background image
EXTRA GENITAL GONORRHEA YANG LAIN
Bentuk yang lain dari extra genital gonorrhea dapat disebab
kan karena komplikasi hematogen dari suatu urethritis gonorr-
hoica, yaitu :
· Gonococcal arthritis : timbul beberapa bulan setelah infek-
si gonorrhea yang tidak diobati atau mendapat pengobat
an yang tidak adekwat. Sering hanya mengenai satu sendi
tapi kadang-kadang sebagai poliartritis pada sendi lutut,
dan mata kaki.
· Gonococcal rheumatism : pada keadaan ini dapat terja-
di tenosynovitis, myositis, fasciitis bahkan bursitis dan
periostitis.
· Gonokokkal iritis : terlihat adanya keradangan pada mata
yang disertai rasa nyeri dan fotofobia. Tidak didapatkan
sekret pada konjunctiva dan tampak kemerahan diseki -
tar kornea.
· Keratosis blennorrhagica : lesi pada kulit mula-mula berupa
vesikel yang dapat menjadi pustulae dan krustae. Biasanya
tampak sebagai keratosis yang kering, tebal dan berkrustae
pada telapak kaki dan telapak tangan, namun juga dilain
tempat.
Gonokokus tak dapat ditemukan pada lesi, diduga keadaan
ini sebagai salah satu menifestasi dari R
EITER S
syndrome.
Ekstra genital gonorrhea dapat pula sebagai bentuk primer, se-
perti :
· Gonoblennorrhea : (telah dibicarakan pada CDK No. 13/
I978).
· Primary cutaneous gonorrhea : bentuk ini pemah dilapor-
kan oleh P
RAYER
(1973), dimana didapatkan pustula pa-
da jari yang disertai limfangitis dan pembesaran kelenjar re-
gional.
Pada pemeriksaan dengan, pewarnaan Gram, perbenihan
dan
"direct fluorescense antibody
"
didapatkan kuman-go
nokokus. Pada anamnesa, didapatkan adanya kontak
"di
gital-genital" dengan partner seks yang beberapa jam sebe-
lumnya penderita mengalami trauma pada jari tersebut.
RINGKASAN
Telah dibicarakan mengenai ekstra genital gonorrhea teru-
tama faringitis, tonsilitis dan proktitis gonorrhoica.
Walappun kuman-kuman gonokokus lebih mudah hidup diatas
epitel torak seperti pada uretra laki-laki,kelenjar para uretra
dan cervix uteri pada wanita, namun dalam keadaan-keadaan
tertentu kuman tersebut dapat pula menyerang mulut dan
faring yang dilapisi oleh epitel berlapis.
Adanya variasi dalam hubungan kelamin seperti oro-genital
atau digital-genital dan hubungan seks yang tak wajar yaitu
homoseksuil, harus kita pikirkan sebagai penyebab dari keada-
an ini. Selain itu walaupun jarang,penyebaran hematogen dari
kuman gonokok ataupun toksinnyadari genital
gonorrhea
dapat pula menyebabkan bentuk ekstra genital go. yang lain.
KEPUSTAKAAN
1.BRO JORGENSEN JENSEN: Gonococcal Tonsilar Infection,
Brit Med J
4: 660-661, 1971.
2. HALLQVIST. L LINGDREN. S : Gonorrhoea of the throat at a
Venereological Clinic,
Brit J Vener Dis
51 : 395 ­ 397, 1975.
3. HANDERSON. R : Recommended treatment schedules for Gonorr
hoea 1974,
Arch, Derm 111 :
317­320. 1975.
4.HENDRO. S dkk. : Pharyngitrs Gonorrhoica,
KONAS II PADVI,
Surabaya 1976, hal. 842­848.
5. KING. A NICOL. C:
Venereal Diseases.
third ed. ELBS. London,
1975.
6. ODEGAARD GUNDERSEN :Gonococcal Pharyngeal Infection.
Brit, J Vener Dis 49 :
350­352.1973.
7. OWEN HILL:Rectal Pharyngeal Gonorrhoea in Homosexual
men.
JAMA,
220 : 315-1318, 1972.
8. PRAYER. K.M. : Primary extra genital cutaneous gonorrhoea ,
Arch Derm
107 : 112, 1973.
9.THATCHER et al : Asymptomatic Gonorrhoea.
JAMA
210:315
-317, 1969.
10.WILLCOX. R.R :
A Textbook of Venereal Diseases and Treponemato
sis. William Heineman Med. Books Ltd. 2
nd
Ed. London, 1964.
"
Epidemi
"
Penyakit Jiwa : laporan kasus
dr. E. Nugroho
Puskesmas Sepang ,Simin
Kual
a Kurun
Kalimantan Tengah
Summary
Mental disorder, determined as
"
transmitted mental
disease," occuring in Central Kalimanatan in April, 1978,
is reported.
Some teachers and 26 pupils sufferd from this disorder.
Symptoms were crying, delirium, confusion and stupor.
Anamneses and observations on patients concluded and
determined that the disorder was
"
massal hysterical reac-
tions," Chlorpromazine recovered them.
Suatu gangguan jiwa yang dikabarkan bersifat
"
menular"
telah terjadr di suatu daerah di Kalimantan Tengah bulan
April 1978 yang lalu.
Gangguan ini menimpa sekitar 26 murid sekolah dan beberapa
guru, dengan gejala menangis, mengamuk dan tak sadarkan
diri.
q
Kasus. -- Jalannya peristiwa ini didapat dari alloanamnesis
dari beberapa orang yang melihat kejadian tersebut. Peristiwa
ini terjadi di daerah/pedalaman Kalimantan Tengah, di desa
Tangkahen. Waktu itu diadakan pertandingan segetiga antara
murid-murid sekolah SMP dari desa Tangkahen, Bawan dan
Sepang Kota. Ketiga desa itu masing-masing terpisah oleh ja-
rak beberapa puluh kilometer. Dalam pertemuan itu dipertan-
dingkan beberapa cabang olah raga, antara lain volley dan se-
pakbola. Pertandingan volley dimenangkan oleh SMP Sepang
Kota, sedangkan sepak-bola dimenangkan oleh SMP Bawan.
Pada pagi hari sebelum peristiwa itu terjadi, SMP Sepang Kota
bertanding melawan SMP Tangkahen dan SMP Sepang Kota
keluar sebagai pemenang, sehingga menjadi runner-up untuk
cabang sepakbola.
Malam harinya, ketika akan diadakan malam perpisahan,
didapatkan bahwa murid-murid SMP Sepang Kota tidak mun-
28
Cermin Dunia Kedokteran No. 15, 1979
background image
cul di tempat pertemuan.
Ternyata terjadi kegaduhan di tempat murid-murid Sepang
Kota berkumpul. Murid-murid menangis semua, sebagian ber-
teriak-teriak, beberapa murid lainya mengamuk. Seorang guru
datang untuk menenangkan mereka, tetapi dia ketularan se-
hingga ikut menangis. Beberapa orang memegang murid yang
mengamuk dan membawanya ke lain tempat. Tetapi ketika
mengangkat orang itu, orang yang memegangnya juga ketu-
laran. Seorang guru SMP Tangkahen yang ikut memegangi
murid tersebut mengatakan bahwa dia merasa kejang dan
tercekik. Tidak diketahui dengan pasti berapa orang yang
telah ketularan akibat memegang murid-murid itu.
Peristiwa selanjutnya juga tidak diketahui dengan pasti o-
leh penulis, tetapi sebagian besar murid-murid yang terkena
penyakit itu sembuh. Tinggal lima orang yang masih menga-
muk dan dibawa kembali ke desa, Sepang Kota. Mereka dipu-
langkan ke rumah masing-masing, tetapi mereka selalu berusa-
ha berkumpul kembali dan mengamuk, mereka mengancam
akan kembali ke Tangkahen untuk memukul penduduk
Tangkahen.
Seluruh penduduk yakin bahwa kejadian itu bukan peristi-
wa biasa, tetapi merupakan black-magic yang dilakukan oleh
Tangkahen. Oleh sebab itu dukun-dukun dipanggil untuk
melawan kekuatan gaib itu. Rupanya masalah ini tetap tidak
terselesaikan sehingga terpaksa dilaporkan pada pihak kepoli-
sian. Polisi sulit mencari siapa yang melakukan black-magic
itu. Yang dapat dilakukan hanyalah meminta pada masyarakat
Tangkahen agar yang merasa membuat black-magic itu mena-
rik ilmunya kembali.
Penulis mendengar cerita tentang peristiwa ini dua hari
setelah kejadian, yaitu waktu berkunjung ke Sepang Kota. Pa
da waktu itu diceritakan bahwa semua telah sembuh, ke-
cuali seorang murid yang masih sakit. Penulis ditanyai apakah
ini termasuk kasus kedokteran atau tidak, dan apakah ada
obatnya. Murid itu kemudian dibawa menemui penulis.
Hasil pemeriksaan
Penderita adalah seorang pemuda, berbadan tegap, berumur
sekitar 1 8 tahun. Ia dapat berjalan sendiri dan tampak tenang.
Keadaan umum baik, kesadaran compos-mentis, tidak tampak
sakit. Penderita kooperatif, ekspresi mukanya wajar, orientasi
baik. Tetapi ia menyatakan tak tahu akan apa yang telah terja-
di pada dirinya dan lupa akan semua kejadian di Tangkahen.
Setelah didesak oleh penulis untuk mengingatnya kembali
penderita tampak berpikir sebentar. Kemudian ia memejam-
kan matanya dan berteriak-teriak. Tangannya mengepal dan
tinjunya diacung-acungkan. Masyarakat yang ada disekitar
tempat itu mengatakan bahwa penyakitnya kumat kembali.
Orang-orang tak berani menyentuhnya karena takut ketularan.
Tetapi ada satu orang yang berani. Setelah memejamkan mata
dan mengerahkan ilmunya, dia memegang kepala si penderita
selama beberapa menit.
Setelah agak tenang, dia dibawa masuk ke kamar. Di si-
tu penderita masih membuat kegaduhan, tetapi kontak psikik-
nya masih ada. Ia meminta rokok, meminta dipijat dan lain-
lain.
Diagnosis dan pengobatan
Dari anamnesis dan pengamatan pada penderita itu, didapat-
kan kesan hysterical reaction. Diberikan dua tablet chlorpro-
mazine 25 mg yang segera diminum oleh penderita. Setelah se-
tengah jam tidak ada perubahan, diberikan satu tablet lagi.
Penderita mulai mengantuk, tetapi beberapa kali bangun dan
berteriak-teriak lagi. Sementara itu dukun-dukun masih ikut
mengobati dengan cara mereka sendiri. Keesokan harinya pen-
derita sembuh. Pengobatan dengan chlorpromazine .diteruskan
sampai hari itu saja. Penyakitnya tidak kumat lagi.
Diskusi
Dalam buku-buku psikiatri kuno dapat ditemukan laporan-
laporan mengenai
"
epidemi psikosis ". Sebagai contoh, antara
abad ke I1 dan ke I 5, di Eropa sering terjadi epidemi ganggu-
an jiwa berupa "St. Vitus dance ". Orang-orang yang terkena
penyakit ini -berkumpul di sekeliling gereja, menari-nari dan
bernyanyi terus menerus selama beberapa hari sampai mereka
kehilangan kesadaran akibat kelelahan. Contoh lain, dan ini
dianggap oleh A
RIETI
sebagai yang terpenting, ialah lycan-
thropy. Sampai sekarang gangguan ini dikabarkan masih adadi
daerah pedalaman Italia. Orang-orang yang terkena gangguan
itu menganggap dirinya berubah menjadi binatang, terutama
srigala, dan bertingkah laku seperti kelompok srigala. Selama
mereka berada dalam keadaan itu banyak yang melakukan
kejahatan, oleh sebab itu banyak pula yang ditangkap dan di-
hukum mati. Meskipun ini dilaporkan sebagai epidemi psikosis
tetapi
sebenarnya,
suatu psikoneurosis, suatu histeria
massal. Lingkungan masyarakat yang masih percaya penuh pa-
da takhayul, tingkat pengetahuan masyarakat yang rata-rata
masih rendah, serta kepribadian yang kurang stabil merupakan
faktor predisposisi untuk terjadinya reaksi tersebut.
Di alam moderen ini fenomena histerik sering timbul di
antara peserta kelompok politik ekstrim, atau dalam suatu ke
lompok agama/kepercayaan dalam upacara mereka. Dilaporkan
juga kasus-kasus histeria massal pada sekolah-sekolah khusus
wanita.
Dalam kasus murid SMP Sepang Kota ini, yang menarik
ialah bahwa seolah-olah histeria massal yang terjadi itu tidak
didahului oleh faktor pencetus, tidak didahului oleh pidato-
pidato atau upacara-upacara lain, dan tanpa pemimpin. Kalau
fenomena histerik itu dimaksudkan sebagai jalan keluar dari
konflik kejiwaan dan untuk mencetuskan rasa permusuhan ke-
luar, hal ini juga sukar dimengerti, karena dalam pertandingan
dengan SMP Tangkahen mereka menang.
Faktor predisposisi yang tampaknya memegang peranan
ialah : kelelahan, rasa solidaritas kelompok yang tinggi, dan
mungkin juga kepribadian yang kurang stabil, sehingga bila ada
satu orang yang menangis, yang lain ikut menangis tanpa se-
bab yang nyata.
bersambungan ke halaman..............................34
Cermin Dunia Kedokteran No. 15. 1979
29