background image
Pengendalian Infeksi Nosokomial
di RSU Bekasi
Dean Wahjudy Satyaputra
Panitia Pemantauan Infeksi Nosokomial Rumah Sakit Umum Kabupaten DT. II Bekasi, Jawa Barat
PENDAHULUAN
Tujuan umum Rumah Sakit Tipe C adalah peningkatan dan
pemantapan pelaksanaan upaya kesehatan yang bersifat pe-
nyembuhan serta pemulihan pasien. Khususnya bagi pasien
yang memerrukan rujukan di daerah. Mengingat tujuan di atas,
sangat disayangkan bila justru pasien atau pengunjung yang
datang ke Rumah Sakit menjadi sakit karena mendapatkan
infeksi yaitu Infeksi Nosokomial.
Nosokomial berasal dari kata Nosos = penyakit dan
Komeo = merawat; Nosokomion berarti tempat untuk merawat/
rumah sakit. Jadi Infeksi Nosokomial dapat diartikan infeksi
yang berasal atau terjadi di Rumah Sakit.
Infeksi Nosokomial dapat membebani kita semua, ter-
mama pasien dapat menyebabkan bertambah tingginya biaya
perawatan karena waktu rawat nginap dan pengobatannya yang
memanjang. Selain itu Infeksi Nosokomial juga dapat menye-
babkan kematian.
Bila menyimak gambaran kejadian Infeksi Nosokomial, di
Indonesia angkanya masih beragam dan masih sulit untuk men-
dapatkan angka yang pasti.
Di RSU Bekasi sendiri, berdasarkan surveilans IN Luka
Operasi (ILO) selama 3 bulan tahun 1991 didapatkan angka
yang cukup tinggi, sehingga harus mulai dilakukan "pengen-
dalian" dengan seksama.
"Panitia Pengendalian IN" di RSU Bekasi dibentuk pada
tahun 1990. Tugasnya mengendalikan masalah-masalah yang
berkaitan dengan infeksi nosokomial. Dalam usia yang relatif
muda (2 tahun), belum banyak yang dilakukan mengingat ke-
terbatasan-keterbatasan yang dijumpai; tetapi usaha pengen-
dalian tetap berjalan secara bertahap dengan menyesuaikan
langkahnya sesuai situasi dan kondisi yang ada. Diharapkan apa
yang telah dilakukan panitia bisa menjadi basis dalam usaha
pengendalian infeksi nosokomial di RSU Bekasi di masa-masa
mendatang.
MENGENAI RUMAH SAKIT UMUM (TIPE C) KABU-
PATEN DAERAH TINGKAT II BEKASI
Sejarah
Awal dari RS Bekasi bermula pada tahun 1939. Pada saat
itu masih berupa poliklinik saja dengan sarana yang sangat
minim yaitu berupa kamar periksa, kamar suntik dan 1 kamar
balut. Setelah kemerdekaan RI, poliklinik Bekasi mengalami
perubahan menjadi RS Pembantu dengan adanya penambahan
ruapg perawatan pasien. Pada tahun 1956, sejalan dengan per-
ubahan status Bekasi dari Kewedanaan menjadi Kabupaten,
Rumah Sakit Pembantu diubah menjadi Rumah Sakit Umum.
Walaupun begitu ketenagaan dokter masih bersifat part timer
yang datang 2 x dalam seminggu.
Pada tahun 1979, dengan SK. Men.Kes. RI No. 151/
Men.Kes/SK/II/79 RSU Bekasi ditetapkan sebagai RS tipe C,
yang melaksanakan 4 bidang spesialis dasar.
Kondisi saat ini
Saat ini RS Bekasi yang terletak di jantung kota Kabupaten
Bekasi dan berjarak ± 15 menit perjalanan ke arah timur d
Ibukota Jakarta, mempunyai luas bangunan keseluruhan ± 6270
m
2
dari 10.000 m
2
lahan yang ada.
Pelayanan yang dilakukan meliputi : ­ Pelayanan gawat
darurat 24 jam; ­ Poliklinik spesialis (9 bidang spesialis); ­ Pe-
layanan penunjang berupa Radiologi, Laboratorium dan lain-
lain; ­ Pelayanan rawat nginap berkapasitas 171 tempat tidur.
Ketenagaan yang ada sampai akhir tahun 1991 seluruhnya
308 orang, bila dikelompokkan berdacarkan jenis keahlian ter-
diri dari 17 dokter ahli, 17 dokter umum, 4 dokter gigi dan lain
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
18
background image
sebagainya. Jumlah tenaga yang telah mendapat Pelatihan Pe-
ngendalian Infeksi Nosokomial berjumlah 2 orang dokter dan 2
orang paramedis.
Berdasarkan data yang diambil dari laporan RSU Bekasi
tahun 1991 kami mencatat :
­
Jumlah kunjungan pasien rawat jalan sebanyak 96.549 orang.
­
Rata-rata BOR sebesar 70,67%, rata-rata LOS = 3,96 hari.
­
Lima penyakit utama yang ditemukan di rawat jalan adalah :
1. TBC, 2. Common cold, 3. Tonsilitis, 4. Diare dan gastroente-
ritis, 5. Penyakit mata dan adnexanya. Yang ditemukan di rawat
nginap : 1. Demam tifoid/sebab lain, 2. Diare dan gastroenteritis,
3. Penyakit saluran nafas, 4. Trauma kepala, 5. Penyakit saluran
cema lainnya. Kenyataan bahwa penyakit infeksi masih tinggi
kejadiannya di Rumah Sakit Bekasi.
PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL RUMAH
SAKIT UMUM BEKASI
Infeksi Nosokomial sebetulnya bukan hal baru; sudah sejak
lama disadari oleh pewgas-petugas di lingkungan RS kami,
tetapi usaha yang dilakukan kurang terarah sehingga hasilnya
kurang memadai.
Pala bulan Oktober 1990, melalui SK Direktur No. 848/
2378/Kepeg dibentuklah Panitia Pengendali Infeksi Nosoko-
mial di RSU Kabupaten DT. II Bekasi, sebagai tindak lanjut
pelatihan PIN yang diselenggarakan di Bandung. Panitia itu
selanjutnya bertanggung jawab atas segala aspek yang mem-
pengaruhi terjadinya Infeksi Nosokomial termasuk usaha mem-
perkecil angka kejadian dan mencegah Infeksi Nosokomial di
Rumah sakit. Mengingat ruang lingkup kerja yang sangat luas,
Panitia yang dibentuk perlu terdiri dad semua unsur-unsur yang
ada di lingkungan Rumah sakit, baik UPF, Instalasi maupun
unsur-unsur lainnya. Kami juga melibatkan kepala ruangan se-
bagai anggota panitia karena disadari akan pentingnya peranan
perawat dalam usaha Pengendalian Infeksi Nosokomial.
Struktur kepanitiaan PIN seperti di atas dibuat dengan
mengadaptasi bentuk yang ada di RSHS, dengan memper-
timbangkan kondisi yang ada.
Sejak ditetapkan, panitia telah melakukan berbagai kegiat-
an sesuai dengan perencanaan yang dibuat, kegiatan tersebut
adalah :
·
Mempublikasikan Infeksi Nosokomial pada rapat koor-
dinasi di lingkungan RSU Bekasi.
·
Setiap bulan Direktur RS mengadakan rapat dengan semua
kepala UPF, Instalasi dan pejabat struktural lainnya. Pada ke-
sempatan ini, ketua PPIN mengemukakan informasi mengenai
PIN.
·
PHIN sendiri secara berkala mengadakan pertemuan untuk
membahas masalah-masalah IN.
·
Mempublikasikan IN pada kesempatan pelatihan proses
keperawatan bagi kalangan paramedis.
Perlu diketahui di RSU Bekasi sampai saat ini telah di-
lakukan 5 gelombang pelatihan proses keperawatan, yang
maksudnya untuk meningkatkan keterampilan tenaga perawat
RS. Di antara 50 jam materi yang diberikan 10% adalah tentang
STRUKTUR PIN DI RSU BEKASI
Keterangan :
PPIN : Panitia Pemantau IN.
­ tugasnya
membuat
kebijaksanaan
upaya
PIN.
­ anggotanya adalah waki! dari Unit-unit/unsur yang terkait.
PHIN : Panitia Harian IN.
­ diharapkan sebagai motor dari kegiatan PIN.
­ diketuai
oleh
tenaga
medis yang telah mendapatkan pelatihan PIN.
­ anggota lain adalah dari unsur keperawatan, sebab mereka yang
lebik erat kaitannya dengan perawatan.
TPIN : Tim Pengendali IN.
­ dipimpin oleh kepala perawatan dibantu kepala-kepala ruangan,
hal
ini
memudahkan
dalam pelaksanaan Surveilans.
Infeksi Nosokomial yang diberikan oleh dokter ataupun perawat
dari PHIN.
·
Bekerjasama dengan PKMRS dalam acara penyuluhan ke-
pada pengunjung/penunggu pasien tentang masalah-masalah
yang bersangkutan dengan terjadinya Infeksi Nosokomial.
Penyuluhan sekali seminggu dengan mated yang bervariasi.
Bagi pengunjung RS juga penyuluhan dilakukan melalui
papan informasi yang disediakan di ruangan tunggu poliklinik.
·
Mempersiapkan pedoman prosedur-prosedur tetap.
·
Melengkapi kebijaksanaan-kebijaksanaan umum Rumah
sakit, saat ini sedang dipersiapkan :
-
kebijaksanaan penggunaan antiseptik dan desinfektan,
-
kebijaksanaan isolasi ruang perawatan,
-
kebijaksanaan kamar operasi.
·
Memberikan usulan/kebijaksanaan atas hasil pemeriksaan
sampling lingkungan RS yang dilakukan setiap tahun.
·
Melakukan Surveilans IN. Luka Operasi (lampiran).
EVALUASI
Selama pelaksanaan kegiatan Pengendalian IN, panitia
masih menjumpai kendala-kendala, misalnya saja :
·
Informasi IN; di kalangan panitia sendiri masih belum
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 19
background image
seragam, agak sulit mengharapkan input/ide dari Unit/Instalasi
yang bersangkutan guna melaksanakan kegiatan PIN.
·
Masih diperlukan usaha memotivasi tenaga kesehatan
dalam pengendalian IN.
·
Panitia adalah tenaga-tenaga fungsional yang mempunyai
kesibukan sehingga kendala waktu sulit ditanggulangi; ada
pemikiran untuk mempersiapkan tenaga yang khusus berkon-
sentrasi pada pengendalian IN (ICN) yang dikaitkan dengan
kedudukan struktural di keperawatan, dengan demikian petugas
tersebut bisa mencurahkan perhatian sepenuhnya pada masalah
IN. Dipandang dari garis operasional juga bisa lebih terkendali.
·
Sistim informasi RS yang berjalan perlu ditingkatkan.
Untuk membuat suatu kebijaksanaan dalam Pengendalian
IN perlu dukungan data yang akurat dari berbagai unsur di RS;
sebagaimana diketahui permasalahan PIN begitu lu
g
s dan kom-
pleks.
·
Selama ini Pengendalian IN di RS Bekasi dititik beratkan
pada kegiatan yang tidak memerlukan banyak dana. Ada be-
berapa kondisi prasarana dan sarana yang kurang memadai;
padahal untuk memperbaiki/penyediaannya cukup mahal.
Dengan dukungan pimpinan dan staf RS diharapkan per-
timbangan PIN dapat dimasukkan ke dalam perencanaan RS
secara keseluruhan.
PENUTUP
Dari kenyataan yang ada, harus disadari bahwa Pengen-
dalian IN harus mulai dilaksanakan secara profesional. Keter-
libatan semua unsur sangat diperlukan, karena penyelenggaraan
Pengendalian IN harus dilaksanakan secara integratif dan lintas
program.
Di RSU Bekasi dengan segala kondisi yang ada, perhatian
pada Infeksi Nosokomial semakin besar. Kendala yang ada
dicoba tanggulangi dengan memperhatikan segi-segi lainnya.