TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Masalah Nyeri Kejang Otot
pada Penderita Penyakit Reumatik
Dr. Harry Isbagio
Sub Bagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Nyeri merupakan salah satu masalah utama bagi penderita
penyakit reumatik di samping keluhan lain, seperti bengkak
sendi, nyeri gerak, kaku sendi, gangguan fungsi dari deformitas.
Tetapi sebagian besar penderita dengan keluhan reumatik ter-
nyata tidak menunjukkan tanda artritis yang nyata.
Nyeri dapat berasal dari struktur di sekitar sendi, seperti
berasal dari tulang, bursa, tendon, ligamen, saraf dan otot. Dari
data epidemiologi dan data penderita rawat-jalan rumah sakit
terlihat bahwa penderita dengan diagnosis artritis yang nyata
seperti artritis reumatoid, artritis gout, spondiloartropati sero-
negatif dan artritis lainnya hanyalah sebagian kecil dari seluruh
penderita dengan keluhan reumatik. Data dari seluruh dunia
maupun penelitian epidemiologik dan data penderita rawat jalan
di berbagai rumah sakit di Indonesia menyokong hal tersebut.
Penelitian epidemiologik di Bandungan, Jawa Tengah, pada
4693 responden didapatkan artritis reumatoid hanya 0,3%, artri-
tis gout 1,7% pada pria, artritis lainnya tidak ditemukan, Se-
baliknya osteoartritis lutut ditemukan pada 14%, osteoartnitis
lumbal dan servikal pada 5 dan 4%, sedangkan fibrositis bahu
13,9% pada pria dan 14,9% pada wanita dan epikondilitis 5%
pada pria dan 6,1% pada wanita
(1)
. Data penderita rawat-jalan di
Poliklinik Sub Bagian Reumatologi Bagian Penyakit Dalam
FKUIJRSCM, Jakarta, menunjukkan bahwa penderita dengan
artritis nyata, jumlahnya tidak banyak, sebagian besar justru
penderita osteoartritis dan reumatik ekstraartiku1er
(2)
.
Melihat data di atas, maka kemungkinan nyeri yang disebab-
kan kejang otot akan banyak dijumpai. Hal ini sering dilupakan
karena dokter sering menduga nyeri yang dikeluhkan pendenita
hanya disebabkan oleh inflamasi sendi.
NYERI PADA PENYAKIT REUMATIK
Nyeri merupakan keluhan utama pada gangguan muskulo-
skeletal dengan etiologi yang bermacam-macam. Untuk mengenal
lebih lanjut berbagai jenis nyeri, maka Zimmerman
(1987)mem- bagi dalam 5 jenis yaitu
(3)
:
1) Nociceptor pain
Ujung sanaf sensorik tertentu dirangsang oleh proses pato-
fisiologik, misalnya inflamasi sendi.
2) Neuropathic pain
Serabut saraf aferen secara langsung bereaksi terhadap rang-
sangan setelah mengalami kerusakan akibat kompresi atau
gangguan biokimiawi, misalnya pada hernia nukleous pulposus
atau polineuropati diabetik.
3) Deafferentation pain
Neuron pada sistem saraf pusat menjadi sangat mudah te-
rangsang setelah kehilangan asupan, misalnya pada avulsi radiks
atau transeksi saraf.
4) Reactive pain
Eksitasi nociceptor akibat disfungsi motor atau simpatetik
eferen atau mekanisme refleks, misalnya pada hipertonus mus-
kuler, algodistrofi simpatetik.
5) Psychosomatic pain
Problem psikik atau psikososial meningkatkan eksistensi
nyeri atau diekspresikan sebagai nyeri.
Nyeri pada penyakit reumatik dapat terjadi akibat:
1) Rangsangan pada nociceptors di dalam komponen perang-
kat biomekanik, misalnya perangsangan nociceptors pada otot,
sendi, tendon dan ligamen. Nyeri jenis ini berhubungan dengan
konsep nyeri sistem sensorik, sebagai mekanisme pertahanan
tubuh terhadap situasi yang membahayakan atau terjadinya ke-
Dibacakan pada Simposium Penanggulangan Terpadu Nyeri Tegang Otot, Hotel
Borobudur, Jakarta 1993.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
24
rusakan. Oleh karena adanya nyeri ini, maka bagian yang ter-
serang akan diistirahatkan/imobilisasi, untuk mencegah terjadi-
nya kerusakan lebih lanjut.
2) Penekanan saraf atau serabut saraf (radiks).
3) Perubahan postur yang menyebabkan fungsi untuk meng-
atur kontraksi otot tidak sempurna.
4) Mekanisme psikosomatik.
KEJANG OTOT DARI SEGI REUMATOLOGI
Terminologi dan kejang otot (spasme otot/tegang otot)
masih merupakan dilema dan tergantung dari mana kita me-
ninjaunya.
Definisi yang sering digunakan ialah kontraksi dan satu
atau lebih kelompok otot yang tidak terkendali dan tidak di-
inginkan dalam jangka waktu yang cukup lama, yang dihubung
kan dengan aktivitas berlebih unit motor atau perubahan dari
rangsangan serabut otot
(4)
.
Ditinjau dari sudut reumatologi, maka kejang otot bukan
berarti suatu spastisitas, melainkan lebih menjurus kepada ke-
lainan otot yang lebih terlokalisir berupa rasa tegang dan disertai
rasa nyeri
(5)
.
Kejang otot lebih sering terjadi setempat (terlokalisir), baik
pada otot perifer maupun pada otot paravertebra; disebabkan
oleh beban berlebih (overload), kerja berlebih (overwork) atau
beban salah (misload). Kejang otot yang menyeluruh (generali-
sata) jarang sekali dijumpai. Biasanya otot yang kejang dan
insersi tendonnya terasa nyeri. Nyeri kejang otot dapat ter- jadi
akut maupun kronik. Nyeri kejang otot kronik terjadi bila
faktor penyebabnya berlangsung terus atau timbul berulang
dalam jangka waktu yang lama.
Menurut etiologinya, kejang otot pada penderita penyakit
reumatik dapat dibagi dalam dua kelompok besan menurut ada
atau tidaknya faktor pencetus atau faktor penyebab. Kelompok
pertama adalah penderita kejang otot yang disertai nyeri tanpa
ditemukan adanya faktor penyebab/faktor pencetus kejang otot;
ini tennasuk dalam kelompok gangguan yang disertai nyeri
kejang otot primer atau idiopatik. Kelompok kedua adalah
kelompok kejang otot yang terjadi akibat inflamasi, pe-
nekanan saraf atau serabut saraf atau gangguan mekanik/per-
ubahan postur pada sendi;ini termasuk dalam kelompok gangguan
yang disertai nyeri kejang otot refleks atau sekunder (Tabel 1).
GANGGUAN YANG DISERTAI NYERI KEJANG OTOT
PRIMER ATAU IDIOPATIK
Pada keadaan ini tidak ditemukan kelainan patologik nyata
yang menjadi penyebab induksi spasme otot. Dapat dikatakan
bahwa kejang otot bukan sebagai akibat kelainan tertentu, tetapi
justru kejang otot mengakibatkan terjadinya rasa nyeri.
Pada makalah ini hanya akan dibahas dua keadaan yang ter-
masuk kelompok ini, yaitu Sindrom Fibromialgia dan Sindrom
Nyeri Miofascial.
Sindrom fibrositis-fibromialgia
(6,7,8)
Sindrom Fibromialgia sering dikenal dengan berbagai nama,
antara lain fibrositis, fibromiositis, soft tissue rheumatism. Ten-
Tabel 1. Nyeri Kejang Otot pada Penderita Penyakit Reumatik.
1)
Gangguan yang disertai nyeri kejang otot primer atau idiopatik
1.1. Fibromialgia primer atau generalisata
2.2. Fibromialgia regional atau sindrom nyeri miofascial
(1.3. Tension
headache)
(14. Stiff-man syndrome atau neuromiotonia)
2)
Gangguan yang disertai nyeri kejang otot refleks atau sekunder
2.1. Penyakit sendi degeneratif
2.2. Penyakit infeksi
2.3. Penyakit sendi inflamasi
2.4. Postur abnormal
(2.5. Trauma)
(2.6. Gangguan metabolik dan endokrin)
(2.7. Keganasan)
(2.8. Vertebra abnormal kongenital atau didapat)
(2.9. Gangguan
visceral)
(2.10. Lain-lain)
Keterangan:
Dalam tanda kurung adalah kelompok gangguan yang buk.an termasuk penyakit
reumatik, tetapi penderita sering datang dengan keluhan yang menyerupai pen-
derita reumatik.
domiopati dan miogelosis akhir-akhir ini menjadi perhatian para
peneliti. Terminologi fibromialgia menunj ukkan suatu sindrom
nyeri muskuloskeletal yang termasuk dalam kelompok besar
reumatik nonantikuler. Fibroniialgia terutama menyerang wanita
(80-90%) pada masa subur. Onset dimulai pada saat remaja.
Prevalensi pada populasi umum berkisar antara 5%.
Pendenita fibromialgia mempunyai 3 gejala utama, yaitu:
1) Nyeri muskuloskeletal
2) Kaku (stiffness)
3) Cepat lelah (fatigue)
Nyeri muskuloskeletal pada trias fibromialgia dapat terlihat
dalam berbagai bentuk. Gejala yang paling sering dijumpai
adalah nyeri di daerah aksial. Sebagian penderita mengeluh nyeri
otot dan rasa Iemah, walaupun secara obyektif kelemahan otot
tersebut tidak ditemukan. Kekakuan (stiffness) merupakan pula
gejala umum yang sering dijumpai, seperti penderita reumatik
lainnya.Rasa kaku dirasakan terutama pada pagi hari dan membaik
setelah bergerak, walaupun pada beberapa pasien berlangsung
terus sepanjang hari. Rasa lesu/lemah merupakan gejala yang
kadang-kadang paling menonjol dan keluhan ini yang menye-
babkan terjadinya gangguan fungsi.Gangguan tidur juga merupa-
kan keluhan yang sering ditemukan. Gangguan tidur ini akan
menyebabkan penderita merasa tidak segar pada waktu bangun
tidur, pasien justru merasa sangat lelah. Beratnya gangguan
tidur berhubungan erat dengan beratnya gejala kelelahan se-
panjang hari dan kaku pagi.
Dalam riwayat penyakit dapat ditemukan keluhan yang ber-
tambah berat bila kena air dingin, suara keras, kerja berat, stres
mental dan kecemasan. Sebaliknya, keluhan berkurang dengan
udara hangat, mandi air panas, liburan dan aktivitas ringan.
Riwayat pengobatan menunjukkan penderita mengalami
kegagalan dengan aspirin dan obat anti inflamasi nonsteroid.
Biasanya penderita akan memberikan daftar panjang obat yang
pernah diminumnya.
Riwayat penyakit yang lebih Iengkap biasanya menunjuk-
kan adanya berbagai kondisi yang erat hubungannya dengan fak-
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 25
tor stres, misalnya irritable-bowel-syndrome, irritable bladder,
tension headache, migren dan dismenorhoe. Suatu yang khas
pada pemeriksaan fisik penderita fibromialgia ialah tidak di-
temukannya gejala obyektif yang setara dengan keluhannya.
Satu-satunya penemuan abnormal ialah adanya beberapa titik
nyeri (tender point). Pasien biasanya sadar akan kemungkinan
adanya titik-titik ini dan merasa gembira bila dokter dapat me-
nemukannya. Bila dokter tidak mengenal lokasi titik tersebut,
biasanya hasil pemeriksaannya normal dan pasien merasa kecewa.
Tender point dapat dirasakan dengan perabaan halus menggunakan
ibu jari tangan. Titik nyeri ini lebih sensitif daripada titik kontrol.
Penelitian dengan menggunakan dolorimeter menunjukkan
bahwa pada lokasi tender point penderita fibromialgia didapat-
kan ambang nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan orang
normal (Gambar 1).
8 PAIRED TENDER POINTS (·)
1. Insertion of nuchal muscles into occiput
2. Upper trapezius (mid portion)
3. Pectoralis muscle just lateral to second costochondral junction
4. 2 cm below lateral epicondyle
5. Upper gluteal az
6. 3 cm posterior to greater trochanter
7. Medial knee in area of bursa
8. Gastrocnemius-achilles tendon junction
4 CONTROL POINTS (o)
1. Middle of forehead
2. Volar aspect of mid fore arm
3. Thumb nail
4. Muscles of anterior thigh
Gambar 1. "Tender point" dan "control point" pada sindrom fibromialgia
Tender point tidak hanya terbatas pada penderita fibromial-
gia, tetapi dapat ditemukan pada keadaan regional pain syn-
drome, suatu keadaan yang mirip fibromialgia tetapi tanpa di-
sertai dengan kaku generalisata dan kelelahan. Keadaan tersebut
disebut myofascial pain syndrome. Untuk membedakan kedua
titik tersebut, maka titik pada sindrom nyeri miofascial biasanya
disebut sebagai trigger point. Istilah trigger point bukanlah se-
kedar nama saja, karena palpasi pada trigger point akan menye-
babkan nyeri yang dirujuk ke daerah sekitarnya, sedangkan nyeri
pada tender point hanya menyebabkan nyeri lokal. Penyuntikan
trigger point dengan larutan prokain hidroklorid 1% akan meng-
hasilkan hilangnya rasa nyeri rujukan tersebut.
Pemeriksaan laboratorium biasanya memberikan hasil
yang normal. Pemeriksaan psikologik menunjukkan keluhan ini
mem- buruk bila ada stres. Ada yang beranggapan fibromialgia
sebe-narnya merupakan depresi terselubung atau gangguan
anxietas yang somatisasi menonjol dan hipokondria. Penderita
fibromial- gia yang jelas menunjukkan depresi, anxietas dan
hipokondria umumnya sukar untuk disembuhkan. Hipotesis
menyatakan adanyä lingkaran setan di antara kejang otot,
gangguan tidur, psikologik abnormal (Gambar 2).
Gambar 2. Siklus kejang otot - gangguan psikologik - gangguan tidur dan
nyeri
pada
sindrom
fibromialgia
Gejala utama fibromialgia yang berupa nyeri, kaku dan ke-
lelahan tidak memberikan hasil bermakna dengan pengobatan
simtomatik. Aspirin dan OAINS memberikan hasil di bawah
optimal, demikian pulakortikosteroid sistemik. Pemanasan,
pijat, akupunktur, TENS (Transcutaneous Nerve Stimulation),
pere- gangan otot dan penyuntikan tender point dengan
anestetik lokal hanya memberikan hasil sementara dan tidak
efektif untuk peng- obatanjangka panjang. Bila pasien tidak
terlibat aktif dalam pro- ses pemulihan, maka prognosisnya
buruk. Yang lebih penting ialah keterlibatan langsung pasien
daripada pemberian resep oleh seorang dokter.
Pasien perlu:
1) Menyadari bahwa fibromialgia ialah gangguan disfungsi
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
26
dan bukan penyakit fisik yang akan mengakibatkan cacat;
2) Memperbaiki kesegaran fisik;
3) Mengurangi stres;
4) Menyesuaikan kebiasaan tidur;
5) Tetap dalam aktivitas semula.
Dokter dapat membantu pasien dengan menyusun program
rehabilitasi, sedangkan untuk memperbaiki gangguan tidur dapat
diberikan medikamentosa amitriptilin (10-25 mg) atau sikioben-
zaprin (10-20 mg) menjelang tidur.
Sebagaimana halnya dengan berbagai gangguan yang be-
lum mempunyai pengobatan. spesifik, maka keberhasilan peng-
obatan fibromialgia tergantung dari hubungan antara dokter
dengan pasien, yang kita kenal sebagai seni pengobatan' (art of
medicine).
Sindrom nyeri miofascial
(6,7,8)
Pada sindrom m ditemukan hanya beberapa tender point,
tidak adanya nyeri generalisata dan jarang ditemukan keluhan
kelelahan (fatigue). Oleh karena itu sindrom ini lebih sering
disebut sebagai fibromialgia regional atau terlokalisasi.
Seperti disebut di atas, maka titik nyeri pada sindrom ini
lebih tepat disebut sebagai trigger point. Perabaan pada trigger
point akan menyebabkan nyeri yang dirujuk ke daerah di se-
kitarnya. Kekakuan yang dikeluhkan bersifat regional. Sebagai-
mana halnya dengan sindrom fibromialgia generalisata, maka
berbagai faktor pemberat, seperti udara dingin, suara keras
serta faktor emosional, dapat ditemukan; demikian pula adanya
ber- bagai faktor yang memperingan.
Lokasi yang sering dikeluhkan ialah tengkuk (torticolis akut
atau sindrom kaku tengkuk), pinggang atas dan pinggang bawah.
Sindrom ini ditemukan sama banyaknya baik pada pria maupun
wanita.
Pengobatan dilakukan dengan menghindari factor pemberat
dan latihan peregangan otot. Penyuntikan trigger point dengan
larutan prokain hidroklorid 1% akan menghilangkan rasa nyeri
rujukan untuk beberapa waktu. Prognosis lebih baik dari sindrom
fibromialgia karena dapat diharapkan penyembuhan sempurna
walaupun sering terjadi kekambuhan (Tabel 2).
Tabel 2. Perbedaan antara Sindrom Fibromialgia dengan Sindrom Nyeri
Miofascial
Gambaran
Sindrom
Fibromialgia
Sindrom
Nyeri Miofascial
Ratio seks
Nyeri
Lelah
Kaku
Palpasi
Pengobatan
Prognosis
Predominan wanita
Menyeluruh
Sangat nyata
Generalisata
Tender point tersebar lugs
Pasien ikut serta
Antidepresan tnsiklik
Penyakit mundur-maju
dengan beberapa disabilitas
fungsional
Pria dan wanita sama
Regional
Biasanya tidak ada
Regional
Trigger point regional
Menghindari faktor pemberat
Latihan peregangan
Diharapkan resolusi sempurna
walaupun sering kambuh
Sumber
Schumacher HR. Primer on the Rheumatic Disease. Ninth Edition. Arthritis
Foundation. Atlanta GA. 1988 halaman 228.
GANGGUAN YANG DISERTAI NYERI KEJANG OTOT
REFLEKS ATAU SEKUNDER
Dari segi reumatologi, kelompok gangguan ini dapat dibagi
dalam dua bagian besar, yaitu nyeri kejang otot yang terjadi
akibat inflamasi sendi dan nyeri kejang otot yang terjadi akibat
perubahan mekanik (karena ada perubahan postur, deformitas
dan penekanan pada saraf). Pembagian ini menurut penulis
relatif lebih sederhana karena tidak perlu dilihat jenis penya-
kitnya. Hal m dikarenakan apa pun jenis penyakitnya, akibat
yang terjadi pada otot hampir sama. Memang kadang-kadang
tidak dapat dibedakan apakah nyeri kejang otot yang terjadi
akibat inflamasi atau akibat perubahan mekanik, karena kedua
keadaan tersebut mungkin saja dapat ditemukan secara bersa-
maan.
1) Nyeri kejang otot refleks/sekunder akibat inflamasi sendi
Inflamasi merupakan perubahan dinamik sebagai reaksi
jaringan tubuh terhadap ancaman dan berbagai stimulus. Proses
inflamasi ini karakteristik dengan fenomena kaskade seluler dan
humoral. Dikenal duajenis mekanisme pertahanan tubuh, yaitu
innate (non-specific) dan adaptive (specific). Setiap jenis terdiri
dart faktor sel dan faktor yang larut (soluble factor). Inflamasi
secara normal merupakan proses yang self-limiting. Bila faktor
penyebab inflamasi telah dibasmi, maka proses inflamasi akan
reda. Bila respon innate gagal untuk membasmi faktor pencetus,
maka respon adaptif akan aktif sehingga faktor stimulus dapat
dilenyapkan dan kaskade inflamasi akan berakhir. Inflamasi
kronik terjadi bila faktor yang mencetuskan terjadinya kaskade
inflamasi tidak dapat dimusnahkan, atau mekanisme untuk
menghentikan proses ini tidak bekerja (Gambar 3).
Gambar 3. Inflamasi akut dan inflamasi kronik
Pada kaskade inflamasi akibat kerusakan membran sel akan
dilepaskan fosfolipid yang kemüdian secara enzimatik akan
dihidrolisis menjadi asam arakhidonat, yang kemudian akan
dikonversi dalam dua jalur, yaitu siklooksigenase dan lipooksi-
genase, menjadi prostaglandin, prostasiklin, tromboksan dan
leukotrien (Gambar 4). Prostaglandin ada bermacam-macam,
yaitu PGA, PGB, PGI dan PGE
(9)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 27
Gambar 4. Kaskade Inflamasi dan pembentukan prostagladin
Nociceptor banyak ditemukan pada akhir dan ujung bebas
saraf aferen A delta dan C-fibers. Tidak semua ujung serabut
saraf aferen tersebut berfungsi sebagai nociceptor, karena ada
serabut yang bereaksi terhadap rangsangan mekanik dan rangsan-
gan panas. Nociceptor sangat peka terhadap rangsangan kimia,
yang disebut sebagai algesic chemical substances, yang berasal
dari endogen, misalnya dari proses inflamasi, trauma atau iskemi.
Algesic chemical substances tersebut antara lain ialah bradikinin,
ion kalsium, serotonin dan prostaglandin. Faktor kimia tersebut
seniuanya bersifat vasoaktif yang dapat mengakibatkan vasokon-
triksi atau vasodilatasi yang akhirnya meningkatkan permeabili-
tas kapiler. Efek pada mikrosirkulasi lokal tersebut adalah bagian
dari proses inflamasi, yang akan meningkatkan rasa nyeri.
Prostaglandin E yang dihasilkan oleh proses inflamasi akan
mengadakan interaksi dengan bradikinin untuk mencetuskan
rasa nyeri (Gambar 5)
(3)
.
Gambar 5. Mekanisme fisiologik nyeri pada system muskuloskeletal
Akibat nyeri tersebut maka salah satu mekanisme refleks
yang terjadi ialah kejang otot lokal dan selanjutnya akan me-
nambah rasa nyeri yang terjadi.
2) Nyeri kejang otot refleks/sekunder akibat perubahan
mekanik
Kelompok ini dapat dibagi dalam dua kelompok bila di-
hubungkan dengan nyeri yang terjadi pada penyakit reumatik,
yaitu nyeri kejang otot sebagai refleks terhadap gangguan postur
dan nyeri kejang otot sebagai refleks terhadap penekanan saraf.
Kelompok gangguan ini memang lebih sering terjadi pada otot
paravertebral (di sekitar tulang belakang) dan sering menyebab-
kan gangguan yang secara mudah dikenal sebagai nyeri pinggang
dan nyeri tengkuk.
a) Nyeri kejang otot sebagai refleks terhadap gangguan postur
Gangguan postur dapat terjadi karena kelainan pada verte-
bra sendiri maupun akibat deformitas pada ekstremitas bawah.
Deformitas pada ekstremitas bawah, seperti deformitas pada
sendi panggul (coxae) dan lutut (genu) akan mengakibatkan per-
ubahan postur.
Postur abnormal akan mengakibatkan perubahan axis pe-
nopang berat (weight-bearing axis) pada vertebra. Pentingnya
postur abnormal sebagai penyebab nyeri muskuloskeletal sering
dilupakan.
Sebagian besar perubahan postur memang disebabkan ka-
rena kebiasaan, tetapi sebagian lagi dapat diakibatkan penyakit
atau deformitas pada ekstremitas bawah. Postur abnormal dapat
dikoreksi, baik secara pasif maupun aktif, tetapi pada beberapa
kasus tidak dapat dikoreksi. Akibat postur abnormal terjadi ke-
lemahan atau pemendekan satu kelompok otot dan beberapa
ligamen; sebaliknya akan mengendorkan kelompok otot/ligamen
lainnya. Bila terjadi deviasi, maka sebagian otot, ligamen dan
diskus mengalami beban berlebih (Gambar 6). Postur abnormal
yang sering dijumpai antara lain skoliosis, punggung rata (flat-
back), hiperkif dorsal dan hiperlordosis lumbal (Gambar 7).
a b
Gambar 6. a. Distnbusi normal berat badan pada keadaa fisiologik:
b.
Pada hiperlordosis kifosis terdapat perubahan yang me-
nyebabkan
peregangan
pada
sekelompok
otot
dan
ligament
secara
terus
menerus.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
28
Gambar 4. Postur abnormal
b) Nyeri kejang otot sebagai refleks terhadap penekanan saraf
Gangguan keadaan ini di bidang reumatologi merupakan
keadaan sekunder akibat penyakit sendi degeneratif pada ver-
tebra. Seperti diketahui, penyakit sendi degeneratif atau osteo-
artritis terutama menyerang sendi penopang antara lain vertebra
servikal, lumbal, panggul, lutut dan pergelangan kaki. Terse-
rangnya vertebra servikal dan lumbal akan menyebabkan terjadi
berbagai sindrom (terminologi menurut Wagenhauser), yang
dalam makalah ini tidak dibicarakan secara luas, yaitu sindrom
vertebral,sindrom radikuler dan sindrom pseudoradikuler. Ketiga
sindrom tersebut umumnya diakibatkan penekanan atau iritasi
radiks saraf spinal yang disebabkan penyempitan dan foramen
intervertebral oleh osteofit, yang mengakibatkan nyeri dan kejang
otot (Gambar 8).
Gambar 8. Sindrom pseudoradikuler
PENGOBATAN
Untuk menuju pengobatan yang tepat, maka terlebih dahulu
perlu dicari penyebab nyeri kejang otot tersebut, apakah ter-
masuk nyeri kejang otot primer atau sekunder.
Pengobatan nyeri kejang otot primer perlu membedakan
apakah akibat sindrom fibromialgia atau sindrom miofascial.
Demikian pula pada nyeri kejang otot sekunder, perlu dicari
terlebih dahulu penyebab utamanya, kemudian bila mungkin
pengobatan ditujukan pada penyebab utama tersebut.
Untuk mengatasi nyeri kejang otot, perlu dilakukan kom-
binasi antara pengobatan farmakologik dengan pengobatan non
farmakologik agar tercapai pengobatan yang sempurna. Peng-
obatan farmakologik meliputi pengobatan sistemik dan peng-
obatan secara lokal (Tabel 3).
Tabel 3. Pengobatan Farmakologik pada Nyeri Kejang Otot
Pengobatan Sistemik
Pengobatan Lokal
Obat analgesik anti-inflamasi
· Analgesik antipiretik
· Obat antiinflamasi non-steroid
· Analgesik narkotik
· Anestetik lokal
· Steroid
· Obat antiinflamasi non-steroid topikal
Relaksan otot
· Pada tingkat otot
· Pada tingkat neuromuskuler
· Pada tingkat spinal
· Pada tingkat supraspinal
Obat psikotropik
· Antidepresan
· Neuroleptik
· Minor Tranquilizer'
Lain-lain
· Calcitonin
· Penyekat beta
Sumber: Emre M. Painful Muscle Spasms. Clinical Research, Sandoz, Basle,
halaman 37.
Makalah ini tidak membahas secara terinci tentang cara
kerja obat tersebut di atas, tetapi hanya terbatas pada penggunaan
obat tersebut pada berbagai keadaan yang disertai dengan kejang
otot. Pada Tabel 4 dapat dilihat manfaat berbagai obat tersebut
terhadap nyeri dan kejang otot pada berbagai sindrom klinik
(10)
.
Seperti telah disebut di atas, maka pada sindrom fibromial-
gia, penggunaan obat analgetik dan anti inflamasi non-steroid
maupun relaksan otot tidak banyak manfaatnya untuk jangka
panjang; penggunaan antidepresan trisiklik banyak membantu.
Sebaliknyapada sindrom miofascial, penyuntikan anestetik lokal
pada trigger point akan sangat membantupenderita. Pada keadaan
ini OAINS dan analgetik ringan dapat membantu untuk jangka
waktu tertentu.
Pada artritis reumatoid dan artritis inflamasi lainnya, yang
paling bermanfaat adalah obat anti inflamasi non-steroid yang
akan mematahkan rantai inflamasi dan sekaligus menghilangkan
nyeri dan kejang otot yang terjadi, obat-obatan lainnya tidak
bermanfaat.
Pada osteoartritis aktif yang disertai inflamasi sendi yang
nyata yang paling bermanfaat adalah OAINS, sedangkan pada
keadaan kronik yang disertai nyeri mekanik, maka OAINS
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 29
Tabel 4. Manfaat Berbagai Obat pada Berbagai Sindrom Klinik terhadap Nyeri dan
Kejang Otot
Penyakit OAINS
Analgetik
ringan
Analgetik
narkotik
Obat
Psikotropik
Relaksan
otot
Calcitonin
Fibromialgia
* Lokal
+
++
(+)
+
(+)
(+)
* Generalisata
+
+
+
+
Artritis reumatoid
++
+
?
Osteoartritis
* A cljf
++
(+)
(+)
?
* Kronik ++
++
(+)
+
Penyakit spinal
* Sindrom vertebra
+
++
+
+
++
* Sindrom radikuler
+
+
+
+
++
* Osteoporosis +
++
+
+
++
++
* Inflamasi
++
+
Keterangan : ++ = sangat bermanfaat; + = bermanfaat; (+) = diragukan manfaatnya; (?) =
manfaat
masih
dipertanyakan; = tidak bermanfaat
Sumber : Modifikasi dari Felder M. Medical Treatment of Muscle Spasm and Pain. Dalam :
Muscle Spasm and Pain. Emre M. and Mathies M. ed. The Parthenon Publishing
Group. New Jersey, 1987, halaman 95.
paling bermanfaat dan kombinasi dengan analgetik dan relaksan
otot dapat membantu mengurangi nyeri dan spasme otot.
Bila deformitas sangat nyata, baik pada artritis reumatoid
maupun pada osteoartritis, maka penggunaan obat-obatan tidak
banyak manfaatnya untuk menghilangkan nyeri. Pada keadaan
ini yang paling bermanfaat adalah tindakan operatif.
Pada gangguan spinal yang disertai sindrom radikuler, maka
kombinasi penggunaan OAINS dengan relaksan otot sangat
membantu untuk mengurangi nyeri dan spasme otot. Calcitonin
merupakan obat yang paling bermanfaat pada osteoporosis, baik
untuk mengatasi osteoporosis maupun untuk mengatasi nyeri
yang diakibatkannya. Perlu disadari bahwa obat-obatan tersebut
di atas sangat diperlukan pendenta untuk menghilangkan nyeri.
Dengan demikian program latihan fisik untuk memperluas gerak
sendi dapat segera dimulai.
Pengobatan non farmakologik yang sebenarnya merupakan
program terapi fisik dan rehabilitasi adalah cara pengobatan lain
untuk mengatasi masalah nyeri dan kejang otot, di samping untuk
memperluas lingkup gerak sendi
(11)
.
Jenis terapi fisik yang sering digunakan ialah:
1) Pemanasan : dangkal & dalam
2) Pendinginan
3) Transcutaneous electrical nerve stimulation
4) Pijat
5) Latihan fisik
6) Manipulasi
7) Akupunktur
Dalam makalah ini tidak dibahas mekanisme kerja terapi
fisik di atas. Yang perlu diketahui adalah, bahwa terapi fisik
sangat membantu penderita mengatasi rasa nyeri. Dengan de-
mikian penggunaan obat dapat dibatasi, sehingga efek samping
obat yang tidak diharapkan dapat dikurangi.
KESIMPULAN
Nyeri merupakan salab satu masalah utama bagi penderita
penyakit reumatik di samping keluhan lain seperti bengkak
sendi, nyeri gerak, kaku sendi, gangguan fungsi dan deformitas.
Kejang otot merupakan pula salah satu masalah penderita reuma-
tik yang sering dilupakan karena dokter menduga nyeri yang
dikeluhkan penderita hanya disebabkan oleh radang sendi.
Kejang otot pada penderita penyakit reumatik secara garis
besar dapat dibagi dalam dua kelompok menurut ada/tidaknya
faktor pencetus atau penyebab. Kelompok pertaina ialah pen-
derita dengan kejang otot yang disertai nyeri tanpa ditemukan
adanya faktor penyebab atau pencetus yang menyebabkan ter-
jadinya kejang otot. ini termasuk dalam kelompok yang disebut
sebagai nyeri kejang otot primer. Contoh yang khas dari kelom-
pok ini ialah sindrom fibromialgia. Kelompok kedua ialah ke-
lompok di mana kejang otot yang terjadi sebagai akibat inflamasi
atau gangguan mekanik (deformitas, postur abnormal dan pene-
kanan saraf). Kelompok ini disebut sebagai nyeri kejang otot
sekunder.
Sebagaimana diketahui, inflamasi akan menyebabkan ter-
jadinya kejang otot dan selanjutnya akan menambah keluhan
nyeri. Siklus inflamasi-nyeri-kejang otot-nyeri ini sering mem-
perberat keluhan penderita. Di lain pihak, terjadinya nyeri mekanik
akibat perubahan postur, deformitas, penekanan saraf sering pula
menyebabkan kejang otot dan selanjutnya akan menambah
keluhan nyeri. Sikius gangguan postur/deformitas/penekanan
saraf - nyeri mekanik - kejang otot - nyeri ini akan menambah
gangguan fungsi dari bagian yang terserang dan selanjutnya
dapat menyebabkan gangguan fungsi penderita secara kese-
luruhan.
Keadaan tersebut di atas memerlukan pengobatan farmako-
logik dengan berbagai macam obat anti-inflamasi non-steroid,
obat analgetik, obat relaksan otot, obat psikotropik dan peng-
obatan non-farmakologik, yang sebenarnya merupakan program
terapi fisik/rehabilitasi, seperti penggunaan pemanasan, pendi-
nginan, TENS, pijat, latihan fisik dan sebagainya agar tercapai
pengobatan yang lengkap.
KEPUSTAKAAN
1. Darmawan J. Rheumatic Conditions in the Northern Part of Central Java.
An Epidemiological Survey. Proefschrift. Rotterdam: Erasmus Universitet
1988.
2. Sub Bagian Reumatologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokter-
an Universitas lndonesialRS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Data pen-
derita di Poliklinik. Unpublished.
3. Zimmerman M. Physiological mechanism of pain in the musculoskeletal
system. Dalam: Muscle Spasm and Pain. Emre M, Mathibs M. (eds). New
Jersey: The Parthenon Pubi Group, 1987; hal. 717.
4. Emre M. Painful Muscle Spasms. Clinical Research. Basle: Sandoz.
5. Mathias II. Problems of terminology. Dalam: Muscle Spasm and Pain.
Emre M, Mathies M. (eds). New Jersey: The Parthenon Publ Group, 1987;
hal. 1-3.
6. Schumacher HR. Primer on the Rheumatic Disease. Ninth ed. Atlanta GA:
Arthritis Foundation, 1988; hal. 227229.
7. Wolfe FW. Fibromyalgia: the clinical syndrome. Rheum Dis Clin N Am
15(1): 118.
8. Campbell SM. Regional myofascial pain syndromes. Rheum Dis Clin N
Am 15(1): 3144.
9. Maini N. Inflammation and Arthritis. New York: Pfizer International Inc.
25.
10. Felder M. Medical treatment of muscle spasm and pain. Dalam: Muscle
Spasm and Pain. Emre M, Mathies M. (eds). New Jersey: The Parthenon
Piibl;Group, 1987; hal. 8996.
11. Forner Valero JV. Physical therapy of muscle spasm and pain. Dalarn:
Muscle Spasm and Pain. Emre M, Mathies M. (eds). New Jersey: The
Parthenon PubI Group, 1987; hal. 125132..
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 31