Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
1
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peran Ergonomi
dalam Pencegahan
Sindrom Carpal Tunnel Akibat Kerja
Aryawan Wichaksana, Kartiena A. Darmadi
PPS K3 Hiperkes Medis Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Berbagai data kepustakaan di AS menulis bahwa Sindrom Carpal Tunnel salah
satu kelainan akibat kerja kelompok extremitas atas atau yang dikenal dengan sebutan
Cumulative Trauma Disorders (CTDs) mempunyai dampak merugikan dunia industri.
Sindrom ini dapat dicegah dengan aplikasi ergonomi, ilmu yang mencakup interaksi
antara pekerja dengan sistim kerja untuk menciptakan lingkungan kerja sehat dan
selamat.
Kata kunci : Sindrom Carpal Tunnel, pengendalian faktor risiko, ergonomi.
PENDAHULUAN
Istilah ergonomi pertama kali digunakan oleh sekelompok
ilmuwan Inggris di tahun 1950
1
, yang berasal dari kata Yunani,
yaitu ergos = kerja, nomos = norma, aturan.
1-4
.
Ergonomi adalah pendekatan multidisiplin ilmu pengetahuan
guna menserasikan alat, sistim kerja (meliputi organisasi dan
lingkungan kerja) terhadap kemampuan kebolehan dan keter-
batasan manusia sebagai pekerja, sehingga tercapai kondisi dan
lingkungan kerja yang sehat, selamat
1-4
dan manusiawi
5
untuk
menghasilkan produktivitas setinggi-tingginya
1,2
.
Tahun 1984, OSHA (Occupational Safety and Health
Administration) Amerika Serikat menyatakan bahwa, prinsip-
prinsip ergonomi sangat penting untuk mencegah terjadinya
Cummulative Trauma Disoders (CTDs)
4-11
.
Nama lain CTDs adalah overuse syndrome, Musculo
Skeletal Disorders (MSDs) atau Repetitive Strain Injuri-
es(RSIs)
6,8,10
, Work-related Upper Extremity Disorders
(UEDs)
10-11
.
CTDs bukanlah diagnosis klinis
5,6,7
melainkan rasa nyeri
karena kumpulan cedera pada sistim muskuloskeletal extre-
mitas atas akibat gerakan kerja biomekanika berulang-ulang
melampaui kapasitas
6
.
Pemerintah AS mendefinisikan CTDs sebagai rasa nyeri pada
sistim muskulo skeletal extremitas atas yang diyakini ber-
hubungan dengan kegiatan kerja
7
. Cedera dapat mengenai otot,
tendon, ligamen, saraf, pembuluh darah di leher, bahu, lengan,
siku, pergelangan dan jari tangan. Cedera berupa radang dan
rasa nyeri, sehingga mengurangi kemampuan gerak disertai
kelainan khas bagian extremitas atas tersebut
5, 6, 9 14.
NIOSH (The National Institute for Occupational Safety and
Health) di tahun 1990, memperkirakan 15% - 20% pekerja
Amerika berisiko menderita CTDs. The National Safety
Council (NSC) melaporkan, kurang lebih 960.000 kasus CTDs
di kalangan pekerja Amerika tahun 1992
14
. Di tahun 2000
pemerintah AS memperkirakan akan terjadi cedera akibat kerja
pada 50% pekerja setiap tahun dengan menghabiskan 50 sen
dolar setiap GNPnya untuk perawatan cedera tersebut
8
. Catatan
Bureau of Labor Statistics (BLS) 1992, menunjukkan bahkan
dari seluruh kasus CTDs yang dilaporkan, separuhnya di
diagnosis sebagai Sindrom Carpal Tunnel (SCT)
15
.
OSHA Office of Ergonomic Support menghitung jumlah
uang kompensasi yang dibayar perusahaan kepada pekerja
7
penderita CTDs di tahun 1988, berkisar 33%-40% dari total
uang kompensasi penyakit akibat kerja
8
. Tahun 1992, US
Departemen of Labor, Office of Workers Compensation Prog-
rams (OWCP) membayar kompensasi untuk 8.147 kasus
(4,4%) CTDs dari 185.927 kasus yang diajukan
16
. Liberty
Mutual untuk CTDs di tahun yang sama mencatat uang
kompensasi 4% dari total kompensasi
16
.
Biaya pengobatan CTDs rata-rata 10 kali lebih besar
dibandingkan kasus lain, dengan rata-rata kehilangan 5 hari
kerja
79
. Penderita SCT memerlukan biaya pengobatan ter-
banyak di antara kelompok CTDs, serta menyebabkan ke-
hilangan 25 hari kerja
7-9,15-16
. Kasus SCT sangat mempengaruhi
kondisi sosial ekonomi industri akibat kehilangan hari kerja,
produktivitas menurun dan menyebabkan penurunan keuntung-
an perusahaan karena harus membayar kompensasi.
SINDROM CARPAL TUNNEL
Pergelangan tangan mempunyai struktur anatomi yang
rumit dan aktif
17
. Carpal Tunnel yang mirip terowongan berada
di pergelangan tangan, dibentuk 8 tulang carpal dan flexor
retinaculum atau ligamentum carpal transversalis
1823
.
77
Keterangan :
os pisiformis
m. palmaris longus
tuberculum FL. carpi radialis
m. abd. poll long
a. radialis
n. medianus
FL. digit superf
FL. carpi ulnaris
FL. Retinaculum
Gambar 2
17
Gambar 1
18
Pergelangan tangan/palmar
Telapak tangan (palmar).
Di dalam tunnel (terowongan) ini lewat atau tersusun
secara rapat flexor digitorum profunda dan superficialis, flexor
digitorum longus dan N. medianus.
Gambar 2
17
. Telapak tangan (palmar)
Gambar 3
18
. Carpal Tunnel
Gambar 4
3
. Deviasi pergelangan tangan
Patofisiologi Sindrom Carpal Tunnel
1) Gerakan berulang 2) Tekanan 3) Sikap kerja 4) Getaran 5) Sarung
kontraksi
mekanik kaku dan aneh setempat tangan
sangat kuat
sempit,
dingin
6,10
Radang tendon pada sendi, bursae
menekan N. Medianus
Nyeri
Kelemahan
Gangguan
Fisik
Gambar 5
9
1)
Gerakan berulang dengan kontraksi sangat kuat.
Gerakan berulang apalagi dilakukan sangat kuat menim-
bulkan pembengkakan sarung tendon
21,24,25
menimbulkan te-
kanan pada tendon pergelangan tangan
3,6,7,9,10,17,20,21
. Kegagalan
memulihkan tekanan menyebabkan peradangan sebagai reaksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
18
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
19
jaringan terhadap cedera
10
. Peradangan meliputi tendon, sarung
tendon, perlekatan tendon pada sendi dan bursae yang disebut
tendosynovitis
3,15,19,20,24
.
Selain itu gerakan tersebut meregangkan dan memanjang-
kan tendon, menekan mikrostruktur dan merobek amat halus,
serat tendon dapat tergelincir dari perlekatannya
24
.
Tekanan di dalam tunnel meningkat; n. medianus lebih
tertekan, lalu menjadi iskemik
3,6-17-22,24
.
2)
Tekanan mekanik pada tendon akibat kontraksi muskulus
yang kuat, sering akibat penggunaan perkakas tangan yang
keras bertepi tajam, atau karena pegangan perkakas pendek
3
.
Makin kuat perkakas digunakan akan makin kuat pula di-
pegangnya, yang menyebabkan tekanan mekanik makin besar
menekan jaringan lunak palmar tangan
3,10
yang akhirnya me-
nekan ramus superficialis n. medianus
3,6,22
.
3)
Sikap kerja kaku dan aneh
Menimbulkan tekanan mekanik muskuler
3,6,9,22
, menyebab-
kan kontraksi muskuler dosis rendah (low level) berke-
panjangan
9
, meningkatkan tekanan intramuskuler, dapat meng-
hambat aliran darah ke dalam sel muskuler
3,9,17
. Hal ini memicu
nyeri lokal kronik
9,10
4)
Getaran lokal berfrekuensi bebas menjalar ke pergelangan
tangan dari perkakas keras seperti gerinda, chainsaw, pneu-
matic hammer, vibrator (sering dipakai membongkar-perbaikan
jalan). Getaran ini merangsang kontraksi tendon, mengurangi
kelenturan
29,19,15,25
, mencederai saraf perifer, menyebabkan
mati rasa jari-jari atau mengurangi sensasi tangan sebagai
akibat konstriksi vaskuler atau vasospasme mikrosirkulasi ke
saraf perifer
26,27
. Cedera mikroskopik, mikrosikulasi, arterio-
sklerosis lokal menyebabkan pembengkakan lokal berisi cairan
dan fibrin yang menekan n. medianus
27
.
5)
Sarung tangan karet sempit akan menekan jaringan lunak
pergelangan tangan
9,15
.
Gejala Klinik
Diawali dengan gangguan sensasi rasa, seperti parestesia,
mati rasa (numbness), sensasi rasa geli (tingling) pada ibu jari,
telunjuk dan jari tengah (persarafan n. medianus)
5,6,9-11,15,17,19-
24,28,29
. Timbul nyeri pada jari-jari tersebut, dapat terjadi nyeri
pada tangan
21
dan telapak tangan
22
. Mati rasa dan sensasi geli
makin menjadi pada saat mengetuk, memeras, menggerakkan
pergelangan tangan
15,29
. Nyeri bertambah hebat pada malam
hari sehingga terbangun dari tidur malam (nocturnal pain)
5,6,9-
11,15,17,19-24,28,29
. Kadang pula pergelangan tangan serasa diikat
ketat (tightness) dan kaku gerak (clumsiness)
28
. Selanjutnya
kekuatan tangan menurun, kaku dan terjadi atrofi
thenar
5,6,17,22,24,29
.
Pekerjaan yang Berisiko Menyebabkan Sindrom Carpal
Tunnel
5,6,9,10,19,23,27
.
1.
Penjahit, pekerja garmen
2.
Pengemasan makanan beku, pengepakan barang
3.
Pekerja pabrik mobil dan pesawat terbang
4.
Juru tulis, juru ketik, penyortir surat
5.
Jagal, jagal daging beku
6.
Tukang kayu, tukang cuci pakaian
7.
Pengecor logam
8.
Operator komputer
ERGONOMI PENCEGAHAN
Perencanaan ergonomi untuk menurunkan kejadian Sin-
drom Carpal Tunnel yang dianggap sebagai epidemi industri,
pertama kali dibuat oleh OSHA untuk industri kemasan daging
beku, yang ternyata berkembang luas menjadi acuan dasar
ergonomi industri di seluruh AS
17
. Kegiatan ini akan berhasil
baik, bila sebelumnya dilakukan pengumpulan data untuk
mengenali dan mengukur luasnya masalah. Pengumpulan data
gangguan muskuloskeletal pekerja dengan formulir pertanyaan
akan mengenali kejadian yang tidak pernah dilaporkan, selan-
jutnya dilakukan analisis pekerjaan (job analysis) sehingga
penyelia (supervisor) dan pekerja akan mencari cara bekerja
yang lebih aman dan tepat guna. Analisis pekerjaan akan
mendapatkan unsur tekanan (stress factors), pekerja akan men-
dapatkan masukan tentang risiko tinggi pekerjaan, beban peker-
jaan, bekerjanya lebih aman, gerakan kerja tubuh, tersedianya
alat bantu kerja, perkakas yang lulus seleksi dan alat pelindung
diri (APD)
4,7,8,17
.
Untuk mencegah terjadinya SCT, telah dibuat panduan
siasat pencegahan dengan mengendalikan unsur risiko penye-
bab SCT oleh Silverstein, Fine dan Amstrong
6,17
. Pengen-
daliannya sebagai berikut :
3,6,9,17
a.
Gerakan berulang (Repetitive)
1.
gunakan bantuan mekanis atau dengan otomatisasi mesin,
misalnya dalam pengemasan barang, gunakan lebih banyak
bantuan alat daripada tangan.
2.
analisa pekerjaan, untuk mengurangi gerakan yang tidak
perlu.
3.
rotasi pekerjaan dengan gerakan yang berbeda.
4.
mengurangi lembur (over time) atau upah rangsangan
(incentives)
5.
rancang perkakas sesuai tangan yang digunakan, kanan
atau kidal.
b.
Gerakan sangat kuat (Forceful)
1.
kurangi berat atau ukuran perkakas yang digunakan agar
sesuai dengan kekuatan normal tangan
2.
gunakan perkakas yang bergaya berat di telapak atau geng-
gaman tangan agar beban menyebar ke otot dan persendian,
gunakan perkakas yang kurang memerlukan pergerakan per-
gelangan tangan.
3.
Jangan menggunakan perkakas yang licin, perkakas yang
gerakannya menyentak, atau perkakas yang banyak memelintir.
c.
Sikap tubuh yang kaku
1.
Sesuaikan jenis pekerjaan dengan pekerja
2.
Hindari gerakan abduksi (fleksi ke depan) 30-40
0
, fleksi
siku atau ekstensi >20
0
, hindari gerakan yang sering memutar
leher.
3.
Posisi pergelangan tangan harus selalu netral, dengan
membuat pekerjaan lebih mudah dijangkau.
d.
Tekanan mekanis
1.
Mengalasi atau memberi bantalan pada pegangan perkakas
yang digunakan, panjangkan atau lebarkan pegangan perkakas
sehingga cocok dengan genggaman, agar tekanan mekanis me-
rata ke permukaan tangan.
2.
Jangan memegang bagian perkakas yang bertepi tajam.
e.
Pengendalian getaran
1.
Gunakan isolator (alat peredam) vibrator
2.
Hindari penggunaan perkakas pemutar yang kuat
Menuurut NIOSH, terpenting dalam ergonomi pencegahan
SCT adalah pengendalian sikap tubuh, gerakan berulang,
meredam getaran, rotasi pekerja
21
.
f.
Penggunaan sarung tangan
1.
Pergunakan yang sesuai ukuran tangan, dan melindungi
bagian tangan yang memerlukan, misalnya untuk melindungi
jari, gunakan cellotape jari saja, jangan sarung tangan. Sarung
tangan memerlukan gerakan lebih kuat, mengurangi sensasi
raba, memerlukan ruang lebih besar sehingga dapat terjepit
dibagian mesin yang bergerak.
2.
Mengurangi dingin bila bekerja dilingkungan dingin,
seperti pengemasan atau penyimpanan daging beku.
KESIMPULAN
Telah dibahas salah satu jenis Cummulative Trauma
Disorders (CTDs) yaitu Sindrom Carpal Tunnel, salah satu
kelainan extremitas pada pergelangan tangan akibat kerja yang
mempunyai dampak merugikan bagi pekerja, perusahaan dan
produktivitas secara nasional. Untuk mencegah terjadinya SCT,
dilakukan pencegahan berupa tindakan ergonomi, yang dapat
dibuktikan dengan berkurangnya jumlah uang kompensasi yang
dibayar perusahaan dari tahun 1988 ke tahun 1992. Tindakan
yang memerlukan dukungan organisasi, yang melibatkan
seluruh jaringan kerja dari manajemen, penyelia, dan pekerja,
sehingga tercipta pandangan bahwa ergonomi adalah bagian
tak terpisahkan dari organisasi perusahaan.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menyongsong
era pembangunan industrialisasi di Indonesia.
KEPUSTAKAAN
1.
Kroemer KHE. Ergonomics. In : Plog BA, ed. Fundamental of Industrial
Hygiene. 3 rd ed. USA. National Safety Council. 1998. p. 283-85.
2.
Manuaba IB. Ergonomi Kesehatan Kerja dan Penanggulangan
Kebakaran. Dalam : Bunga Rampai Ergonomi Vol.1 Denpasar: Program
Studi Ergonomi-Fisiologi Kerja Universitas Udayana. 1998. hal.20-32.
3.
Sanders MS, Mc Cormick EJ. eds. Hand Tools and Devices. Human
Factors in Engineering and Design 7
th
ed. Singapore : Mc Graw-Hill
International Editions. 1993 p. 384-90.
4.
Budnick LD Human Factors in Occupational Medicine. J Occup Med.
1993; 35 : 587-89.
5.
Lauring W, Vedder J. Overview Ergonomics. In : Stellman JM. editor.
Encyclopaedia of Occupational Helth and Safety. 4
th
ed. 1998. Geneva :
International Labour Organization. p. 292.
6.
Endil M, Dickerson OB, Glaekin E. Cumulative Trauma Disorders of the
Upper Etremity. In : Zenz C, Dickerson OB, Horvath EP. Editors.
Occupational Medicine. 3
rd
ed. St.Louis : Mosby-Year Book Inc. 1994. p.
48-61.
7.
Melhorn JM The Impact of Workplace Screening on the Occurrence of
Cumulative Trauma Disorders and Worker's Compensation Claims.
J. Occup Environ Med. 1999 : 41 : 84-90.
8.
Melhorn JM, Wilkinson L, Gardner P, Horst WD, Silkey B. An Outcome
Study on Occupational Medicine Intervention Program for the Reduction
of Musculo Skeletal Disorders and Cumulative Trauma Disorders in the
Workplace. J Occup Environ Med. 1999 : 41 : 833-35, 43-44.
9.
Fine LJ, Silverstein BA. Work-Related Disoreders of the Neck and Upper
Extremitiyes. Musculo Skeletal Disorders.In : Levy BS, Wegman DH.
editors. Occupational Health. Reeognizing and Preventing Work-Related
Disease and Injury. 4
th
ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins ;
2000. p. 516-31.
When drink goes in
10.
Cherniack M. Upper Extremity Disorders. Musculo Skeletal Disoreders.
In : Rosentock L, Cullen MR. editors. Text Book of Clinical Occupa-
tional and Environmental Medicine. Philadelphia : WB Saunders Com-
pany : 1994. p. 376-82
11.
Pransky G, Feurstein M, Himmelstein J, Katz JN, Vickers Lahti M,
Measuring Functional Outcomes in work-related Upper Extremity
Function Scale. J. Occup Environ Med : 1997 ; 39 : 1195-97.
12.
Feuerstein M, Huang GD, Haufler AJ, Miller JK. Development of a
Screen for Prediting Clinical Outcomes in Patients with work-related
Upper Extremity Disorders. J Occup Environ Med ; 2000 : 42 : 749-50.
13.
Feurstein M, Amstrong T, Hickey P, Lincoln A. Computer Keyboard
Force and Upper Extremity Symptoms. J Occup Environ Med. 1997 ; 39 :
1144-45.
14.
Pransky G, Benyamin K, Himmelstein J, Mundt K, Morgan W, Feurstein
M. et all. Work-related Upper Extremity Disorders : Prospective
Evaluation of Clinical and Functional Outcomes. J Occup Environ Med.
1999 ; 41 : 884-85.
15.
Pransky G, Longs R, Hammer K, Schulz LA, Himmel Steim J, Fauke J,
Screening for Carpal Tunnel Syndrome in the Workplace. An. Analysis of
Portable Nerve Conduction Device. J Occup Environ Med. 1997 ; 39 :
727-29.
16.
Feurstein M, Miller VL, Burrel LM, Berger R. Occupational Upper
Extremity Disorders in the Federal Workforce. Prevalence. Health Care
Expenditures and Pattern of Work Disability. J Occup Environ Med.
1998; 40 : 546-47, 51-54.
17.
Buckle P. Ergonomic Stressor Related to Neurological Disorders of the
Upper Limbs. In : Bleecker ML, editor. Occupational Neurology and
Clinical Neurology. Baltomore : Williams & Wilkins ; 1994. p. 253-59.
18.
Grant JCB. editor. An Atlas of Anatomy. 6
th
ed. Baltimore : the Williams
& Wilkins Co. 1972. Fig. 66, 1, 68, 1, 84.
19.
Weeks JL, Levy BS, Wagner GR. (eds.) Carpal Tunnel Syndrome. Part 2
: Occupational Disease and Injuries. Washington : American Public
Health Association. 1991. p. 194-201.
20.
Allampalam K, Chakraborty J, Bose KK, Robinson J. Explant Culture,
Immunofloureseence and Electron Microscopic Study of Flexor
Retinaculum in Carpal Tunnel Syndrome. J Occup Environ Med. 1996 ;
38 : 164-65.
21.
National Institute of Occupational and Safety NIOSH Facts. Carpal
22.
Bleecker ML. Clinical Presentation and Treatment of Nerve Entrapment
Occuring in the Workplace. In : Occupational Neurology and Clinical
Neurotoxicology. Baltimore : Williams & Wilkins : 1994. p. 269-74.
23.
Hooglund FT. Byl NN. Carpal Tunnel Syndrome Injuries of the Elbow,
Wrist and Hand. Musculo Skeletal Injuries. In : La Dou J. editor.
Occupational & Environmental Medicine. 2
nd
ed. Stanford : Applleton &
Lange. 1997. p. 75-6.
24.
Checkosky CM, Bolano Wiski SJ, Cohen SJ. Assessment of Vibrotactile
Sensitivity in Patients With Carpal Tunnel Syndrome. J Occup Environ
Med. 1996 ; 38 : 593-95.
25.
Gross AS, Louis DS, Carr KA, Weiss SA. Carpal Tunnel Syndrome : A
Clinicopathology Study. J Occup Environ Med. 1995 ; 37 : 437-41,
26.
Pelmear PL, Wills M. Input Vibration and Hand-Arm Vibration
Syndrome. J Occup Environ Med. 1997 ; 39 : 1092-94.
27.
Nordstrom DL, Vierkant RA, Destefano F, Layde PM. Risk Factors for
Carpal Tunnel Syndrome a General Population Occup and Environ Med.
1997 ; 54 : 734-37.
28.
Keniston RC, Nathan PA, Leklem JA, Lockwood RS. Vitamin B6,
Vitamin C and Carpal Tunnel Syndrome. J Occup Environ Med. 1997 ;
39 : 949-57.
29.
Banta CA. A Prospective, Non Randomized Study of Iontophoresis,
Wrist Splinting and Anti Inflammatory Medication in the Treatment of
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
20