nasi,kemudian alamat anak dicatat dengan lengkap supaya dapat
dihubungi lagi bila akan melakukan vaksinasi dan pengambilan
darah yang ke dua. Pada anak yang diare dicatat juga gejala-
gejala yang lain seperti panas, kejang, kulit keriput atau turgor
kulit menurun, dan lain-lainnya. Satu bulan kemudian anak yang
sama diberikan undangan agar datang ke puskesmas untuk
pengambilan darah dan vaksinasi polio yang kedua.
Apabila anak tidak datang memenuhi undangan, maka pe-
tugas mendatangi rumahnya dan melakukan pengambilan darah
dan pemberian vaksinasi di rumah.
Darah yang sudah diambil kemudian dibawa ke laborato-
rium untuk dilakukan pemisahan serum. Serum yang sudah ter-
pisah kemudian disimpan dalam refrigerator, menunggu peme-
riksaan secara simultan bila semua spesimen sudah terkumpul.
Pemeriksaan dengan uji netralisasi mikro-teknik meng-
gunakan biakan jaringan primer sel ginjal kera, untuk menge-
tahui kadar antibodi dalam masing-masing serum yang diperiksa
terhadap virus vaksin polio tipe 1, 2 dan 3. Serum diinaktifkan
terlebih dulu dengan cara memasukkan ke dalam waterbath
dengan temperatur 56°C selama 1 jam. Kemudian serum di-
encerkan 8 kali (1:8) dengan PBS. Enceran serum tersebut ke-
mudian dicampur dengan larutan virus yang sudah diencerkan
menjadi 100 TCID50, kemudian diinkubasi dalam temperatur
37°C selama 2 ja,n, agar supaya terjadi netralisasi antara serum
dengan virus yang, homolog. Campuran serum-virus tersebut
kemudian diinokulasikan pada biakan jaringan ginjal kera,
setertisnya diinkubasikan dalam temperatur 37°C. dan diamati
setiap hari, selama 7 hari, untuk melihat timbulnya cytopathic
effect (CPE = kerusakan sel) pada biakan jaringan yang diinoku-
lasi. Lubang biakan jaringan yang tidak menunjukkan adanya
CPE, berarti terjadi netralisasi antara serum dengan virus yang
dicampurkan, atau dinyatakan sebagai serum yang mempunyai
antibodi terhadap virus polio. Tipe antibodi yang ditemukan
sesuai dengan tipe virus yang dinetralisirnya. Sebagai contoh,
apabila serum yang diperiksa menetralisir virus polio tipe-1,
maka berarti serum tersebut mengandung antibodi terhadap virus
polio tipe-1.
Dari hasil uji netralisasi tersebut, didapatkan persentase
anak yang mempunyai antibodi terhadap masing-masing tipe dan
terhadap ketiga tipe virus vaksin polio. Dengan membandingkan
antarapersentase anak yang mempunyai antibodi, dari anak yang
menderita diare dengan anak yang sehat, maka dapat dianalisis
adanya penurunan seroconversion rate yang bermakna yaitu
penurunan lebih dari 20% (p < 0,05), dari masing-masing ke-
lompok anak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pemeriksaan serum anak yang diare dan anak yang
sehat setelah mendapat vaksinasi satu kali dapat dilihat pada
Grafik 1 dan Tabel 1. Seroconversion rate terhadap virus polio
tipe 1 dari anak yang diare dan anak yang sehat hampir sama
yaitu masing-masing 64% dan 66%. Selanjutnya, seroconver-
sion rate terhadap tipe 2 juga sama yaitu 72%, sedangkan
seroconversion rate terhadap tipe 3 anak yang diare lebih
rendah dibandingkan dengan anak yang sehat, yaitu masing-
masing 47% dan 54%, akan tetapi perbedaan tersebut tidak
betmakna atau tidak lebih dari 20%.
Grafik 1. Seroconversion rate terhadap virus polio tipe 1, 2 dan 3, dari anak
diare
dan
anak
sehat,
setelah mereka mendapat vaksinasi polio
oral satu kali.
Tabel 1. Antibodi positip dan antibodi negatip terhadap ketiga tipe virus
vaksin
polio
pada
anak
diare dan anak sehat pada saat sebelum
dan
sesudah
vaksinasi
satu
kali.
Antibodi tripel positif Antibodi tripel negatif
Status Vaksinasi
Anak sehat
%
Anak diare
%
Anak sehat
%
Anak diare
%
Sebelum vaksinasi
Sesudah vaksinasi
13
57
13
53
51
9
56
13
Bila hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil imu-
nisasi polio di Bandung tahun 1979
(3)
, ternyata hasil serocon-
version rate terhadap masing-masing tipe virus vaksin polio
tidak berbeda.
Berdasarkan hasil tersebut di atas, ternyata bahwa respons
imun anak yang diare apabila diberi vaksin polio oral tidak
mengalami gangguan, yaitu tidak terjadi penurunan serokon-
versi antibodi terhadap virus vaksin yang diberikan. Akan tetapi
perlu dicatat, bahwa kriteria diare dalam penelitian ini adalah
untuk diare ringan yaitu diare dengan atau tanpa panas dan
muntah, frekuensi diare 35 kali per hari, dan turgor kulit masih
baik. Kemudian pengobatan terliadap diarenya juga diberikan,
sehingga mungkin ada pengaruhnya terhadap keadaan diarenya
dan terhadap respons imunnya.
Dilihat dari antibodi positip dan antibodi negatip terhadap
ketiga tipe virus vaksin polio (triple positive dan triple negative),
maka ternyata ada kenaikan persentase antibodi positip dan
penurunan antibodi negatip pada anak-anak sebelum vaksinasi
dan sesudah mendapat vaksinasi polio (Tabel 1). Dan apabila hal
ini dibandingkan antara anak yang diare dengan anak yang sehat
maka ternyata tidak ada perbedaan atau ada perbedaan tapi tidak
bermakna.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tanggap
kebal (respons imun) anak yang sedang diare apabila diberi
vaksinasi polio oral, tidak mengalami gangguan. Reaksi anti-
bodinya sama dengan anak yang sehat.
Dengan demikian, maka disarankan untuk tetap memberi-
kan vaksinasi polio kepada anak yang sudah datang ke pelayanan
kesehatan untuk vaksinasi, meskipun anak sedang menderita
diare, terutama untuk daerah-daerah yang terpencil, sehingga
cakupan imunisasi bisa lebih tinggi.
APPENDIX
Cara penghitungan seroconvercion rate :
X Y
Seroconversion rate = x 100%
(terhadap
tipe
I) X
X = Jumlah anak yang tidak mempunyai antibodi polio tipe I sebelum
mendapat
vaksinasi.
Y = Jumlah anak yang tidal( mempunyai antibodi polio tipe I sesudah men-
dapat
vaksinasi.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Yth. Kepala Direktorat
EPIM. Dit.Jen.PPM&PLP, Yth. Kepala Sub Dit. Imunisasi Dit.Jen.PPM&PLP
dan Dr. Zeil, Consultant WHO di Dit. Jen. PPM&PLP, atas segala bimbingan dan
bantuan materielnya sehingga penelitian ini dapat terselenggara dengan baik.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Yth. Kepala Suku
Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, Yth. Kepala Puskesmas Kecamatan Cempaka
Putih, Yth. Kepala Puskesmas Kelurahan Galur dan Yth. Kepala Puskesmas
Kelurahan Rawasari, alas pemberian faslitas lokasi penelitian dan bantuan
tehnis waktu pengambilan spesimen, sehingga dapat memperlancar jalannya
penelitian.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan juga kepada seluruh staff sub bi-
dang biakan jaringan yang telah membantu melakukan pemeriksaan uji netrali-
sasi dari awal sampai selesai.
KEPUSTAKAAN
1. N.N. Strategi dan Langkah-langkah Eradikasi Poliomyelitis di Indonesia.
Dit.Jen.PPM&PLP, Departemen Kesehatan RI Jakarta. REV ISI I Tahun
1991.
2. WHO. Manual For Immunization Programme Managers on Activities Re-
lated to Polio Eradication. Global Poliomyelitis Eradication By The Year
2000. Expanded Programme on Immunization, 1989.
3. N.N. Hasil Trial Immunisasi Polio di Lima Kecamatan di Kodya Bandung
(Survey sero-virologi) pada bayi sehat golongan umur 314 bulan pada tahun
19781979. Kerjasama antara Dit.Jen.PPM&PLP, Dinas Kesehatan Prop.
Jawa Barat dan P.N. Bio Farma Bandung.
Laziness travels so slowly that poverty soon overtakes him
(B. Franklin)