Histopatologi Tumor Otak
Dr. F.X. Eddy Gunawan Yusup
Departemen Patologi Anatomi
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta
PENDAHULUAN
Patologi susunan saraf pusat bersifat amat komplek karena
berbagai alasan, misalnya variabilitas struktur jaringan saraf
sendiri maupun karena pengaruh letak anatominya.
Diagnosis neuropatologis didacarkan atas analisis morfo-
logi dan analisis topografi, keduanya dibandingkan dengan data
klinik atau penemuan-penemuan pada otopsi selengkapnya.
Klasifikasi tumor susunan saraf yang lengkap adalah oleh
Zuilch (1979) Histological Typing of Tumours of the Central
Nervous System
(1,2,3)
. Dikemukakan modifikasi kiasifikasi
histogenesis tumor glioma yang sederhana dari Bailey dan
Cushing
(4)
, dan histopatologi dari meningioma.
Maksud dari makalah ini adalah mengemukakan histopato-
logi tumor glioma dan meningioma.
HISTOGENESIS
Untuk memahami pertumbuhan bangunan otak, hendaknya
dibayangkan bahwa pertumbuhan susunan saraf pusat terjadi
dalam bentuk pipa. Pada pipa tersebut dapat di lihat sebuah
dasar, atap dan dua dinding sisi yang mengelilingi sebuah
rongga yang terletak di tengah-tengah.
Susunan saraf pusat berkembang dari lempeng ektoderm
(neural plate), kemudian melengkung ke dalam sehingga terben-
tuk alur saraf (neural groove). Bagian kanan dan kiri alur saraf
disebut lipatan saraf (neural folds). Pada batas neuroektodermal
terdapat sel-sel yang disebut birai saraf (neural crest). Lipatan
saraf kemudian tumbuh ke arah medial sehingga saling bertemu
dan terjadi bumbung saraf (neural tube).
Gambar :
Somila
Notochord
Dorsal root ganglion
G ,
Diagram penutupan neural tube, asal dari neural crest dan akar dorsal
ganglia. Irisan melintang alas dasar basil foto dari embryo 19 hart
(dikutip dari 5)
Dibacakan pada Simposium Tumor Otak, di RSPAD Gatot Soebroto, 30 Juli
1991.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 21
Neural tube sebagai bangunan tunggal, akan berkembang
menebal, melipat dan sebagainya yang disebut vesikel serebral
primitif. Dari depan ke belakang akan terbentuk :
Prosensefalon (otak bagian depan).
Mesensefalon (otak bagian tengah).
Rombensefalo,n (otak bagian belakang).
Sejalan dengan pembentukan vesikel serebral primitif, ter-
jadi pelekukan ke depan pada dua tempat, setinggi mesensefalon
dan rombensefalon bagian belakang. Pelekukan pertama disebut
fleksura sefalik dan yang kedua fleksura servikal.
Prosensefalon berdiferensiasi menjadi telensefalon dan
diensefalon. Telensefalon pada perkembangan selanjutnya akan
menjadi hemisferium dan lumennya akan menjadi ventrikel
lateral dan ventrikel III. Diensefalon akan berkembang menjadi
talamus, epitalamus dan hipotalamus. Mesensefalon tidak
banyak perubahan hanya batasnya lcbih nyata karena adanya
fleksura sefalik. Rombensefalon menjadi bangunan yang terdiri
dari dua bagian, bagian depan mesensefalon, yang nantinya
menjadi pons dan serebellum dan bagian belakang mielensefalon
yang akan menjadi medulla oblangata. Tabung neural di bagian
belakang mielensefalon berkembang menjadi medulla spinalis
(5,6)
.
ANATOMI SUSUNAN SARAF PUSAT
Susunan saraf pusat terdiri dari otak besar (cerebrum),
batang otak, otak kecil (cerebellum) dan sumsum tulang be-
lakang (medulla spinalis) dan diliputi oleh selaput otak
(mening) yang terdiri atas bagian luarpakhimening (durameter)
dan bagian dalam leptomening.
Otak dipisahkan oleh fisura media menjadi dua hemisfer.
Permukaan lateral masing-masing hcmisfer dibedakan menjadi
lobus frontal, parietal, temporal, dan oksipital. Otak mempunyai
sistem perhubungan, yaitu ventrikel. Ventrikel lateral masuk ke
dalam lobus frontal, temporal dan oksipital. Cairan serebrospinal
dibentuk setiap hari oleh plexus choroid pada ventrikel, melalui
ventrikel III dan IV terus ke subarachnoid dan medulla spinalis.
Otak diliputi oleh leptomening, membrana arachnoid dan pia-
meter dan bagian paling luar durameter. Durameter berlapis dua,
sebagai lapisan dalam periosteum dari tulang tengkorak, dan
pada garis tengah sebagai falx cerebri, pada fosa posterior ter-
bentang seperti tenda membentuk tentorium cerebri, memisah-
kan lobus oksipital dan serebellum. Aspek ventral dari otak
adalah batang otak dan serebellum, menutupi aspek posterior
(otak tengah) yaitu : pons dan medula oblongata yang mengeli-
lingi ventrikel IV.Otak mendapat darah dari a. carotis interna dan
a. vertebralis
(7)
.
KLASIFIKASI
Klasifikasi merupakan pembagian dari suatu organ indi-
vidu, menjadi suatu grup, disusun secara sistematis berdasarkan
suatu prinsip serta selengkap mungkin. Dan yang paling penting
dapat bermanfaat untuk penelitian dan klinik
(8)
. Klasifikasi tumor
susunan saraf pusat merupakan persoalan yang rumit dan sejak
lama menjadi persoalan dan perdebatan.
Banyak klasifikasi tumor susunan saraf pusat, perpaduan
dari semuanya telah dirangkum dalam klasifikasi WHO
(2)
. Di sini
dikemukakan modifikasi klasifikasi histogenesis dari Bailey dan
Cushing
(4)
. Klasifikasi glioma ini merupakan dasar terbesar dari
prinsip klasifikasi tumor susunan saraf pusat serta mengurangi
berbagai keruwetan dan keanckaragaman dari tumor ini. Dasar
dari modifikasi klasifikasi Bailey dan Cushing ini ialah per-
sangkaan migrasi dan difcrensiasi dari primitive lining cells dari
embryonic neural canal menjadi meduloblas yang bipotensial;
dapat menjadi seri neuronal (neuroblas dan neuron) atau men-
jadi seri glial melalui spongioblas akan menjadi astrosit atau
oligodcndrosit. Sel-sel yang melapisi kanal neural akan menjadi
sel ependimal yang matang. Dari sel-sel tersebut di atas bila
timbul keganasan diberi nama-nama sebagai berikut : me-
duloblastoma, neuroblastoma, ganglioneuroma (dari neuron
matur), astrositoma, oligodendrogliomadan ependimoma. Tumor-
tumor yang berasal dari sel glia disebut glioma.
Tabel 1. Histogenesis tumor neurocktodermal (modifikasi Bailey dan
Cushing)
4
GLIOMA
Astrositoma
Merupakan tumor susunan saraf pusat yang paling sering
dijumpai. Pada orang dewasa tumbuh di hcmisfer serebri. Pada
anak-anak dan dewasa muda di serebelum, dan pada umumnya
kistik
(9,10,11)
.
Astrositoma dibagi menjadi empat tingkatan, semuanya
bersifat invasif, tingkat (grade) 1 dan 2 banyak pada anak-anak,
tingkat (grade) 3 dan 4 90% pada orang tua
(1,8,9)
, Kernohan dan
kawan-kawan berkesimpulan adanya hubungan yang erat antara
tingkatan (grading) dan prognosis penderita
(1,2)
.
Astrositoma tingkat (grade) 1
Ada dua tipe astrosit, fibrilcr dan protoplasmik, maka ter-
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992
22
Mikroskopik
dapat dua tipe astrositoma yaitu Astrositoma fibriler dan
Astrositoma protoplasmik (jarang ditemukan).
Dikenal tiga jenis :
Jenis Epitelial : terdiri atas sel-sel yang membentuk roset
sejati (Roset FlexnerWintersteiner), kadang-kadang ditemukan
rongga-rongga yang dilapisi oleh sel kuboid atau torak yang
menyerupai ventrikel blepharoplas dapat dilihat dengan pe-
ngecatan PTAH (Rubinstein), jenis ini merupakan gambaran
khas yang sering dijumpai
(2,4,6)
.
Makroskopik
Astrositoma fibriler berwama putih keabu-abuan sangat
padat dan pipih, tidak berbatas jelas, tepi tumor dapat dirasakan
dengan perabaan jari jari tangan, bila letaknya di serebelum
maka 2/3 selalu kistik dan umumnya kecil (mural model).
Astrositoma protoplasmik, lunak dan gelatinous. Batas lrbih
jelas, tampak spongiosa.
Jenis Papiler : Sel-sel berstruktur papiler dengan stroma
myxomatous (myxopapillary ependymoma). Bentuk lain pa-
pilloma plexus choroideus.
Mikroskopik
Jenis Seluler : Tumor dibentuk sel-sel ependim mengeliling
pembuluh darah, atau masa tanpa gambaran khas.
Sel tumor menyerupai astrosit normal, inti sedikit lebih
besar, kromatin kasar, sedikit pleomorfik, jumlahnya bertam-
bah, cabang-cabang lebih tebal dan banyak, berstruktur fibriler,
mitosis tidak ditemukan, tidak ditemukan datia tumor, tampak
proliferasi pembuluh darah tidal( disertai proliferasi endotel.
Oligodendroglioma
Pertama kali diberi nama oleh Bailey dan Cushing (1928);
merupakan tumor glioma terbanyak ketiga. 5% dari semua
tumor susunan saraf pusat. Dapat ditemukan pada semua usia
terbanyak pada dekade 4 dan 5. Sebagian besar tumor terletak
pada lobus frontal, tumbuh dominan pada substantia alba jarang
pada korteks serebri(
2
"),
Astrositoma tingkat (grade) 2
Sel-sel tumor lebih banyak dan lebih pleomorfik. Inti besar
sering dijumpai namun tidak dijumpai mitosis dan sel datia
tumor. Proliferasi pembuluh darah, nekrosis dan perdarahan
tidak ditemukan.
Makroskopik
Astrositoma tingkat (grade) 3 dan 4 (glioblastoma multi-
forme)
Tumor dapat mencapai ukuran besar, batas tumor nyata
warna abu-abu atau abu-abu pink. Sering lunak, 20% kistik di
tengah tumor, nekrosis jarang dijumpai. Kalsifikasi banyak
ditemukan, bila radiologik terlihat maka prognosisnya lebih
baik.
Merupakan 4060% tumor glioma jaringan otak. Lokasi
terutama pada pons dan cerebrum dan 90% tumor ini pada usia
lanjut.
Meskipun astrositoma tingkat 4 sangat ganas, namun
jarang sekali metastasis keluar dari jaringan serebrospinal
(19.12)
.
Mikroskopik
Mempunyai perangai histologik yang khas, terdiri atas sel-
sel kecil yang rapat, stroma sedikit. Sel-sel dengan inti kecil,
bulat dan gelap menyerupai limfosit. Sering di jumpai gambaran
honeycomb, mitosis dan kalsifikasi.
Makroskopik
Pada tingkat 3 masih dapat dikenal sel-sel astrosit, tingkat 4
sudah sukar diindentifikasi, sangat pleomorfik, banyak mitosis
dan sel datia tumor, dapat dijumpai daerah nekrosis dan per-
darahan.
Meduloblastoma
Ependimoma
Nama diberikan oleh Bailey dan Cushing (1925). Tumor
ini khas sekali karena selalu ditemukan pada garis tengah sere-
bellum pada bayi dan anak-anak
(11,12)
.
Merupakan tumorglioma kedua terbanyak. Sel-sel ependim
normal terdapat melapisi kanal vcntrikel, kanal pusat dari
medulla spinalis, ventrikulus terminalis dari konus medularis
medulla spinalis dan sedikit di hemisfer serebri. Maka di tempat
tersebutlah ependimoma ditemukan; 40% supratentorium, 60%
infratentorium. Pada infratentorium hampir selalu di garis tengah
dari dasar atau atap dari vcntrikel. 60% dari glioma medulla
spinalis adalah ependimoma. Tumor ini banyak ditemukan pada
anak-anak dan dewasa muda
w.12)
Makroskopik
Tumor berbatas tegas, selalu pada garis tengah atau vermis
serebellum, dapat menekan atau invasif ke ventrikel IV, menim-
bulkan hidrosefalus internal. Tumor ini cireumseribed tidak
berkapsul, warna putih keabu-abuan dan sangat lunak, jarang
berbentuk kistik, nekrosis banyak dijumpai. Karena mudah ter-
lepas dan invasif ke ventrikel IV, maka dapat ditemui pada cair-
an serebrospinal dan bermetastasis lu
g
s melalui ruang sub-
arachnoid. Sifatnya ganas sekali dan radiosensitif.
Makroskopik
Ependimoma intrakranial dapat tumbuh besar sebelum
menimbulkan gejala, batas tumor kurang nyata, yang di medulla
spinalis sebagian berkapsul, ini memudahkan untuk pengangkat-
an. Tumor warna abu-abu pink, agak tipis, granola. Kista di-
temukan pada ependimoma serebral, sedangkan yang di fosa
posterior jarang. Keadaan ini merupakan kebalikan dari
astrositoma. Kalsifikasi bisa dijumpai
(11,12)
.
Mikroskopik
Sangat seluler, stroma hampir tidak dijumpai. Sel-sel pleo-
morfik, bentuk klasik sel-selnya kecil-kecil tersusun sebagai
sheets atau trabeculae, sering dijumpai formasi pseudorosette.
Mitosis banyak dijumpai.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 23
MENINGIOMA
Nomenklatur dan Sitogenesis
Meningioma berasal dari sel-sel yang terdapat pada lapisan
mening serta dcrivat-dcrivatnya. Di antara sel-sel mening itu
belum dapat dipastikan sel mana yang membentuk tumor, tetapi
terdapat hubungan erat antara tumor ini dengan villi arachnoid.
Tumbuhnva meningioma kebanvakan di temnat ditemukan
banyak villi arachnoid. Dari observasi yang dilakukan Mallary
(1920) dan didukung Penfield (1923), didapatkan suatu konsep
bahwa sel yang membentuk tumor ini ialah fibroblast, sehingga
mereka menycbutnya arachnoid fibroblast atau meningeal
fibroblastoma
(14)
.
Ahli patologi pada umumnya lcbih menyukai label histologi
dari pada label anatomi untuk suatu tumor. Namun istilah
meningioma yang diajukan Cushing (1922) ternyata dapat di-
terima dan didukung oleh Bailey dan Bucy (1931)
(13,14)
Orville
Bailey (1940) mengemukakan bahwa sel-sel arachnoid berasal
dari neural crest, sel-sel arachnoid disebut Cap cells; pendapat
ini didukung Harstadius (1950), bermula dari unsur ektoderm
(13,14)
,
Zuich tetap menggolongkan meningioma ke dalam tumor me-
sodermal.
Kejadian, Umur dan Jenis Kelamin
Meningioma dapat dijumpai pada semua umur, namun pa-
ling banyak pada usia pertengahan. Meningioma intrakranial
merupakan 1520% dari semua tumor primer di regio ini
(1,13)
.
Meningioma juga bisa timbul di sepanjang kanalis spinalis, dan
frekuensinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tumor
lain yang tumbuh di regio ini
(12,13)
.
Di rongga kepala, meningioma banyak ditemukan pada
wanita dibanding pria (2 : 1), sedangkan pada kanalis spinalis
lebih tinggi lagi (4 : 1)
(1,12,13)
.
Meningioma pada bayi lebih
banyak pada pria
t
'
l
.
Gambaran Makroskopik
Meningioma intrakranial banyak ditemukan di regio para-
sagital, selanjutnya di daerah permukaan konveks lateral dan
falx cerebri. Di kanalis spinalis meningioma lcbih sering me-
nempati regio torakal. Pertumbuhan tumor ini mengakibatkan
tekanan hebat pada jaringan sekitamya, namun jarang menyebuk
ke jaringan otak. Kadang-kadang ditemukan fokus-fokus kalsi-
fikasi kecil-kecil yang berasal dari psammoma bodies, bahkan
dapat ditemukan pembentukan jaringan tulang baru.
Klasifikasi Histologi
Gambaran mikroskopik meningioma amat bervariasi, ma-
cam-macam klasifikasi diusulkan, namun Orville Bailey
(1940) menganggap klasifikasi meningioma tidak diperlukan.
Pandangan ini didasarkan secara biologis karma variasi-variasi
histologis tersebut tidak banyak kaitannya dengan perangai bio-
logi kelompok tumor init' 13,'4>
Klasifikasi menurut Kernohan dan Sayre, yaitu (1) Me-
ningioma meningotheliomatosa (syncytial, endothclimatous).
(2) Meningioma fibroblastik dan (3) Meningioma angioblastik.
Yang terakhir ada yang menggolongkan sebagai haemangiope-
risitoma. Tipe transisional atau tipe campuran digolongkan ke
dalam kelompok meningioma meningotheliomatosa
(13)
.
Meningioma meningotheliomatosa
Terdiri atas sel-sel uniform, berinti bulat atau oval, me-
ngandung satu/dua nuklcoii yang nyata, sedangkan membran
sel tidak jelas, sebagian dari kelompok-kelompok sel tersebut
tersusun dalam lobulus-lobulus membentuk massa yang solid.
Jaringan ikat pada batas-batas lobulus. Whorls dan psammoma
bodies juga merupakan gambaran khas tumor ini.
Meningioma ftbroblastik
Terdiri alas sel-sel pipih yang membentuk berkas-berkas
yang sating beranyaman, kadang-kadang dengan bagian-bagian
menyerupai struktur palisade. Sol-sel tersebut mirip dengan
fibroblast, namun inti sel identik dengan inti sel meningioma
meningiomatosa. Adanya serabut retikulin yang berlebihan dan
serabut kolagen yang menjadi pemisah antara sel pada
meningioma tipe ini, merupakan tanda yang khas.
Meningioma angioblastik
Terdiri alas sel-sel tersusun padat, batas-batas sitoplasma
tidak jelas, inti sel tersusun rapat. Sel-sel tersebut umumnya
menempel pada dinding kapiler, namun kapiler-kapiler tersebut
sebagian mengalami dilatasi, sebagian lagi kompresi, sehingga
sukar untuk diidentifikasi. Bailey dkk. (1928) beranggapan bahwa
sel-sel tumor ini berasal dari elemen dinding pembuluh darah.
Beberapa penulis melaporkan bahwa meningioma angioblastik
lebih sering kambuh.
RINGKASAN
Telah dikemukakan histopatologi tumor otak yang sering
dijumpai. Patologi susunan saraf pusat bersifat amat kompleks,
diperlukan penanganan berbagai disiplin ilmu agar didapatkan
diagnosis Berta tindakan yang tepat
KEPUSTAKAAN
1.
Leestma JE. Brain tumor. Am. J. Pathol 1980; 100(1).
2.
Zuich KJ. Histological Typing of Tumours of the Central Nervous
System. Geneva: WHO, 1979.
3.
Esiri MM, Oppenheimer DR. Diagnostic neuropathology. London: Black-
well Seient Pub!, 1989, 171-224.
4.
Treip CS. A Colour atlas of neuropathology. London: Wolfe Medical
Publication Ltd, 1978, 151-86.
5.
William C, Barrett JR. Development of brain and spinal cord. In: Neuro-
pathology. (Ed) Tedesehi CG. Boston: Litle Brown and Co, 170, 3-8.
6.
Sidharta P, Dewanto G. Susunan Saraf Pusat. Jakarta: Dian Rakyat,1986,
41-7.
7.
Regato JA, Spjut 11J. Cancer. Diagnosis, treatment and prognosis. St
Louis: Mosby, 1977, 131-56.
8.
Butner AB, Brooks WH, Natshy MG. Classification and biology of brain
tumors. In: Neurological Surgery. Julian R, Youmans JR. (eds.) Philadel-
phia: Saunders, 1973, 2659-93.
9.
Cobb CA. Youmans JR. Glial and neuronal tumors of the brain in adult.
In: Neurological Surgery. Julian R, Youmans JR. (eds.) Philadelphia:
Saunders, 1973, 2759-2823.
10.
Hoffman I-li. Supratentorial brain tumor in children. In: Neurological
Surgery. Julian R, Youmans JR. (eds.) Philadelphia: Saunders, 1973,
2702-30.
11.
Humphreys RP.Posterior cranial fossa brain tumor in children. In: Neuro-
logical Surgery. Julian R, Youmans JR. (eds.) Philadelphia: Saunders,
1973, 273357.
13.
Maccarty CS, Pupgras DG, Ebersold MJ. Meningeal tumors of the brain.
In: Neurological Surgery. Julian R, Youmans JR. (eds.) Philadelphia:
Saunders, 1973, 293666.
12.
Kemohan JW, Sayre GP. Tumor of the central nervous system. A.F.I.P.
Washington, 1952.
14.
Anwar IIR. Aktivitas fosfatase basa pada meningioma, suatu studi enzym
histokimia. Disertasi. FK. Undip Semarang, 1984.
Cermin Dunia Kedokteran No. 77, 1992 25