Penelitian Radiasi dan Kesehatan
C.J. Sugiarto Danusupadmo
Badan Tenaga Atom Nasional, Pusat Standardisasi Penelitian Kesehatan Radiasi, Jakarta.
PENDAHULUAN
Sumber radiasi pengion utama yang memapari penduduk
adalah
·
Radiasi latar alamiah, dengan dosis seluruh tubuh ~ 100
mrem/tahun (= 1 mSv/tahun), sedang pada individu tertentu
dosisnya bervariasi dalam fungsi altitude maupun latitude.
Terdiri dari ~ 30% radiasi kosmik, ~ 30% radiasi tanah (k-40,
nuklida anak uranium dan torium), dan ~ 40% unsur radioaktif
penyusun tubuh manusia (BEIR, 1980).
·
Radiasi buatan manusia natara lain dipakai dalam ke-
dokteran, fasilitas nuklir dan industri tertentu, pekerjanya
secara profesi terpapari radiasi boleh jadi melampaui dosis
latas beberapa kali lipat (BEIR, 1980) (Tabel4).
·
Radiasi dan radionuklida akibat ledakan nuklir, pe-
perangan dan uji cobi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Masalah yang dihadapi di Indonesia
Masalah yang dihadapi di Indonesia, yang berhubungan dengan
keselamatan adalah :
· Instalasi penelitian dan industri nuklir
Penggunaan radiasi maupun radionuklida dalam penelitian
(Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi = PAIR; Pusat Penelitian
Teknik Nuklir = PPTN; Pusat Penelitian Nuklir Yogyakarta =
PPNYJ dan operasi reaktor serta produksi isotop di pusat
industri nuklir Serpong, Pusat Reaktor Serba Guna = PRSG;
Pusat Elemen Bahan N.uklir = PEBN; Pusat Produksi Radio-
isotop = PPR; Pusat Teknologi Pengolahan Limbah Radioaktif
= PTPLR), sudah diatur sehingga paparan radiasi berlebih dan
cemaran radionuklida sangat kecil.
Apabila terjadi kecelakaan nuklir, khususnya yang
berkaitan dengan kompleks RSG di Serpong dan Pusat-pusat
pendukungnya, perlu mendapat perhatian khusus, sehingga
keadaan darurat nuklir tersebut dapat diatasi. Kecelakaan nuklir
yang mungkin terjadi adalah:
Tabel 1 : Paparan radiasi terhadap rata-rata anggota penduduk
di Amerika Utaxa akibat beberapa aktivitas hldupnya.
(MARKO,
1982).
Aktivitas
Dosis radius rata-rata
dalam mrem/th
Satu kali naik pesawat jet p.p./ tahun
Washington San Pransisco
Hidup kurang dari 500 km dad stasiun
pembangkit daya berkekuatan 1000 MW
dengan bahan bakar batu bara
Menggunakan fosfat di USA untuk
pupuk
bahan bangunan
Mengunakan mated radioaktif untuk
jarum jam, keramik, detektor asap
Menggunakan alat elektronik mis. TV
3,0
0,1
0,0004
0,2
1,0
1,0
Tabel 2 : Paparan radiasi rata-rata pada epitel bonkhus (MARKO,.
1982)
Sumber radiasi
Dosis radiasi rata-rata
dalam mrem/tahun
Sinai kosmik
Radiasi tanah (terestrial)
Menghirup nuklida anak radon
5 jam/hari di luar rumah
19 jam/hari di dalam rumah
K40 dan radionuklida intern lain
31
32
0,005 WLM
0,16 WLM
25
Total
88 mrem +
0,165 WLM
WLM = "Working level month" ditentukan dalam fungsi konsentrasi
nuklida anak randon dalam udara, penghiru pan udara yang
mengandung nuklida anak radon yang setara dengan >3,7 Bq
randon/1
oleh
pekerja
dewasaselama
170
jam.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992
26
1.
Kegagalan operasi reaktor
Umpamanya gangguan pada pendinginan salah satu pe-
rangkat elemen bahan bakar terjadi, mengakibatkan terlepasnya
sejumlah kecil radionuklida.
2.
Gangguan produksi isotop
Dapat terjadi karena kegagalan pengambilan Mo99 dan
hasil fisi lainnya dari U235 di hot cell, sehingga sejumlah
radionuklida hasil fisi akan terlepas. Andaikata pada saat yang
sama sistem penyaring ventilasi tidak berfungsi, maka sejumlah
radionuklida akan keluar, khususnya radionuklida yang
lamban, yodium dan partikel lainnya.
3)
Kegagalan operasi pengolahan limbah
Dapat terjadi karena kegagalan antara lain akibat tangki
evaporasi mengalami kebocoran atau pecah.
4)
Kegagalan operasi fabrikasi elemen bakar.
Dapat terjadi karena terjadi reaksi fisi spontan dalam
waktu singkat sehingga menghasilkan radiasi gamma dan
neutron. Secara keseluruhan fabrikasi elemen bakar tidak
melepaskan radionuklida hasil fisi atau buatan. Keduanya tidak
memberi dampak yang berarti secara ekstern, tetapi dampak
radiasi intern cukup tinggi.
5)
Kegagalan pengangkutan limbah radioaktif.
Kecelakaan dapat terjadi pada pengangkutan limbah cair,
sehingga zat radioaktif sebagian terlepas ke udara (aerosol/gas)
dan sebagian lain tersebar pada permukaan atau meresap ke
dalam tanah.
Tabel 3 . Paparan rata-rata radiasi dari unsur-unsur radioaktif pe-
nyusun
tubuh
(MARKO,
1982).
Radionuklida
Dosis radiasi dalam
mrem/
tahun
Sumsum
T 0,5
(dalam
tahun)
Sumsum Gonad
K-40 (primordia)
U-238 (primordia)
1,3 x 10
9
27 15
dart niklida anak
Th-232 (primordia)
4,5 x 10
9
19 15
dan nuklida anak
14,0 x 10
9
7 1,4
Rb-87 (primordia)
60,0 x 10
9
0,4 0,8
C-14 (kosmogenik) 5700
2,2
0,5
Na-22 (kosmogenik) 2,6
0,002
0,02
H3 (kosmogenik)
12
0,001
0,001
Tabel 4 : Paparan radiasi (di atas latar) yang berhubungan dengan
pelaksanaan
tugas
(MARKO,
1982)
Paparan rata-rata radiasi pertahun
(negara-negara barat)
Pekerjaan
seluruh tubuh
(mrem)
Epitel bronkhus
(WLM)
Pekerja tambang uranium
Pckcrja tambang bukan uranium
Pckcrja reaktor nuklir
Pekcrja industri arloji yang
menggunakan tritium
Pekerja litbang nuklir
Penerbang jet dan awak pesawat
Radiografi industri
Pekerja medik (radiologi, terapi,
kedokteran nuklir)
1000
rendah
600 1000
400 1500
100 750
250 500
40 600
10 500
1 4
0,4 4
Dari tabel, paparan. < 5 rem = 5000 mrem/th, artinya sesuai dengan
ketentuan ICRP.
Aplikasi dalam kedokteran dan industri
Menurut data yang dikumpulkan para inspektur BATAN
(sebagai Ahli Proteksi Radiasi) pada rumah sakit-rumah sakit
yang melakukan radioterapi sering terdapat kekurangan dalam
hal:
1)
Fasilitas (ruangan sinar X yang kurang luas, dinding kurang
tebal atau dengan bahan bangunan yang kurang memadai, flow
of personnel dan pasien tidak memenuhi syarat), dan
sebagainya.
2)
Personil: kenyataannya para Petugas Proteksi Radiasi adalah
para operator pesawat itu sandhi yang kurang memenuhi
persyaratan teknis. Sehingga perlu ada medical/hospital
physicist yang khusus.
3)
Peralatan, khususnya peralatan keselamatan (survey meter,
alat ukur output) pada umumnya tidak ada.
Timbul pertanyaan, apakah sampai demikian jauh belum
ada keluhan dari para petugas pekerja radiasi?
Dari kalangan pasien yang memperoleh radioterapi apakah
tidak timbul ekses, atau apakah ekses tersebut hanya dianggap
sebagai risiko yang tidak dapat dihindarkan?
Tetapi dari sudut pandang proteksi radiasi, kiranya, bila
ada, hrus mendapat perhatian yang cukup.
Dalam hubungan ini, kerjasama antara BATAN DEP-
KES dalam Komisi Karma yang sudah ada perlu mendapatkan
perhatian yang lebih besar, sehingga dapat berhasil guna, di-
samping status radiologi yang lebih ditingkatkan.
Aplikasi dalam industri adalah: penggunaan torium oksid
dalam produksi kaos lampu, krom radioaktif untuk studi
hidrologi (pendangkalan pelabuhan, arus sungai, erosi, air
tanah, air dam), radiografi (uji talc merusak) dalam industri.
Sekalipun para petugas sudah dilatih dan diberitahu per-
aturan-peraturan yang harus ditaati, tetapi kecelakaan karena
kelalaian pernah terjadi sehingga harus dijaga agar tidak ter-
ulang lagi.
Industri non-nuklir
Diketahui bahwa fosfat alam yang diimpor dari Maroko,
USA, yang digunakan dalam produksi pupuk mengandung
radioaktivitas, begitu pula batubara. Penghirupan debu fosfat,
khususnya dalam bentuk tepung gips dan radon dari batubara
oleh para pekerja perlu mendapat perhatian.
Sumber lain = Radioaktivitas alam
KESIMPULAN
1.
PSPKR khususnya dan BATAN umumnya tetap beranggap-
an, keselamatan pekerja radiasi dan penduduk harus secara
berkelanjutan diperhatikan, sekalipitn telah ada peraturan-
peraturan yang mencoba mengurangi paparan radiasi sampai
batas yang serendah-rendahnya.
2.
Kerjasama BATANDEPKESDEPNAKER sangat diperlu-
kan sekali.
KEPUSTAKAAN
1.
BATAN--PPIN. Pedoman penanggulangan kedaruratan nuklir di RSGLP
di kawasan Puspitek Serpong, 1987 p. 73
2.
Committee on The Biological Effects of Ionizing Radiations (BEIR). The
effects on population of exposure to low levers of ionizing radiation.
Washington: Nat Acad Press 1980 p. 524.
3.
Marko AM (ed). Biological effects of ionizing radiation. AECL, 1982.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 27