Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 17
Faktor Gizi pada Penyakit Kanker
Herman Sudiman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Departemen
Kesehatan R.I.,
Bogor
PENDAHULUAN
Keberhasilan pembangunan dari Pelita I sampai Pelita V
mengakibatkan kesejahteraan masyarakat bertambah baik; de-
rajat kesehatan dan gizi masyarakat bertambah baik pula. Kom-
posisi penduduk juga mengalami perubahan, ditandai dengan
peningkatan jumlah usia lanjut. Akibat peningkatan kesejahteraan,
derajat kesehatan dan gizi masyarakat tersebut serta perubahan
komposisi penduduk, akan terjadi pula perubahan pola penyakit
yaitu berkurangnya penyakit-penyakit menular dan gizikurang
di satu pihak, dan bertambahnya penyakit-penyakit degeneratif
seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker di lain pihak. Per-
ubahan ini diperkirakan akan terjadi di sekitar tahun 2000
(1)
.
Fenomena ini di dalam ilmu kesehatan masyarakat disebut transisi
epidemiologi sebagai akibat transisi demografi. Survei Kesehat-
an Rumah Tangga (SKRT) tahun 1972, 1980, dan 1986 mem-
berikan gambaran perubahan pola penyakit tersebut. Peringkat
kematian yang disebabkan karena kanker meningkat dari urutan
11, 9 dan 8
(2,3,4)
.
Meski telah lama diperkirakan bahwa diet merupakan salah
satu penyebab penyakit kanker, tetapi sampai awal abad ke 20
bukti-bukti empiris belum dilaporkan. Dari penelitian-penelitian
awal diketahui bahwa ada efek pencegahan dari hidangan roti
penuh
(wholemeal bread),
sayuran, dan susu segar. Catatan dari
perusahaan asuransi menunjukkan bahwa kegemukan merupakan
risiko tinggi terhadap kanker
(5)
. Di Amerika Serikat, lebih
dari 450.000 orang meninggal dunia setiap tahun karena penyakit
kanker. Sekitar 70-90% dari penyakit kanker tersebut berkaitan
dengan lingkungan dan gaya hidup
(life style).
Kurang Iebih 30%
dari kematian tersebut karena rokok. Faktor-faktor keturunan
(genetik), radiasi, polusi dan eksposur lainnya memberikan
kontribusi 45.000-90.000 kematian. Dari seluruh penyakit kanker
yang disebabkan faktor lingkungan, sekitar 40-60% berhubung-
an dengan faktor gizi
(6)
. Dalam tahun 1984, 22% dari seluruh
kematian di Amerika Serikat, disebabkan karena kanker. Dan
965.000 kasus baru yang didiagnosis menderita kanker, 483.000
di antaranya meninggal dunia
(5)
. Diperkirakan 60-70% kanker
disebabkan karena faktor lingkungan, terutama makanan dan
rokok.Tabel 1 memperlihatkan proporsi kematian karena kanker
yang berasal dari pelbagai faktor.
Tabel I. Proporsl kematian karena kanker yang berasal dari pelbagai
faktor
Persen semua kernatian karena kanker
Faktor atau kelompok faktor
Estimasi terbaik
Selang
1. Merokok
30 25-40
2. Alkohol
3
2-4
3. Diet
35
10-70
4. Zat penambah dalam
1
(-5b) -2
makanan (food additives)
5. Perilaku seksual
7
1-13
6. Pekerjaan
4
2-8
7. Polusi
2
1-5
8. Hasil-hasil industri
1
1-2
9. Obat-obatan dan cara-cara
1
0,5-3
pengobatan
10. Faktor-faktor geofisik
3
2-4
11. Infeksi
10?
1-?
12. Tidak diketahui
?
?
b
Beberapa faktor (misal fortifikasi makanan) mungkin mempunyai efek pro-
tektif
Sumber : Doll,Peto. US Department of Health and Human Nutrition Services,
1988.
Penyakit kanker berkembang melalui proses yang kompleks
(Gambar 1). Pada dasarnya proses yang panjang tersebut dapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
18
dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap inisiasi, promosi, dan
progresi. Dari tahap inisiasi sampai manifestasi klinis dapat
memerlukan waktu 5--20 tahun
(4)
; oleh karena itu penderita sulit
mengingat atau diyakinkan tentang faktor-faktor yang merupa-
kan karsinogen atau pro-karsinogen. Makalah ini menyajikan
telaah ilmiah faktor gizi pada penyakit kanker, dengan meng-
gunakan literatur terakhir.
FAKTOR GIZI PADA PENYAKIT KANKER
1) Masukan lemak, energi dan kegemukan
Meski studi tentang hubungan masukan lemak dengan
penyakit kanker masih memberikan hasil yang tidak taat azas,
tetapi studi yang menggunakan hewan percobaan menunjukkan
bahwa masukan lemak merupakan salah satu kunci dalam
mencegah, kanker
(5)
. Studi epidemiologi dan studi yang
menggunakan hewan percobaan menunjukkan adanya hubungan
antara konsumsi lemak dengan insiden kanker kolon dan kanker
payudara
(5,6)
. Kanker lain yang berhubungan dengan masukan
lemak adalah kanker rektum
(7)
, kanker indung telur/ovarium
(8)
dan kanker endometrium
(5)
. Beberapa peneliti berhasil menun-
jukkan hubungan antara kenaikan konsumsi lemak dan kegemukan
dan kanker payudara hanya ditemukan pada usia yang lebih tua.
Tampaknya bukan konsumsi total lemak yang merupakan faktor
penting dalam penyakit kanker, tetapi jumlah asam lemak tak
jenuh ganda dalam diet lebih berperan. Hal yang harus diperhati-
kan dalam mengkaji hubungan antara masukan lemak dengan
kanker ialah mcam lemak (lemak jenuh dibandingkan dengan
lemak tak jenuh; lemak hewani dibandingkan dengan lemak
nabati). Asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) lebih mudah ter-
oksidasi dan PUFA yang telah rusak dapat merupakan awal dari
proses terjadinya kanker.
Meskipun secara umum lemak baru berperan secara maksi-
mum setelah pemberian karsinogen, tampaknya pemaparan diet
tinggi lemak perlu waktu yang cukup lama sebelum eksposur
karsinogen dapat mempengaruhi inisiasi tumor; pengaruh ini
telah didemonstrasikan pada penelitian menggunakan tikus
cobaan
(9)
. Efek diet lemak dapat langsung atau tidak langsung.
Lemak secara langsung mempengaruhi fungsi-fungsi seluler,
termasuk cairan membran, metabolisme prostaglandin, dan sin-
tesis radikal lemak peroksida yang potensial mutagenik
(10)
. Efek
langsung juga mencakup perubahan-perubahan reseptor hormon
(yang mungkin merangsang secara hormonal pertumbuhan
tumor), karakteristik pertumbuhan sel, dan beberapa kimiawi
intraseluler. Lemak mempengaruhi perubahan-perubahan kom-
posisi asam empedu dalam kolon yang dapat mengubah asam
empedu secara bakteriologis menjadi zat-zat yang mempromosi
tumor atau secara langsung merusak jaringan mukosa.
Efek kholesterol pada insiden kanker sulit ditentukankarena
kholesterol berkorelasi kuat dengan lemak hewani dan juga
masukan protein hewani. Dalam satu studi didapatkan korelasi
yang lebih kuat antara insiden kanker kolon dengan kholesterol
daripada dengan lemak
(11)
.
Di lain pihak, beberapa studi menun-
jukkan bahwa kholesterol darah yang terlalu rendah merupakan
risiko kanker(
12
). Masih perlu studi lebih lanjut untuk sampai pada
kesimpulan yang pasti tentang korelasi antara masukan kholesterol
dengan kholesterol darah dan kanker. Masukan lemak tidak
hanya berhubungan dengan kanker tetapi juga dengan penyakit
jantung, kegemukan.
Studi-studi dengan menggunakan hewan cobaan dan bebe-
rapa studi epidemiologi mendukung hipotesis bahwa masukan
total energi mempengaruhi risiko kanker. Pada beberapa studi
menggunakan hewan cobaan dapat dilakukan pembandingan
antara hewan yang diberi diet normal sebagai kontrol dengan
hewan yang dibatasi masukan energinya. Akan tetapi cara se-
macam itu tidak dapat dilakukan pada manusia, sehingga masukan
energi pada percobaan dengan manusia diukur dengan peng-
ukuran tidak langsung, yaitu dengan mengukur berat badan
relatif atau indeks berat badan yang diperkirakan mempunyai
korelasi kuat dengan kenaikan masukan energi. Studi epidemio-
logi yang dilakukan oleh Amstrong dan Doll pada 1975
(7)
ber-
hasil mendapatkan korelasi antara masukan energi total per
orang dengan kanker payudara, kolon, rektum, uterus, dan ginjal.
Sementara itu studi kasus kontrol yang dilakukan oleh Miller
dkk, 1978
(13)
mendapatkan korelasi positif antara masukan energi
dengan kanker payudara, dan peneliti lain yaitu Jain dkk, 1980
(14)
;
Lyon dkk, 1987
(15)
menemukan hubungan antara masukan energi
dengan kanker kolorektal.
Hubungan yang positif antara kenaikan indeks massa tubuh
(body mass index/BMI) dengan beberapa jenis kanker telah di-
laporkan oleh beberapa peneliti seperti hubungan BMI dengan
kanker payudara, BMI dengan kanker ginjal, BMI dengan kanker
endometrium dan kanker prostat. Akan tetapi peneliti lain tidak
menemukan hubungan antara berat badan dengan kenaikan risiko
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 19
kanker payudara, kolon, dan prostat. Pada studi kohort yang
dilakukan oleh Asosiasi Kanker Amerika Serikat, kematian
karena kanker terendah diobservasi pada pria dengan berat badan
10% di bawah sampai 20% di atas rata-rata berat menurut
tingginya. Sementara pada kohort wanita risiko terendah di-
dapati pada wanita dengan berat badan 20% di bawah sampai
10% di atas rata-rata berat menurut tingginya. Pada kohort pria
yang tidak merokok (berat badan biasanya lebih besar daripada
pria perokok) didapatkan hubungan antara berat badan relatif
dengan kematian karena kanker, dan hubungan trsebut hampir
linier
(18)
.
Pada studi dengan hewan cobaan, pembatasan masukan
energi akan mengurangi insiden beberapa jenis kanker, dan me-
ningkatkan umur binatang cobaan tersebut. Masukan energi total
dan persen energi yang berasal dari lemak berhubungan dengan
risiko kanker, akan tetapi hubungan ini bervariasi untuk jenis
kanker yang berbeda. Studi yang dilakukan oleh Boissonneault
dkk,1986, menemukan pengaruh energi yang berasal dari lemak
terhadap kanker tergantung dari masukan energi total
(17)
.
2)
Protein
Hubungan antara konsumsi protein terutama protein hewani
dengan insiden beberapa jenis kanker tertentu telah diselidiki
dalam studi epidemiologi. Namun korelasi antara konsumsi
protein dengan kanker dipengaruhi oleh korelasi yang tinggi
antara konsumsi protein dengan zat gizi lain terutama lemak.
Dengan demikian pengaruh langsung dari protein belum dapat
ditentukan
(18)
. Dlam suatu studi kasus kontrol mengenai kanker
payudara, asosiasi positif terbesar adalah asosiasi dengan pro-
tein, tinggi lemak, dan rendah serat makanan, tetapi setelah
komponen diet diukur secara independen, ternyata lemak mem-
punyai asosiasi paling kuat. Studi lain juga menemukan asosiasi
positif antara protein dan kanker kolon, tetapi dalam kajian se-
lanjutnya ternyata asosiasi antara kanker kolon dengan lemak
lebih kuat. Dalam studi kasus kontrol di Australia mengenai
kanker usus (bowel), risiko tertinggi didapati pada tinggi protein,
tinggi energi, dan rendah serat makanan
(19)
.
Studi menggunakan hewan cobaan menunjukkan pemberian
masukan protein secara berlebihan tidak selalu berhubungan
secara taat azas dengan kenaikan insiden tumor. Bila hewan
diberi makanan secara ad libitum dengan kandungan protein
10-15% kalori, total insiden tumor tidak dipengaruhi
(20,21)
, meski
beberapa tumor tertentu seperti bladder papilloma dan tumor
payudara ditingkatkan oleh peningkatan masukan protein.
3)
Vitamin dan mineral
Dalam makalah ini hanya dibahas vitamin A, karoten, vita-
min C, E, zat besi dan selenium. Banyak bukti menunjukkan
bahwa makanan yang mengandung banyak vitamin A dan karo-
ten dapat mencegah beberapa jenis kanker epitel. Dari beberapa
studi epidemiologi, konsentrasi vitamin A dalam darah ber-
hubungan dengan kenaikan risiko kanker, tetapi beberapa pene-
litian lain tidak menemukan hubungan tersebut. Demikian pula
hubungan antara karotenoid dalam darah dengan kanker. Suatu
studi kohort berhasil menunjukkan bahwa risiko semua jenis
a
kanker dapat diturunkan dengan meningkatkan konsumsi sayuran
yang kaya karoten. Bukti paling kuat mengenai peranan vitamin
A dalam pencegahan kanker didapat dari studi epidemiologi
yang menghubungkan antara konsumsi sayuran yang kaya karo-
ten atau makanan yang kaya vitamin A dengan kanker paru
(22,23)
.
Pada hewan cobaan, pemberian vitamin A dosis tinggi dapat
mencegah kanker serviks, vagina, kolon, kulit, lambung, tra-
cheobronchi, pankreas, dan hati. Karotenoid diperlukan untuk
diferensiasi sel normal. Defisiensi karotenoid dapat menyebab-
kan proses diferensiasi terhambat. Pada hewan cobaan retinoid
mungkin dapat mencegah tahap inisiasi dan promosi dari proses
karsinogenesis. Makanan yang kaya vitamin A dapat mencegah
pembentukan radikal oksigen dan peroksida lemak, dan beta
karoten sangat efisien dalam menetralisir radikal oksigen. Vita-
min A, bersama dengan vitamin C, vitamin E, dan selenium dapat
menetralisir efek peroksida dan mengurangi karsinogenesis.
Vitamin A dan karoten mempunyai efek penghambatan terhadap
kanker mulut dan oesofagus terutama pada pengunyah tembakau
(tobacco chewer) dan terhadap kanker paru pada perokok
(24)
.
Dari studi pada manusia, dapat ditunjukkan bahwa terdapat
asosiasi protektif antara makanan yang kaya vitamin C dengan
kanker esofagus;, kanker lambung
(24,25)
. Di dalam saluran pen-
cernaan, vitamin C akan memblok pembentukan nitrosamin
yang bersifat karsinogenik dari nitrat dan nitrit, serta mencegah
oksidasi zat-zat kimia tertentu menjadi bentuk karsinogenik yang
aktif. Vitamin C merupakan faktor pembatas reaksi nitrosasi
pada manusia, dan ini telah didemonstrasikan pada penderita
gastrektomi dan gastritis atropik akuta
(26)
.
Dari beberapa studi berhasil ditunjukkan bahwa efek toksik
dari ozon pada paru dapat dicegah secara efisien dengan vitamin
E
(24)
. Kadar vitamin E dalam serum mempunyai asosiasi protektif
dengan kanker paru
(27)
.
Dalam studi biokimia, vitamin E berfungsi sebagai anti-
oksidan yang larut dalam lemak dan sebagai free radical
scavenger. Dengan demikian peranan vitamin E dalam efek
pencegahan kanker hampir sama dengan vitamin A dan C.
Vitamin E, seperti juga vitamin C, dapat mencegah pembentukan
nitrosamin secara in vitro. Tetapi hams diingat bahwa vitamin E
larut dalam lemak, sehingga efek pencegahannya dipengaruhi oleh
kehadiran lemak, sedangkan vitamin C tidak, karena larut dalam
air.
Banyak bukti menunjukkan bahwa peningkatan simpanan
besi dalam tubuh berhubungan dengan peningkatan risiko kanker.
Stevens, dkk dalam penelitiannya menemukan mampu ikat besi
(total iron binding capacity) lebih rendah, sedangkan jenuh
transferin lebih tinggi pada penderita kanker dibandingkan
dengan bukan penderita
(28)
.
Selenium dalam tanaman maupun hewan berbentuk selenat,
selenocystin, selenomethionin, dan bentuk-bentuk lain yang
belum diidentifikasi. Pengkajian dari angka rata-rata konsumsi
selenium per kapita yang berasal dari 27 negara, mendapatkan
hubungan terbalik dengan total kematian karena kanker, ke-
matian karena leukemia, dan kanker kolon, rektum, payudara,
ovanum, dan kanker paru. Dari beberapa studi kasus kontrol
didapatkan bahwa penderita kanker mempunyai selenium darah
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
20
yang Iebih rendah daripada kontrol
(29)
. Akan tetapi data pene-
litian ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati, karena kadar
selenium darah yang rendah mungkin merupakan konsekuensi
sakit. Studi prospektif dapat menunjukkan bahwa risiko kanker
meningkat pada kelompok dengan selenium darah, vitamin E dan
vitamin A darah yang rendah. Selenium menghambat transfor-
masi neoplastik dalam berbagai organ epitel pada hewan. Bebe-
rapa studi menunjukkan efek protektif terhadap kanker hati,
payudara, kolon, dan kulit. Akan tetapi dosis yang diberikan
sampai menghasilkan efek protektif ini, dalam berbagai peneliti-
an sama dengan dosis yang dapat menimbulkan keracunan pada
pemberian jangka panjang.
4)
Serat makanan
Serat makanan meliputi selulosa, hemiselulosa, lignin, gums,
pektin. Sumber utama serat makanan adalah sayuran, buah-
buahan dan biji-bijian penuh atau utuh. Dari beberapa studi
epidemiologi, didapatkan korelasi antara konsumsi serat ma-
kanan dengan risiko kanker kolon. Pada studi dengan manusia,
masih belum cukup informasi tentang komponen dari serat
makanan dan pengaruh terhadap risiko kanker. Diperkirakan
jenis serat memegang peranan penting. Pada beberapa studi lain
juga diamati hubungan dengan zat gizi lain, karena walaupun
terdapat korelasi yang kuat antara risiko kanker kolon dengan
pola makanan tinggi sera, komponen diet lainnya mungkin
berpengaruh terhadap korelasi ini.
Dari 19 studi kasus kontrol yang mengukur peran serat
makanan pada kanker kolon, tiga studi tidak menemukan peran,
tiga studi menemukan hubungannya dengan kenaikan risiko
kanker, dan 13 studi menemukan efek protektif serat makanan,
khususnya sayuran. Efek protektif dikemukakan dalam dua studi
kasus kontrol yang menguji risiko relatif untuk diet tinggi lemak
dan rendah lemak. Secara keseluruhan, studi kasus kontrol
menyajikan hasil yang beragam, beberapa studi menunjukkan
serat makanan mempunyai efek protektif dan lainnya tidak.
Pada studi menggunakan hewan cobaan, juga didapatkan
hasil yang tidak taat azas dalam hubungan antara serat makanan
dengan kanker kolon. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti sifat karsinogen yang digunakan, komposisi diet, per-
bedaan kuantitatif dan kualitatif dalam serta makanan, strain
hewan cobaan yang digunakan, dan lama percobaan.
5)
Makanan olahan
Cara penyimpanan dan pengolahan makanan bervariasi antar
negara, dan perbedaan ini mungkin memberikan kontribusi yang
besar dalam variasi beberapa jenis kanker. Pengasapan makanan
dapat membentuk senyawa hidrokarbon polisiklik aromatik
(polycyclic aromatic hydrocarbon), beberapa di antaranya di-
ketahui bersifat karsinogenik pada hewan. Zat-zat yang bersifat
karsinogenik dapat terbentuk pada waktu proses pemasakan dan
jumlahnya berhubungan dengan penggunaan suhu tinggi dan
jangka waktu pemasakan
(30)
. Misal pemasakan dengan cara
pembakaran menggunakan api oven, dapat membentuk senyawa
hidrokarbon polisiklik aromatik pada permukaan makanan yang
aa
dibakar tersebut. Pembakaran asam amino dengan gula selama
proses pemasakan, menghasilkan berbagai zat kimia yang ber-
sifat mutagenik, dan beberapa di antaranya bersifat karsinogenik.
Penggaraman dan pengasaman makanan dapat membentuk nitro-
samin yang bersifat karsinogenik untuk mulut dan lambung.
Bukti-bukti dari studi epidemiologi menunjukkan masyara-
kat yang banyak mengkonsumsi makanan yang diawet dengan
diasin, diasam, dan diasap, mempunyai insiden kanker lambung
dan esofagus lebih banyak. Kanker esofagus berhubungan
dengan konsumsi asinan sayur, ikan asin dan makanan asap. Dari
beberapa studi epidemiologi, nitrat, nitrit dan komponen N-
nitroso dalam makanan dan air serta makanan yang diasin ber-
hubungan dengan kanker lambung.
Kanker esofagus dan kanker lambung juga berhubungan
dengan keadaan gizi kurang. Kenyataannya, hampir semua studi
mengenai diet dengan kanker lambung, telah menemukan efek
protektif dari konsumsi sayuran dan buah-buahan, dan bahkan
dalam percobaan in vitro pembentukan komponen N-nitriso
dapat ditekan seminim mungkin oleh antioksidan seperti vitamin
E dan vitamin C.
PENELITIAN-PENELITIAN YANG DIPERLUKAN
Keberhasilan pembangunan yang mengakibatkan perbaikan
ekonomi, kesejahteraan, kesehatan, dan gaya hidup, akan
mengubah pola penyakit yaitu berkurangnya penyakit menular
dan kurang gizi, seas meningkatnya penyakit-penyakit degene-
ratif seperti kanker, jantung, tekanan darah tinggi. Belajar dari
pengalaman negara maju, maka sebaiknya sudah dapat diantisi-
pasi penelitian-penelitian untuk mencegah penelitian meng-
gunakan hewan percobaan, penelitian asosiasi, maupun pene-
litian kasus kontrol.
Berikut ini disajikan beberapa topik penelitian yang mungkin
penting untuk dilaksanakan.
1)
Penyebab gizikurang pada penderita kanker dan efek suple-
mentasi gizi terhadap respon pengobatan dan kelangsungan
hidup.
2)
Efek komponen-komponen khusus seperti lemak, serat
makanan, vitamin A, karotenoid pads kanker.
3)
Interaksi antara berbagai zat gizi seperi lemak, serat ma-
kanan, energi, protein, vitamin dan mineral pada pencegahan dan
pengobatan kanker.
4)
Pola makanan yang baik untuk mencegah kanker.
5)
Penyediaan pangan dan insiden kanker
PEDOMAN DIET
Untuk menentukan pedoman diet dalam kaitannya dengan
kanker, harus dipertimbangkan kemungkinan adanya hubungan
antar zat gizi terhadap risiko kanker. Zat-zat gizi termaksud
adalah lemak, energi, serat makanan, vitamin A dan karoten,
serta alkohol. Peranan vitamin C, vitamin E, makanan olahan
(penggaraman dan pengasinan), pengasapan perlu diperhatikan.
Secara singkat pedoman diet dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Konsumsi lemak sedang (kurang dari 30% total energi).
2. Perbanyak konsumsi berbagai jenis sayuran hijau dan buah-
a
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 21
buahan.
3. Masukan energi cukup sehingga mencapai berat badan
normal.
4. Batasi alkohol.
5. Kurangi makanan olahan yang menggunakan garam (di-
asin), diasap, dan cuka.
KEPUSTAKAAN
1. Lapau B. Pendekatan Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Kontribusi Epide-
miologi dalam rangka mengatasi Masalah Kanker di Indonesia. Medika
1983; 9.
2. Pundarika R. National Household Survey. Jakarta: Ministry of Health.
1972.
3. Buadiarso RP. dkk. Survei Rumahtangga. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. 1980.
4. Departemen Kesehatan RI. 1990. Profit Kesehatan Indonesia tahun 1989.
5. US Department of Health and Human Services. The Surgeon General's
Report on Nutrition and Health. Rocklin, California: Prima Publishing and
Communication. 1988.
6. Garrison RH, Somer E. The Nutrition Desk Reference. New Canaan,
Connecticut; Keats Publishing, Inc. 1985.
7. Amstrong B, Doll R. Environmental factors and cancer incidence and
mortality in different countries, with special reference to dietary practices.
Internat. J. Cancer. 1975; 15: 617-31.
8. Rose DP, Boyar AP, Wynder EL. International comparisons of mortality
rates for cancer of the breast, ovary, prostate, and colon, and per capita food
consumption. Cancer. 1986; 58: 2363-71.
9. Dao TL, Chan PC. Effect of duration of high fat intake on enhancement of
mammary carcinogenesis in rats. J. Nat. Cancer Inst. 1983; 71: 201-5.
10. Welsch CW. Enhancement of mammary tumorigenesis by dietary fat:
review of potential mechanisms. Amer. J. Clin. Nutr. 1987; 45: 192-202.
11. Liu K, Stamler J, Moss D, Garside D, Persky V, Soltero L Dietary
cholesterol, fat, and fiber and colon-cancer mortality. Lancet 1979; ii:
782-85.
12. Mc. Michael AJ, Jensen OM, Parkin DM, Zaride DG. Dietary and
endogenous cholesterol and human cancer. Epid. Rev. 1984; 6: 196-216.
13. Miller EC, et al. A study of diet and breast cancer. Amer. J. Epid. 1978;
107 (6): 499-509.
14. Jain M, Cook GM, Davis FG, Grace MG, Hove GR, Millem AB. A case-
control study of diet and colo-rectal cancer. Intemat. J. Cancer 1980; 26:
757-68.
15. Lyon JL, et al. Energy intake: its relationship to colon cancer risk. J. Nat.
Cancer Inst. 1987; 78: 853-61.
16. Lew EA, Garfinkel L. Variations in mortality by weight among 750,000
men and women. J. Chron. Dir. 1979; 32: 563-76.
17. Boissonneault GA, Elson CE, Pariza MW. Net energy effects of dietary fat
on chemically-induced mammary carcinogenesis in F344 rats. J. Nat.
Cancer Inst. 1986; 76: 335-38.
18. Palmer S. Diet, nutrition and cancer. Progress in Food and Nutrition
Science 1986; 9: 283-341.
19. Pooter JD, Michael AJ. Diet and cancer of the colon and rectum: a case-
control study. J. Nat. Cancer Inst. 1986; 76: 557.
20. Ross MH, Bras G. Influence of protein under- and ovemutrition on
spontaneous tumor prevalence in the rat. J. Nutr. 1973; 103: 944-63.
21. Tannenbaum A, Silverrstone H. The genesis and growth of tumors. IV.
Effects of varying the proportion of protein (casein) in the diet Cancer Res.
1949; 9: 162-73.
22. Shekelle PB. et aL Dietary vitamin A and the risk of cancer in the Western
Electric study. Lancet 1981; i: 1185-90.
23. Kvale G, Bjelke E, Gart JJ. Dietary habits and lung cancer risk. Internat.
J. Cancer 1983; 31: 397-405.
24. Weisburger JH. Nutritional approach to cancer prevention with emphasis
on vitamins, antioxidants, and carotenoids. Am. J. Clin. Nutr. 1991; 53:
226S-37S.
25. Kolonel LN, Nomura AMY, Hirohata T, Hankin JH, Hinds NW. Asso
ciation of diet and place of birth with stomach cancer incidence in Hawaii,
Japanese and Caucasians. Am. J. Clin. Nutr. 1981; 34: 2478-85.
26. Tannenbaum SR, Wishnok JS, Leaf CD. Inhibition of nitrosamine forma-
tion by ascorbic acid. Am. J. Clin. Nutr. 1991; 53: 247S-50S.
27. Comstock GW, Helzlsouer KJ, Bush TL. Prediagnostic serum levels of
carotenoids and vitamin E as related to subsequent cancer in Washington
County, Maryland. Am. J. Clin. Nutr. 1991; 53: 260S-4S.
28. Stevens RG, Jones DY, Micozzi MS, Taylor PR. Body iron stores and the
risk of cancer. N. Engl. J. Med. 1988; 319: 1047-52.
29. Shamberger RJ. et al. Antioxidants and cancer. I. Selenium in the blood of
normals and cancer patients. J. Nat. Cancer. Inst. 1973; 50: 863-70.
30. Lijinsky W, Shubik P. Benzo (a) pyrene and other polynuclear hydrocar-
bons in charcoal-broiled meat. Science. 1964; 145: 53-55.