TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Penyakit Hati pada Kehamilan
A.B. Wardoyo, DSPD
Semarang
PENDAHULUAN
Penyakit hati jarang terjadi pada wanita hamil. Ikterus pada
kehamilan timbul pada kira-kira 1 dan 1.500 kehamilan atau
0,067%
(1-4)
.
Ikterus pada kehamilan dapat disebabkan karena
(1)
:
A) Ikterus yang terjadi karena kehamilan :
1) Perlemakan hati akut.
2) Toksemia.
3) Kolestasis intrahepatik.
4) Hiperemesis gravidarum.
B) Ikterus yang terjadi bersama kehamilan :
1) Hepatitis virus.
2) Batu empedu.
3) Pemakaian obat-obatan hepatotoksik.
4) Sirosis hati.
Kira-kira 41% ikterus pada kehamilan disebabkan karena
hepatitis virus, 21% karena kolestasis intrahepatik dan 6% ka-
rena batu empedu, sedangkan penyebab lainnya Ieb jarang
ditemukan
(1,3)
.
Adanya ikterus pada kehamilan dapat menyebabkan terjadi
nya prematuritas, dan ini terjadi pada sekitar 20% dan ibu yang
ikterus; meskipun demikian prematuritas tidak berhubungan
dengan lamanya ikterus, kadar bilirubin serum, atau beratnya
gejala klinis; sedangkan kematian bayi tergantung dan derajat
prematuritasnya
(1)
.
Selanjutnya akan dibahas beberapa penyakit hati pada wa-
nita hamil.
FAAL HATI PADA KEHAMILAN NORMAL
Faal hati selama kehamilan normal dapat dikatakan tidak
berubah. Karena pengaruh kenaikan kadar estrogen, spider naevi
dan eritema palmaris dapat ditemukan pada kira-kira 60% wanita
hamil normal, kebanyakan pada wanita hamil berkulit putih dan
sedikit pada kulit berwarna. Kedua perubahan ini akan menghi-
lang dalam waktu 46 minggu setelah melahirkan
(1-4)
.
Hati yang normal biasanya tidak teraba selama kehamilan.
Hati yang teraba mungkin didasari karena penyakit hati atau
kegagalan jantung
(2,4)
.
Selama kehamilan kadar bilirubin serum biasanya normal,
pada sebagian kecil wanita hamil terdapat peningkatan bilirubin
yang ringan, tetapi dengan kadar total kurang dan 2 mg%, hal ini
mungkin karena peningkatan metabolisme hemoglobin
(2,3)
.
Enzim fosfatase alkali dalam serum kadarnya akan naik
secara lambat sampai bulan ke tujuh kehamilan dan akan naik
lebih cepat serta mencapai puncaknya pada bulan ke sembilan,
tetapi kadarnyajarang melebihi dua kali batas atas normal; pe-
ningkatan ini disebabkan karena produksi sinsisiotrofoblast di
plasenta. Kadar enzim ini akan kembali normal setelah 28
minggu post partum
(2,4)
.
Enzim-enzim lainnya, yaitu glutamic oxaloacetic transami-
nase (GOT), glutamic pyruvic transaminase (GPT), gamma
glutamyl transpeptidase (Gamma GT), serta 5-nucleotidase (5-
NT) kadarnya masih tetap normal selama masa kehamilan
(1,3,4)
.
Kadar protein total dalam serum jarang turun sampai di
bawah 6 g%, perubahan ini disebabkan karena penurunan relatif
kadar albumin serum akibat peningkatan volume plasma (dilusi)
selama kehamilan
(2,4,5)
. Globulin dalam serum akan meningkat
demikian juga fibrinogen. Dengan pemeriksaan elektroforesis,
tampak globulin alfa dan beta meningkat, sedangkan globulin
gama sedikit menurun
(1,3)
.
Kolesterol total serum kadarnya meningkat sejak bulan ke
empat kehamilan, mencapai puncaknya sekitar 250 mg% pada
bulan ke delapan, tetapi jarang melebihi 400 mg%
(4)
.
Pada sebagian kecil wanita hamil ekskresi bromsulphalein
(BSP) dapat sedikit terganggu pada trimester ketiga, yang akan
cepat normal kembali pada awal masa nifas
(1,3,4)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 21
Pemeriksaan biopsi hati pada wanita hamil yang normal
tidak menunjukkan kelainan histologik, atau kadang-kadang
hanya tampak perubahan minimal yang tidak spesifik berupa
perbedaan ukuran hepatosit, bertambah besarnya inti sd, infil-
trasi limfosit yang sangat ringan pada daerah portal serta pe-
ningkatan retikulum endoplasmik. Aliran darah ke hati biasanya
juga tidak mengalami perubahan yang berarti
(1)
.
PERLEMAKAN HATI AKUT
Perlemakan hati akut pada kehamilan (acute fatty liver of
pregnancy) pertama kali dilaporkan oleh Sheehan pada tahun
1940, disebut juga acute fatty metamorphosis of pregnancy atau
obstetric acute yellow atrophy
(3,4)
.
Penyakit ini jarang dijumpai
(3,4,6)
, dari laporan-laporan yang
ada, sampai tahun 1983 hanya baru ditemukan 100 kasus dengan
angka kematian maternal dan janin masing-masing sebesar 75%
dan 85%
(2)
.
Meskipun dapat mengenai semua umur, penyakit ini se-
bagian besar diderita oleh primigravida muda dan hampir selalu
dalam trimester akhir, terutama pada kehamilan antara 32 sam-
pai 40 minggu, tidak pernah timbul sebelum minggu ke tiga
puluh
(4,6,7)
.
Penyebab penyakit m masih belum diketahui
(6)
. Mungkin
disebabkan karena reaksi kepekaan berlebihan terhadap suatu zat
yang dihasilkan oleh kesatuan feto-p1asenta Malnutrisi diduga
mempermudah terjadinya penyakit ini
(1,3,8)
.
Kelainan morfologinya hampir mirip dengan kelainan pada
keracunan tetrasiklin dan sindrom Reye. Secara makroskopis
tampak hati mengecil, lunak dan berwarna kuning. Sedangkan
kelainan histologisnya berupa infiltrasi lemak intraseluler
(mikrovesikel) yang distribusinya sentrilobuler, kecuali hepato-
sit di daerah periportal yang biasanya masih tampak normal,juga
tidak didapatkan adanya tanda-tanda nekrosis maupun reaksi
inflamasi yang luas; infiltrasi lemak mungkin juga terlihat di
pankreas, ginjal, otak dan sumsum tulang
(2,6,7)
.
Penyakit ini onsetnya mendadak, gej ala klipis yang timbul
dapat berupa malaise, anoreksi, nausea, vomitus, nyeri epi-
gastrik, ikterus, hematemesis dan perdarahan lainnya, ensefalo-
pati hepatik dan gagal ginjal. Penyakit ini sering disertai dengan
pankreatitis akut dan kadang-kadang disertai juga dengan tok-
semia dan koagulasi intra vaskuler (DIC). Biasanya terjadi partus
prematur dan bayinya lahir mati, kematian ibu biasanya terjadi
pada hari ke tiga sampai empat minggu sejak onset, karena
hipoglikemi, ensefalopati, perdarahan, infeksi dan gagal gin-
jal
(1,2,4,6,7)
.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kenaikan kadar
bilirubin serum (biasanya di bawah 10 mg%), SGOT (biasanya
kurang dan 500 IU), fosfatase alkali, asam urat, amonia dan
ureum. Sedangkan kadar gula darah, albumin, kolesterol dan
protrombin akan menurun. Pada pemeriksaan darah tepi akan
didapatkan leukositosis dan trombositopenia
(1,2,6,7)
.
Diagnosis pasti berdasarkan hasil biopsi hati, tetapi hal ini
sering tidak dapat dilaksanakan karena adanya gangguan pem-
bekuan darah
(2)
. Diagnosis bandingnya adalah hepatitis fulmi-
nan, pankreatitis dan kolesistitis
(8)
.
Karenaetiologinya belumdiketahui, makapengobatan yang
diberikan bersifat suportif. Pengobatan ini secara umum sesuai
dengan pengobatan gagal hati dan ginjal. Di samping itu tim-
bulnya hipoglikemi dan gangguan pembekuan darah harus selalu
diwaspadai sehingga dapat segera dikoreksi
(1,2,7,8)
.
Penatalaksanaan obstetrik masih kontroversial
(1)
. Beberapa
penulis
(3,6)
menyatakan bahwa seksio sesar dini dengan anestesi
epidural adalah pilihan yang terbaik bagi harapan hidup ibu serta
janinnya, sedangkan penulis-penulis lain
(4,7)
menyatakan bahwa
tindakan pengakhiran kehamilan tersebut tidak berpengaruh
terhadap prognosis ibunya.
Berdasarkan pengamatan lebih lanjut, ternyata penyakit ini
tidak terulang lagi pada kehamilan berikutnya
(7)
.
TOKSEMIA GRAVIDARUM
Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaik-
an kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum, sedang-
kan ikterusjarang timbul, hanya terjadi pada keadaan berat, yaitu
karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan
nekrosis hati
(1,8)
.
Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin
dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan
serta nekrosis, sedangkan tanda-tanda mnflamasi tidak ada
(3,4)
.
Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan
keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas;
meskipunjarang terjadi, ruptur spontan hati yang mengakibatkan
perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan be-
dah darurat
(4,6,9)
.
Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan
faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum; terminasi keha-
milan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya
(3)
.
KOLESTASIS INTRAHEPATIK
Kolestasis intrahepatik pada kehamilan (intrahepatic chole-
stasis of pregnancy) sering disebutjuga dengan istilah idiopathic
cholestasis of pregnancy dan recurrent cholestasis of preg-
nancy
(1,4,9)
.
Insiden penyakit ini berkisar antara 1/100 sampai 1/10.000
kehamilan, relatif lebih banyak terdapat di Scandinavia dan
Chile, mungkin karena adanya variasi geografik
(3,6)
.
Penyakit ini biasanya terjadi pada trimester akhir, tetapi
dapat juga terjadi pada awal kehamilan. Penyebabnya belum
diketahui, mungkin disebabkan karena gangguan metabolisme
estrogen; hal ini dihubungkan dengan kejadian ikterus pada
wanita pemakai obat kontrasepsi oral, penderita yang pada waktu
hamil menderita kolestasis akan menderita gejala yang sama bila
minum pil kontrasepsi. Faktorgenetik tampaknya juga berperan,
50% penderita mempunyai keluarga dekat dengan riwayat pe-
nyakit yang sama
(1,2,4)
.
Pruritus yang kadang-kadang sangat berat adalah keluhan
utama dan gejala klinis yang sering timbul paling awal, akibat
kenaikan kadar asam empedu dalam serum. Pruritus dirasakan di
seluruh tubuh dan biasanya bertambah berat pada malam dan dini
hari
(2,4,6)
.
Pada keadaan ringan, pruritus mungkin tidak disertai dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
22
ikterus
(1,3)
. Bila keadaan terus berkembang, maka kira-kira 1
minggu setelah timbulnya pruritus akan tampak adanya ikterus,
urine berwarna seperti air teh dan tinja kadang-kadang berwarna
agak pucak
(2,6)
. Ikterus biasanya ringan, menetap sampai
melahirkan dan menghilang 12 minggu setelah melahirkan
(1,4)
.
Gejala klinis Iainnya adalah malaise, nausea, vomitus dan
nyeri epigastrik. Hati serta limpa biasanya tidak teraba
(3,6)
.
Kadar bilirubin direk biasanya naik, tapi umumnya kurang
dari 56 mg%, demikian pula halnya dengan kadar transaminase
(34 kali normal), fosfatase alkali (2 kali normal), gamma GT
dan asam empedu (10100 kali normal) dalam serum, sedangkan
waktu protrombin akan memanjang
(2,3,4,6)
.
Pada pemeriksaan histopatologis hati, tampak gambaran
kolestasis sentrilobuler ringan di sekitar vena sentralis tanpa
tanda-tanda reaksi inflamasi dan nekrosis sel hati; kanalikuli
empedu mengandung banyak pigmen empedu dan sedikit me-
lebar
(3,4,9)
.
Tidak ada pengobatan dan perawatan khusus untuk penyakit
ini. Antihistamin atau kolestiramin (1224 g/hari) untuk meng-
ikat garam empedu dapat mengurangi pruritus; vitamin K (10
mg/hari) dapat diberikan bila terjadi perpanjangan waktu pro-
trombin, dan untuk mencegah perdarahan post partum
(1,6)
.
Menurut beberapa peneliti, seperti yang dikutip oleh Douvas
dkk
(2)
dan Miller
(3)
, induksi persalinan perlu dipertimbangkan
setelah kehamilan 37 minggu, mengingat makin tingginya ke-
mungkinan fetal distress dan kematian perinatal.
Penyakit ini akan timbul lagi pada kehamilan yang berikut
nya
(9)
.
HIPEREMESIS GRAVIDARUM
Nausea dan vomitus adalah gejala klinis hiperemesis gravi
darum, biasanya terjadi pada kehamilan bulan ke dua sampai ke
empat, muntah-muntah yang hebat akan menyebabkan
dehidrasi, asidosis karena kelaparan, alkalosis karena
kehilangan asam hidroklorik dan hipoka1emia
(9)
.
Penyakit ini dapat menyebabkan peningkatan kadar
transaminase, retensi BSP, infiltrasi lemak pada hati, ikterus
jarang terjadi dan biasanya ringan
(6,8,9)
.
Semua kelainan pada hati tersebut akan normal kembali
dengan memperbaiki keseimbangan cairan, elektrolit dan asam
basa tubuh
(9)
.
HEPATITIS VIRUS
Hepatitis virus (HV) adalah penyebab ikterus yang ter-
banyak pada wanita hamil, kira-kira 41%
(1,3,4,6)
. Pada wanita
hamil kemungkinan untuk terkena HV sama dengan wanita tidak
hamil pada usia yang samadan dapat terjadi pada semua trimester
kehamilan
(1,10,11)
.
Di Kashmir India (1978) insidens HV pada wanita hamil
sebesar 16,82%, timbulnya pada trimester pertama, ke dua dan
ke tiga masing-masing sebesar 8,3%; 4 1,7% dan 50%
(10)
. Di RS
Dr. Kariadi Semarang tahun 19821986, insidens HV pada
wanita hamil sebesar 6,85%, ditemukan 10,5% pada trimester
pertama; 23,7% pada trimester ke dua dan 65,8% pada trimester
ke tiga
(12)
.
Dalam hal penyebabnya, Hieber dkk
(11)
di Dallas Amerika
Serikat tahun 19701974 mendapatkan virus hepatitis (VH) B
sebesar 40% dan VH non B sebesar 60% sebagai penyebab HV
pada wanita hamil. Sedangkan Pratiknyo
(12)
menemukan bahwa
HV pada wanita hamil 45,4% karena infeksi VHB dan 54,6%
karena VH non B.
Semula disangka bahwa infeksi VH selama kehamilan lebih
berat dibanding wanita yang tidak hamil. Namun bukti-bukti se-
lanjutnya membantah pendapat tersebut. Tampaknya keadaan
nutnisi yang mempengaruhi prognosis ibu hamil tersebut
(1,3,4,13)
.
HV yang terjadi pada trimester ke tiga gejalanya relatif lebih
berat dan gejala yang timbul pada trimester sebelumnya maupun
pada wanita yang tidak hamil. Pada trimester inilah nekrosis hati
akut dengan gejala hepatitis fulminan sering terjadi sehingga
menimbulkan mortalitas ibu yang sangat tinggi. Gizi yang buruk,
khususnya defisiensi faktor lipotropik, disertai dengan pening-
katan kebutuhan protein untuk pertumbuhan janin, menyebab-
kan gejala infeksi VH pada kehamilan lebih berat
(1,3,4,13)
.
Dari beberapa laporan yang ada, Douvas dkk
(2)
tidak me-
nemukan adanya kenaikan yang bermakna dalam hal terjadinya
abortus, kelahiran mati, retardasi pertumbuhan intrauterin dan
malformasi kongenital akibat infeksi VH. Sedangkan kelahiran
prematur naik antara 1535% lebih tinggi daripada wanita hamil
yang tidak terkena HV. Prematunitas ini mungkin disebabkan
karena keadaan penyakitnya yang berat atau karena pengaruh
virus pada janin atau plasenta, atau mungkin juga karena ikterus.
Ada suatu pendapat yang menyatakan bahwa kenaikan kadar
asam empedu dan asam lemak bebas bersama dengan timbulnya
ikterus, dapat menaikkan tonus uterus dan memulai persalinan.
Persoalan yang banyak dibicarakan saat ini adalah penu-
laran VHB dan ibu terhadap bayinya. Penularan infeksi VHB
dan ibu dengan HBsAg (+) kepada bayi yang dilahirkannya
disebut sebagai cara penularan ventikal. Sebagian besar penu-
laran vertikal terjadi pada saat kelahinan karena banyaknya lesi
kulit bayi akan merupakan tempat masuknya pārtikel VHB yang
berasal dari darah ibu ke dalam tubuh bayi; cara penularan ini
disebut sebagai cara penularan perinatal atau penularan mater-
nal-neonatal. Sebagian kecil penularan vertikal terjadi dalam
kandungan atau penularan in utero, atau penulanan transplasen-
tal
(14)
.
Pada penularan perinatal dari ibu yang menderita HVB akut
agaknya periode umur kehamilan memegang penanan yang
penting; jika infeksi terjadi pada 2 trimester pertama, maka pe-
nularan jarang terjadi, hanya kurang dari 10%, sedangkan jika
terjadi pada trimester ke tiga, maka penularannya menjadi lebih
sering, sampai mencapai 76%
(15)
.
Penularan perinatal ini merupakan masalah yang besar di
negara-negara dengan prevalensi HBeAg yang tinggi. Jika pada
ibu hamil dengan HBsAg (+) dan HBeAg (+), maka kemungkin-
an bayinya akan kejangkitan infeksi sebesar 90%, tetapi jika
HBeAg-nya () atau anti HBe-nya (+), maka daya penularannya
menjadi hanya 4%. Adanya HBeAg pada ibu memegang peranan
penting untuk penularan terhadap bayinya
(14,15)
. Kekerapan pe-
nularan yang selalu tinggi pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh
ibu-ibu yang menderita HVB akut mungkin karena semua kasus
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 23
mengandung HBeAg pada permulaan perjalanan penyakitnya
(15)
.
Gejala klinis, gambaran laboratoris dan histopatologis serta
penatalaksanaan HV pada.wanita hamil tidak berbeda dengan
HV pada umumnya
(1,4,10)
, berupa anoreksia, nausea, vomitus,
malaise, kadang-kadang nyeri otot, demam ringan, ikterus, nyeri
perut kanan atas dan hepotomegali
(2)
.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kenaikan kadar
bilirubin serta transaminase serum. Gambaran histopatologisnya
berupa nekrosis sel hati sentrilobuler dengan infiltrasi sel radang
di daerah portal, sedangkan kerangka retikulum masih baik
(1)
.
Terjadinya hepatitis fulminan hans dipikirkan pada setiap
kasus HV akut dengan timbulnya tanda-tanda ensefalopati he-
patik pada fase akut. Kadar bilirubin serum akan naik secara
progresif, dengan kadar transaminase serum yang sangat tinggi
dan perpanj angan waktu protrombin
(14)
.
Penatalaksanaan secara konservatif merupakan terapi pilih-
an untuk penderita HV dengan kehamilan. Penderita hams tirah
baring di rumah sakit sampai gejala ikterusnya hilang dan kadar
bilirubin serum menjadi normal, makanan yang diberikan me-
ngandung kaya kalori dan protein. Obat-obatan yang hepatoksik
harus dihindari. Bila diduga akan terjadi perdarahan postpartum
karena defisiensi faktor pembekuan darah, maka perlu diberikan
vitamin K dan transfusi plasma. Keseimbangan cairan dan elek-
trolit juga harus diperhastikan
(2,3,4)
.
Apabila terdapat tanda-tanda yang menjurus ke arah hepati-
tis fulminan, diet penderita harus diganti dengan rendah atau
tanpa protein, juga dilakukan tindakan sterilisasi usus serta
tindakan suportif lainnya. Penggunaan kortikosteroid tidak ber-
manfaat. Prognosisnya buruk dengan angka kematian lebih dari
85%
(2,14)
.
BATU EMPEDU
Batu empedu 23 kali lebih banyak terdapat pada wanita
dibanding pria, khususnya pada usia di bawah 50 tahun
(1,9)
.
Dalam penelitian tentang kinetika kandung empedu selama
kehamilan, Braverman dkk, seperti yang dikutip oleh Pritchard
dkk
(9)
, menjumpai bahwa setelah trimester pertama volume
kandung empedu selama puasa dan volume residual setelah
kontraksi sebagai respons terhadap test makan, dua kali lebih
besar daripada wanita tidak hamil; pengosongan yang tidak
sempurna dapat menyebabkan retensi kristal-kristal kolesterol;
hal ini menyokong pendapat bahwa kehamilan meningkatkan
risiko batu empedu; diduga bahwa kadar progesteron yang
sangat tinggi pada trimester ke dua dan ke tiga bertanggung
jawab terhadap berkurangnya aktivitas kandung empedu.
Meskipun demikian ikterus karena batu empedu jarang ter-
jadi selama kehamilan, hanya kira-kira 6% dan penyebab ikterus
pada kehamilan
(1,2,3)
.
Gejala klinis dan penatalaksanaan kolesistitis akut karena
batu empedu pada wanita hamil tidak berbeda dengan pada
waktu tidak hamil. Jika diperlukan, kolesistektomi dapat di-
lakukan pada waktu yang optimal yaitu dalam trimester ke dua,
untuk mengurangi risiko abortus atau partus imatur, di samping
itu ukuran uterus belum terlalu besar, sehingga kurang meng-
ganggu teknik operasi
(2,3,9)
.
PEMAKAIAN OBAT-OBATAN HEPATOTOKSIK
Sama seperti wanita yang tidak hamil, pada wanita hamil
dapat terjadi hepatitis toksik karena pemakaian obat-obatan yang
dapat mengakibatkan kolestasis (Tabel 1).
Tabel 1. Obat-obatan yang Dapat Menyebabkan Kolestasis Intrahepa-
tik
(5)
Chlorpromazine
Methyltestosterone
Oral contraceptives
Arsphenamines
Sulfanilamide
Thiouracil
Neocinchophen
Indomethacin
Griseofulvin
Nitrofurantoin
Methimazole
Chlorpropamide
Tolbutamide
Chlordiazepoxide
Imipramine, desipramine
Meprobamate
Carbamazepine
Chlorothiazide
Phenindione
Pyribenzamine
Pemakaian obat-obat tersebut dapat menambah ikterus pada
bayi baru lahir, demikian juga pada pemakaian fenasetin, dapat
menyebabkan ikterus pada bayi yang menderita defisiensi enzim
G-6-PD
(1)
.
Ikterus pada hepatitis karena obat ini biasanya akan meng-
hilang setelah 36 minggu penghentian obatnya
(5)
.
SIROSIS HATI
Pengaruh hepatitis kronik aktif pada kehamilan tergantung
pada intensitas proses penyakitnya
(9)
. Peningkatan insidens in-
fertilitas dan komplikasi obstetrik selama kehamilan selaras
dengan berat penyakitnya
(2,9)
. Sedangkan kehamilannya sendiri
tidak memperburuk fungsi hati
(1)
.
Suatu pengamatan terhadap 37 penderita hepatitis kronik,
menemukan 17 di antaranya amenore dan 21 danpadanya tidak
dapat hamif; agaknya karena anovulasi. Dalam beberapa pene-
litian lainnya ditemukan mortalitas janin sebesar 1750%.
Sedangkan komplikasi obstetrik yang sering dijimpai adalah
toksemia dan yang lebih berat lagi adalab kegagalan faal hati
serta perdarahan post partum
(2)
.
Adanya hepatitis kronik aktif bukan merupakan indikasi
untuk tindakan abortus
(9)
. Pengobatan kortikosteroid dengan atau
tanpa azatioprin pada penderita hepatitis kronis selama keha-
milan dapat diteruskan. Dalam pengamatan Whelton dan Sher-
lock
(16)
pada 5 penderita hepatitis kronik aktif autoimun yang
mendapat kortikosteroid selama kehamilan, ternyata 3 orang
melahirkan secara normal, seorang dengan seksio sesar dan se-
orang lainnya mengalami abortus, sedangkan 4 bayi yang di-
lahirkan semuanya sehat.
Kehamilan pada penderita sirosis hati jarang terjadi karena
usia penderita yang biasa sudah lanjut dan karena sirosis hati
mengurangi kesuburan, yaitu sering menyebabkan amenore dan
siklus haid tanpa ovulasi
(1,4,9,16)
.
Menurut Cheng dan Schreyer, seperti yang dikutip oleh
Pritchard dkk
(9)
, kehamilan pada penderita sirosis hati akan
meninggikan angka kematian perinatal dan maternal; sedangkan
menurut Whelton serta Sherlock
(16)
, dari beberapa jenis sirosis
hati pada kehamilan, maka sirosis bilier mempunyai prognosis
yang tampaknya lebih baik di lainnya.
Pengelolaan penderita sirosis hati yang hamil tidak berbeda
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
24
dengan penderita yang tidak hamil. Persalinan spontan sebaik-
nya dipercepat dengan bantuan cunam untuk mengurangi ke-
naikan tekanan pada varises esofagus. Penggunaan anestesi
umum sedapat mungkin dihindari
(3)
.
LAIN-LAIN
Hanya sedikit diketahui tentang pengaruh kehamilan pada
penderita hiperbilirubinemia non-hemolitik familial. Pada
sindrom Dubin-Johnson dan Rotor, kehamilan cenderung
memperberat penyakitnya, sehingga dapat timbul ikterus yang
ringan. Sedangkan pada sindrom Gilbert, ikterusnya dapat ber-
kurang karena peningkatan enzim glukuronil transferase selama
kehamilan
(1,3)
.
Ada beberapa laporan tentang sindrom Budd-Chiari yang
terjadi pada kehamilan, dan seperti pada beberapa wanita pemakai
obat kontrasepsi oral, hiperkoagulasi karena pengaruh estrogen
mungkin sebagai penyebab penyakit ini. Prognosis terhadap ibu
dan bayinya kurang baik, meskipun pada sebagian besar kasus
biasanya timbul waktu post partum, sehingga tidak mempenga-
ruhi bayinya
(6)
.
RINGKASAN
Telah dibahas beberapa penyakit hati yang dapat timbul
pada wanita hamil.
Terjadinya ikterus pada wanita hamil dapat disebabkan ka-
rena proses kehamilan, seperti perlemakan hati akut, toksemia,
kolestasis intrahepatik dan hiperemesis gravidarum; dapat juga
terjadi bersama dengan suatu kehamilan, seperti hepatitis virus,
barn empedu, pemakaian obat-obatan hepatotoksik serta sirosis
hati.
Penyebab ikterus pada kehamilan yang terbanyak adalah
hepatitis virus, kemudian disusul berturut-turut dengan kolesta-
sis intrahepatik dan batu empedu.
Beberapa perubahan faal hati selama kehamilan perlu
diketahui, terutama pada trimester yang ke tiga, seperti pening-
katan fosfatase alkali, globulin dan kolesterol; serta penurunan
albumin.
KEPUSTAKAAN
1. Sherlock S. Diseases of the liver and biliary system. 6th ed. Oxford:
Blackwell Scientific Publications, 1981; 4005.
2. Dotivas SG, Meeks GR, Phillips O, Momson JC, Walker LA. Liver disease
in pregnancy. Obstetrical and Gynecological Survey 1983; 38: 8316.
3. Miller JP. Diseases of the liver and alimentary tract. Clin Obstet Gynecol
1977; 4: 297304.
4. Geall MG, Webb MJ. Liver disease in pregnancy. Med Clin North Am
1974; 58: 8 1722.
5. Bynum TE. Hepatic and gastrointestinal disorders in pregnancy. Med Clin
North Am 1977; 61: 12933.
6. Wright R. Liver disease in pregnancy. Medicine International 1986; 2:
12101.
7. MacKenna J, Pupkin M, Crenshaw C, McLeod M, Parker RT. Acute fatty
metamorphosis of the liver. Am J Obstet Gynecol 1977; 127: 4004.
8. MalikT.Jauadice in pregnancy. In: Hamdani SAR, ed. Symposium Liver
Disease. Bahawalpur: Hamdard Foundation Press, 1984; 125.
9. Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. Williams Obstetrics. 7th ed.
Connecticut: Appleton-Century-Crofts, 1986; 6115.
10. Khuroo MS, Teli MR, Skidmore S. Sofi MA, Khuroo MI. Incidence and
severity of viral hepatitis in pregnancy. Am J Med 1981; 70: 2525.
11. Hieber JP, Dalton D, Shorey J, Combes B. Hepatitis and pregnancy. J
Pediatr 1977; 91: 5459.
12. Pratiknyo P. Hepatitis virus pada kehamilan dan persalinan. Semarang:
Lab/UPF Obstetri dan Ginekologi FK UNDIP/RS Dr. Kariadi, 1988;
8192.
13. Cristie AB, Aref MK, Allam AA, El Muntasser IH, El Nageh M. Pregnancy
hepatitis in Libya. Lancet 1976; 16: 8279.
14. Suwignyo, Akbar N. Hepatitis virus B. Dalam: Soeparman, Sukaton U,
Daldiyono, Nelwan RHH, Ranakusuma ABS, Djoerban Z, dkk. eds. Ilmu
Penyakit Dalam jilid I edisi kedua. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 1987;
593601.
15. Sulaiman A. Virus hepatitis B sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler.
Jakarta: Infomedika 1990; 11521.
16. Whelton Ini. Sherlock S. Pregnancy in patients with hepatic cirrhosis.
Lancet 1986; 9: 9958.
Happiness grows at our fireside,
it is not to be picked up in strangers galleries
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 25