background image
HASIL PENELITIAN
Perilaku Merokok di Indonesia
menurut Susenas dan SKRT 1995
Suhardi
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
RINGKASAN
Berdasarkan Modul dan Kor Susenas 1995, didapatkan hal-hal mengenai perilaku
merokok sebagai berikut :
·
Untuk kelompok umur 10 tahun ke atas, prevalensi perokok laki-laki tiap hari
45.0%, kadang-kadang 6.3%, dan mantan 3.0%; sedang prevalensi perokok perempuan
tiap hari 1.5%, kadang-kadang 0.5 %, dan mantan 0.2 %. Prevalensi meningkat sejalan
dengan meningkatnya umur, terutama pada umur muda.
·
Untuk umur 20 tahun ke atas, prevalensi perokok laki-laki tiap hari menurut lokasi
adalah sbb : 61.3% (Indonesia), 61.3% (Jabal), 61.2% (LJB), 62.5% (Indonesia Barat),
55.3% (Indonesia Timur), 52.4% (urban), 66.3% (rural); sedang prevalensi perokok
laki-laki kadang-kadang adalah sbb : 7.5% (Indonesia), 7.9% (Jabal), 6.8% (LJB),
7.5% (Indonesia Barat), 7.6% (Indonesia Timur), 7.7% (urban), 7.4% (rural). Pre-
valensi menurun dengan meningkatnya pendidikan di daerah urban dan rural; dan
prevalensi mulai menurun di daerah urban setelah pengeluaran anggota rumah tangga
per bulan di atas Rp 100,000,- .
·
Untuk umur 20 tahun ke atas, proporsi perokok laki-laki tiap hari 11-20 batang/
hari dan 21+ batang/hari menurut lokasi adalah sbb : 47.8% dan 5.3% (Indonesia),
52.0% dan 5.3% (urban), 46.6% dan 5.4% (rural); 42.2% dan 4.0% (Jabal), 57.5% dan
7.6% (LTB); 46.5% dan 5.1% (Indonesia Barat), 54.8% dan 6.7% (Indonesia Timur).
Intensitas meningkat dengan makin tingginya pendidikan dan pengeluaran anggota
rumah tangga/bulan.
·
Untuk umur 20 tahun ke atas, proporsi perokok laki-laki tiap hari menurut jenis
rokok yang dihisap di daerah urban adalah sbb : 12.1% (putih filter), 3.0% (putih
nonfilter), 59.8% (kretek filter), 20.8% (kretek nonfilter), 0.3% (cerutu), 3.8% (linting),
0.0% (siong), 0.1% (cangklong); sedang di daerah rural adalah sbb : 11.6% (putih
filter), 2.8% (putih nonfilter), 33.7% (kretek filter), 24.9% (kretek nonfilter), 0.6%
(cerutu), 25.4% (linting), 0.4% (siong), 0.5% (cangklong).
·
Untuk umur 20 tahun ke atas, proporsi perokok laki-laki tiap hari yang merokok
dalam rumah adalah 92.8%. Sedang proporsi perokok perempuan tiap hari umur 20
tahun ke atas yang merokok dalam rumah adalah 93.8%.
·
Umur mulai perokok laki-laki yang terkecil adalah 5 tahun. Umur mulai terjadi
sebagian pada umur 10-14 tahun, sebagian besar pada umur 15-19 tahun, terbanyak
pada umur 20 tahun, sebagian pada umur 21-25 tahun, dan sebagian kecil pada umur
26-30 tahun.
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 23
background image
·
Dibandingkan dengan SKRT 1986, terjadi sedikit kenaikan prevalensi perokok
laki-laki pada Susenas 1995, terutama pada kelompok umur muda.
PENDAHULUAN
Indikator merokok
Beberapa kontributor utama terhadap terjadinya penyakit
kronis, yang mulai menjadi masalah dalam transisi epidemilogi
di Indonesia, adalah perilaku merokok, pola makan dan
obesitas, kesegaran jasmani, stres dan pencemaran lingkungan.
WHO menganggap bahwa perilaku merokok telah menjadi
masalah kesehatan masyarakat yang penting bagi seluruh dunia
sejak lebih dari 1 dekade yang lalu, sehingga perlu ditang-
gulangi menyeluruh. Sementara prevalensi dan konsumsi
merokok di negara maju telah menurun sebagai hasil dari
program penanggulangan yang komprehensif dan intensif,
keadaan sebaliknya terjadi di negara sedang berkembang.
Dalam jangka panjang akan terjadi epidemi penyakit akibat
merokok yang mahal biaya penanganannya di negara dunia ke
tiga, bila keadaan ini tidak segera ditanggulangi dengan serius.
Indikator perilaku merokok merupakan petunjuk penting
untuk menilai keberhasilan upaya penanggulangan masalah
merokok baik dalam skala nasional, wilayah maupun propinsi.
Survai-survai yang terstandarisasi, sehingga komparabel,
haruslah dilakukan secara periodik dengan teratur, agar eva-
luasi dan antisipasi program penanggulangan masalah merokok
dapat segera dilakukan dan lebih terarah. Indikator perilaku
merokok juga merupakan salah satu indikator antara untuk
menilai hasil penanggulangan penyakit tidak menular dalam
jangka pendek dan menengah, karena untuk melihat dampak
program berupa penurunan prevalensi penyakit diperlukan
jangka waktu yang jauh lebih lama.
Integrasi Susenas-SKRT
Survai merokok dalam skala nasional pertama kali
dilakukan pada SKRT 1986, dan setelah berselang 1 dekade,
perlu dilihat kembali trend perilaku merokok untuk melihat
kembali hasil upaya penanggulangan masalah merokok yang
makin intensif oleh berbagai pihak.
Sejalan dengan integrasi sejak tahun 1992 antara SKRT
yang diselenggarakan oleh Depkes dengan Susenas yang di-
selenggarakan oleh BPS, maka pada survai dalam skala
nasional tahun 1995 ini, instrumen untuk menilai perilaku
merokok masyarakat yang rinci di masukkan dalam Modul
Susenas, sedang untuk mengukur reliabilitas dan validitasnya
dimasukkan dalam Studi Morbiditas dan Disabilitas SKRT.
Karena terbatasnya tempat, pertanyaan mengenai perilaku
merokok dalam Modul Susenas hanya 8 buah, sehingga dipilih
yang penting, dan dirancang dengan merujuk pada pedoman
WHO agar komparabel dengan survai-survai lain. Pertanyaan
mengenai perilaku merokok dalam Studi Morbiditas dan
Disabilitas SKRT hanya 1 buah, ditujukan untuk mengukur
reliabilitas prevalensi merokok antar survei.
Pengukuran validitas dapat dilakukan dengan memeriksa
marker nikotin dan kotinin dalam serum yang telah dikumpul-
kan pada Studi Morbiditas dan Disabilitas SKRT, sehingga bisa
menjawab keraguan terhadap metode wawancara yang dikerja-
kan oleh para mantis (mantri statistik) dan mitra statistik
Susenas 1995 (bila feasibel). Dengan integrasi Susenas-SKRT
ini didapatkan manfaat berupa cakupan survei yang jauh lebih
luas dalam menilai perilaku kesehatan masya-rakat, sehingga
estimasi hasil survei dapat dirinci sampai ting-kat wilayah dan
propinsi.
Uraian berikut ini merupakan hasil analisis lanjut database
Susenas dan SKRT 1995.
TUJUAN ANALISIS LANJUT
Umum:
Memberikan gambaran masalah merokok baik untuk ting-
kat nasional, wilayah, maupun propinsi, dalam upaya penang-
gulangan masalah merokok.
Khusus:
·
Mengukur prevalensi, intensitas, preferensi dan onset
perokok, berdasarkan sosiodemografi pada tingkat nasional,
wilayah dan propinsi.
·
Mengukur trend perokok, baik prevalensi maupun kon-
sumsi.
·
Mengukur reliabilitas, baik agregat maupun individual.
METODE
Pengukuran berbagai indikator merokok dilakukan ber-
dasarkan pada data perilaku merokok yang diambil dari subset
database Modul Susenas 1995, dan data sosiodemografi yang
diambil dari subset database Kor Susenas 1995.
Pengukuran trend dilakukan dengan membandingkan hasil
penelitian ini dengan SKRT 1986, beberapa survai lokal, dan
sumber data lain.
Pengukuran reliabilitas dilakukan dengan menghitung ko-
Efisien kappa antara jawaban terhadap pertanyaan utama
mengenai merokok berdasarkan Modul Susenas dan berdasar-
kan Studi Morbiditas/Disabilitas SKRT 1995. Untuk keperluan
ini, dilakukan merging antara ke dua subset database.
HASIL
Berbagai indikator yang dihasilkan dalam analisis ini telah
merupakan estimasi populasi, karena baik bobot individu mau-
pun bobot rumah tangga telah diperhitungkan dalam proses
analisis. Untuk menyederhanakan tabel, maka "nilai n yang
belum dibobot maupun yang telah dibobot" tidak ditampilkan
dalam tabel.
Response rate
Jumlah responden umur 10 tahun ke atas adalah 216,389.
Response rate terhadap pertanyaan status merokok adalah
100%; sedangkan response rate terhadap pertanyaan lain men-
dekati 100%, kecuali response rate terhadap pertanyaan tingkat
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
24
background image
pendidikan untuk umur 20 tahun ke atas yang hanya sekitar
83.43%.
Prevalensi menurut umur (Tabel 1 dan 2)
Prevalensi perokok laki-laki tiap hari menurut kelompok
umur meningkat tajam dari kelompok umur 10-14 tahun ke
kelompok umur 25-29 tahun, selanjutnya mulai mendatar, dan
menurun sedikit setelah 65 tahun ke atas.
Prevalensi perokok laki-laki kadang-kadang menurut ke-
lompok umur meningkat tajam dari kelompok umur 10-14
Tabel 1. Prevalensi perokok laki-laki menurut umur di Indonesia
Susenas SKRT 1995
Perokok
Umur
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
10-14 .7%
.4%
.0%
98.9%
100.0%
15-19 15.6%
7.0% .3%
77.0%
100.0%
20-24 43.2%
10.3% .8%
45.7%
100.0%
25-29 57.5%
8.7%
1.8%
32.0%
100.0%
30-34 64.5%
7.6%
2.6%
25.3%
100.0%
35-39 67.4%
7.4%
3.4%
21.9%
100.0%
40-44 67.4%
6.3%
4.4%
21.9%
100.0%
45-49 68.1%
6.3%
4.2%
21.4%
100.0%
50-54 66.9%
5.7%
6.1%
21.4%
100.0%
55-59 66.2%
6.2%
7.7%
19.8%
100.0%
60-64 64.8%
6.7%
8.8%
19.7%
100.0%
65+
59.3% 6.4% 12.3% 22.0% 100.0%
Total 45.0%
6.3%
3.0%
45.7%
100.0%
Tabel 2. Prevalensi perokok perempuan menurut umur di Indonesia
Susenas-SKRT 1995.
Perokok
Umur
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
10-14 .1%
.0%
.0%
99.9%
100.0%
15-19 .4%
.2%
99.4%
100.0%
20-24 1.0%
10.3%
.8%
45.7%
100.0%
25-29 1.1%
8.7%
1.8%
32.0%
100.0%
30-34 1.2%
7.6%
2.6%
25.3%
100.0%
35-39 1.7%
7.4%
3.4%
21.9%
100.0%
40-44 2.3%
6.3%
4.4%
21.9%
100.0%
45-49 3.2%
6.3%
4.2%
21.4%
100.0%
50-54 3.4%
5.7%
6.1%
21.4%
100.0%
55-59 3.3%
6.2%
7.7%
19.8%
100.0%
60-64 2.9%
6.7%
8.8%
19.7%
100.0%
65+ 3.0%
6.4%
12.3%
22.0%
100.0%
Total
100.0%
tahun ke kelompok umur 20-24 tahun, dan selanjutnya mulai
mendatar.
Prevalensi mantan perokok laki-laki menurut kelompok
umur meningkat seiring dengan menanjaknya usia.
Prevalensi perokok perempuan tiap hari menurut kelom-
pok umur relatif rendah, meningkat terus sampai dengan
kelompok umur 40-44 tahun, selanjutnya mulai mendatar.
Prevalensi perokok perempuan kadang-kadang sangat
rendah, secara nasional besarnya adalah 0.5% (10+ tahun).
Prevalensi mantan perokok perempuan juga sangat rendah,
secara nasional besarnya adalah 0.2 % (10+ tahun).
Prevalensi menurut lokasi
Prevalensi perokok laki-laki daerah urban lebih rendah
daripada daerah rural, Wilayah Jawa-Bali lebih tinggi daripada
Wilayah Luar Jawa-Bali, dan Kawasan Indonesia Barat lebih
tinggi daripada Kawasan Indonesia Timur. Propinsi yang
terendah prevalensi perokok laki-laki nya adalah Bali 42.7%,
sedang yang tertinggi adalah Lampung 78.8%. (selanjutnya
lihat Tabel 3-5).
Prevalensi perokok perempuan daerah urban lebih rendah
daripada daerah rural, Wilayah Jawa-Bali lebih rendah daripada
Wilayah Luar Jawa-Bali, dan Kawasan Indonesia Barat lebih
rendah daripada Kawasan Indonesia Timur. (selanjutnya lihat
Tabel 6-8).
Tabel 3. Prevalensi perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas menurut
lokasi di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Urban
Perokok
Lokasi
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
DI Aceh
57.0%
7.5%
3.7%
31.9%
100.0%
Sumut 57.2%
5.6%
4.6%
32.6%
100.0%
Sumbar 58.8%
3.6%
5.7%
31.9%
100.0%
Riau 52.0%
7.9%
2.5%
37.5%
100.0%
Jambi 52.5%
9.2%
5.1%
33.2%
100.0%
Sumsel 54.4%
5.6%
5.7%
34.3%
100.0%
Bengkulu 52.6%
6.4%
4.5%
36.6%
100.0%
Lampung 63.0%
8.1%
4.3%
24.6%
100.0%
SUMATERA 56.3%
6.2%
4.6%
32.9%
100.0%
DKI Jakarta
49.4%
8.1%
3.3%
39.3%
100.0%
Jabar 58.9%
9.4%
5.0%
26.7%
100.0%
Jateng 50.4%
8.5%
6.2%
35.0%
100.0%
DI Yogyakarta
46.7%
7.6%
4.0%
41.8%
100.0%
Jatim 51.3%
6.1%
6.7%
35:9%
100.0%
JAWA
53.1 %
8.1 %
5.2%
33.6%
100.0%
Bali 34.6%
5.6%
4.3%
55.6%
100.0%
NTB 62.4%
7.8%
5.4%
24.4%
100.0%
NTT
43.7% 10.6% 6.4% 39.3% 100.0%
Timtim 50.6%
6.2%
1.7%
41.6%
100.0%
NUSA TENGGARA
44.8%
7.2% 4.9% 43.1%
100.0%
Kalbar 47.8%
4.1%
4.4%
43.7%
100.0%
Kalteng 44.5%
6.9%
.7%
47.9%
100.0%
Kalsel 44.7%
5.8%
4.0%
45.4%
100.0%
Kaltim 43.2%
6.6%
5.0%
45.3%
100.0%
KALIMANTAN 44.9%
5.8%
4.1%
45.2%
100.0%
Sulut
45.9% 12.3% 5.9% 35.9% 100.0%
Sulteng 43.9%
7.4%
7.5%
41.2%
100.0%
Sulsel 42.6%
6.4%
4.3%
46.6%
100.0%
Sultra 49.7%
3.3%
5.6%
41.5%
100.0%
SULAWESI 44.0%
7.5%
5.1%
43.4%
100.0%
Maluku
43.8% 10.8% 3.9% 41.4% 100.0%
Irja 41.7%
6.7%
5.8%
45.8%
100.0%
MALUKU-IRJA 42.8%
8.9%
4.8%
43.5%
100.0%
Jawa-Bali 52.7%
8.1%
5.2%
34.0%
100.0%
Luar Jawa-Bali
51.6%
6.7%
4.7%
37.1%
100.0%
Indonesia Barat
53.3%
7.7%
5.1%
33.8%
100.0%
Indonesia Timur
45.6%
7.2%
4.8%
42.5%
100.0%
INDONESIA 52.4%
7.7%
5.1%
34.9%
100.0%
Prevalensi menurut pendidikan
Prevalensi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke
atas menurun dengan meningkatnya pendidikan. Secara nasio-
nal prevalensi tersebut adalah sebagai berikut : 71.4% (tidak
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 25
background image
tamat SD), 64.7% (tamat SD), 56.2% (tamat SUP), 46.7%
(tamat SLTA), 36.9% (akademi/ universitas). (selanjutnya lihat
Tabel 9).
Pievalensi perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke
atas menurun dengan meningkatnya pendidikan. Secara nasio-
nal prevalensi tersebut adalah sebagai berikut : 2.6% (tidak
tamat SD), 1.2% (tamat SD), 1.3% (tamat SLTP), 1.0% (tamat
SLTA), 0.6% (akademi/universitas). (selanjutnya lihat Tabel
10).
Prevalensi menurut pengeluaran
Prevalensi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke
atas di daerah urban mulai menurun jelas setelah pengeluaran
anggota rumah tangga per bulan Rp.100,000; atau lebih; namun
untuk daerah rural tidak terlihat adanya penurunan. (selanjut-
nya lihat Tabel 11-13).
Prevalensi perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke
atas mulai meningkat jelas setelah pengeluaran anggota rumah
tangga per bulan Rp. 200,000,- atau lebih. (selanjutnya lihat
Tabel 14-16).
Tabel 4. Prevalensi perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas menurut
lokasi di Indonesia Susenas-SKRT 1995 Rural.
Rural
Perokok
Lokasi
Tiap
hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
DI
Aceh
68.1% 9.8% 3.1% 19.0%
100.0%
Sumut
69.4% 4.3% 3.5% 22.8%
100.0%
Sumbar
72.6% 4.3% 6.4% 16.6%
100.0%
Riau
69.8% 4.1% 2.7% 23.4%
100.0%
Jambi
73.3% 2.8% 4.1% 19.7%
100.0%
Sumsel
71.2% 6.5% 3.5% 18.8%
100.0%
Bengkulu
75.7% 5.0% 2.1% 17.2%
100.0%
Lampung
71.7% 8.5% 4.2% 15.6%
100.0%
SUMATERA
70.9% 6.1% 3.8% 19.2%
100.0%
DKI Jakarta
Jabar
73.2% 8.3% 3.6% 14.9%
100.0%
Jateng
64.6% 8.6% 3.6% 23.2%
100.0%
DI
Yogyakarta
61.6% 7.6% 5.3% 25.4%
100.0%
Jatim
67.3% 6.9% 4.1% 21.7%
100.0%
JAWA
68.3% 7.9% 3.8% 20.0%
100.0%
Bali
38.5% 5.4% 3.7% 52.3%
100.0%
NTB
72.5% 4.3% 3.1% 20.2%
100.0%
NTT
42.4% 10.5% 3.6% 43.5% 100.0%
Timtim
45.2% 13.5% 2.2% 39.1% 100.0%
NUSA TENGGARA
51.0%
7.4% 3.4% 38.2%
100.0%
Kalbar
67.5% 7.5% 2.0% 23.1%
100.0%
Kalteng
66.8% 2.3% 1.4% 29.6%
100.0%
Kalsel
55.8% 4.2% 3.9% 36.1%
100.0%
Kaltim
55.7% 3.8% 5.4% 35.1%
100.0%
KALIMANTAN
62.1% 5.1% 3.0% 29.8%
100.0%
Sulut
61.9% 7.2% 6.7% 24.1%
100.0%
Sulteng
58.9% 6.9% 6.2% 28.0%
100.0%
Sulsel
60.5% 4.3% 3.9% 31.3%
100.0%
Sultra
63.5% 6.9% 4.4% 25.2%
100.0%
SULAWESI
60.9% 5.6% 4.9% 28.5%
100.0%
Maluku
48.3% 21.3% 2.9% 27.4% 100.0%
Irja
48.8% 19.4% 3.8% 28.0% 100.0%
MALUKU-IRJA
48.6% 20.4% 3.4% 27.7% 100.0%
Jawa-Bali
67.4% 7.8% 3.8% 21.0%
100.0%
Luar
Jawa-Bali
64.9% 6.9% 3.8% 24.4%
100.0%
Indonesia
Barat
68.3% 7.3% 3.8% 20.5%
100.0%
Indonesia
Timur
58.6% 7.7% 3.8% 29.8%
100.0%
INDONESIA
66.3% 7.4% 3.8% 22.4%
100.0%
Intensitas menurut lokasi
Proporsi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
11-20 batang/hari dan 21+ batang/hari di daerah urban lebih
tinggi daripada daerah rural, Wilayah Jawa-Bali lebih rendah
daripada Wilayah Luar Jawa Bali, dan Kawasan Indonesia
Barat lebih rendah daripada Kawasan Indonesia Timur.
(selanjutnya lihat Tabel 17-19).
Proporsi perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke
atas 11-20 batang/hari dan 21+ batang/hari di daerah urban
lebih tinggi daripada daerah rural, Wilayah Jawa-Bali lebih
rendah daripada Wilayah Luar Jawa Bali, dan Kawasan
Indonesia Barat lebih rendah daripada Kawasan Indonesia
Timur. (selanjutnya lihat Tabel 20-22).
Tabel 5. Prevalensi perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas menurut
lokasi di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Perokok
Lokasi
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
DI Aceh
65.7%
9.3%
3.2%
21.8%
100.0%
Sumut 64.2%
4.9%
4.0%
26.9%
100.0%
Sumbar 69.1%
4.1%
6.2%
20.6%
100.0%
Riau 63.4%
5.5%
2.7%
28.5%
100.0%
Jambi 67.7%
4.6%
4.4%
23.3%
100.0%
Sumsel 65.9%
6.2%
4.2%
23.7%
100.0%
Bengkulu 69.7%
5.3%
2.7%
22.3%
100.0%
Lampung 70.4%
8.4%
4.2%
16.9%
100.0%
SUMATERA 66.5%
6.1%
4.1%
23.3%
100.0%
DKI Jakarta
49.4%
8.1%
3.3%
39.3%
100.0%
labar 67.1%
8.8%
4.2%
19.9%
100.0%
Jateng 60.1%
8.5%
4.4%
26.9%
100.0%
DI Yogyakarta
53.4%
7.6%
4.6%
34.4%
100.0%
Jatim 62.3%
6.6%
4.9%
26.1%
100.0%
JAWA 62.0%
8.0%
4.4%
25.6%
100.0%
Bali 37.2%
5.5%
3.9%
53.4%
100.0%
NTB 70.5%
5.0%
3.5%
21.0%
100.0%
NTT 42.6%
10.5%
4.0%
42.9%
100.0%
Timtim 45.8%
12.7%
2.2%
39.3%
100.0%
NUS ATENGGARA
49.7%
7.4% 3.7%
39.2%
100.0%
Kalbar 63.0%
6.7%
2.5%
27.8%
100.0%
Kalteng 61.6%
3.3%
1.2%
33.8%
100.0%
Kalsel 52.4%
4.7%
3.9%
38.9%
100.0%
Kaltim 49.2%
5.3%
5.2%
40.3%
100.0%
KALIMANTAN 56.7%
5.3%
3.3%
34.7%
100.0%
Sulut 57.9%
8.5%
6.5%
27.1%
100.0%
Sulteng 55.8%
7.0%
6.4%
30.7%
100.0%
Sulsel 55.2%
4.9%
4.0%
35.9%
100.0%
Sultra 60.6%
6.1%
4.7%
28.6%
100.0%
SULAWESI 56.4%
6.1%
5.0%
32.5%
100.0%
Maluku 47.2%
18.7%
3.2%
30.9%
100.0%
Irja 41.7%
16.4%
4.3%
32.2%
100.0%
MALUKU-IRJA 47.2%
17.6%
3.7%
31.5%
100.0%
Jawa-Bali 61.3%
7.9%
4.4%
26.4%
100.0%
Luar Jawa-Bali
61.2%
6.8%
4.1%
27.9%
100.0%
Indonesia Barat
62.5%
7.5%
4.3%
25.7%
100.0%
Indonesia Timur
55.3%
7.6%
4.1%
33.1%
100.0%
INDONESIA 61.3%
7.5%
4.3%
27.0%
100.0%
Intensitas menurut pendidikan
Proporsi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
11-20 batang/hari dan 21+ batang/hari meningkat dengan
makin tingginya pendidikan. (selanjutnya lihat Tabel 23).
Proporsi perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
26
background image
atas 11-20 batang/hari dan 21+ batang/hari meningkat dengan
makin tingginya pendidikan. (selanjutnya lihat Tabel 24).
Intensitas menurut pengeluaran
Proporsi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
11-20 batang/hari dan 21+ batang/hari meningkat dengan
makin tingginya pengeluaran anggota rumah tangga per bulan.
(selanjutnya lihat Tabel 25).
Proporsi perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke atas
11-20 batang/hari dan 21+ batang/hari meningkat dengan
makin tingginya pengeluaran anggota rumah tangga per bulan.
(selanjutnya lihat Tabel 26).
Tabel 6. Prevalensi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas menurut
lokasi di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Perokok
Lokasi
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
DI Aceh
.8%
.2%
99.1%
100.0%
Sumut 2.5%
.6%
.3%
96.6%
100.0%
Sumbar 1.0%
.2%
98.9%
100.0%
Riau .6%
.4%
.2%
98.7%
100.0%
Jambi 2.1%
.2%
.2%
97.5%
100.0%
Sumsel .7%
.4%
.1%
98.8%
100.0%
Bengkulu 1.2%
.4%
98.4%
100.0%
Lampung 1.6%
.5%
.3%
97.6%
100.0%
SUMATERA 1.6%
.4%
.2%
97.8%
100.0%
DKI Jakarta
2.1%
.7%
.2%
97.1%
100.0%
Jabar 1.9%
.7%
.4%
97.1%
100.0%
Jateng .7%
.7%
.1%
98.5%
100.0%
DI Yogyakarta
.7%
.2%
.1%
99.0%
100.0%
Jatim 1.2%
.2%
.1%
98.5%
100.0%
JAWA 1.5%
.5%
.2%
97.8%
100.0%
Bali .5%
99.5%
100.0%
NTB .8%
.5%
.1%
98.6%
100.0%
NTT .4%
.6%
99.0%
100.0%
Timtim .7%
99.3%
100.0%
NUSA TENGGARA
.6%
.2%
.0%
99.1 %
100.0%
Kalbar 1.4%
.3%
.3%
98.0%
100.0%
Kalteng 1.0%
.3%
98.6%
100.0%
Kalsel 1.2%
.2%
98.6%
100.0%
Kaltim .9%
.2%
98.9%
100.0%
KALIMANTAN 1.1%
.2%
.1%
98.6%
100.0%
Sulut .6%
1.0%
98.4%
100.0%
Sulteng 2.3%
.4%
.1%
97.1%
100.0%
Sulsel 1.5%
.1%
.1%
98.3%
100.0%
Sultra 1.5%
.2%
98.3%
100.0%
SULAWESI 1.4%
.3%
.1%
98.2%
100.0%
Maluku 1.4%
.3%
98.2%
100.0%
Irja 3.5%
.2%
96.3%
100.0%
MALUKU-IRJA 2.4%
.3%
97.4%
100.0%
Jawa-Bali 1.5%
.5%
.2%
97.8%
100.0%
Luar Jawa-Bali
1.5%
.4%
.2%
98.0%
100.0%
Indonesia Barat
1.5%
.5%
.2%
97.8%
100.0%
Indonesia Timur
1.3%
.3%
.1%
98.3%
100.0%
INDONESIA 1.5%
.5%
.2%
97.9%
100.0%
Preferensi
Proporsi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
menurut jenis rokok yang dihisap secara nasional dapat dilihat
pada (Tabel 27-29).
Proporsi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas
menurut jenis rokok yang dihisap secara nasional dapat dilihat
pada Tabel 30-32.
Merokok dalam rumah
Proporsi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
yang merokok dalam rumah tinggal menurut pendidikan secara
nasional adalah sbb : 93.4% (tidak tamat SD), 92.5% (tamat
SD), 92.7% (tamat SLTP), 92.8% (tamat SLTA), 90.5%
(akademi/ universitas); sedang keseluruhannya adalah 92.8%.
(selanjutnya lihat Tabel 33).
Proporsi perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke
atas yang merokok dalam rumah menurut pendidikan secara
nasional adalah sbb : 94.1% (tidak tamat SD), 94.2% (tamat
SD), 90.6% (tamat SLTP), 92.9% (tamat SLTA), 100.0%
(akademi/ universitas); sedang keseluruhannya adalah 93.8%
(selanjutnya lihat Tabel 34).
Tabel 7. Prevalensi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas menurut
lokasi di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Rural
Perokok
Lokasi
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
DI
Aceh
.8% .2% .1%
98.8%
100.0%
Sumut 2.8%
.4%
96.8%
100.0%
Sumbar
3.7% .9% .5%
94.8%
100.0%
Riau 2.5%
1.0%
.2%
96.4%
100.0%
Jambi
5.2% .4% .3%
94.1%
100.0%
Sumsel
2.8% .7% .3%
96.2%
100.0%
Bengkulu 2.0%
.4%
97.7%
100.0%
Lampung
3.1% .8% .2%
95.9%
100.0%
SUMATERA
2.8% .6% .2%
96.3%
100.0%
DKI
Jakarta
Jabar 2.3%
1.0%
.4%
96.3%
100.0%
Jateng
1.9% .7% .3%
97.1%
100.0%
DI Yogyakarta
.5%
.1 %
99.4%
100.0%
Jatim
1.5% .4% .2%
97.9%
100.0%
JAWA
1.8% .7% .3%
97.2%
100.0%
Bali
1.3% .5% .1%
98.1%
100.0%
NTB
.6% .1% .1%
99.2%
100.0%
NTT 1.2%
.3%
99.5%
100.0%
Timtim 1.1%
1.5%
97.4%
100.0%
NUSA
TENGGARA
1.0% .4% .1%
98.5%
100.0%
Kalbar 9.1%
1.6%
.7%
88.6%
100.0%
Kalteng 3.3%
.9%
95.8%
100.0%
Kalsel 3.3%
1.1%
.4%
95.2%
100.0%
Kaltim
3.9% .5% .6%
95.0%
100.0%
KALIMANTAN 5.5%
1.1%
.5%
92.8%
100.0%
Sulut
1.1% .1% .1%
98.7%
100.0%
Sulteng
4.3% .5% .1%
95.0%
100.0%
Sulsel
3.0% .2% .6%
96.2%
100.0%
Sultra 3.4%
1.0%
.1%
95.5%
100.0%
SULAWESI
2.8% .3% .4%
96.5%
100.0%
Maluku
.9% .4% .3%
98.4%
100.0%
Irja 5.3%
3.9%
.8%
89.9%
100.0%
MALUKU-IRJA 3.1%
2.1%
.6%
94.2%
100.0%
Jawa-Bali
1.8% .7% .3%
97.2%
100.0%
Luar
Jawa-Bali
3.0% .7% .3%
96.1%
100.0%
Indonesia
Barat
2.1% .7% .2%
97.0%
100.0%
Indonesia
Timur
3.1% .7% .3%
95.9%
100.0%
INDONESIA
2.3% .7% .3%
96.8%
100.0%
Lama berhenti
Proporsi perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 27
background image
menurut lama berhenti dalam bulan secara nasional adalah sbb
11.5% (1-3 bulan), 6.8% (4-6 bulan), 2.4% (7-9 bulan), 9.8%
(10-12 bulan), 15.4% (13-24 bulan), 54.2% (25+ bulan).
(selanjutnya lihat Tabel 35). Proporsi perokok perempuan tiap
hari umur 20 tahun ke atas menurut lama berhenti dalam bulan
secara nasional adalah sbb : 12.0% (1-3 bulan), 11.9% (4-6
bulan), 1.1% (7-9 bulan), 12.9% (10-12 bulan), 14.5% (13-24
bulan), 47.6% (25+ bulan). (selanjutnya lihat Tabel 36).
Onset
Umur mulai perokok laki-laki pada Susenas 1995 yang
terkecil adalah 5 tahun. Jumlah yang mulai merokok secara
grafik tampak menjadi agak nyata pada umur 10-14 tahun,
nyata sekali pada umur 15-19 tahun, mencapai puncak pada
umur 20 tahun, lalu menurun pada umur 21-25 tahun, dan
masih agak nyata pada umur 26-30 tahun. (selanjutnya lihat
Gambar 1).
Tabel 8. Prevalensi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas menurut
lokasi di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Perokok
Lokasi
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
DI Aceh
.8%
.2%
.1%
98.9%
100.0%
Sumut 2.7%
.5%
.1%
96.7%
100.0%
Sumbar 3.0%
.6%
.4%
95.9%
100.0%
Riau 1.8%
.8%
.2%
97.2%
100.0%
Jambi 4.4%
.4%
.3%
95,0%
100.0%
Sumsel 2.1%
.6%
.3%
97.0%
100.0%
Bengkulu 1.8%
.I%
.3%
97.9%
100.0%
Lampung 2.8%
.8%
.2%
96.2%
100.0%
SUMATERA 2.4%
.6%
.2%
96.8%
100.0%
DKI Jakarta
2.1%
.7%
.2%
97.1%
100,0%
Jabar 2.1%
.9%
.4%
96.6%
100.0%
Jateng 1.5%
.7%
.2%
97.6%
100.0%
DI Yogyakarta
.6%
.2%
.I%
99.2%
100.0%
Jatim 1.4%
.3%
.1%
98.1%
100.0%
JAWA 1.7%
.6%
.2%
97.4%
100.0%
Bali 1.0%
.3%
.0%
98.6%
100.0%
NTB .6%
.1%
.1%
99.1%
100.0%
NTT 1.1%
.3%
98.5%
100.0%
Timtim 1.1%
1.3%
97.6%
100.0%
NUSA TENGGARA
.9%
.3%
.1%
98.7%
100.0%
Kalbar 7.3%
1.3%
.6%
90.8%
100.0%
Kalteng 2,8%
.8%
96.4%
100.0%
Kalsel 2.7%
.8%
.3%
96.2%
100.0%
Kaltim 2.4%
.3%
.3%
97.0%
100.0%
KALIMANTAN 4.2%
.8%
.4%
94.6%
100.0%
Sulut .9%
.3%
.1%
98.7%
100.0%
Sulteng 3.9%
.5%
.1%
95.5%
100.0%
Suisel 2.6%
.2%
.5%
96.8%
100.0%
Sultra 3.0%
.8%
.1%
96.1%
100.0%
SULAWESI 2.5%
.3%
.3%
96.9%
100.0%
Maluku 1.0%
.4%
.2%
98.4%
100.0%
Irja 4.9%
3.0%
.6%
91.4%
100.0%
MALUKU-IRJA 2.9%
1.7%
.4%
95.0%
100.0%
Jawa-Bali 1.7%
.6%
.2%
97.5%
100.0%
Luar Jawa-Bali
2.5%
.6%
.2%
96.6%
100.0%
Indonesia Barat
1.8%
.6%
.2%
97.3%
100.0%
Indonesia Timor
2.6%
.6%
.3%
96.5%
100.0%
INDONESIA 2.0%
.6%
.2%
97.2%
100.0%
Tabel 9. Prevalensi perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas menurut
pendidikan di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Perokok
Pendidikan
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
<
SD
71.4% 6.6% 4.8% 17.3%
100.0%
SD
64.7% 8.2% 3.8% 23.4%
100.0%
SLTP
56.2% 7.8% 4,2% 31.8%
100.0%
SLTA
46.7% 8.0% 3.7% 41.6%
100.0%
Ak/Univ
36.9% 7.1% 5.2% 50.9%
100.0%
Total
60.4% 7.6% 4.2% 27.8%
100.0%
Tabel 10. Prevalensi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas menurut
pendidikan di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Perokok
Pendidikan
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
< SD
2.6%
.7%
.3%
96.5%
100.0%
SD 1.2%
.5%
.1%
98.2%
100.0%
SLTP 1.3%
.5%
.2%
98.1%
100.0%
SLTA 1.0%
.3%
.2%
98.6%
100.0%
Ak/Univ .6%
.1%
.2%
99.1%
100.0%
Total 1.6%
.5%
.2%
97.7%
100.0%
Tabel 11. Prevalensi perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas di Indonesia
menurut tingkat pengeluaran anggota rumah tangga/bulan
Susenas-SKRT 1995.
Urban
Perokok
Pengeluaran
anggota rumah
tangga per bulan
Tiap
hari
Kadang
-kadang
Mantan Bukan
Total
(dalarn
ribuan)
<20
55.8% 10.7% 4.3% 29.2% 100.0%
20-29
56.5% 10.3% 3.7% 29.4% 100.0%
30-39
54.9% 7.8% 4.7% 32.5%
100.0%
40-49
55.1% 8.1% 4.7% 32.1%
100.0%
50-74
53.3% 7,8% 5.4% 33.5%
100.0%
75-99
52.1
% 7,0% 5.0% 35.9%
100.0%
100-199
48.2% 6.4% 5.6% 39.8%
100.0%
200+
41.6% 8.6% 5.1% 44.7%
100.0%
Total
52.4% 7.7% 5.1% 34.9%
100.0%
Tabel 12. Prevalensi perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas di Indonesia
menurut tingkat pengeluaran anggota rumah angga/bulan
Susenas-SKRT 1995.
Rural
Perokok
Pengeluaran
anggota rumah
tangga per bulan
Tiap hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
(dalam
ribuan)
< 20
59.1%
10.6%
2.5%
27.8%
100.0%
20-29
65.1% 8.1% 3.4% 23.4%
100.0%
30-39
67.3% 7.0% 3.7% 22.0%
100.0%
40-49
67.8% 7.4% 3.7%
21.1
%
100.0%
50-74
68.0% 6.8% 4.4% 20.8%
100.0%
75-99
65.7% 5.9% 5.4% 23.0%
100.0%
100-199
63.0% 5.4% 5.8% 25.8%
100.0%
200+
62.5% 4.3% 3.8% 29.4%
100.0%
Total
66.3% 7.4% 3.8% 22.4%
100.0%
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
28
background image
Tabel 13. Prevalensi perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas di Indonesia
menurut tingkat pengeluaran anggota rumah tangga/bulan
Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Perokok
Pengeluaran
anggota rumah
tangga per bulan
Tiap
hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
(dalarn ribuan)
<
20
58.9% 10.6% 2.6% 27.9% 100.0%
20 - 29
64.0%
8.4%
3.5%
24.1 %
100.0%
30 - 39
64.8%
7.1%
3.9%
24.2%
100.0%
40 - 49
63.8%
7.6%
4.0%
24.5%
100.0%
50 - 74
60.9%
7.3%
4.9%
26.9%
100.0%
75 - 99
56.6%
6.6%
5.2%
31.6%
100.0%
100-199
51.1% 6.2% 5.6% 37.0%
100.0%
200+
43.1% 8.3% 5.0% 43.6%
100.0%
Total
61.3% 7.5% 4.3% 27.0%
100.0%
PEMBAHASAN
Dari Modul Susenas 1995 ini, ditemukan bahwa prevalensi
perokok laki-laki umur 20 tahun ke atas sebesar 68.8% adalah
jauh lebih besar daripada prevalensi perokok perempuan se-
besar 2.6%. Perbedaan prevalensi antar jenis kelamin yang
besar juga didapatkan dari survai-survai terdahulu baik lokal
maupun nasional, misalnya : untuk umur 15 tahun ke atas, 75%
dan kurang dari 5% di Lombok (1980), 61% dan kurang dari
5% di DI Yogyakarta (1980); untuk umur 13 tahun ke atas,
64.8% dan 9.8% di Jakarta (1983); untuk umur 25-74 tahun,
83.7% dan 4.9% di 6 desa kabupaten Tasikmalaya (Surveilans
PTM 1992); untuk umur 25-64 tahun, 56.9% dan 6.4% di 3
Tabel 14. Prevalensi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas di
Indonesia menurut tingkat pengeluaran anggota rumah
tangga/bulan Susenas-SKRT 1995.
Urban
Perokok
Pengeluaran
anggota rumah
tangga per bulan
Tiap
hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
(dalam ribuan)
< 20
.3%
1.7%
98.0%
100.0%
20 - 29
.8%
.3%
.2%
98.7%
100.0%
30 - 39
1.6%
.4%
.1 %
97.9%
100.0%
40 - 49
1.5%
.4%
.1 %
98.0%
100.0%
50 - 74
1.5%
.7%
.1%
97.7%
100.0%
75 - 99
1.7%
.8%
.3%
97.2%
100.0%
100-199
1.4% .5% .3%
97.9%
100.0%
200+ 3.4%
.5%
1.1%
95.0%
100.0%
Total
1.5% .5% .2%
97.7%
100.0%
Tabel 15. Prevalensi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas di
Indonesia menurut tingkat pengeluaran anggota rumah
tangga/bulan Susenas-SKRT 1995.
Rural
Perokok
Pengeluaran
anggota rumah
tangga per bulan
Tiap
hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
(dalarn ribuan)
< 20
1.5%
.7%
.3%
97.5%
100.0%
20 - 29
1.9%
.8%
.2%
91.1 %
100.0%
30 - 39
2.1 %
.6%
.3%
96.9%
100.0%
40 - 49
2.4%
.6%
.2%
96.9%
100.0%
50 - 74
2.5%
.7%
.3%
96.5%
100.0%
75 - 99
1.8%
.9%
.6%
96.6%
100.0%
100-199 3.2%
.4%
.4%
96.0%
100.0%
200+ 12.4%
2.8%
84.8%
100.0%
Total 2.2%
.7%
.3%
96.9%
100.0%
Tabel 16. Prevalensi perokok perempuan umur 20 tahun ke atas di
Indonesia menurut tingkat pengeluaran anggota rumah
tangga/bulan Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Perokok
Pengeluaran
anggota rumah
tangga per bulan
Tiap
hari
Kadang-
kadang
Mantan Bukan
Total
(dalam ribuan)
< 20
1.5%
.8%
.2%
97.5%
100.0%
20 - 29
1.8%
.7%
.2%
97.3%
100.0%
30 - 39
2.0%
.6%
.3%
97.1%
100.0%
40 - 49
2.1%
.5%
.2%
97.2%
100.0%
50 - 74
2.1 %
.7%
.2%
97.0%
100.0%
75 - 99
1.7%
.8%
.4%
97.0%
100.0%
100-199 1.8%
.4%
.3%
97.5%
100.0%
200+ 4.0%
.5%
1.2%
94.3%
100.0%
Total 2.0%
.6%
.3%
97.1%
100.0%
Tabel 17. Intensitas perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas di
Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Urban
Batang
Lokasi
1-10 11-20 21+
Total
Sumatera 33.4%
59.9%
6.6%
100.0%
Jawa 46.4%
49.0%
4.6%
100.0%
Nusatenggara 44.7%
47.0%
8.3%
100.0%
Kalimantan 25.8%
65.4%
8.7%
100.0%
Sulawesi 33.5%
61.2%
5.2%
100.0%
Maluku-Irja 41.3%
50.0%
8.8%
100.0%
Jawa-Bali 46.5%
49.0%
4.6%
100.0%
Luar Jawa-Bali
33.1%
59.8%
7.0%
100.0%
Indonesia Barat
44.0%
51.0%
5.0%
100.0%
Indonesia Timur
32.7%
59.7%
7.6%
100.0%
Indonesia 42.8%
52.0%
5.3%
100.0%
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 29
background image
Tabel 18. Intensitas perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas di
Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Rural
Batang
Lokasi
1-10 11-20 21+
Total
Sumatera 31.6%
59.5%
8.9%
100.0%
Jawa 57.6%
38.7%
3.7%
100.0%
Nusatenggara 53.6%
41.5%
4.9%
100.0%
Kalimantan 29.6%
61.3%
9.0%
100.0%
Sulawesi 40.4%
54.5%
5.1%
100.0%
Maluku-Irja 46.8%
48.0%
5.2%
100.0%
Jawa-Bali 57.8%
38.5%
3.7%
100.0%
Luar Jawa-Bali
35.3%
56.8%
7.8%
100.0%
Indonesia Barat
50.5%
44.3%
5.1%
100.0%
Indonesia Timur
40.0%
53.5%
6.4%
100.0%
Indonesia 48.6%
46.0%
5.4%
100.0%
Tabel 19. Intensitas perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas di
Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Batang
Lokasi
1-10 11-20 21+
Total
Sumatera 32.1%
59.6%
8.4%
100.0%
Jawa 53.6%
42.3%
4.0%
100.0%
Nusatenggara 51.9%
42.6%
5.6%
100.0%
Kalimantan 28.7%
62.3%
9.0%
100.0%
Sulawesi 39.0%
55.9%
5.2%
100.0%
Maluku-Irja 45.6%
48.4%
6.0%
100.0%
Jawa-Bali 53.8%
42.2%
4.0%
100.0%
Luar Jawa-Bali
34.8%
57.5%
7.6%
100.0%
Indonesia Barat
48.4%
46.5%
5.1%
100.0%
Indonesia Timur
38.5%
54.8%
6.7%
100.0%
Indonesia 46.8%
47.8%
5.3%
100.0%
kecamatan Jakarta Selatan (1993); untuk umur 14-60 tahun,
45.7% dan 1.8% di Jakarta dan Surabaya (Proyek Pneumobile
1989); untuk kelompok dewasa, 61% dan 5% di Indonesia
(estimasi WHO1985- 1990); untuk umur 10 tahun ke atas,
50.2% dan 4.8% di Indonesia (SKRT 1986).
Tabel 20. Intensitas perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke atas
di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Urban
Batang
Lokasi
1-10 11-20 21+
Total
Sumatera 68.5%
28.9%
2.5%
100.0%
Jawa 63.9%
32.4%
3.6%
100.0%
Nusatenggara 64.6%
35.4% 100.0%
Kalimantan 55.8%
38.7%
5.4%
100.0%
Sulawesi 62.2%
33.8%
3.9%
100.0%
Maluku-Irja 36.3%
58.0%
5.7%
100.0%
Jawa-Bali 64.1%
32.4%
3.6%
100.0%
Luar Jawa-Bali
63.6%
33.0%
3.4%
100.0%
Indonesia Barat
64.9%
31.7%
3.4%
100.0%
Indonesia Timur
56.1%
39.3%
4.7%
100.0%
Indonesia 63.9%
32.5%
3.5%
100.0%
Tabel 21. Intensitas perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke atas
di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Rural
Batang
Lokasi
1-10 11-20 21+
Total
Sumatera 57.3%
39.4%
3.2%
100.0%
Jawa 81.1%
17.4%
1.5%
100.0%
Nusatenggara 57.6%
38.4%
4.1%
100.0%
Kalimantan 60.1%
35.0%
4.9%
100.0%
Sulawesi 62.4%
36.9%
.7%
100.0%
Maluku-Irja 36.3%
58.0%
5.7%
100.0%
Jawa-Bali 81.0%
17.5%
1.5%
100.0%
Luar Jawa-Bali
57.5%
39.1%
3.4%
100.0%
Indonesia Barat
72.6%
25.3%
2.1%
100.0%
Indonesia Timur
57.6%
38.8%
3.5%
100.0%
Indonesia 68.5%
29.0%
2.5%
100.0%
Tabel 22. Intensitas perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke atas
di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Betang
Lokasi
1-10 11-20 21+
Total
Sumatera 59.5%
37.4%
3.1%
100.0%
Jawa 75.0%
22.7%
2.3%
100.0%
Nusatenggara 58.5%
38.0%
3.5%
100.0%
Kalimantan 59.7%
35.3%
4.9%
100.0%
Sulawesi 62.4%
36.5%
1.2%
100.0%
Maluku-Irja 37.3%
56.7%
5.9%
100.0%
Jawa-Bali 75.0%
22.8%
2.2%
100.0%
Luar Jawa-Bali
58.5%
38.1%
3.4%
100.0%
Indonesia Barat
70.3%
27.2%
2.5%
100.0%
Indonesia Timur
57.4%
38.9%
3.7%
100.0%
Indonesia 67.3%
29.9%
I2.8%
100.0%
Tabel 23. Intensitas perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
menurut tingkat pendidikan di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Batang
Pendidikan
1-10 11-20 21+
Total
< SD
50.0%
44.8%
5.2%
100.0%
SD 48.1%
47.2%
4.6%
100.0%
SLTP 39.1%
54.6%
6.3%
100.0%
SLTA 38.8%
55.1%
6.1%
100.0%
Ak/Univ 37.1%
55.4%
7.4%
100.0%
Total 45.9%
48.8%
5.3%
100.0%
Tabel 24. Intensitas perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke atas
menurut tingkat pendidikan di Indonesia Susenas-SKRT 1995.
Batang
Pendidikan
1-10 11-20 21+
Total
<
SD
69.2% 28.1% 2.7% 100.0%
SD
63.6% 34.6% 1.9% 100.0%
SLTP
54.3% 42.1% 3.5% 100.0%
SLTA
55.0% 38.8% 6.2% 100.0%
Ak/Univ 36.4%
63.6%
100.0%
Total
64.7% 32.4% 2.9% 100.0%
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
30
background image
Tabel 25. Intensitas perokok laki-laki tiap hari umur 20 tahun ke atas
menurut tingkat pengeluaran anggota rumah tangga per bulan
di Indonesia, Susenas-SKRT 1995.
Batang
Pengeluaran
anggota RT per
bulan
1-10 11-20 21+
Total
(dalam
ribuan)
< 20
64.3%
33.2%
2.4%
100.0%
20-29 58.1%
38.7%
3.2%
100.0%
30-39 50.0%
46.0%
4.1%
100.0%
40-49 45.6%
49.3%
5.1%
100.0%
50-74 40.5%
53.2%
6.3%
100.0%
75-99 36.0%
55.5%
8.5%
100.0%
100-199 33.9%
56.3%
9.8%
100.0%
200+ 33.0%
54.2%
12.8%
100.0%
Total 46.8%
47.8%
5.3%
100.0%
Tabel 26. Intensitas perokok perempuan tiap hari umur 20 tahun ke atas
menurut tingkat pengeluaran anggota rumah tangga per bulan
di Indonesia, Susenas-SKRT 1995.
Batang
Pengeluaran
anggota RT
per bulan
1-10 11-20 21+
Total
(dalam ribuan)
< 20
76.8%
23.2%
100.0%
20-29 69.0%
29.9%
1.1%
100.0%
30-39 72.1%
26.0%
1.9%
100.0%
40-49 74.3%
23.2%
2.4%
100.0%
50-74 68.5%
29.4%
2.1%
100.0%
75-99 51.4%
44.9%
3.7%
100.0%
100-199 48.8%
39.8%
11.5%
100.0%
200+ 36.2%
55.7%
8.1%
100.0%
Total 67.3%
29.9%
2.8%
100.0%
Tabel 27. Preferensi jenis rokok di kalangan perokok laki-laki menurut
wilayah di Indonesia, Susenas-SKRT 1995.
Urban
Wilayah
Jenis
Jawa-Bali Luar
Jawa-Bali
Indonesia
Putih filter
9.8%
18.2%
12.1%
Putih nonfilter
3.0%
3.0%
3.0%
Kretek filter
58.3%
63.9%
59.8%
Kretek nonfilter
24.0%
12.2%
20.8%
Cerutu .3%
.2%
.3%
Linting 4.4%
2.2%
3.8%
Siong .0%
.1%
.0%
Cangklong .1% .2% .1%
Total 100.0%
100.0%
100.0%
Tabel 28. Preferensi jenis rokok di kalangan perokok laki-laki menurut
wilayah di Indonesia, SusenasSKRT 1995.
Rural
Wilayah
Jenis
Jawa-Bali Luar
Jawa-Bali
Indonesia
Putih filter
5.8%
20.3%
11.6%
Putih
nonfilter
1.9% 4.2% 2.8%
Kretek filter
30.7%
38.0%
33.7%
Kretek nonfilter
31.5%
15.2%
24.9%
Cerutu
.3% 1.0% .6%
Linting 29.3%
19.7%
25.4%
Siong .3%
.6%
.4%
Cangklong .2% 1.0% .5%
Total
100.0% 100.0% 100.0%
Tabel 29. Preferensi jenis rokok di kalangan perokok laki-laki menurut
wilayah di Indonesia, Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Wilayah
Jenis
Jawa-Bali Luar
Jawa-Bali
Indonesia
Putih filter
7.2%
19.8%
11.8%
Putih nonfilter
2.3%
3.9%
2.9%
Kretek filter
40.7%
44.2%
42.0%
Kretek nonfilter
28.8%
14.5%
23.6%
Cerutu .396
.8%
.5%
Linting 20.3%
15.5%
18.6%
Siong .2%
.5%
.3%
Cangklong .2% .8%
.4%
Total 100.0%
100.0%
100.0%
Tabel
30. Preferensi jenis rokok di kalangan perokok perempuan
menurut wilayah di Indonesia, Susenas-SKRT 1995.
Urban
Wilayah
Jenis
Jawa-Bali Luar
Jawa-Bali
Indonesia
Putih filter
12.2%
16.4%
13.3%
Putih nonfilter
2.6%
4.5%
3.1%
Kretek filter
52.4%
59.7%
54.3%
Kretek nonfilter
25.8%
11.9%
22.1%
Cerutu
1.3%
.4%
Linting 6.1%
5.6%
6.0%
Siong .8%
.6%
.8%
Cangklong
Total 100.0%
100.0%
100.0%
Tabel
31. Preferensi jenis rokok di kalangan perokok perempuan
menurut wilayah di Indonesia, Susenas-SKRT 1995.
Rural
Wilayah
Jenis
Jawa-Bali Luar
Jawa-Bali
Indonesia
Putih filter
6.2%
17.8%
12.0%
Putih nonfilter
1.8%
7.0%
4.4%
Kretek filter
19.9%
26.2%
23.0%
Kretek nonfilter
34.1%
13.6%
23.8%
Cerutu .8%
2.0%
1.4%
Linting 36.1%
30.2%
33.1%
Siong 1.1%
2.1%
1.6%
Cangklong
1.2%
.6%
Total 100.0%
100.0%
100.0%
Tabel
32. Preferensi jenis rokok di kalangan perokok perempuan
menurut wilayah di Indonesia, Susenas-SKRT 1995.
Urban + Rural
Wilayah
Jenis
Jawa-Bali Luar
Jawa-Bali
Indonesia
Putih filter
8.3%
17.5%
12.4%
Putih nonfilter
2.1%
6.6%
4.1%
Kretek filter
31.3%
31.7%
31.5%
Kretek nonfilter
31.2%
13.4%
23.4%
Cerutu .5% 1.9% 1.1%
Linting 25.5% 26.1% 25.8%
Siong 1.0% 1.8% 1.4%
Cangklong
1.0%
.496
Total 100.0%
100.0%
100.0%
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 31
background image
Tabel 33. Merokok dalam rumah di kalangan perokok laki-laki tiap hari
umur 20 tahun ke atas menurut pendidikan di Indonesia,
Susenas-SKRT 1995.
Pendidikan Pasif Total
Ya
Tidak
< SD
93.4%
6.6%
100.0%
SD 92.5%
7.5%
100.0%
SLTP 92.7%
7.3%
100.096
SLTA 92.8%
7.2%
100.0%
Ak/Univ 90.5%
9.5%
100.0%
Total 92.8%
7.2%
100.0%
Tabel 34. Merokok dalam rumah di kalangan perokok perempuan tiap
hari umur 20 tahun ke atas menurut pendidikan di Indonesia,
Susenas-SKRT 1995.
Pendidikan Pasif Total
Ya
Tidak
< SD
94.1%
5.9%
100.0%
SD 94.2%
5.8%
100.0%
SLTP 90.6%
9.4%
100.0%
SLTA 92.9%
7.1%
100.0%
Ak/Univ 100.0%
100.096
Total 93.8%
6.2%
100.0%
Tabel 35. Lama berhenti merokok mantan perokok laki-laki di Indonesia,
Susenas-SKRT 1995.
Mantan
Lama berhenti
Tiap hari
Kadang-kadang
Total
1-3 bulan
11.3%
11.9%
11.5%
4-6 bulan
6.3%
8.3%
6.8%
7-9 bulan
2.2%
3.0%
2.4%
10-12 bulan
9.1%
11.6%
9.8%
13-24 bulan
15.0%
16.6%
15.4%
25+ bulan
56.2%
48.7%
54.2%
Total 100.0%
100.0%
100.0%
Tabel 36. Lama berhenti merokok mantan perokok perempuan di Indo-
nesia, Susenas-SKRT 1995.
Mantan
Lama berhenti
Tiap hari
Kadang-kadang
Total
1-3 bulan
8.6%
16.0%
12.0%
4-6 bulan
11.1%
12.9%
11.9%
7-9 bulan
2.1%
1.1%
10-12 bulan
16.8%
8.4%
12.9%
13-24 bulan
12.2%
17.1%
14.5%
25+bulan 49.2%
45.6%
47.6%
Total 100.0%
100.0%
100.0%
Gambar 1. Umur mulai perokok laki-laki pada Susenas-SKRT 1995.
Keadaan ini sejalan dengan prevalensi perokok laki-laki
dan perempuan di sejumlah negara berkembang, terutama, di
Asia, misalnya antara tahun 1985-1990 (dengan batas umur
terbawah bervariasi) : 61% dan 7% di RRC, 52% dan 3% di
India, 44% dan 6% di Pakistan, 50% dan 3% di Bangaladesh,
54.8% dan 0.8% di Sri Lanka, 41% dan 5% di Malaysia, 67%
dan 6% di Thailand; 54% dan 8% di negara sedang ber-
kembang. Hal ini juga terlihat di sejumlah negara industri baru
di Asia, misalnya: 74% dan 5% di Korea Selatan, 55% dan 3%
di Taiwan, 25% dan 2% di Singapura. Sebaliknya di beberapa
negara berkembang dengan kultur tertentu ataupun pengaruh
Barat yang besar, prevalensi perokok wanita jauh lebih tinggi,
misalnya: 85% dan 62% di Nepal, 64% dan 19% di Filipina,
40% dan 36% di Brazil, 43% dan 27% di Argentina; sedang di
negara maju, 51% dan 21%.
Dominannya perokok laki-laki dan sedikitnya perokok
perempuan dapat dikaitkan dengan kultur yang kurang mene-
rima perilaku perempuan yang merokok. Promosi pihak
industri rokok yang menghubungkan merokok dengan wanita
muda, singset dan cantik, bisa dikatakan gagal atau masih
belum berhasil dalam menghadapi resistensi kultur ini.
Prevalensi mantan perokok laki-laki relatif kecil, mening-
kat terus menurut umur. Proporsi lama berhenti merokok pada
mantan perokok yang terkecil adalah periode 7-9 bulan, sebesar
2.4%. Hal ini menunjukkan adanya periode kritis relaps
terutama dalam 3 bulan pertama dan 3 bulan kedua, karena
terjadinya gejala seperti pada sindroma putus obat. Secara
keseluruhan rasio berhenti merokok (jumlah mantan dibagi
dengan jumlah mantan dan perokok) masih sangat kecil, yakni
hanya sebesar 5.9%, bila dibandingkan dengan Sri Lanka
11.6% (1989), apalagi dengan Amerika Serikat 44.8% (1987).
Kebiasaan menginang mungkin ada hubungannya dengan
prevalensi perokok, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Untuk propinsi Bali, prevalensi perokok laki-laki 20 tahun ke
atas ternyata terendah, yakni sebesar 42.7%; hal ini seperti juga
pada SKRT 1986, prevalensi perokok laki-laki umur 10 tahun
ke atas terendah, sebesar 31.0% (nasional 50.2%), sedang
prevalensi penginang laki-lakinya tertinggi sebesar 13.7%
(nasional 3.7%). Prevalensi penginang pada perempuan dalam
SKRT 1986 nasional juga jauh lebih tinggi daripada laki-laki,
sebesar 16.7%.
Sebagian besar perokok, baik laki-laki maupun perempu-
an, merokok di dalam rumahnya sendiri. Keadaan ini merupa-
kan hal yang serius, apalagi mengingat ventilasi rumah di
Indonesia sebagian besar belum baik. US Surgeon General
Report 1989 menyatakan bahwa penelitian dalam dasawarsa
1980-1990 an telah meneguhkan bahwa merokok involunter
menyebabkan berbagai penyakit, termasuk kanker paru pada
bukan perokok sehat, dan anak dari orangtua yang merokok
mempunyai frekuensi lebih tinggi mengidap infeksi pernapasan
dan gejala pernapasan. Topik agar jangan merokok dalam
rumah harus dimasukkan dalam pendidikan kesehatan me-
ngenai bahaya merokok.
Umur mulai merokok yang terkecil adalah 5 tahun, sebagi-
an pada umur 10-14 tahun, sebagian besar pada umur 15-20
tahun, sebagian lagi pada umur 21-25 tahun, sebagian kecil
pada umur 26-30 tahun. Hal ini sejalan pula dengan penelitian-
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
32
background image
penelitian lain baik lokal maupun di negara lain, bahwa usia
remaja merupakan usia yang rentan terhadap bujukan untuk
mulai merokok. Pendidikan kesehatan untuk memilih tidak
menjadi perokok harus sudah di mulai sejak taman kanak-
kanak.
Prevalensi perokok diduga ada kaitannya dengan tingkat
sosial dan ekonomi suatu daerah. Prevalensi perokok lebih
nyata di daerah rural daripada urban, Kawasan Indonesia Barat
daripada Kawasan Indonesia Timur, tingkat sosial ekonomi
rendah daripada sosial ekonomi tinggi. Intensitas perokok lebih
nyata di daerah urban daripada rural, Kawasan Indonesia Timur
daripada Kawasan Indonesia Barat, tingkat sosial ekonomi
tinggi daripada sosial ekonomi rendah.
Prevalensi perokok laki-laki di RRC, pada petani 81%,
buruh 58% dan pegawai 42%; di Inggeris, pada pekerja kasar
49%, pekerja semi trampil 45%, pekerja terampil 40%,
profesional lain dan manager 30%, dan dokter 17%. Prevalensi
perokok di Semarang pada tukang becak 96.1%, paramedis
79.8% pegawai negeri 51.9% dokter 36.8% (1973); di 6 desa
kabupaten Tasikmalaya, pada golongan pendapatan rendah
86%, pendapatan menengah 85%, pendapatan tinggi 68%, SD
ke bawah 86%, tamat SLTP 80%, tamat SLTA 74%, tamat
Universitas 62% (1992).
Dari segi intensitas, diperkirakan telah terjadi kenaikan
selama 2 dasawarsa terakhir ini sejalan dengan kenaikan
pendapatan. Konsumsi rokok per kapita penduduk dewasa
diperkirakan sebagai berikut : 480 batang (1970), 1050 batang
(1985), dan 1480 batang (1990). Laju kenaikan konsumsi ini
jauh lebih cepat daripada laju kenaikan prevalensi, mengingat
tingkat konsumsi di Indonesia masih jauh lebih rendah daripada
di negara maju yang besarnya sekitar 2485 batang (1985).
Fluktuasi konsumsi rokok di negara sedang berkembang
lebih berhubungan dengan kondisi ekonomi makro daripada
dengan ada tidaknya kebijaksanaan dan program pemberantas-
an merokok. Berdasarkan penelitian atas data GNP dan
konsumsi rokok per kapita di 103 negara periode tahun
1965-1986, Chapman S mendapatkan bahwa GNP per kapita
merupakan prediktor yang menerangkan 67% dari varians
konsumsi rokok per kapita, sedang laju pertumbuhan GNP
menerangkan 28% kenaikan konsumsi. Korelasi bersifat
nonlinier, pada awalnya kenaikan GNP yang kecil diikuti oleh
kenaikan konsumsi yang relatif besar, kemudian makin lama,
efek kenaikan makin kecil. Kurva menjadi mendatar setelah
GNP inencapai sekitar US $ 5,000. Setelah tahap ini, pengaruh
eksternal dari pemberantasan merokok baru menjadi makin
terasa.
Preferensi perokok di Indonesia pada rokok kretek me-
rupakan ciri khas, seperti halnya dengan bidi di India dan
beberapa negara sekitarnya. Pihak industri rokok transnasional
belum berhasil atau kalah dalam persaingan ini, karena rokok
kretek lebih memenuhi selera setempat. Demikian pula bebe-
rapa jenis rokok tempo dulu, seperti siong, cerutu, cangklong
dan linting, secara perlahan mulai tergeser oleh rokok kretek.
Rokok kretek mengandung cengkeh sekitar 1/4 bagian dan
saos rahasia. Dalam asap rokok kretek terdapat 5 senyawaan
yang tidak terdapat dalam asap rokok putih, yaitu eugenol,
asetil eugenol, beta-kariofilen, alfa-humulen, dan kariofilen
epoksid. Senyawaan eugenol dan turunannya ini memberikan
efek psikotropik dan anestesi topikal, sehingga efek adiksi
lebih kuat, rasa nyaman lebih baik, hisapan lebih dalam karena
refleks batuk ditekan. Kadar tar rokok kretek, disamping kadar
nikotin, menjadi lebih tinggi daripada rokok putih.
Baik rokok putih maupun rokok kretek, memperlihatkan
bahwa jenis filter walau lebih mahal makin populer, mungkin
karena membaiknya daya beli, rasa lebih aman, issue
penurunan kadar tar dan nikotin, serta alat promosi. Proporsi
rokok filter pada tahun 1990 di Brazil, Jerman, Jepang, dan
Amerika Serikat lebih dari 95%; di Italia 87%; di Polandia
64%; di Perancis 60%; di RRC 41%, 3 kali lipat proporsi tahun
1986.
Kadar tar dan nikotin yang dianjurkan adalah 10 mg dan 1
mg per batang. WHO tidak menganjurkan penurunan kadar tar
dan nikotin dalam penanggulangan masalah merokok, karena
diduga hisapan akan lebih dalam, merokok akan lebih sering,
selain merupakan alat promosi. Walaupun demikian berbagai
penelitian menunjukkan adanya hubungan dosis, kadar, dan
risiko penyakit. Peraturan perundangan mengenai penurunan
kadar bahan berbahaya mempunyai efektifitas yang marginal,
namun resistansi yang kecil dari pihak industri rokok.
Dibandingkan dengan SKRT 1986, walaupun tidak
sepenuhnya komparabel, pada Modul Susenas 1995 terjadi
sedikit kenaikan prevalensi, terutama pada kelompok umur
muda. Berdasarkan SKRT 1986, prevalensi perokok laki-laki
menurut kelompok umur, berturut-turut : 0.6% (10-14 tahun),
13.2% (15-19 tahun), 46.0% (20-24 tahun), 63.1% (25-29
tahun), 67.9% (30-34 tahun), 72.4% (35-39 tahun), 73.8%
(40-49 tahun), 74.2% (50-59 tahun), dun 64.7% (60+ tahun);
sedang berdasarkan Modul Susenas 1995: 1.1% (10-14 tahun),
22.6% (15-19 tahun), 53.5% (20-24 tahun), 66.2% (25-29
tahun), 72.1% (30-34 tahun), 74.8% (35-39 tahun), 74.0%
(40-49 tahun), 72.5% (50-59 tahun), dan 68.0% (60+ tahun).
Prevalensi perokok laki-laki umur 10 tahun ke atas adalah
50.2% pada SKRT 1986 (data revisi) dan 51.3% pada Modul
Susenas 1995. (lihat Gambar 2).
Upaya penanggulangan masalah merokok yang telah
dilakukan selama 1 dasawarsa terakhir dengan demikian belum
menunjukkan hasil dalam penurunan prevalensi perokok laki-
laki. Walaupun terkesan adanya kegiatan yang gencar dari
berbagai LSM, seperti Yayasan Jantung Indonesia, Yayasan
Kanker Indonesia, Lembaga Menanggulangi Masalah Mero-
kok, melalui berbagai seminar, brosur, iklan, dan klinik ber-
henti merokok, cakupan dan efektifitas biayanya masih
terbatas. Demikian pula dengan upaya di bidang legislasi,
seperti tanda peringatan bahaya merokok dan berbagai instruksi
menteri mengenai lingkungan kerja dan sekolah bebas asap
rokok, efektifitasnya bersifat marginal saja.
Untuk menurunkan prevalensi dan intensitas perokok pada
laki-laki, upaya baru yang lebih efektif dari segi biaya dan
cakupan secara bertahap diperlukan, yakni menaikkan cukai,
melarang iklan dan pengsponsoran, pendidikan kesehatan sejak
taman kanak-kanak, kampanye panutan di kalangan pimpinan
dan petugas kesehatan, penurunan kadar tar dan filterisasi, dan
diversifikasi industri tembakau. Pentahapan dalam beberapa
jenis upaya diperlukan untuk menghindarkan keguncangan
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 33
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999
34
dalam bidang perekonomian dan mengendorkan resistensi yang
kuat dari pihak industri rokok.
Gambar 2. Prevalensi perokok laki-laki menurut umur di Indonesia
menurut SKRT 1986 dan Susenas-SKRT 1995.
RELIABILITAS
Reliabilitas prevalensi perokok antar survei dihitung
dengan membandingkan data base Modul Susenas dan Studi
Morbiditas/ Disabilitas SKRT 1995. Dari 7,838 record respon-
den berumur 10 tahun ke atas subset database Studi Morbiditas/
Disabilitas SKRT, 5,544 (70.73%) record berhasil di merge
dengan subset database Modul Susenas. Kofisien Kappa antara
jawaban terhadap pertanyaan Blok V R 20-21 Modul Susenas
dengan jawaban terhadap pertanyaan Nomor 5 Studi
Morbiditas dan Disabilitas SKRT adalah sebesar 0.60426;
selang waktu antara kedua pertanyaan berkisar antara 2-12
bulan; Susenas di tanyakan oleh Mantis dan Mitra Statistik,
sedang SKRT oleh dokter. Reliabilitas antar jawaban terhadap
pertanyaan Blok V R 20-21 Modul mengenai merokok dengan
Blok IX R15 Kor Susenas pengeluaran untuk tembakau dan
sirih memperlihatkan index kesamaan sebesar 97.51%.
Konsumsi rokok putih dan kretek per penduduk tahun
1995 berdasarkan Modul Susenas adalah sebesar 3.9 batang per
hari, atau 1427 batang per tahun; sedang berdasarkan USDA
tahun 1990 adalah sebesar 1480 batang per tahun.
LIMITASI
Pertanyaan-pertanyaan mengenai perilaku merokok yang
diajukan dalam Modul Susenas 1995 dibatasi pada masalah
perilaku utama, sehingga tidak mencakup masalah sikap dan
keyakinan, dengan format kalimat yang ringkas, karena keter-
batasan tempat pada instrumen Modul. Dalam pedoman wa-
wancara dan pelatihan, batasan dan penjelasan dari pertanyaan-
pertanyaan diberikan cukup rinci.
KESIMPULAN
·
Prevalensi perokok 20 tahun ke atas masih jauh lebih
dominan pada laki-laki daripada perempuan, masing-masing
sebesar 68.8% dan 2.6%, memperlihatkan masih kuatnya
resistensi kultur tidak merokok pada perempuan.
·
Prevalensi mantan perokok laki-laki relatif sangat kecil
yang berkaitan dengan sulitnya menghentikan perilaku
merokok dan belum berhasilnya kampanye berhenti merokok.
·
Prevalensi perokok lebih nyata di daerah rural daripada
urban, Kawasan Indonesia Barat daripada Kawasan Indonesia
Timur, tingkat sosial ekonomi rendah daripada sosial ekonomi
tinggi.
·
Intensitas perokok lebih nyata di daerah urban daripada
rural, Kawasan Indonesia Timur daripada Kawasan Indonesia
Barat, tingkat sosial ekonomi tinggi daripada sosial ekonomi
rendah.
·
Preferensi perokok sebagian besar pada rokok kretek filter
dan nonfilter, karena rokok kretek lebih sesusi selera domestik,
walau mungkin lebih tinggi risikonya.
·
Sebagian besar perokok, baik laki-laki maupun perempu-
an, merokok di dalam rumahnya sendiri, menunjukkan belum
dihayatinya bahaya merokok pasif bagi bukan perokok.
·
Umur mulai merokok, yang terkecil adalah 5 tahun, se-
bagian besar pada kelompok umur remaja, sehingga ketahanan
anak terhadap godaan mulai merokok dibina sedini mungkin.
·
Dibandingkan dengan SKRT 1986, pada Modul Susenas
1995 terjadi sedikit kenaikan prevalensi perokok laki-laki,
terutama pada kelompok umur muda, mengindikasikan
berbagai upaya yang gencar selama ini belum menunjukkan
hasil.
·
Upaya baru yang lebih efektif dari segi biaya dan cakupan
secara bertahap diperlukan, yakni menaikkan cukai, melarang
iklan dan pengsponsoran, pendidikan kesehatan sejak taman
kanak-kanak, kampanye panutan di kalangan pimpinan dan
petugas kesehatan, penurunan kadar tar dan filterisasi, dan
diversifikasi industri tembakau.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan berbagai pihak
dalam menyelesaikan penelitian ini, antara lain kepada : Biro Pusat Statistik
dan Unit Komputasi Badan Litbangkes yang telah menyediakan subset
database yang dibutuhkan untuk analisis.
Penelitian ini dibiayai dengan paket analisis lanjut SKRT 1995 dari DIP
Badan Litbangkes Depkes RI tahun 1996/97.
KEPUSTAKAAN
1. Badan Litbangkes dan Pusat Kesehatan Jantung Nasional RS Jantung
Harapan Kita : Presentasi dan diskusi Survei II Monica - Jakarta, 1993.
2.
Budiarso RL. dkk. Proceeding Seminar Survai Kesehatan Rumah Tangga
1986. Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbangkes Depkes RI, Jakarta,
1987.
3. Chapman S, and Wong WL. Tobacco Control in the Third World. A
Resource Atlas. IOCU, Penang, 1990.
4. Department of Health and Human Services : Reducing the Health
Consequences of Smoking. 25 Years of Progress. A Report of the
Surgeon General. US. Department of Health and Human Services, Public
Health Service, Centers for Disease Control, Center for Chronic Disease
Prevention, and Health Promotion Office on Smoking and Health, 1989.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 125, 1999 35
5.
Medical School Padjadjaran University, and University of Ghent : Report
Introduction in a rural area in West Jawa of Surveillance System on
noncommunicable diseases, more specifically on the morbidity and
mortality of cardio and cerebrovascular diseases. EEC Contract, 1992.
6.
Stanley K. Control of Tobacco Production and Use. In : Jamison DT. et al
: Disease Control Priorities in Developing Countries. Oxford University
Press, 1993.
7. World Health Organization: Guidelines for the Conduct of
Tobacco-Smoking Surveys of the General Population. Report of a WHO
meeting held in Helsinki, Finland, 1982. WHO/SMO/83.4.
8.
World Health Organization : Smoking Control Strategies in Developing
Countries. Report of a WHO Study Group. WHO Technical Series 695.
WHO, Geneva, 1983.
A book is a friend that never deceived us