MASALAH DOPING
dr Hario Tilarso
Pusat Kesehatan Olahraga DKI
Jakarta
PENDAHULUAN
Sejak dahulu kala manusia telah memakai doping untuk
menambah kekuatan badan dan meningkatkan keberanian.
Misalnya penduduk Indian di Amerika Tengah dan beberapa
suku di Afrika, mereka memakan zat-zat dari tumbuh-tumbuh-
an liar tertentu atau memakan madu sebelum menghadapi
suatu perjalanan jauh, berburu atau berperang. Pada Perang
Dunia II banyak digunakan pil-pil Amphetamine untuk me-
lawan rasa letih dan mengantuk.
Istilah dope pertama kali timbul pada tahun 1889 pada
suatu perlombaan balap kuda di Inggris sedangkan kata dope
itu sendiri berasal dari salah satu suku bangsa di Afrika Te-
ngah. Sejarah doping dalam olahraga dimulai kurang lebih
pada abad 19 pada olahraga renang, tetapi yang paling sering
dijumpai pemakaian doping ini adalah pada olahraga balap
sepeda. Pada waktu itu zat-zat yang populer dipakai adalah
caffeine, gula dilarutkan dalam ether, minuman-minuman
yang mengandung alkohol, nitroglycerine, heroin dan cocain.
MASALAH PEMERIKSAAN DOPING
Ternyata dari beberapa penyelidik didapatkan bahwa do-
ping (dalam hal ini Amphetamine) belum pasti efektif untuk
meningkatkan kemampuan fisik seseorang. Ada penyelidik
yang mendapatkan bahwa betul dapat terjadi peningkatan
kemampuan fisik tetapi banyak pula yang mendapatkan bahwa
amphetamine tidak berpengaruh terhadap badan seseorang.
Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh faktor-faktor psi-
kologis, teknis, lingkungan atau individu itu sendiri. Seperti
diketahui efek Amphetamine adalah : menghilangkan rasa le-
lah, mempercepat denyut jantung, menjadikan orang merasa
lebih siap siaga, menekan nafsu makan dan pemakaian waktu
lama akan menyebabkan suatu ketagihan.
Kemudian pada tahun 1933 beberapa dokter mendiskusi-
kan pemakaian doping ini dari segi-segi moral dan etika dalam
sport. Gerakan anti doping itu sendiri dimulai pada kurang
lebih tahun 1910, setelah seorang ahli Rusia mendapatkan cara
pemeriksaan doping dengan memeriksa air liur kuda. Tetapi
ternyata proses-proses pemeriksaan doping pada saat tersebut
mendapat tentangan dari masyarakat. Jadi pada zaman itu
belum ada kesadaran masyarakat akan bahaya doping. Lalu
setelah berkali-kali jatuh korban akibat doping, diadakanlah
usaha-usaha/kampanye pemberantasan doping. Kasus kematian
karena doping yang tercatat pertama kali adalah pada tahun
1886 yaitu pada balap sepeda dari kota Bordeaux ke Paris
sejauh 600 km. Seorang pembalap meninggal karena terlalu
banyak diberi Trimethyl oleh pelatihnya.
Akhirnya disimpulkan suatu definisi untuk doping dan juga
dibuat sebuah daftar obat-obatan yang dianggap sebagai dope
yang dapat dibagi dalam empat golongan yaitu :
· psychomotor stimulants
· symphatomimetic amines
· central nervous system stimulants
· narcotic analgesics
Adapun definisi-definisi untuk doping ini berubah-ubah
terus sesuai dengan perkembangan zaman. Defmisi yang per-
tama digariskan adalah pada tahun 1963 dan berbunyi sebagai
berikut : doping adalah pemakaian zat-zat dalam bentuk
apapun yang asing bagi tubuh, atau zat yang fisiologis dalam
jumlah yang tak wajar dengan jalan tak wajar pula oleh se-
seorang yang sehat dengan tujuan untuk mendapatkan su-
atu
peningkatan kemampuan yang buatan secara tidak
jujur. Juga bermacam-macam usaha psikologis untuk mening-
katkan kemampuan dalam olahraga harus dianggap sebagai
suatu doping.
Lalu karena dirasakan sukar untuk membedakan antara suatu
pemakaian doping dengan suatu pengobatan memakai obat-
obat stimulantia maka ditambah pula hal-hal baru dalam
definisi tersebut :
Bila karena suatu pengobatan terjadi kenaikan suatu kemampu
an fisik karena khasiat obat atau karena dosis yang berlebih
maka pengobatan tersebut dianggap sebagai suatu doping.
Pada Kongres Ilmiah Olahraga Internasional yang diadakan
pada saat berlangsungnya Olympiade Tokyo 1964 diadakan
perubahan definisi doping tersebut menjadi sebagai berikut :
Doping adalah pemberian kepada, atau pemakaian oleh, se-
orang atlit yang bertanding, suatu zat asing melalui cara apa-
pun, atau suatu zat yang fisiologis dalam jumlah yang tak
wajar, atau diberikan melalui cara tak wajar dengan maksud/
tujuan khusus untuk meningkatkan secara buatan dengan cara
yang tidak jujur kemampuan si atlit dalam pertandingan.
Selanjutnya karena masyarakat sudah mulai mengerti perlu-
nya/pentingnya pencegahan doping pada atlit maka pada
tahun 1972 diadakan pemeriksaan doping secara resmi pada
28
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
Olympiade Mexico dan pada Olympiade musim dingin di
Grenoble. Kemudian pada tahun 1974 dimasukkan pula
anabolic steroids kedalam daftar doping.
Tetapi meskipun cara-cara pemeriksaan doping sudah di-
anggap cukup sempurna masih ada juga atlit-atlit yang berani
memakai doping. Hal ini disebabkan oleh :
q
atlit tidak mengerti/tidak mau mengerti akan bahaya dari
doping.
q keinginan pribadi si atlit untuk menang dengan cara apapun
q rangsangan hadiah apabila ia menang (segi komersiel).
q
si atlit merasa yakin bahwa obat yang mereka minum
adalah baru dan tidak dapat dideteksi dalam air seninya.
Juga pengertian individu-individu lain yang berhubungan
langsung dengan si atlit (misalnya coach, dokter, team manager
atau pengasuh-pengasuh yang lain) akan definisi doping ter-
sebut berbeda. Mereka mengatakan misalnya, apakah minum
kopi sebelum bertanding dianggap suatu doping? Apakah pe-
nyuntikan suatu analgetika pada sendi yang cedera tidak
dianggap sebagai doping?
Turut berperan
pula disini sikap politik suatu negara/golong-
an dalam membina prestasi masing-masing atlitnya, untuk
negara-negara Eropa Timur, mereka memandang pemakaian
anabolic steroids untuk atlit wanita diperbolehkan untuk
mencapai prestasi puncak, meskipun nantinya akan mengorban
kan kehidupan/kesehatan pribadi atlit yang bersangkutan.
Tetapi di negara-negara barat lainnya sikap ini tentunya tidak
dapat ditempuh karena mereka lebih menjunjung kebebasan
individu. Pemakaian anabolic steroids ini mendapat sorotan
hangat dari dunia olahraga internasional setelah Jerman
Timur menunjukkan suatu kenaikan prestasi secara menyolok
sejak Olympiade 1968, dan andil yang besar dalam pengumpul
an medali-medali ini terutama dihasilkan oleh atlit-atlit wanita-
nya.
Apalagi setelah banyak didapat informasi yang dipercaya
bahwa mereka menggunakan anabolic steroids.
Pemakaian anabolic steroids ini sebenarnya telah dimulai
pada kira-kira tahun 1950, yaitu pada olahraga nomer-nomer
lempar dan pada Olympiade Tokyo 1964 pemakaian obat ini
sudah sangat populer sekali. Padahal kita ketahui bahwa efek
anabolic steroids ini pada wanita adalah :
q
Membesarnya otot jadi seperti pria (sebenarnya penambah-
an massa otot ini terutama karena retensi air dalam otot).
q
Tumbuhnya rambut-rambut, kumis dan jenggot.
q
Suara menjadi serak.
q
Kulit lebih kasar/berminyak.
Sedangkan pada laki-laki obat ini menyebabkan pengurangan
spermatogenesis. Dari laporan-laporan yang dapat dikumpul-
kan efek-efek anabolic steroid lain ialah :
· Kerusakan pada hepar dan dapat pula menyebabkan per-
tumbuhan tumor ganas atau hepatitis.
· Hypertensi.
· Perdarahan gastro-intestinal.
· Pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan tertutupnya
epifisis jadi menghambat pertumbuhan.
· Osteoporosis.
· Prostatisme.
Jadi jelas kunci problem yang dihadapi disini tidak hanya segi-
segi moral, etik dan medis, tetapi juga politik.
Jalan yang dapat ditempuh untuk mengurangi doping adalah
dengan cara :
q
Penyebarluasan pengertian tentang efek buruk doping bagi
tubuh.
q
Memberikan sanksi-sanksi yang sangat berat bagi para pe-
Selain itu juga organisasi/prosedur doping kontrol ini harus
dibuat lebih seragam dan lebih teliti.
Dan juga cara pemeriksaan haruslah betul-betul dapat diper-
caya, netral dan fair karena hasil pemeriksaan tersebut me-
nentukan harga diri seseorang atlit/team atau juga negara/bang-
sa.
Prosedur pemeriksaan
Biasanya yang diperiksa adalah para pemenang pertama,
kedua dan ketiga, lalu ditambah satu orang atau beberapa
orang atlit yang diambil secara random sampling dan juga
mereka yang dicurigai memakai doping.
Mereka semua ini harus melaporkan diri kepada team kontrol
doping biasanya selambat-lambatnya satu jam setelah per-
tandingan/perlombaan selesai, bila tidak, maka ia akan lang-
sung didiskwalifikasikan Hukuman lain yang dapat dikenakan
adalah berupa denda uang (pada olahraga bayaran) atau di
skors (tidak boleh bertanding) selama beberapa waktu ter-
tentu. Yang diperiksa adalah urine atau darah si atlit, tetapi
urine lebih banyak di dipergunakan karena kebanyakan zat-
zat doping ini diekskresi melalui urine.
Seratus cm
3
urine yang ditampung dalam botol gelas (yang
diberi tanda dan nama) ditutup dan diberi lak, lalu dibagi
dua, satu botol disimpan di lemari es dan satu botol lainnya
mengalami pemeriksaan-pemeriksaan yang umumnya terdiri
dari dua tahap :
(a).
Tahap screening, untuk deteksi dan perkiraan berapa
macam doping yang ada.
(b). Tahap kedua untuk identifėkasi.
Urutan test biasanya sebagai berikut :
(1).
Zat tersebut diextraksi dari larutannya.
(2).
Screening dilakukan dengan memakai thin layer atau
gas chromatography.
(3).
Identifikasi dilakukan dengan cara isolasi dan analisa
memakai chromatography pula.
(4).
Untuk konfirmasi identifikasi tersebut dapat dilaku
kan dengan cara Mass Spectrometer, Ultraviolet Absorption
Spectrometer, Infrared Absorption Spectrometer.
(5). Pemeriksaan anabolic steroids dilakukan dengan cara
Radio Immuno Assay dan dilanjutkan dengan Mass Spectro
meter pula.
Pada pengambilan sample yang boleh hadir adalah : si atlit
yang diperiksa, pelatih/team manager/dokter si atlit, petugas
pengambil sample, wakil dari federasi internasional cabang
olahraga tersebut dan anggota-anggota dari Komisi Kontrol
Doping.
Orang-orang ini semua menanda-tangani suatu berita acara
yang menyatakan bahwa mereka hadir pada saat pengambilan
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978
29
makainya
sample dilaksanakan. Bila hasil test ternyata positif maka
team pemeriksa segera memanggil team manager/pengasuh si
atlit yang bersangkutan dan memberitahukannya. Bila setelah
perundingan antara mereka dapat disimpulkan adanya suatu
kasus doping, maka hasil tersebut segera diumumkan dalam
waktu 24 jam setelah sample diterima. Suatu pemeriksaan
ulangan dapat diminta oleh atlit/team yang bersangkutan se-
cara tertulis dalam waktu 24 jam setelah hasil pertama di
umumkan.
Segera botol yang disimpan di lemari es diambil untuk peme-
riksaan ulangan dan pemeriksaan ulangan ini sebaiknya dilaku-
kan dilaboratorium yang lain. Atau bila dilakukan dilaborato-
rium itu juga maka pemeriksaan tertebut harus dijalankan oleh
teknisi/petugas laboratorium lain pula.
Dan pada pemeriksaan ulangan ini maka team manager/pela-
tih/dokter ti atlit yang bertangkutan diperkenankan hadir
untuk menyaksikannya . Hasilnya bila memang positif, maka si
atlit atau teamnya segera didiskwalifikasikan. Hukuman lain
dapat pula dilakukan oleh federasi internasional cabang
olahraga tertebut. Persoalan yang timbul disini ialah kadang-
kadang dalam Olympiade hukuman-hukuman yang dijatuhkan
oleh IOC (International Olympic Committee = Komite Olym -
piade International ) berbeda dengan hukuman-hukuman yang
terdapat dalam peraturan federasi internasional cabang terte-
but.
Hal inilah yang memusingkan para penyelenggara pertanding-
an, dan kiranya hal inilah yang harus segera dirumuskan de-
ngan baik supaya terdapat suatu peraturan yang seragam
mengenai sanksi-sanksinya supaya tidak terdapat suatu kontra-
diksi.
KEPUSTAKAAN
1. Y KURODA. Problems of doping in sport, in Problema of sports
Medicine and
.
sports training and coaching. Olympic Solidarity of
the International Olympic Committee, 1975.
2. WILLIAMS J G P SPERRYN P N: Sport Medicine
: Butler
Tanner Ltd. London, 1976.
3. Kumpulan materi kursus dasar kesehatan olahraga I, Dinas keseha-
tan sekolah, mahasiswa dan olahraga Depaztemen kesehatan R.I.
1975.
4. BECKET A H: Problems of anabolic steroid in sports.
5. TYLER R: The great olympic plot, LastGermany sruthlessgoad
machine.
6. BUSKIRK E R: Nutrition of the Athlete,in SportsMedicine.Aca-
demic Press, New York, 1974.
THE BACTERICIDAL BROADSPECTRUM ANTIBIOTIC WITH
CONVENIENT
t.i.d.
DOSAGE REGIMEN
WITHOUT REGARD TO MEALS
THE BACTERICIDAL BROADSPECTRUM ANTIBIOTIC OFFERING :
CONVENIENT T.I.D. DOSAGE REGIMEN WITHOUT REGARD TO MEALS
OUTSTANDING ORAL ABSORPTION
LOW INCIDENCE OF SIDE--EFFECTS
LOW TOXICITY
SUPPLIED AS :
HIGH CURE RATE
CAPSULES 250 MG
TABLETS
125 MG
AT A REALISTIC, ECONOMICAL PRICE.
SYRUP
125
MG/5ML
MAKE USE OF THE MANY BENEFITS OF K A L M O X I L I N
!!
KALMOXILIN
(AMOXYCILLIN TRIHYDRATE)
30
Cermin Dunia Kedokteran No. 12, 1978