Meningioma Intrakranial
dr. Fauziyah B. dan dr. Djunaidi Widjaja
Bagian Ilmu Penyakit Saraf
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Sutomo
Surabaya
Summary
Intracranial meningiomas rank second to intracranial glio-
mas in the frequency of intracranial tumors.
Its clinical course is very insidious and occurs frequently in
women of 50 -- 60 years.
Factors cited as important in the causation of meningiomas
are head injuries and pregnancy. Other authors suggested a
viral cause.
The parasagital supratentorial region is the most frequent site
of meningiomas.
Average onset of the symptoms is about 26 months. Focal
neurological signs depend on the location of the tumor. The
diagnosis is based on the general symptoms and focal signs
caused by the intracranial tumor.
In the Neurological Departmentof the Dr.Sutomo Hospital
in Surabaya, the diagnosis is established by neurological exami-
nation, electroencephalography, plain x-photo of the skull,
angiography and air studies.
Intracranial meningiomas must be differentiated from
TIA (Transient isehaemic attact), cerebral infarction, chronic
subdural hematoma, subarachnoid hemorrhage and serous
meningitis.
Recent advances for enhancing operative results are ventri-
cular drainage, vascular occlusion and enlargement of the
operative field.
The prognosis is generally good, with a five year survival
rate of 75%.
The five year mortality rate is about 7,9% for the period
( 1942 -- 1946 ) and 8,5% for (1957 -- 1966).
Pendahuluan
Karena kemajuan tehnik diagnosa pada dewasa ini, maka
kasus-kasus dengan tumor Intrakranial menjadi sering dilapor-
kan. Pada umumnya tumor intrakranial timbulnya cepat dan
progressif, sehingga memaksa penderita untuk cepat ke dokter.
Tetapi tidak demikian halnya dengan kasus-kasus meningioma
dimana penderita datang pada keadaan yang sudah lanjut dan
tentunya tumor sudah sangat besar. Bahkan oleh karena per-
jalanannya yang sangat lambat sebagian besar tanpa gejala-ge-
jala klinik. Meningioma yang kecil atau dengan gejala yang
minimal seringkali diketemukan secara kebetulan (22, 24, 35).
Dilaporkan 1,44% meningioma intrakranial pada semua otopsi
tumor, yang sebagian besar tanpa gejala-gejala klinik (35).
Epidemiologi
Meningioma intrakranial merupakan tumor kedua yang ter-
sering disamping Glioma, merupakan 13--20% dari tumor su-
sunan saraf pusat (6, 24, 26, 30, 35, 36).
R
AAF
dkk (29) dan G REEN dkk (10) mengutip insidensme
ningioma dari beberapa penyelidikan sebagai berikut : (lihat
table 1)
Tabel
1 :
Insidens Meningioma
Pengarang (tahun)
Jumlah penderita
%
Cushing
(1932)
271
13,4
Cushing and Eisenhardt
(1938)
295
13,4
Norrax and Strain
(I952)
168
14,6
Hoessly and Olivecrona
(1955)
1.004
19,2
Grant
(1956)
407
17,5
Zulch
(1957)
1079
18
Olivecrona
(1958)
1125
20
Courville
(1967)
349
11,6
Zimmerman
(1968)
802
17,7
Raaf and Parsons
(1970)
141
12,9
BNI
+
(1975)
168
15,7
+ Green J. R. et al
Pada anak-anak insidensnya 1,5% (23), sedangkan KOOS
dan M ULLER (17) mendapatkan 2,8% dari kasus-kasusnya pa-
da bayi, dan R
USSE
L(31) mendapatkan 3--4% pada anak-anak
dan dewasa.
Umur
Meningioma dapat terjadi pada semua usia, jarang didapat-
kan pada bayi dan anak-anak (17, 23, 25).
Angka tertinggi pada usia 50 -- 60 tahun (22, 29). Meskipun
demikian dilaporkan juga dua kasus meningioma kongenital pa-
da bayi (23). KOOS dan M ULLER (17) menyatakan mulai
usia 12 th insidens meningioma meningkat secara progressif.
Jenis kelamin
Meningioma ini lebih banyak didapatkan pada wanita dari-
pada laki-laki (6, 8, 24, 26, 35). Perbandingan antara wanita
dan laki-laki adalah 3 : 2 (24), sedangkan JACOBSON
dkk (14) mendapatkan 7 : 4
Etiologi/Patogenesa
Faktor-faktor terpenting sebagai penyebab meningioma ada-
lah (i) Trauma, (ii) Kehamilan, dan (iii) Virus.
-Trauma. Di laporkan bahwa insidens trauma pada meningio-
3 6
Cermin Dunia Kedokteran No.
16, 1979
ma tinggi, pada penyelidikan dilaporkan 1/3 dari meningioma
mengalami trauma (24).
Pada beberapa kasus ada hubungan langsung antara tempat ter
jadinya trauma dengan tempat timbulnya tumor. Sehingga di-
simpulkan penyebab timbulnya meningioma adalah trauma(24)
Beberapa penyelidikan (8) berpendapat hanya sedikit bukti
yang
menunjukkan adanya hubungan antara meningioma de-
ngan trauma..
-Kehamilan . Dilaporkan juga bahwa meningioma ini sering
timbul pada akhir kehamilan, mungkin hal ini dapat dijelaskan
atas dasar adanya hydrasi otak yang meningkat pada saat itu
(4, 24.).
-
Virus.
Lain teori menyatakan bahwa virus dapat juga seba-
gai penyebabnya. Pada penyelidikan dengan light microscope
ditemukan
virus
like inclusion bodies dalam nuclei dari me-
ningioma.
Tetapi penyelidikan ini kemudian dibantah bahwa pemeriksa-
an electron misroscope inclusion bodies ini adalah proyeksi
cytoplasma yang berada dalam membran inti (cytoplasmic pro-
jection; that are infold of the nuclear membrane) (2).
Lokalisasi
Sebagian besar meningioma terletak di daerah supratento-
rial. Insidens ini meningkat terutama pada daerah yang me-
ngandung granulatio Pacchioni (17). Lokalisasi terbanyak pada
daerah parasagital dan yang paling sedikit pada fossa posterior
(lihat tabel 2)
Tabel 2: Lokalisasi Meningioma Intrakranial
PENGARANG
Lokalisasi
Merritt
(24)
Gurdian E
(11 )
Hirsh LF
(13)
Parasagittal
21
21 - 32
--
Convexity of hemispheres 17
13 - 18
--
Sphenoidal ridge
17
9- 17
--
Floor of anterior fossa
(the olfactory groove or
18
3 - 9
(olf groove)
--
above the sella tureica)
6 - 9
(supra sellar)
--
Posterior fossa
7
8
10
Peritotculat
4
--
--
Temporal fossa
13
--
--
Falx, Gasserian and other
7
--
--
Spinal
6
--
--
Permulaan dan gejala-gejala
Meningioma tumbuhnya perlahan-lahan dan tanpa membe-
rikan gejala-gejala dalam waktu yang lama, bahkan sampai
bertahun-tahun. Ini khas untuk meningioma tetapi tidak pa-
thognomonis (24).
Diperkirakan meningioma intrakranial yang merupakan 1,44%
dari seluruh otopsi sebagian besar tidak menunjukkan gejala-
gejala dan didapatkan secara kebetulan. (35).
Dari permulaan sampai timbulnya gejala-gejala rata-rata ± 26
bulan, dilaporkan juga gejala-gejala yang lama timbulnya yaitu
antara 20 -- 30 tahun.
Walaupun demikian gejala-gejala yang cepat tidak menyingkir
kan adanya meningoma (24).
Gejala-gejala
Gejala-gejala umum, seperti juga pada tumor intrakranial
yang lain misalnya sakit kepala, muntah-muntah, perubahan
mental atau gejala-gejala fokal seperti kejang-kejang, kelum-
puhan, atau hemiplegia. Gejala umum ini sering sudah ada
sejak lama bahkan ada yang bertahun-tahun sebelum penderi-
ta mendapat perawatan dan sebelum diagnosa ditegakkan
(6, 24).
Gejala-gejala yang paling sering didapatkan adalah sakit kepala
(4, 29).
R
AAF
dkk (29) mendapatkan gejala klinis lain
yang
paling se-
ring adalah berturut-turut sebagai berikut :
· kejang-kejang (±48%);
· gangguan visus (± 29%)
· gangguan mental (± 13%)
· gangguan fokal (± 10%)
Tetapi timbulnya tanda-tanda dan gejala-gejala ini tergantung
pada letak tumor dan tingginya tekanan intrakranial.
Tanda-tanda fokal sangat tergantung dari letak tumor, gejala-
gejala bermacam-macam sesuai dengan fungsi jaringan otak
yang ditekan atau dirusak, dapat perlahan-lahan atau cepat.
Menurut
LEAVEN
(19) gangguan fungsi otak ini penting un-
tuk diagnosa dini. Gejala-gejala ini timbul akibat hemodyna-
mic steal dalam satu hemisfer otak, antara hemisfer atau dari
otak kedalam tumor (12).
-Sakit kepala. Merupakan gejala yang paling sering, sakit ke-
pala ini tidak khas, dapat umum atau terlokalisir pada daerah
yang berlainan. Hal ini sudah lazim walaupun tidak dikaitkan
dengan meningkatnya tekanan intrakranial (4, 29).
Meningioma Intra Ventrikuler seringkali mengalami sakit kepa-
la dan peningkatan tekanan intrakranial, karena meningiomadi
tempat tersebut dapat bergerak dan dapat mengadakan pe-
nyumbatan pada aliran cairan serebrospinalis (19).
Sakit kepala tersebut bersifat unilateral dan gejala-gejala ini
mungkin hilang timbul (28).
Selain sakit kepala juga disertai mual dan muntah-muntah
(4, 19).
-Kejang-kejang R
AAF
dkk (29) mendapatkan 48% dari ka-
sus-kasusnya mengalami kejang-kejang terutama pada menin-
gioma parasagittal dan lobus temporalis, Adanya kejang-kejang
ini akan memperkuat diagnosa (16).
-Gangguan
mata. Gangguan mata yang terjadi pada me-
ningioma dapat berupa (4, 22, 24, 28, 29) :
. penurunan visus
· papil oedema
· nystagmus
· gangguan yojana penglihatan
· gangguan gerakan bola mata
· exophthalmus.
Beberapa penyelidikan mendapatkan prosentase dari kelainan
mata tercantum dalam tabel 3 (4, 31) :
-Hemi
parese. Lebih sering didapatkan pada meningioma di-
bandingkan dengan tumor-tumor intrakranial yang lain.
RAAF
dkk (31) mendapatkan 10% dari kasus-kasusnya de-
Cermin Dunia Kedokteran No. 16, 1979
37
Tabel
3:
Kelainan mata pada meningioma
Kelainan mata
Raaf
Crouse
Newell Beaman
Penurunan
visus
29%
31%
53%
Papil edema
32%
46%
43%
Nystagmus
--
38%
4%
ngan kelumpuhanfokal, C
ROUSE
dkk (4) mendapatkan ti-
ga dari 13 kasusnya dengan hemi parese disertai gangguan sen-
soris dari N V.
- Gangguan mental. Sering juga didapatkan gangguan mental,
tentunya berhubungan pula dengan lokalisasi dari tumor.
Dilaporkan 13% dari kasus-kasus RAAF (29) dengan ganggu-
an mental. Gejala mental seperti: dullness, confusion stupor
mernpakan gejala-gejala yang paling sering (22).
- Lain-lain. Disamping gejala-gejala tersebut di atas juga se-
ring didapatkan gangguan saraf otak (nervi cranialis) terutama
yang paling sering dari kasus-kasus Crouse yaitu N II, V, VI, IX
dan X (4). Gejala yang menarik adalah adanya Intermittent
cerebral symptoms (6).
Pada 219 penderita dengan meningioma supra tentorial dida-
patkan ganggnan fungsi serebral yang mendadak intermitten
dan sementara dapat beberapa menit atau lebih dari sehari.
Gejala-gejala dapat berupa afasia, kelumpuhan dari muka dan
lidah, hemi plegia, vertigo, buta, ataxia, hallusinasi (olfak-
toris) dan kejang-kejang.
Setengah dari kasus-kasus ini gangguan fungsi serebral ber-
ulang-ulang, karena terjadi pada usia lanjut maka seringkali
diagnosa membingungkan dengan suatu infark otak atau in-
suffuiensia serebrovaskuler, migrain, dan multiple sclerosis (5).
Pada umumnya C.V.A. dapat dibedakan dengan tumor intrak-
ranial dengan adanya gejala-gejala yang mendadak dan perla-
han-lahan diikuti dengan kemajuan dari gejala-gejala neurologis
Bermacam-macam gejala neurologis yang paling sering menim-
bulkan kesalahan diagnosa ( dapat dilihat pada tabel 4) (22) :
Tabel
4 :
Symptomatology
of
Misdiagnosed Intncranial Tumors
Meningioma Glioblastoma
Astrocytoma
(8)
(9)
(3)
Sudden hemiparesis ..
5
2
1
Gradual hemiparesis ...
2
5
1
Vertigo.......................
1
2
1
Dysarthria or dysphagia
1
3
2
Headache...................
2
3
3
Confusion or disorientation
3
1
1
Seizures.....................
5
3
2
Aphasia.....................
1
2
0
Lethargy...................
0
4
1
Personality change :
2
2
1
Coma.......................
2
1
1
Vomiting..................
1
0
2
Tanda-tanda menyesatkan (False Localizing Signs = FLS. (7).
FLS dari tumor-tumor intrakranial adalah tanda-tanda yang
tidak semuanya berhubungan dengan gangguan fungsi pada
tempat tumor tersebut. Biasanya terlihat sebagai gejala fokal
dari tempat-tempat yang jauh dari tumor di mana hal ini
dapat membingungkan untuk menentukan lokalisasi tumor
tersehut. Seperti biasanya diagnosa klinik ditegakkan dari kum
pulan/tanda-tanda, tetapi kurangnya pengetahuan akan FLS
menyebabkan kesalahan-kesalahan pada diagnosa, apabila pada
kasus-kasus yang tanda-tandanya tidak jelas.
Dari 250 kasus meningioma intrakranial didapatkan 101 kasus
dengan FLS. Diagnosa yang salah karena gejala-gejala yang ti-
dak jelas disertai adanya FLS. Gejala-gejala yang tidak jelas da-
pat disebabkan oleh karena adanya Silent area di mana tumor-
tumor itu pada permulaannya tidak menunjukkan gejala-gejala.
Yang termasuk silent area: parasagital anterior, konveksitas
frontal dan intraventrikuler.
Prosedur diagnosa
Diagnosa ditentukan atas beberapa pemeriksaan sebagai
berikut :
· Elektroensefalografi (E.E.G.).
· X -- foto tengkorak.
· Angiografi
· Pneumoensefalografi atau Ventrikulografi.
· Brain Scan.
· Computerized Tomography Scan (CT scan).
· Histopatologik.
· Tissue Culture
-Elektroensefalografi
(EEG). (18). Tumor otak membe-
ri EEG abnormal pada 75--85% dari kasus dan 15 -- 25% dari
penderita dengan tumor otak mempunyai EEG yang normal.
Tumor otak sendiri tidak memberi aktivitas listrik abnormal.
Hanya neuron-neuron yang membuat ini pada daerah dekat
tumor menjadi abnormal sedemikian rupa sehingga hypersyn-
chronisasi dari pelepasan-pelepasan listrik dari beribu-ribu atau
berjuta-juta sel saraf membentuk gelombang lambat atau ge-
lombang runcing pada EEG. Mungkin tumor ini memberi kela-
inan metabolik dari neuron-neuron didekatnya, mungkin de-
ngan tekanan langsung, oedema atau mengaeau (merusak)
innervasi daerahnya.
GRAIB
A.R.
P ERRY.
H. (3) menyatakan meningoma me-
nunjukkan sedikit abnormalitas pada E.E.G.
Pada kasus-kasus
RAAF
(29) didapatkan 53% dengan fokus
abnormal.
Pada meningioma intraventriculer enam dari delapan kasus
KOBAYASHI
dkk (16) menunjukkan EEG yang abnormal.
-
X --
foto tengkorak. Beberapa sarjana menyatakan bahwa
perubahan-perubahan dari X -- foto tengkorak pada meningio
ma 22,5% adalah normal, 75,5% abnormal. Kelainan radiolo-
gis tersebut adalah
:
· Hyperostosis : 25% - 44,1% (14, 20, 27).
· Pembesaran dari canalis yang dilalui oleh arteri
menin-
giamedia (foramen Spinosum) : 25% (27).
· Perkapuran dari tumor : 3% -- 20% (14, 27).
· Kerusakan dari tulang : 1,5% - 16,1% (14, 27).
· Pembuatan specule : 4,3%
adalah pembuatan tulang-
tulang baru sebagai tiang yang ramping tegak lurus pada
permukaan tulang yang normal (14).
· Penebalan tulang yang difus (27).
GOLD
dkk (9), J
ACOBSON
(14) menyatakan bahwa hyperos-
tosis dan kalsifikasi tumor terutama Psammomatous merupa-
kan tanda yang paling penting untuk diagnosa meningioma
disamping peningkatan Vascularisasi dan kerusakan tulang.
38
Cermin Dunia Kedokteran No.
16, 1979
- Angiografi (33). Kelainan pembuluh darah yang paling
khas pada meningioma adalah adanya pembuluh darah yang
memberi darah pada neoplasma oleh cabang-cabang arteri
sistim karotis eksterna.
Bila mendapatkan arteri karotis ekstema yang memberi darah
ke tumor yang letaknya intrakranial maka ini mungkin sekali
neningioma.
Meningioma menunjukkan ciri-ciri paling khas sebagai berikut:
(33) : (i) Mendapat darah dari sistim karotis eksterna. (ii)
Homogenous akan tetapi sharphy sircumscribed cloud, ya
itu adanya tumor cloud yang homogen dari cairan kontras
pada seluruh tumor. Batas vaskuler intrinsik dari meningio-
ma sering jelas sekali dan konfigurasinya berbentuk bulat-
bulatan (lobulated). Dan (iii). Tetap adanya cairan kontras
dalam tumor.
Terdapat tetap adanya tumor cloud untuk waktu yang
agak lama pada serialogram. Tumor Stain masih terlihat
pada film terakhir ialah delapan sampai sembilan detik se-
telah permulaan dari injeksi cairan kontras.
(iii) lebih dapat dipercaya daripada (ii).
. Pneumoensefalografi atau Ventrikulografi (33).Pneumogra-
fi dapat menunjukkan paling jelas tumor intraventrikuler dan
tumor yang letaknya dalam, dekat pada ventrikel atau menga-
dakan invasi pada struktur di garis tengah (invading midli-
ne structures).
- Brain Scan. Brainscan biasanya kurang cermat untuk diag-
nosa dari tumor yang tumbuh lambat dan berasal dari glia.
Mungkin tak lebih dari separo menunjukkan Brainscan yang
positip (29).
Keterbatasan atau kejelekan dari radionucleide brainscan ini
ialah tak dapat memberi petunjuk yang dapat dipercaya me-
ngenai jenis atau macam nature dari lesi.
Ia hanya menunjukkan suatu daerah dengan uptake yang ab
normal dalam kepala, yang dapat sebagai neoplasma, vaskuler,
radang atau trauma.
Ia tak memberi informasi mengenai status dari otak dan dera-
jad dari deformitas atau adanya edema otak, dilatasi ventrikel
atau tekanan intrakranial yang tinggi.
Dalam hal ini, C.T. scan dari otak lebih superior dibandingkan
dengan isotop brainscan (33).
Computerized Tomography scan (CT scan) (21). Meningio-
ma biasanya lebih padat dibandingkan dengan otak oleh kare-
na adanya Calcium dalam tumor.
Nilai absorpsi mungkin antara 20 - 300 Um, dan lesi-lesi itu
dengan densitas sedang, bertambah jelas dengan penyuntikan,
kontras walau dengan jumlah yang sedikit (20 - 40 cc).
Bila meningioma dengan densitas sangat mendekati otak,maka
kita dapat salah menerka edema sebagai tumor dan dapat men-
diagnosis salah sebagai glioma.
Sesuai dengan laporan BECKER dkk (1) bila meningioma me-
ngandung banyak calcium, ia sangat padat dan diagnosisnya
jelas.
CT. Scan dapat menunjukkan ventrikel dan ruangan subarach-
noid, juga massa tumor, sering dapat memberi informasi ten-
tang lokalisasi secara terperinci (21).
Histopatologik. Histopatologi dari meningioma menunjuk-
kan gambaran yang beraneka ragam. Beberapa sarjana memba-
gi menjadi gambaran yang sederhana didasarkan jenis yang pa-
ling sering didapatkan.
Menurut U.I.C.C. (Unio Internationalis Contra Cancrum) (37).
gambaran histopatologi sebagai berikut :
· Epitheloid
· Meningotheliomatous
· Endotheliomatous
· Fibroblastic / Fibromatous
· Psammomatous
-
Pembiakan jaringan (7issue Culture). Sejak tahun 1928
pembiakan jaringan meningioma telah dilakukan, tetapi tidak
didapatkan bentuk-bentuk pertumbuhan, sampai C OSTERO
dkk pada th 1955 mendapatkan pertumbuhan meningioma
whorls
yang khusus. Bentuk
whorls
tidak selalu didapatkan
pada semua pembiakan jaringan meningioma, tetapi whorls
ini merupakan tanda khas adanya meningioma dan tidak per-
nah didapatkan pada tumor-tumor yang lain baik intra mau-
pun ekstraserebral (25).
Diagnosa
Diagnosa meningioma di RSUP Dr. Sutomo dibuat berda-
sarkan :
· Gejala-gejala klinik adanya Trias dari Tumor yaitu : sakit
kepala, muntah-muntah, papilloedema dan tanda-tanda fo
kal.
· Elektroensefalografi.
· Pemeriksaan X foto tengkorak.
· Angiografi.
· Pneumoensefalografi atau Ventrikulografi.
· Histopatologi.
Kasus-kasus mengioma di RSUP Dr. Soetomo sejak April
1978 sampai dengan Juni 1979 adalah sebagai berikut : Dida-
patkan lima penderita, empat penderita wanita dengan usia
termuda 24 tahun dan tertua 35 tahun serta satu penderita
laki-laki dengan usia 43 tahun.
Diagnosa banding / Differential diagnosa
Diagnosa banding tergantung dari bentuk gejala sebenarnya
dan usia penderita. Telah dibuat sejumlah diagnosa banding pa
da beberapa penyelidikan.
Kira-kira separo dari kasus-kasus dengan insuffisiensia serebral
sepintas lalu dan berulang-ulang pada penderita yang tua me-
nyerupai infark otak atau insuffiensia serebro vaskuler.
Seringkali juga menyerupai chronic subdural hematoma, per-
darahan subarachnoid dan meningitis serosa (5, 22).
Pengobatan.
- Operasi. Meningioma yang terletak di vault biasanya dapat
dioperasi seluruhnya. Pada basis otak terdapat kesukaran teh
nis untuk diambil seluruhnya.
- Drainage ventrikel. Cara ini digunakan
umpamanya
pada neoplasma dari fossa posterior dengan obstruksi akut
dari sistem ventrikel, tekanan intrakranial meningkat secara
massif dan oedema otak yang ikut menyertainya.
- Penutupan vaskuler.
Cara ini digunakan paling se-
ring pada meningioma dengan banyak sekali pembuluh darah
(highly vascular meningioma).
Cermin Dunia Kedokteran No. 16, 1979
41
Biasanya dilakukan ± 24 jam sebelum operasi yaitu penutupan
dari arteria karotis eksterna yang memberi darah pada tumor
dengan macam-macam tehnik embolisasi.
- Pembesaran lapangan operasi (Operative magnification).
Penggunaan microscope bedah atau loupe dengan cahaya fiber
optic memberi dimensi baru untuk pendekatan operasi, da-
ri banyak tnmor.
Prognosa
Pada umnmnya prognosa meningioma adalah baik, karena
pengangkatan tumor yang sempurna akan memberikan pe-
yembuhan yang permanen (35).
Pada orang dewasa snrvivalnya relatif lebih tinggi dibanding-
kan pada anak-anak, dilaporkan survival rate lima tahun adalah
75% (29).
Pada anak-anak lebih agresif, perubahan menjadi keganasan
lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar (17).
Pada penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10%
meningioma akan mengalami keganasan dan kekambuhannya
tinggi (32).
Sejak 18 tahun meningioma dipandang sebagai tumor jinak,
dan bila letaknya mndah dapat diangkat seluruhnya (34).
Degenerasi keganasan tampak bila ada : (8).
· invasi dan kerusakan tulang
· tumor tidak berkapsul pada saat operasi
· invasi pada jaringan otak.
Mortalitas
Angka kematian meningioma sebelum operasi jarang dila-
porkan, dengan kemajuan tehnik dan pengalaman operasi para
ahli bedah maka angka kematian post operasi makin kecil.
Diperkirakan angka kematian post operasi selama lima tahun
(1942--1946) adalah 7,9% dan (1957--1966) adalah8,5%(29).
Sebab-sebab kematian menurut laporan-laporan yang terdahu-
lu yaitn perdarahan dan oedema otak.
Resume
Meningioma intrakranial merupakan tumor intrakranial ke-
dua yang tersering disamping glioma, perjalananya sangat lam-
bat dan lebih sering didapatkan pada wanita pada usia
50 -- 60 th.
Diduga sebagai penyebabnya adalah trauma, kehamilan dan
virus. Lokalisasi tersering didaerah supra tentorial di para
sagital. Permulaan sampai timbul gejala-gejala rata-rata 26 bu-
lan. Gejala-gejala umum seperti tumor intrakranial disertai ge
jala-gejala fokal tergantung lokalisasi dari tumor.
Diagnosa dibuat berdasarkan pemeriksaan tumor intrakranial
pada umumnya, di RSUP Dr. Soetomo dibuat berdasarkan pe-
meriksaan klinik , E.E.G., x-foto tengkorak, angiografi, PEG
atau ventrikulografi.
Diagnosa banding seringkali menyerupai insuffisiensia serebral
sementara dan berulang-ulang,infark otak,chronicsubdural he-
matoma, perdarahan sub archnoid dan meningitis.serosa.
Pengobatan dengan operasi, drainage ventrikel, penutupan vas-
kuler, pembesaran lapangan operasi.
Prognosa pada umumnya baik, survival rate lima tahun adalah
75%. Angka kematian : diperkirakan post operasi selama lima
tahun (1942 - 1946) adalah 7,9% dan (1957 - 1966) adalah
8,5%.
KEPUSTAKAAN
1. BECKER D. NORMAN AND WILSON, C.B. : Cumputerized tomo-
graphy and Pathclogical Correlation in cystic Meningiomas, Report
of two cases.
J. Newoswg.
50 : 106 109, 1979.
2. BIGNER D.D. AND PEGRAM C.H: Virus induced Experimental
Brain Tumors and pututive Association of Viruses with human
brain tumor : A Revieu in advance in Neurology, vol. 15, edited by
Thompson R.A. and Green J.R. Raven Press, New York, 1979 p.74.
3.GRAIB. A.R. AND PERRY. M
EEG hand book
2nd ed Beckman,
Instruments Inc, 1973 1975 p. 12 - 14.
4.CROUSE. S.K. AND BERG, B.O : lntracranial Meningiomas in
childhood and adolescence.Neurology 22 135 - 141, 1972.
5.DALY D.D, SVIEN. H.J. AND YOSS. R.E : Intermittent Cerebral
symptoms with Meningiomas.
Arch. of Neurology
S287-293,1961
6.ELLIOIT, F.A :
Tumor of the Meninges.
Clinical Neurology 2nd ed
W.B. Saunders Philadelphia 1972 p . 435.
7.GASSEL, M.M : False Localizing Signs.
Arch. Newolegy 4:
526
554, 1961.
8.GILROY J, MEYER. J.S :
Meningiomas, Medical Neurology, 2
nd
ed. Mac. Millan, Publishing co, inc. New York Collier Mac Millan ,
Canada Ltd. Toronto-Bailliere Tind 1, London, 1975 p. 617.
9.GOLD L.H.A, KIEFFER S.A. AND PETERSON. N.C:Intracranial
Meningiomas,
Neurology
19, 873878 Sept. 1969.
10.GREEN J.R, WAGGENER. J.D. AND KRIEGS FOLD. B A:
Classification and Incidence of neoplasms of the central Neryous
system.
In Advance in Neurology, vol. 15. edited by Thomas, R.A. and
Green, J. R. Raven Press, New York, 1976,p. 54.
11.GURDIAN, E.S. AND THOMAS. L.M. :
Operative. Neurosurgery
3nd ed the William Co, Baltimore, 197-0 p. 72.
12.HACKINSKI V, NORRIS. J.W, COOPER P.W. AND MARSHALL,
J. : Symptomatic Intracranial Steal.
Arch. Neurology 34 :
149153,
1977.
13. HIRSH L.F, MANCALL E.L. : Giant Meningiomas of the Posterior
Fossa.
Yama: 240 :
1626 1629, 1978.
14.JACOBSON H.G, LUBERTSKY H.W, SHAPIRO J.R, CARTON
C.A:Intracranial Meningiomas A Rontgen
Study of 126 Cases.
Radiology
72: 356366, 1959.
15.KELLY W.A, CONN H.P. :
Current therapy
1978, p. 739744.
16.KOBAYASHL S, OKASAKI H, MAC CARTY C.S. : Intra Ventri-
cular Meningiomas.
Mayoclinic Proc 4C :
735 741, 1971.
17.KOOSE W. TH, MILLER. M.H :
Meningiomas intracranial tumor
of Infants and Childrens.
Thieme Edition, George Thieme Ver:
lag Stutgart J. A. Boston. 1972, p. 112.
18.KILOH L.G. , MC. COMAS A.L. AND OSSELTON J.W. :
Clinical
Electroencephalorography 3nd ed Botter Worths, London Boston
1972, p. 112.
19. LEAVENS M.E. : Brain Tumors.
American Journal of Nursing 78
81 Mart 1964.
20.LEIGHT E.T.F, FINCHER EDGAR, F.AND HALL M: Evaluati
on of Routine Skull films in intracranial meningiomas.Radiobgy ,
66 : 509 515, 1956.
21. LIN J.P, KRICHEFF 1.1, LAGUNA J AND NAIDICH T:
Brain
Tumors Studied by Computerized Tomography.
In Advances in
Neurology, Vol. 15. edited by Thompson R.A. Gree. J.R. Raven
Press, New York, 1976. p. 179 - 180.
22.MC. LAURIN R.L. AND HELMER F.A. : Errors in Diagnosis of
intracranial Tumors.
Yama
180 : 89 94 1962.
23.MENDIRATTA, S.S, ROSENBLUM J.A. AND STROBOS R.J. :
Cogn Congenital Meningioms.
Neurology 17 ;
914 918, Sept.1967
24. MERRITT. H.H:
Tumor of the Meninges ;
A Text Book of Neurolo-
gy 5thed Lea Febiger, Philadelphia. Igaku Shoin, Ltd. Tokyo,1973
25.MULLER. J. AND HEALEY J. JR : The use of tissue culture in dif
ferantiation between angioblastic meningiomas and hemagiopericyto
ma ;
J. Neurosurg
34 : 341 - 348, March. 1971.
26.MORTHFIELD. D.W.C. : The Surgery of the Central Nervous Sys-
tem. A Text Book for post Graduat Students lst ed Blackwell
Scientific publications Oxford/London/Edenburg 1973, p. 229.
42
Cermin Dunia Kedckteran No. 16, 1979
27.ORLEY. A. :
Neuroradiology, Blackwell Scientific Publications
Oxford lst ed. 1949.
28.PEYTON W.T, FRENC. L.A. AND BAKER. A.B. : Intmcranial
Neoplasma. Clinical Neurology 2nd ed A Hoeberharper, Internatio-
nal Edition Harper Row, New York, Evanston London and John
Weatherhill, Inc. Tokyo p. 460.
29.RAAF. J, PARSONS W.R : Intracranial Meningomas,Arch Surg102
: 380 -- 384, 1971.
30. ROBBINS. L.S. AND ANGELL. W. :
Basic Pathology 2nd ed W. B.
Saunders co/Igaku Shain Tokyo 1976, p. 657.
31.ROSSELL D.S, RUBINSTEIN L.J : Tumors of Meninges and of Re
lated Tissues. Pathology of Tumors of the Nervous system. Balti-
more, William; and Wilkens, 1971 : pp. 58 -- 60, 90.
32.SHUANGSHOTI S, NONGSARPRABHAS AND NETSKY. M.G.:
Metastazing Meningioma.Cancer 26 : 832 -- 841, 1970.
33.TAVERAS. J.M. AND WOOD. E.H.: Diagnostic neuroradiology.The
William and Wilkins Company Baltimore, 1964.
34.TYTUS. J.S, LASERSCHN J.T. AND REIFEL. E: The Problem of
Malignancy ini Meningiomas
J. Neurology 1961 p. 551 -- 557.
35.YOUMANS J.R:
Tumors of The Cranial Meninges.Neurological
Surgery W.B. Saunders co Philadelphia London Toronto, I973 ,
p. 1388 -- 1411.
36. ZULCH K.J :
Brain Tumors, Their Chronology and Pathology.,
Springer Publishing Company, Inc, New York, 2nd ed. 1965. p.,,
39, 51, 202.
37.ZULCH_ K.J. AND WECHSLER. W: Pathology and Classification,
of Gliomas. Progr. Neurol,
Surg. 2: 1
--84, 1968.
Keluarga Berencana
SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN R I/KEPALA BADAN
KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL (BK-
KBN) PADA UPACARA PEMBUKAAN KONPERENSI TA-
HUNAN PERKUMPULAN UNTUK STERILISASI SUKARE-
LA INDONESIA (PUSSI) I/1979 DI YOGYAKARTA TANG-
GAL 16 JUNI 1979
Para hadirin yang saya hormati,
Peserta Konperensi Tahunan PUSSI yang berbahagia,
Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa yang karena karunia-Nya pada hari ini kita sekali-
an dapat bersama-sama menghadiri upacara pembukaan Konpe
rensi Tahunan PUSSI 1979 dalam keadaan sehat walafiat.
Pada kesempatan yang bahagia ini,
perkenankanlah saya
menyampaikan selamat dan mohon maaf yang sebesar-besamya
karena kesibukan tugas tidak dapat hadir secara pribadi pada
upacara pembukaan ini. Namun ingin saya mengucapkan teri-
ma kasih yang sebesar-besarnya kepada Saudara-saudara yang
biarpun sibuk, masih menyempatkan diri untuk tinggal bebera-
pa hari lagi di Yogyakarta untuk membicarakan beberapa hal
yang kiranya akan membantu pembangunan semesta yang se-
dang giat-giatnya dilaksanakan oleh pemerintah bersama masya
rakat.
Saudara-saudara yang saya hormati,
Berbeda dengan Konperensi-konperensi tahunan Saudara
sebelumnya, kiranya konperensi tahunan ini mempunyai ar-
ti yang cukup vital karena beberapa sebab.
Pertama,
karena pada tahun ini dimulai rangkaian pembangun
an Pelita III untuk ikut serta menciptakan hari esok yang lebih
cerah.
Kedua,
karena pembangunan dibidang kesehatan dan keluarga
berencana serta kependudukan, -- dua bidang dimana Saudara-
saudara ikut serta menyumbangkan tenaga dan pikiran -- , se-
dang memasuki era baru yang cukup menggembirakan dan pe-
nuh tantangan.
Kita sekalian diharapkan meratakan pelayanan kesehatan
sampai ke segala pelosok tanah air, sedemikian rupa, sehingga
setiap keluarga di Indonesia ini pada suatu hari nanti dapat
menikmati hidup yang lebih panjang, dengan penuh kebahagia-
an dan kesejahteraan. Disamping itu, kita sekalian diharapkan
juga meningkatkan mutu kehidupan anggota masyarakat, se-
hingga mereka dapat menjadi insan pembangunan yang poten-
sial, dan mempunyai peran-serta yang tinggi untuk melanjut-
kan pembangunan tersebut.
Kini tugas kita menjadi berat, oleh karena itu kita sekali-
an harus menyingsingkan lengan baju, mengurangi waktu istira-
hat untuk menyelesaikan berbagai masalah yang kita hadapi,
dan disamping itu kita harus menyiapkan kader-kader dari
berbagai bidang untuk memperluas jangkauan pelayanan, me-
nyiapkan diri dan masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan
masyarakat dan pelayanan yang memadai. Lebih kompleks lagi
tugas yang kita hadapi bersama itu ialah, karena kemajuan
jaman dalam era tehnologi yang sedemikian maju itu, aspirasi
masyarakat akan kebutuhannya menjadi lebih tinggi, sehingga
kita sekalian tidak saja menghadapi peningkatan jumlah kebu-
tuhan tetapi juga sekaligus tuntutan peningkatan mutu pela-
yanan yang jauh lebih baik.
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Sebagai Menteri Kesehatan yang sekaligus merangkap Ke-
pala BKKBN, perkenankanlah saya menggambarkan betapa be-
sarnya tugas kita sekalian dalam dua bidang pembangunan ini.
Di bidang kesehatan kita telah bertekad, di tahun 2000-an
menyampaikan pelayanan kesehatan kepada semua penduduk,
agar tingkat kematian yang sekarang masih sekitar I7 per I000
dapat ditekan di bawah I0 per I000, sehingga harapan hidup
orang Indonesia menjadi lebih panjang lagi. Sasaran ini akan
kita tempuh dengan peningkatan usaha Pemerintah yang besar,
bersama-sama dengan peran-serta masyarakat disegala pelosok
tanah air.
Usaha-usaha untuk menekan tingkat kematian anak-anak di
bawah usia 5 tahun. yang mempunayi andil terbesar dari jum-
lah kematian di Indonesia, akan mendapat prioritas utama.
Dengan usaha antar sektoral serta peran masyarakat secara luas
kita harapkan pada akhir Pelita III ini, penduduk kita yang
terdapat di 40 sampai 45 ribu desa di Indonesia telah dapat
meningkatkan gizi mereka, berkat pendidikan dan penluyuhan
gizi yang mulai kita tangani secara sungguh-sungguh dewasa ini.
Kalau kita dikarunia Tuhan Yang Maha Kuasa dalam usaha be-
sar ini, niscaya dalam masa I0 -- I5 tahun yang akan datang a-
kan muncul suatu generasi baru yang pertumbuhan badannya
secara fisik lebih baik serta mempunyai tingkat kemampuan
dan kecerdasan yang lebih baik pula, sehingga mereka itu da-
pat meneruskan pembangunan generasi berikutnya dengan
lebih mantap lagi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 16, 1979
43