background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 25
Pengobatan Tuberkulosis Paru
Wibowo Suryatenggara
UPFParu Bagian Pulmonologi Faku'tas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta
PENDAHULUAN
Pengobatan tuberkulosis paru saat ini seharusnya tidak me-
rupakan persoalan lagi. Mengapa? Karena penyebab penyakit ini
sudah diketahui dengan pasti, sarana penunjang diagnostiknya
ada, obat yang ampuh ada, dokternya sudah berlebihan sampai
banyak yang tidak mendapat penempatan. Tetapi, kenyataan
membuktikan bahwa pengobatan tuberkulosis tidak semudah
yang diperkirakan. Banyak faktor yang harus diperhatikan yang
sangat mempengaruhi keberhasilan pengobatan. Lamanya
waktu pengobatan, kepatuhan serta keteraturan penderita ber-
obat, daya tahan tubuh penderita dan yang tak kalah penting-
nya adalah faktor sosial ekonomi penderita.
Dalam makalah ini akan dikemukakan sejarah pengobatan
tuberkulosis paru, obat-obat yang sering digunakan saat ini serta
dosis yang dianjurkan, paduan obat yang sering digunakan, hal-
hal yang perlu diperhatikan, keadaan apa yang memerlukan
tindakan pembedahan, serta hal-hal yang berkaitan dengan
penyakit tuberkulosis.
SEJARAH PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU
Sebelum ditemukannya obat anti tuberkulosis (OAT) maka
pengobatan yang utama adalah istirahat.'
3
Banyak sanatorium
didirikan ditempat yang sejuk, banyak sinar matahari, sekaligus
berfungsi sebagai tempat isolasi. Makanan bergizi serta minyak
ikan tidak dilupakan. Para ahli bedah kemudian memainkan
peranan. Macam-macam operasi dilakukan mulai dari pe-
lumpuhan nervus phrenicus, torakoplasti, sampai reseksi bagian
paru yang rusak. Hasilnya kurang memuaskan karena banyak
komplikasi yang didapatkan.
2
Setelah ditemukannya OAT barn
komplikasi operasi dapat dikurangi.
Pengobatan tuberkulosis dengan OAT dulu biasanya hanya
berupa pemberian obat tunggal dan hanya dalam waktu yang
singkat.
3
Hasilnya ternyata kurang memuaskan karena banyak
dijumpai kekambuhan disebabkan masalah resistensi. Timbul
pemikiran untuk memperpanjang waktu pengobatan untuk me-
ngurangi kekambuhan serta menggunakan kombinasi obat
.
untuk mencegah timbulnya resistensi. Itulah sejarahnya hingga
pengobatan memerlukan waktu 1 -- 2 tahun.
Pengobatan yang lama dengan kombinasi OAT akan mem-
berikan hasil yang baik asal penderita berobat dengan teratur.
Seringkali kegagalan terjadi karena penderita tidak mau meng-
ikuti program pengobatan yang dirasakan sangat menyiksa.
Oleh karena itu para ahli mencari pacjuan obat yang dapat mem-
persingkat waktu pengobatan tanpa meninggikan angka ke-
kambuhan. Hal ini baru menjadi kenyataan setelah ditemukan-
nya rifampisin, obat yang sangat ampuh untuk memerangi
tuberkulosis. Dicoba untuk mempersingkat waktu pengobatan
menjadi 9 bulan, 6 bulan dengan basil yang baik. Dicoba untuk
lebih mempersingkat lagi menjadi 4
1
/2
bulan, bahkan menjadi 3
bulan.
4 5
Dengan ditemukannya OAT yang ampuh maim pembedahan
untuk tuberkulosis paru jauh berkurang karena sebagian besar
penderita sudah dapat disembuhkan.
OBAT ANTI TUBERKULOSIS
OAT yang sering digunakan dewasa ini adalah isoniazid (H),
rifampisin (R), pirazinamid (Z), streptomisin (S) dan etambutol
(E). Semua obat ini bersifat bakterisid kecuali etambutol yang
bersifat bakteriostatik.
6
Aktivitas OAT yang berhubungan
dengan keadaan metabolisme kuman, serta tempat kerjanya
apakah intra atau ekstra seluler, dapat dilihat pada tabel I.
Dosis obat yang dianjurkan oleh International Union Against
Tuberculosis (IUAT) tahun 1986' dapat dilihat pada tabel 2.
Menurut buku farmakologi Goodman & Gilman dosis pira-
zinamid antara 20 -- 35 mg/kg BB dan diberikan dalam dosis
terbagi 3 -- 4 kali.
8
Macam-macam Pengobatan Tuberkulosis Par
Saat ini dikenal dua macam sistem pengobatan tuberkulosis
paru yaitu pengobatan jangka panjang dan pengobatan jangka
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
26
Tabel 1. Aktivitas OAT berhubungan dengan keadaan metabolisme kuman.
Kuman lambat membelah
Nama Obat
Kuman aktif
membelah
pH asam
pH netral
intra/ekstra
seluler
Bakterisid
Isoniazid
Rifampi sin
Pirazinamid
Streptomisin
Bakteriostatik
Etambutol
+ +
+ +
0
+ + +
+
+
+
+ +
0
+
t
+
0
0
0
intra & ekstra
intra & ekstra
intra
ekstra
intra & ekstra
menghambat
timbulnya mutan
yang resisten
Dikutip dari : Am Rev Respir Dis 1982; 125 : 94 Koch Centennial Supplement.
Tabel 2. Dosis obat menurut IUAT 1986
Dosis hari an
Dosis berkala
Dewasa Dewasa
Obat
Dewasa
anak
mg/kg BB
BB
Dosis
Dewasa &
anak
mg/kg BB
BB Dosis
Isoniazid 5
-
300
mg 15 -
-
Rifampisin
10
< 50 kg 450 mg
15
- 600-900 mg
> 50 kg 600 mg
Pirazinamid 35
<
50
kg
1.5
g
50
< 50 kg
2.0 g
> 50 kg
2.0 g 3x/minggu > 50 kg
2.5 g
75 <50kg 3.0g
2x/minggu > 50 kg 3.5 g
Streptomisin
15 - 20
< 50 kg 750 mg 15 - 20
< 50 kg 750 mg
I>50kg
1g
>50kg 1g
Etambutol
25 - 2 bulan - -
30 -
-
pertama
3x/minggu
lalu 15
45
2x/minggu
pendek. Pengobatan jangka pendek saat ini lebih disenangi
karena jangka waktu pengobatannya yang lebih singkat serta
hasil pengobatan yang lebih baik, hanya biaya pengobatan
umumnya lebih tinggi. Satu hal yang hendaknya diperhatikan
dalam mengobati penderita tuberkulosis yaitu menggunakan
obat terbaik yang dapat dijangkau penderita pada pengobatan
pertama agar penderita dapat sembuh dengan sempuma.
Pengobatan tuberkulosis masih memerlukan waktu sedikit-
nya 6 bulan walaupun dewasa ini sudah ditemukan obat yang
bakterisid. Hal ini disebabkan karena pada seorang penderita
tuberkulosis terdapat erupat kelompok kuman yang berbeda
sifatnya.
1 3
Paduan Obat Untuk Pengobatan Jangka Pendek
Pada pengobatan jangka pendek, paduan obat yang dianjur-
kan oleh IUAT adalah 2 HRZ 4 HR Sedangkan yang digunakan
oleh program di Indonesia adalah 1 HRE 5 H2 R2. Menurut
IUAT fase lanjutan dapat diberikan 3 atau 2 kali seminggu jadi
2 HRZ 4 H3 R3 atau 2 HRZ 4 H2 R2. Di RS Persahabatan
HR adalah inti dari paduan obat dan sebagai obat ketiga dapat
dipilih antara Z, S, atau E. Bila di suatu populasi diketahui
adanya resistensi primer yang tinggi maka sebaiknya digunakan
4 macam obat pada fase permulaan pengobatan jadi SHRZ
atau EHRZ.
Pengobatan jangka pendek dapat dilakukan dengan paduan
obat tanpa rifampisin, tetapi penelitian di Hongkong menunjuk-
kan bahwa dengan paduan SHZ hasilnya barn baik bila diberikan
selama 9 bulan (tabel 3).
Tabel 3. Hongkong trial / BMRC
3
Paduan obat
Kekambuhan ( % )
6 SHZ
13
6S3H3Z3 16
6S2H2Z2 18
6 S H Z / 3 S 3 H 3 Z 3 3
9S3H3Z3 4
9S2H2Z2_ 4
Pada pengobatan tanpa rifampisin· maka pirazinamid hams
diberikan terus selama jangka waktu pengobatan. Penelitian
Handoyo
9
di Malang menunjukkan bahwa paduan 1 HZE
5 H2 Z2 E2 memeerikan konversi pada bulan kedua sebesar
92% dan angka kekambuhan hanya sebesar 2%. Kleeberg
10
dengan paduan 3 HZE 6 HE mendapatkan konversi pada bulan
kedua hanya sebesar 67%.
Paduan obat untuk pengobatan jangka panjang
Paduan yang sampai saat ini masih dipakai dalam program di
Indonesia adalah 1 SHZ 11 S2 H2. Dengan paduan obat ini
angka putus berobat yang didapat umumnya tinggi sekali.
11
12
Di RS Persahabatan dipakai paduan SHE. Streptomisin diberi-
kan sekitar 90 -- 100 kali suntikan, INH dan etambutol terus
diberikan selama 1 -- 1'/2 tahun. Paduan yang dulu sering di-
gunakan adalah SPH, streptmisin, PAS dan INH yang sekarang
tidak pernah digunakan lagi.
PENGOBATAN PEMBEDAHAN
Umumnya pembedahan untuk penderita tuberkulosis paru
jarang sekali diperlukan bila penderita cepat berobat dan diobati
dengan paduan obat yang baik. Indikasi pembedahan ialah bila
terjadi batuk darah yang tidak dapat diatasi dengan tindakan
konservatif atau dahak penderita, tetap mengandung kuman
setelah pengobatan yang adekuat. Indikasi lain adalah timbulnya
empiema yang tidak mau sembuh dengan terapi konservatif.
KEGAGALAN DAN KEKAMBUHAN
Faktor utama yang menyebabkan kegagalan pengobatan
umumnya adalah ketidak teraturan penderita berobat. Ke-
kambuhan umumnya disebabkan karena penderita menghenti-
kan pengobatan sebelum waktunya. Penyebab kedua ini hams
kita perhatikan dan jangan hanya menyalahkan penderita saja.
Mungkin penderita kurang diberi penjelasan, mungkin juga
obat yang diberikan terlalu mahal atau mungkin juga tarif
dokternya yang terlalu mahal untuk penderita.
Bila terjadi kekambuhan setelah pengobatan yang teratur
maka biasanya masih dapat diberikan paduan obat yang sama
dengan waktu pemberiannya lebih lama, atau dapat diganti
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 27
dengan paduan obat yang lebih kuat. Bila terjadi kegagalan
pengobatan maka paduan obat hams diganti dengan paduan
obat yang sedikitnya mengandung dua macam obat yang belum
pernah diberikan sebelumnya. Data mengenai tes resistensi
sangat berguna untuk pemilihan OAT yang akan diberikan.
Seringkali diperlukan kombinasi 4 macam obat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.
Diagnosa yang benar
2.
Paduan obat terbaik yang dapat dijangkau oleh penderita
3.
Penerangan atau penyuluhan kesehatan pada penderita
4.
Perhatikan adanya penyakit yang dapat menghambat pe-
nyembuhan seperti diabetes mellitus, AIDS
5.
Evaluasi pengobatan yang meliputi
a.
Evaluasi klinis
b.
Evaluasi bakteriologis
c.
Evaluasi radiologis
d.
Evaluasi efek samping obat
Chest
1979;
76 : 771 Supplement
Pengobatan tuberkulosis masih memerlukan waktu sedikit-
nya 6 bulan walaupun dewasa ini sudah ditemukan obat yang
bakterisid. Hal ini disebabkan karena pada seorang penderita
tuberkulosis terdapat empat kelompok kuman yang berbeda
sifatnya.
13
Mitchison membagi kuman tuberkulosis dalam 4 kelompok.
Kelompok A merupakan kelompok terbesar yaitu kuman yang
aktif membelah. Kelompok ini dapat dengan cepat dimusnahkan
oleh INH, rifampisin dan streptomisin. Kelompok B yaitu ke-
lompok kuman yang lambat membelah dan berada dalam
lingkungan asam. Kelompok ini dapat dimusnahkan oleh pira-
zinamid. Kelompok C yaitu kelompok kuman yang hanya pada
waktu tertentu saja menunjukkan aktivitas pembelahan. Ke-
lompok ini hanya dapat dimusnahkan oleh rifampisin. Ke-
lompok D yaitu kelompok yang tidak menunjukkan aktivitas
sama sekali yang umumnya tidak dapat dimusnahkan oleh OAT
yang ada saat ini. Dapat dimaklumi bahwa diperlukan waktu
yang lama agar semua kuman terutama kelompok B, C dan D
dapat terbunuh.
KEADAAN - KEADAAN KHUSUS YANG MENYERTAI
TUBERKULOSIS
Tuberkulosis dengan kehamilan
Pengalaman para ahli paru di Indonesia umumnya mengata-
kan bahwa OAT dapat diberikan pada penderita TB yang hamil.
Menurut Goodman & Gilman (1985) sebaiknya rifampisin
jangan digunakan pada kehamilan. Brosur obat yang beredar di
Indonesia menyebutkan sebaiknya rifampisin jangan digunakan
pada trimester pertama kehamilan dan pirazinamid jangan di-
gunakan pada kehamilan. Rekomendasi yang diberikan oleh
IUAT 1986 hanya menyebutkan streptomisin yang tidak boleh
digunakan pada kehamilan. Sebaliknya pada wanita yang meng-
gunakan pil anti hamil maka manfaat pilnya akan berkurang
bila diberi rifampisin.
Tuberkulosis pada bayi dan anak.
IUAT memberikan perhatian bahwa etambutol tidak boleh
digunakan pada bayi dan anak kecil karena mereka tidak dapat
mengatakan bila ada gangguan pada penglihatannya. Secara
teoritis sebaiknya streptomisin juga jangan digunakan karena
efek sampingnya sulit dideteksi.
Tuberkulosis dengan gangguan fungsi ginjal.
Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal maka strepto-
misin dan etambutol sebaiknya tidak diberikan. H, R dan Z dapat
diberikan dengan dosis biasa.
7
Tuberkulosis dengan gangguan fungsi hepar.
Pada penderita dengan gangguan fungsi hepar kita hams
pertimbangkan baik-baik apakah memang OAT memang perlu.
OAT yang dapat digunakan dengan aman adalah etambutol dan
streptomisin. Rifampisin dan INH pun dapat diberikan dengan
pengawasan.
14
Umumnya para ahli sepakat bila timbul ikterus
maka OAT harus dihentikan.
13
14
Tuberkulosis dan diabetes mellitus.
Kombinasi penyakit ini tidak menjadi masalah asalkan kedua
penyakit ini diobati sekaligus. Sering terjadi diabetesnya tidak
terdeteksi hingga penyembuhan tuberkulosis kurang balk. Perlu
diperhatikan bahwa rifampisin dapat mengurangi khasiat obat
anti diabetes golongan sulfonilurea.
7
8
Tuberkulosis dengan AIDS.
Hubungan antara tuberkulosis clan AIDS cukup menarik
perhatian. Di Amerika dilakukan pemeriksaan serologis untuk
mendeteksi HTLV III pada 71 orang penderita tuberkulosis.
Temyata 31% serologis positif. Pada kelompok dengan reaksi
serologis yang positif ini didapatkan reaksi tuberkulin yang
negatif, gambaran radiologis yang atipik dan sering ditemukan
TB kelenjar.
16
Walaupun penderita AIDS di Indonesia masih
jarang, kita hams waspada bila mendapatkan kasus seperti di
atas atau penderita tuberkulosis yang tidak sembuh walaupun
sudah diberikan pengobatan yang adekuat.
RINGKASAN
Telah dibicarakan sejarah pengobatan tuberkulosis paru
mulai dari masa sebelum adanya OAT sampai saat ini. Peng-
obatan masa kini menggunakan obat yang bersifat bakterisid
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
28
yaitu H, R, Z dan S dan satu obat yang bersifat bakteriostatik
yang sering digunakan adalah E. Paduan obat utama yang di-
anjurkan adalah 2 HRZ 4 HR Juga dikemukakan paduan lainnya
bila paduan di atas tidak bisa diberikan.
Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengobatan
tuberkulosis adalah :
1)
Diagnosis yang benar
2)
Paduan obat terbaik yang dapat dijangkau penderita
3)
Penerangan atau penyuluhan kesehatan
4)
Perhatikan adanya penyakit yang dapat menghambat pe-
nyembuhan seperti diabetes mellitus dan AIDS
5)
Evaluasi pengobatan
Juga telah dibicarakan indikasi pembedahan serta keadaan-
keadaan khusus yang dapat menyertai tuberkulosis.
KEPUSTAKAAN
1.
Rasmin Rasjid. Pengobatan tuberkulosis paru. Simposium peningkatan
pelayanan dalam pengobatan tuberkulosis paru, Yogyakarta 1981; 50.
2.
Gaensler EA. The surgery for pulmonary tuberculosis. Am Rev Respir Dis
1982; 125 : 73 ­ 82. Koch Centennial Supplement..
3.
Fox W. Mitchison DA. Short course chemotherapy for pulmonary tuber-
culosis, State of the Art. Am Rev Respir Dis 1975; 111 : 325 - 53.
4.
Mehtora HL, Gautam KD, Chaube CK. Shortest possible acceptable
effective ambulatory chemotherapy in pulmonary tuberculosis Preliminary
report, Am Rev Respir Dis 1981; 124 : 239 - 44.
5.
Fox W. Whither short course chemotherapy. Br J Dis Chest 1981; 75 :
331-57.
6.
Stead WW, Dutt AK Chemotherapy for tuberculosis today. Am Rev
Respir Dis 1982; 125 : 94 - 101. Koch Centennial Supplement
7.
Girling DJ, Chaulet P, Pamra SP, Pilheu JA. Antituberculosis regimens of
chemotherapy. Recomendations from the Committee on Treatment of the
International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases. Singapore
1986.
8.
Mandel GL, Sande MA. Antimicrobial agents. Drug use in the chemo-
therapy of tuberculosis and leprosy. In : Gilman AG, Goodman LS,
Rall TW, Murad F, eds. The Pharmacological Basis of Therapeutics,
7th ed New York, Mecmillan 1985 : 1199 - 212.
9.
Handojo RA. Peranan ethambutol dan pyrazinamid pads paduan obat anti-
tuberkulosis jangka pendek. Pam 1983; 3 : 295 - 300.
10.
Kleeberg HH. Ethambutol and pyrazinamide in short course (9 month)
chemotherapy regimens. A synopsis of the scientific session XXV World
Congress IUAT, Argentina 1982.
11.
Gunardi AS. Pengobatan jangka pendek dalam pemberantasan penyakit
tuberkulosis paru. Kumpulan Naskah Lengkap'Kongres DPI I Jakarta
1977:11-6.
12.
Gunawan H, Layarda B, Linardi J. Pilot project pengobatan tuberkulosis
paru dengan regimen INH dan rifampisin. Kumpulan Naskah Lengkap
Kongres IDPI I Jakarta 1977 : 43 - 61.
13.
Mitchison DA. Basic mechanism of chemotherapy. Chest 1979; 1978 :
771 - 81 Supplement.
14.
Girling DJ. The hepatic toxicity of antituberculosis regimens containing
isoniazid, rifampicin and pyrazinamide. Tubercle 1978; 59 : 13 - 32.
15.
Overcoming Tuberculosis. Rimactane the decisive step. Diedarkan oleh
Ciba pada Regional Congress IUAT XIII di Jakarta, 1983.
16.
Pitchenik AE, Burr J, Suarez M, et al. Human T-cell lymphotropic virus
III (HTLV-III) seropositivity and related disease among 71 consecutive
patients in whom tuberculosis was diagnosed. Am Rev Respir Dis 1987;135 :
875 - 9.