background image
HASIL PENELITIAN
Kepekaan Kuman
terhadap Antibiotika
Golongan Kuinolon dan Sefalosporin
Agus Sjahrurachman, Widyasari Kumala, Tassimin Nurjadi
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Pengobatan penyakit infeksi bakterial berkembang sejalan dengan pergeseran pola
dan perubahan resistensi kuman penyebab serta temuan antibiotika baru. Sejalan
dengan hal tersebut dilakukan penelitian aktifitas antibiotika baru, yaitu sparfloksasin.
Aktifitasnya dibandingkan dengan antibiotika siprofloksasin, sefotaksim dan sefaklor.
Untuk itu dilakukan uji untuk menentukan konsentrasi hambat minimum obat terhadap
161 isolat yang terdiri dari K. penumoniae, E. coli, S. aureus, Str. beta haemolyticus, B.
catarrhalis. Data yang didapat juga dibandingkan dengan data dari luar negeri.
Hasilnya menunjukkan bahwa: (I). Semua isolat masih peka terhadap sparflok-
sasin, (II). Sejumlah isolat telah resisten terhadap siprofloksasin, sefotaksim dan sefak-
lor, (III). Aktifitas antibiotika uji bervariasi bergantung pada jenis kuman dan asal
geografis kuman.
PENDAHULUAN
Khemoterapi antimikroba dimulai dengan sulfonamida
pada tahun 1930-an, disusul dengan penisilin G pada tahun
1940-an. Pada dekade selanjutnya ditemukan eritromisin, tetra-
siklin dan vankomisin dan pada tahun 1960-an ditemukan
generasi I sefalosporin. Walaupun telah banyak antibiotika
ditemukan, kenyataan menunjukkan bahwa masalah penyakit
infeksi terus berlanjut. Hal tersebut terjadi akibat pergeseran
pada penyebab penyakit dan perkembangan resistensi kuman
terhadap antibiotika. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian
penemuan antibiotika baru terus dilakukan.
Pada tahun 1960-an ditemukan antibiotika gol kuinolon
pertama, yaitu asam nalidiksat. Antibiotika tersebut walaupun
awalnya mempunyai spektrum aktivitas yang baik untuk
kuman Gram negatif, mempunyai protein-binding affinity dan
konsentrasi hambat minimum (KHM) tinggi sehingga mem-
batasi pemakaiannya untuk terapi infeksi sistemik
(1)
. Per-
kembangan selanjutnya adalah ditemukannya berbagai jenis
fluorokuinolon, seperti norfloksasin, pefloksasin, ofloksasin,
siprofloksasin. Fluorokuinolon tersebut di atas menurut pe-
nelitian luar negeri mempunyai aktifitas antibakterial tinggi
(1-6)
.
Dalam makalah ini akan dinilai aktifitas sparfloksasin, fluo-
rokuinolon baru terhadap berbagai isolat kuman di Jakarta,
Indonesia dibandingkan dengan siprofloksasin dan beberapa
golongan sefalosporin.
BAHAN DAN CARA KERJA
1) Bahan
Bahan dari kasus infeksi saluran pernafasan dan pus di-
dapat dalam bentuk swab atau sputum. Bahan lain berupa
darah dan feses. Bahan segera diproses setiba di laboratorium
Mikrobiologi. Bahan dikumpulkan dari berbagai rumah sakit di
Jakarta.
2) Isolasi dan identif ikasi kuman
Bahan ditanam dengan sengkelit plat agar dan agar darah,
dieram pada suhu 37
° C selama semalam. Keesokan harinya
koloni yang tumbuh diseleksi dan diwarnai dengan pewarnaan
Gram. Setelah koloni kuman dimurnikan, kuman diidentifikasi
berdasarkan morfologi koloni dan kuman, sifat pewarnaan
Gram, uji optokhin, daya hemolisa, uji basitrasin, uji ko-
agulasa, uji katalasa, uji sitrat, uji indole dan uji fermentasi
gula glukosa; maltosa; laktosa; sakarosa; manitol.
3) Uji penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Uji kepekaan kuman terhadap antibiotika berdasarkan
Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dilakukan dengan carik
kertas E sesuai panduan dari pembuat (AB Biodisk, Swedia).
Ringkasnya, suspensi kuman dalam 0,85% NaCl pada kepeka-
an yang sesuai dengan 0,5 standar Mc Farland ditanam pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 17
background image
plat agar Muller-Hinton, untuk Streptococcus agar mendapat
suplemen darah sampai konsentrasi 5%. Setelah kering, carik
kertas E yang berisi antibiotika dalam gradient concentration
diletakan di atas kuman. Setelah dieram semalam pada suhu
37° C, angka KHM kuman terhadap antibiotika tertentu di-
tentukan berdasarkan batas pertumbuhan kuman pada carik
kertas tersebut. Kriteria penentuan peka-tidaknya kuman ter-
hadap sefaklor, sefotaksim dan siprofloksasin mengacu pada
kriteria National Committee for for Clinical Laboratory Stan-
dard atau NCCLS
(7)
. Kuman dinyatakan peka terhadap sefaklor
dan sefotaksim jika KHM-nya maksimal 8 ug, peka terhadap
siprofloksasin jika KHM-nya maksimal 1 ug. Untuk sparflok-
sasin dipakai acuan dari Bernard, L., dkk.
(8)
, yaitu kuman di-
sebut peka terhadap sparfloksasin jika KHM-nya maksimal 4
ug.
4) Analisis data
Kuman dikelompokan atas kuman peka dan kuman resis-
ten. Kuman dalam kategori intermediate untuk kepentingan
praktis dan sesuai dengan kebiasaan klinis dimasukan dalam
kategori resisten. Jumlah kuman sensitif terhadap antibiotika
dinyatakan dalam proporsi. Nilai KHM50 dan KHM90 di-
hitung berdasarkan rumus Reed-Muench
(9)
.
HASIL DAN DISKUSI
1) Karakteristik isolat
Tabel 1. Karakteristik isolat
Species N Asal
(N)
Klebsiella pneumoniae
32 Saluran nafas (25), pus (1), darah (3)
Staphylococcus aureus
32 Saluran nafas (24), pus (8)
Streptococcus beta haemo-
lyticus
27 Saluran nafas (11), pus (16)
Branhamella catarrhalis
30 Saluran nafas (30)
Streptococcus pneumoniae
9
Saluran nafas (9)
Escherichia coli
31 Faeces (30), saluran nafas (1)
Seperti terlihat pada tabel 1 isolat terbanyak berasal dari
saluran nafas, yaitu 99 galur disusul dari feses sebanyak 30
galur. Pada penelitian ini ditemukan juga S. aureus galur resis-
ten terhadap metisilin (MRSA). Galur ini resisten antibiotika
yang diuji, yaitu siprofloksasin, sefaklor, asam nalidiksat dan
eritromisin. Walaupun hanya ditemukan 1 galur, MRSA yang
ditemukan ternyata juga telah resisten terhadap siprofloksasin
dan bahkan sparfloksasin, antibiotika yang belum digunakan di
Indonesia. Hal ini berbeda dengan data dari penelitian lain
(1)
yang menyatakan bahwa MRSA peka terhadap siprofloksasin.
Data kepekaan MRSA tidak dimasukan analisis karena telah
resisten terhadap antibiotika.
2) Proporsi kuman peka terhadap antibiotika
Seperti terlihat pada tabel 2, semua isolat kuman peka
terhadap sparfloksasin, sedangkan terhadap siprofloksasin
terlihat ada yang resisten, yaitu Str. beta haemolyticus (3,7%)
dan Str. pneumoniae (22,2%). Tidak ditemukannya resistensi
kuman terhadap sparfloksasin memperlihatkan bahan sparflok-
sasin lebih aktif daripada siprofloksasin terhadap Streptococcus
haemolyticus dan Streptococcus pneumoniae. Dari data ini
tampak pula bahwa tidak ada resistensi silang antara sipro-
floksasin dan sparfloksasin, hal yang berbeda dengan laporan
peneliti lain
(1)
. Terhadap antibiotika golongan sefalosporin,
resistensi kuman ditemui pada kuman K. pneumoniae, E. coli
dan S. aureus. Terhadap sefaklor, resistensi tertinggi ditemui
pada E. coli, yaitu 44,8%, sedangkan terhadap sefotaksim re-
sistensi tertinggi ditemui pada S. aureus (16.1%).
Tabel 2. Persentase kuman peka terhadap antibiotika.
Sparfloksasin Siprofloksasin Sefaklor Sefotaksim
Kuman
P R P R P R P R
K. pneumoniae
100 0 100 0 84.4
15.6
96.9
3.1
E. coli
100 0 100 0 55.2
44.8
100 0
S. aureus*
100 0 100 0 100 0 83.9 16.1
Str. beta
haemolyticus
100 0 96.3 3.7 100 0 100 0
Str. pneumoniae
100 0 77.8 22.2 100 0 100 0
B. catarrhalis
100 0 100 0 100 0 100 0
Keterangan:
P = peka, R = resisten, * = di luar MRSA
3) Kadar hambat minimum obat untuk berbagai kuman
Tabel 3. KHM kuman terhadap antibiotika.
Antibiotika Kuman
N Range
KHM
50
LHM90
K. pneumoniae
31 0.008 - 0.5
0.047
0.25
E. coli
31 0.003 - 0.19
0.008
0.19
S. aureus*
31 0.016-
0.094 0.047 0.094
Str.
haemolyticus
27 0.016 - 0.75
0.125
0.38
Str. pneumoniae
9
0.064 - 0.25
0.19
0.19
Sparfloksasin
B. catarrhalis
30 0.002 - 0.023
0.006
0.012
K. pneumoniae
32 0.003 - 0.75
0.032
0.25
E. coli
31 0.008 - 1.0
0.125
0.5
S. aureus*
31 0.016 - 0.5
0.19
0.38
Str.
haemolyticus
27 0.094 - 1.5
0.38
0.75
Str. pneumoniae
9
0.5 - 2.0
1.0
1.5
Siprofloksasin
B. catarrhalis
30 0.008 - 0.5
0.125
0.5
K. Pneumoniae
32 0.016 - > 32.0
0.125
1.5
E. coli
21 0.064 - 4.0
0.125
0.5
S. aureus*
31 0.5 - > 32.0
4.0
32.0
Str.
haemolyticus
26 0.016 - 0.75
0.032
0.5
Str. pneumoniae
9
0.032 - 0.094
0.047
0.094
Sefotaksim
B. catarrhalis
30 0.016 - 0.5
0.125
0.19
K. pneumoniae
32 0.75 - > 64.0
1.5
12.0
E. coli
29 0.5 - 48.0
4.0
48.0
S. aureus*
31 0.75 - 4.0
1.5
3.0
Str.
haemolyticus
26 0.125 - 2.0
0.38
0.75
Str. pneumoniae
9
0.19 - 1.0
0.5
0.75
Sefaklor
B. catarrhalis
30 0.125 - 2.0
0.5
1.5
Data KHM obat uji terlihat pada tabel 3. Tampak bahwa
KHM obat uji bervariasi banyak, tergantung jenis obat dan
kumannya. Variasi nilai KHM terbesar terlihat pada kuman K.
pneumoniae dan S. aureus terhadap antibiotika sefotaksim dan
E. coli terhadap sefaklor. Secara umum juga tampak pada
KHM golongan sefalosporin. KHM tertinggi untuk golongan
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
18
background image
kuinolon adalah pada siproflokasin terhadap Str. pneumoniae
dan terendah adalah pada sparfloksasin terhadap B. catarrhalis.
Jika dianalisa lebih lanjut, tampak bahwa belum ada kuman
yang KHM-nya di atas nilai ambang NCCLS
(7)
, sedangkan
untuk KHM90 tampak telah ditemukan kuman yang nilai
KHM-nya telah di atas nilai ambang NCCLS, yaitu S. aureus
terhadap sefotaksim; K. pneumoniae dan E. coli terhadap se-
faklor. Dengan kata lain, secara mikrobiologis kemungkinan
keberhasilan pengobatan infeksi S. aureus dengan sefotaksim
relatif rendah dibandingkan dengan siprofloksasin, sparflok-
sasin atau sefaklor. Hal tersebut juga berlaku dengan peng-
gunaan sefaklor terhadap infeksi oleh K. pneumoniae dan E.
coli. Menarik juga disimak bahwa KHM90 sefotaksim dan
sefaklor untuk S. aureus, K. pneumoniae dan E. coli sangat
berbeda, walaupun kedua obat termasuk satu golongan. Mung-
kin saja perbedaan tersebut timbul karena perbedaan tipe ensim
beta laktamasa
(10)
.
Jika nilai KHM90 dibandingkan untuk tiap kuman tampak
bahwa: (i). K. pneumoniae, KHM adalah untuk siprofloksasin
dan sparfloksasin dan tertinggi untuk sefaklor, (ii). E. coli,
KHM terendah adalah untuk sparfloksasin dan tertinggi untuk
sefaklor, (iii). S. aureus, KHM terendah adalah untuk sparflok-
sasin dan tertinggi untuk sefotaksim, (iiii). Str. haemolyticus,
KHM terendah adalah untuk sparfloksasin tertinggi untuk
siprofloksasin dan sefotaksim, (iiiii). Str. pneumoniae, KHM
terendah adalah untuk sefotaksim dan tertinggi untuk siproflok-
sasin, (iiiiii). B. catarrhalis terendah adalah untuk sparflok-
sasin dan tertinggi untuk sefaklor. Jelas tampak dari data ini
bahwa dibandingkan ketiga antibiotika lain, aktifitas sparflok-
sasin adalah tertinggi.
Jika aktivitas antibiotika uji dibandingkan berdasarkan
nilai KHM90nya, tampak jelas bahwa: (i) sparfloksasin paling
aktif terhadap B. catarrhalis dan paling tak aktif terhadap Str.
haemolyticus, (ii). siprofloksasin paling aktif terhadap K. pneu-
moniae dan paling tak aktif terhadap Str. pneumoniae, (iii).
sefotaksim paling aktif terhadap Str. pneumoniae dan paling
tak aktif terhadap S. aureus, (iiii). sefaklor paling aktif ter-
hadap Str. haemolyticus dan Str. pneumoniae dan paling tak
aktif terbadap E. coli.
Aktifitas sparfloksasin dan siprofloksasin pada penelitian
ini selanjutnya dibandingkan dengan data penelitian di luar
negeri hasilnya terlihat pada tabel 4.
Tampak bahwa aktifitas sparfloksasin terhadap isolat
Klebsiella tertinggi terhadap isolat asal Spanyol dan aktifitas-
nya terhadap isolat Indonesia sebanding dengan isolat asal
Jepang. Terhadap E. coli, aktifitas sparfloksasin terhadap isolat
Indonesia sedikit lebih rendah dibandingkan terhadap isolat
asal Spanyol dan Belanda. Terhadap Staphylococcus, aktifitas
sparfloksasin terhadap isolat Indonesia sebanding dengan ter-
hadap isolat asal Amerika, Kanada dan Belanda. Perbedaan
aktifitas sparfloksasin yang mencolok tampak terhadap Str.
haemolyticus. Dalam hal terakhir, aktifitas sparfloksasin ter-
hadap Str. haemolyticus asal Belanda sangat rendah.
Dari tabel 4 tampak pula bahwa aktifitas siprofloksasin
terhadap isolat Klebsiella dan E. coli masih baik. Aktifitas
tertinggi siprofloksasin terhadap Klebsiella tampak terhadap
isolat asal Spanyol dan terendah terhadap isolat asal Belanda.
Aktifitas siprofloksasin terhadap isolat Klebsiella asal Indo-
nesia berada di antaranya. Terhadap E. coli, aktifitas siprof-
loksasin terhadap isolat Indonesia adalah terendah dibanding-
kan dengan terhadap isolat negara lain. Telah diketahui bahwa
sampai saat ini mekanisme resistensi terhadap siprofloksasin
hanya dikaitkan dengan dosis paparan dan tidak dengan
plasmid
(1)
, karena itu rendahnya aktifitas siprofloksasin ter-
hadap isolat E. coli Indonesia kemungkinan terjadi akibat luas-
nya pemakaian siprofloksasin di Jakarta atau terjadi akibat
perbedaan galur kuman semata. Berbeda dengan terhadap isolat
E. coli, aktifitas siprofloksasin terhadap isolat S. aureus,
walaupun perbedaannya marginal, relatif lebih tinggi terhadap
isolat Indonesia dibandingkan dengan terhadap isolat asal
Amerika dan Kanada. Perbedaan marginal aktifitas siproflok-
sasin juga dijumpai terhadap isolat Str. pneumoniae, hanya saja
data dari berbagai negara telah menunjukan bahwa nilai
KHM90 siprofloksasin terhadap Str. pneumoniae telah berada
di atas ambang NCCLS. Hasil ini memberi arahan bahwa
siprofloksasin bukan merupakan pilihan untuk pengobatan di
mana peran Str. pneumoniae besar seperti pada sinusitis akuta
dan community-acquired pneumoniae
(1)
.
Menarik juga diamati bahwa aktifitas siprofloksasin ter-
hadap Str. haemolyticus isolat Indonesia masih tinggi dan nilai
KHM90nya lebih rendah dibandingkan nilai ambang NCCLS,
sedangkan untuk isolat asal Jepang, Spanyol dan Belanda
sebaliknya. Jadi walaupun mungkin bukan merupakan pilihan
pertama, siprofloksasin dapat dipakai untuk pengobatan infeksi
Str. haemolyticus pada saluran pernafasan dan saluran kemih
(1)
.
Tabel 4. Perbandingan KHM90 kuinolon terhadap kuman di berbagai negara.
Lokasi (no. pustaka)
Antibiotika Kuman
Jakarta Jepang
(2)
Amerika
(3)
Spanyol
(4)
Inggris
(5)
Belanda
(6)
0.25 0.39 - 0.06* - 0.5
0.19 0.1 - 0.06* - <0.06
0.09 0.2 0.12 0.2 0.12 0.12
0.38 1.56 1.0 8.0* 1.0 2.0
0.19 0.78 0.5 0.5 0.5 1.0
Sparfloksasin K. pneumoniae
E. coli
S. aureus
Str. haemolyticus
Str. pneumoniae
B. catarrhalis
0.01 - - - 0.12
<0.06
0.25 0.78 - 0.06 - 1.0
0.5 0.1 - 0.06* - <0.06
0.38 0.78 1.0 0.5* 1.0 0.5
0.75 3.13 1.0 16.0 1.0 4.0
1.5 1.5 2.0 4.0 2.0 2.0
Siprofloksasin K. pneumoniae
E. coli
S. aureus
Str. haemolyticus
Str. pneumoniae
B. catarrhalis
0.5 - - - 0.25
<0.06
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 19
background image
Perbandingan aktifitas sefotaksim dan sefaklor pada berba-
gai isolat kuman di berbagai negara dapat dilihat pada tabel 5.
Untuk isolat Klebsiella, aktifitas sefotaksim terhadap isolat
Indonesia sebanding dengan terhadap isolat Arab dan jauh
lebih rendah dibandingkan terhadap isolat Eropa. Aktifitas
sefotaksim yang lebih rendah dibandingkan dengan terhadap
isolat negara lain juga tampak pada Str. haemolyticus. Sedang-
kan terhadap Str. penumoniae, aktifitas sefotaksim terhadap
kuman ini di berbagai negara relatif sebanding. Terhadap S.
sureus sefotaksim sangat rendah, kecuali untuk isolat asal
Jepang. KHM90 isolat S. aureus yang berasal dari Indonesia,
Amerika dan Eropa bahkan telah melewati nilai ambang ke-
pekaan NCCLS. Dibandingkan dengan nilai ambang kepekaan
(8 ug), tampak bahwa KHM sefotaksim untuk kuman Str.
haemolyticus dan Str. pneumoniae masih jauh lebih rendah.
Hal ini menunjukkan bahwa, jika faktor farmakodinamik dan
farmakokinetik obat selaras, untuk infeksi oleh kuman tersebut
sefotaksim masih dapat menjadi salah satu obat yang termasuk
dalam prioritas pertimbangan pertama.
Seperti dinilai pada tabel 5, aktifitas sefaklor terhadap Str.
haemolyticus dan B. catarrhalis di berbagai negara masih baik
dan relatif sebanding. Perbedaan aktifitas sefaklor terhadap
kuman uji dari berbagai negara, tampak nyata terhadap Str.
pneumoniae, Str. aureus dan E. coli. Untuk S. aureus, aktifitas
sefaklor terhadap isolat Indonesia sebanding dengan terhadap
isolat asal Amerika, Eropa dan Jepang. Terhadap E. coli, tetjadi
hal berbeda; aktifitas sefaklor terhadap isolat Indonesia seban-
ding dengan terhadap isolat Amerika dan jauh lebih rendah
dibandingkan terhadap isolat asal Eropa, Arab dan Jepang.
Sedangkan terhadap Str. pneumoniae, aktifitas sefaklor ter-
hadap isolat Indonesia sebanding dengan terhadap isolat Eropa
dan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan terhadap isolat asal
Amerika dan Jepang.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dan perbandingannya dengan data dari
berbagai negara dapat disimpulkan bahwa :
1) Aktifitas sparfloksasin dan siprofloksasin terhadap kuman
uji masih sangat baik. Belum ditemukan kuman yang resisten
terhadap sparfloksasin dan masih sangat sedikit kuman resisten
terhadap siprofloksasin.
2) Dibandingkan dengan sparfloksasin dan siprofloksasin,
aktifitas sefotaksim dan sefaklor terhadap kuman uji lebih
rendah.
3) Terdapat variasi aktifitas antibiotika terhadap kuman uji,
tergantung pada jenis kuman, jenis antibiotika dan asal geo-
grafis kuman.
KEPUSTAKAAN
1.
Andriole VT. The Quinolones. London : Aced Press, Publ 1988.
2. Sato K, Hoshino K, Tanaka M, Hoyokawa I, Osadfa Y Antimicrobial
activty of DU 6859 a new potent fluoroquinolone against clinical isolates
Antimicrob. Agents. Chemother, 1992; 36 : 1491-18.
3. Eliopoulos GM. Klimm K, Eliopoulos CT, Ferraro S, Moelering Jr Jr RC.
In vitro activity of CP99219, a new fluoroquinolone against clinical
isolates of Gram positive bacteria. Antimicrob. Agents. Chemother, 1993;
37 : 366-70.
4.
Canton E, Peman J, Jimenez MT, Ramon MS, Gobernado M. In vitro-
activity of sparfloxacine compared to other quinolone. Antimicrob Agents
Chemother, 1992; 36 : 558-65.
5. Simon AE, Fuller SA, Low SE. Comparative in vitro activities of
sparfloxacine and other antimicrobial agents against Stapphylococcus and
respiratory tract pathogens. Antimicrob. Agents. Chemother 1990; 34 :
2283-6.
6. Visser MR, Arska MR, Benner H, Hoepelmann IM, Verhoef J. Com-
parative in vitro activity of sparfloxacine, a new quinolone. Antimicrob.
Agents. Chemother 1989; 35 : 858-68.
7. National Committee for Clinical Laboratory Standard. Method for
dilution antimicrobial susceptibility test for bacteria that grow aerobical-
ly. USA National Communittee for Clinical Laboratory Standard, 1990.
8. Bernard L, Van JCN, Mainardi JL. In vivo selection of Streptococcus
pneumoniae resistant to quinolones, including saprtloxacine. Clin Microb
and Infect, 1995; 1 : 60-1.
9. Lennette EH, Schmidt NJ. (Eds). Diagnostic procedures for viral,
rickettsial and chlamydial infections. USA : Amer, Publ Health Assoc
Publ, 1979.
10 Philipon A; Labia R, Jacohy G. Extended spectrum beta lactamase.
Antimicrob Agent Chemother 1989; 33 : 131-6.
11. Gu JW, Neu HC. In vitro activity of Ro 23 - 9424, actual action
cephallosporine compound and activities of other antibiotics. Antimicrob
Agents Chemother 1990; 34 :189-95.
12. Hodges T, Eliopoulos GM, Klimm K; Moelering Jr RC. In vitro activity
of BAY v 3522, a new cephalosporin for oral administration. Antimicrob
Agents Chemother 1990; 34 : 1849-54.
13. Chantot JF, Klick M, Tautsch G, Bryskier A, Collette P, Markus A,
Siebert G. Antimicrobial activity of RU 44790, a new tetrazolyl mono-
cyclic betalactam. Antimicrob. Agents. Chemother 1992; 36 :1756-63.
14. Riess B, Anrew J, Thornberg D, Wise R. In vitro activity of RU 29246
the active compound producing ester HR 916. Antimicrob Agent
Chemother 1992; 36 : 1131-36.
15. Watanabe N, Hiruma R, Katsu K. In vitro evaluation of E 1077, a new
cephalosporin with a broad antimicrobial spectrum. Antimicrob Agentsa
Chemother, 1992; 36 : 589-97.
16. Miyazaki S, Miyasaki Y, Tsuji A, Nishida M, Goto S. In vitro anti-
bacterial activity of ME 1207, a new oral cephalosporin. Antimicrob
Agent Chemother 1990; 35 : 1691-92.
17. Qadri HSM, Uneo H, Cunha BA. In vitro of Cefdinir, a new orally active
cephalosporin. Chemother 1993; 39 : 112-9.
Tabel 5. Perbandingan KHM90 sefalosporin terhadap kuman dari berbagai negara.
Lokasi (no. pustaka)
Antibiotika Kuman
Jakarta Amerika
(11,12)
Eropa
(13,14)
Jepang
(15,16)
Arab
(17)
1.5 0.5 0.15 0.39 1.0
0.5 0.25 1.2 0.1 0.5
32.0 >I6.0 >40.0* 3.1
-
0.5 0.12 0.005
<0,006* -
0.09
0.06 - 0.02 -
Sefotaksim
K. pneumoniae
E. coli
S. aureus
Str. haemolyticus
Str. pneumoniae
B. catarrhalis
0.19 - - 0.78 -
12.0 8.0 4.0* 3.1
* 4.0
48.0 40 4.0 6.2 2.0
3.0 16.0 32.0 50.0 2.0
0.75 0.5 - 0.20 -
0.75 >64.0 0.5 >100.0 -
Sefaklor
K. pneumoniae
E. coli
S. aureus
Str. haemolyticus
Str. pneumoniae
B. catarrhalis
1.5 4 1.0 - -
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
20