ULASAN
Pencegahan Kanker dengan
Antioksidan
Sulistyowati Tuminah, S.SI
Pasta Penelitian Penyakit Trdak Menulac Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Perubahan susunan makanan yang mengiringi perubahan
demografik berkaitan dengan harapan hidup lebih tinggi dan
memperkecil angka fertilitas. Suatu hubungan transisi epidemio-
logis juga dapat dicontohkan sebagai perubahan pola penyakit,
dari penyakit infeksi dan defisiensi girl menjadi penyakit
jantung koroner dan beberapa tipe kanker
(1)
.
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi buah-buahan dan
sayur-sayuran yang kaya antioksidan mempunyai angka kasus
penyakit seperti kanker yang rendah. Sejumlah penelitian epide-
miologis telah menguji peranan zat antioksidan spesifik dalam
pencegahan penyakit
(2)
.
Beberapa zat antioksidan memberi perlindungan terhadap
kanker melalui mekanisme yang lain dari sifat-sifat antioksidan.
Sebagai contoh, karoten meningkatkan fungsi imun dan me-
ningkatkan komunikasi hubungan celah (suatu tipe interaksi
antara sel-sel yang menghambat proliferasi sel); kedua cara kerja
ini mungkin relevan untuk pencegahan kanker
(3)
.
KANKER DAN MEKANISME KERJANYA
Kanker adalah titik dari suatu proses multistep yang me-
libatkan sederetan peristiwa yang tajadi lebih dari suatu periode
tahun atau dekade. Gambar 1 menunjukkan suatu ringkasan
pemikiran ilmiah yang umum mengenai suatu mekanisme yang
mungkin di mana sel-sel normal berubah bentuk menjadi sel-
sel kanker
(3)
.
Kerusakan DNA diperkirakam menjadi satu penyebab ter-
panting terjadinya kanker. Sebagian besar kerusakan ini adalah
proses oksidasi di alam. Suatu tanda kerusakan DNA mutagenik
akan berguna untuk memperkirakan risiko kanker pada ma-
syarakat dan dalam memonitor dampak pencegahan kimia.
Diperkirakan, suatu tipe sel manusia mengalami sekitar 10.000
peristiwa oksidasi yang mengakibatkan kerusakan pada DNA-
nya setiap hari. Enzim yang memperbaiki DNA menghilangkan
sebagian besar kerusakan tersebut, terapi tidak seluruhnya.
Luka oksidatif pada DNA tertimbun seiring dengan berjalannya
usia, dan demikian pula risiko kanker
(3)
.
Jika sel yang berisi DNA rusak membelah sebelum DNA-
nya sempat diperbaiki, dampaknya adalah perubahan genetik
permanen, langkah pertama pada karsinogenesis. Sel-sel yang
membelah dengan cepat lebih cenderung membentuk kanker
daripada sel-sel yang membelah dengan perlahan, karena kurang
adanya kesempatan untuk memperbaiki DNA sebelum pem-
belahan sel
(3)
.
Oksidan dan antioksidan mungkin juga memainkan peran-
an dalam stadium akhir perkembangan kanker Ada peningkatan
bukti bahwa proses oksidasi mendukung stadium promosi
karsinogenesis, meskipun mekanismenya kurang dipahami.
Antioksidan dapat menyebabkan regresi dan luka awal yang
gangs atau menghambat perkembangannya menjadi kanker. Pe-
nelitian pendahuluan telah menunjukkan bahwa beberapa anti-
oksidan temtama -karoten, dapat bennanfaat dalam perlakuan
kondisi prekanker seperti oral leukoplakia (yang mungkin
menjadi perkursor kanker mulut)
(3)
.
Buah-buahan dan sayur-sayuran adalah sumber utama vita-
min C dan karotenoid, yang diyakini mengandung antioksidan.
sebagai pendukung utama perlindungan terhadap kanker. Buah-
buahan dan sayur-sayuran juga mengandung vitamin E. yang
seperti asam folat dan serat, melindungi terhadap kanker melalui
mekanisme lain. Semua zat makanan tersebut dan beberapa
komponen non-nutrien yang mungkin terlibat dalam pencegah-
an kanker
(3)
.
Penelitian-penelitian epidemiologis serta percobaan-per-
cobaan klinis terhadap peranan antioksidan difokuskan pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 21
beberapa senyawa seperti karotenoid, vitamin C dan vitamin
E
(2)
.
KAROTENOID
Karotenoid merupakan sekelompok molekul-molekul yang
tersebar secara luas di alam yang memberikan warna yang terang
pada tanaman, buah-buahan serta sayur-sayuran. Lima jenis
karotenoid yang utama adalah
1. Karoten : (a). -karoten terdapat pada wortel; (b). -karoten
terdapat pada sayuran yang berwarna kuning-oranye dan hijau
tua, seta buah-buahan.
2.
Likopen terdapat pada tomat.
3.
Lutein terdapat pada sayur-sayuran yang berdaun hijau tua.
4.
Zeaksantin terdapat pada sayur-sayuran yang berdaun
hijau tua.
5.
-kriptoksantin terdapat pada buah jeruk.
Dari beberapa penelitian terbaru, diketahui bahwa beberapa
karotenoid yang berbeda mungkin berhubungan dengan penu-
runan risiko kanker; dalam sebuah penelitian di Hawaii, kon-
sumsi makanan yang mengandung -karoten, -karoten dan
lutein tinggi berhubungan dengan penurunan kanker paru-paru.
Penelitian lain di Amerika telah menemukan bahwa kadar
karotenoid total dalam darah, yaitu -karoten, -karoten,
krlptoksantin, dan likopen (kecuali lutein), yang lebih rendah
terdapat pada wanita-wanita yang kemudian terkena kanker
serviks dibandingkan wanita-wanita yang what. Pada penduduk
Amerika yang sama, kadar 5 karotenoid utama dalam darah
seluruhnya ditemukan lebih rendah pada orang-orang yang
kemudian terkena kanker mulut dibanding dengan kontrol.
Kadar -karoten yang tinggi dihubungkan dengan penurunan
risiko kanker perut
(3)
.
Akan tetapi, pada percobaan terakhir yang dilakukan oleh
Kelompok Penelitian Pencegahan Kanker -karoten, -tokoferol
diperoleh hasil tidak seperti yang diharapkan, yaitu suplementasi
dengan -karoten telah meningkatkan risiko kanker paru-paru
pada perokok berat
(3)
. Hal ini disebabkan karena -karoten
yang bekeija sebagai antioksidan di bewail kondisi fisiologis
normal (gaya tegang oksigen rendah) dapat juga bekerja
sebagai prooksidan pada konsentrasi tinggi dan kondisi yang
lebih oksidatif (seperti dalam paru-paru para perokok)
(2)
.
VITAMIN C
Vitamin C (asam askorbat) adalah substansi yang larut
dalam air. Vitamin ini diyakini menjadi antioksidan dalam cair-
an ekstraseluler yang paling penting, dan mempunyai aktivitas
intraseluler yang baik. Vitamin C antara lain terdapat pada lada
hijau, brokoli, paprika, kubis, tomat, kentang, jeruk, lemon dan
buah sitrum lainnya
(4)
.
Beberapa penelitian epidemiologis telah menemukan hu-
bungan antara konsumsi vitamin C yang rendah (atau kadar
vitamin C yang rendah dalam darah) dan peningkatan risiko
kanker, terutama kanker esofagus, kanker mulut, kanker
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
22
pankreas dan kanker perut. Adapun dengan seluruh penelitian
epidemiologis tersebut dapat disimpulkan bahwa vitamin C
merupakan pelindung terhadap kanker. Konsumsi vitamin C
yang tinggi amu kadar vitamin C yang tinggi dalam darah dapat
merpakan faktor, atau kombinasi faktor-faktor (termasuk
karotenoid) dalam makanan yang berfungsi sebagai pelindung
terhadap kanker
(4)
.
VITAMIN E
Vitamin E adalah substansi yang land dalam lemak. Vita-
min ini merupakan antioksidan utama dalam semua membran
seluler, dan melindungi asam lemak tak jenuh Banda terhadap
peristiwa oksidasi. Somber alam yang kaya dengan vitamin E
adalah minyak nabati (termasuk minyak salad dan margarin),
kacang-kacangan dan semua padi-padian. Minyak biji gandum
merupakan sumber vitamin E yang terbesar
(4)
.
Bukti yang menghubungkan vitamin E dan risiko kanker
kurang lugs dibandingkan dengan vitamin C dan karotenoid.
Sampai saat ini, kekurangan infonnasi yang dapat dipercaya
mengenai kandungan vitamin E telah mengbambat penelitian-
penelitian epidemiologis mengenai konsumsi makanan yang
mengandung vitamin E. Hasil penelitian kadar vitamin E dalam
darah yang telah dilakukan tidak konsisten; beberapa menun-
jukkan perbandingan terbalik antarakadar vitamin E dan risiko
kanker, sementara yang lain menunjukkan tidak adanya hu-
bungan antara kadar vitamin E dan risiko kanker. Dari hasil
penelitian Lembaga Kanker Nasional Amerika Serikat yang
menghubungkan penggunaan suplemen vitamin E dengan
penurunan 50% risiko kanker mulut diketahui bahwa zat
makanan vitamin E dan multi vitamin tidak mempunyai efek
yang berarti
(3)
.
KOMBINASI SELENIUM, -KAROTEN DAN VITAMIN
C/VITAMIN E SEBAGAI ANTIOKSIDAN
Selenium dikenal sebagai suatu trace element esensial bagi
manusia dan hewan selama lebih dari 30 tahun, meskipun ta-
naman tampaknya tidak memerlukan. Penehtian epidemiologis
mengingatkan bahwa manusia dengan konsumsi selenium
rendah mempunyai risiko yang lebih briar terhadap penyakit
kanker dan kardiovaskuler. Penelitian hewan menunjukkan
bahwa selenium melindungi terhadap kanker yang disebabkan
karena metabolisms aktif bahan kimia tertentu ke dalam agen
penyebab kanker oleh hati : selenium tampaknya menginduksi
sintesis enzim yang mendetoksiflkasi katsinogen (0.
Suatu penelitian telah dilakukan di 65 propinsi di Cina
dengan keanekaragaman jenis penyakit dengan tujuan untuk
mendukung konsep bahwa antioksidan mungkin melindungi
terhadap kanker. Hasil yang diperoleh yaitu ada korelasi
terbalik yang konsisten antara angka kematian akibat kanker di
65 propinsi tersebut dengan kadar -karoten, vitamin C dan
selenium dalam daral
(3)
.
Sementara beberapa penelitian lain yang dilakukan dengan
tujuan untuk menentukan dampak makanan suplemen pada
risiko kanker dalam populasi umum memperoleh hasil yang
berbeda-beda. Hasil percobaan intervensi yang dilakukan pada
penduduk non-Western menunjukkan dampak yang meng-
untungkan dari kombinasi suplemen dengan -karoten, vita-
min E dan selenium. Akan tetapi, dari dua percobaan yang
dilakukan terhadap penduduk Western, satu menunjukkan tidak
adanya keuntungan dmi suplementasi -karoten, vitamin E atau
vitamin C pada pencegahan colorectal adenomas
(3)
.
Penelitian biokimia dan epidemiologis telah menunjukkan
bahwa zat makanan antioksidan dan makanan yang mengan-
dung antioksidan kemungkinan mempunyai efek protektif yang
panting dalam pencegahan kanker pada manusia
(3)
. Tabel 1
berikut ini memperlihatkan beberapa zat yang bekerja sebagai
pencegah kanker yang terkandung dalam tanaman
(4)
.
Tabel 1. Pencegahan kanker potensial yang terdapat dalam tanaman
(selain
vitamin
E,
vitamin
C
dan
karotenoid)
(4)
Senyawa Cara
kerja Sumber
makanan
Sulfida organik
Catechin
Flavonoid
Asam fitat
Genistein
limomid
Serat
Isotiosianat
Merangsang enzim yang
Mendetoksifikasi karsinogen
Antioksidan ? sitotoksik langsung
terhadap sel-sel kanker?
Antioksidan ? sitotoksik langsung
terhadap sel-sel kanker ?
Mencegah berikatannya hormon-
hormon yang
dibutuhkan untuk
pertumbuhan kanker
Mengikat logam, menurunkan
Penyerapan besi
Kemungkinan menghalangi
Pertumbuhan pembuluh-
pembuluh darah baru sampai
timbulnya bengkak
Menginduksi enzim protektif
Meningkatkan kecepatan gerakan
feses melalui usus, melarutkan
senyawa-senyawa karsinogen dan
menghentikan pembentukkannya
Menginduksi enzim protektif
Bawang putih, bawang
merah
Teh hijau, the hitam.
buah beri
Sebagian besar
buah-buahan dan
sayur-sayuran
Biji-bijian
Kacang kedelai
Buah sitrun
Padi-padian, sayur-
Sayuran
Mustard, lobak
Bukti yang lebih kuat mengenai hubungan antara zat
makanan antioksidan dan kanker mungkin segera terlihat dalam
beberapa tahun yang akan datang dari percobaan-percobaan
intervensi lainnya di negara-negara Barat
(3)
.
KEPUSTAKAAN
1. Drewnowski A. The Nutrition Trasition : New Trends in the Global Diet.
Nutrition Reviews. 1997; 55(2): 3143.
2. Palmer HJ, Paulson KE Reactive Oxygen Species and Antioxidants in Signal
Transduction and Gene Expression. Nutr Rev 1997; 55(10):35361.
3. Langseth L.. Oxidants, Antioxidants, and Disease Prevention. ILSI Europe
Concise Monograph Series. Brussel, Belgium 1995; 124.
4. Gutteridge JMC. Halliwell B. Andoxidants in Nutrition, Health and
Disease. Oxford. University Press. 1996; 40131.
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 23