Reseptor Estrogen pada
Karsinoma Payudara
Truly Djimahit Dasril
Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Ujungpandang
PENDAHULUAN
Karsinoma payudara merupakan neoplasma yang heterogen
dengan variasi gejala klinik, perubahan patologi dan biokimia;
menyebabkan intensifnya usaha mendeteksi beberapa parameter
untuk menentukan prognosis dan sekaligus menentukan peng-
obatan selanjutnya penderita karsinoma payudara
(1)
. Beberana
penelitian akhir-akhir ini menunjukkan adanya Reseptor Estro-
gen di jaringan karsinoma payudara yang mempunyai arti penting
dalam menentukan prognosis dan tindakan pengobatannya
(2,3,4)
.
Untuk mendeteksi Reseptor Estrogen ini, terdapat berbagai
cara antara lain dengan pemeriksaan biokimia. Tetapi cara ini
memerlukan waktu lama & biaya yang sangat mahal. Beberapa
peneliti telah melakukan pemeriksaan Reseptor Estrogen dengan
teknik immunohistokimia dari sediaan parafin. Immunohisto-
kimia yang menggunakan enzim memberi hasil yang baik. Teknik
ini mudah dilakukan dan mempunyai anti spesifik karena meng-
gunakan antibodi monoklonal.
Tujuan penelitian ini untuk melihat apakah Reseptor Estro-
gen hanya terdapat di karsinoma payudara dan tidak terdapat
pada tumor jinak payudara, sehingga pemeriksaan Reseptor
Estrogen dari setiap karsinoma payudara dapat benar-benar ber-
manfaat untuk tindakan pengobatannya.
PENELITIAN
Telah dilakukan pemeriksaan Reseptor Estrogen (RE) pada
37 kasus karsinoma payudara dan 36 kasus fibroadenoma
mamma yang diambil secaraacakdari seluruh kasus tumorganas
dan jinak yang diperoleh pada tahun 1988 di Laboratorium
Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran UNHAS Ujung Pan-
dang.
Pemeriksaan dilakukan pada jaringan blok parafin dengan
menggunakan teknik Immunoperoxidase Strep-Avidin Biotin
enzim kompleks, menggunakanEstrad iol sebagai antibodi primer.
Penilaian RE positif berdasarkan warna kemerahan/orange
pada sitoplasma sel dan terdiri atas derajat, yaitu negatif (),
ringan (+), sedang (++) dan positif kuat (+++).
Cara kerja
· Sediaan 6 mikron diletakkan di obyek gelas yang telah
diolesi albumin, dikeringkan di oven 55°C selama 2 jam. Tiap
sampeI dibuat 2 slide, 1 test slide dan 1 negative control slide.
· Deparafinasi menggunakan Xylol, dengan meletakkan slide
langsung ke dalam Xylene Bath dan diinkubasi selama 5 menit.
· Tiriskan kelebihan cairan, letakkan slide ke dalam Fresh
Absolute Ethyl Alcohol bath selama 3 menit. Ulangi rehidrasi ini
dengan etil alkohol absolut yang baru, kemudian ke dalam
larutan etil alkohol 95%, dua kali 3 menit. Cuci slide dengan air
kran mengalir selama 1 menit, singkirkan kelebihan cairan dengan
tissue tetapi perhatikan potongan jaringan jangan sampai kering.
· Teteskan 23 tetes Peroxidase Blocking Reagent pada selu-
ruh potongan jaringan, inkubasi 5 menit pada suhu kamar dalam
humidity chamber. Singkirkan reagen yang berlebihan, cuci slide
dalam Buffered Wash Working Solution (BWWS) dua kali 5
menit.
· Teteskan 23 tetes Nonspecific Blocking Reagent ke tiap
slide dan inkubasi 20 menit. Cuci slide dalam BWWS selama 5
menit.
· Teteskan 12 tetes Monoclonal Estradiol Rabbit Primary
Antibody pada test slide, dan negative control reagent ke nega-
tive control slide. Inkubasi selama 60 menit dalam humidity
chamber. Cuci dalam BWWS selama 5 menit.
· Teteskan 23 tetes Linking Reagent ke tiap slide, inkubasi 30
menit, cuci dalam BWWS selama 5 menit.
· Teteskan 23 tetes Strept - Avidin Enzyme Label ke tiap
slide, inkubasi 30 menit. Cuci slide dalam BWWS selama 5
menit.
· Teteskan beberapa tetes AEC working colour reagent,
inkubasi 1015 menit, cuci dengan sempurna di air kran.
· Counterstain dengan Hematoxylin Mayer selama 3060
detik, celupkan slide dalam Ammonia Water 0,3%. Cuci slide di
air ban, teteskan Aqueous Mounting Medium sebelum ditutup
dengan degglas.
HASIL
Hasil pemeriksaan Reseptor Estrogen path 37 kasus karsi-
noma mammae menunjukkan hasil positif sebanyak 19 kasus
(51,4%), 18 kasus (48,6%) negatif. Dari 19 kasus positif terdapat
6 kasus positif dengan intensitas lebih tinggi yaitu positif 2 (++).
Hasil pemeriksaan RE path 37 kasus fibroadenoma me-
nunjukkan 2 kasus (6,5%) positif, 31 kasus dengan hasil negatif
dan 3 kasus tidak dapat dinilai (tabel 1).
Sel yang positif sering terdapat mengelompok path area
tertentu, walaupun secara histologik tumornya nampak homogen.
Pada kelompok fibroadenoma mammae, terdapat 3 kasus yang
tidak dapat diinterpretasi. Hal ini karena blok parafin sangat
keras akibat kesalahan pembuatan sehingga pada pemotongan,
jaringan hancur; akibatnya deparafinasi tidak terjadi sempurna.
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Reseptor Estrogen
RE positif
RE negatif
Jumlah
Tumor Mammae
n % n % n %
Karsinoma Mammae
Fibroadenoma Mammae
19
2
51,4
6,5
18
31
48,6
93,5
37
33
100
100
Jumlah 21
49
70
Keterangan : p < 0 .001
RE (+) pada karsinoma mammae j auh lebih tinggi secara
bermakna daripada RE (+) pada fibroadenoma mammae.
Menurut derajat sitoplasma sel yang positif di karsinoma
mammae, terdapat 13 kasus positif ringan dan 6 kasus derajat
positif sedang. Pada kelompok fibroadenoma mammae, terdapat
2 dengan derajat positif ringan (tabel 2).
Tabel 2. Derajat Scl Sitoplasma
Tumor mammae
Positif ringan (+)
Positif sedang (++)
Karsinoma mammae
Fibroadenoma mammae
13
2
6
Jumlah 15
6
Distribusi umur RE positif karsinoma mammae, terlihat
pada umur di bawah 35 tahun, 8 kasus (72,7%) dengan 2 kasus
positif sedang. Di atas 35 tahun, 11 kasus positif ringan (42,3%)
dengan 4 kasus positif sedang.
Tabel 3. Distribusi Usia Penderita dengan RE Positif
RE +
Karsinoma mammae
Fibroadenoa mammae
< 35 tahun
> 35 tahun
8
11
3
DISKUSI
Penelitian ini menunjukkan bahwa RE dapat dideteksi se-
cara rutin pada sediaan blok parafin dengan memakai metode
Immunohistokimia yang menggunakan Estradiol sebagai anti-
bodi monoklonal. Keuntungan metode ini dibandingkan dengan
metode biokimiawi, adalah dapat menilai bahwa setiap tumor
mammae mempunyai sifat yang heterogen.
Pada penelitian ini jumlah RE positif dibandingkan dengan
RE negatif pada karsinoma mammae, tidak begitu jauh perbe-
daannya. Hal ini disebabkan pada proses blok parafin banyak
immunoreaktivitas dari jaringan yang hilang; dan ini sesuai
dengan hasil penelitian Kamby C.cs
(10)
bahwa sebagian Reseptor
Estrogen pada jaringan rusak selama proses fiksasi formalin dan
parafin embedding. Sehingga berdasarkan hal ini tak dapat di-
pastikan berapa sampel/kasus yang mengalami negatif palsu.
KEPUSTAKAAN
1. Wrba F, Chaotta, Reiner A. K-67 Immunoreactivity in breast carcinomas
in relation to transferrin receptor expression, estrogen receptor status and
morphological criteria. Oncology 1989; 46: 2559.
2. Horsfall DJ, Jarvis LR, Gimbaldeston MA. Immunocytochemical assay for
estrogen receptor in fine needle aspirates of breast cancer by video image
analysis. Br. J. Cancer 1989; 59: 129-34.
3. Cohen C, Unger ER, Bradley N. Automated immunohistochemical estro-
gen receptor in fixed embedded breast carcinoma. Am. J. Clin. Pathol.
1989; 92: 669-72.
4. Bouzubar N, Walker KJ, Griffiths K. Ki 67 immunostaining in primary
breast cancer: pathological. Br. J. Cancer 1989; 59: 9437.
5. Diagnostic products Corp. Immunostain. Euro/DPC 1988; 26: 1-18.
6. CooperJA, Rohan TE, Cant EL Risk factors for breast cancer by oestrogen
receptor status : a population - based case - control study. Br. J. Cancer 1989;
119-25.
7. Shintaku P, Said JW. Detection of estrogen receptors with monoclonal
antibodies in routinely processed formalin-fixed paraffin sections of breast
carcinoma. Am. J. Clin. Pathol. 1987; 161-7.
8. Hiort 0, Kwan PWL, Delellis RA. Immunohistochemistry of estrogen
receptor protein in paraffin sections. Am. J. Clin. Pathol. 1988; 559-63.
9. Helin HJ, Helle MJ, Helin ML. Immunocytochemical detection of estrogen
and progesterone receptors in 124 human breast cancers. Am. J. Clin.
Pathol. 1988; 90: 137-142.
10. Kamby C, Rasmussen BB, Kristensen B. Oestrogen receptor status of
primary breast carcinomas and their metastases. Relation to pattern of
spread and survival after recurrence. Br. J. Cancer 1989; 60: 2527.