background image
HASIL PENELITIAN
Demam Rematik
Bambang Kisworo
Rumah Sakit Dr Oen, Surakarta
PENDAHULUAN
Demam rematik merupakan suatu penyakit sistemik yang,
dapat bersifat akut, subakut, kronik, atau fulminan, dan dapat
terjadi setelah infeksi Streptococcus beta hemolyticus group A
pada saluran pernafasan bagian atas
(1-4)
. Penyakit ini dan gejala
sisanya, yaitu penyakit jantung rematik, merupakan jenis
penyakit jantung didapat yang paling banyak dijumpai pada
populasi anak-anak dan dewasa muda
(2,3,5)
. Puncak insiden
demam rematik terdapat pada kelompok usia 5-15 tahun;
penyakit ini jarang dijumpai pada anak dibawah usia 4 tahun
dan penduduk di atas 50 tahun
(1)
. Demam rematik dan penyakit
jantung rematik hingga saat ini masih menjadi masalah kesehat-
an yang penting di negara-negara yang sedang berkembang
(2,3,5)
.
Prevalensi demam rematik/penyakit jantung rematik yang
diperoleh dan penelitian WHO mulai tahun 1984 di 16 negara
sedang berkembang di Afrika, Amerika Latin, Timur Jauh, Asia
Tenggara dan Pasifik Barat berkisar 0,1 sampai 12,6 per 1.000
anak sekolah, dengan prevalensi rata-rata sebesar 2,2 per 1.000
(5)
.
Prevalensi pada anak-anak sekolah di beberapa negara Asia
pada tahun 1980-an berkisar 1 sampai 10 per 1.000
(3)
. Dari suatu
penelitian yang dilakukan di India Selatan diperoleh prevalensi
sebesar 4,9 per 1.000 anak sekolah
(6)
, sementara angka yang
didapatkan di Thailand sebesar 1,2 sampai 2,1 per 1.000 anak
seko1ah
(7)
.
Prevalensi demam rematik di Indonesia belum diketahui
secara pasti, meskipun beberapa penelitian yang pernah
dilakukan menunjukkan bahwa revalensi penyakit jantung
rematik berkisar 0,3 sampai 0,8 per 1.000 anak sekolah. Dengan
demikian, secara kasar dapat diperkirakan bahwa prevalensi
demam rematik di Indonesia pasti lebih tinggi dan angka tersebut,
mengingat penyakit jantung rematik merupakan akibat dari
demam rematik
(8)
.
Dalam tulisan ini akan dibahas masalah diagnosis dan
penatalaksanaan demam rematik.
DIAGNOSIS
Diagnosis demam rematik lazim didasarkan pada suatu
kriteria yang untuk pertama kali diajukan oleh T. Duchett Jones
dan, oleh karena itu kemudian dikenal sebagai kriteria Jones
(2,9)
.
Kriteria Jones memuat kelompok kriteria mayor dan minor yang
pada dasarnya merupakan manifestasi klinik dan laboratorik
demam rematik. Pada perkembangan selanjutnya, kriteria ini
kemudian diperbaiki oleh American Heart Association dengan
menambahkan bukti adanya infeksi streptokokus sebelumnya
(Tabel 1). Apabila ditemukan 2 kriteria mayor, atau 1 kriterium
mayor dan 2 kriteria minor, ditambah dengan bukti adanya infeksi
streptokokus sebelumnya, kemungkinan besar menandakan
adanya demam rematik
(1-4,9-12)
. Tanpa didukung bukti adanya
infeksi streptokokus, maka diagnosis demam rematik harus selalu
diragukan, kecuali pada kasus demam rematik dengan mani-
festasi mayor tunggal berupa korea Syndenham atau karditis
derajat ringan, yang biasanya terjadi jika demam rernatik baru
muncul setelah masa laten yang lama dan infeksi strepthkokus
(4,9)
.
Perlu diingat bahwa kriteria Jones tidak bersifat mutlak, te-
tapi hanya sebagai suatu pedoman dalam menentukan diagnosis
demam rematik
(1,10)
. Kriteria ini bermanfaat untuk memperkecil
kemungkinan terjadinya kesalahan diagnosis, baik berupa over-
diagnosis maupun underdiagnosis
(10)
.
Kriteria Mayor
1) Karditis merupakan manifestasi klinik demam rematik yang
paling berat karena merupakan satu-satunya manifestasi yang
dapat mengakibatkan kematian penderita pada fase akut dan
dapat menyebabkan kelainan katup sehingga terjadi penyakit
jantung rematik
(2,4,9)
.
Diagnosis karditis rematik dapat ditegakkan secara klinik
berdasarkan adanya salah satu tanda berikut: (a) bising baru atau
perubahan sifat bising organik, (b) kardiomegali, (c) perikarditis,
dan gagal jantung kongestif
(1,2,4,10,11)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 25
background image
Tabel 1. Kriteria Jones (yang diperbaiki) untuk diagnosis demam rematik
Kriteria Mayor
Karditis
Poliartritis
Korea
Eritema
marginatum
Nodulus
subkutan
Kriteria Minor
Klinik
Riwayat demam rematik atau penyakit jantung rematik sebelumnya
Artralgia
Demam
Laboratorium
Peningkatan kadar reaktan fase akut (protein C reaktif, laju endap
darah,
leukositosis)
Interval
P-R
yang
memanjang
Ditambah
Tanda-tanda yang mendukung adanya infeksi streptokokus sebelumnya:
kenaikan titer antistreptolisin 0 (ASTO) atau antibodi antistreptokokus
ainnya, biakan usapan tenggorokan yang positif untuk streptokokus grup
A atau baru menderita demam skarlatina.
Bising jantung merupakan manifestasi karditis rematik yang
seringkali muncul pertama kali, sementara tanda dan gejala
perikarditis serta gagal jantung kongestif biasanya baru timbul
pada keadaan yang lebih berat
(4)
. Bising pada karditis rematik
dapat berupa bising pansistol di daerah apeks (regurgitasi
mitral), bising awal diastol di daerah basal (regurgitasi aorta),
dan bising mid-diastol pada apeks (bising Carey-Coombs) yang
timbul akibat adanya dilatasi ventrikel kiri
(2,9,10,11)
.
2) Poliartritis ditandai oleh adanya nyeri, pembengkakan, ke-
merahan, teraba panas, dan keterbatasan gerak aktif pada dua
sendi atau lebih. Artritis pada demam rematik paling sering
mengenai sendi-sendi besar anggota gerak bawah. Kelainan ini
hanya berlangsung beberapa hari sampai seminggu pada satu
sendi dan kemudian berpindah, sehingga dapat ditemukan artritis
yang saling tumpang tindih pada beberapa sendi pada waktu
yang sama; sementara tanda-tanda radang mereda pada satu
sendi, sendi yang lain mulai terlibat
(1,2,4,9,10,11)
.
Perlu diingat bahwa artritis yang hanya mengenai satu sendi
(monoartritis) tidak dapat dijadikan sebagai suatu kriterium
mayor
(4,9,10,11)
. Selain itu, agar dapat digunakan sebagai suatu
kriterium mayor, poliartritis harus disertai sekurang-kurang-
nya dua kriteria minor, seperti demam dan kenaikan laju endap
darah, serta harus didukung oleh adanya titer ASTO atau antibodi
antistreptokokus lainnya yang tinggi
(4)
.
3) Korea secara khas ditandai oleh adanya gerakan tidak di-
sadari dan tidak bertujuan yang berlangsung cepat dan umum-
nya bersifat bilateral, meskipun dapat juga hanya mengenai satu
sisi tubuh. Manifestasi demam rematik ini lazim disertai ke-
lemahan otot dan ketidak-stabilan emosi. Korea jarang dijumpai
pada penderita di bawah usia 3 tahun atau setelah masa pubertas
dan lazim terjadi pada perempuan
(1,2,4,9,10,11)
. Korea Syndenham
merupakan satu-satunya tanda mayor yang sedemikian penting
sehingga dapat dianggap sebagai pertanda adanya demam
rematik meskipun tidak ditemukan kriteria yang lain
(3,9)
. Korea
merupakan manifestasi demam rematik yang muncul secara
lambat, sehingga tanda dan gej ala lain kemungkinan sudah tidak
ditemukan lagi pada saat korea mulai timbul
(1,4)
.
4) Eritema marginatum merupakan wujud kelainan kulit yang
khas pada demam rematik dan tampak sebagai makula yang
berwarna merah, pucat di bagian tengah, tidak terasa gatal,
berbentuk bulat atau dengan tepi yang bergelombang dan meluas
secara sentrifugal
(2,4,9,10)
. Eritema marginatum juga dikenal
sebagai eritema anulare rematikum dan terutama timbul di
daerah badan, pantat, anggota gerak bagian proksimal, tetapi
tidak pernah ditemukan di daerah wajah. Kelainan ini dapat
bersifat sementara atau menetap, berpindah-pindah dari satu
bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain, dapat dicetuskan oleh
pemberian panas, dan memucat jika ditekan
(4,9,10)
. Tanda mayor
demam rematik ini hanya ditemukan pada kasus yang berat
(2,4)
.
5) Nodulus subkutan pada umumnya hanya dijumpai pada
kasus yang berat dan terdapat di daerah ekstensor persendian,
pada kulit kepala serta kolumna vertebralis. Nodul ini berupa
massa yang padat, tidak terasa nyeri, mudah digerakkan dari
kulit di atasnya, dengan diameter dan beberapa milimeter sampai
sekitar 2 cm
(1,4,9,11)
. Tanda ini pada umumnya tidak akan ditemu-
kan jika tidak terdapat karditis
(2,9)
.
Kriteria Minor
1) Riwayar demam rematik sebelumnya dapat digunakan se-
bagai salah satu kriteria minor apabila tercatat dengan baik
sebagai suatu diagnosis yang didasarkan pada kriteria obyektif
yang sama. Akan tetapi, riwayat demam rematik atau penyakit
jantung rematik inaktif yang pernah diidap seorang penderita
seringkali tidak tercatat secara baik sehingga sulit dipastikan
kebenarannya, atau bahkan tidak terdiagnosis
(9,10)
.
2) Artralgia adalah rasa nyeri pada satu sendi atau lebih tanpa
disertai peradangan atau keterbatasan gerak sendi. Gejala minor
ini harus dibedakan dengan nyeri pada otot atau jaringan
periartikular lainnya, atau dengan nyeri sendi malam hari yang
lazim terjadi pada anak-anak normal
(9,10)
. Artralgia tidak dapat
digunakan sebagai kriteria minor apabila poliartritis sudah
dipakai sebagai kriteria mayor
(10)
.
3) Demam pada demam rematik biasanya ringan,meskipun
adakalanya mencapai 39°C, terutama jika terdapat karditis.
Manifestasi ini lazim berlangsung sebagai suatu demam derajat
ringan selama beberapa minggu
(1,9,11)
. Demam merupakan
pertanda infeksi yang tidak spesifik, dan karena dapat dijumpai
pada begitu banyak penyakit lain, kriteria minor ini tidak me-
miliki arti diagnosis banding yang bermakna
(9,10)
.
4) Peningkatan kadar reaktan fase akut berupa kenaikan laju
endap darah, kadar protein C reaktif, serta leukositosis me-
rupakan indikator nonspesifik dan peradangan atau infeksi.
Ketiga tanda reaksi fase akut ini hampir selalu ditemukan pada
demam rematik, kecuali jika korea merupakan satu-satunya
manifestasi mayor yang ditemukan
(1,11)
.
Perlu diingat bahwa laju endap darah juga meningkat pada
kasus anemia dan gagal jantung kongestif. Adapun protein C
reaktif tidak meningkat pada anemia, akan tetapi mengalami
kenaikan pada gagal jantung kongestif. Laju endap darah dan
kadar protein C reaktif dapat meningkat pada semua kasus
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
26
background image
infeksi, namun apabila protein C reaktif tidak bertambah, maka
kemungkinan adanya infeksi streptokokus akut dapat diper-
tanyakan
(9)
.
5) Interval P-R yang memanjang biasanya menunjukkan
adanya keterlambatan abnormal sistem konduksi pada nodus
atrioventrikel dan meskipun sering dijumpai pada demam re-
matik, perubahan gambaran EKG ini tidak spesifik untuk demam
rematik. Selain itu, interval P-R yang memanjang juga bukan
merupakan pertanda yang memadai akan adanya karditis
rematik
(4,9,11)
.
Bukti yang Mendukung
Titer antistreptolisin O (ASTO) merupakan pemeriksaan
diagnostik standar untuk demam rematik, sebagai salah satu bukti
yang mendukung adanya infeksi streptokokus
(1,10)
. Titer ASTO
dianggap meningkat apabila mencapai 250 unit Todd pada
orang dewasa atau 333 unit Todd pada anak-anak di atas usia 5
tahun, dan dapat dijumpai pada sekitar 70% sampai 80% kasus
demam rematik akut
(4,9)
.
Infeksi streptokokus juga dapat dibuktikan dengan mela-
kukan biakan usapan tenggorokan. Biakan positif pada sekitar
50% kasus demam rematik akut
(1,10)
. Bagaimanapun, biakan
yang negatif tidak dapat mengesampingkan kemungkinan
adasnya infeksi streptokokus akut
(9)
.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan demam rematik meliputi: (1) tirah baring
di rumah sakit, (2) eradikasi kuman streptokokus, (3) pemberian
obat-obat antiradang. (4) pengobatan korea, (5) penanganan
komplikasi seperti gagal jantung, endokarditis bakteri. atau
trombo-emboli, serta (6) pemberian diet bergizi tinggi me-
ngandung cukup vitamin
(3,12)
.
Tirah Baring
Semua penderita demam rematik harus tinggal di rumah
sakit. Penderita dengan artritis atau karditis ringan tanpa
mengalami gagal jantung tidak perlu menjalani tirah baring se-
cara ketat
(3,11)
. Akan tetapi, apabila terdapat karditis yang berat
(dengan gagal jantung kongestif), penderita harus tirah baring
total paling tidak selama pengobatan kortikosteroid. Lama tirah
baring yang diperlukan sekitar 6-8 minggu
(10,11)
, yang paling
menentukan lamanya tirah baring dan jenis aktivitas yang boleh
dilakukan adalah penilaian klinik dokter yang merawat
(3)
.
Sebagai pedoman, tirah baring sebaiknya tetap diberlakukan
sampai semua tanda demam rematik akut telah mereda, suhu
kembali normal saat tirah baring tanpa pemberian obat
antipiretik, denyut nadi kembali normal dalam keadaan istira-
hat, dan pulihnya fungsi jantung secara optimal
(1)
.
Eradikasi Kuman Streptokokus
Eradikasi harus secepatnya dilakukan segera setelah
diagnosis demam rematik dapat ditegakkan. Obat pilihan per-
tama adalah penisilin G benzatin karena dapat diberikan dalam
dosis tunggal, sebesar 600.000 unit untuk anak di bawah 30 kg
dan 1 ,2 juta unit untuk penderita di atas 30 kg. Pilihan berikutnya
adalah penisilin oral 250 mg 4 kali sehari diberikan selama 10
hari. Bagi yang alergi terhadap penisilin, eritromisin 50 mg/kg/
hari dalam 4 dosis terbagi selama 10 hari dapat digunakan se-
bagai obat eradikasi pengganti
(3,9-12)
.
Obat Antiradang
Salisilat memiliki efek dramatis dalam meredakan artritis
dan demam. Obat ini dapat digunakan untuk memperkuat
diagnosis karena artritis demam rematik memberikan respon
yang cepat terhadap pemberian salisi1at
(1,3,10)
. Natrium salisilat
diberikan dengan dosis 100-120 mg/kg/hari dalam 4-6 dosis
terbagi selama 2-4 minggu, kemudian diturunkan menjadi 75
mg/kg/hari selama 4-6 minggu
(1,3,10,12)
. Aspirin dapat dipakai
untuk mengganti salisilat dengan dosis untuk anak-anak sebesar
15-25 mg/kg/hari dalam 4-6 dosis terbagi selama seminggu,
untuk kemudian diturunkan menjadi separuhnya; dosis untuk
orang dewasa dapat mencapai 0,6-0,9 g setiap 4 jam
(1)
.
Kortikosteroid dianjurkan pada demam rematik dengan
gagal jantung. Obat ini bermanfaat meredakan proses peradang-
an akut, meskipun tidak mempengaruhi insiden dan berat
ringannya kerusakan pada jantung akibat demam rematik
(1,10)
.
Prednison diberikan dengan dosis 2 mg/kg/hari dalam 3-4 dosis
terbagi selama 2 minggu, kemudian diturunkan menjadi 1 mg/
kg/hari selama minggu ke 3 dan selanjutnya dikurangi lagi
sampai habis selama 1-2 minggu berikutnya. Untuk menurun-
kan resiko terjadinya rebound phenomenon, pada awal minggu
ke 3 ditambahkan aspirin 50-75 mg/kg/hari selama 6 minggu
berikutnya
(3,10,11,12)
.
Secara ringkas, indikasi dan dosis pemberian obat antiradang
pada demam rematik dapat dilihat pada Tabel 2
(3,12)
.
Tabel 2. Indikasi dan dosis obat antiradang pada demam rematik
Manifestasi Pengobatan
Artritis, dan/atau karditis tanpa
kardiomegali
Karditis dengan kardiomegali atau
gagal jantung
Salisilat 100 mg/kg/hari selama 2
minggu, kemudian diturunkan
menjadi 75 mg/kg/hari selama
4-6 minggu.
Prednison 2 mg/kg/hari selama 2
minggu, kemudian diturunkan 1
mg/kg/hari sampai habis selama
2 minggu, dit 4mbah dengan
salisilat 75 mg/kg/hari mulai
minggu ke 3 selama 6 minggu.
Pengobatan Korea
Korea pada umumnya akan sembuh sendiri, meskipun dapat
berlangsung selama beberapa minggu sampai 3 bulan
(1,3,10,11)
.
Obat-obat sedatif, seperti klorpromazin, diazepam, fenobarbital
atau haloperidol dilaporkan memberikan hasil yang memuas-
kan
(10,11)
. Perlu diingat, halopenidol sebaiknya tidak diberikan
pada anak di bawah umur 12 tahun
(10)
.
Penanganan Gagal Jantung
Gagal jantung pada demam rematik dapat ditangani seperti
kasus gagal jantung pada umumnya. Komplikasi ini biasanya
dapat diatasi dengan tirah baring dan pemberian kortikosteroid,
meskipun seringkali perlu diberikan digitalis, diuretik, atau
vasodilator
(3,12)
. Digitalis biasanya tidak seefektif pada gagal
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 27
background image
jantung kongestif akibat kelainan lainnya
(1)
. Pemberian obat ini
harus dilakukan secara hati-hati karena dapat menambah
iritabilitas jantung sehingga dapat menyebabkan aritmia
(1)
, di
samping batas keamanannya yang sempit
(12)
.
PENUTUP
Demam rematik merupakan penyakit yang masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diagnosis dini,
pengobatan secara tepat dan pencegahan sekunder merupakan
aspek yang sangat penting dalam penanganan demam rematik.
Pencegahan Sekunder
Penderita demam rematik mempunyai risiko besar untuk
mengidap serangan ulangan demam rematik setelah terserang
infeksi bakteri streptokokus grup A berikutnya. Oleh karena
itu, pencegahan merupakan aspek penanganan demam rematik
yang sangat penting
(11)
. Pencegahan sekunder pada dasarnya
merupakan pemberian antibiotik secara teratur pada penderita
yang pernah mengidap demain rematik agar tidak terjadi infeksi
streptokokus pada saluran pernafasan bagian atas, sehingga tidak
terjadi serangan ulang demam rematik
(3,10)
.
KEPUSTAKAAN
1. Sokolow M, Mcllroy MB, Cheitlin MD. Clinical Cardiology. 5th ed.
Connecticut: Appleton & Lange, 1990: 542-47.
2. Affandi MB. Demam Rematik dan Penyakit Jantung Rematik: Diagno sis,
penatalaksanaan dan gambaran klinik pada pemeriksaan pertama di RSCM
Bagian 1K Anak, Jakarta 1978-1981. Maj Kes Mas 1986; XVI (4): 240-48.
3. Wahab AS. Penanganan Demam Rematik pada Anak. Berita Kedokteran
Masyarakat 1989; V (5): 196-203.
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan pemberian
antibiotik sebagai berikut: (1) penisilin G benzatin 1,2 juta unit
setiap 4 minggu; (2) sulfadiazin 500 mg/hari sebagai dosis tung-
gal per oral untuk penderita dengan berat badan di atas 27 kg;
(3) penisilin V 250mg 2 kali/hari per oral; atau (4) bagi penderita
yang alergi terhadap penisilin dapat diberi eritromisin 250 mg 2
kali sehari
(2,3,10,11,12)
.
4. Stollerman GH. Rheumatic Fever. In: Braunwald, E. etal (eds). Harrison's
Principles of Internal Medicine. 11th. ed. McGraw-Hill Book Co. GmbH,
Hamburg, 1987 : 951-56.
5. World Health Organization. WHO program for the prevention of
rheumatic fever/rheumatic heart disease in 16 developing countries:
report from Phase 1(1986-90). Bull WHO 1992; 70(2): 213-18.
6. Koshi G, Benjamin V, Chenan G. Rheumatic fever and rheumatic heart
disease in rural South Indian children. Bull WHO 1981; 59 (4): 599-603.
Pencegahan sekunder dianjurkan untuk tetap diberikan pa-
ling tidak sampai usia 18 tahun
(2,3,11)
. Pada penderita demam re-
matik yang mengalami kelainan katup jantung, pencegahan ini
dianjurkan diberikan seumur hidup
(2,11)
.
7. Sanguanchua P. Rheumatic Fever and Rheumatic Heart Disease in
Southern Thailand. Kardiologi Indonesia 1987; IX (3): 99-101.
8. Soeroso S dkk. Ttnjauan Prevalensi Demam Rematik dan Penyakit Jantung
Rematik pada Anak di Indonesia. Dalam: Sastrosubroto H. dkk (ed).
Naskah Lengkap Simposium dan Seminar Kardiologi Anak. Semarang. 27
September 1986: 1-11.
PROGNOSIS
9. Tadzynski LA, Ryan ME. Diagnosis of Rheumatic Fever. Medical Current
1989; 3 (1): 68-70.
Prognosis demam rematik tergantung pada stadium saat
diagnosis ditegakkan, umur, ada tidaknya dan luasnya kelainan
jantung, pengobatan yang diberikan, serta jumlah serangan
sebelumnya. Prognosis pada umumnya buruk pada penderita
dengan karditis pada masa kanak-kanak
(10)
. Serangan ulang da-
lam waktu 5 tahun pertama dapat dialami oleh sekitar 20%
penderita dan kekambuhan semakin jarang terjadi setelah usia
21 tahun
(1)
.
10. Gupte S. The Short Textbook of Pediatrics. Bombay: M/s Jaypee Brothers,
1989: 165-69.
11. Wolfe RR, Wiggins JW. Rheumatic Fever. In: Hathaway WE et al (eds).
Current Pediatric Diagnosis & Treatment. 10th ed. Connecticut: Appleton
& Lange 1991 : 455-58.
12. Madiyono B. Penatalaksanaan Medis Demam Rematik (DR) dan Penya kit
Jantung Rematik (PJR) di Bagian IKA FKUI/RSCM. Kardiologi Indonesia
1989; Xl (1): 9-18.
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
28