background image
HASIL PENELITIAN
Frekuensi Nyeri
pada Perawatan Saluran Gigi Anterior
Sekali Kunjungan
Penelitian Pendahuluan
Wiwi Werdiningsih, Narlan Sumawinata, Ansar Bansar
Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Keinginan pasien untuk mempertahankan giginya daripada
dicabut kini makin meningkat ialah dengan perawatan endodon-
tik. Tidak selesainya perawatan endodontik dalam satu atau lebih
dari satu kali kunjungan sering menjadi alasan terhentinya pe-
rawatan, di samping tentu saja faktor biaya perawatan itu sendiri.
Dalam kaitannya dengan jumlah kunjungan, perawatan se-
kali kunjungan dengan pemberian analgetika untuk menekan
rasa nyeri tidak mendukung, sementara perawatan multi visit me-
mungkinkan operator menilai keadaan kesehatan jaringan saat
akan dilakukan pengisian
(1)
. Dalam pada itu O1iet
(2)
dan Pekruhn
(3)
mengatakan tidak ada hubungan yang jelas antara keberhasilan/
kegagalan perawatan dengan jumlah kunjungan.
Sementara itu ternyata keberhasilan perawatan sekali kun-
jungan ini mencapai 40,5% gigi non vital. 33,5% gigi dengan
kelainan periapeks, dan 56,2% pada gigi dengan fistel. Sedang
dalam hal timbulnya rasa nyeri dinyatakan bahwa pada gigi vital
terdapat 35,5% kasus dan gigi non vital pada 57,6% kasus
(4)
.
Mengapa rasa nyeri setelah perawatan timbul belum diperoleh
jawaban yang pasti, tetapi dinyatakannya, bahwa dan 63 dokter
gigi yang melakukan perawatan endodontik ternyata dijumpai
12 penderita yang mengalami flare up.
Lain lagi yang dikemukakan oleh Pekruhn
(5)
dikatakan
bahwa rasa nyeri pada pasien setelah perawatan sekali kun-
jungan, ternyata secara statistik tidak berbeda bermakna diban-
dingkan dengan perawatan dalam banyak kunjungan. Sementara
itu Fox yang merawat 291 pasien dengan perawatan sekali
kunjungan menyatakan bahwa dalam pemeriksaan ulang 1,2 dan
7 hari setelah pengisian, rasa nyeri hanya terdapat pada 10%
kasus saja dengan intensitas berat pada hari pertama, 8% kasus
pada hari kedua, dan pada hari ke 7 tidak satupun yang masih
merasa nyeri. Ternyata rasa nyeri hebat terdapat pada penderita
dengan kondisi awal pulpa vital. Penelitian banyak yang me-
nyatakan bahwa kegagalan perawatan endodontik sekali kun-
jungan berkisar antara 2, 3 sampai dengan 30%.
Kriteria klinik untuk menilai keberhasilan perawatan ada-
1ah
(7)
:
1) Tidak adanya rasa nyeri
2) Hilangnya fistel
3) Fungsi tetap baik
4) Tidak ada tanda kerusakan jaringan.
Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah melihat salah
satu aspek keberhasilan, yaitu absennya rasa nyeri, pada satu dan
tujuh hari setelah pengisian saluran akar gigi dengan diagnosis
awal nekrosis dengan atau tanpa kelainan periapeks.
METODA DAN CARA KERJA
1) Perawatan dilakukan terhadap 15 gigi anterior dengan pulpa
nekrosis, di FKGUI dan praktek sore.
2) Mula-mula ditentukan panjang kerja.
3) Tentukan file awal (initial file).
4) Preparasi dilakukan dengan metoda double flare supaya
tidak mendorong jaringan nekrotik ke periapeks. Setiap kali
penggantian alat dilakukan irigasi dengan NaC1 2,5% sampai
dicapai file utama (master apical file) dan file terbesar. Saluran
akar dikeringkan dengan poin kertas isap dan dicobakan bahan
pengisian utama dan guttaperca dan dibuat radiograf.
5) Pengisian dilakukan dengan semen saluran akar AH-26
dengan metoda kondensasi lateral, dipotong secukupnya dan
ditumpat sementara dengan semen. Radiograf dibuat kembali
untuk evaluasi pengisian.
Kontrol rasa sakit dilakukan 1 dan 7 hari setelah pengisian.
Yang dilakukan adalah anamnesis, pemeriksaan subyektif dan
obyektif pada gigi tersebut dan jaringan sekitarnya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 21
background image
HASIL
Rasa sakit hart ke
No. Pasien
1 3 7
Perkusi Palpasi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
I1
12
13
14
15
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+(1, 3, 7)
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+(1, 3)
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Rasa sakit dirasakan pada 1/15 = 6,67% pasien.
DISKUSI
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan perawatan antara
lain adalah
(7)
:
·
Anatomi gigi meliputi morfologi saluran akar, adanya kanal
tambahan, dan lain-lain.
·
Keadaan jaringan pulpa dan periapeks, keterampilan opera-
tor, teknik dan bahan yang dipakai.
·
Kesalahan yang mungkin terjadi dalam perawatan misalnya
timbul birai (ledge) atau perforasi.
Sedikit rasa nyeri yang timbul pada hasil di atas mungkin
disebabkan sedikitnya faktor penyulit misalnya morfologi akar,
jenis gigi yang memudahkan instrumentasi dan radiografi, serta
prosedur perawatan yang memenuhi syarat seperti panjang kerja
yang tepat, dan perawatan yang asepsis.
Untuk menunjang keberhasilan suatu perawatan endodontik
sekali kunjungan mutlak diperlukan diagnosis kasus yang tepat,
karena diagnosis itu sendiri telah menentukan keberhasilan pe-
rawatan
(4)
. Dari data Calhoun terungkap keberhasilan 82% dan
pada penelitian ini sebesar 93,34%. Selain itu dinyatakan bahwa
keberhasilan untuk gigi nekrosis hanya 40,5%, yang diperinci
33,5% untuk gigi nekrosis dengan kelainan periapeks dan 56,2%
untuk gigi dengan fistel, lainnya gigi nekrosis tanpa kelainan
(4)
.
Di lain pihak Pekruhn
(3)
, mengemukakan bahwa hasil pe-
rawatan gigi anterior dan posterior secara statistik tidak berbeda
bermakna. Yang perlu diperhatikan adalah keadaan gigi dan sa-
luran akar yang akan dirawat. Tentu saja yang sangat menentu-
kan keberhasilan perawatan sekali kunjungan ini secara umum
ialah keterampilan dan pengetahuan operator ditunjang dengan
alat-alat yang tepat, bahan/obat yang dipakai dan tindakan se-
asepsis mungkin
(7)
.
Rasa sakit yang diderita 1 pasien pada hari ke 1 s.d 7, walau
semakin berkurang menunjukkan masih adanya infeksi di daerah
periapeks yang membutuhkan waktu untuk penyembuhannya.
Kasus tersebut adalah gigi nekrosis disertai abses periapeks yang
kemungkinan masih dalam keadaan akut. Fox mengungkapkan
dalam hasil penelitian bahwa rasa sakit pada hari ke I sebesar
10%, mungkin disebabkan oleh adanya reaksi jelas yang me-
nyebabkan keluarnya eksudat dan karena tidak mendapat jalan
keluarnya, akan menekan jaringan sekitar dan menimbulkan rasa
sakit. Hal ini tentu saja tidak akan terjadi pada gigi dengan fistel,
sehingga Balaban cenderung menganjurkan pada perawatan
endodontik seyogyanya pada kunjungan pertama hanya sampai
preparasi selesai dan diberi obat dahulu, untuk mempersiapkan
jaringan periapeks lebih kondusif terhadap perawatan.
Tidak adanya rasa nyeri pada hari ke 7 setelah perawatan
tetapi masih agak nyeri pada perkusi walaupun palpasi tidak
sakit, menunjukkan hal yang sesuai dengan masa penyembuhan
di daerah periapeks. Penyembuhan di daerah ini memerlukan
waktu antara 5 s/d 7 hari, dan telah terjadi resorpsi eksudat yang
menekanjaringan. Tetapi Se1tzer
(9)
mengingatkan adanya faktor-
faktor lain yang mungkin saling berhubungan dengan rasa sakit
yang diderita pasien setelah perawatan satu kali kunjungan,
antara lain adanya perbedaan perorangan terhadap sindrom
adaptasi lokal, dan faktor immunologi dan psikologik penderita.
Dengan demikian kepribadian dan kedewasaan pasien sangat
menentukan persepsi rasa nyeri ini. Di samping itu komunikasi
antara operator dan pasien sebelum perawatan dilakukan, ter-
utama kejujuran operator dalam menerangkan kemungkinan-
kemungkinan yang dapat timbul karena perawatan tersebut, juga
sangat berperan.
Rasa nyeri setelah perawatan juga dapat timbul karena
instrumentasi yang tidak tepat yaitu panjang kerja yang terlalu
1ama
(10)
.
KESIMPULAN DAN SARAN
Perawatan endodontik sekali kunjungan mungkin sekali
dilakukan bila didukung oleh kemampuan, pengetahuan, dan
diagnosis operator kasus yang terpilih dan tepat, ditunjang kerja
yang asepsis, sehingga kemungkinan terjadi flare up dapat diku-
rangi.
Rasa sakit setelah pengisian lebih banyak dikarenakan tin-
dakan operator misalnya prosedur kerja yang tidak baik atau
perhitungan panjang kerja yang terlalu panjang sehingga me-
nimbulkan inflamasi di jaringan periapeks.
KEPUSTAKAAN
1. Flatley CJ. Incidence of post operative pain following one appointment
treatment of painful pulpitis without apical radiographic involvement,
dalam Gerstein H : Techniques in Clinical Endodontics. Philadelphia:
Saunders, 1983; 67.
2. Oliet S. Single visit endodontic, dalam Valle G : Principles and Practice of
Endodontics (ed. Walton and Torabinejad). Philadelphia: Saunders; 1989;
310.
3. Pekruhn RB. The Incidence of failure following single visit endodontic
therapy. J. Endodontics 1986; 12(2): 68­72.
4. Calhoun RL. One appointment endodontic therapy, a nationwide survey of
endodontists.
5. Pekruhn RB. Single visit endodontic therapy, a preliminary clinical study.
JADA 1981; 12(2): 875­77.
6. Seltzer S. Bender lB. Endodontic Succ Dalaxn: Principles and Practice of
Endodontics (ads. Walton dan Torabinejad). Philadelphia: Saunders, 1989;
312.
7. Valle G. Evaluation of success and failure. Dalam: Principles and Practice
of Endodontics (ads. Walton dan Torabinejad). Philadelphia: Saunders,
1989; 311­19.
8. Balaban FS. Acute exacerbations following initial treatment of necrotic
pulps, J. Endodont. 1984; 10(2): 78­81.
9. Seltzer S. Pain in endodontics. J. Endodont. 1986.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
22