TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Penatalaksanaan Tes Pap Abnormal
Fitriyadi Kusuma, Endy M Moegni
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Kanker serviks masih merupakan penyebab utama morbi-
ditas dan mortalitas kanker pada wanita di seluruh dunia.
Faktor risiko terpenting untuk terjadinya kanker serviks ini
berhubungan dengan adanya infeksi HPV dan perilaku seksual.
Faktor risiko lainnya seperti merokok, nutrisi dan kontrasepsi
hormonal berperan terhadap infeksi HPV dan dengan mekanis-
me tertentu memperkuat terjadinya perubahan neoplastik.
Di negara yang telah melaksanakan, program penapisan
Tes Pap telah dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas
akibat kanker serviks. Setiap tahun diperkirakan terdapat
500.000 kasus kanker serviks baru di seluruh dunia. 77% di
antaranya ada di negara-negara berkembang. Di Indonesia
diperkirakan sekitar 90-100 kasus kanker baru di antara
100.000 penduduk pertahun, atau sekitar 180.000 kasus baru
pertahun, dengan kanker ginekologik di tempat teratas. Di
Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta lebih dari 60% kasus kanker serviks
sudah berada dalam stadium lanjut dengan angka ketahanan
hidup yang sangat rendah. Diketahui bahwa pengobatan pada
tahap pra kanker (ASCUS, LGSIL, HGSIL, karsinoma in situ
dan lesi glanduler) memberi kesembuhan sampai 100%.
Dalam upaya ,menurunkan angka kejadian kanker serviks,
perlu disadari akan pentingnya pencegahan dan deteksi dini.
Pemeriksaan Tes Pap merupakan salah satu sarana untuk
deteksi dini kanker serviks.
Berbagai cara pelaporan Tes Pap telah kita kenal, mulai
dari klasifikasi Papaniculaou sampai terminologi ke sistem
Bethesda; sebaiknya seorang klinikus/Ahli Obstetri dan Gine-
kologi mengetahui padanan dari berbagai terminologi tersebut,
sebab sampai saat ini di Indonesia tidak semua ahli patologi
anatomi menggunakan terminologi yang sama (belum meng-
gunakan sistem Bethesda). Yang terpenting adalah adanya
komunikasi yang baik antara ahli sitopatologi dan klinikus,
karenanya laporan sitologi harus dapat dimengerti oleh
klinikus yang akan menangani pasien selanjutnya.
Dalam makalah ini akan dijabarkan penatalaksanaan hasil
tes Pap abnormal. Seperti diketahui, hasil Tes Pap bukan
merupakan suatu diagnosis definitif untuk menentukan tindak-
an operatif, pasien dengan hasil tes Pap abnormal harus ter-
lebih dahulu menjalani biopsi terarah dengan kolposkopi untuk
pemeriksaan histopatologi sehingga tidak merupakan tindakan
yang berlebihan (over treatment) ataupun kekurangan (under
treatment).
RAGAM TERMINOLOGI PELAPORAN SITOLOGI
Terminologi yang semula banyak digunakan dalam pe-
laporan mengacu pada klasifikasi Papanicolaou (Papaniculaou
& Traut 1943) yang dinyatakan dalam kelas I - kelas V. Klasi-
fikasi ini banyak ditinggalkan karena: (1) tidak mencerminkan
pengertian neoplasia serviks/vagina, (2) tidak memiliki padan-
an dengan terminologi histopatologi, (3) tidak mencantumkan
diagnosis non kanker, (4) interpretasinya tidak seragam, (5)
tidak menunjukkan pernyataan diagnosis.
Pada tahun 1953, Reagen mengajukan terminologi dis-
plasia-karsinoma insitu dan karsinoma invasif. Terminologi
ini terdiri atas negatif, displasia ringan, displasia keras, karsi-
noma insitu dan karsinoma invasif. Penerimaan ahli patologi
terhadap terminologi ini cukup baik sehingga dipakai secara
luas. Kelemahan terminologi ini yakni adanya ketidak
sinambungan pengertian akibat adanya perbedaan antara
displasia keras dan kasinoma in situ. Untuk memperbaiki
kekurangan tersebut pada tahun 1967 Richart mengajukan
terminologi neoplasia intra-epitelial serviks (NIS) dengan
kategori NIS 1 sesuai dengan displasia ringan, NIS 2 sesuai
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
18
dengan displasia sedang dan NIS 3 sesuai dengan displasia
keras dan karsinoma insitu. Keluhan yang muncul terhadap
klasifikasi ini adalah pada NIS 1 yang menyatakan potensi
keganasan tetapi meliputi kelompok besar displasia ringan
yang sebagian besar hanya akibat peradangan.
Pada tahun 1988 dan 1991 pertemuan para ahli sitopato-
logi melahirkan sistem Bethesda sebagai sistem pelaporan sito-
patologi baru yang bertujuan (1) menghilangkan kelas-kelas
Papaniculaou, (2) menciptakan terminologi seragam memakai
istilah diagnostik (3) memasukkan pernyataan adekuasi dan (4)
membuat sitologi sebagai konsultasi medik antar ahli sitologi
dan klinikus. Selain ini sistem Bethesda juga mengandung
unsur: (1) komunikasi yang efektif antara ahli sitopatologi dan
dokter yang merujuk, (2) mempermudah korelasi sitologi-
histopatologi, (3) mempermudah penelitian epidemiologi,
biologi dan patologi, (4) data yang dapat dipercaya untuk
analisis statistik nasional dan internasional. Kelebihan cara
pelaporan The Bethesda System (TBS) adalah penyederhanaan
terminologi dengan memakai terminologi diagnostik yang jelas
untuk kategori umum: (1) dalam batas normal, (2) perubahan
seluler jinak dan (3) abnormalitas sel epitel.
Sejak tahun 1994 sistem Bethesda telah diterapkan di Sub-
bagian Sitopatologi Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI/
RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
TES PAP ABNORMAL DENGAN SISTEM PELAPORAN
BETHESDA SERTA PENATALAKSANAANNYA
1.
Atypical Squamous Cells of Undetermined Significance
(ASCUS)/Sel skuamosa atipik yang tidak dapat ditentukan
artinya.
Keadaan prakanker serviks mengalami banyak perubahan
dalam terminologinya. Pertemuan Bethesda menyuguhkan isti-
lah ASCUS dan Lesi Intraepitel Skuamosa (LIS) untuk pe-
ngertian neoplasia serviks. ASCUS (Atypical squamous cells of
undetermined significance) yaitu istilah yang meliputi kelainan
seluler melebihi kelainan yang disebabkan perubahan reaktif/
inflamasi akan tetapi tidak termasuk dalam batasan lesi intra-
epitel. Kriteria ASCUS termasuk pembesaran inti (2-3 kali dari
inti sel intermediate), ratio inti: sitoplasma sedikit meningkat,
variasi bentuk dan besar, dinding inti rata dan reguler,
kromatin halus sedikit hiperkromatik, inti ganda dan anak inti
ditemukan, termasuk di sini metaplasia atipik, atipia atrofi dan
pembesaran sel yang tidak disebabkan oleh peradangan.
Pelaporan ASCUS sangat dianjurkan pada suatu labora-
torium sitologi untuk membedakan ASCUS cenderung ke arah
peradangan (ASCUS favoring inflammation) dan ASCUS cen-
derung ke arah neoplasia (ASCUS favoring neoplasia). Hal ini
penting karena penatalaksanaannya sedikit berbeda; bila cen-
derung ke arah peradangan mungkin dapat dilakukan follow up
saja tetapi bila cenderung ke arah neoplasia disarankan untuk
langsung dilakukan kolposkopi. Penanganan hasil tes Pap
ASCUS masih kontroversial. Perlu diketahui bahwa dari suatu
penelitian meta analisis diketahui bahwa sekitar 70% ASCUS
dapat regresi ke normal dan 7-8% menjadi progresif ke LIS
derajat berat sedangkan yang menjadi kanker invasif hanya
0,25%.Di beberapa negara maju dianjurkan untuk dilakukan
deteksi dengan pemeriksaan DNA HPV (Hybrid Capture II).
A
A
S
S
C
C
U
U
S
S
A
A
S
S
C
C
U
U
S
S
A
A
S
S
C
C
U
U
S
S
A
A
S
S
C
C
U
U
S
S
F
F
a
a
v
v
o
o
r
r
r
r
e
e
a
a
k
k
t
t
i
i
f
f
t
t
a
a
n
n
p
p
a
a
k
k
u
u
a
a
l
l
i
i
f
f
i
i
k
k
a
a
s
s
i
i
F
F
a
a
v
v
o
o
r
r
n
n
e
e
o
o
p
p
l
l
a
a
s
s
i
i
a
a
U
U
l
l
a
a
n
n
g
g
T
T
e
e
s
s
p
p
a
a
p
p
4
4
-
-
6
6
b
b
u
u
l
l
a
a
n
n
3
3
K
K
A
A
L
L
I
I
K
K
o
o
l
l
p
p
o
o
s
s
k
k
o
o
p
p
i
i
N
N
o
o
r
r
m
m
a
a
l
l
J
J
i
i
k
k
a
a
a
a
d
d
a
a
1
1
a
a
t
t
a
a
u
u
3
3
t
t
i
i
d
d
a
a
k
k
n
n
o
o
r
r
m
m
a
a
l
l
(ascus)
Tes Pap annual
Kolposkopi
Bila normal/
memuaskan
Tes
Pap
annual
Gambar 1. Bagan Penanganan ASCUS yang dianjurkan di Bagian Obstetri dan
Ginekologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
3 opsi manajemen hasil pap smir ASCUS
Follow up tes pap
dalam 6 bulan
Segera kolploskopi
Tes HPV
Keuntungan
Sensitifitas
tinggi
untuk
deteksi lesi ntraepitelial
sel skuamosa
derajat tinggi
nilai prediksi negatif
95%
Murah
Mudah
Perlu alat dan skill
Sensitifitas tinggi untuk
deteksi lesi intraepitelial
sel skuamosa derajat
tinggi
Dapat digunakan
secara luas
Kerugian
Kegagalan deteksi lesi
intraepitelial sel skuamosa
derajat tinggi sampai 30%
Spesifisitas < 60%
Biaya tinggi
50%
tidak
memerlukan biopsi
Gambar 2. Bagan Penatalaksanaan hasil Tes Pap ASCUS
ASCUS
Tes HPV DNA
Negatif
Positif
Follow up Tes Pap 6 bulan Risiko tinggi HPV Resiko rendah HPV
Normal
Kolposkopi
Tes Pap tiap 6 bulan 2X
Normal
ASCUS/NIS
Tes Pap teratur Kolposkopi
Gambar 3. Algoritma Penatalaksanaan hasil Tes Pap ASCUS dengan tes
HPV DNA
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001 19
2.
Low-Grade Squamous Cells of Intraepithelial Lesion
(LG-SIL)/Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Rendah (LIS-
DR).
Lesi intraepitel skuamosa (LIS) serviks uteri merupakan
suatu keadaan neoplastik yang masih terbatas di atas membran
sel. LIS dibagi menjadi dua kelompok; (1) LIS derajat rendah
dan (2) LIS derajat tinggi. LIS derajat rendah meliputi gambar-
an infeksi virus HPV dan displasia ringan/NIS 1, sedangkan
LIS derajat tinggi merupakan keadaan displasia sedang/NIS 2
dan displasia berat-karsinoma insitu/NIS 3.
Bila didapatkan hasil tes Pap berupa suatu LIS derajat
rendah, termasuk di antaranya infeksi HPV dan displasia
ringan/NIS 1, ada dua pilihan penatalaksanaannya yaitu
dengan (1) segera melakukan pemeriksaan kolposkopi dan (2)
follow up tes Pap sitologi secara periodik. Berbeda dengan
penatalaksanaan dengan LIS derajat tinggi yang harus di follow
up dengan kolposkopi untuk konfirmasi histopatologi.
Di Subbagian Sitopatologi Obstetri dan Ginekologi FKUI/
RSCM hasil tes Pap LIS derajat rendah langsung diikuti
dengan pemeriksaan kolposkopi. Hal ini masih dilematis dan
kontroversial mengingat dari suatu hasil studi meta analisis
selama 24 bulan, sekitar 50% LIS derajat rendah menjadi
regresi ke normal, 20% menjadi progresif ke LIS derajat berat
dan hanya 0,15% menjadi kanker invasif. Sedangkan hanya
35% LIS derajat berat regresi menjadi normal, tetap LIS
derajat berat 24% dan menjadi kanker invasif 1,44%.
Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa makin rendah
derajat kelainan maka kemungkinan regresi menjadi normal
makin besar, sedangkan makin tinggi derajat kelainan, makin
mungkin progresif ke tingkat tinggi. Akan tetapi mengingat
hasil tes Pap mempunyai angka negatif palsu 5-50%, pada tes
Pap LIS derajat rendah, mungkin saja dengan biopsi terarah
sudah LIS derajat berat (15-40%), secara spontan menjadi
progresif (40-70%) dan mempunyai risiko menjadi kanker
invasif (1%).
Keuntungan melakukan kolposkopi segera pada LIS dera-
jat rendah adalah: (1) kolposkopi dapat melakukan biopsi ter-
arah untuk mendapatkan diagnosis akurat histopatologi, (2)
kolposkopi mengurangi rentang waktu progresifitas lesi intra-
epitel serviks (NIS) dalam melakukan follow up tes Pap dan
(3) kolposkopi dapat mendeteksi kemungkinan negatif palsu
dari sitologi, termasuk juga untuk memberi ketenangan pada
pasien.
Berikut bagan penatalaksanaan hasil sitologi LIS derajat
rendah:
LGSIL
Ulang Tes Pap 4-6 bulan
Bila hasil tes pap ulang
Bila hasil tes pap normal
abnormal SIL
Kolposkopi
Setelah 3 kali normal
kembali Tes Pap annual
Gambar 4. Follow up hasil sitologi LGSIL tanpa kolposkopi
LGSIL
KOLPOSKOPI
Bila kolposkopi normal dan memuaskan kembali
Follow up Tes Pap secara annual
Gambar 5. Follow up hasil sitologi dengan kolposkopi
3.
High-Grade Squamous Cells Intraepithelial Lesion (HG-
SIL)/Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Tinggi (LIS-DT).
Walaupun saat ini para ahli sepakat bahwa semua hasil
LIS derajat berat harus diterapi, tetapi masih terdapat kontro-
versi pada aspek hubungan natural history, diagnosis dan pilih-
an terapi untuk LIS derajat tinggi. Pendekatan terapi kon-
servatif pada lesi intraepitel non invasif serviks makin me-
ningkat dalam 15 tahun terakhir.
Di Subbagian Sitopatologi Obstetri dan Ginekologi
FKUI/RSCM pada tes Pap LIS derajat berat harus segera
diikuti pemeriksaan kolposkopi untuk menentukan derajat lesi
berdasarkan histopatologi.
Dengan penatalaksanaan optimal suatu LIS derajat berat
dapat dieradikasi sampai dengan 90% pada pengobatan per-
tama. LIS derajat berat dapat diterapi dengan loop eksisi
diatermi atau eksisi laser tergantung dari keahlian seorang
ginekolog. Tetapi disarankan untuk melakukan terapi eksisi
laser konisasi pada lesi yang meluas sampai kanalis serviks dan
loop eksisi diatermi pada lesi yang jelas tampak pada ostium
eksternum.
LIS derajat berat
HGSIL
Kolposkopi
Bila kolposkopi lesi memuaskan Bila kolposkopi lesi tidak memuaskan
dilakukan biopsi terarah
dilakukan tindakan konisasi/LLETZ
untuk pemeriksaan histopatologi
Gambar 6. Bagan penatalaksanaan LIS derajat tinggi
4. Atypical Glandular Cells of Undetermined Significance
(AGUS)/Sel glanduler atipik yang tidak dapat ditentu-kan
artinya.
Hasil tes Pap AGUS merupakan indikasi untuk segera
melakukan pemeriksaan kolposkopi; pada suatu penelitian
lebih dari 36% hasil tes Pap AGUS berhubungan dengan lesi
invasif. Biasanya lesi tersebut berasal dari serviks, tetapi dapat
pula berasal dari endometrium atau sangat jarang berasal dari
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
20
ovarium. Bila AGUS cenderung ke arah neoplasia maka dire-
komendasikan untuk melakukan kolposkopi, biopsi dan kure-
tase endoserviks. Bila hasil pemeriksaan kolposkopi negatif
maka dianjurkan untuk melakukan konisasi. Angka positif
palsu pada tes Pap AGUS adalah sekitar 2%, tetapi pada
penelitian lain lebih tinggi. Akan tetapi pada wanita dengan tes
Pap sel glanduler abnormal sering disertai juga terdapat LIS
derajat berat/NIS 3, adenokarsinoma insitu atau kanker invasif.
5. Adenokarsinoma Insitu Serviks (AIS).
Adenokarsinoma insitu jarang ditemui tetapi kejadiannya
meningkat dari tahun ke tahun. Skrining kanker serviks dengan
tes Pap, dilanjutkan dengan kolposkopi dan terapi terhadap
abnormalitas prekanker secara nyata telah berhasil menurun-
kan insiden kanker serviks sel skuamosa, sehingga penata-
laksanaan konserviatif juga meningkat. Walaupun kanker sel
skuamosa masih merupakan mayoritas kanker serviks, adeno-
karsinoma sekarang tampak meningkat sampai 20% dari
seluruh kanker serviks. Skrining tidak berpengaruh terhadap
insiden adenokarsinoma serviks. Lesi prakanker sel glanduler
serviks sangat sulit ditentukan, baik secara sitologi maupun
dengan kolposkopi sekalipun. Akurasi sitologi serviks untuk
prediksi adanya kelainan glanduler hanya 50%.
Hal penting pada adenokarsinoma insitu adalah (1)
program skirining kanker serviks tidak mempunyai pengaruh
terhadap insiden adenokarsinoma invasif serviks, (2) AIS
jarang ditemui, lebih sering terdiagnosis setelah dilakukan
konisasi diagnostik serviks pada NIS 3, (3) Sitologi hanya
dapat memprediksi 50% kelainan glanduler, (tidak ada
gambaran khusus kolposkopi pada AIS), (4) penatalaksanaan
konservatif hanya dilakukan pada wanita yang masih memerlu-
kan reproduksi setelah diyakini dengan konisasi diagnosis
bebas tumor pada tepi sayatan dan memungkinkan untuk
melakukan follow up sitologi termasuk sampel yang akurat dari
kanalis servikalis.
AGUS
cenderung neoplasia
tanpa kualifikasi
kolposkopi
kolposkopi
kuretase endoservik
kuretase endoserviks
negatif
positif
positif
negatif
konisasi
konisasi
Tes Pap 4-6 bulan
kecuali kanker kecuali kanker
sampai 4X dbn
AGUS
positif
Konisasi
Gambar 7. Bagan penatalaksanaan AGUS
AIS/Adenokarsinoma
Karsinoma
Kolposkopi
dan
kuretase
endoserviks
AIS positif AIS negatif
Konisasi
Karsinoma
Positif Negatif
Histerektomi radikal
Histerektomi
Evaluasi traktus
Atau radiasi
dan follow up ketat genital atas dll
Gambar 8. Bagan penatalaksanaan AIS
KESIMPULAN
Tes Pap masih merupakan sarana skrining yang mem-
punyai sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi untuk men-
deteksi dini lesi pra kanker dan infeksi HPV
Hasil tes Pap abnormal tidak dapat dijadikan dasar diagno-
sis untuk suatu penatalaksanaan selanjutnya. Tindakan lanjut
dari suatu Tes Pap abnormal adalah dengan pemeriksaan kol-
poskopi dan biopsi lesi dari serviks untuk pemeriksaan histo-
patologi, yang merupakan diagnostik pasti untuk penata-
laksanaan definitif.
KEPUSTAKAAN
1.
Sawaya GF, Berlin M,. Epidemiology of Cervical Neoplasia. In : Robin
S, Hoskin WJ. Eds. Cervical Cancer and Preinvasive Neoplasia.
Philadelphia-New York : Lippincott-Raven, 1996 : 1-10.
2.
Mitchell MF, Schottenfield D. The Natural History of the Abnormal
Papaniculaou Smear. In : Rubin S , Hoskin WJ. Eds. Cervical Cancer and
Preinvasive Neoplasia. Philadelphia-New York : Lippincott Raven,
1996 : 103-11.
3.
Miller A. Screening for Cervical Cancer. In : Rubin S, Hoskin WJ eds.
Clinical Cancer and Preinvasive Neoplasia. Philadelphia-New York :
Lippincott-Raven , 1996 : 13-25.
4.
Sianturi MHR. Deteksi dan Penanganan Prakanker Genitalia Wanita.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 1995.
5.
The Revised Bethesda System for Reporting Cervical Vaginal Cytologic
Diagnoses : Report of the 1991 Bethesda Workshop. Acta Cytol 1992 ;
36 : 273-6.
6.
Soepardiman HM. Terminologi Sitologi. Dalam : Sjamsudin S, Indarti J.
Kolposkopi dan Neoplasia Intraepitel Serviks. edisi pertama. PPSKI,
2000 : 12-6.
7.
Aziz MF. Natural History dari Infeksi HPV dan NIS. Dalam : Sjamsudin
S, Indarti J. Kolposkopi dan Neoplasia Intraepitel Serviks. Edisi pertama.
PPSKI, 2000 : 1-11.
8.
Monsonego J. Role of HPV testing in secondary and primary screening
of cervical neoplasia. CME J Gynecol Oncol 2000 ; 5 : 64-8
9.
Singer A. Management and therapeutic options of low grade SIL. CME J
Gynecol Oncol 2000 ; 5 : 69-72.
10.
Dexeus S, Cararach M, Suris JC. Optimal management of high grade
squamous intraepithelia lesion. CME J Gynecol Oncol 2000 ; 5 : 73-6.
11.
Etherington IJ, Luesley DM. Treatment protocols for adenocarcinoma-in-
situ. CME J Gynecol Oncol 2000 ; 5 : 77-80.
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001 21