HASIL PENELITIAN
Komplikasi Obstetri di Rumah
Sakit Susteran St. Elisabeth,
Kiupukan, Insana
Sutrisno, Lisa Andriani S.
Puskesmas Maubesi, Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara 7 Indonesia
PENDAHULUAN
Masalah kesehatan ibu dan anak merupakan rnasalah yang
krusial di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Kasti
(1986) angka kematian bayi (AKB) di Nusa Tenggara Timur
pada tahun 1971 sebesar 154 per seribu kelahiran hidup. Menurut
Syachrinudin Seman (sensus tahun 1980) angka kematian bayi
sebesar 126 per seribu kelahiran hidup. Sensus tahun 1991 angka
kematian ibu (AKI) di NTT sebesar 1346 per 100.000 kelahiran
hidup, angka ini hampir tiga kali lipat angka AKl nasional sebesar
450 per 100.000 kelahiran hidup. Di wilayah Kecamatan Insana
tahun 1995 AKI sebesar 1146 per 100.000 kelahiran hidup, se-
mentara AKl nasional diperkirakan mendekati 419 per 100.000
kelahiran hidup. Tampak bahwa semakin terjadi perbaikan AKB
dan AKI, tetapi selalu lebih tinggi dari angka nasional. Kenyataan
ini tentu cukup memprihatinkan mengingat AKI dan AKB
merupakan indikator yang sensitif tingkat kesejahteraan ma-
syarakat. Apalagi bila dikaitkan dengan pembangunan sumber
daya manusia (SDM) yang merupakan prioritas utama dari tujuh
program unggulan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur.
AKI dan AKB yang tinggi menunjukkan rendahnya derajat
kesehatan masyarakat Nusa Tenggara Timur, hal ini diperkuat
adanya bukti terjadinya tingkat kecacatan jasmani yang tinggi
(BPS, 1980) akibat kelainan kongenital. Pada periode 1986-1995
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang telah me-
lakukan operasi sumbing bibir dan langit-langit sekitar 2500
kasus (Hidajat 1994).
Kesejahteraan ibu dan anak terkait erat dengan proses ke-
hamilan, kelahiran dan pasca kelahiran. Ketiga peripode tersebut
akan menentukan kualitas sumber daya manusia yang akan
datang. Hingga kini permasalahan kehamilan, kelahiran dan
pasca kelahiran masih merupakan masalah besar di masyarakat
dan di pusat-pusat pelayanan kesehatan di Propinsi Nusa Teng-
gara Timur.
Berikut akan disajikan data mengenai permasalahan obstetri
yang terjadi di RS Susteran St. Elisabeth, Kiupukan, Kecamatan
Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara
Timur (NTT) tahun 1994, 1995, Januari - Juni 1996.
METODE
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis data sekunder
dari rekam medis RS Susteran St. Elisabeth, Kiupukan, Insana.
RS Susteran adalah rumah sakit misi yang berdiri sekitar
tahun 1970-an. Rumah sakit ini kecil dan terletak di ibu kota
Kecamatan Insana Kabupaten TimorTengah Utara, NIT Rumah
sakit ini melayani masyarakat dan desa-desa wilayah Kecamatan
Insana dan penderita dari daerah lain seperti Kefamenanu, Oekusi
(Pante Makasar), Atambua dan lain-lainnya. Rumah sakit ini
cukup dikenal oleh masyarakat di TTU dan Belu.
Pasien yang datang berasal dari semua lapisan masyarakat,
namun sebagian besar dari kalangan sosial ekonomi rendah
(sangat miskin). Penduduk Kecamatan Insana berjumlah
35.000 jiwa yang tersebar di 18 desa.
Data berikut didapat dari rekam medis di kamar bersalin
dan BKIA di rumah sakit tersebut pada periode tahun 1994,
1995 dan Januari-Juni 1996.
HASIL
Berikut ini disajikan hasilnya dalam bentuk tabulasi
(Tabel 1, 2, 3).
ANALISIS
Secara keseluruhan ibu melahirkan yang mengalami kom-
plikasi obstetri adalah 24,2% dengan perincian tahun 1994
(19,8%), tahun 1995 (27,2%) dari Januari-Juni 1996 (26,5%).
Komplikasi-komplikasi utama adalah BBLR (15,29%), partus
lama (4,33%) dan retensio plasenta (3,19%).
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
22
Tabel 1. Jenis komplikasi obstetri
Komplikasi pada Ibu bersalin
Komplikasi pada Ilayi
No. Tahun
Jumlah
persalinan
Jumlah
kompliks Retensi
plasenta
Perdarahan
postpartum
KPD
Partus
lama
Post
matur
Prematur
Kematian
maternal Bblr Iufd Cacat
bawaan
Kematianl
Bayi
1
2
3
1994
1995
JanJun 96
171
188
79
34
51
21
7
7
3
3
1
5
11
3
2
2
4
2
1
21
32
14
1
I
2
3
4
2
4
Total
438 106 14
6 I
19 2 6 3 67
2 5 10
Tabel 2. Bayi berat badan lahir rendah dan maturitasnya
Berat badan (gr)
Jumlah
Prematur Aterm Post
date
2000 -2500
Kurang dari 2000
63
4
4
2
58
2
1
Jumlah 67
6
60
I
Tabel 3. Jenis-jenis cacat hawaan (kongenital)
Nomor
Jenis cacat
Jumlah
BB lahir (g)
Keterangan
1 Meningocele
1
2125 Meninggal
2 Agenesis
1
2675 Meninggal
3
tangan kanan
Sumbing bibir
1
3000
Hidup
4
-langit-langit
Sumbing bibir
1
3100
Hidup
5 Sumbing
hibir I
3000 Hidup
Latar belakang permasalahan di atas terkait erat dengan
faktor-faktbr sosial ekonomi berupa adat kebiasaan, kemiskinan,
dan kebiasaan hidup setempat yang tidak menunjang gaya hidup
sehat seperti minum tuak, makan tak bergizi (hanya karbohidrat,
sedikit sayur, sedikit daging) dan banyaknya pantangan-pan-
tangan makanan oleh peraturan adat nenek moyang. Minum
tuak dan makan sirih pinang membudaya di kalangan kaum
laki-laki dan perempuan termasuk ibu hamil.
Tanah dan air di pulau Timor diketahui detisien unsur Zinc
yang terkait dengan cacat bawaan dan tingkat kekebalan. Laporan
pendahuluan riset suplementasi Zinc pada ibu hamil oleh Tim
dan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, tahun
1996, menyebutkan bahwa 84% ibu hamil di empat kabupaten
di pulau Timor mengalami defisiensi zinc pada serum darahnya.
Kasus infeksi virus, malaria dan penyakit infeksi yang lain,
termasuk tuberkulosis, masih cukup tinggi. Pendidikan penduduk
yang ndah, kawin antar keluarga dekat banyak terjadi di dalam
masyarakat. Faktor-faktor di atas secara sendiri-sendiri atau
saling berinteraksi merupakan faktor penyebab tingginya tingkat
komplikasi pada ibu yang melahirkan di Kecamatan Insana.
Jumlah BBLR 67 kasus, dan BBLR dengan berat badan
kurang dari 2000 gram sebanyak 4 kasus. Jumlah ini cukup
tinggi, apalagi 60 kasus BBLR (89%) adalah bayi aterm. Gizi
merupakan problem utama NTT hingga saat ini. Makan jagung
bose, minum air mentah langsung dan sungai, minum tuak.
makan sirih pinang, dan faktor lingkungan yang lain merupakan
faktor penyebab tingginya bayi dengan berat badan lahir rendah.
Ibu-ibu hamil di Kecamatan Insana masih kurang kesadarannya
untuk ANC di Puskesmas atau di Posyandu. Mereka umumnya
baru datang ke fasilitas kesehatan bila kehamilan sudah tua dan
itu biasanya hanya satu atau dua kali saja. Kondisi daerah yang
gersang, langka sayuran, jauh dan laut, adanya pantangan makan
ikan laut, pantang makan kacang hijau, pantang makan sayur
bayam serta pantang makanan yang lain sangat membudaya di
masyarakat Kecamatan Insana.
Tingkat kecacatan kongenital cukup tinggi. Temuan BPS
tahun 1980 menyimpulkan hal yang serupa. Selama tahun 1994.
1995, dan Januari-Juni 1996 didapatkan 3 kasus sumbing bibir
dan langit-langit atau 6,8 kasus per 1000 kelahiran. Sampai saat
irti di masyarakat kasus sumbing bibir dan langit-langit terus
lahir, bahkan ada satu keluarga yang lima anaknya sumbing bibir
semua. Di Malang, Jawa Timur prevalensi sumbing adalah 1 per
1000 kelahiran; di NIT dalam kurun waktu 1986-1995 telah
dioperasi 2500 kasus sumbing bibir dan langit-langit. Etiologi
sumbing bibir dan langit-langit adalah multifaktorial. Faktor
genetik dan lingkungan dapat berpengaruh secara sendiri-sendiri
atau bersamaan (berinteraksi) menyebabkan timbulnya cacat
sumbing dan cacat kongenital lainnya.
Oleh karena kompleksnya masalah-masa!ah yang terkait
dengan kesehatan ibu dan anak di Kecamatan Insana maka di-
perlukan pendekatan masal ah secara bertahap, berkesinam-
bungan, terpadu, berjangka panjang dan melibatkan secara aktif
masyarakat dan segala komponennya. Hal ini memerlukan sikap
proaktif dari pemerintah daerah dan lembaga nonpemerintah,
mengingat masyarakat Kecamatan Insana (dan NTT umumnya)
masih merupakan masyarakat yang tertinggal pendidikan dan
ekonominya.
KESIMPULAN
1) Komplikasi obstetri pada ibu melahirkan di Kecamatan
Insana sebesar. 24,2%. Komplikasi utama berupa BBLR
(19,29%), partus lama (4,33%) dan retensio plasenta (3,19%).
2) 89% BBLR adalah bayi aterm. Ibu hamil kurang gizi me-
rupakan faktor utama tingginya kasus BBLR.
3) Tingkat cacat kongenital cukup tinggi. Prevalensi sumbing
bibir adalah 6,8 per 1000 kelahiran dan sampai saat ini terus
lahir sumbing-sumbing baru.
4) Faktor genetik, lingkungan, kebiasaan hidup, dan status
sosial ekonomi mempunyai kontribusi yang besar terhadap
kasus-kasus terjadinya komplikasi obstetri di atas. Oleh karena
itu diperlukan penanganan secara bertahap, berkesinambungan,
terpadu, berjangka panjang, dan melibatkan masyarakat secara
aktif.