background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Perbaikan Kualitas Hidup
pada Karyawan Penderita Alergi
Samsuridjal Djauzi, Teguh H. Karjadi
Subbagian Alergi-Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit alergi sering dijumpai di masyarakat. Kekerapan
penyakit ini meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup
menuju pola hidup masyarakat maju. Perubahan pembangunan
dari sektor pertanian ke sektor gaya hidup masyarakat termasuk
penggunaan selimut, karpet di rumah serta polusi udara me-
rupakan faktor yang dapat meningkatkan kekerapan penyakit
alergi terutama penyakit alergi pernapasan.
Seperti juga anggota masyarakat lain maka para karyawan
berisiko untuk menderita penyakit alergi dan risiko ini dapat
bertambah jika lingkungan di tempat kerja memudahkan papar-
an terhadap berbagai alergen dan iritan.
Di lain pihak penyakit alergi menurunkan produktivitas
kerja. Di Amerika Serikat rinitis alergik misalnya mengakibat-
kan kehilangan 811.000 hari kerja setiap tahun. Karyawan
penderita alergi yang masuk kerja produktivitasnya menurun
akibat gejala penyakit maupun pengaruh efek samping terapi.
Mereka mengeluh mudah lelah, sulit berkonsentrasi dan sakit
kepala.
1
Di lain pihak penderita alergi sudah sewajarnya tetap
diberi kesempatan bekerja. Dokter perusahaan dapat meng-
upayakan meningkatkan kualitas hidup pekerja yang menderita
alergi melalui penyuluhan, penatalaksanaan penyakit alergi
yang baik serta menghindari paparan terhadap bahan yang me-
nimbulkan alergi.
PEMAHAMAN KUALITAS HIDUP
Dewasa ini penatalaksanaan penyakit sudah memper-
timbangkan peningkatan kualitas hidup penderita. Kualitas
hidup merupakan konsep mengenai karakter fisik maupun
psikologis dalam konteks sosial. Rinitis alergik misalnya tidak
hanya dianggap merupakan penyakit yang menimbulkan ber-
bagai gejala seperti bersin, rinorea, hidung tersumbat tetapi
juga mempertimbangkan pengaruh penyakit ini terhadap ke-
hidupan sosial penderita. Penderita juga mengalami gangguan
tidur, masalah emosional, penurunan aktivitas dan fungsi sosial
penderita.
Untuk mengukur kualitas hidup telah dikembangkan ber-
bagai kuesioner. Kuesioner generik yang mengukur fungsi fisik
dan psikologis pada umumnya tanpa memperhatikan penyakit
yang diderita. Sedangkan kuesioner lain dikaitkan dengan
penyakit yang diderita (disease specific questionnaire). Di
samping itu tersedia kuesioner yang lebih rinci yang mengukur
kualitas hidup kelompok tertentu misalnya Adolescent Rhino-
conjunctivitis Quality of Life Questionnaire untuk kelompok
umur 12 sampai 17 tahun.
2
Tolak ukur menilai kualitas hidup penderita penyakit alergi
saluran napas, antara lain :
1.
Kuesioner skor gejala kualitas hidup rinokonjunktivitis
menyeluruh (Overall Rhinoconjunctivitis Quality of Life
Questionnaire System Score).
2.
Kuesioner gangguan aktivitas dan produktivitas kerja
spesifik alergi.
Bousquet menunjukkan pada beberapa keadaan kualitas hidup
penderita rinitis alergi lebih buruk daripada penderita asma
(tabel 1).
Tabel 1. Kualitas Hidup Penderita Rinitis Alergi dan Asma.
3
Asma
Rinitis
Fungsi fisik
Fungsi sosial
Peran (fisik)
Peran (sosial)
Kejiwaan
Lelah
Nyeri
Persepsi umum
80
84
66
70
66
59
74
57
89
73
61
64
65
55
77
62
Pengukuran kualitas hidup dapat digunakan untuk menilai
manfaat terapi dalam uji klinik.
DIAGNOSIS DAN PILIHAN TERAPI
Untuk meningkatkan kepedulian karyawan terhadap pe-
nyakit alergi perlu dilakukan penyuluhan kesehatan. Cukup
banyak karyawan penderita rinitis alergi menyangka terkena
influenza atau infeksi saluran napas. Begitu pula penyakit asma
Dibacakan pada Simposium Occupational Diseases, Allergy Clinical Immunology,
Millennium Sirih Hotel, Jakarta, 22-23 Februari 2003
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 15
background image
sehingga sering diabaikan dan cukup banyak kasus yang tak
dapat didiagnosis dengan baik. Kemampuan dokter perusahaan
dalam mendiagnosis penyakit alergi juga perlu ditingkatkan.
Pilihan terapi dalam penyakit alergi dewasa ini dimudah-
kan dengan terbitnya berbagai panduan seperti panduan GINA
dan Canada.
4,5
Antihistamin non sedatif dapat mengurangi
gangguan aktivitas kerja.
6
Gambar 2. Change from baseline at end study in overall work, activity,
and classroom impairment.* P
004 versus placebo and**
P
001 versus placebo
Gambar 2. Change from baseline at end study in overall work, activity,
and classroom impairment.* P
004 versus placebo and**
P
001 versus placebo
Namun panduan tersebut tidak dapat sepenuhnya diterap-
kan pada perusahaan yang mempunyai sumber dana terbatas.
Sebagian besar o
Namun panduan tersebut tidak dapat sepenuhnya diterap-
kan pada perusahaan yang mempunyai sumber dana terbatas.
Sebagian besar o
bat yang dianjurkan masih merupakan obat yang mahal
dan tak terjangkau oleh dana perusahaan. Dalam menilai cost
effectiveness suatu terapi perlu dikembangkan pemahaman
mengenai biaya langsung dan tidak langsung.
7
Table 2. SF-36 scores : Median (Quartile 1 ­ Quartile 3).
8
Table 2. SF-36 scores : Median (Quartile 1 ­ Quartile 3).
Baseline
Baseline
Week I
Week I
Week 6
Week 6
bat yang dianjurkan masih merupakan obat yang mahal
dan tak terjangkau oleh dana perusahaan. Dalam menilai cost
effectiveness suatu terapi perlu dikembangkan pemahaman
mengenai biaya langsung dan tidak langsung.
7
8
Physical functioning (PF)
Cetirizine
Placebo
p Value
87,5 (72,5­97,5)
87,5 (72,5­97,5)
NS
95,0 (85,0­100,0)
92,5 (75,0­100,0)
NS
95,0 (90,0­100,0)
90,0 (72,5­97,6)
0,0007
Role physical (RP)
Cetirizine
Placebo
p Value
50,0 (25,0­75,0)
50,0 ( 0,0­75,0)
NS
100,0 (75,0­100,0)
50,0 (25,0­100,0)
0,0001
100,0 (75,0­100,0)
50,0 (25,0­100,0)
0,0001
Bodily pain (BP)
Cetirizine
Placebo
p Value
62,0 (41,0­100,0)
62,0 (41,0­ 92,0)
NS
77,0 (62,0­100,0)
64,0 (25,0­100,0)
0,0001
84,0 (74,0­100,0)
62,0 (51,0­100,0)
0,0001
General health (GH)
Cetirizine
Placebo
p Value
47,0 (32,0­62,0)
52,0 (35,0­67,0)
NS
57,0 (47,0­72,0)
52,0 (35,0­72,0)
NS
67,0 (52,0­77,0)
52,0 (37,0­67,0)
0,0001
Vitality (VT)
Cetirizine
Placebo
p Value
50,0 (40,0­65,0)
50,0 (40,0­65,0)
NS
65,0 (50,0­75,0)
50,0 (40,0­70,0)
0,0001
70,0 (55,0­80,0)
50,0 (33,3­70,0)
0,0001
Social functioning (SF)
Cetirizine
Placebo
p Value
62,5 (50,0­75,0)
62,6 (50,0­75,0)
NS
75,0 (62,5­100,0)
75,0 (50,0­ 87,5)
0,0014
87,5 (75,0­100,0)
62,5 (37,5­87,5)
0,0001
Role emotional (RE)
Cetirizine
Placebo
p Value
66,67 (33,33­100,0)
66,67 (33,33­100,0)
NS
100,0 (66,67­100,0)
66,67(33,33­100,0)
0,0014
100,0 (100,0­100,0)
66,67(33,33­100,0)
0,001
Mental health (MH)
Cetirizine
Placebo
p Value
60,0 (44,0­76,0)
60,0 (52,0­72,0)
NS
68,0 (60,0­80,0)
60,0 (52,0­76,0)
0,0015
76,0 (64,0­88,0)
60,0 (48,0­72,0)
0,001
A. Activity Impairment
20
25
30
35
40
45
50
Baseline
Week 1
Week 2
Placebo
+
60 mg fexofenadine bid
P
e
* *
-8
- ea
n
6
4
2
0
-
ng
e
f
- B
as
M
C
ha
ro
m
el
in
e
-10
* *
*
* *
-12
Work Impairment
Classroom
Impairment
Activity Impairment
120 mg
Plasebo
180 mg
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
16
background image
30
Gambar 3. Perbaikan kualitas hidup pada penggunaan antihistamin generasi baru.
Manfaat perbaikan kualitas hidup antihistamin baru meng-
gunakan instrumen skor SF-36 dapat dilihat pada tabel 2.
8
Penggunaan antihistamin generasi baru ternyata selain
memperbaiki gangguan kerja, juga aktivitas sehari-hari dan
sekolah seperti terlihat pada gambar 2. Dengan demikian
program pelatihan karyawan dapat memberikan hasil yang di-
inginkan.
9
Secara keseluruhan perbaikan kualitas hidup penggunaan anti-
histamin generasi baru dapat dilihat pada gambar 3.
8
Terlihat adanya perbaikan kualitas hidup dari semua pasien
yang diobati dengan cetirizin dibandingkan dengan plasebo.
PERAN LINGKUNGAN KERJA
Di lingkungan kerja dapat dijumpai berbagai alergen dan
faktor pencetus penyakit alergi. Alergen hirup misalnya dapat
dilihat pada tabel 3.
Menghindari alergen merupakan dasar pencegahan pe-
nyakit alergi namun sulit dilakukan sehingga perannya dalam
terapi menjadi kurang berarti.
1
Langkah-langkah meningkatkan
kualitas hidup karyawan penderita alergi dapat disusun sebagai
berikut :
1)
Membuat desain ruangan kerja dengan risiko paparan
terhadap alergen dan polutan kurang
2)
Menyeleksi calon karyawan dan menempatkannya dalam
lingkungan kerja yang paparan alergen dan polutannya kurang
3)
Penyuluhan kesehatan pada karyawan
4)
Diagnosis penyakit alergi
5)
Pilihan terapi yang mempertimbangkan kualitas hidup
karyawan
6)
Melakukan modifikasi lingkungan kerja, jika perlu memin-
dahkan karyawan.
Tabel 3. Berbagai macam alergen dan polutan
1
1. Tungau debu rumah (mites) : Dermatophagoides pteronyssinus ( Der p)
Dermatophagoides farinae.(Der f)
Lepidoglyphus maynei (Lep d)
Blomia tropicalis ( Blo t)
Tungau debu rumah ini dapat merupakan faktor pencetus serangan
rinitis dan Asma.
2. Bulu Binatang : kucing
anjing,
kuda,
sapi
kelinci
3. Jamur
: Candida albicans
Saccharomyces
cerevisiae
Pityrosporum
4. Serangga
: kecoa
diptera
5. Inhalan lain
: Ficus benjamina (Java willow).
6. Alergen Makanan
7. Alergen Okupasional
8. Lateks
9. Polutan
: polutan udara di luar rumah
polutan di dalam rumah
polutan kendaraan
asap rokok.
10. Obat
Dengan demikian dokter perusahaan dapat meningkatkan
-10
0
10
20
I
Cetirizine : week1-baseline
m
pr
ov
em
en
t (
in
u
ni
ts
o
f
sc
or
e)
Placebo : week 1-baseline
Cetirizine : week 6-baseline
Placebo : week 6-baseline
Physical functioning
Bodily pain
Vitality
Role emotional
Role physical
General health
Social functioning
Mental health
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 17
background image
kualitas hidup karyawan penderita alergi sehingga sumber daya
manusia di perusahaan dapat dimanfaatkan dengan baik. Untuk
melaksanakan hal tersebut perlu dipertimbangkan keadaan
setempat.
KEPUSTAKAAN
1.
Bousquet J, Cauwenberge P, Khaltaev N. Allergic Rhinitis and Its Impact
on Asthma. J Allerg Clin Immunol 2001;108: S147-336.
2.
Meltzer EO, Casale TB, Nathan RA, Thompson AK. Once-daily
fexofenadine HCL improves quality of life and reduces work and activity
impairment in patients with seasonal allergic rhinitis. Ann Allerg Asthma
Immunol 1999; 83:311-7.
3.
Passalacqua G, Bousquet J, Bachert C, et al. The clinical safety of H1
receptor antagonists. An EAACI position paper. Allergy 1996; 51:666-75.
4.
Global Strategy for Asthma Management and Prevention, National
Institute of Health, National Lung Heart and Blood Institute, Bethesda
2002 (Revised).
5.
Boulet LP. Canadian Asthma Consensus Report. CMAJ, 1999;161(11
suppl): S1-61.
6.
Tanner LA, Reilly M, Meltzer EO, Bradford JE, Mason J. Effect of
fexofenadine HCl on quality of life and work, classroom, and daily
activity impairment in patients with seasonal allergic rhinitis. Am. J.
Managed Care 1999; 5(4): S235-47.
7.
Lim TK., Asthma Management : Evidence Based Studies and Their
Implication for Cost-Efficacy. Asia Pacific J. Allerg. and Immunol. 1999;
17: 195-202.
8.
Bousquet J, Duchateu J, Pignat JC et al. Improvement of quality of life
by treatment with cetirizine in patients with perennial allergic rhinitis as
determined by a French version of the SF-36 questionnaire. J Allerg. Clin
Immunol 1996; 98: 309-16.
9.
Hindmarch, Shamsi Z. Antihistamines: models to assess sedative
properties, assessment of sedation, safety and other side-effects. Clin. and
Experimental Allerg. 1999; 29(Suppl.3): 133-42.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
18