background image
HASIL PENELITIAN
Pengobatan Asma dengan Teofilin
Lepas Lambat Dosis Sekali Sehari
Dr. Tjandra Yoga Aditama., Dr. Hadlarto Mangunnegoro, Dr. Mukhtar Ikhsan
Unit Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
RS Persahabatan, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian menyilang pada 30 penderita asma bronkial untuk mem-
bandingkan efektivitas dan toleransi pemberian teofilin lepas lambat dosis sehari sekali
(Pirasmin Retard®) dengan teofilin biasa dosis empat kali sehari.
Kadar teofilin plasma diukur pada hari ke-7 setelah pemberian 4 x 150 mg; hari ke-
14 (7 hari setelah pemberian Pirasmin-Retard® dosis sehari sekali) dan hari ke-21 (14
hari setelah pemberian Pirasmin-Retard®). Perbandingan mean hari ke-7: hari ke-14 =
2.6 ± 6.2 mcg : 7.0 ± 7.7 mcg (p = 0.001), dan hari ke-7 : hari ke-21 = 2.9 ± 5.7 mcg :
7.3 ± 6.9 mcg (p < 0.001).
Dilakukan pemeriksaan dan analisis fungsi paru (FEy-i, FVC, PFR) dan keluhan
klinik (batuk, gangguan aktivitas, gangguan tidur dan mengi). Hasil ini menunjukkan
bahwa pemberian Pirasmin-Retard® (teofilin dosis sehari sekali) menghasilkan kadar
teofilin plasma yang lebih baik secara bermakna. Nilai-nilai fungsi paru FVC dan FEV
1.0
naik secara sangat bermakna namun tidak ada perbedaan bermakna antara kenaikan
kelompok A dan B.
PENDAHULUAN
Asma adalah gangguan inflamasi kronis jalan napas yang
melibatkan berbagai sel inflamasi, sehingga menimbulkan
gejala yang biasanya berhubungan dengan luasnya inflamasi,
obstruksi jalan napas yang reversibel baik secara spontan
maupun dengan pengobatan dan hiperaktivitas bronkus
terhadap berbagai rangsangan
(1)
.
Prevalensi penyakit ini kira-kira 2­4% dan seluruh pen-
duduk, berarti jumlah seluruh penderita ialah sekitar 3-5 juta
orang. Satu persen di antara mereka atau 30.000 orang me-
merlukan perawatan rumah sakit karena serangan asma berat.
Sepuluh persen memerlukan diagnosis dan pengobatan intensif
oleh karena keluhan yang hilang timbul
(2)
.
Penggolongan beratnya penyakit asma sangat diperlukan
untuk pengobatan yang adekuat; karena pengobatan asma
memiliki tahapan pendekatan; semakin berat asma semakin
meningkat tahapan pengobatannya. International Consensus
Report on Diagnosis and Treatment of Asthma (National Heart,
Lung and Blood Institute - NHLBI, 1992) menetapkan klasi-
fikasi asma berdasarkan derajat beratnya, sebagai berikut
(1)
:
(Tabel 1).
Di antara berbagai macam obat yang biasanya diberikan
kepada penderita asma adalah bronkodilator. Obat ini adalah
obat utama yang mengatasi obstruksi saluran napas. Tiga go-
longan bronkodilator adalah xanthin, simpatomimetik dan anti-
kolinergik.
Teofilin adalah derivat xanthin yang paling kuat efek bron-
kodilatornya dibandingkan derivat xanthin yang lain, tetapi
efek bronkodilatornya lebih lemah dibandingkan dengan
inhalasi beta-2 agonis. Teofilin dapat menurunkan bronkospasme
akibat beban kerja, juga dapat mengurangi hiperaktivitas
bronkus non spesifik, tetapi kedua efek ini kurang kuat diban-
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 21
background image
Tabel 1. Klasifikasi Asma menurut NHLBI, 1992
Derajat
Asma
Gambaran klinis
pra terapi
Fungsi Paru
Terapi
Ringan
Sedang
Berat
­ (Gejala intermiten,
singkat < 1­2 x
per minggu
­ Gejala asma malam
< 2 x per bulan
­ Asimptomatis di
antara 2 eksaserbasi
­ Eksaserbasi > 1­2 x
per
minggu
­ Gejala asma malam
>2 x per bulan
­ Membutuhkan
agonis B2 hampir
tiaphari
­ Sering eksaserbasi
­ Gejala terus menerus
­ Gejala asma malam
sering
­ Kegiatan fisik ter­
hambat
­ Pernah dirawat
­ Pernah serangan
membahayakan
­ APE> 80%
­ Variasi APE <20%
­ APE normal pasca
bronkodilator
­ PC20>20 mg/ml
­ APE 60­80%
­ Variasi APE 20­
30%
­ APE normal pasca
bronkodilator
­ PC2 2­20 mg/ml
­ APE < 60%
­ Variasi APE > 30%
­ APE di bawah
normal
dengan
terapi
optimal
­ PC20 < 2mg/ml
­ Agonis B2
kalau
perlu
­ Obat anti
inflamasi
harian
­ Bronkodilator
mungkin
harian
­ Antlinflamasi
­ Bronkodilator
harian
­ Sering butuh
steroid
sistemik
Catatan : Kriteria tidak sangat mutlak, selalu dapat terjadi overlapping, setiap
pasien
dapat
saja
berpindah
ke derajat yang lebih ringan atau lebih
berat.
dingkan dengan inhalasi beta-2 agonis. Teofilin juga mengham-
bat degranulasi sel mast dengan akibat mencegah penglepasan
mediator yang dapat menimbulkan bronkospasme dan inflamasi
saluran napas. Selain itu teofilin meningkatkan kontraktilitas
diafragma
(3,4)
. Pemakaian teofilin dengan bronkodilator lain
bersifat aditif. Efek terapeutik dicapai dengan kadar obat dalam
serum antara 10­20 mcg/ml.
Teofilin mempunyai efek bronkodilator yang erat
kaitannya dengan konsentrasi dalam serum. Efek samping
teofilin dapat ditekan dengan memantau kadar teofilin dalam
serum terutama padapengobatan jangka panjang. Efek samping
teofilin antara lain mual, muntah, kejang, takikardi dan aritmia.
Karena efek samping ini dan efek bronkodilatasi yang lebih
inferior dibandingkan beta-2 agonis, maka pada pengobatan
asma, teofilin merupakan pilihan ketiga setelah beta-2 agonis
dan steroid inhalasi
(3,4)
.
Guna meningkatkan toleransi penderita, maka kini telah
diperkenalkan suatu sediaan teofilin lepas lambat untuk peng-
obatan pemeliharaan pada penderita asma dan PPOM. Telah
dikembangkan sediaan lepas lambat yang dapat menurunkan
dosis harian menjadi satu atau dua kali sehari
(5)
. Sediaan ini
merupakan teofilin anhidrous sebagai mikrogranul berlapis;
keaslian formulasi ini terletak pada kinetika pelepasannya yang
memungkinkan dosis sehari sekali
(6)
.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bentuk sediaan ini
maka kami melakukan penelitian dengan salah satu merk dagang
teofilin lepas lambat dosis sehari sekali (Pirasmin Retard®).
Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan kadar teofilin
plasma setelah pemberian teofilin lepas lambat dosis sehari
sekali, dengan teofilin biasa dosis 4 kali sehari serta menilai
manfaat klinik dan toleransinya.
BAHAN DAN CARA KERJA
Subyek yang dipilih adalah penderita asma stabil, laki-laki
maupun perempuan yang berobat jalan di Poli Asma RS Per-
sahabatan, berumur 16-55 tahun dan bersedia ikut dalam pene-
litian. Tidak diikutsertakan dalam penelitian bila penderita
sedang dalam pengobatan dengan eritromisin, troleandromisin,
simetidin atau barbiturat, alergi terhadap derivat xantin, sedang
hamil atau menyusui atau menderita penyakit paru lain yang
dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Setelah masuk kriteria, maka pada minggu ke I penderita
diberi pengobatan dengan teofilin dosis biasa 3­4 kali sehari
dengan atau tanpa beta-2 agonis. Pada minggu II penderita diberi
teofilin lepas lambat dosis sehari sekali 10 mg/kg bb. Pada
minggu ke III penderita mendapat teofilin iepas lambat sehari
sekali dengan dosis yang disesuaikan (tergantung penilaian klinis
dan spirometri). Selama mendapat pengobatan penderita di-
haruskan mengisi kartu harian yang berisi keluhan subyektif
dan PFR pagi-sore. Pemeriksaan spirometri dilakukan sebelum
pemberian obat, akhir pengobatan minggu ke I, II, dan III.
HASIL DAN DISKUSI
Telah diteliti sebanyak 28 penderita asma berusia antara
16-48 tahun terdiri dan 10 penderita laki-laki dan 18 penderita
perempuan.
Kadar Teofilin
Dari gambar 1 terlihat bahwa pada hari ke-7 kadar teofilin
rata-rata (X) adalah 2.6 ± 6.2 mcg, sedangkan pada hari ke-14
kadarnya adalah 7.0 ± 7.7 mcg/ml. Kedua data ini secara
statistik berbeda bermakna (p = 0.001). Kadar teofilin rata-rata
(X) pada hari ke-21 adalah 7.3±6.9 mcg/ml. Dibandingkan
dengan kadar teofilin rata-rata ( X) pada hari ke-7 adalah
berbeda sangat bermakna (p < 0.00 1).
Theophylline x Pirasmln.Ret®
Theophylline Conce
Statistics : Paired T-Test
Gambar 1. Perbandlngan kadar teofilin hari ke-7 dengan hari ke-14 dan
hari
ke-7
dengan
hari
ke-21.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
22
background image
Dari gambar 2 terlihat bahwa pada hari ke-7 (dengan
teofilin dosis biasa) kadar teofilin hanya dapat diukur pada
50% penderita sedangkan pada 50% penderita lainnya kadamya
ada Iah low level. Sementara itu pada hari ke-14 dan ke-21
(dengan teofilin dosis sehari sekali) kadar teofilin dapat diukur
masing-masing pada 79% dan 82% kasus.
Theophylline Level
Gambar 2. Persentase kadar teotilin yang dapat diukur pada hari ke ke-
l4 dan ke-21.
Fungsi Paru
Pada gambar 3 terlihat perbandingan hasil pengukuran
fungsi paru (FEV. 1, FVC, PFR pagi dan PFR sore) pada hari
ke-7 dan ke-14 yang berbeda tidak bermakna. Demikian juga
pada gambar 4, perbandingan fungsi paru pada hari ke-7
dengan ke-21 yang berbeda tidak bermakna.
Theophyiline x Pirasmin-Ret®
Clinical Symptoms
Gambar 3. Perbandingan fungsi paru pada hari ke-7 dengan hari ke-14.
Theophylline x P1 rasm in-Ret®
Clinical Symptoms
Gambar 4. Perbandingan fungsi paru pada hari ke-7 dengan hari ke-21.
Keluhan Subyektif
Dari tabel 2 terlihat bahwa keluhan batuk pada hari ke-7, ke-
14 dan hari ke-21 adalah berbeda tidak bermakna (p= 0.3977303).
Dari tabel 3 terlihat bahwa gangguan tidur pada hari ke-7, ke-14
dan hari ke-21 adalah berbeda tidak bermakna (p = 0.5 125076).
Dan label 4 terlihat bahwa aktivitas sehari-hari pada hari ke-7,
hari ke-14 dan hari ke-21 adalah berbeda tidak bermakna (p =
0.1545945). Sedangkan dari tabel 5 terlihat bahwa perbandingan
mengi pada hari-7, hari ke-14 dan hari ke-21 juga berbeda tidak
bermakna (p = 0.334785 1).
Tabel 2. Perbandingan keluhan batuk pada hari ke-7, hari ke-14 dan
hari ke-21
Chi-Square Test
Cough
1 ­ 1.9
2.0 ­ 2.9
3 - 4
Day-7
Day-14
Day-21
12
10
12
12
13
9
3
4
0
Chi-Square = 4.061625
P = .3977303
Tabel 2. Perbandingan gangguan tidur pada hari ke-7, hari ke-14 dan
hari ke-21
Chi-Square Test
Sleep
1 ­ 1.9
2.0 ­ 2.9
3 - 4
Day-7
Day-14
Day-21
19
19
16
8
8
4
0
0
1
Chi-Square = 3.277484
p = .55125076
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 23
background image
Tabel 3. Perbandingan gangguan aktivitas pada hari ke-7, hari ke-14
dan
hari
ke-21
Chi-Square Test
Aktivity
1 ­ 1.9
2.0 ­ 2.9
3 - 4
Day-7
Day-14
Day-21
20
22
20
7
5
1
Chi-Square = 3.7339
P = .1545945
Tabel 2. Perbandingan mengi pada hari ke-7, hari ke-14 dan hari ke-21
Chi-Square Test
Wheezing
1 ­ 1.9
2.0 ­ 2.9
3 - 4
Day-7
Day-14
Day-21
21
17
16
6
10
4
Chi-Square = 2.188532
p = .3347851
PEMBICARAAN
Penelitian kami menunjukkan bahwa kadar teofilin efektif
di plasma dapat tercapai dengan menggunakan sediaan lepas
lambat dosis sehari sekali. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh
Dargent dan Yernault yang menunjukkan bahwa dengan penilai-
an dosis yang hati-hati dan pemantauan kadar teoflim plasma,
kadar teofilin yang stabil dapat diperoleh pada sebagian besar
penderita dengan dosis tunggal pada waktu siang (dikutip dari 5).
Penelitian lain menunjukkan bahwa kadar teofilin plasma
yang stabil antara 8­20 ug/ml didapatkan pada sebagian besar
penderita yang mendapat dosis tunggal sediaan lepas lambat
Theo-1. Hal ini menyamai efektivitas infus aminofilin pada
asma stabil
(6)
.
Faktor yang penting pada sediaan lepas lambat adalah
bahwa ia harus mempunyai absorpsi yang baik setelah puasa
semalam dan setelah makan banyak, mempunyai kemampuan
lepas lambat yang baik serta secara adekuat dapat mencapai
tempat kerja dalam hal ini saluran napas
(5)
. Penelitian oleh
Kisicki dan Hulse menunjukkan bahwa makanan tidak mem-
punyai akibat yang bermakna pada kecepatan absorpsi maupun
eliminasinya
(7)
.
Dari pengukuran fungsi paru maupun keluhan penderita
didapatkan perbedaan yang tidak bermakna, baik menggunakan
teofilin lepas lambat maupun teofilin biasa. Hal ini sesuai
dengan penelitian oleh Dargent dan Yernault yang dalam
penelitiannya tidak mendapatkan perbedaan
(5)
.
KESIMPULAN
1) Teofilin lepas lambat dosis sehari sekali dapat menghasilkan
kadar teofilin dosis terapeutik efektif dalam darah.
2) Teofilin lepas lambat dosis sehari sekali adalah efektif dan
dapat ditoleransi dengan baik.
Ucapan Terimakasih
Terimakasih kepada PT Carlo Erba Farmitalia lndonesia yang telah
memungkinkan penelitian ini terlaksana.
KEPUSTAKAAN
1. International consensus report on diagnosis and treatment of asthma.
National Heart, Lung and Blood Institute. Eur Respir 31992; 5:601-641.
2. Mangunnegoro H. Penyakit paru di Indonesia dan penanggulangannya.
Dalam: Yunus F, Rasmin M, Hudoyo A, dkk (Ed). Pulmonologi Klinik.
Bag. Paru/FKUI, 1992; 3-8.
3. Crompton GK. Bronchial asthma. In: Diagnosis and management of
respiratory disease. Oxford: Blackwell Scient Publ 1980; 45­62.
4. Weinberger M. Treatment. In: Managing asthma. Baltimore: Williams &
Wilkins 1990; 53­185.
5. Coffiner M. A Review of clinical and phannacokinetic studies of a new
ultrasustained released once-a-day theophylline product. ActaTherapeutica
1991; 17: 3­9.
6. Dargent F, Yernault JC. Study of tolerance of Theo-1 in patients with
airways obstructions (Asthma and Chronic Obstructive Pulmonaiy
Disease). In: A review of clinical and pharmacokinetic studies of a new
ultrasustained released once-a-day theophylline product. Acts Therapeutica
1991; 17: 23­35.
7. Kisicki JC. Hulse JD. An Evaluation of the effect of food on the
bioavailabithy of Theo-1 ,In: A review of clinical and pharmacokinetic
studies of a new ultra-sustained released once-a-day theophylline product.
ActaTherapeutica 1991; 17: 811­93.
Our lives are more governed by fortune than by reason
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
24