Amrinon :
obat kardiotonik baru
Meskipun tahun-tahun terakhir ini pengetahuan kita mengenai
perubahan-perubahan biokimia dan perubahan fisiologi pada
kegagalan jantung maju dengan pesat,pengembangan obat kar-
diotonik tidak demikian halnya:
Lebih dari 200 tahun telah lewat sejak W: Withering pertama
kali menuliskan sifat-sifat farmakologik Digitalis purpurea
dan menggunakannya dalam klinik. Kini keadaannya belum
banyak berubah. Glikosida digitalis masih merupakan obat
kardiotonik yang paling banyak dipakai dalam klinik, namun
obat ini terbatas penggunaannya karena efek sampingnya:
Obat kardiotonik lain yang bekerja pada reseptorß
adrenergik miokardium seperti katekolamin, terbatas penggun-
annya dalam pengobatan kegagalan jantung kronik karena
tidak dapat dipergunakan per oral, lama kerjanya pendek
serta mempunyai sifat aritmogenik:
Pencarian obat kardiotonik yang aktif pada penggunaan
per oral dan mempunyai sifat-sifat unik mencapai tahap baru
dengan ditemukannya senyawa-senyawa biperidin, salah satu
diantaranya ialah amrinon.
Farmakologi
Efek inotropik positif amrinon didemonstrasikan perta-
ma kali dalam percobaan in vitro menggunakan atrium kucing
dan otot-otot:papiler yang diisolasi. Mula kerja amrinon ada-
lah 1 menit dan efek tertinggi (peak) pada 2 menit, sedang
lama kerjanya lebih dari 1 jam. Pemberian amrinon berulang
kali pada preparat yang sama tidak menunjukkan takifi-
laksis pada respons obat.
Efek inotropik juga ditemukan pada percobaan in vivo
menggunakan anjing. Injeksi amrinon IV dengan dosis tunggal
0,1 1 mg/kg mengakibatkan peningkatan yang tergantung-
pada-dosis dalam kekuatan kontraksi jantung tanpa diikuti
dengan perubahan yang berarti pada tekanan darah atau
denyut jantung. Dengan dosis yang lebih tinggi, amrinon
menyebabkan penambahan lebih jauh pada kekuatan kon-
traksi jantung dan penurunan tekanan darah sistolik di-
astolik, serta peningkatan denyut jantung, tetapi tidak me-
nyebabkan aritmia.
Pemberian amrinon (2 10 mg/kg) pada anjing yang
tidak dianestesi menyebabkan peningkatan kekuatan kon-
traksi jantung, dengan efek minimal terhadap denyut jantung,
tekanan darah dan EKG Mula kerja obat ini pada pemberian
per oral ialah dalam 15 menit dengan puncak pada 1 jam
serta lama kerja lebih dari 5 jam:
Dalam dosis inotropik, amrinon tidak menyebabkan
perubahan yang berarti pada aliran darah koroner, ginjal
maupun aorta, serta tidak menyebabkan perubahan fungsi
ginjal, plasma atau elektrolit-urin pada anjing yang dianestesi.
Mekanisme kerja amrinon
Meskipun mekanisme kerja yang tepat belum diketahui,
percobaan -percobaan menunjukkan hal-hal sbb.
1. Amrinon bukan suatu -agonist karena efek ino-
tropiknya tidak dihambat oleh penghambat adre-
nergik- seperti propranolol atau practolol.
2. Amrinon bukan suatu c-AMP modulator.
3 Tidak seperti glikosida jantung, amrinon tidak meng-
hambat (Na + K)ATP ase
4 Efek inotropik positif amrinon tidak disebabkan ka-
rena stimulasi feseptor histamin.
5: Hipokalsemia meningkatkan efek inotropik, sedang
hiperkalsemia menghambatnya.
Dari berbagai hasil penyelidikan itu disimpulkan bahwa
amrinon mempunyai mekanisme kerja yang lain dari obat-
obat jantung lainnya
Evaluasi klinik
·
Keamanan dan toleransi: untuk menguji keamanan
obat amrinon ini telah dilakukan percobaan pada orang-
orang percobaan: Pada pemberian I.V. amrinon menyebabkan
pengurangan yang tergantung-dosis pada pre-ejection period,
left verrtricular ejection period dan lama sistole elektromeka-
nik total. Denyut jantung sedikit meningkat (16/menit),
tekanan diastolik sedikit menurun (7 mmHg) dan tekanan
sistolik sedikit meningkat: Tidak ditemukan perubahan-per-
ubahan hematologik atau biokimia darah.
Pemberian oral (0,3 - 2,4 mg/kg) pada sukarelawan-
sukarelawan yang sehat menyebabkan peningkatan tekanan
nadi (pulse pressure) dan pengurangan interval waktu sisto-
lik tanpa perubahan yang berarti pada denyut jantung dan
atau tekanan darah: Tapi dengan dosis 2,4 3,4 mg/kg teka-
nan darah akan menurun dan denyut jantung meningkat.
·
Pada penderita kegagalan jantung. Amrinon telah di-
coba pada penderita kegagalan jantung Kelas IIIIV (the
New York Heart Ass. Classification) penderita lelaki mau-
pun wanita, umur antara 45 82 tahun. Kegagalan jantung
mereka terutama akibat kardiomiopati idiopatik atau penya-
kit pembuluh darah koroner: Kegagalan jantung tsb. tidak da-
pat dikontrol dengan terapi konvensional (diuretik, digitalis,
vasodilator)
Meskipun demikian, obat-obat jantung tsb.
(digoxin, diuretika, kalium, antiaritmia, antikoagulansia dll.)
tetap diberikan, tetapi ditambah dengan amrinon. Pemberian
secara IV bolus 0,75 3,5 mg/kg menyebabkan meningkat-
kan cardiac output, left ventricular dp/dt dan stroke work
index:: Tekanan ventrikel kiri dan tekanan diastolik, pul-
monary capillary wedge pressure dan tekanan atriurn kanan,
semua menurun. Pemberian oral pada pasien-pasien di atas juga
memberikan respons hemodinamik yang memuaskan.
Pada beberapa penderita kegagalan jantung yang berat
sekali, pemberian amrinon dalam dosis tinggi menyebabkan
trombositopenia: Efek samping ini hilang setelah pemberian
obat dihentikan: Diperkirakan bahwa efek samping ini dise-
babkan karena formulasi amrinon yang kurang stabil, maka
kini terus dicari formulasi yang tepat untuk obat kardioto-
nik ini:
(
Trends in Pharmacological Sciences February 1980, 143--145)
Cermin Dunia
Kedokteran No. 19, 1980
2 9