background image
Pengobatan/Perawatan
Pasien Ketergantungan NAPZA
Pasca Detoksifikasi
dr. Hartati Kurniadi SpKJ., MHA
Psikiater, Yayasan Jendela, Serpong Tangerang, Banten
PENDAHULUAN
Banyak orang, terutama yang awam tentang pengobatan
ketergantunqan napza, beranggapan bahwa setelah detoksi-
fikasi maka seharusnya anak/pasien itu sudah sembuh/baik
kembali seperti sebelum mereka tergantung pada napza atau
bahkan ada yang berharap bahwa anaknya dapat baik seperti
apa yang mereka harapkan.
Hal ini tentu saja akan menimbulkan kekecewaan baik
bagi orangtua maupun anak/pasien tersebut.
Detoksifikasi adalah langkah awal dari suatu proses pe-
nyembuhan pasien dengan ketergantungan napza; jadi setelah
langkah awal ini, perlu dilakukan langkah solanjutnya agar
pasien dapat tetap terbebas dari penggunaan napza.
Untuk fase awel ini masih dapat dilakukan pemaksaan
pada pasien, misalnya dengan diborgol dan pengawasan ketat
atau dilakukan dengan ultra rapid detoxification.
Tetapi untuk langkah selanjutnya perlu adanya kerjasama
yang baik dari pasien tersebut, keluarga, lingkungan dan
masyarakat sekitarnya.
Selanjutnya akan dibicarakan mengenai perawatan pasien
setelah terapi detoksifikasi yaitu habilitasi dan rehabilitasi.
HABILITASI
Perawatan ini ditujukan terutama untuk stabilisasi keadaan
mental dan emosi pasien sehingga gangguan jiwa yang sering
mendasari ketergantungan napza dapat dihilangkan atau di-
atasi. Keadaan ini merupakan langkah yang sangat panting,
sebab usaha rehabilitasi dan resosialisasi banyak tergantung
dari berhasil atau tidaknya tahap ini.
Pada tahap ini kadang masih ditemukan juga keadaan yang
kita sebut slip yang artinya episode penggunaan kembali napza
setelah berhenti menggunakan selama kurun waktu tertentu.
Atau dapat juga mereka terjatuh kembali menggunakan napza
secara tidak terkontrol setelah berhenti menggunakan napza
selama kurun waktu tertentu yang dikenal dengan istilah
relaps.
Oleh sebab itu pada tahap ini perlu dilakukan berbagai
bentuk terapi atau kegiatan yang sesuai dengan individu/
keadaan pasien tersebut. Jadi penanganan pada setiap pasien
tidak bisa disamaratakan, sangat personal.
Pada tahap ini tidak jarang farmakoterapi masih diperlukan
untuk mengobati gangguan jiwa yang mendasari keter-
gantungan napzanya. Dalam hal ini yang biasa dipakai adalah
golongan anti-anxietas, anti-depresi atau anti-psikotik.
Motivasi pasien untuk sembuh memang merupakan kunci
keberhasilan pada tahap ini. Pasien yang baik, dapat be-
kerjasama dengan terapisnya tanpa pengaruh napza lagi. Sikap
ini akan mempercepat tahap habilitasi, walaupun memang
perlu waktu untuk dapat bersikap seperti itu. Selain itu, efek
pemakaian napza di otak juga tidak dapat pulih dengan cepat
karena berdasarkan penelitian, zat yang dipakai tersebut
berkaitan dengan neurotransmitter dalam otak.
Untuk mernpercepat habilitasi ini, peran lingkungan, tera-
pis dan pendamping yang mendukung proses penyembuhan
pasien sangat diharapkan.
Habilitasi dapat berupa berbagai bentuk terapi atau ke-
giatan yang dapat diberikan kepada pasien sesuai dengan
indikasi yang ada. Jadi tidak semua bentuk terapi dan kegiatan
harus diberikan kepada setiap pasien. Bentuk terapi/kegiatan
tersebut antara lain :
-
Latihan Jasmani : misalnya lari-lari pagi; karena menurut
penelitian, dapat meningkatkan kadar endorfin.
-
Akupunktur : dapat meningkatkan kadar andorfin sehingga
mengurangi keadaan depresi.
-
Terapi Relaksasi : karena banyak pasien yang susah untuk
relaks.
-
Terapi Tingkah Laku : teknik terapi yang dikembangkan
berdasarkan teori belajar. Hukuman diberikan apabila pasien
berperilaku yang tidak diinginkan (menggunakan napza) dan
hadiah diberikan bila pasien berperilaku yang diinginkan (tidak
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 21
background image
menggunakan napza).
-
Terapi Disulfiram (Antabuse) : merupakan terapi aversif
pada ketergantungan alkohol; jadi merupakan suatu bentuk
terapi tingkah laku. Disulfiram menghambat metabalisme al-
kohol dalam darah sehingga kadar asetaldehida dalam plasma
meningkat. Jadi bila minum Disulfiram, lalu kemudian me-
minum juga alknhol, maka akan timbul suatu perasaan yang
tidak enak misalnya mual, muntah, rasa penuh di kepala dan
leher, nyeri kepala, muka merah, wajah berkeringat, ber-
debar-debar, rasa napas pendek, rasa tak enak di dada, vertigo,
penglihatan kabur, dan kebingungan. Kontra indikasi pem-
berian disulfiram ialah penyakit jantung. Dosis 250 mg setiap
hari atau 509 mg tiga kali seminggu selama satu tahun.
Disulfiram sebaiknya diberikan bersama-lama dengan terapi
lain seperti psikoterapi individual atau kelompok, konseling
individual atau mengikuti pertemuan alkohol anonimus. Perlu
pengawasan dari anggata kaluarga agar terjamin bahwa
disulfiram tetap dimakan secara teratur.
-
Terapi antagonis opioida : misalnya neltrexon; kerjanya
menghambat efek euforia dari opioida sehingga pasien akan
merasa percuma menggunakan opioida karena tidak mengalami
euforia. Di sini perlu sekali pengertian dari pasien, karena bila
pasien tidak serius ingin berhenti memakai opioida, maka bila
dia menggunakan naltrexon, dan juga menggunakan opioida,
maka dapat terjadi overdosis opioida.
Naltrexon diberikan sebanyak 50 mg perhari atau
disesuaikan dengan dosis pemakaian opioida; sebaiknya diberi-
kan selama minimal 6-12 bulan.
Kontra indikasinya :
1. Pasien yang mendapat pengobatan dengan analgesik
opioida.
2. Pasien yang kadang-kadang masih menggunakan opioida.
3. Pasien yang test urin untuk opioidanya masih positif.
4. Pasien dengan hepatitis akut atau fungsi hepar buruk.
-
Methadone Maintenance Program : biasanya yang men-
jalani program ini adalah mereka yang telah berkali-kali gagal
mengikuti program terapi, habilitasi dan rehabilitasi lain.
Untuk menjalankan program ini diperlukan administrasi yang
baik; untuk menghindari kemungkinan adanya pasien yang
mendapat jatah obat lebih. Jadi harus ada satu pusat catatan
Medik terpadu.
Sebelum mengikuti program ini pasien harus diperiksa
secara medis dahulu termasuk pemeriksaan darah rutin, test
fungsi hati, rontgen paru-paru dan EKG. Dosis methadon
setiap hari dimulai dari 30-40 mg, biasanya dosis maintenance
sebesar 40-80 mg perhari. Jarang melebihi 120 mg perhari.
Setiap hari pasien harus datang ke pusat terapi dan minum
jatah methadon di hadapan petugas; biasanya diminum dengan
segelas jus jeruk. Bagi mereka yang sekolah atau bekerja dan
konditenya baik dapat datang ke pusat terapi dua kali seminggu
dan membawa methadon pulang ke rumahnya (diberikan
methadon yang berjangka waktu kerja lama yaitu LAAM - L
Alfa Aceto-Methadol). Sewaktu-waktu urin harus diperiksa
untuk memastikan bahwa methadon yang diperoleh dan dibawa
pulang dipakai sendiri dan bukan dijual.
-
Psikoterapi individual : untuk mengatasi konflik intra-
psikik dan gangguan mental yang terdapat pada pasien, ter-
masuk gangguan kepribadian.
-
Konseling : dapat membantu pasien untuk rnengerti dan
memecahkan masalah penyesuaian dirinya dengan lingkungan.
-
Terapi Keluarga : sangat diperlukan karena pada umumnya
keluarga mempunyai andil dalam terjadinya ketergantung
napza pada pasien. Terapi ini juga mempersiapkan keluarga
beradaptasi dengan pasien setelah yang bersangkutan tidak
menggunakan napza lagi.
-
Psikoterapi Kelompok : banyak dilakukan dalam program
habilitasi karena dirasakan banyak manfaatnya. Pasien lebih
dapat menerima kritik, konfrontasi, dan saran yang diberikan
pasien lain daripada terapis.
-
Psikodrama : suatu drama yang dirancang berkisar pada
suatu krisis kehidupan atau masalah khusus. Drama ini dapat
membantu pemainnya (pasien) mengenali masalah bagaimana
ia mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah tersebut,
terapi ini barmanfaat terutama bagi orang yang sulit menyata-
kan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal.
REHABILITASI
Dalam pengobatan ketergantungan napza perlu dilakukan
hingga tingkat rehabilitasi. Alasannya, selain menimbulkan
gangguan fisik dan kesehatan jiwa, ketergantungan napza juga
memberi dampak sosial bagi pasien, lingkungan keluarga mau-
pun masyarakat sekitarnya.
Rehabilitasi pada hakikatnya bertujuan agar penderita bisa
melakukan perbuatan secara normal, bisa melanjutkan pen-
didikan sesuai kemampuannya, bisa bekerja lagi sesuai dengan
bakat dan minatnya, dan yang terpemting bisa hidup me-
nyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga maupun masya-
rakat sekitarnya.
Satu hal lagi yang banyak diharapkan setelah mengikuti
rehabilitasi, pasien dapat menghayati agamanya secara baik.
Itulah sebabnya banyak lembaga rehabilitasi yang didirikan
berdasarkan kepercayaan/agama.
Terapi rehabilitasl ini meliputi beberapa hal :
-
Rehabilitasi Sosial : meliputi segala usaha yang bertujuan
memupuk, membimbing, dan meningkatkan rasa kesadaran
dan tanggung jawab sosial bagi keluarga dan masyarakat.
-
Rehabilitasi Edukasional : bertujuan untuk memelihara
dan maningkatkan pengetahuan dan mengusahakan agar pasien
dapat mengikuti pendidikan lagi, jika mungkin memberi bim-
bingan dalam memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan
intelegensia dan bakatnya.
Rehabilitasi Vokasional : bertujuan menentukan kemampuan
kerja pasien serta cara mengatasi penghalang atau rintangan
untuk penempatan dalam pekerjaan yang sesuai. Juga
memberikan keterampilan yang belum dimiliki pasien agar
dapat bermanfaat bagi pasien untuk mencari nafkah.
-
Rehabilitasi Kehidupan Beragama : bertujuan membang-
kitkan kesadaran pasien akan kedudukan manusia di
tengah-tengah mahluk hidup ciptaan Tuhan; menyadarkan
kelemahan yang dimiliki manusia, arti agama bagi manusia,
membangkitkan optimisme berdasarkan sifat-sifat Tuhan yang
Mahabijaksana, Mahatahu, Maha pengasih, dan Maha peng-
ampun.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
22
background image
PENUTUP
setiap kemajuan yang sekecil apapun, dapat disyukuri dan
merupakan dorongan untuk mencapai kemajuan yang lebih
banyak.
Satu hal yang harus disadari dan dipahami oleh semua
pihak adalah bahwa detoksifikasi bukanlah terapi tunggal dari
ketergantungan napza, melainkan langkah awal dari suatu
proses terapi ketergantungan napza. Selain itu harus dimaklumi
juga bahwa pengobatan ketergantungan napza membutuhkan
waktu yang cukup panjang. Bahkan untuk mengetahui dengan
pasti bahwa pasien tersebut betul-betul pulih, baru bisa
dipastikan setelah yang bersangkutan meninggal.
KEPUSTAKAAN
1.
Leow KF. Medical Aspect of Naltrexone. Symposium : Advances in the
management of drug addiction - role of naltrexone in medical practice.
Singapore, Feb. 11, 1996.
Oleh sebab itu agar pengobatan/perawatan ketergantungan
napza berjalan dengan baik, perlu pemahaman diri (insight)
pasien, dibantu dengan kerja sama yang baik dengan terapis
serta dukungan yang kuat dari lingkungan terdekat. Untuk itu
diperlukan usaha yang terus menerus dan perasaan yang selalu
optimis baik dari pasien, terapis, maupun lingkungannya agar
2. Joewana S. Gangguan Penggunaan Zat. Narkotika, Alkohol, dan Zat
Adiktif Lain. Jakarta: Gramedia, 1989.
3. Fisher GL, Harrison TC. Substance Abuse. Information for School
Counselors, Social Workers, Therapists, and Counselors. Needham
Heights, Massachusetts. A Simon & Schuster Company, 1997.
4. Bennett G. Treating Drug Abusers. Great Britain. Billing & Sons Ltd.
1989.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 23