background image
24
Parasit Usus pada Balita Penderita Diare
di Kabupaten Pandeglang dan
Kabupaten Kuningan
Suwarni, Eko Rahardjo, Harijani AM
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Dalam 20 tahun terakhir, penyakit infeksi yang disebabkan
oleh parasit usus masih merupakan masalah kesehatan di Indo-
nesia, karena prevalensinya cukup tinggi termasuk parasit yang
ditularkan melalui tanah
(1)
. Di Indonesia jenis cacing utama yang
ditularkan melalui tanah adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris
trichiura, Cacing tambang dan Strongylus stercoralis. Selain
Trichuris trichiura, parasit usus penyebab diare adalah Enta-
muba histolytica dan Giardia lamblia
(2)
.
Di negara-negara sedang berkembang, diperkirakan dari
1500 juta kejadian penyakit yang disebabkan diare, 4­5 juta anak
di bawah lima tahun meninggal karenanya. Diperkirakan 15 dari
1000 anak berusia 2 tahun meninggal karena diare
(3)
. Di Indo-
nesia jumlah penderita diare setiap tahunnya ± 60 juta. Sebagian
besar (60­80%) dari penderita ini adalah anak di bawah lima
tahun
(4)
. Banyak hal-hal penting penyebab diare yang tidak
diketahui dan presentasi penyebab diare yang dapat diidenti-
fikasi masih rendah
(5)
.
Dalam rangka penelitian etiologi diare, dilakukan juga
penelitian parasit usus, untuk mengetahui prevalensinya. Hasil
penelitian etiologi diare yang disebabkan oleh bakteri dan virus
dilaporkan secara terpisah.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian ini dilakukan pada bulan September 1989 s/d
Maret 1990, di 2 Puskesmas dan 2 Rumah Sakit di Jawa Barat
yaitu Puskesmas Pagelaran dan RS Labuan di Kabupaten Pan-
deglang serta Puskesmas Darawangi dan RS 45 di Kabupaten
Kuningan.
Tinja yang diperiksa, diperolch dari pcndcrita yang datang
ke Puskesmas dan Rumah Sakit tersebut di atas. Untuk memper-
Dibacakan pada Seminar Ilmiah dan Kongres Nasional Biologi X, September
1991, Bogor.
mudah pengumpulan, 2 kontainer yang masing-masing berisi
Formalin 5% dan Poly Vinyl Alcohol (PVA) disiapkan dari
Jakarta dan dikirim ke Puskesmas dan Rumah Sakit bersangkut-
an. Tinja penderita setelah diambil sebagian untuk pemeriksaan
bakteri dan virus, dimasukkan sebagian ke dalam kontainer yang
berisi PVA untuk pemeriksaan Cryptospiridium, sedangkan sisa-
nya (secukupnya) dimasukkan ke dalam kontainer yang berisi
Formalin 5% untuk pemeriksaan protozoa lain dan telur cacing.
Dari tinja dalam PVA dibuat preparat apus yang diwarnai
dengan pewarnaan Modified Ziehl-Neelsee) dan diperiksa di
bawah mikroskop, sedangkan tinjadalam Formalin 5% diperiksa
langsung di bawah mikroskop setelah ditetesi cairan Lugol 2%.
Terhadap semua contoh tinja yang negatif protozoa dan telur
cacing, dilakukan pemeriksaan kembali dengan Tehnik Kon-
sentrasi Formalin Ether
(7)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari 404 tinja yang diperiksa, 97 (24%) positip mengandung
telur cacing usus yang ditularkan melalui tanah. Dari 97 balita
penderita yang positip, ada 9 balita yang tinjanya mengandung
telur Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Cacing tam-
bang, 23 balita mengandung telur A. lumbricoides dan T. tri-
chiura, 2 balita mengandung T. trichiura dan Cacing tambang,
1 balita mengandung telur Cacing tambang dan larva rhabditi-
form Strongylus stercoralis. Di sini juga terlihat bahwa paling
banyak ditemukan infeksi tunggal dengan A. lumbricoides di-
ikuti dengan infeksi campuran A. lumbricoides dan T. trichiura
(Tabel 1).
Dilihat dari macam infeksi (Tabel 1), prevalensi baik men-
urut jenis cacing usus (Tabel 2), maupun menurut golongan
umur (Tabel 3), pada umumnya telur A. lumbricoides men-
background image
25
Tabel 1. Jenis Infeksi Cacing Usus pada 4 tempat di Kab. Pandeglang dan
Kuningan
Puskes
Darawangi
n=98
RS 45
n=154
Puskes
Pagelaran
n=65
RS
Labuan
n=87
Jumlah
Jenis
infeksi
+ % + % + % + % + %
A
11 11,2 12 7,8 11 16,9 12 13,8
46 11,4
T
5 5,1 2 1,3 5 7,7 3 3,4 15 3,7
H
0 0 0 0 0 0 1 1,1 1 0,2
AT 4 4,1 0 0 8 12,3 11 12,6
23 5,7
TH 0
0
.
0
0
2
3,1
0
0
2
0,5
ATH 0 0 0 0 3 4,6 6 6,9 9 2,2
HSs 0 0 0 0 1 1,5 0 0 1 0,2
Keterangan :
A = A. Lumbricoides TH = T. trichiura & Cacing tambang
T = T. Trichiura ATH = A. lumbricoides, T. trichiura & Cacing
H
=
cacing
tambang tambang
AT = A. lurnbricoides & HSs = Cacing tambang & Strongylusstercoralis
Cacing
tambang
Tabel 2. Prevalensi Jenis Cacing Usus pada 4 tempat di Kab. Pandeglang
dan
Kuningan
Jenis
Cacing
usus
Puskes
Darawangi
n = 98
RS 45
n = 154
Puskes
Pagelaran
n = 65
RS
Labuan
n = 87
Jumlah
+ % + % + % + % + %
A
T
H
Ss
15
9
0
0
15,3
9,2
0
0
12
2
0
0
7,8
1,3
0
0
22
18
7
1
33,9
27,7
10,8
1,5
29
20
7
0
33,3
23
8,1
0
78
49
14
1
19,3
12,1
3,5
0,2
Tabel 3. Prevalensi Cacing Usus menurut Golongan Umur
A T H Ss
Jumlah
Umur
(bulan)
Jumlah
contoh
tinja
+ % + % + % + % + %
0 ­ 9
148
14 9,5
4
2,7
1
0,7
0
0
19 0,13
10 ­ 19
138
18 13,0 5
3,6
2
1,4
0
0
25 0,18
20 ­ 29
52
16 30,8 12 23,1 1
1,9
1
1,9 30 0,58
30 ­ 39
34
13 38,2 15 44,1 5 14,7 0
0
33 0,97
40 ­ 49
22
9 40,9 7 31,84 3 13,6 0
0
19 0,86
50
­
60
10
4 40,0 4 40,0 1 10,0 0 0 9 0,90
Tabel 4. Prevalensi Protozoa Usus di 4 tempat Kab. Pandeglang dan
Kuningan
Jenis +
%
Entamuba histolytica
1 0,25
Entamuba coli
2 0,51
Giardia lamblia
2 0,51
Cryptosporidium
1 0,25
duduki tempat tertinggi diikuti oleh telur T. trichiura; hal ini
sesuai dengan basil dari beberapa peneliti terdahulu
(8,9,10)
.
Pada tabel 3 terlihat bahwa infeksi A. lumbricoides me-
ningkat sesuai golongan umur. Keadaan ini dapat dimengerti
karena semakin bertarnbah umur anak balita, semakin besar go-
longan umur tersebut berinteraksi dengan lingkungan, sehingga
semakin tinggi kemungkinan golongan umur itu mendapat
infeksi. Keadaan ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Brown dan Neva, bahwa Ascariasis terjadi pada semua golong-
an umur dan tertinggi pada golongan umur 5-9 tahun
(2)
. Infeksi
Cacing tambang juga meningkat sesuai dengan meningkatnya
umur, hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Rukmono, B.
et al
(11)
. Anak balita termuda yang terinfeksi Cacing tambang
berumur 1,5 bulan, dan dari 19 anak umur 0 - 9 bulan yang
positip, 3 anak di antaranya berumur kurang 3 bulan. Di sini
terlihat bahwa peranan orang tua sangat penting dalam terjadinya
infeksi, dan kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan masih
perlu ditingkatkan
(12)
.
Dari hasil penelitian ini yang menarik adalah selain di-
temukannya telur T. trichiura, Protozoa E. histolytica dan G.
lamblia penyebab diare, juga ditemukan ookista Cryptospori-
dium sp. (Tabel 4). Cryptosporidium adalah parasit termasuk
Protozoa, serupa dengan Coccidia berukuran ± 5µ, berbentuk
bulat seperti coccus, host speciftc
o
. Sesuai dengan basil pene-
litian, infeksi Cryptosporidium pada anak sapi menimbulkan
diare sedang pada mencit tidak
(13)
. Beberapa peneliti (Tzipori S,
1983, Anderson BC et al, 1982 dan Current, WC et al 1982)
(13)
melaporkan bahwa Cryptosporidium merupakan Zoonosis.
Cryptosporidiosis menyebabkan diare pada penderita yang
mempunyai imunitas normal dan akan sembuh sendiri selama 3
minggu. Tetapi sebaliknya pada penderita yang sistim imuni-
tasnya terganggu, akan mengalami diane yang berkepanjangan,
gangguan absorpsi dan menurunnya berat badan, misal pada
penderita AIDS; maka Cryptosporidium dapat menimbulkan
penyakit berat yang mengancam kehidupan
(14)
.
Infeksi Cryptosporidium pada seorang anak penderita diare
akut ditemukan untuk pertama kalinya di RSCM Jakarta, kemu-
dian ditemukan lagi 6 kasus
(15)
.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada
anak-anak balita :
Infeksi dengan Ascaris lumbricoides adalah yang paling
banyak, diikuti oleh Trichuris trichiura dan Cacing tambang.
Selain diketemukannya Protozoa usus seperti Entamuba
histolytica, Giardia lamblia, juga diketemukan Cryptospori-
dium sp.
UCAPAN TERIMA KASIH
Disampaikan kepada Prof. Dr. Sumarmo Poorwo Soedarmo, Kepala
Badan Lit bang Kesehatan; Dr. Suriadi Gunawan, DPH, Kepala Puslit Penyakit
Menular, yang telah memberi kesempatan melaksanakan penelitian ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Purnomo, SKM,
Staf NAMRU, alas saran-saran dalam penulisan ini.
KEPUSTAKAAN
1. Marwoto HA, Andersen EM, Pumomo, Punjabi NH. Intestinal parasitic
diseases. Bull. Health Studies. 1990; 18 (3 & 4): 43-6.
2. Brown HW, Neva FA. Basic Clinical Parasitology. Englewood Cliffs, New
Jersey: Prentice-Hall; 1983.
3. WHO. 1990. Diarrhoeal Diseases Control Program Implementation
Research Priorities : 1-5.
background image
4. Winardi B. Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit Diare di
Indonesia. MKI. 1984; 34 (11): 712-22.
5. Punjabi NH, et al. Diarrhoea) Diseases. Bull of Health Studies. 1990; 18
(3 & 4): 33-7.
6. Henriksen SA, Pohienz JFL. Staining of Cryptosporidia by a Modified
Ziehl-Neelsen Technique. Acta. Vet. Scand. 1981; 22: 594-6.
7. Dorothy MM, Brooke M. Laboratory Procedures for Diagnosis of Intes-
tinal Parasites. Public Health Service. Publ No. 1969. Washington: US
Government Printing Office. 1969.
8. Depaiy AA, Tarigan P, Sitepu P. Helmintiasis intestinal pada anak-anak
desa. Medika 1987; 13 (12): 1194-7.
9. Ismid IS, Margono SS. Kebersihan pribadi, sanitasi lingkungan dan status
gizi anak sekolah yang menderita askariasis. Maj Parasitol Indon. 1989; 2
(3 & 4): 97-9.
10. Chandra B. Uji cobs banding antar obat cacing kombinasi Mebendazol
dan Pirantel Pamoat dengan Levamizol pada Soil Transmitted Helminth.
Medika 1990; 16 (2): 115-7.
11. Rukmono B, Oemijati S, Lie Klan Joe, Pumomo. Prevalence of Intestinal
Parasitic Infections in Infants. First Region. Symposium on Scientific
Knowledge of Trop. Parasitol. Singapore. UNESCO. 1962. p. 289.
12. Ismid IS, Margono SS, Rukmono B. Peran Berta masyarakat dalam
Program Integrasi Keluarga Berencana Pemberantasan Penyakit Cacing
dan Perbaikan Gizi di Kelurahan Jembatan Besi, Jakarta Barat. Medika
1988; 14 (I): 20-3.
13. Heine J, Pohlenz JFL, Moon HW, Woode GN. Enteric lesions and
diarrhea in gnotobiotic calves monoinfected with Cryptosporidium sp.
Infect Dis. 1984; 150 (5): 768-75.
14. Andersen WH, Gersoft J, Henriksen SvAa, Pedersen NS. Prevalence of
Cryptosporidium among patients with acute enteric infection. Infect.
1984; 9: 277-82.
15. Rasad R, Adjung SA, Rukmono B, Sunoto, Suharyono. Infeksi crypto-
sporidium pada anak Indonesia dengan diare. MKI. 1989; 39 (5): 300-1.
16. Lubis A, Dalimunthe AR, Sutanto AH. Gambaran cacing usus pada anak
Sekolah Dasar di Kotamadya Tebing Tinggi Deli. Medika 1985; 11 (6):
528-30.
17. Pasaribu S, Lubis H, Nurbafri NY, Athos PD, Lubis CP. Infestasi parasit
usus di empat desa Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Indonesia. Medika
1987; 13 (2): 1179-82.