background image
HASIL PENELITIAN
Perbandingan Hasil Uji Coba
ELISA Makro
pada Penderita Tuberkulosis Paru
Biakan Positif dan Negatif
Anik Widijanti
Instalasi Patologi Klinik RSUD Dr Sa Anwar/Fakultas Kedokteran Universitas Brawidjaja, Malang
ABSTRAK
Penelitian dilakukan pada 61 sera penderita tuberkulosis paru, 35 sera dengan biakan
dahak positif dan 26 dengan biakan dahak negatif. Pada sera ditentukan kadar IgG
spesfiknya terhadap M. tuberculosis dengan cara Elisa makro.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kadar IgG spesifik pada penderita dengan
biakan positif secara bermakna lebih kecil dari kadar IgG spesifik penderita dengan
biakan negatif (p < 0,05).
PENDAHULUAN
Penyakit tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah ke-
sehatan masyarakat di Indonesia
(1)
. Berdasarkan program pem-
berantasan penyakit TB di Indonesia maka pengobatan ditentu-
kan dengan adanya kuman di dalam dahak
(2)
. Hal tersebut ber-
dasar padapertithbangan bahwapemeriksaan dahak mikroskopis
yang positif lebih mempunyai arti epidemiologi dibandingkan
dengan biakan yang positif. Untuk mendapatkan hasil positif
pada pemeriksaan mikroskopik dibutuhkan 5000ญ10000 kuman
per ml dahak, sedangkan untuk biakan yang positif hanya dibu-
tuhkan 25ญ50 kuman per ml dahak
(3)
. Pemeriksaan mikroskopik
yang positif belum tentu menunjukkan kuman hidup, tetapi biak-
an yang positif selalu disebabkan adanya kuman hidup, hanya
sayangnyapemeriksaan biakan selain membutuhkan waktu lama
(1ญ2 bulan) juga relatif lebih mahal
(4)
. Adanya kuman dalam
dahak, dapat memberikan hasil biakan negatif bila kumannya
mati. Dengan kenyataan tersebut maka seharusnya penderita
dengan kuman mati akan mempunyai kadar IgG yang berbeda
dan penderita yang biakannya positif (kuman hidup). Kadar IgG
spesifik terhadap M. tuberculosis sering meningkat sesudah pen-
derita TB mendapatkan pengobatan dan akan normal kembali
pada 2ญ3 bulan sesudah pengobatan dihentikan, serta akan
meningkat lagi jika terjadi kekambuhan
(1)
.
Kadar IgG spesifik terhadap M. tuberculosis pada penderita
dapatjuga dapat ditentukan dengan cara Elisa makro. Sensitivi-
tas, detektabilitas dan presisi Elisa makro lebih baik dibanding-
kan dengan Elisa mikro, tetapi Elisa makro harganya relatif
mahal dan lebih cocok untuk jumlah sampel yang kecil
(5)
.
Dalam penelitian ini akan diperiksa apakah ada perbedaan
hasil Elisa makro antara biakan positif dan biakan negatif.
MATERIAL DAN METODE
Sampel diambil dari 61 penderita TB Paru dengan kriteria:
1) BTA dahak (mikroskopik) yang positif (Ziehi Nielsen)
2) Kelainan radiologis yang relevan untuk TB Paru
3) Belum pernah mendapat pengobatan anti TB (wawancara
cermat)
4) Keadaan umum baik, serta tidak minum obat yang dapat
menekan imunitas humoral.
Cara pelaksanaan:
1) Dilakukan pemeriksaan biakan dahak.
2) Pemeriksaan kadar IgG dengan cara Elisa makro dilakukan
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 27
background image
seperti pada Elisa mikro cara Kardjito dkk, hanya digunakan
tabung polistiren dan volumenya 3 kali lebih besar
(5,6)
.
Ke dalam tabung polistiren dimasukkan 0,6 ml antigen
sitoplasmik dan Mycobacterium tuberculosis var bovis BCG
(Ultrasonicated) pengenceran 1: 100 dan diinkubasikan dalam
kotak lembab pada 4ฐC selama semalam. Kemudian tabung
polistiren dicuci dengan larutan dapar fosfat salin tween (PBS
tween) sebanyak 3 kali. Sesudah itu ditambahkan 0,6 ml serum
(pengenceran 1: 500) dan diinkubasikan selama 2jam pada
suhu kamar, kemudaian dicuci seperti di atas.
Berikutnya ditambahkan 0,6 ml konyugat (antihuman IgG
berlabel ensim peroksidase) dengan pengenceran 1 : 1000, di-
inkubasi semalam pada 4ฐC. Sesudah inkubasi sisanya dibuang
dan tabung dicuci seperti di atas.
Selanjutnya dimasukkan 0,6 ml substrat (H
2
O
2
0,03% dan
ABTS), inkubasi 30 menit. Tambahkan 0,150 ml NaF 1 N
sebagai larutan penghenti reaksi. Pembacaan dilakukan pada
spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm
(5,6)
.
Dalam tiap seri pemeriksaan dipakai serum kontrol yang
sama, yang juga berguna untuk menghitung CV antar seri (between
run) dan dalam 1 seri (intra run).
3) Penentuan batas atas nilai rujukan (cut off) pemeriksaan
dilakukan dengan memeriksa 34 perawat sehat, dan dipakai
rumus:
Cut off = mean + 2 SD
Cut off dipakai untuk membedakan hasil positif dan negatif
dan Elisa makro. Nilai absorbance di atas cut off menunjukkan
hasil positif, sedangkan nilai absorbance di bawah nilai cut off
menunjukkan hasil negatif.
4) Perhitungan CV (koefisien variasi) dan Elisa makro dengan
SD
Rumus : = ญญญญญ
Mean
Pengaruh CV terhadap sensitifitas tes diperbandingkan pada
kedua kelompok biakan.
5) Untuk membandingkan kadar IgG spesifik antara 2 kelom-
pok biakan positif dan negatif dipakai uji statistik Student t
(7)
.
6) Penentuan sensitifitas pemeriksaan dengan rumus:
jumlah penderita dengan Elisa makro positit
ญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญญ
jumlah penderita Tb dalam penelitian
7) Perbedaan sensitifitas (nilai diagnostik) uji Elisa makro dari
kedua kelompok biakan positif dan negatif dihitung dengan uji
statistik McNemar
(8)
.
HASIL
1) Pemeriksaan Elisa makio pada 34 perawat sehat.
Cut Off pemeriksaan =
0,574 absorbance unit
Mean (nilai rata-rata) = 0,300
SD (simpangan baku) = 0,137
CV (koefisien variasi) between run = 28,77%
within run = 16,11%
2) Untuk mengetahui pengaruh besarnya CV terhadap sensiti-
fitas (nilai diagnostik) pada Elisa makro, maka dilakukan per-
hitungan berbagai cut off:
Cut off 28,77% lebih besar mean + 2 SD : 0,739
Cut off 28,77% lebihiecil mean + 2 SD : 0,409
Cut off dengan mean + 3 SD : 0,7 11
3)
Tabel 1. Hasil Elisa makro pada penderita TB Paru baru
Biakan positif
Biakan negatif
Jumlah kasus
35
26
Mean War IgG spesifik
1,094
1,385
SD 0,560
0,463
Rentang 0,160-1,800
0,180-1,810
Sensitifitas 80%
92,30%
Perbedaan bermakna
p < 0,05
4)
Tabel 2. Hasil sensitifitas Elisa Makro dengan berbagal batas alas
nilai
rujukan
Cut off
value
Dahak positif
N=61
Biakan positif
N=35
Biakan negatif
N=36
0,409 86,88% 82,85% 92,30%
0,574 *
85,24 % *
80,00 % *
92,30 % *
0,739 80,32% 71,42% 92,30%
0,711 80,32% 71,42% 92,30%
Keterangan:
* Batas atas nilai rujukan dengan rumus mean + 2 SD (lama). Tidak
terdapat perbedaan yang bermakna antara sensitifitas dengan batas
atas nilai rujukan baru dan lama (p > 0,05).
PEMBAHASAN
Penderita tuberkulosis (TB) yang mendapat pengobatan,
kadar IgG spesifiknya akan meningkat dan mencapai puncaknya
pada 3 bulan pengobatan, kemudian akan menurun lagi secara
perlahan dan mencapai kadar orang normal pada 3 bulan sesudah
pengobatan dihentikan, serta akan meningkat lagi jika terjadi
kekambuhan (relaps)
(1)
. Pengobatan yang diberikan kepada
penderita juga dapat menyebabkan perubahan pengeluaran
kuman hidup dalam dahak menjadi kuman yang mati (dahak
mikroskopik positif tetapi biakan negatif). Hal tersebut dapat
dilihat dari data kami: dari 61 penderita dengan dahak mikro-
skopikpositif hanya 35 yang menunjukkan biakan positif. Keada-
an tersebut dapat terjadi karena pemilihan kasus TB paru hanya
berdasar pada wawancara, sehingga sering terjadi kesalahan
apakah benar-benar kasus baru (yang belum pernah mendapat
pengobatan) atau kasus yang sudah pernah diobati.
Dari kenyataan di atas maka kadar IgG spesifik pada pen-
derita yang menunjukkan biakan positif (masih mengeluarkan
kuman hidup dalam dahaknya) lebih rendah dibandingkan
dengan penderita yang mengeluarkan kuman mati (biakan ne-
gatif), karena mungkin sudah mendapatkan pengobatan. Hasil
penentuan kadar IgG spesifik dengan Elisa makro menunjukkan
seperti yang diperkirakan, yaitu kadar IgG spesifik pada kelom-
pok dengan biakan positif lebih rendah dari kelompok dengan
biakan negatif (p <0,05). TB dengan dahak mengandung kuman
hidup (biakan positif) mempunya kadar IgG spesifik lebih
rendah karena penderita tersebut mempunyai antigen yang ber-
lebihan. Antigen yang berlebihan dapat menekan respon imun-
humoral dan menyebabkan rendahnya kadar IgG spesifik
(9)
. Di
samping itu antigen berlebihan juga akan mengikat antibodi
dalam sirkulasi, kemudian membentuk kompleks imun dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
28
background image
akibat turunnya kadar IgG spesifik dalam darah
(10)
.
Perubahan batas atas nilai rujukan (cut off) dengan memper-
hitungkan CV, ternyata tidak mempengaruhi sensitifitas (nilai
diagnostik) dan uji Elisa makro (p > 0,05). Hal ini sangat
menguntungkan karena besarnya CV ternyata tidak berpengaruh
pada nilai diagnostik uji Elisa makro, sedangkan kegunaan uji
Elisa makro untuk evaluasi tindak lanjut masih memerlukan
penelitian lebih lanjut.
KESIMPULAN
Penentuan kadar IgG spesifik pada Elisa makro menunjuk-
kan:
1) Kadar IgG spesifik pada kelompok dengan biakan positif
lebih rendah dibanding kadar IgG spesifik pada kelompok de-
ngan biakan negatif (p <0,05).
2) Perubahan batas atas nilai rujukan dengan memperhitung-
kan CV dan pemakaian rumus cut off = mean + 3 SD ternyata
tidak mempengaruhi sensitifitas (nilai diagnostik) dan uji Elisa
makro (p > 0,05).
KEPUSTAKAAN
1. Handojo I. Uji Peroksidase-Antiperoksidase (PAP pada Penyakit Tu-
berkulosis Paru (Disertation) Surabaya, Indonesia: Universitas Airlangga
Surabaya, 1988. 213 p.
2. Ditjen P3M Depkes RI. Rencana Induk Pemberantasan Penyakit Tu
berkulosis Paru di Indonesia. Surabaya; Konggres PPTI ke III, September
1984.47ญ69.
3. Handojo RA. Review Hasil-hasil Penelitian mengenai Tuberkulosis Paru.
Laporan kepada Kepala Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan,
Depkes RI. Balai Pemberantasan Penyakit Paru-paru (BP4) Malang 1978.
4. Koneman EW dkk. Color Atlas and Textbook of Diagnostic Micro
biology. 3rd ed. JB Lippincott Co USA 1988 535ฐ572.
5. Anik W, Handoyo I. Nilai Diagnostik Uji Elisa Makro pada Penyakit
Tuberkulosis Paru (Kaiya akhir di bagian Patologi Klinik FK) Surabaya,
Indonesia: Universitas Airlangga Surabaya, 1990.
6. Handoyo I, Anik W. Nilai Klinis Uji Elisa Makro pada Penyakit Tu-
berkulosis Paru. Cermin Dunia Kedokt 1993; 88: 45ญ48.
7. Sutrisno Hadi. Statistik Jilid 2. 9th ed. Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi UGM Jogyakarta 1987 256ญ284.
8. Sidney Siegel. Statistik Non Parametrik untuk ilmu-ilmu sosial. 2nd ed.
Gramedia Jakarta Indonesia 1986 : 77ญ81.
9. Chaparas SD. Immunity in Tuberculosis. Bull WHO 1982; 60(4): 447ญ
462.
10. Bhattacharya A, Ranadive SN, Kale M, Bhattacharya S. Antibody-Based
Enzyme-Linked Immunosorbent Assay for Determination of Immune
Complexes in Clinical Tuberculosis. Am Rev Respir Dis; 134: 205ญ209.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 29