HASIL PENELITIAN
Efikasi Binet 25EC
pada Kelambu Celup
terhadap Anopheles aconitus
Widiarti, Barodji, Sularto, Sutopo
Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Salatiga
ABSTRAK
Uji coba penggunaan kelambu yang dicelup insektisida Binet 25 EC dosis 0,00625;
0,0125; 0,0250 dan 0,30 g bahan aktif (b.a.)/m
2
di tingkat perumahan telah dilakukan di
desa Ngawen, Kecamatan Sidomukti, Salatiga.
Hasil percobaan yang dinilai dengan uji bioassay menggunakan Anopheles aconitus
hasil koloni laboratorium Stasiun Penelitian Vektor Penyakit Salatiga menunjukkan
bahwa efektivitas kelambu yang mengandung insektisida Binet dosis 0,00625 g b.a./m
2
menyebabkan kematian nyamuk > 70% selama 2 minggu, sedang dosis 0,0 125; 0,0250
dan 0,030 g b.a./m
2
selama 12 minggu.
Selama penggunaan kelambu yang dicelup Binet 25 EC tidak dilaporkan adanya
keluhan dan pemilik rumah.
PENDAHULUAN
Salah satu cara pemberantasan kimiawi yang digunakan
dalam program pemberantasan penyakit malaria di Indonesia
adalah penggunaan kelambu yang dicelup insektisida
(1)
. Cara ini
juga telah digunakan di banyak negara baik di negara-negara
Afrika, Asia Pasifik maupun di Amerika Se1atan
(2)
. Insektisida
yang digunakan umumnya terdiri dari kelompok pirethroid sin-
tetik. Salah satu program pemberantasan malaria menggunakan
kelambu yang dicelup insektisida, dan salah satu insektisida yang
dianjurkan adalah permethrin
(1)
. Binet termasuk dalam kelom-
pok insektisida sintetik pirethroid mengandung bahan aktif
bifelthrin belum pernah digunakan untuk pengendalian nyamuk
vektor. Informasi mengenai efikasi formulasi insektisida ini
ada kelambu celup terhadap nyamuk yang menjadi vektor
malaria (Anopheles sp.) belum ada. Insektisida Binet belum ter-
daftar di Komisi Pestisida, sedang untuk keperluan pendaftaran
atau registrasi insektisida tersebut diperlukan informasi me-
ngenai hasil uji efikasinya terhadap nyamuk vektor. Oleh karena
itu untuk memenuhi persyaratan registrasi insektisida Binet,
Komisi Pestisida dengan surat No. 665/Kompes/94 tanggal 2
Juni 1994 menunjuk Stasiun Penelitian Vektor Penyakit untuk
melaksanakan pengujian efikasi insektisida Binet pada kelambu
celup terhadap nyamuk Anopheles sp.
Makalah ini menguraikan hasil uji efikasi insektisida Binet
25 EC pada kelambu celup terhadap nyamukAnopheles aconitus
yang merupakan vektor utama malaria di Jawa dan Bali
(3)
.
BAHAN DAN METODE
1) Serangga uji
Nyamuk An. aconitus kenyang darah diambil dari koloni
nyamuk di Stasiun Penelitian Vektor Penyakit, Salatiga. Nyamuk
tersebut merupakan vektor utama penyakit malaria di daerah
persawahan Jawa dan Bali juga sudah resisten terhadap DDT
(4)
.
2) Alat
Tabung kerucut plastik (cone), aspirator, tabung penyim-
panan (paper cup), kapas, kotak pengangkut nyamuk, handuk,
kelambu nilon berukuran 220 X 200 X 180 cm, karet gelang,
psychrometer, kain kasa.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 25
3) Perlakuan
Dosis per m
2
No. Perlakuan*
Bahan aktif
Formulasi
1
Binet 25 EC
0,00625 g
0,25 ml
2
Binet 25 EC
0,0125 g
0,50 ml
3
Binet 25 EC
0,0250 g
1,00 ml
4
Binet 25 EC
0,030 g
1,20 ml
5
Kontrol
(dicelup dengan air)
* Tiap perlakuan 5 ulangan. Sampel lnsektisida Binet25 EC yang diuji dengan
nomor Ref P1. 94 - 131.
4) Pengolahan data
Koreksi angka kelumpuhan atau kematian.
Apabila angka kelumpuhan atau kematian pada kelompok kon-
trol antara 5% 20%, maka angka kelumpuhan atau kematian
pada perlakuan dikoreksi dengan rumus Abbot, yaitu:
X = (AC) x 100
(100C)
Keterangan: X = Angka kelumpuhan atau kematian (%) setelah dikoreksi
A
=
Angka kelumpuhan atau kematian (%) pada kelompok
perlakuan
C
=
Angka kelumpuhan atau kematian (%) pae kelompok
kontrol
Pengujian
Data dianalisis dengan uji F dan diteruskan dengan Uji Duncan
(Multiple Range Test).
5) Cara aplikasi
Aplikasi atau pencelupan kelambu dilakukan pada 2 Okto-
ber 1994.
Kelambu dicelupkan ke dalam larutan Binet 25 EC sesuai
dengan dosis perlakuan, kemudian dikeringkan pada tempat
datar dengan alas plastik di tempat teduh. Selanjutnya kelambu
digantung.
Uji bio assay dilakukan pada 1 hari, 2 minggu, 4 minggu, 6
minggu, 8 minggu. 10 minggu, 12 minggu, 14 minggu, dan 16
minggu setelah aplikasi dan menurut standar WHO. Pada
tiap perlakuan maupun kontrol pengujian dilakukan dengan 5
ulangan (5 Cones). Tiap ulangan diisi 15 ekor nyamuk An.
aconitus berumur 45 hari kenyang darah. Nyamuk dibiarkan
kontak dengan residu Binet 25 EC pada kelambu selama 30
menit, setelah itu nyamuk yang lumpuh maupun yang masih
hidup dipindahkan ke dalam tabung penyimpanan (paper cup)
menggunakan aspirator, untuk selanjutnya dipelihara selama
24 jam di dalam kotak nyamuk. Selama pemeliharaan nyamuk
hasil uji bioassay, dijaga kelembabannya dengan cara meletak-
kan kapas basah di atas (pada penutup) tabung penyimpanan dan
di luar kotak penyimpanan nyamuk diberi handuk basah. Suhu
dan kelembaban waktu pengujian dan pengamatan hasil uji
bioassay, diukur dan dicatat.
6) Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada nyamuk yang telah kontak
selama 30 menit dengan kelambu yang sudah mengandung
residu insektisida. Nyamuk yang hidup dan lumpuh disimpan
dan diamati 24 jam kemudian. Jumlah nyamuk yang mati di-
catat
7) Kriteria efikasi
Efikasi insektisida Binet 25 EC ditentukan berdasarkan
persentase kematian nyamuk hasil bio assay setelah dipelihara
selama 24 jam.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji bio assay dan analisis data disajikan pada Tabel 1.
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa kematian nyamuk
An. aconitus pada perlakuan berbeda bermakna jika dibanding-
kan dengan kontrol pada pengamatan 10 minggu. Sedang pada
pengamatan 12 minggu kematian nyamuk pada penlakuan de-
ngan dosis 0,00625 g b.a./m tidak berbeda bermakna dengan
kontrol, perbedaan yang bermakna jika dibandingkan dengan
kontrol. Kematian nyamuk An. aconitus pada perlakuan sampai
dengan pengamatan 12 minggu pada dosis 0,00625 g b.a./m
2
berkisar antara 6,00% 96,00%; dosis 0,0125; 0,025 dan 0,030
g b.a./m
2
kematian nyamuk berturut-turut antara 86% 100%,
90% 100% dan 81% 100%. Sedangkan pad kontrol berkisar
antara 0,00% 10,20%.
Tabel 1. Persentase (%) kematian An. aconitus dalam uji bioassay pada
kelambu yang dicelup insektisida Binet 25 EC*
Dosis Binet (g b.aJmz)
Minggu
setelah
pencelupan
Kontrol
0,00625 0,0125 0,0250 0,030
1 hari
2
4
6
8
10
12
14
16
0,00
a
1,35
a
0,00
a
0,00
a
4,00
a
4,00
a
10,20
a
0,00
a
2,00
a
96
b
78
b
36
b
58
b
48
b
26
b
6
a
2
a
100
b
90
bc
96
c
92
c
49
b
94
c
86
b
8
a
16
a
100
b
100
c
100
c
100
c
98
c
78
c
90
b
15
a
19
a
100
b
100
c
100
c
96
c
92
c
90
c
81
b
58
b
14
a
* Uji bioassay pada tiap dosis perlakuan menggunakan 5 ulangan (pada tiap
ulangan digunakan 15 nyamuk An. aconitus). No. sampel insektisida PL 94-
131.
Persentase kematian An. aconitus pada bans yang sama (pada minggu yang
sama setelah pencelupan dengan tanda huruf yang sama tidak ada perbe-
daan yang bermakna pada taraf 0,05 dan 0,01 menurut uji jarak berganda
Duncan.
Efikasi residu Binet 25 EC pada kelambu nilon dengan
kematian nyamuk lebih besar dan sama dengan 70% pada per-
lakuan dosis 0,00625 g b.a./m
2
selama 2 minggu, sedang pada
dosis 0,0125; .0!250; dan 0,030 g b.a./m
2
selama 12 minggu.
Kematian nyamuk pada pengamatan 12 minggu setelah pen-
celupan kelambu pada perlakuan dosis 0,0 125; 0,0250; dan
0,030 g b.a./m
2
berturut-turut 86%, 90% dan 81% tidak terdapat
perbedaan yang benmakna. Pengamatan 14 dan 16 minggu se-
telah pencelupan dengan dosis 0,0125 g b.a./m
2
kematian An.
aconitus berkisar antara 8% 16%; pada dosis 0,025 g b.a./m
2
antara 15% 19% dan pada dosis 0,030 g b.a./m
2
antara 14%
58%. Hal ini menggambankan bahwa daya bunuh residu Binet
sudah tidak efektif lagi karena kematian nyamuk <70%.
Hasil uji bioassay tensebut menunjukkan bahwa efikasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997
26
residu Binet 25 EC pada kelambu celup dengan kematian nya-
muk lebih besar dari 70% dosis 0,00625 g b.a./m
2
selama 2
minggu, sedang pada dosis 0,0125; 0,025 dan 0,030 g b.a./m
2
selama 12 minggu (3 bulan).
KESIMPULAN
Secara keseluruhan sarnpai dengan pengamatan pada minggu
ke 10, pada ke 4 dosis perlakuan insektisida Binet 25 EC yang
diuji terdapat perbedaan yang bermakna jika dibandingkan
kontrol.
Pengamatan pada minggu ke-12 menunjukkan bahwa dosis
perlakuan 0,0125; 0,025 dan 0,030 g b.a./m
2
rnenyebabkan
mortalitas masing-masing sebesar 86%, 90% dan 81%.
Dengan demikian sesuai dengan standar WHO tentang efi-
kasi residu insektisida pada kelambu celup yaitu minimal 70%
mortalitas, maka Binet 25 EC dengan dosis 0,0125; 0,025 dan
0,030 g b.a./m
2
(0,50; 1,00 dan 0,030 ml produk per-m
2
kelambu
nilon) efektif membunuh nyamuk An. aconitus dengan perlaku-
an pencelupan kelambu dan berlangsung selama 12 minggu.
UCAPAN TERIMA KASIH
Atas selesainya penelitian ini penulis mengucapknn terima kasih kepada
DR. Sustriayu Nalim, Pjh. Kepala Stasiun Penelitian Vektor Penyakit yang telah
memberikan bimbingan, Saran dan dorongan sehingga makalah ini dapat ter-
wujud. Juga terima kasih disampaikan kepada PT. Bina Guna Kimia (An FMC
Joint Venture Company) yang telah mendanai penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
1. Dit. Jen. P2M dan PLP. Pengendalian Nyamuk Anopheles sp., Malaria, 4.
1991.
2. Rozendal JA, Curtis CF. Recent Research on Impregnated Mosquito Nets, J.
Am Mosquito Control Assoc. 1989; 5(4).
3. Sundararman S, Siran RM. Vector of Malaria in Mid Java, Indian J Malariol.
1957; 11:32128.
4. Barodji RF, Shaw GD, Pradhan, Sularto, Bambang Haryanto. Efektivitas
Insektisida Organochiorin OMS-1558 dalam Pengendalian Vektor Malaria
Anopheles aconitus Donitz yang Sudah Kebal terhadap DDT, Bull. Penelit.
Kes. 1984; X 2.
5. WHO. Manual on Practical Entomology in Malaria, Part II, Geneva. 1975.
Cermin Dunia Kedokteran No. 118, 1997 27