HASIL PENELTIAN
Perubahan Rasio
Tinggi Lutut - Tinggi Badan
pada Pelajar Usia 10-16 Tahun
di YPI Al Azhar, Jakarta Selatan
Inayah, AMG* : Titus Priyo Harjatmo, SKM**
*Alumna Akademi Gizi Jakarta, Departemen Kesehatan RI.
* *Dosen Akademi Gizi Jakarta, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Selama masa pubertas terjadi pertumbuhan yang berbeda
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
(2-4)
Pertumbuhan berarti
bertambah besarnya aspek fisik akibat multiplikasi sel dan
bertambahnya jumlah zat interseluler. Salah satu cara untuk
mengukur pertumbuhan yaitu dengan pengukuran antropometri
sebagai alat untuk menentukan status gizi dan pertumbuhan
sudah secara luas digunakan di Indonesia.
(5)
Ukuran-ukuran tubuh (antropometri) merupakan refleksi
pengaruh genetik dan lingkungan.
(6)
Tinggi badan merupakan
ukuran antropometri yang menggambarkan keadaan per-
tumbuhan skeletal. Dalam keadaaan normal, tinggi badan
tumbuh secara linier bersamaan dengan pertambahan umur.
(6,7)
Ukuran tinggi badan dapat berupa : a) tinggi badan atau pan-
jang badan secara keseluruhan atau b) panjang bagian-bagian
tubuh seperti kepala, badan, tungkai dan tinggi lutut.
(5)
Dari
hasil penelitian diperoleh hubungan antara tinggi lutut dengan
tinggi badan.
(8-11)
Rasio ukuran-ukuran tubuh telah lama digunakan untuk
penelitian tentang pertumbuhan dan penilaian status gizi yang
dihubungkan dengan pola pertumbuhan anak-anak. Pengukuran
rasio merupakan perbandingan ukuran-ukuran tubuh yang
searah seperti lingkar dengan lingkar, lebar dengan lebar
(Simpson et al. 1960).
(1)
Rasio tinggi lutut terhadap tinggi
badan dipengaruhi oleh hubungan antara kedua variabel
tersebut dengan asumsi bahwa kedua ukuran berubah secara
linier selama pertumbuhan.
(3)
Menurut Lohman dalam "Antropometric Standarization
Reference Manual" (1988), penilaian pengaruh status gizi ter-
hadap pertumbuhan dapat dilakukan dengan pengukuran
perubahan proporsi tubuh seperti perubahan rasio tinggi lutut
terhadap tinggi badan yang merupakan rasio ukuran tubuh yang
searah dan dapat digunakan sebagai pola pertumbuhan. Oleh
karena itu untuk menilai pola pertumbuhan remaja, ukuran
rasio tinggi lutut terhadap tinggi badan perlu dikaji dan diteliti.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari perubahan
rasio tinggi lutut terhadap tinggi badan pada umur 10-16 tahun.
METODE PENELITIAN
A. Ruang Lingkup
Penelitian dilakssnakan di Yayasan Perguruan Islam
Al-Azhar. I dan II Jakarta Selatan, dengan pertimbangan
kondisi sampel diharapkan relatif sama karena diambil dari
golongan sosial ekonomi menengah ke atas. Penelitian
dilaksanakan pada akhir bulan November 1996 sampai dengan
bulan Januari 1997.
Penelitian bersifat survai analitik dan termasuk penelitian
cross sectional.
B. Populasi
dan
Sampel
Populasi adalah dengan kriteria sebagai berikut :
1.
Pelajar berumur 11 - 17 tahun
2.
Tidak menunjukkan kelainan tulang
3.
Bersedia ikut serta dalam penelitian
4.
Kedua orang tua adalah WNI asli dengan tidak membeda-
kan suku bangsa di Indonesia
5.
Berasal dari status sosial ekonomi menengah ke atas, hal
ini didasarkan pada asumsi penghasilan orang tua termasuk
golongan sosial ekonomi menengah ke atas.
6.
Telah diukur pada tahun 1995
Sampel diambil dengan cara purposive, yaitu diambil
berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
C. Cara Pengumpulan Data
1) Tinggi Badan
Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan cara: a)
Metode "Free Standing", b) Alat yang digunakan microtoice, c)
Pengukuran dilakukan dengan cara menggantungkan micro-
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 25
toice pada dinding dengan ketinggian 2 meter dari dasar lantai,
d) Sampel yang diukur berdiri tegak tanpa alas kaki dengan
pandangan lurus ke depan, e) Tumit, pantat, punggung dan
kepala bagian belakang menempel pada dinding, f) Microtoice
diturunkan sampai menempel pada kepala, g) Hasil pengukuran
dibaca pada microtoice denga ketelitian 0,1 cm.
2) Tinggi
Lutut
a) Alat yang digunakan disesuaikan pada gambar di buku
Gibson (1990), b) Sampel yang diukur duduk tanpa alas kaki,
c) Pengukuran dilakukan pada tungkai kiri, d) Antara tulang
tibia dan tulang paha membentuk sudut 90°, e) Tempatkan alat
antara tumit sampai dengan bagian proximal dari tulang paha,
e) Pembacaan skala dilakukan pada alat dengan ketelitian 0,1
cm.
D. Analisis
Data
1) Analisis
Univariat
Analisis ini dilakukan terhadap masing-masing variabel
bebas. Hasil dari analisis ini berupa distribusi dengan
persentase dari tiap-tiap variabel (tinggi badan dan tinggi lutut).
2) Analisis
Perbandingan.
Untuk mengetahui rasio tinggi lutut terhadap tinggi badan
digunakan perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut :
Tinggi
lutut
Rasio =
Tinggi
badan
3) Analisis
Bivariat
Untuk mengetahui perbedaan nilai rata-rata rasio tinggi
lutut terhadap tinggi badan pelajar laki-laki dan perempuan
pada dua periode, digunakan uji t test dependent data ukur
dengan rumus sebagai berikut :
_
d
t hitung = _
SD
d
n
_
d
= Rata-rata beda
_
SD d = Standar deviasi rata-rata beda
4) Analisis Perubahan
Untuk mengetahui perubahan rasio tinggi lutut terhadap
tinggi badan, digunakan rumus :
R = R
2
R
1
R
2
= Rasio tinggi lutut terhadap tinggi badan pada tahun 1996
R
1
= Rasio tinggi lutut terhadap tinggi badan pada tahun 1995
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kenaikan tinggi badan tiap tahunnya terus menurun dari
lahir sampai dewasa kecuali pada masa adolesensi/remaja di
mana kenaikan tinggi badan rata-rata sebesar 5 cm pertahun
dan selanjutnya pada tahap remaja akhir hanya mencapai 2-3
cm
(3)
. Bila dilihat pada tabel 1, tinggi badan pada remaja awal
mengalami kenaikan yang besar (5 cm pada laki-laki dan 6 cm
pada anak perempuan) dan selanjutnya pada tahap remaja
akhir, pertambahan tinggi badan mengalami penurunan yaitu
berkisar 1-2 cm.
Sinclair dalam bukunya "Human Growth After Birth"
(1985) menyatakan bahwa percepatan tinggi badan anak laki-
laki dimulai pada umur 12 tahun dan pada anak perempuan
pada umur 10 tahun. Hal ini dapat pula dilihat pada tabel 1,
perubahan tinggi badan maksimum pelajar laki-laki terjadi
pada umur 12 tahun, selanjutnya perubahan terjadi secara
perlahan-lahan, sedangkan pada pelajar perempuan perubahan
maksimum terjadi pada umur 10 tahun.
Tabel 1. Perubahan Tinggi Badan dari tahun 1995 ke tahun 1996.
laki-laki Perempuan
Umur (tahun
1996)
n
Meant
± SD (cm)
n
Meant
± SD (cm)
10,0 - 10,9
14
5,2
± 0,9
10
6,2
± 1,5
11,0 - 11,9
23
5,2
± 2,2
14
3,7
± 2,1
12,0 - 12,9
11
5,5
± 2,3
33
2,8
± 1,8
13,0 - 13,9
16
4,9
± 0,0
23
1,9
± 1,6
14,0 - 14,9
36
3,4
± 2,6
45
1,3
± 1,4
15,0- 15,9
26
2,6
± 1,7
55
1,3
± 1,2
16,0 - 16,9
26
1,4
± 1,5
37
1,2
± 0,7
Tabel 2. Perubahan Tinggi Lutut dari tahun 1995 ke tahun 1996.
laki-laki Perempuan
Umur (tahun
1996)
n
Mean
± SD (cm)
n
Mean
± SD (cm)
10,0 - 10,9
14
3,1
± 1,3
10
3,2
± 1,3
11,0 - 11,9
23
2,0
± 1,4
14
1,5
± 1,0
12,0 - 12,9
11
1,9
± 1,8
33
1,0
± 0,7
13,0 - 13,9
16
1,1
± 1,2
23
0,9
± 0,7
14,0 - 14,9
36
1,2
± 1,3
45
1,3
± 2,2
15,0 - 15,9
26
1,1
± 1,3
55
1,1
± 6,3
16,0 - 16,9
26
0,7
± 0,5
37
1,2
± 5,8
Tabel 3. Perubahan Tinggi Badan dari tahun 1995 ke tahun 1996.
laki-laki Perempuan
Umur
(tahun 1996)
n
Mean
± SD (cm)
n
Mean
± SD (cm)
10,0 - 10,9
14
0,010
± 0,009
10
0,008
± 0,008
11,0 - 11,9
23
0,002
± 0,010
14
0,002
± 0,008
12,0 - 12,9
11
0,000
± 0,012
33
0,000
± 0,005
13,0 - 13,9
16
0,003
± 0,010
23
0,002
± 0,005
14,0 - 14,9
36
0,000
± 0,008
45
0,005
± 0,004
15,0 - 15,9
26
0,002
± 0,008
55
0,004
± 0,009
16,0 - 16,9
26
0,002
± 0,004
37
0,005
± 0,009
Perubahan tinggi badan dipengaruhi oleh pertumbuhan
bagian-bagian tubuh di antaranya pertumbuhan tinggi lutut.
Berdasarkan tabel 2 perubahan tinggi lutut maksimum pelajar
laki-laki terjadi pada umur 10 tahun. Bila dibandingkan dengan
maksimum tinggi badan yang terjadi pada umur 12 tahun, maka
dapat dikatakan bahwa perubahan tinggi lutut terjadi lebih awal
dibandingkan perubahan tinggi badan secara keseluruhan.
Berbeda halnya dengan perubahan tinggi lutut maksimum pada
pelajar perempuan seiring dengan perubahan maksimum tinggi
badan yaitu terjadi pada umur 10 tahun.
Berdasarkan hasil pengukuran lutut dengan tinggi badan,
maka rasionya dapat dilihat pada tabel 4-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
26
Tabel 4. Rata-rata Rasio Tinggi Lutut dengan Tinggi Badan Pelajar Laki-
laki Menurut Umur di YPI Al-Azhar tahun 1996.
Umur
(tahun 1996)
N
Mean
± SD (cm)
Min Max
11 11.9
15
0.330
± 1.307
1.400 5.700
12 12.9
23
0.325
± 0.015
0.273 0.357
13 13.9
12
0.336
± 0.030
0.309 0.390
14 14.9
14
0.332
± 0.005
0.314 0.330
15 15.9
35
0.320
± 0.012
0.301 0.361
16 16.9
28
0.315
± 0.013
0.273 0.341
17 17.9
26
0.312
± 0.014
0.270 0.331
Tabel 5. Rata-rata Rasio Tinggi Lutut dengan Tinggi Badan Pelajar Laki-
laki Menurut Umur di YPI Al-Azhar tahun 1995.
Umur
(tahun 1996)
N
Mean
± SD (cm)
Min Max
10 10.9
14
0.322
± 0.018
0.294 0.354
11 11.9
23
0.323
± 0.015
1.262 5.340
12 12.9
11
0.341
± 0.031
0.317 0.399
13 13.9
16
0.322
± 0.014
0.276 0.332
14 14.9
36
0.320
± 0.009
0.292 0.340
15 15.9
26
0.313
± 0.017
0.264 0.339
16 16.9
26
0.310
± 0.013
0.269 0.329
Tabel 6. Rata-rata Rasio Tinggi Lutut dengan Tinggi Badan Pelajar
Perempuan Menurut Umur di YPI Al-Azhar tahun 1996.
Umur
(tahun 1996)
N
Mean
± SD (cm)
Min Max
11 11.9
11
0.323
± 1.036
0.240 0.391
12 12.9
14
0.320
± 0.009
0.308 0.342
13 13.9
33
0.321
± 0.711
0.000 0.439
14 14.9
23
0.322
± 0.008
0.308 0.334
15 15.9
44
0.317
± 0.019
0.205 0.336
16 16.9
57
0.315
± 0.014
0.276 0.345
17 17.9
35
0.317
± 1.445
0.284 0.339
Tabel 7. Rata-rata Rasio Tinggi Lutut dengan Tinggi Badan Pelajar
Perempuan Menurut Umur di YPI Al-Azhar tahun 1995.
Umur
(tahun 1996)
N
Mean
± SD (cm)
Min Max
10 10.9
10
0.316
± 0.038
0.227 0.384
11 11.9
14
0.319
± 0.013
1.304 5.350
12 12.9
33
0.321
± 0.030
0.235 0.443
13 13.9
23
0.320
± 0.007
0.307 0.334
14 14.9
45
0.311
± 0.022
0.205 0.330
15 15.9
55
0.311
± 0.014
0.266 0.342
16 16.9
37
0.312
± 0.010
0.282 0.332
Berdasarkan grafik 1 dan 2 diketahui bahwa rasio tinggi
lutut terhadap tinggi badan pada tahun 1995 dan 1996
mempunyai bentuk pola pertumbuhan yang sama. Hasil uji
statistik bivariat dependent data ukur menunjukkan bahwa rasio
tinggi lutut terhadap tinggi badan pada tahun 1995 berubah di
tahun 1996 (t
hitung
= -2,28, p<0,05 pada pelajar laki-laki dan t
hitung
= -5.85, p < 0,05 pada pelajar perempuan). Pola per-
tumbuhan tersebut juga menunjukkan bahwa rasio tinggi lutut
terhadap tinggi badan di tahun 1995 menjadi lebih besar di
tahun 1996 yang berarti pertumbuhan tinggi lutut lebih besar
bila dibandingkan dengan pertumbuhan tinggi badan secara
keseluruhan. Hal tersebut juga ditunjukkan paa tabel 3,
perubahan rasio tinggi lutut terhadap tinggi badan sebagian
besar menunjukkan nilai positif.
Grafik 1. Grafik Rasio Tinggi Lutut terhadap Tinggi Badan Pelajar
Rasio
Grafik 2. Grafik Rasio Tinggi Lutut terhadap Tinggi Badan Pelajar
Perempuan
Rasio
KESIMPULAN
Perubahan rasio tinggi lutut dengan tinggi badan usia 10-
16 tahun di tahun 1996 menujukkan nilai yang positif yaitu
berkisar antara 0.003 sampai dengan 0,001 pada pelajar laki-
laki dan 0 sampai 0,008 pada pelajar perempuan. Hal ini berarti
rasio tinggi lutut terhadap tinggi badan pada tahun 1996 lebih
besar dari tahun 1995, sehingga dapat dikatakan bahwa tinggi
lutut mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat bila
dibandingkan dengan pertumbuhan badan secara keseluruhan
pada masa tersebut.
KEPUSTAKAAN
1. Malina RM. Ratio and Derived Indicators in the Assessment of
Nutritional Status Anthropometric Assessment of Nutritional Status,
Wileyliss, Inc 1991; 151-71.
2.
Markum AH. Tumbuh Kembang. Ilmu Kesehatan Anak Jilid I Bag. IKA
Kedokteran UI, Jakarta, 1991.
3. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Growth and Development.
Kumpulan Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, 1974; 472-74.
4. Mitchell, Rynbergen, Anderson, Dible. Growth and Development
Nutrition In Health and Disease, New York. 21-71.
5. Atmarita, Jalal. Perhitungan, Penggunaan dan Interpretasi berbagai
Indeks Antropometri dalam Penilaian Status Gizi dengan Baku Rujukan
WHO-NCHS, Gizi Indonesia.
6. Jahari AB. Antropometri sebagai Indikator Status Gizi. Gizi Indonesia
1998; 13(2) : 23-30.
7.
Abunain Djumadias. Aplikasi Antropometri sebagai Alat Ukur Status
Gizi di Indonesia, Gizi Indonesia 1990; 14(2) : 37-50.
8.
Haboubi et al. Measurement of Height in the Elderly, Geratr Soc 1990;
38: 1008-10.
9.
Chumlea et al. Antropometric Assessment of Nutritional Status in the
Elderly, Anthropometric Assessment of Nutritional Status, Wiley-Liss,
Inc, 1991; 399-418.
10. Andi Julianto. Hubungan antara Tinggi Lutut dengan Tinggi Badan pada
Pelajar Usia 10-16 tahun di YPI Al-Azhar Jakarta Selatan. Akademi Gizi
Jakarta Depkes RI, 1996.
11. Rusnelli. Gambaran Status Gizi Pasien Manula dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya di Poliklinik Usia Lanjut RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo, Akademi Gizi Jakarta Depkes RI, 1996.
12. Lohman GT et al. Antropometric Standardization Reference Manual.
Human Kinetics Books, 1998.
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000 27
RALAT
Jakarta, 17 Nopember 1999
Kepada Yth.
1. Dewan Redaksi Majalah Cermin Dunia Kedokteran
2. Dewan Redaksi Bulletin Penelitian Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan
Dengan hormat,
Kami adalah penulis naskah : "Produk Bahan Alami, suatu tinjauan eksploratif" yang diterbitkan di majalah
Cermin Dunia Kedokteran no. 125 halaman 9-14. Naskah yang sama diterbitkan pula dalam Bulletin
Penelitian Kesehatan Badan Litbangkes, Depkes RI 1999/2000, volume 27, nomor 1 halaman 191-200.
Sehubungan dengan hal tersebut kami bermaksud membuat pernyataan sebagai berikut :
1. Naskah/makalah tsb. telah kami ajukan ke Dewan Redaksi CDK dan berdasarkan catatan diterima pada
bulan Januari 1998. Namun setelah menunggu ± 1 tahun, kami tidak menerima berita mengenai
diterimatidaknya naskah tersebut untuk diterbitkan dalam CDK dan kami tidak juga menanyakan hal
tersebut.
2. Berdasarkan kenyataan tersebut kami telah mengajukan naskah yang sama ke Dewan Redaksi Bulletin
Penelitian Kesehatan, Badan LitBangKes, DepKes RI; dan dalam waktu yang relatif singkat kami
mendapat jawaban kepastian bahwa naskah diterima untuk diterbitkan. Makalah dimaksud ternyata
dicakup dalam Bulletin Penelitian Kesehatan, Badan LitBangKes, DepKes RI, 1999/2000; Volume 27,
Nomor 1, halaman 191-200, yang terbit dalam bulan Agustus, dan diedarkan (didistribusi) September
1999.
3. Di awal bulan Nopember (tepatnya tanggal 2), 1999, kami telah dikunjungi oleh petugas pelaksana
penerbit CDK, untuk mengantarkan terbitan CDK 1999, Nomor 125, ternyata mencakup makalah yang
sama, di halaman 9-14.
4. Berdasarkan kenyataan yang dikemukakan di atas, izinkan kami menyampaikan "secara terbuka"
beberapa hal, sebagai berikut :
a.
Pertama-tama izinkan kami memohon maaf kepada yang kami hormati: Dewan Redaksi kedua
Majalah tersebut di atas, menyangkut terjadinya kenyataan tersebut.
b. Kami mohon maaf juga dari pada pembaca umumnya, dan khususnya dari kalangan yang
berkepentingan dengan karya penerbitan makalah tersebut.
c.
Kejadian tersebut telah mewujud tanpa kesengajaan, apalagi direncanakan, melainkan kendala
dalam berkomunikasi antara kami dengan pihak Dewan Redaksi kedua majalah tersebut.
Kami adalah pihak yang paling bertanggungjawab mengenai kejadian tersebut, yang
sesungguhnya tidak akan terjadi jika kami antisipatif dalam berkomunikasi dengan pihak dewan
redaksi CDK.
d.
Kami mohon agar makalah kami tersebut yang terdapat dalam CDK 1999 nomor 125, halaman
9-14, dapat dianggap tidak ada. Dalam kaitan ini, kami mohon, pihak Dewan Redaksi CDK
dengan ketulusan hati dapat memaafkan kami.
5. Kami mohon dan sangat bersyukur jika Pernyataan terbuka ini dapat dimuat melalui Cermin Dunia
Kedokteran maupun Bulletin Penelitian Kesehatan.
6. Demikian pernyataan kami agar menjadi maklum, bagi pihak yang berkepentingan dan terima kasih
perhatiannya.
Hormat kami,
Dra. Nani Sukasediati, MS
Penulis
:
Tembusan :
1. Dra. Nani Sukasediati, MS
1.
Yth. Kepala Puslitbang Farmasi
2. dr. Vincent HS Gan
2.
Pertinggal
3. Drs. B. Dzulkarnain.
Cermin Dunia Kedokteran No. 126, 2000
28