background image
Kadar IgG dan 1gM Pada Bentuk Tuberkuloid
dan Lepromatous Dari Penyakit Lepra
Roswita Hasyimi, Robert Widjaja, Liliana Kurniawan
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit lepra merupakan penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae yang termasuk bakteri golongan intra
seluler. Penyakit menyerang tubuh manusia, terutama di kulit
dan susunan syaraf tepi; dan memerlukan waktu yang cukup
lama dalam perjalanan penyakitnya atau dikenal sebagai
penyakit kronis. Penyakit lepra masih ditakuti masyarakat
karena merupakan penyakit menular, dapat mengakibatkan
cacat jasmani dan pengasingan oleh keluarga. Hal ini menjadi
problema di beberapa negara, termasuk Indonesia dengan
prevalensi 0.08%
1,2
.
Penyakit lepra bila ditinjau dari sudut histopatologik dan
klinik, menunjukkan bentuk-bentuk yang bervariasi atau di-
sebut spektrum.
Ridley dan Jopling
3
mengklasifikasikan penyakit lepra
sebagai berikut : Tuberkuloid leprosy (TT), Borderline (BB)
dan Lepromatous leprosy (LL). Bentuk Bordeline (BB) tersebut
dapat dikatakan Borderline tuberkuloid (BT) jika cenderung ke
arah Tuberkuloid leprosy (TT) dan apabila cenderung ke arah
Lepromatous leprosy (LL) disebut Borderline lepromatous
(BL). Bentuk Tuberkuloid leprosy (TT) menunjukkan sistem
imunitas seluler yang balk dan dapat sembuh dalam waktu
relatif cepat, sedangkan bentuk Lepromatous leprosy (LL) juga
dapat sembuh, tetapi dalam waktu relatif lama. Selain dari tipe-
tipe yang disebut di atas terdapat pula bentuk Indeterminate
yaitu bentuk penyakit lepra yang paling dini
4
Kemungkinan bentuk ini terjadi sebelum teijadi tipe Tuber
-
kuloid leprosy (TT), Lepromatous leprosy (LL) atau Border-
line (BB).
Pada dasarnya organisme tingkat tinggi mempunyai ke-
sanggupan mengenali benda-benda asing (antigen asing) karena
kelompok ini mempunyai sistem pertahanan tubuh yang terdiri
dari limfosit. Sistem imunitas seluler tersebut mempunyai
peranan yang sangat panting dalam hal reaksi penolakan
bakteri intra seluler dan beberapa reaksilainnya
5
.
Sel limfosit ini merupakan bagian dari sel lekosit dan di-
temukan dalam darah, kelenjar getah bening, lien dan nodus
limfatikus. Dikenal dua kelompok besar limfosit yaitu limfosit
T dan limfosit B. Kedua kelompok ini berasal dari sel stem
yang terdapat dalam sumsum tulang. Sel limfosit B itu apabila
berkontak dengan benda asing (antigen asing), limfosit ini se-
lanjutnya akan berdiferensiasi menjadi sel-sel plasma yang
matang dan siap menghasilkan antibodi dalam bentuk imuno-
globulin (Ig), seterusnya masuk ke dalam peredaran darah.
Imunoglubulin (Ig) ini merupakan suatu protein dan terdiri
dari lima kelas
6
. Kelima kelas imunoglobulin mempunyai
struktur dasar molekul yang sama, yang pada pemeriksaan
mikroskop elektron berbentuk Y; sistem imunitas yang di-
perantarai imunoglobulin. (Ig) dikenal sebagai imunitas humo-
ral. Imunoglobulin G (IgG) adalah imunoglobulin yang paling
banyak terdapat dalam tubuh manusia, terutama setelah respon
imun sekunder. Imunoglobulin M (IgM) wring disebut
makroglobulin, hal ini disebabkan karena imunoglobulin M
(IgM) mempunyai berat molekul yang besar. Imunoglobulin ini
didapat pada respon imun primer dalam waktu yang relatif
singkat dari imunoglobulin G (IgG), karena imunoglobulin M
(IgM) penting untuk menghapuskan bakteri dalam; darah dan
mempunyai sifat aglutinasi dan sitolitik; maka merupakan
pertahanan tubuh yang penting. Pada keadaan normal
6
kadar
imunoglobulin G (IgG) dalam serum manusia berkisar 800 ­
1600 mg/dl dan kadar imunoglobulin M (IgM) berkisar 50 ­
200 mg/dl.
Mycobacterium leprae tergolong bakteri yang intra seluler,
yang banyak berperanan dalam sistem imunitas seluler. Hal ini
dapat terlihat pada penderita tipe Tuberkuloid leprosy (TT)
yang mempunyai sistem imunitas seluler balk yang disertakan
indeks bakteri = 0, sedangkan pada penderita tipe Lepro-
matous lepresy (LL) sistem imunitas buruk, dengan indeks
bakteri = 5+/6+
3
. Dari sistem imunitas humoral didapatkan
bahwa kadar imunoglobulin pada penderita lepra tipe Tuber
kuloid leprosy (TT) dan tipe Lepromatous leprosy (LL) bar-
bade
7
.
Penelitian ini disusun untuk mengetahui dan mempelajari
sebagian reaksi humoral pada penderita tipe Tuberkuloid
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 21
background image
leprosy (TT) dan penderita tipe Lepromatous leprosy (LL),
yaitu membandingkan kadar imunoglobulin G (IgG) dan
Imunoglobulin M (IgM).
Dari hasil penelitian diharapkan informasi yang berman-
faat dalam segi imuno patogenesis dari penyakit lepra, yang
mana informasi mengenai kadar imunoglobulin G (IgG) dan
imunoglobulin M (IgM) pada penderita lepra dengan kedua tipe
spektrum tersebut sangat kurang di Indonesia.
BAHAN DAN CARA KERJA
Rumah sakit kusta Sitanala terletak di Tanggerang, Jawa-
Barat yang merupakan salah satu rumah sakit kusta yang di-
biayai oleh pemerintah, dipilih sebagai tempat penelitian.
Umumnya penderita lepra berasal dari Jawa Barat dan Daerah
Khusus'Ibukota (DKI) Jakarta dan hersifat sementara untuk
mendapat perawatan, sesudah sembuh mereka kembali kepada
keluarga mereka untuk bekerja seperti biasa.
Telah dipilih 9 penderita tipe Tuberkuloid leprosy (TT), 21
penderita tipe Lepromatous leprosy(LL) dari rumah sakit kusta
Sitanala dipilih berdasarkan pemeriksaan klinik, bakterioskopik
dan imunologik (tes lepromin); selain itu dipilih 8 orang
dewasa yang sehat dan tidak mempunyai kontak dengan
penderita lepra sebagai kelompok kelola (normal). Pemeriksaan
kadar imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM) di
dalam plasma dilakukan secara Radial Immuno Diffusion Test,
dengan menggunakan plate NOR-Partigen
R
IgG dan NOR-
Partigen
R
lgM (Retiring Institute).
Serum standard yang dipakai adalah Standard Human Serum
K/041009, (Behring Institute).
Radial Immuno Diffusion Test
Sul Standard Human Serum masukkan ke dalam sumur nomor
I pada plate NOR-Partigen, sebagai kelola (kontrol). 5 ul
plasma yang dites masukkan ke dalam sumur nomor 2 sampai
12. Diinkubasi pada keadaan lembab pada suhu kamar, selama
dua haii untuk imunoglobulin G (IgG) dan lima hari untuk
imunoglobulin M (IgM). Ukur diameter lingkaran yang putih
kelabu yang metupakan prisipitasi. Kadar imunoglobulin yang
dinyatakan dapat dibaca dalam tabel plate NOR-Partigen
(Behring Institute).
Analisa statistik dikerjakan dengan menggunakan Student's
t test.
HASIL
Pada penelitian kadar Imunoglobulin G (IgG) dan
Imunoglobulin M (IgM) pada penderita lepra di rumah sakit
kusta Sitanala, Tanggerang didapat kadar Imunoglobulin G
(IgG) untuk kelompok penderita tipe Tuberkuloid leprosy (TT)
sebesar 2807.78 mg/dl; kelompok penderita tipe Lepromatous
leprosy (LL) sebesar 4294.29 mg/dl. Untuk Imunoglobulin M
(IgM) pada penderita tipe Tuberkulid leprosy (TT) dan
Lepromatous leprosy (LL) adalah masing-masing 241.33 mg/
d., 125.45 mg/di (Tabel 1).
Pada tabel dapat pula ditunjukkan bahwa kadar Imunoglo-
bulin pada orang sehat yang tidak mempunyai kontak dengan
penderita lepra dari Jakarta, didapat kadar imunoglobulin G
(IgG) sebesar 1227.25 mg/di dal
'
imunoglobulin M (IgM) se-
besar 125.45 mg/dl.
Tabel 1. Kadar IgG dan 1gM dari plasma orang sehat (N), penderita
Tuberkuloid leprosy (Ti) dan Leprontatous leprosy (LL).
Kelompok
Jumlah
Sampel
(n)
IgG (mg/dl)
Rata-rata
(berkisar)
IgM (mgidl)
Rata-rata
(berkisar)
N
8
1227.25 ± 241.90
125.45 ± 20.93
(908 - 1560)
(89.60 - 145)
TT
9
(a)
2807.78 ± 856.15
(c)
241.33 ± 78.17
(1130 - 4180)
(145 - 359)
LL
21
(b)
4294.29 ± 110.59
(d)
297.50 ± 78.18
(2500 - 6020)
(160 - 385.50)
(b),(d), bermakna dibanding N (p <0.001)
(c) bermakna
dibanding
N
(p
<0.01)
(a), bermakna
dibanding
N
(p
<0.05)
(a), bermakna
dibanding
(b)
(p
<0.01)
(c), tidak bermakna dibanding (d) (p > 0.05)
PEMBAHASAN
Dari hasil pemeriksaan kadar Imunoglobulin G (IgG) pada
penderita lepra di rumah sakit kusta Sitanala, ternyata kadar
Imunoglobulin G (IgG) pada kelompok penderita tipe Lepro-
rnatous leprosy (LL) menunjukkan hasil lebih tinggi yang
nyata berbeda bila dibandingkan kelompok penderita tipe
Tuberkuloid leprosy (TT) (p < 0.01); dan kedua tipe ini kadar
Imunoglobulin G (IgG) lebih tinggi yang nyata berbeda dari
kelompok orang sehat (p < 0.001 dan p < 0.05). Tingginya
kadar Imunoglobulin G (IgG) pada tipe Lepromatous leprosy
(LL) mungkin disebabkan karena meningkatnya jumlah hasil-
hasil lepra, sehingga jumlah antigen juga meningkat dalam
peredaran darah. Sifat hasil-hasil lepra ini adalah intra seluler,
maka imunoglobulin sebagai daya pertahanan tubuh demikian
tinggi tidak berperanan pada reaksi humoral. Akibat sebaliknya
menjadi mala petaka pada penderita iepra, terutama pada tipe
Lepromatous leprosy (LL). Sedangkan untuk Imunoglobulin M
(IgM) penderita Lepromatous leprosy (LL) dan tipe
Tuberkuloid leprosy (TT) lebih tinggi yang nyata berbeda dari
kelompok orang sehat (p < 0.01 dan p < 0.01). Tetapi kadar
tersebut tidak terlihat berbeda antara tipe Lepromatous leprosy
(LL) dan tipe Tuberkuloid leprosy (TT), hal ini disebabkan
karena Imunoglobulin M tidak spesifik bereaksi dengan infeksi
sekunder pada penderita lepra yang merupakan penyakit kronis.
Hasil peneliti ini jika ditinjau dari kadar rata-rata
Imunoglobulin G (IgG) dan Imunoglobulin M (lgM) dengan
kedua tipe spektrum penyakit lepra lebih tinggi dari orang
normal, hal ini juga dinyatakan oleh beberapa peneliti°'
8
'
9
.
Tetapi perlu diingat bahwa kadar yang tinggi dari
Imunoglobulin G (IgG) dan Imunoglobulin M (IgM) juga di-
jumpai pada berbagai keadaan antara lain penyakit infeksi
9,10
.
KESIMPULAN
Pada penderita lepra dengan kedua yipe spektrum di dalam
plasma terdapat rata-rata Imunoglobulin G (IgG) dan Imuno-
globulin M (IgM) lebih tinggi dari orang sehat. Pada penderita
tipe Tuberkuloid leprosy (TT) reaksi humoral lebih condong
ke orang sehat yaitu rata-rata kadar Imunoglobulin G (IgG)
dan Imunoglobulin M (IgM) mendekati orang sehat. Tetapi
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
22
background image
reaksi humoral ini berkembang dengan baik sekali pada tipe
Lepromatous leprosy (LL), dengan rata-rata kadar Imunoglo-
bulin G (IgG) dan Imunoglobulin M (IgM) jauh melebihi orang
sehat. Dalam hal ini komponen respon humoral ini penting
diperhatikan.
KEPUSTAKAAN
1.
Benenson A. Control of communicable in Man. An official report of the
American Public Health Association thirteenth edition, 1980.
2.
Louhenapessy AA. Epidemiologi dan Pemberantasan Kusta ddi Indonesia.
Simposium Kusta, Jakarta: 30 Mei 1980.
3.
Ridley DS, Jopling WH. Classification of leprosy according to immunity.
A five'-group system. Internat J Leprosy. 1966; 34 : 255.
4.
WHO Memoranda. Immunological problems in leprosy research 1. Bull
WHO. 1973; 48 : 345.
5.
Suhana, Tjokronegoro A. Imunitas seluler dan terapi radiasi pada penderita
kanker. Cermin Dunia Kedokteran. 1980; 17 : 35. 6.
6.
Roitt I. Essensial Immmunology. Blackwell Scientific Publication,
Oxford. 1977; 154 ­ 160.
7.
Bryceson A, Pfaltzgraff R. Leprosy. Medicine in the Tropics 2nd ed.
1979; 61.
8.
Sirisinha S, Charupatana C, Ramasoota T. Serum immunoglobulin in
leprosy patiens with different spectra of clinical manifestation. Proc Soc
Exprtl Biol Med. 1972; 140 . 1062.
9.
Saha K, Agarwal SK, Misra RC. Gut­Associated IgA Deficiency in
Lepromatous leprosy. Scand J Immunol. 1978; 8 397 ­ 402.
10.
Wita Pribadi. Aspek Imunologis Malaria. Acta Medica Indonesiana XV.
1984; bag. I. No. 2 : 84 ­ 92.
Ucapan terimakasih
Rasa terimakasih disampaikan kepada :
­
Staf rumah sakit kusta Sitanala, Tanggerang yang telah memberikan
bantuan pada penelitian ini.
­
Prof DR AA Loedin, Kepala Bagian Litbang Kesehatan dan Dr. Iskak
Koiman yang telah memberi dukungan sehingga terlaksananya penelitian.
­
Kelompok peneliti Pusat Penelitian Penyakit Menular yang telah banyak
membantu selama penelitian
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 23