HASIL PENELITIAN
Pengaruh Obat Antihipertensi
dengan Eliminasi melalui Ginjal
yang Berbeda terhadap Fungsi Ginjal
pada Penderita Hipertensi
dengan Gangguan Fungsi Ginjal
Ringan dan Sedang
Muhammad Yusuf Nasution
Divisi Nefrologi/Hipertensi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,
Rumah Sakit H Adam Malik, Medan
ABSTRAK
Pemakaian obat anti hipertensi (OAH) Lisinopril (L) yang eliminasinya seluruhnya
melalui ginjal pada penderita hipertensi dengan gagal ginjal ringan dan sedang
diperkirakan akan memperburuk fungsi ginjal dibandingkan dengan OAH yang
eliminasinya tidak seluruhnya melalui ginjal (Fosinopril=F).
Untuk itu dilakukan penelitian dengan membandingkan OAH kelompok 10 mg F
dengan kelompok 10 mg L pada 20 penderita hipertensi dengan gagal ginjal ringan dan
sedang. Didapatkan bahwa baik kelompok 10 mg F maupun 10 mg L tidak memburuk
fungsi ginjalnya; Klirens Kreatinin (KK) dengan 10 mg F sebelum pemberian OAH
(53,86
±28,52) dan KK setelah pemberian obat (53,82±28,92) tidak berbeda bermakna
(p=0,49). Demikian juga dengan 10 mg L, KK sebelum pemberian 10 mg L
(66,30
±25,67) dan KK (63,88±39,01) setelah pemberian obat tidak berbeda bermakna
(p=0,43). Jika diperbandingkan antara kelompok 10 mg F dan 10 mg L ternyata tidak
dijumpai perbedaan bermakna (p=0,6).
Kadar kreatinin sebelum pemberian obat (3,06
±0,62) dan setelah pemberian obat
10 mg F (2,75
±0,79) tidak berbeda bermakna (p=0,17). Demikian pula pada kelompok
10 mg L perubahan nilai kreatinin tidak berbeda bermakna (p=0,11). Perbandingan
kelompok 10 mg F dengan 10 mg L berbeda bermakna (p<0,05).
Rasio klirens asam urat dengan klirens kreatinin (KK) sebelum pemberian 10 mg F
(0,069
±0,03) dan setelah pemberian 10 mg F (0,05±0,04) tidak memburuk, dan rasio
klirens asam urat dengan KK tidak berbeda bermakna (p=0,12). Juga di kelompok 10
mg L; tidak terjadi perburukan fungsi ginjal, dan rasio klirens asam urat dengan KK
tidak berbeda bermakna (p=0,48). Perbandingan rasio klirens asam urat dengan KK
kelompok 10 mg F dengan 10 mg L berbeda bermakna (p>0,05).
Pemberian OAH 10 mg L yang eliminasinya seluruhnya melalui ginjal tidak
memperburuk fungsi ginjal pada penderita hipertensi gagal ginjal ringan dan sedang.
Akan tetapi golongan F hasilnya lebih baik dibandingkan dengan golongan L.
PENDAHULUAN
Hipertensi selalu menyertai gagal ginjal/gangguan fungsi
ginjal; diperkirakan ±85% penyakit gagal ginjal disertai hiper-
tensi
(1,2)
yang akan lebih memburuk fungsi ginjal penderita
bersangkutan sehingga morbiditas dan mortalitas akan mening-
kat; oleh karena itu diperlukan perhatian dan penanganan yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
16
khusus, terutama pemilihan obat antihipertensi (OAH). Seperti
diketahui beberapa jenis OAH mempunyai jalur eliminasi yang
berbeda seperti Lisinopril yang jalur eliminasinya tidak
seluruhnya melalui ginjal tetapi melalui ginjal dan hati
(3-7)
.
Beberapa penelitian menunjukkan OAH yang seluruhnya
dieliminasi melalui ginjal akan menumpuk pada penderita
dengan gangguan fungsi ginjal sehingga akan lebih memper-
berat fungsi ginjal, oleh karena itu diperlukan penyesuaian
dosis
(8)
, sedangkan OAH yang tidak seluruhnya dieliminasi
melalui ginjal dapat bersifat lebih renoprotektif. Namun demi-
kian sampai saat ini belum ada penelitian yang khusus untuk
ini. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mencoba mem-
buktikan apakah OAH yang seluruh jalur eliminasinya melalui
ginjal (Lisinopril) dapat lebih memperburuk fungsi ginjal
dibandingkan dengan OAH yang eliminasinya tidak seluruh-
nya melalui ginjal (Fosinopril). Penelitian ini dilakukan pada
penderita hipertensi dengan gagal ginjal ringan dan sedang
yang ditentukan melalui kadar serum kreatinin.
BAHAN DAN CARA
Setiap penderita yang akan menjalani penelitian ini diberi
penjelasan tentang semua hal yang berkenaan dan diminta
mengisi informed consent. Penderita dibagi 2 kelompok
masing-masing yaitu:
Kelompok I : mendapat Fosinopril 10 mg per hari (Acenor-
M
®
, BMS).
Kelompok II : mendapat Lisinopril 10 mg per hari (Zestril
®
,
Zeneca).
Hipertensi adalah bila tekanan darah sistolik
140 mm Hg
dan/atau tekanan darah distolik
90 mm Hg. Gangguan fungsi
ginjal ringan dan sedang adalah bila serum kreatinin 2-4 mg/dl.
Umur penderita 18-65 tahun, laki-laki dan perempuan.
Penderita yang sebelumnya telah mendapat OAH dihentikan
pemberiannya dan diberi plasebo dalam bentuk kapsul selama
2 minggu. Semua obat yang dapat menaikkan tekanan darah
dan mengganggu fungsi ginjal tidak boleh diberikan.
Penderita yang tidak masuk dalam penelitian ialah hiper-
tensi sekunder, nefropati obstruktif, gangguan pembuluh darah
otak, angina pektoris, payah jantung dan diabetes mellitus dan
dikeluarkan dari penelitian bila mutlak memerlukan ACE-I
seperti MCI dan lain-lain, bila terjadi perburukan fungsi ginjal
dengan penurunan kreatinin >25% dari data dasar dan adanya
efek samping yaitu batuk yang tidak dapat diatasi, angiodema,
dll.
Obat diberikan malam hari jam 20.00 WIB; bila terjadi
hipertensi krisis/berat dan pada keadaan lain yang dianggap
perlu dapat diberikan OAH Ca antagonis atau golongan
lainnya yang aman untuk fungsi ginjal. Penelitian ini dilakukan
secara Prospective Randomized Open Blind End Method.
Pengukuran tekanan darah dilakukan memakai alat sphyg-
momanometer Nova-Standard terhadap semua penderita dalam
posisi berbaring dan posisi berdiri. Sebelum diukur penderita
istirahat 5 menit untuk pengukuran dalam posisi berbaring dan
1 menit untuk pengukuran dalam posisi berdiri. Pengukuran
tekanan darah posisi berbaring dilakukan sampai 3 kali. Nilai
rata-rata tekanan darah pada pengukuran kedua dan ketiga
dipakai sebagai nilai tekanan darah dalam posisi berbaring,
sedangkan untuk penderita dengan posisi berdiri cukup dengan
satu kali pengukuran. Tekanan darah diukur pada minggu 2,
1-, 0 dan seterusnya setiap minggu sampai akhir penelitian (6
minggu).
Pemeriksaan KK dilakukan dengan metode 4 jam. Pen-
derita dipuasakan sejak malam sampai diperiksa pagi hari (±
jam 08.00 pagi) selama ± 10 jam. Pada pagi hari sebelum
diperiksa penderita disuruh mengosongkan kandung kemih
(buang air kecil) sampai benar-benar kosong, kemudian
minum 250 ml air. Kandung kemih dikosongkan setiap 60
menit dan diberi minum 200 ml setiap 60 menit sampai 4 jam.
Sampel darah dan urin diambil untuk diperiksa klirens
kreatininnya.
Nilai ditentukan dengan rumus :
Kadar Kreatinin urin (a) Volume urin 4 jam/L (c)
KK =
X
Kadar Kreatinin darah (b)
240
aXc
KK =
240
b
Pemeriksaan Kreatinin dilakukan dengan reaksi Jafre
dengan memakai alat spectronic (MILTONROY).
Pemeriksaan fungsi tubulus proximal ginjal dilakukan
dengan pemeriksaan reabsorbsi asam urat yaitu pemeriksaan
ekskresi asam urat dengan Rasio klirens asam urat dengan KK,
dengan cara sebagai berikut: Urin dikumpulkan selama 24 jam.
Sampel urin dan darah diambil untuk diperiksa. Nilainya
ditentukan dengan rumus:
Klirens
asam
urat
KK =
Klirens
kreatinin
Metode yang dipakai untuk pemeriksaan yaitu: Enzymatic
Calorimetric dengan alat Vitalab Selectra. Juga dilakukan
pemeriksaan laboratorium terhadap semua penderita yang
diteliti berupa: darah rutin, urinalisa, ureum kreatinin, asam
urat, elektrolit darah, lipid profile, kadar gula darah, Ca, P, Mg
dengan memakai metode dan alat-alat yang standard.
Uji Statistik
Data yang diperoleh dipresentasikan sebagai nilai rata-rata
± simpangan baku (Mean ± SD) dan SEM dan dianalisis secara
statistik dengan nilai uji t yang bukan berpasangan mengguna-
kan perangkat lunak komputer Microstat. Nilai p<0,05 dinyata-
kan sebagai perbedaan bermakna.
HASIL
Kreatinin serum rata-rata sebelum pemberian Lisinopril 10
mg (3,22±0,75) dan Fosinopril 10 mg (3,06±0,62) tidak
berbeda bermakna (p=0,3) (Tabel 1).
Kadar kreatinin serum setelah pemberian 10 mg Fosinopril
makin menurun sesuai dengan masa pengamatan dan
sebaliknya dengan 10 mg Lisinopril makin meningkat, per-
bedaan kadar kreatinin bermakna setelah 6 minggu (p<0,05)
(Tabel 1 dan Gambar 1).
Klirens Kreatinin sebelum pemberian Fosinopril
(53,86±28,5) dan Lisinopril (66,30±25,67) tidak berbeda ber-
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 17
makna (p=0,16) (Tabel 2).
Klirens Kreatinin setelah pemberian 10 mg Fosinopril tidak
berubah sedangkan setelah pemberian 10 mg Lisinopril terjadi
penurunan. Perbedaan Klirens Kreatinin tidak bermakna
(p=0,26) antara setelah pemberian 10 mg Fosinopril dengan
setelah pemberian 10 mg Lisinopril (Tabel 2 dan Gambar 2).
Rasio Klirens Asam Urat dengan Kilrens Kreatinin se-
belum pemberian 10 mg Fosinopril (0,069±0,03) dan 10 mg
Lisinopril (0,15±0,15) tidak berbeda bermakna (p=0,067)
(Tabel 3).
Rasio Klirens Asam Urat dengan Klirens Kreatinin setelah
pemberian 10 mg Fosinopril tidak bertambah demikian juga
pada pemberian 10 mg Lisinopril. Perbedaan Rasio Klirens
Asam Urat dengan Klirens Kreatinin antara 10 mg Fosinopril
dengan 10 mg Lisinopril bermakna (p<0,05) (Tabel 3 dan
Gambar 3).
Tabel 1. Perbandingan kreatinin sebelum dan setelah pemberian 10 mg
Lisinopril dan 10 mg Fosinopril.
M0 M1 M2 M4 M6
p
Lisinopril 3,22±0,75 3,37±0,91 3,34±1,06 3,67±1,69 4,11±2,14 0,11
Fosinopril 3,06±0,62 3,22±0,39 3,10±0,51 2,94±0,60 2,75±0,79 0,17
p 0,3
0,31
0,26
0,11
0,037
Keterangan:
M0 = Minggu ke nol, M1 = Minggu ke satu, M2 = Minggu ke dua, M4 =
Minggu ke empat, M6 = Minggu ke enam
Gambar 1. Perbandingan kreatinin setalah pemberian 10 mg Lisinopril
dan 10 mg Fosinopril.
Tabel
2. Perbandingan Klirens kreatinin setelah pemberian 10 mg
Lisinopril dan 10 mg Fosinopril.
M0 M3 M6
p
Lisinopril 66,30±25,67 61,98±33,77 63,88±39,01 0,43
Fosinopril 53,86±28,52 52,68±27,08 53,82±28,92 0,49
p 0,16 0,25
0,26
Keterangan :
M0 = Minggu ke nol, M3 = Minggu ke tiga, M6 = Minggu ke enam.
Gambar 2. Perbandingan Klirens Kreatinin setalah pemberian 10 mg
Lisinopril dan 10 mg Fosinopril.
Tabel 3. Perbandingan Rasio Klirens asam urat dengan Klirens Kreatinin
setelah pemberian 10 mg Lisinopril dan 10 mg Fosinopril.
M0
M6
p
Lisinopril 0,15±0,15 0,15±0,16 0,48
Fosinopril 0,069±0,03 0,05±0,04 0,12
p 0,067
0,039
Keterangan :
M0 = Minggu ke nol, M6 = Minggu ke enam.
Gambar 3. Perbandingan Rasio Klirens asam urat dan Klirens Kreatinin
setalah pemberian 10 mg Lisinopril dan 10 mg Fosinopril.
DISKUSI
Dari hasil kreatinin serum sebagai salah satu dasar peng-
ukuran fungsi ginjal, pada penderita hipertensi dengan gagal
ginjal ringan dan sedang ternyata ada perbedaan bermakna
antara pemberian 10 mg Fosinopril dengan 10 mg Lisinopril.
10 mg Fosinopril diperkirakan lebih baik untuk fungsi ginjal
dibanding dengan 10 mg Lisinopril. Keadaan ini sesuai dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
18
KESIMPULAN
keterangan bahwa OAH yang tidak seluruhnya dieliminasi me-
lalui ginjal yaitu Fosinopril
(14)
lebih bersifat renoprotektif
(9-13)
.
Pemberian OAH 10 mg Lisinopril yang eliminasi seluruh-
nya melalui ginjal tidak memperburuk fungsi ginjal pada
penderita hipertensi dengan gagal ginjal ringan dan sedang.
Fosinopril memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan
dengan Lisinopril terhadap fungsi ginjal.
Namun demikian pemberian 10 mg Lisinopril ternyata
juga tidak memperberat fungsi ginjal (Tabel 1). Hal ini tidak
sesuai dengan beberapa penelitian yang menyatakan bahwa
OAH yang dieliminasi seluruhnya melalui ginjal akan me-
nyebabkan penumpukan dan akhirnya akan lebih memper-
buruk fungsi ginjal
(2,13)
.
KEPUSTAKAAN
KK yang juga merupakan salah satu cara untuk mengukur
fungsi ginjal menunjukkan hasil yang berbeda dengan kreati-
nin. Pada kelompok 10 mg Fosinopril, KK tidak berkurang
bermakna (Tabel 2); berarti Fosinopril tidak memperburuk
fungsi ginjal; sedangkan pada kelompok 10 mg Lisinopril, KK
berkurang tetapi tidak bermakna(Tabel 2). KK setelah
pemberian 10 mg tidak berbeda bermakna (Tabel 2 dan
Gambar 2). Keadaan ini tidak sesuai dengan keterangan
bahwa OAH yang seluruhnya dieliminasi melalui ginjal seperti
Lisinopril akan memperburuk fungsi ginjal. Keadaan ini
mungkin karena KK sebelum pemberian 10 mg Lisinopril
masih dalam batas aman untuk fungsi ginjal; penyesuaian
dosis hanya diperlukan bila KK 30-60 ml/menit
(6)
.
1.
Porter AG. Hypertension and Renal Desease, in Pharmacology and
Management of Hypertension ed. Stein JH. Churchil Livingstone Inc
1994; 3-4.
2.
Sica DA. Kinetics of Angiotensin Converting Enzyme Inhibitors in
Renal Failure. J Cardiovasc Pharmacol 1992; 20: 13-20.
3.
De Forrest JM, Waldron TL, Harvey C, Scales B, Mitch S, Powell JR.
Blood Pressure Lowering and Renal Hemodynamic Effects of Fosinopril
in Concious Animal Models. J Cardiovas Pharmacol 1990; 16: 139-46.
4.
Gansenvoort RT, Zeeuw DL, Shahiufar S, Reofield, De Young PE.
Effects of Angiotensin II Antagonist Losartan in Hypertensive Patients
with Renal Desease. J Hypertens 1994; 12: 17-41.
5.
Guthrie R : Fosinopril : an overview. Am J Cardiovasc 1993; 71: 22-4.
6.
Hui KK, Duchin KL, Kripalani KJ, Chamd et al. Pharmacokinetics of
Fosinopril in Patients with Various Degrees of Renal Function. Clin
Pharmacol Ther 1991; 457-67.
Hasil pemeriksaan Rasio klirens asam urat dengan KK
untuk mengetahui fungsi tubulus ginjal
(15)
menunjukkan per-
bedaan yang bermakna antara kelompok Fosinopril dengan
kelompok Lisinopril. Namun pada masing-masing kelompok
tidak dijumpai perbedaan bermakna antara sebelum dan setelah
pemberian obat (Tabel 3); ini berarti tidak terjadi perburukan
Rasio klirens asam urat dengan KK.
7.
Jindal LS. Hypertension and Kidney Dysfunction. Silent Partners with
Land Repercussions. Cardiovascular Update 6.
8.
Sica DA, Cutler RE, Parner RJ, Gord F. Comparison of the Steady State
Pharmacokinetics of Fosinopril, Lisinopril and Enalapril in Patients with
Chronic Renal Insufficiency. Clin Pharmacokinet 1991; 20: 420-27.
9.
Aurell M, Bengtsson C, Bjork S. Enalapril Versus Metoprolol in Primary
Hypertension. Effect on Glomerular Filtration Rate. Nephrol Dial
Transplant 1997; 12: 2289-94.
Dapat disimpulkan bahwa baik pemberian Fosinopril
maupun Lisinopril mempunyai efek yang sama dan tidak
memperburuk fungsi tubulus ginjal; hal ini tidak sesuai dengan
apa yang dikemukakan sebelumnya bahwa OAH yang di-
eliminasi seluruhnya melalui ginjal akan lebih memperburuk
fungsi ginjal. Ternyata Fosinopril cenderung memberikan hasil
yang lebih baik.
10.
Gehr TWB, Sica DA, Grasela DM, Duchin KL. The Pharmacokinetics
and Pharmacodynamics of Fosinopril in Hemodialysis Patients. Eur J
Clin Pharmacol 1991; 41: 165-69.
11.
Lucchelli P, Zuccala A. Recent Data on Hypertension and Progressive
Renal Disease. J Human Hypertens 1996; 10: 679-82.
12.
Madhavan S, Stockmell D, Cohen H, Alderma MH. Renal hypertension.
Lancet 1995; 345: 749-51.
13.
Weber MA. Overview of Fosinopril; A Novel ACE Inhibitor. Drug
Invest 1997; 3: 3-10.
Dari hasil yang diperoleh ternyata KK, Kreatinin, Rasio
Klirens asam urat dengan KK menunjukkan hasil yang hampir
sama. Baik kelompok Fosinopril maupun kelompok Lisinopril
tidak mempunyai pengaruh memperburuk fungsi ginjal.
Namun demikian Fosinopril yang jalan eliminasinya tidak
seluruhnya melalui ginjal cenderung lebih baik dibanding
dengan Lisinopril yang eliminasinya seluruhnya melalui ginjal.
14.
Kaplan UM. Hypertension with Chronic Renal Desease. Clinical
Hypertension. 7
th
ed. William and Wilkins. A Waverly Company.
Baltimore, Philadelphia, London, Paris, Bangkok, Buenos Aries,
Hongkong, Munich, Sydney, Tokyo. 1998; 281-4.
15.
Weller JMs, Hsu CH. Clinical Evaluation of Renal Function. In:
Fundamentals of Nephrology eds Weller JM. Harper and Row Publisher
Hagerstown, Maryland New York, San Fransisco, London 1979; 69-78.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 19