HASIL PENELITIAN
Pengaruh Destruxin dan Konidiospora
M anisopllae yang Dikultur
pada Berbagai Media
terhadap Larva Aedes aegypti
Amrul Munif
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit menular yang ditularkan serangga vektor saat ini
masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, terutama pe-
nyakit malaria, tilaria dan demam berdarah. Salah satu cara pem-
berantasan penyakit tersebut yaitu dengan memutuskan rantai
penularan yang ditujukan pada vektor dengan menggunakan
pestisida maupun pengendali hayati. Salah satu alternatif pengen-
dali hayati adalah memanfaatkan agen dan cendawan patogen
yang endotoksinnya bersifat racun bagi serangga.
Hubungan antara serangga dan mikroorganisme dapat ber-
langsung melalui tiga hal yaitu hidup sebagai simbion, saprofit
atau sebagai patogen. Mikroorganisrne yang hidup sebagai pa-
togen dapat menimbulkan penyakit pada serangga. Pada tahun
1835 Bassi de Lodi membuktikan bahwa cendawan dapat me-
nyebabkan penyakit serta kematian pada ulat sutra. Kemudian
pada tahun 1870 L.Pasteur juga mempublikasi kan penyakit ulat
sutra yang disebabkan oleh mikroorgan isme dan bakteri. Pasteur
telah berjasa karena menyelamatkan produksi sutra Perancis dari
ABSTRAK
Penelitian isolasi destruxin dan konidiospora Metarhizium anisopliae untuk mem-
peroleh endotoksinnya melalui proses antibiosis dalam meningkatkan toksisitas sebagai
rium Entomologi Puslit Ekologi Kesehatan,
995. Tujuan penelitian ini adalah untuk me-
ualitas endotoksin yang hi rvirulen (toksik)
isopliae dengan mudah. Di samping itu juga
nyamuk dengan menggunakan hasil isolasi
da berbagai macam medium.
g ultur spora cendawan M. anisopliae pada
uraud buatan, kentang (potato dekstrosa agar
jagung. Ternyata media tumbuh cendawan M. anisopliae
mempengaruhi kualitas dan kuantitas konidiospora yang dihasilkan. Produksi masal
konidiospora yang dikultur pada kentang/PGA buatan menghasilkan kualitas dan kuan-
titas yang lebih baik dibandingkan pada medium jagung, beras dan agar dekstrosa
Sabouraud buatan.
Pengamatan toksisitas destruxin yang diisolasi dari konidiospora yang dihasilkan
berbagai macam medium terhadap larva Ae. aegypti menunjukkan hasil persamaan
regresi untuk LC 50 dan LC 95 berbeda satu dengan yang lainnya. Analisis Rancangan
Acak Lengkap isolasi destruxin untuk LC 50 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata
(p < 0,0 1). Dari analisis beda rata-rata terkecil, ternyata destruxin yang dihasilkan dari
isolasi konidiospora pada media kentang dan beras lebih toksik dibandingkan dengan
yang berasal dari media jagung, gandum dan agar dekstrosa Sabouraud buatan.
agen pengendali, telah dilakukan di laborato
Jakarta, dari bulan Mei 1994 sampai April 1
ningkatkan toksisitas strain agar diperoleh k
dan untuk memproduksi konidiospora M. an
dilakukan penentuan tingkat kepekaan larva
destruxin dan konidiospora yang dikultur pa
Pengamatan dilakukan dengan cara men
berbagai macam media agar dekstrosa Sabo
buatan), beras, gandum dan
pe
k
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 17
epidemi Flacherio tersebut. Kemudian pada dekade-dekade ber-
ikutnya muncul beberapa publikasi, namun yang paling terkenal
adalah karya Metchnikoff pada tahun 1879 yang menunjukkan
bahwa serangga hama dapat dikendalikan dengan baik oleh
cendawan Metarhizium anisopliae (Metch)
(1)
.
Pada umumnya cendawan entomopatogen menyerang inang
dengan menembus integumen serangga melalui perantara hifa,
kecuali cendawan Mucor dan Aspergillus yang memerlukan
pelakuan terlebih dahuiu pada integumen.
Ada empat tahap dalam etiologi penyakit cendawan yang
menyerang serangga. Tahap pertama, kontak antara propagul
cendawan dengan serangga. Dalam proses ini senyawa muko-
polisakarida memegang peranan yang sangat penting. Tahap ke
dua, penempelan dan perkecambahan propagul cendawan. Cen-
dawan dapat memanfaatkan senyawa-senyawa yang terdapat
pada integumen; protein asam amino dan fenol merupakan se-
nyawa stimulan bagi cendawan Metarhizium anisopliae. Tahap
ke tiga adalah penetrasi dan invasi menembus integumen, cen-
dawan membentuk tabung kecambah; titik penetrasi sangat di-
pengaruhi oleh konfigurasi morfologi integumen. Cendawan
juga rnembentuk appresorium untuk menembus integumen. Pe-
nembusan dilakukan secara mekanis dan kimia dengan mengeluar-
kan enzim atau toksin. Tahap ke empat adalah tahap penghan-
curan dekat dengan titik penetrasi, terbentuk blastospora yang
kemudian beredar dalam hemolimpa dan membentuk hifa sekun-
der untuk menyerang jaringan lain
(2)
. Hal ini tergantung pada
jenis cendawan, perkembangan cendawan yang sangat atau
ekstensif. Toksin juga dikeluarkan oleh cendawan, sedangkan
pihak serangga sendiri akan mengembangkan sistem pertahanan
din dengan fagositosis
(3)
. Fagositosis biasanya dilakukan oleh
plasmatositgranuloma. Di samping itu cendawan akan mengeluar-
kan zat metabolit bichromo misalnya bassianin, teneilin dan
oosporein. Contoh zat toksin yang dikeluarkan oleh cendawan
adalah Beauperolides, Basionalides, Isarolides dan Destruxin
(4)
.
Setelah serangga mati, fase perkembangan saprofit dimulai
dengan penyerangan jaringan dan berakhir dengan pembentuk-
an organ reproduksi. Pada umumnya cendawan menyerang
jaringan yang terdapat di dalam tubuh serangga. Cairan tubuh
serangga akan habis digunakan oleh cendawan, maka serangga
mati dengan tubuh mengeras seperti mumi.
Pertumbuhan cendawan diikuti dengan pengeluaran pigmen
atau toksin yang dapat melindungi serangga dan serangan mikro-
organisme lain terutama oleh bakteri. Miselia cendawan dapat
menembus ke luar tubuh serangga melalui bagian yang mudah
diserang seperti pada bagian artikulasi embelan tubuh dan alat
mulut; tidak selalu cendawan tumbuh ke luar menembus bagian
integumen serangga.
Pada keadaan kurang mendukung, perkembangan saprofit
hanya berlangsung di dalam jasad serangga tanpa ke luar me-
nyeberangi integumen. Dalam hal ini cendawan membentuk
struktur khusus yang dapat bertahan yaitu Arthospora.
Cendawan M. anisopliae menghasilkan metabolisme endo-
toksin yang dapat mematikan larva nyamuk. Endotoksin yang
dihasilkan oleh M. anisopliae adalah destruxin A dan B. Endo-
toksin ini mempunyai peran sebagai bioinsektisida yang dapat
dikembangkan melalui proses antibiosis; endotoksin M. ani-
sopliae diperoleh dari isolasi destruxin yang terspat pada spora
(5)
.
Metode yang digunakan adalah metode isolasi destruxin oleh
Robert (1969)
(6)
.
Tingkat virulensi berbagai macam spesies cendawan di-
pengaruhi oleh berbagai aktifitas enzim yaitu di antaranya :
amilase, proteolitik dan lipolitik
(7)
. Seleksi perubahan mutan
dalam sel tunggal dipengaruhi oleh aktifitas enzim yang spesifik.
Kemampuan aktifitas enzim protease dan amilase secara serem-
pak menghasilkan strain yang hipervirulen.
Penelitian ini bertujuan meningkatkan virulensi/toksisitas
strain untuk memperoleh kualitas endotoksin yang hipervirulen,
juga menentukan tingkat kepekaan larva nyamuk dengan meng-
gunakan isolasi destruxin yang dihasilkan konidiospora M. ani-
sopliae.
BAHAN
Bahan yang digunakan adalah isolat Metarhizium aniso-
pliae yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Pangan,
Sukamandi dan Balitro Bogor; sebagai media pemurnian di-
gunakan Potato Dekstrosa Agar (PDA) dan media patogenisitas-
nya adalah air. Perbanyakan masal dilakukan sendiri dengan
menanam isolat M. anisopliae pada berbagai media buatan di
antaranya: beras, gandum, jagung, kentang dan agar dekstrosa
sabouraud buatan sehingga akan diperoleh konidiospora dari
berbagai medium. Kemudian dilakukan proses isolasi destruxin
untuk diuji cobakan terhadap larva Aedes aegypti.
CARA
Penelitian dilakukan di laboratorium Entomologi Puslit
Ekologi Kesehatan dan Laboratorium Toksikologi Balai Pene-
litian Tanaman Pangan Sukamandi pada bulan Mei 1994 sampai
dengan April 1995.
1) Pembuatan Medium
Untuk pemakaian medium kentang, agar sabouraud dekstrosa
buatan dan gandum, dibuat dengan cara yang sama yaitu sebagai
berikut: Kentang kupas disisir halus kemudian direbus dengan
1000 ml dan 500mg kloramfenikol. Larutan tersebut dipanaskan
sampai mendidih sambil diaduk agar merata. Kemudian dibuat
agar miring pada tabung reaksi. Dalam tabung reaksi tersebut
dibiuat perbanyakan sebagai sumber benih. Perbanyakan masal
dilakukan pada cawan petni sebanyak 100 buah. Setelah media
dituangkan pada cawan petri tersebut, selanjutnya disterilkan
dalam autokiaf selama 20 menit pada temperatur 115°C. Setelah
media dalam cawan petri dan tabung reaksi dingin, dilakukan
inokulasi cendawan dari sumber isolat pada permukaan agar.
Cendawan yang ditanam pada cawan petri disimpan dalam
stoples plastik. Pada umur 1 sampai dengan 2 minggu, konidio-
spora dipanen, digunakan untuk proses isolasi destrixinnya.
Media beras dan jagung dibersihkan terlebih dahulu dengan
air panas selama 30 sampai 60 menit. Setelah direndam kemu-
dian dikukus selama 1 (satu) jam sampai matang, beras dan
jagung secukupnya dikemas dalam kantong plastik tahan panas,
setiap kantong berisi 1/2 kg. Kantong plastik benisi media beras
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
18
atau jagung disterilkan pada suhu 115°C selama 20 menit.
Kemudian setelah dingin ditanami isolat M. anisopliae secara
acak.
2) Isolasi Destruxin
Konidiospora M. anisopliae yang dikultur dalam berbagai
medium dipanen dan ditempatkan pada botol erlenmeyer, di-
ekstrak dengan CCl
4
. Kemudian larutan dipindahkan ke dalam
cawan petri untuk diuapkan (membuang H
2
O). Setelah proses
penguapan akan diperoleh residu; residu ini dilarutkan dalam
150 ml air, akan terbentuk suspensi berupa koloid. Ke dalam
suspensi koloid dimasukkan DOWEX 50 (hydrogen form) untuk
proses pertukaran ion dalam kolom (20 x 1 cm). Hasil larutan
yang telah melalui proses tersebut dicampur dengan DOWEX I
(acetate form) yang dialirkan kembali dalam kolom di laborato-
rium. Larutan ini dicuci dengan air kemudian diuapkan akan
diperoleh residu kembali. Residu dicampur dengan alumina
dalam larutan benzena dan dimasukkan kembali dalam kolom.
Kemudian larutan ini dicampurkan kembali dengan 5% etil
asetat dalam benzena; akan dihasilkan 519 mg destruxin yang
mengandung 73% destruxin A. Bahan destruxin ini diaplikasi-
kan dengan berbagai konsentrasi pada larva Aedes aegypti.
3) Uji Toksisitas/Bioassay Destruxin A
Dilakukan uji kerentanan larva Ae. aegypti terhadap destruxin
A hasil isolasi dan konidiospora Metarhizium anisopliae yang
dibiakan pada berbagai medium. Materi uji kerentanan berupa
larva Ae. aegypti instar ke tiga dan ke empat yang berasal dari
hasil pembiakan laboratorium. Terhadap setiap asal destruxin
dilakukan uji 4 kali ulangan dengan konsentrasi 0,025 ppm, 0,5
ppm, 1,0 ppm, 2 ppm, 4 ppm dan 6 ppm. Dilakukan kontak larva
Aegypti dengan destruxin selama 24 jam. Pengujian dilakukan
dengan menggunakan prosedur standar WHO (1972).
Data yang diperoleh, dianalisis dengan regresi untuk mem-
peroleh separuh populasi yang mati dan 95% kematian populasi
larva yang uji (LC 95).
4) Rancangan Penelitian dan Analisis Data
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalam
pengujian toksisitas destruxin A terhadap larva Aedes aegypti.
Bila ditemukan perbedaan bermakna, dilanjutkan dengan uji
beda nyata terkecil. Masing-masing pengujian dikerjakan den-
gan 5 perlakuan yang diulang 4 kali. Sebagai perlakuan
menggunakan medium jagung, kentang, beras, gandum dan agar
dekstrosa sabouraud buatan. Data vaniabel dosis/konsentrasi,
jumlah kumulatif larva yang mati dalam aplikasi diolah dengan
menggunakan analisis regresi linier, yang dirumuskan sebagai
berikut
(8)
:
x
b
Y
a
2
(x)
x
N
)
y
(
)
(P
2
x
n
b
x
b
x
a
Y
2
-
=
-
-
=
+
=
X = adalah variabel dosis atau konsentrasi yang diberikan
Y = adalah jumlah persentase kematian larva Aedes aegypti
n = adalah jumlah ulangan dalam pengamatan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama dua belas bulan (Mei 1994 sampai dengan April
1995) telah dapat diselesaikan produksi M. anisopliae pada ber-
bagai macam media dan isolasi destruxin untuk uji ketahanan
terhadap larva Aedes aegypti di laboratorium.
1) Pengaruh Media terhadap Sporulasi Cendawan
Penggunaan media kentang dan gandum untuk perbanyakan
konidiospora M. anisopliae memberikan jumlah spora tetinggi
dibandingkan dengan media jagung, beras dan agar dekstrosa
Sabouraud. Diduga hal ini disebabkan oleh perbedaan komposisi
nutrisi gizi yang terkandung setiap medium, bahkan Agar Potato
Dekstrosa (PDA) merupakan media untuk memelihara spora M.
anisopliae agar tetap manjur/toksis di laboratorium Balai Pene-
litian Tanaman Pangan Sukamandi.
2) Uji Toksisitas destruxin terhadap larva Ae. aegypti
Persentase kematian larva Ae. aegypti akibat destruxin
yang diisolasi dari konidiospora M. anisopliae pada medium
jagung disajikan pada Tabel 1. Secara kumulatif kematian larva
Ae. aegypti mencapai 100% pada hasil uji dengan konsentrasi
6 ppm. Angka kematian pada tiap uji ulangan tidak banyak ber-
beda. Pada uji kontrol larva Ae. aegypti tidak ada yang mati, hal
ini menunjukkan hasil uji kerentanan tersebut berlaku baik. Dari
hasil uji tersebut diperoleh LC 50 dan LC 95 Ae. aegypti ber-
dasarkan analisis regresi linier dengan persamaan Y=28,3+13,4
X (Tabel 6). Populasi larva Ae. aegypti rentan terhadap destruxin
hasil isolasi konidiospora dari jagung dengan LC 50 = 1,62 ppm
dan LC 95 = 4,98 ppm.
Tabel 1. Rata-rata % kematian larvaAe. aegypti dengan perlakuan isolat
destruxin yang berasal dan Metarhizium anisopliae basil kultur
media Jagung
Ulangan
Konsentrasi
dalam 250 ml
(ppm)
1 II 111
IV
Jumlah Rata-rata
0,25
0,50
1
2
4
6
Kontrol
20
32
44
60
88
100
0
18
34
52
58
96
100
0
22
38
48
62
92
100
0
16
29
49
58
100
100
0
76
133
193
238
376
400
0
19
33.25
48,25
59,5
94
100
0
Y = 28,3 + 13,4 X ; LDSO = 1,62 ; LD95 = 4,48
Pensentase rata-rata kematian larva Ae. aegypti akibat
destnuxin yang diisolasi dari konidiospora pada media kentang
(PDA buatan) disajikan pada Tabel 2. Secara kumulatif persen-
tase kematian larva Ae. aegypti yang diuji pada 4 macam konsen-
trasi mencapai 100% dengan konsentrasi destruxin 4 ppm. Angka
kematian pada setiap uji ulangan tidak banyak berbeda tetapi
hanya pada ulangan ke dua mencapai 100% dengan konsentrasi
destruxin 2 ppm. Bahkan pada perlakuan kontrol tidak ada yang
mati. Berdasarkan analisis regnesi diperoleh pensamaan Y =
30,88 + 34,14 X, sehingga LC 50 dicapai pada konsentrasi 0,56
ppm (Tabel 6).
Selanjutnya pensentase kematian larva Ae. aegypti terhadap
destruxin yang diisolasi dari konidiospora yang dikultur pada
media gandum disajikan pada Tabel 3. Kematian larva uji Ae.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 19
Tabel 2. Rata-rata % kematian larva Ae.aegypti dengan perlakuan isolat
destruxin
yang
berasal
dan
Metarhizium anisopliae basil kultur
media
Kentang
(PGA)
Ulangan
Konsentrasi
dalam 250 ml
(ppm)
I II III IV
Jumlah Rata-rata
0,50
1
2
4
Kontrol
38
84
100
100
0
44
76
92
100
0
36
80
84
100
0
32
84
100
100
0
150
324
376
400
0
37,5
81
94
100
0
Y = 30,88 + 34,14 X ; LD 50 = 0,56 LD 95 = 1,88
aegypti secara kumulatif tertinggi 99% konsentrasi destruxin 4
ppm, sedangkan angka kematian pada tiap uji ulangan tidak
banyak berbeda uji kontrol larva Ae. aegypti tidak ada yang mati.
Berdasarkan analisis regresi diperoleh persamaan Y = 1,42 +
27,2 X sehingga LC 50 mencapai 1,79 ppm.
Tabel 3. Rata-rata % kematian larva Ae.aegypti dengan perlakuan isolat
destruxin
yang
berasal
dan
Metarhizium anisopliae basil kultur
media Gandum
Ulangan
Konsentrasi
dalam 250 ml
(ppm)
I II II1
IV
Jumlah Rata-rata
0,25
0,50
1
2
4
Kontrol
0
8
16
88
100
0
0
0
4
92
100
0
0
0
0
84
96
0
0
0
8
80
100
0
0
8
28
344
396
0
0
2
7
86
96
0
Y = 1,42 + 27,21 X ; LD 50 = 1,79 ; LD 95 = 2,4
Persentase kematian larva Ae. aegypti destruxin yang di-
isolasi dari konidiospora yang dikultur pada media berfas disaji-
kan pada Tabel 4. Kematian larva Ae. aegypti secara kumulatif
tertinggi mencapai 100% pada konsentrasi 1 ppm, walaupun
pada salah satu uji ulangan mencapai 100% pada konsentrasi
destruxin 0,5 ppm.
Tabel 4. Rata-rata % kematian larva Ae. aegypti dengan penlakuan
isolat destruxin yang berasal dan Metarhizium anisopiwe basil
kultur media Beras
Ulangan
Konsentrasi
dalam 250 ml
(ppm)
I II III IV
Jumlah Rata-rata
0,50
1
2
4
Kontrol
100
100
100
100
0
80
100
100
100
0
75
100
100
100
0
8
100
100
100
0
260
400
400
400
0
65
100
100
100
0
Y = 30 + 70 X ; LD 50 = 0,286 ; LD 95 = 0,93
Secara umum angka kematian pada setiap uji ulangan tidak
banyak berbeda dan pada uji kontrol larva Ae. aegypti tidak ada
yang mati. Hal ini menunjukkan bahwa uji kerentanan tersebut
berlaku baik. Berdasarkan analisis persamaan regresi diperoleh
Y 30+70 X sehingga LC 50 diperlukan 0,286 ppm dan LC 95
pada 0,93 ppm.
Tampaknya destruxin dari isolasi konidiospora yang dikul-
tur media beras lebih toksis dibandingkan yang lain. Persentase
kematian larva Ae. aegypti dan hasil uji kerentanan terhadap 5
macam konsentrasi destruxin hasil isolasi konidiospor yang
dikultur pada media agar dekstrosa sabouraud buatan disajikan
pada Tabel 5. Kematian larva Ae. aegypti tersebut mencapai
100% diperoleh dari hasil uji ke tiga ulangan dengan konsentrasi
4 ppm, namun rata-rata persentase kematian secara kumulatif
pada larva Ae. aegypti mencapai 97% dengan konsentrasi 4 ppm.
Angka kematian pada tiap uji ulangan tidak banyak berbeda
sedangkan pada uji kontrol larva Ae. aegypti tidak ada yang mati.
Populasi larva Ae. aegypti dengan berbagai perlakuan konsen-
trasi mempunyai kerentanan persamaan Y = 6,73 + 22,3 X,
sehingga konsentrasi destruxin yang diperlukan untuk LC 50 =
1,94 ppm dan LC 95 = 3,96 ppm (Tabel 6).
Tabel 5. Rata-rata % kematian larva Ae. aegypti dengan perlakuan isolat
destruxin yang berasal dan Metarhizium anisopliae hasil kultur
media
Sabouraud
agar
Ulangan
Konsentrasi
dalam 250 ml
(ppm)
I II III IV
Jumlah Rata-rata
0,50
1
2
4
Kontrol
4
20
44
88
0
8
24
52
100
0
12
32
48
100
0
8
16
36
100
0
32
92
180
388
0
8
32
45
97
0
Y = 6,73 + 22,29 X ; LD 50 = 1,94 ; LD 95 = 3,96
Tabel 6. Analisis regnesi pengaruh destruxin yang diperoleh dan isolasi
M. anisopliae yang dikultur pada berbagai medium terhadap
kematian larva Ae. aegypti
Macam medium
Persamaan regresi
LD 50
(gram/250
ml air)
LD 95
(gram/250
ml air)
1. Beras
2. SADbuatan
3. Kentang/PGA
4. Jagung
5. Gandum
Y = 30 + 70 X
Y = 6,73 + 22,29 X
Y = 30,88 + 34,14 X
Y = 28,3 + 13,4 X
Y = 1,42 + 27,21 X
0,286
1,94
0,56
1,62
1,79
0,93
3,96
1,88
4,98
3,4
Ternyata tingkat toksisitas destruxin hasil isolasi konidio-
spora yang dikultur pada media jagung, gandum, beras, kentang
dan SAD buatan pengaruhnya saling berbeda (Tabel 7a). Ber-
dasarkan uji nyata terkecil (Tabel 7b) rata-rata persentase ke-
matian pada LC 50 terdapat perbedaan yang sangat nyata (p>
0,01). Toksisitas tinggi terutama diperoleh dari media beras,
kentang dibandingkan dari media yang lain.
Tabel 8 menunjukkan LC 95 populasi larva Ae. aegypti hasil
analisis sidik ragam tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
antar perlakuan (p = 0,05), namun kerentanan populasi LC 50
larva Ae. aegypti terhadap destruxin asal biakan media beras
berbeda dengan asal biakan gandum, SAD dan jagung.
Produksi M. anisopliae se masal dalam aplikasi lapang-
an banyak menggunakan media jagung; mungkin karena jagung
mudah didapatkan, murah dan banyak tersedia; akhir-akhir ini
diketahui adanya perbedaan virulensi maupun viabilitas cenda-
wan yang dikultur pada berbagai strain jagung. Rata-rata persen-
tase daya kecambah M. anisopliae pada jagung manis lebih baik
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
20
KESIMPULAN
Tabel 7a. Analisis sidik ragam perbedaan pengaruh isolasi destruxin dari
konidiospora
M. anisopliae yang dikultur pada berbagai media
terhadap
larva
uji
Ae. aegypti untuk LC 50
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
Sumber
Variasi
Derajat
Bebas
Jumlah
Kuadrat
Kuadrat
Tengah
F
Hitung
F
0,05
0,01
Mean
Antar
Perlaku
Acak
1 (db)
(51) = 4
(db2)
5(4-1) = 5
(db3)
5186,11
52380.31
768,94
5186,11
13095.1
51,26
255,5 *
3,06
4,89
Total
20
1) Terdapat perbedaan yang nyata antara perlakuan lima jenis
media perbanyakan; media beras dan kentang lebih baik daripada
SAD buatan, jagung dan gandum dalam hal jumlah spora M.
anisopliae.
2) Ada perbedaan toksisitas terhadap populasi larva Ae. aegypti;
destruxin hasil isolasi konidiospora yang dikultur pada beras (LC
50 = 0,29 ppm) dan kentang (LC = 50 = 0,6 ppm) lebih toksik di-
bandingkan hasil kultur pada media gandum (LC 50= 1,6 ppm)
gandum (LC = 50 = 1,8 ppm) dan SAD kentang (LC 50 = 1,9
ppm).
F Hit < 4,89 destruxin yang dihasilkan media gandum, jagung. beras, dan SAD.
Mempunyai toksisitas yang berbeda.
3) Media tumbuh mempengaruhi kualitas konidiospora cen-
dawan M. anisopliae yang dihasilkan.
Uji Beda Nyata Terkecil BNT
BNT 005\ t 00,5 (db acak) X
n
Acak
KT
2
= 2,131 X
4
2
X
26
,
51
= 5,39
BNT 001 = T 00,1 (dbn acak) X 2 KT Acak = 2,845 X 2 X 51,26 = 7,2
KEPUSTAKAAN
Tabel 7b. Uji Beda nyata terkecil Isolasi destruxin asal berbagai macam
media
pengaruhnya
terhadap
LC
50
Ratarata Berns
Gandum
Jagung SAD Kentang
45 Beras
1,5
5,875 *
8 **
14,25 **
46,5
4,275
6,5
*
8,375**
50,88
2,125
8,375**
53, SAD
6,251
59,25
1. Cole TG, Kendrick B. Biology of Conidial Fungi. New York, Toronto,
Sydney, San Fransisco: Academic Press, Vol 2. 1981: 201207.
2. Ferron P. Biological control of insect pest by entomogeneous fungi. Ann.
Rev. Entomol. 1978; 32: 40942.
3.
Roberts DW. Toxin from theEntomogenous Fungus
Metarhiziumanisopliae. I.Production in submerged and surface cultures,
and in inorganic and organic nitrogen media. J Invertebrata, 1966.
4. Roberts DW. b. Toxin From the Entomogenous Fungus M. anisopliae II.
Symptoms and detection in moribund hosts. J. lnverbrata Pathol, 1966; 8:
22227.
Tabel 8. Analisis sidik dengan pengaruh destruxin dan konidiospora
yang
dikultur
pada
berbagai medium terhadap larva Ae. aegypti
pada LC 95
5. Paris J. Sergstain C. Submerge cultivation of fungus Metarhizium
anisopliae (Metsch) Trans Br Mycol Soc. 1975; 48(2).
6. Roberts DW. Toxins from the Entomogenous Fungus Metharizium aniso
pliae : isolation destruxins from submerged cultures. J lnverbrat Pathol.
1969; 14: 828.
Sumber
Variasi
Derajat
Bebas
Jumlah
Kuadrat
Kuadrat
Tengah
F
Hitung
F
0,05
Q,04
Mean
Antar
Acak
I (db 1)
A(db 2)
15 (db 3)
154089,01
867,1
1778,2
154089,01
216,75
11,55
1,83 2,4 456
Total tidak beda
7. Kodaira Y. Studies on the new toxic substance to insects, destruxin A and
B, produced by Oosporadestructor. Part I. Isolation and purification
ofdestruxin A and B. Agr. Biol Chem (Tokyo) 1962; 26: 3642.
8. Achmadi SS, Santoso 5, Tatang H. Sporulasi, Viabilitas Cendawan Me-
tharizium anisopliae pada media jagung dan patogenitasnya terhadap larva
O. rhinoceros. Proc Simposium Pathologi Serangga. PEI Cab. Yogyakarta,
1213 Oktober 1993.
dibandingkan jagung lokal arjuno dan hibrida
(8)
.
The best years of our life are those in which
We believe our best years are still to come
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 21