343
| JULI - AGUSTUS 2010
ABSTRAK
Kegiatan fisik yang terbanyak selama ibadah haji adalah berjalan kaki. Untuk kegiatan berjalan kaki diperlukan antara
lain tingkat kemampuan endurans yang optimal serta bentuk anatomi kaki yang normal. Kondisi kaki leper/pes planus
secara teoritis dapat mengurangi tingkat kemampuan endurans.
Tujuan penulisan untuk mengetahui tingkat kemampuan endurans calon haji khususnya yang berkaki leper/pes pla-
nus sehingga jika perlu dapat diintervensi agar calon jemaah haji dapat melaksanakan ibadah dengan baik. Subyek
penelitian adalah calon jemaah haji Jakarta Timur tahun 2007. Dengan metode studi potong lintang pada 1920 orang
didapatkan prevalensi pes planus sebesar 10,2 % ; kisaran umur 28 - 86 tahun dan tingkat kemampuan endurans awal
subyek dengan pes planus rerata + (SB) sebesar 19,79 + (1,46) mL/kg/mnt. mampu berjalan kaki sejauh + (SB) 525,26
(68,53) meter/ 6 menit.
Kata kunci : Endurans, Pes planus.
PENDAHULUAN
Aktifitas yang tinggi sering menimbul-
kan kelelahan pada jemaah haji, apa-
lagi mereka yang tidak siap fisiknya.
Salah satu penyebab kelelahan je-
maah di tanah suci adalah rendahnya
tingkat kemampuan endurans, kelu-
han pegal otot karena aktifitas ber-
jalan kaki yang cukup tinggi. Hal ini
disebabkan habisnya cadangan energi
dalam otot, penimbunan asam laktat,
gangguan kardiovaskular dan neuro-
muskular. Faal tubuh terganggu akibat
aktivitas yang berlebihan tanpa ada
persiapan endurans.
1
Endurans adalah suatu ukuran tingkat
kebugaran; merupakan kemampuan
untuk bekerja pada periode waktu
yang lama tanpa lelah.Endurans terdiri
dari endurans otot dan kardiovasku-
lar.
2
Endurans otot adalah kemampuan
sekelompok otot untuk menghasilkan
kontraksi berulang pada suatu periode
waktu tertentu. Endurans kardiovasku-
lar adalah kemampuan kardiorespirasi
untuk menunjang kebutuhan gerakan
dinamis otot-otot besar seperti berja-
lan, berenang dan bersepeda dalam
waktu lama.
2-3
Faktor kelelahan lain adalah bentuk
lengkung kaki yang tidak normal (kaki
leper/pes planus). Pes planus menye-
babkan ketidak-stabilan kaki sebagai
penumpu tubuh. Hal ini dapat menye-
babkan berbagai keluhan seperti cepat
ausnya sol sepatu bagian tumit, mem-
pengaruhi gerakan normal berjalan
yang mengakibatkan kelelahan serta
nyeri.
4
Pes planus menyebabkan kurang
berfungsinya sistem pengungkit yang
kaku saat kaki meninggalkan pijakan.
5
Hal ini pada orang yang tidak terlatih
Hubungan antara Derajat Lengkung Kaki
dengan Tingkat Kemampuan Endurans
pada Calon Jemaah Haji, 2007
Syarief Hasan Lutfie
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
UIN (Universitas Negeri Islam) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia
menyebabkan rasa lelah, akan mem-
batasi aktivitas jalan, lebih lanjut akan
menurunkan kemampuan endurans.
6
Pada jemaah haji menurunnya endur-
ans tentu saja mempengaruhi aktivitas
melaksanakan ibadah haji, sehingga
kualitas ibadah haji tidak optimal.
METODE PENELITIAN
Untuk mendapatkan nilai prevalensi
pes planus dan tingkat kemampuan
endurans awal calon jemaah haji Ja-
karta Timur tahun 2007 dilakukan de-
sain potong lintang. Sebanyak 1920
orang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi dari total jemaah 2422 orang.
Kriteria Inklusi:
1. Bersedia mengikuti penelitian,
mengisi serta menandatangani
lembar informed consent.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_178_a.indd 343
20/06/2010 21:46:58
344
| JULI - AGUSTUS 2010
2. Tidak termasuk jemaah haji risiko
tinggi sesuai daftar yang dikeluar-
kan oleh Departemen Kesehatan
dan Departemen Agama tahun
2006.
Kriteria Eksklusi :
1. Menderita penyakit atau kelainan
yang terkait dengan gangguan
sendi seperti artritis dengan de-
formitas dan deformitas sendi
tungkai bawah lainnya.
2. Subyek sedang dalam perawatan
kesehatan yang terkait dengan
penyakit kardiorespirasi.
Dari 1920 orang didapat 196 orang
berkaki pes planus. Namun hanya 172
orang yang melanjutkan penelitian; 24
orang mengundurkan diri.
Derajat lengkung kaki diketahui dari
pemeriksaan sidik tapak kaki. Sebel-
umnya, perlu disiapkan
1. 2 lembar kertas polos diletakkan
di atas 2 papan.
2. 2 buah bantalan dengan tinta
yang bisa diinjak.
Subyek ditimbang berat badan dan
diukur tinggi badan. Kemudian sub-
yek menapakkan kedua kaki pada
bantalan tinta, lalu menapakkan kem-
bali kakinya satu persatu di atas kertas
putih polos yang sudah disiapkan di
atas dua lembar papan. Dengan pen-
sil atau pulpen, kedua kaki digambar
sesuai bentuk kaki. Setelah digambar,
subyek boleh mengangkat kakinya; di
kertas putih tadi akan tertinggal jejak
sidik tapak kaki. Kertas tersebut diberi
data nama, tinggi badan dan berat
badan. Diagnosis derajat lengkung
kaki ditegakkan berdasarkan hasil ce-
takan dengan satuan sentimeter.
Aksis kaki diperoleh dengan menarik
garis dari pertengahan tumit belakang
sampai ke bagian tengah jari kedua
melewati bagian paling konveks tu-
mit
7
Lengkung kaki dikatakan normal
bila sidik tapak kaki berbentuk konkaf,
melewati aksis tetapi bagian lateral si-
dik jari tidak terputus.
Pes planus dibagi 3 kategori :
Pes planus derajat satu : Jika batas
medial sidik tapak kaki berbentuk kon-
kaf dan berada di sisi medial aksis kaki.
Pes planus derajat dua: Jika batas
medial sidik tapak kaki berbentuk rek-
tilinear dan tidak melewati aksis.
Pes planus derajat tiga: Jika batas
medial sidik tapak kaki berbentuk kon-
veks dan tidak melewati aksis
Tingkat kemampuan endurans dinilai
dengan tes uji jalan 6 menit menggunak-
an perhitungan rumus untuk mendapat-
kan nilai VO
2
maks. Sebelumnya subyek
diperiksa dulu tekanan darah, denyut
nadi dan frekuensi pernapasan.
Setelah data diperoleh, persiapkan
tempat/alur berjalan yang ditandai
setiap 100 meter untuk memudahkan
pengukuran. Kemudian subyek dim-
inta berjalan sejauh mungkin selama
6 menit; selanjutnya diukur jarak tem-
puh yang dicapai berdasarkan ukuran
meter. Endurans diukur berdasarkan
jarak yang ditempuh dengan rumus
VO
2
maks : 0,03 x jarak (m) + 3,98
dalam satuan mL/kg/mnt.
8
HASIL DAN PEMBAHASAN
Didapatkan lengkung kaki normal
berjumlah 1718 orang (89,5%), 196
orang dengan pes planus (10,2%) dan
6 orang (0,3%) dengan lengkung kaki
tinggi (pes cavus). Prevalensi pes pla-
nus (PP) pada calon jemaah haji Ja-
karta Timur tahun 2007 sebesar 10,2%
(tabel 1)
Pada penelitian ini prevelensi pes pla-
nus derajat 1 lebih banyak dari pes
palnus derajat 2 dan 3. Progresifitas
derajat pes planus meningkat sesuai
dengan bertambahnya umur sebesar
0,9%
9
karena pergeseran struktur tu-
lang kaki yang dipengaruhi oleh akti-
vitas setelah dewasa.
Pes planus derajat 1 mempunyai ni-
lai rerata + SB sebesar -1,13 + (0,64)
cm, derajat 2 sebesar -2,58 + (0,10)cm
dan derajat 3 sebesar -3,33 + (0,45)
cm. Dari rerata nilai tersebut diketahui
bahwa PP derajat 2 calon jemaah haji
lebih homogen dibanding PP derajat
3 dan PP derajat 1.
Untuk tingkat kemampuan endurans,
melalui uji latih 6 menit didapat nilai
VO
2
maks awal rata-rata 19,75 mL/kg/
mnt dengan kisaran 11,48 - 22,67 mL/
kg/mnt. Rerata + simpang baku (SB)
tingkat kemampuan endurans subyek
laki-laki sebesar 20,47 + 1,22 mL/kg/
mnt dan subyek perempuan sebesar
19,29 + 1,90 mL/kg/mnt.(tabel 3).
Tingkat kemampuan endurans awal
berdasarkan jenis kelamin dapat di-
kategorikan :
Kaki normal pp derajat 1 pp derajat 2 pp derajat 3
Gambar 1. Sidik tapak kaki pada kaki normal dan pes planus derajat 1 sampai 3
7
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_178_a.indd 344
20/06/2010 21:46:58
345
| JULI - AGUSTUS 2010
Pada laki laki :
Tingkat kemampuan endurans kurang
< 20,47 mL/kg/mnt
Tingkat kemampuan endurans baik >
20,47 mL/kg/mnt.
Pada perempuan :
Tingkat kemampuan endurans kurang
< 19,33 mL/kg/mnt
Tingkat kemampuan endurans baik >
19,33 mL/kg/mnt
Para calon jemaah haji laki-laki mau-
pun perempuan mempunyai nilai
tingkat kemampuan endurans awal
yang kurang, dan tergolong sangat
buruk bila menggunakan standar
populasi umum luar negeri pada umur
yang sama
10
. Sedangkan tingkat ke-
mampuan endurans penderita gagal
jantung dengan metoda pengukuran
uji jalan 6 menit sebesar 12,02 16,7
mL/kg/ menit
11
Tingkat kemampuan endurans awal
laki-laki lebih tinggi dari perempuan,
hal ini berkaitan dengan ukuran tubuh,
jenis serabut otot dan faktor lain yang
berpengaruh seperti umur, status gizi,
jenis pekerjaan dan pes planus.
Jemaah haji Indonesia umumnya be-
rumur di atas 50 tahun, yang berisiko
penurunan endurans. Di atas umur 40
tahun terjadi penurunan fungsi organ
sekitar 20% yang menurunkan tingkat
endurans. Saat itu, fungsi jantung, kar-
diorespirasi maupun muskuloskeletal
menurun, begitu pula fungsi jantung
serta perbedaan maksimal oksigen
pembuluh darah arteri dan vena.
Tipe serabut otot dominan pada laki-
laki (tipe II) lebih tahan terhadap kele-
lahan dibandingkan dengan serabut
otot tipe I pada perempuan. Faktor
status gizi berpengaruh terhadap
endurans; obesitas mempengaruhi
kelincahan maupun pengeluaran en-
ergi. Faktor pes planus mempenga-
ruhi stabilisasi maupun efisiensi pen-
geluaran energi saat berjalan.
SIMPULAN
1. Calon jamaah haji Indonesia mem-
puanya endurans awal kurang
Tabel 1. Jumlah jemaah haji menurut derajat lengkung kaki
Derajat Lengkung Kaki
Frekuensi
Prosentase
PP derajat 1
173
9.0
PP derajat 2
13
0.7
PP derajat 3
10
0.5
Normal
1718
89.5
pes cavus
6
0.3
Total
1920
100.0
Tabel 2. Distribusi Frekuensi derajat pes planus berdasarkan nilai kuantitatif.
Derajat
n
Rerata (+ SB)
Cm
%
PP 1
163
-1,13 (0,64)
90,1
PP 2
14
-2,58 (0,10)
5,2
PP 3
18
-3,33 (0,45)
4,7
Tabel 3. Tingkat kemampuan endurans awal berdasarkan derajat pes planus
Derajat
n
Rerata
(mL/kg/mnt)
(+ SB)
95% CI
untuk rerata
p
Endurans Awal
PP 1
155
19,79
(1,57)
14,48-22,58
0,57
PP 2
9
19,29
(0,76)
11,48-22,67
PP 3
8
19,52
(0,63)
15,68-21,53
Tabel 4. Tingkat kemampuan endurans awal pada laki-laki berdasarkan derajat pes planus
n
Rerata (+ SB)
(mL/kg/mnt)
95% CI untuk rerata
Endurans awal
PP 1
62
20,47 (1,25)
16,58 - 22,67
PP 2
2
20,81 (1,23)
19,94 21,68
PP 3
3
20,23 (0,87)
19,58 21,23
Tabel 5. Distribusi tingkat kemampuan endurans awal pada perempuan berdasarkan pes planus
n
Rerata (+ SB)
(mL/kg/mnt)
95% CI untuk rerata
Endurans awal
PP 1
93
19,33 (1,87)
11,48 22,43
PP 2
7
18,86 (2,39)
14,48 21,92
PP 3
5
19,10 (2,14)
15,68 21,38
Tabel 6. Selisih tingkat kemampuan endurans awal rata-rata antara laki-laki dan perempuan
Derajat Pes planus
Endurans awal (mL/kg/mnt)
endurans
Laki-laki
Perempuan
PP 1
20,47
19,33
1,14
PP 2
20,81
18,86
1,95
PP 3
20,23
19,10
1,13
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_178_a.indd 345
20/06/2010 21:46:58
346
| JULI - AGUSTUS 2010
2. Uji jalan 6 menit sebagai uji latih
yang mampu laksana di lapangan,
cukup adekuat dan aman, dapat
ditoleransi, serta cocok untuk ke-
lompok umur di atas 40 tahun.
SARAN
Calon jemaah haji pes planus dan tidak
mampu laksana, yaitu tidak mampu
menempuh 500 meter selama 6 me-
nit. perlu mendapatkan latihan khusus
untuk meningkatkan endurans. Lebih
baik lagi jika menggunakan sepatu/
insol sebagai koreksi pes planus agar
dapat beribadah dengan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Scott K, Powers, Edward T. Exercise Physiology. McGraw International edition; 2007. p.48, 142, 143,146,
147, 409
2. Kisner C, Lynn A. Therapeutic Exercise Foundation and Techniques. 3
rd
ed. Philadephia: FA Davis Co;
1996. p.113.
3. Basmajian JV. Therapeutic exercise. 4
th
ed. London: Williams & Wilkins; 2001, p. 45-69, 88-108.
4. Tax HR. Podopediatric. Baltimore/Sydney: Williams and Wilkins Co, 1985. p. 46
5. Chou LB, Halligan BW.Treatment of severe, painful pes planovalgus deformity with hindfoot arthrodesis
and wedge-shaped tricortical allograft. USA: Stanford University Medical Center, Departement of
Orthopaedic Surgery. May 28, 2007. htpp://www.ncbi.nim.gov/pubmed/17559763-idx.htm
6. Norkin CC.Gait analysis, physical rehabilitation : Assessment and treatment.3rd ed. FA Davis Co; 1999.
p. 167 91
7. Oliver G. Pratical anthropology. Springfield/Illinois: Charles C Thomas Publ.1969. p. 31-8.
8. Lawrence P, Cahalin MA, Mathier MA, Semigran MJ, Dec GW, Disalvo TG. The six-minutes test predicts
peak oxygen uptake and survival in patients with advanced heart failure. Chest1996;110:3 p. 25 32.
9. Ferial Hadipoetro Idris. Pertumbuhan lengkung kaki dan faktor yang mempengaruhinya. [Disertasi].
Jakarta: Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran FKUI, 2004. P.19-23,69
10. Redmond A. Lower-limb orhtotics. Shoe modifications. Principles and procedures in clinical application.
Prosthetic and orthotics. New York University post-graduate medical school, 1967. h.153.
11. The Older American paper Cater Grant. Research Resource Cores A and B the General Research Cen-
ter; 2006.
HASIL
PENELITIAN
CDK ed_178_a.indd 346
20/06/2010 21:46:58