PENDEKATAN PSIKOLOGI PADA BEBERAPA
PROBLEM
KEDOKTERAN
dr Makmuri Ms
Bagian Psikiatri
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
Yogyakarta.
SUMMARY
With the right psychological approach many medical
problems can be overcome. The doctor should be aware of
his own limitations and should treat the patient as a whole
human being and not merely as a case of a certain disease.
Finding the psychological basis of the patients complaints
followed by the appropiate therapeutic measures cannot be
considered a waste of time.
Therefore practical knowledge of some psychological factors
in certain medical and surgical cases mastered by the general
practioner will be very useful.
Jika kita membicarakan pendekatan psikologis dari ber-
bagai problema Kedokteran, kita harus menyadari adanya
pengertian dasar bahwa :
1 Antara psyche dan pisik itu merupakan satu kesatuan
yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sehingga setiap ter-
jadi problema mental pada individu pasti akan mempe-
ngaruhi effektivitas dari pisik dan juga sebaliknya
setiap terjadi perubahan kondisi pisik akan mempenga-
ruhi pula kondisi mentalnya walaupun tidak selalu da-
pat terlihat dari luar.
II Dokter sebagai individu dengan unsur-unsur kemanu-
siaan juga tidak dapat membebaskan diri dari berbagai
problema psikologis dalam menghadapi pasien-pasien-
nya.
III. Perlu dibina komunikasi yang lebih baik antara dokter
dengan penderita (memperhatikan faktor-faktor psi-
kologisnya) dalam menghadapi setiap kasus kedokteran.
Dengan ketiga dasar pengertian yang harus dimiliki oleh se-
tiap dokter secara hati nurani (tidak hanya sekedar diketahui
saja) dapatlah diharapkan hasil yang semaximal mungkin
dalam menangani kasus-kasus kedokteran, sehingga timbulnya
side effects yang merugikan kedua belah pihak dapat diper-
kecil.
Dokter harus menyadari batas-batas kemampuannya disamping
harus memperlakukan pasien sebagai manusia secara keselu-
ruhan yang harus ditolong, tidak hanya menolong penyakit-
nya saja.
Marilah kita bahas masalah-masalah tersebut diatas satu per-
satu agar kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
Kerapkali dirasakan lebih sukar menyembuhkan penyakit
dengan latar belakang psikologis (Neurosa ataupun gangguan
psikosomatik) daripada penyakit pisik yang murni.
Orang dengan penyakit pisik/organis biasanya merasa sedih
memikirkan penyakitnya, sehingga ia ingin lekas sembuh dan
membantu sepenuhnya nasehat-nasehat dokter.
Pada penyakit dengan latar belakang psikologis, bukanlah pe-
nyakit dalam arti sesungguhnya, yang timbulnya setiap kali
penderita dihadapkan dengan beberapa problem/konflik yang
menekan dan gejala-gejalanya disini justru sebagai usaha pe-
nyesuaian diri, sehingga secara tidak langsung .penderita se-
olah-olah mendapatkan keuntungan dari penyakitnya.
Penyakit ini justru melindungi penderita dari kesulitan-kesu-
litannya, bahkan mendapatkan keuntungan sekunder (secon-
dary gain) berupa perhatian, pelayanan istimewa dari famili,
dimaafkan kegagalannya dan dapat menghindari tanggung
jawabnya, sehingga secara tidak sadar sebetulnya penderita
tidak ingin disembuhkan dan akibatnya hanya sedikit saja
dia membantu perawatan dokter. Rupanya perawatan disini
merupakan perjuangan yang terus menerus antara dokter dan
penderita.
Jadi kelihatannya lebih mudah merawat penderita penyakit
pisik yang murni, asal jangan dilupakan saja bahwa penyakit
pisikpun diagnose dan penyembuhannya bisa diperlama oleh
faktor-faktor psikologis.
Maka disini dokter harus mengenal betul adanya fenomena
ini yang biasanya dapat dikategorikan sebagai berikut :
· Penderita dengan gejala-gejala pisik (keluhan-keluhan so-
matik) tapi penyebabnya adalah psikis.
· Penderita penyakit pisik yang gejala-gejalanya tertutup oleh
berbagai keluhan somatik yang berlatar belakang psikis
(dan hal ini akan menyulitkan diagnose).
· Penderita penyakit pisik yang penyembuhannya diperlama
oleh faktor psikis.
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap dokter waktu mengha-
dapi pasiennya sangat dipengaruhi oleh kondisi mentalnya sen-
diri pada waktu itu.
Dan biasanya yang terjadi adalah keadaan anxiety (= cemas)
yang berusaha ditekan begitu kuat oleh dokter yang bersang-
kutan dengan berbagai cara defence mechanism (= daya per-
tahanan jiwa).
Contoh yang paling umum ialah pengalaman dokter baru yang
merasa tidak yakin akan ilmu dan latihan-latihan yang telah
diperolehnya, sehingga pada pengalaman prakteknya dia le-
bih merasa cemas pada pasien pertama yang datang berobat
kepadanya.
Dan perasaan cemas itu tidak lain karena takut akan kegagalan.
Biasanya perasaan ini akan hilang secara berangsur-angsur
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
2 9
tergantung kemampuan adaptasinya.
Perasaan takut akan kegagalan ini ternyata menimbulkan si-
kap yang bermacam-macam terhadap pasiennya.
Bisa berupa
keragu -raguan, tapi juga bisa berupa ambisi
yang berlebihan untuk bisa menyembuhkan pasiennya secara
cepat.
Makin besar ambisinya ini, sudah tentu akan makin besar pula
perasaan cemasnya. Akibatnya ia akan bersikap kaku, membi-
kin jarak dengan pasien supaya dirinya tetap dianggap penting,
menunjukkan perasaan tidak senang kalau pasien banyak ber-
tanya dan dia akan merasa malu untuk mengatakan "Saya
belum yakin atau belum tahu diagnosenya/prognosenya".
Akibatnya dia akan mudah membuat keputusan yang salah.
Umpamanya saja, dia akan menahan pasien begitu lama, un-
tuk membuktikan
"
kebesarannya dan kemampuannya",
sehingga terlambat mengkonsulkan kepada Spesialist yang
bersangkutan, jika pasien seharusnya memerlukan hal itu.
Ada lagi sikap lain dari dokter yang takut akan kegagalan ini
misalnya secara sadar dia mengintimidasi pasien dan keluarga-
nya, pada kasus-kasus yang sukar, dengan mengatakan bahwa
penyakitnya termasuk berat dan fatal,
"
harapannya tipis, tapi
saya akan berusaha menyembuhkannya".
Hal ini ia lakukan untuk mempertahankan
"
kehebatannya
"
,
artinya kalau ia berhasil menyembuhkan, dia akan mendapat-
kan pujian selangit dengan ucapan terima kasih dari pasien
dan seluruh familinya untuk
"
miracle" yang telah dilakukan-
nya.
Tapi kalau pasien betul-betul meninggal, maka dia akan tetap
juga dimengerti oleh keluarga penderita, karena semula me-
mang telah
"
diramalkan" demikian.
Jelaslah keadaan semacam itu akan merugikan pasien, walau-
pun dokter sendiri merasa tidak sengaja telah berbuat demi-
kian.
Maka program pendidikan dokter di masyarakat dengan bim-
bingan dokter-dokter Puskesmas teladan ini akan besar sekali
sumbangannya untuk menghindari kejadian tersebut diatas,
karena semua calon dokter telah dilatih terjun langsung di
masyarakat untuk "beracting" sebagai
"
dokter penuh".
Jadi program pendidikan di masyarakat ini disamping dirasa-
kan langsung manfaatnya oleh masyarakat setempat proyek
ini dilaksanakan, juga yang lebih penting dari itu untuk mela-
tih
"
sikap dokter yang benar
"
dikemudian hari.
Sumber kecemasan lain yang sering dirasakan dokter ialah
takut menangani problema pasien diluar penyakitnya (padahal
tindakan ini merupakan pendekatan manusiawi yang paling
berharga nilai therapeutikanya).
Misalnya menanyakan tentang problem rumah tangga, problem
hubungan extra-marital , perbedaan pendapat dalam mendi-
dik anak-anak, dan lain-lain.
Dokter merasa cemas untuk menanyakan hal-hal semacam itu
kalau-kalau ada problema yang mirip dengan pengalamannya
sendiri yang telah dengan susah payah berusaha dilupakan
atau mirip dengan problemnya sendiri yang belum terselesai-
kan. Dan kalau kebetulan ada pasien yang menyampaikan
problem tersebut biasanya dokter merasa tidak senang me-
nanggapinya.
Alasan yang sering dikemukakan biasanya dengan mengatakan
"saya tidak punya waktu
"
, "itu bidangnya psikiater" atau
"
ah itu pikiran Saudara·saja", dan lain-lain.
Ada lagi kecemasan dokter yang berhubungan dengan masa-
lah-masalah sexual. Ada dokter yang begitu cemasnya kalau-
kalau sampai dituduh
"
tidak sopan oleh pasien, sering meng-
hindari pemeriksaan yang seharusnya dikerjakan pada pasien
lain jenis (dokter pria dengan pasien wanita).
Apalagi kalau keluhannya bersifat gynecologis, sering dokter
tersebut langsung mengkonsulkannya kepada gynecoloog
tanpa melihat sama sekali lokalisasi yang dikonsulkan itu.
Atau terhadap pasien wanita yang menarik, begitu cepatnya
memeriksa jantung dan paru penderita (pemeriksaan thorax),
sehingga pemeriksaannya menjadi tidak teliti, hanya untuk
menghindari intepretasi negatif dari pasiennya (yang sebetul-
nya dokter sendiri takut terhadap kemungkinan terjadinya
skandal).
Ada juga dokter yang enggan bertanya, yang meskipun
pertanyaan itu sebetulnya penting sekali buat menegakkan
diagnose, hanya karena takut nanti menyinggung perasaan
pasien.
Dan dokter juga kadang-kadang takut menjadi sumber berita
buruk buat pasien, takut membikin pasien marah/kecewa se-
hingga tidak sampai hati untuk menyampaikan hal yang se-
benarnya dan meminta perawat untuk menyampaikannya.
Kadang-kadang dokter juga tahu bahwa penyakit pasien
sebenarnya berlatar belakang psikologis dan tahu pula sebab-
nya
karena
konflik suami istri. Tapi untuk mengundang
mereka bersama hampir tidak pernah dilakukan oleh dokter
umum disini. Mereka cemas kalau menimbulkan suasana per-
musuhan.
Belum lagi persoalan seperti pasien yang jatuh cinta kepada
dokternya (sehingga sering menimbulkan kasus simulasi),
persoalan-persoalan mengenai masa depan karier dokter sen-
diri, dan lain-lain lagi, banyak sedikitnya akan mengganggu
relasi dokter dengan pasien yang baik.
Sering dikatakan bahwa untuk mencari latar belakang psi
-
kologis dari keluhan pasien, dianggap terlalu membuang-
buang waktu oleh dokter umum. Hal itu mungkin benar jika
yang dimaksudkan untuk melakukan psikoterapi, tetapi jika
pencarian latar belakang psikologis dari pasien itu bertujuan
untuk mengambil sikap dan tindakan yang tepat selanjutnya,
maka pernyataan tersebut diatas sangat tidak benar.
Sebab banyak sekali kekeliruan diagnose, perawatan dan sikap
dokter justru memperlama penyembuhan penyakit. Itulah
sebabnya buat semua dokter umum khususnya sangat diper-
lukan pengetahuan praktis tentang faktor psikologis yang ber-
pengaruh dalam berbagai keadaan medis (atau chirurgis) yang
dialami oleh penderita, misalnya :
Pada penyakit-penyakit akut dan trauma yang kebanyakan
diderita oleh orang-orang yang masih relatip muda, dokter
disini menghadapi problem utama berupa kesulitan untuk
membuat penderita mau bekerja sama dalam terapi.
Disini penderita yang ingin segera melanjutkan ambisi per-
juangan hidupnya, kadang-kadang tidak membantu dalam
anamnese, takut ditahan begitu lama karena penyakitnya atau-
pun takut mendapatkan vonnis penyakit yang akan menghen-
tikan/menghambat usahanya.
Tapi sebaliknya penderita yang cemas harus menghadapi kem-
bali problem hidupnya, maka penyakit yang dideritanya se-
30
Cermin Dunia Kedokteran No. 14, 1979
Tahukah anda ???????? ....................... bahwa
Dari penelitian-penelitian di Eropa dan Amerika dida-
patkan kesimpulan bahwa wanita pemakai IUD tiga sam-
pai lima kali lebih sering menderita Pelvic Inflamatory
Disease ( PID ) dibanding wanita yang tidak mengguna-
kan IUD. Kejadian ini berhubungan pula dengan berba-
gai faktor lain seperti umur, sexual habit dan sebagainya
Dikatakan bahwa PID lebih sering dijumpai pada wani-
ta yang berumur di bawah 25 tahun dan belum mempu
nyai anak, yang mempunyai partner sex lebih dari satu
atau yang selalu mengganti partner mereka.
Adanya gejala-gejala seperti : gangguan dari haid, de-
mam, sekret vaginal yang abnormal, nyeri abdomen atau
pelvic serta nyeri waktu senggama pada cyclus pertama
sampai ketiga sesudah pemasangan IUD merupakan tan-
da adanya PID.
Diagnosis dini serta pengobatan yang tepat sangat ber-
guna untuk mencegah timbulnya penyulit dari PID se-
perti sub/infertility, ekstra uterin graviditas akibat perle-
katan dari organ-organ di dalam pelvic dan sebagainya.
FDA Consumer Nov. 1978
karang justru merupakan
"
anugerah
"
, sehingga penderita se-
lalu bersimulasi dengan keluhan-keluhannya yang seharusnya
sudah hilang.
Jadi disini dokter harus pandai membawa diri, dapat memberi-
kan kepercayaan dan sympathi pada penderita.
Juga harus menunjukkan keseriusan merawat, memberikan
keterangan dan petunjuk perawatan yang jelas, sehingga pen-
derita dapat diharapkan memberikan kerja sama yang aktif
dalam terapi.
Pada penyakit-penyakit kronis yang sebagian besar dideri-
ta oleh orang-orang tua, problem utama dokter disini adalah
menanggulangi perawatan psikologisnya yaitu mencegah atau
melawan depressinya.
Orang-orang tua ini akan mudah sekali jatuh dalam keadaan
depressi, terutama kalau merasa bahwa harapan hidupnya te-
lah menipis.
Disini dokter harus dapat memberikan sugesti yang konstruk-
tif kepada penderita. Pokoknya dokter harus dapat menjadi
sumber kekuatan, pengertian dan siap menolong penderita
setiap saat.
Pada penderita yang takut untuk menjalani operasi (tin-
dakan chirurgis), baik karena ketakutan
yang
realistik maupun
yang hanya bersifat khayalan, maka dokter disini harus bisa
meyakinkan penderita, harapan yang akan diperoleh dari
operasi dan bahaya yang nyata kalau penderita menolak
operasi.
Sehingga penderita tidak menyembunyikan penyakitnya untuk
menghindari operasi, dan lain-lain.
Masih banyak contoh lainnya yang memerlukan seni ko-
munikasi tersendiri, untuk menghadapi problema kasus-kasus
kedokteran.
Dengan approach psikologis yang baik, dapatlah diatasi per-
soalan-persoalan kedokteran ini secara tepat, yang kadang-
kadang penyelesaiannya berbeda untuk kasus yang sama.
Marilah kita bina doctor
patient relationship yang lebih
baik lagi di masa-masa mendatang, agar kita dapat lebih me-
ningkatkan pengabdian kita kepada masyarakat, kepada Ne-
gara dan kepada Tuhan. Amien.
Banyolan-banyolan
ini telah didengar selama
Muktamar Besar Ikatan Dokter Indonesia ke XVI yang
telah berlangsung di Denpasar, Bali 7 10 Desem-
ber 1978.
Percakapan didalam kamar praktek seorang dokter
petugas BKKBN.
+ Pasien :(seorang ibu) Dok, saya sudah ikut KB, kok
masih hamil juga.
Dokter : Bila ibu mengikuti petunjuk-petunjuk peng-
gunaan kondom, tak mungkin akan hamil.
+ Ibu : Betul, dok, tiap kali campur dengan suami, kon-
dom dipakai.
-- Dokter : Apa betul ?, Bagaimana cara pakainya ?
+ Ibu : Setiap kali mau campur, saya makan dulu kon-
domnya.
Dokter : Lo, kok dimakan, kondom itu harus dipakai
suaminya, tidak untuk dimakan ibu.
+ Ibu : Kalau begitu saya salah pakai dok : Pantas se
karang kalau saya kentut, keluar pelembung-
annya...............................................................
Cermin Dunia Kedokteran No.
14, 1979
3 1