background image
Antikoagulan Oral
Mariana Raini, Max Joseph Herman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi-Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Antikoagulan oral mulai dikenal orang sejak diketahui ada-
nya gangguan perdarahan pada ternak pemakan sweet clover
pada tahun 1924 di Dakota dan Canada yang penyebabnya ke-
mudian baru dapat diidentifikasi pada tahun 1929 yaitu dikuma-
rol (bishidroksikumarin). Selanjutnya pada tahun 1948 kongener
sintetik yang lebih paten digunakan orang sebagai rodentisida,
yaitu warfarin (akronim dari pemegang hak paten yakni
Wisconsin Alumni Research Foundation dan akhiran -arin dari
kumarin) yang merupakan prototip antikoagulan oral dan
paling sering digunakan meskipun kerja semua antikoagulan
dalam kelompok ini sama dan hanya berbeda dalam hal potensi
serta lama kerjanya. Berbagai antikoagulan disintesis sebagai
derivat 4-hidroksikumarin dan indan 1,3-dion (Gambar 1),
tetapi hanya derivat kumarin yang banyak digunakan karena
saat mula kerja dan lamanya dapat diperkirakan serta karena
ketersediaan hayati yang tinggi.
Residu 4-hidroksi-kumarin dengan 1 atom karbon nonpolar
pada posisi-3 merupakan struktur minimal yang dibutuhkan
untuk aktivitas antikoagulan. Atom karbon ini asimetris pada
warfarin dan enantiomernya berbeda dalam hal potensi, meta-
bolisme, eliminasi serta interaksi dengan obat lainnya. Sediaan
komersial yang ada biasanya merupakan campuran rasematnya.
HIEMOSTASIS
Hemostasis menyangkut penghentian kehilangan darah dari
pembuluh yang rusak di mana mula-mula platelet yang terikat
pada molekul di daerah subendotel pembuluh yang rusak ber-
agregasi membentuk sumbat hemostatik primer. Platelet ini
merangsang aktivasi faktor-faktor koagulasi dalam plasma
yang menyebabkan timbulnya bekuan fibrin yang memperkuat
agregasi tersebut. Selanjutnya selama penyembuhan luka ber-
langsung, agregat platelet dan bekuan fibrin terurai.
Darah sendiri apabila dibiarkan akan membeku dalagi
waktu 4­8 menit dan pembekuan bisa dicegah dengan khelasi
Gambar 1. Struktur berbagai antikoagulan oral
(EDTA atau sitrat yang dapat mengikat ion kalsium).
Rekalsifikasi plasma akan menimbulkan pembekuan dalam
waktu 2­4 menit dan bahkan lebih cepat lagi menjadi 26­33
detik dengan penambahan fosfolipida bermuatan negatif serta
bahan partikel seperti kaolin (waktu tromboplastin parsial
teraktivasi, aPTT) atau dengan penambahan tromboplastin
menjadi 12­14 detik (waktu protrombin, PT).
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 19
background image
Seorang individu dengan aPTT panjang dan PT normal
memiliki kelainan dalam jalur koagulasi intrinsik karena semua
komponen uji aPTT kecuali koalin bersifat intrinsik terhadap
plasma, sedangkan pada PT panjang dan aPTT normal terjadi
kelainan dalam jalur koagulasi ekstrinsik terhadap plasma.
MEKANISME KERJA ANTIKOAGULAN ORAL
Antikoagulan oral memberikan efeknya melalui interferensi
dengan perubahan internal siklus vitamin K dan epoksidanya
(Gambar 2).
Gambar 2. Siklus vitamin K
Warfarin menghambat reduktase vitamin K maupun
epoksidanya, sedangkan vitamin KH
2
adalah kofaktor untuk
karboksilasi proenzim inaktif (faktor II, VII, IX dan X).
Vitamin K sendiri merupakan kofaktor untuk karboksilasi
residu glutamat menjadi gatYtmakarboksiglutamat (Gla) pada
atom N terminal dari protein yang bergantung pada vitamin K;
reaksi ini dikatalisa oleh suatu enzim karboksilase yang
bergantung pada vitamin K dan membutuhkan bentuk tereduksi
dari vitamin K (KH
2
), molekul 0
2
serta CO
2
. Selama reaksi ini
residu Gla terbentuk dan KH
2
dioksidasi menjadi epoksidanya
yang kemudian diubah lagi menjadi vitamin K oleh reduktase
vitamin K epoksida; vitamin K yang terbentuk direduksi lebih
jauh menjadi KH
2
oleh reduktase vitamin K.
Penghambatan enzim reduktase vitamin K epoksida dan
mungkin reduktase vitamin K oleh warfarin menyebabkan
akumulasi vitamin K epoksida dalam hati dan plasma serta ku-
rangnya/deplesi vitamin KH
2
; hal ini akan membatasi gamma
karboksilasi terhadap protein pembekuan darah yang bergan-
tung pada vitamin K (faktor II, VII, IX dan X) dan terhadap
protein antikoagulan (protein C dan S), sehingga mengakibat-
kan terganggunya fungsi biologis pembekuan darah. Melalui
proses gamma karboksilasi, protein yang bergantung pada vita-
min K ini memperoleh sifat mengikat logam sehingga adanya ion
kalsium kmenyebabkan perubahan konformasi yang dibutuhkan
guna berikatan dengan kofaktornyapadapermukaan fosfolipida.
SWAT FARMAKOLOGIS ANTIKOAGULAN ORAL
Warfarin yang merupakan campuran rasemat dua isomer
optik aktif (bentuk R dan S) diserap cepat dan hampir
sempurna dari saluran pencernaan dan mencapai kadar plasma
maksimal pada orang normal dalam waktu 90 menit. Begitu
pula absorpsi melalui pemakaian iv, im atau rektal sangat baik;
bahkan perdarahan dapat terjadi akibat kontak kulit berulang
dengan larutan warfarin yang digunakan sebagai rodentisida.
Meskipun demikian sediaan komersial tablet warfarin berbeda-
beda kecepatan melarutnya dan menimbulkan sedikit variasi
kecepatan absorpsi.
Warfarin mempunyai waktu paruh 36-48 jam, terikat pada
protein plasma dan terakumulasi cepat dalam hati terutama da-
lam mikrosom. Ikatan protein sangat berperan dalam eliminasi
antikoagulan oral, karena pada obat-obat bersifat asam yang
terikat kuat pada protein plasma dan mempunyai kapasitas
metabolisme terbatas ada hubungan antara fraksi obat bebas
dalam plasma dan clearance hati. Jadi kenaikan fraksi yang
bebas akan meningkatkan kecepatan clearance karena lebih
banyak obat yang tersedia untuk dimetabolisme. Kedua isomer
warfarin dimetabolisme dengan jalur yang berlainan. R-
warfarin dimetabolisme terutama melalui reduksi rantai
samping asetonil menjadi alkohol yang diekskresikan melalui
urine, sedangkan S-warfarin dioksidasi menjadi 7-hidroksi S-
warfarin yang dikeluarkan melalui empedu.
Perbedaan besarnya ikatan protein antar individu memberi-
kan kontribusi penting variasi kecepatan eliminasi; penurunan
ikatan protein akibat pengusiran oleh obat lain atau uremi tidak
meningkatkan efek karena kenaikan clearance kadar plasma
obat bebas tetap sama (sebelum keadaan setimbang terjadi ke-
naikan sementara kadar plasma obat bebas ktif).
Ada hubungan langsung antara dosis warfarin dengan
respons antikoagulan pada orang normal, tetapi respons dosis
antar individu bisa sangat bervariasi. Variasi respons dosis juga
terjadi pada terapi yang diperpanjang dan mekanisme yang
mungkin mencakup antara lain perbedaan dalam afinitas resep-
tor, ketersediaan vitamin K, ambang faktor koagulasi yang ber-
gantung pada vitamin K, farmakokinetika warfarin dan faktor-
faktor gangguan farmakodinamika obat. Sumber variasi lain
yang penting adalah ketidak-akuratan·uji dan laporan laborato-
rium, ketaatan penderita serta komunikasi antara dokter dan
penderita.
Dosis terapetik warfarin menurunkan jumlah total tiap
faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K yang dipro-
duksi oleh hati sampai 30-50%, lagi pula molekul yang disekresi
kurang terkarboksilasi sehingga aktivitas biologis juga berku-
rang (10-40% dari normal). Defisiensi bawaan protein koagulasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
20
background image
sampai ambang ini menyebabkan perdarahan ringan. Anti-
koagulan oral tidak berefek pada aktivitas molekul terkarboksi-
lasi sempurna dalam sirkulasi, jadi waktu yang dibutuhkan
untuk aktivitas tiap faktor dalam plasma guna mencapai
keadaan setimbang yang baru bergantung pada kecepatan
clearance individu masing-masing. Waktu paruh dalam jam
untuk faktor II, VII, IX dan X serta protein C dan S berturut-
turut adalah 50, 6, 24 dan 36 serta 8 dan 30 jam.
Pada resistensi keturunan dibutuhkan dosis warfarin 5-10
kali dosis rata-rata akibat penurunan afinitas reseptor warfarin.
Penderita dengan terapi warfarin jangka panjang peka terhadap
ambang berfluktuasi vitamin K dalam makanan. Diit penurunan
bobot badan (kaya akan sayuran hijau) dan nutrisi kaya vitamin
K serta gangguan absorpsi vitamin K pada status malabsorpsi
lemak dapat menurunkan respons. Sebaliknya disfungsi hati dan
status hipermetabolik yang ditimbulkan oleh demam atau hipe-
rtiroidisme dapat meningkatkan respons dengan meningkatkan
katabolisme faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K.
Kenaikan sintesis faktor ini mungkin menimbulkan resistensi
ringan yang diamati pada kasus kehamilan.
PENGGUNAAN DAN DOSIS ANTIKOAGULAN ORAL
Antikoagulan oral efektif pada pencegahan tromboembo-
lisme vena primer dan sekunder, pencegahan embolisme sis-
temik pada katup jantung prostetik atau fibrilasi atrium dan
pada pencegahan stroke, infark kambuhan, kematian pada
infark miokardium akut.
Pemilihan antikoagulan oral biasanya didasarkan pada efek
samping dan pengalaman pribadi serta pertimbangan farmako-
kinetik. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi respons anti-
koagulan oral sehingga dibutuhkan modifikasi atau individuali-
sasi dosis.
Tabel 1. Sifat Farmakokinetik Beberapa Antikoagulan
Obat Absorpsi
Ikatan
protein
(%)
Waktu
paruh
(jam)
Eliminasi
Dalam
ASI
Dalam
plasenta
Kumarin
- dikumarol
tak tentu
99
60-100
hati
-
+
- etilbisku-
baik
90
2- 5
hati
?
+
masetat
- fenprokumon
baik
99
65-170
hati
-
+
- Na warfarin
baik
99
35- 45
hati
-
+
Indandion
- fenindion
baik
?
5- 10
hati
?
+
Dosis suatu antikoagulan yang dibutuhkan untuk menekan
sintesis kompleks protrombin dan memperpanjang waktu pro-
trombin pada suatu ambang sangat bervariasi antar individu.
Dari sejumlah uji laboratorium untuk memantau terapi anti-
koagulan, yang paling sering digunakan adalah uji waktu pro-
trombin satu tahap yang dikembangkan oleh Quick pada tahun
1935 dan peka terhadap penurunan faktor II, VII dan X serta
dilakukan dengan cara menambahkan campuran kalsium dan
tromboplastin pada plasma. Tromboplastin sendiri dapat dibuat
dengan berbagai metoda sehingga menimbulkan variasi kepeka-
an terhadap penurunan faktor pembekuan yang bergantung pada
vitamin K dan menyebabkan pengukuran waktu protrombin
yang sama sering mencerminkan ambang efek antikoagulan
yang berbeda. Usaha untuk mengatasi variasi kepekaan ini dimulai
di Eropa pada tahun 1960 an dan diakhiri dengan penggunaan
sistim INR (International Normalized Ratio) yang didasarkan
pada sediaan baku primer internasional tromboplastin dari
WHO pada tahun 1983. Tromboplastin yang digunakan
dikalibrasi terhadap sediaan baku atas dasar hubungan linier
antara log rasio waktu protrombin dari sediaan baku dengan
dari tromboplastin lokal. Model kalibrasi digunakan untuk
pembakuan waktu protrombin dengan mengubah rasio waktu
protrombin yang diukur dengan menggunakan tromboplastin
lokal menjadi INR menurut rumus :
INR = (rasio waktu prothrombin diamati)
ISI
di mana ISI adalah International Sensitivity Index. Jadi INR
adalah rasio waktu protrombin yang mencerminkan hasil yang
akan diperoleh bila tromboplastin baku WHO yang digunakan,
sedangkan ISI merupakan ukuran kepekaan sediaan
tromboplastin terhadap penurunan faktor koagulasi yang
bergantung pada vitamin K. Per definisi sediaan baku yang
pertama mempunyai ISI =1,0 (tromboplastin yang kurang peka
mempunyai ISI > 1,0). Dengan demikian cara paling efektif
untuk standardisasi pelaporaq waktu protrombin adalah
kombinasi sistim INR dengan pemakaian konsisten
tromboplastin yang peka yang mempunyai nilai ISI sama.
Efek antikoagulan barn akan muncul dalam 24 jam karena
inhibisi produksi faktor VII yang mempunyai waktu paruh 6-7
jam; puncak aktivitas antikoagulan mungkin trtunda sampai
72-96 jam karena waktu paruh plasma yang lebih panjang dari
faktor-faktor II, IX dan X.
Dua pendekatan dalam penentuan dosis antikoagulan dapat
dilakukan. Bila tidak mendesak, terapi dapat dimulai dengan
dosis pemeliharaan warfarin rata-rata 4-5 mg sehari untuk mem-
peroleh efek antikoagulan yang tetap dalam 5-6 hari. Tetapi
bila efek yang lebih cepat dibutuhkan, dapat diberikan heparin
dan dosis harian warfarin dinaikkan sampai 10 mg selama 2
hari permulaan. Heparin dapat dihentikan setelah 4-5 hari saat
waktu protrombin dalam batas terapetik dan pemantauan waktu
prothrombin biasanya dilakukan tiap hari selama 5 hari, kemu-
dian 2 kali seminggu selama 1-2 minggu dan selanjutnya 1 kali
seminggu selama 1-2 bulan bergantung pada kestabilan respons
waktu protrombin. Bila waktu protrombin tetap stabil maka
frekuensi pengukuran dikurangi menjadi 1-2 kali sebulan dan
apabilapenyesuaian dosis lebih jauh dibutuhkan, maka
frekuensi pemantauan harus ditambah sampai respons yang
tetap diperoleh. Cara yang sederhana adalah memberikan 10
mg warfarin pada hari I penatalaksanaan dan membuat
penyesuaian harian berdasarkan rasio waktu protrombin yang
diukur lebih kurang 16 jam setelah itu.
Warfarin natrium tersedia dalam bentuk tablet 2, 2.5, 5, 7.5
dan 10 mg dengan dosis lazim dewasa 10-15 mg per hari selama
2-4 hari, kemudian diikuti 2-15 mg per hari sesuai dengan
pengukuran waktu protrombin. Pemakaian harus pada waktu
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 21
background image
yang sama setiap harinya, lebih menyenangkan waktu tidur dan
memungkinkan pemantauan efek puncak pada sample darah
pagi hari. Dosis loading besar warfarin tidak dianjurkan karena
hanya sedikit memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk
efek antitrombosis tetapi meningkatkan toksisitasnya.
Faktor-faktor umum yang menurunkan efek antikoagulan
oral mencakup penurunan absorpsi obat karena pengikatan oleh
kholestiramin dalam saluran pencernaan, kenaikan volume dis-
tribusi dan waktu paruh pendek Atha hipoproteinemi seperti
pada sindrom nefrotik, kenaikan clearance obat akibat induksi
enzim hati oleh barbiturat, rifampin, fenitoin atau alkohol
kronis, makanan atau suplemen makanan yang kaya akan
vitamin K dan peningkatan ambang faktor-faktor koagulasi
selama kehamilan.
REAKSI YANG TIDAK DIHARAPKAN DAN
INTERAKSI OBAT
Perdarahan merupakan komplikasi utama pemakaian anti-
kOagulan oral dan akan serius bila melibatkan tempat-tempat
yang mungkin menjadi rusak permanen karena kompresi struktur-
struktur vital (misalnya intrakranial, perikardial dan spinal
cord) atau kehilangan darah masif yang tidak dapat didiagnosis
dengan cepat (gastrointestinal, intraperitoneal, retroperitoneal).
Lida diketahui tanda perdarahan dosis antikoagulan berikutnya
dihentikan dulu, PT diukur dan biasanya terapi dilanjutkan
sdIelah menyesuaikan dosis dan/atau memperbaiki penyebab
respdns yang tidak diharapkan.
Untuk perdarahan berlanjut vitamin K
i
merupakan antidot
yang efektif; karena pembalikan antiCoagulasi oleh vitamin K
l
membutuhkan sintesa protein-protein koagulasi terkarboksilasi
penuh, maka perbaikan hemostasis terjadi setelah beberapa jam
tidak bergantung pada rute pemakaian dan 24 jam/lebih mungkin
dibutuhkan untuk efek maksimum. Bila efek segera diinginkan,
kadar faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K dipu-
lihkan melalui transfusi plasma beku segar (10­20 ml/kg).
Tabel 2. Penggunaan Antikoagulan Oral
Obat D.I.
D.P.
t
d
E.S.
Senyawakumarin
- Dikumarol
200-300
25-150
36-72
Lama
Ruam kulit,
- Etilbiskumasetat 1800-2400 150-900 18-36 Cepat
alopecia
- Etiliden
500-1000 100-200
72
Sedang
dikumarin
- Nikumalon
36-52
2-12
24-42
Cepat
- Fenprokumon
18-30
0,75-6
30-48 Lama
- Na-warfarin
30-50
2,5-25 36-48 Sedang
Senyawa indandion
- Anisindion
800-900
25-300
36-60
Sedang
Hipersensitif
- Klorfenil
12-18
2-8
30-60 Sedang
inandion
- Difer .Jion
30-45
3-5
48-60
Lama
- Fenindion
200-300
25-200
36-48 Sedang
Keterangan :
D.I. = dosis induksi 24 jam l dalam mg, D.P. = dosis pemeliharaan dalam mg/
240 jam, t = waktu ambang terrmetik dalam jam, d = lama efek dan E.S. = efek
samping
Risiko perdarahan dipengaruhi oleh intensitas terapi anti-
koagulan, kelainan/gangguan pada penderita, pemakaian ber-
sama dengan obat lain. Risiko juga meningkat pada usia lanjut,
riwayat stroke dan perdarahan gastrointestinal, pada fibrilasi
atrium serta kondisi serius yang menyertainya seperti
insufisiensi ginjal atau anemia (Tabe1 3).
Tabel 3. Faktor Pengubah Respons terhadap Antikoagulan Oral
Kondisi Mekanisme
Peningkatan respons
- Jaundice obstruktif
- Fistula biliar
- Steatorrhoea
- Starvasi
- Gangguan hati
- Gagal jantung kongestif
- Demam dan hipertiroid
- Obat lain
Penurunan respons
- Sindrom nefrotik
- Resistensi bawaan
Penurunan absorpsi vitamin K dan mungkin
menghambat ekskresi empedu
Penurunan absotpsi vitamin K
Penurunan asupan vitamin K harian
Penurunan produksi faktor pembekuan
yang bergantung pada vitamin K
Peningkatan respons saat kongesti berkem-
bang dan penurunan respons salt pengguna-
an diuretic
Peningkatan kecepatan penghancuraa faktor
pembekuan yang bergantung pada vitamin K
Obat tertentu menyebabkan disfungsi hati
dan meningkatkan respons atau mempenga-
ruhi fungsi platelet atau melalui mekanisme
farmakokinetik
Penurunan ikatan protein dan peningkatan
clearance plasma warfarin
Peningkatan afinitas terhadap vitamin K dan
antikoagulan pasta tempat reseptomya.
Reaksi tidak diharapkan non hemoragi yang paling penting
adalah nekrosis kulit; komplikasi yang kurang umum ini biasa-
nya terjadi dalam 3­8 hari terapi dan disebabkan oleh trombosis
ekstensif venula dan kapiler dalam jaringan lemak subkutan.
Antikoagulan oral dapat menembtts plasenta dan bila di-
gunakan dalam triwulan pertama kehamilan ada risiko kelainan
bawaan yang khas pada fetus dengan tanda hipoplasia hidung
dan kalsifikasi epifise yang mirip chondrodysplasia punctuata,
sedangkan kelainan susunan saraf pusat atau perdarahan fetus
serta kematian dalam rhim mungkin terjadi pada pemakaian
dalam triwulan II dan III meskipun nilai PT ibu terletak dalam
batas terapi (pemakaian antikoagulan dalam kehamilan tidak
dianjurkan).
Banyak obat dan faktor yang dapat mempengaruhi kerja
antikoagulan oral dan umumnya berbahaya apabila mengubah :
1. Uptake atau metabolisme antikoagulan oral atau vitamin K.
_2. Sintesis, fungsi maupun clearance faktor atau sel yang
terlibat dalam hemostasis atau fibrinolisis.
3. Integritas permukaan epitel.
Oleh karenaitu penderitaharus dianjurkan
untukmelaporkan tiap penambahan atau pengurangan medikasi
lain termasuk obat bebas dan suplemen makanan.
Suatu obat dapat mempengaruhi farmakokinetik antikoa-
gulan dengan mengubah clearance metabolik atau kecepatan
absorpsinya dari intestin, sedangkan pengaruh terhadap farma-
kodinamik antikoagulan bisa melalui hambatan Sintesis faktor-
faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K, peningkatan
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994
22
background image
clearance metabioliknya atau gangguan jalur hemostasis lain.
Interaksi obat yang meningkatkan ambang plasma dan aktivitas
antikoagulan bisa melalui jalur stereospesifik maupun nonspe-
sifik. Interaksi stereospesifik dapat mempengaruhi metabolisme
oksidatif isomer R maupun S dan mempunyai arti klinis
pnting karena warfarin S 5 kali lebih poten dari pada isomer
R-nya. Obat yang menghambat clearance metabolik isomer S
(misalnya fenilbutazon, sulfinpirazon, disulfiram, metronidazol
dan trimetoprim-sulfametoksazol) dapat lebih memperpanjang
waktu protrombin dari pada obat yang menghambat isomer R
(misalnya simetidin dan omeprazol).
Sebaliknya ambang plasma dan efek antikoagulan warfarin
berkurang oleh obat yang meningkatkan clearance metabolik
kedua isomer dengan menginduksi aktivitas berbagai oksidase
hati (Tabel 4).
Tabel 4. Efek Obat dan Perubahan Metabolik pada Potensi Antikoagulan
Oral
I. Faktor yang meningkatkan potensi dan memperpanjang waktu pro-
trombin
A. penurunan clearance : disulfiram, metronidazol, kotrimoksazol
B. penurunan pengikatan albumin : fenilbutazon
C. efek hemostasis aditif obat/gangguan tertentu : aspirin, heparin,
penyakit hati, trombositopenia, defisiensi vitamin K
D. penurunan pembentukan kembali vitamin K : klofibrat, hiper-
metabolisme
(misalnya
hipertiroidisme)
II. Faktor yang mengurangi potensi dan memperpendek waktu protrombin
A. penurunan clearance antikoagulan-induksi enzim metalobisme
hati
:
barbiturat,
rifampin
B. penurunan absorpsi : cholestyramin
C. gangguan
metabolisme
D. tensi
genetik
Suatu obat juga dapat mengubah farmakodinamika warfarin
tanpa mempengaruhi ambang plasmanya dengan mengubah
efek antikoagulan atau aktivitas kedua jalur hemostasis.
Sefalosporin generasi II dan III memperbesar efek antikoagulan
dengan menghambat interkonversisiklus vitamin K dan tiroksin
dengan meningkatkan kecepatan metabolisme faktor-faktor
koagulasi. Obat juga dapat meningkatkan risiko perdarahan
melalui mekanisme lain seperti halnya aspirin dan anti
inflamasi nonsteroid lain, dosis besar penisilin dan
moksalaktam yang menghambat fungsi platelet dan
memperpanjang waktu perdarahan. Dalam hal ini aspirin
penting karena banyak sekali digunakan, efek yang lama pada
hemostasis dan kemampuan merusak mukosa lambung.
Oleh karena itu bila obat lain diperlukan, waktu protrombin
hams dipantau sesering mungkin selama tahap awal terapi
kombinasi sehingga memungkinkan penyesuaian dosis
antikoagulan. Sebaliknya juga ada kemungkinan antikoagulan
yang memberikan efek pada obat lain, misalnya potensiasi efek
klorpropamid-tolbutamid pada manula dengan asupan karbo-
hidrat rendah atau gagal jantung kongestif dan peningkatan
nyata kadar plasma fenitoin oleh dikumarol.
KESIMPULAN
Antikoagulan oral merupakan obat tidak langsung dan
membutuhkan waktu sebelum efek kerjanya kelihatan. Penun
daan efek ini bergantung pada clearance keempat faktor koagu-
lasi dalam sirkulasi yang sintesisnya dihambat dan pada
besarnya hambatan yang sebaliknya bergantung pada dosis
induksi. Semua antikoagulan oral kecuali dikumarol mudah
dibasorpsi, semua kumarin terikat erat pada protein plasma dan
volume distribusinya rendah. Perbedaan utama antar senyawa
terletak pada kecepatan metabolisme dan efek dosis pada
kecepatan eliminasi (perbedaan aktivitas enzim retikulum hati
akibat perbedaan genetik individu maupun pemakaian obat lain
bisa menimbulkan perbedaan besar dalam kecepatan eliminasi
antar individu). Sejalan dengan variasi ketersediaan vitamin K
dan pembentukan kembali faktor pembekuan, perbedaan
kecepatan eliminasi menyebabkan variasi besar dalam dosis
antikoagulan yang dibutuhkan per individu.
Sebelum mulai terapi antikoagulan diperlukan uji laborato-
rium guna mengungkapkan kelainan hemostatik yang mungkin
memperbesar risiko pemakaian antikoagulan oral, kemudian
waktu protrombin digunakan untuk memantau efikasi dan ke-
patuhan. Range terapi untuk berbagai indikasi klinis ditentukan
secara empiris dan mencerminkan dosis yang menurunkan
morbiditas tromboemboli, sekaligus meningkatkan sekecil
mungkin risiko perdarahan serius. Pembandingan waktu pro-
trombin terhadap kontrol sering bervariasi antar laboratorium
dan mungkin disebabkan antara lain oleh metoda pengumpulan
sampel, transport dan penyimpanan sebelum uji, reagensia
tromboplastin, metoda deteksi bekuan dan sumber plasma
kontrol.
Pada pemakaian bersama dengan obat lain, untuk meng-
hindari interaksi dengan antikoagulan perlu diperhatikan hal
berikut :
1)
Sebelum pemberian obat hams diketahui semua obat yang
digunakan dan tidak dianjurkan perubahan/penambahan obat
tanpa konsultasi dengan dokter.
2)
Terapi obat sesederhana mungkin dan dibatasi pada obat
yang dibutuhkan dan bermanfaat.
3)
Penggunaan okasional obat yang diduga berinteraksi harus
dihindari dan diganti alternatif lain.
4)
Perubahan terapi obat hams dijaga sesedikit mungkin, bila
dibutuhkan perubahan terapi obat yang diketahui berinteraksi
maka perubahan tertentu dalam dosis antikoagulan mungkin
diperlukan dan hams didasarkan pada hasil pemantauan cermat
kerja antikoagulan selama beberapa minggu setelah perubahan.
KEPUSTAKAAN
1.
Avery GS. Drug Treatment, 2nd ed. Sydney: Adis Press 1980; p. 902-14.
2.
Braunwald E et al. Harison's Principles of Internal Medicine, 11th ed. New
York: Mc Graw Hill Book Co. 1987; p. 1481-82.
3.
Gilman AG et al. The Pharmaceutical Basis of Therapeutics, 8th ed., vol.
II. Singapore: Pergamon Press, Inc. 1991; p. 1311-22.
4.
Hirsh J. Oral Anticoagulant Drugs, New Engl. J. Med. 1991; 324 (26):
1865-73.
Cermin Dunia Kedokteran No. 95, 1994 23