97
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Seksio sesarea atau persalinan sesaria adalah prosedur
pembedahan untuk melahirkan janin melalui sayatan perut
dan dinding rahim. Seksio sesaria makin meningkat sebagai
tindakan akhir dari berbagai kesulitan persalinan. Indikasi
yang banyak dikemukakan adalah; persalinan lama sampai
persalinan macet, ruptura uteri iminens, gawat janin, janin
besar, dan perdarahan antepartum.
Meskipun dalam 10 tahun terakhir ini banyak perhatian di-
fokuskan pada upaya mengurangi angka kejadian seksio
sesaria (SS), persalinan SS atas indikasi permintaan pende-
rita (Cesarean Section on request, maternal request CS) te-
tap unik dan eksperimental. Indikasi SS tidak semata alasan
medis.
Mengacu pada WHO, Indonesia mempunyai kriteria angka
SS standar antara 15 20% untuk RS rujukan. Angka itu di-
pakai juga untuk pertimbangan akreditisasi Rumah Sakit
Sayang Ibu.
Sejak tahun 1986 di Amerika satu dari empat persalinan
diakhiri dengan seksio sesaria. Di Inggris angka kejadian
seksio sesaria di Rumah Sakit Pendidikan relatif stabil yaitu
antara 11-12 %, di Italia pada tahun 1980 sebesar 3,2% -
14,5%, pada tahun 1987 meningkat menjadi 17,5%. Dari ta-
hun 1965 sampai 1988, angka persalinan sesarea di Amerika
Serikat meningkat progresif dari hanya 4,5% menjadi 25%.
Sebagian besar peningkatan ini terjadi sekitar tahun 1970-
an dan tahun 1980-an di seluruh negara barat. Pada tahun
2002 mencapai 26,1%, angka tertinggi yang pernah tercatat
di Amerika Serikat.
1,2,3,4
Di Indonesia angka persalinan dengan seksio sesaria di
12 Rumah Sakit Pendidikan berkisar antara 2,1%-11,8%. Di
RS Sanglah Denpasar insiden seksio sesaria selama sepu-
luh tahun (1984-1994) 8,06% - 20,23%; rata-rata pertahun
13,6%, sedangkan tahun 1994-1996 angka kejadian seksio
sesaria 17,99% dan angka kejadian persalinan bekas seksio
18,40%.
1,6,7
TINJAUAN PUSTAKA
Seksio sesaria atau persalinan sesaria dide nisikan seba-
gai melahirkan janin melalui insisi dinding abdomen (lapa-
ratomi) dan dinding uterus (histerotomi). De nisi ini tidak
mencakup pengangkatan janin dari kavum abdomen dalam
kasus ruptur uteri/kehamilan abdominal.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan peningkatan
angka SS di negara maju antara lain:
4,8,9,10
Jumlah anak lebih sedikit, sehingga sebagian besar kela-
1.
hiran adalah nullipara, yang merupakan risiko tinggi.
Umur rata-rata ibu khususnya nullipara meningkat, me-
2.
rupakan risiko persalinan.
Pemantauan janin secara elektronik telah menyebar
3.
luas. Teknik ini dihubungkan dengan peningkatan angka
persalinan sesarea dibandingkan dengan auskultasi de-
nyut jantung janin secara intermiten. Walaupun hanya
sebagian kecil persalinan sesarea atas indikasi "gawat
Pro l Operasi Seksio Sesarea di SMF Obstetri &
Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Bali
Tahun 2001 dan 2006
Harry K Gondo, Kadek Sugiharta
Divisi Obstetri dan Ginekologi Sosial, SMF Obstetri & Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali
ABSTRAK
Seksio sesarea sering dikerjakan terutama di negara-negara maju, dengan alasan yang bervariasi. Alasan
berbeda di antara institusi pendidikan dan populasi umum, namun secara nasional angka seksio sesarea
makin meningkat. Beberapa faktor peningkatan itu adalah terlambat mendapat keturunan, jumlah anak yang
diinginkan makin kecil, dan meningkatnya usia ibu saat hamil. Permintaan ibu juga berkontribusi untuk penin-
gkatan angka seksio sesarea.
Persalinan sesarea yang lebih aman menjadi alasan memilih persalinan sesarea berencana. Masalah yang ma-
sih dalam perdebatan termasuk menghindari trauma pelvis selama persalinan pervaginam, mengurangi risiko
trauma janin, dan alasan kenyamanan.
CDK Maret April DR.indd 97
CDK Maret April DR.indd 97
2/23/2010 4:14:35 AM
2/23/2010 4:14:35 AM
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
98
janin", pada banyak kasus kekhawatiran frekuen si de-
nyut janin abnormal mendorong dilakukannya persalin-
an sesarea.
Sebagian besar janin dengan presentasi bokong seka-
4.
rang dilahirkan dengan sesarea.
Kejadian pelahiran forseps midpelvik dan vakum me-
5.
nurun
Angka induksi persalinan terus meningkat, khususnya di
6.
antara nullipara, meningkatkan risiko persalinan.
Prevalensi obesitas meningkat; obesitas juga mening-
7.
katkan risiko persalinan.
Kekhawatiran tuntutan malpraktik telah secara bermak-
8.
na berperan meningkatkan angka persalinan sesarea.
Lebih dari satu dekade yang lalu, tidak dilakukannya
persalinan sesarea sehingga terjadi kelainan neurolo-
gis atau cerebral palsy pada neonatus merupakan klaim
yang dominan dalam tuntutan malpraktik obstetrik di
Amerika Serikat.
Beberapa persalinan sesarea berencana dilakukan pada
9.
rongga panggul sempit untuk menghindari trauma lahir
pervaginam.
Mengapa Angka Ss Harus Ditekan Atau Diturunkan?
Standar yang sudah disepakati untuk SS, adalah antara 15-
20% sesuai dengan status RS bersangkutan; angka SS yang
terlalu tinggi atau terlalu rendah akan memberikan luaran
neonatal yang kurang baik.
Risiko plasenta previa dan abortus pada kehamilan setelah
SS akan meningkat. Kenyataannya partus percobaan pasca
SS bahkan dengan induksi dengan misoprostol cukup ber-
hasil meskipun harus hati-hati. SS juga bisa menyebabkan
morbiditas ibu berupa infeksi puerperalis. Ruptur uteri bisa
terjadi jika tanpa pengawasan adekuat. Partus percobaan
pasca SS lebih mudah berhasil pada ibu bersalin pasca SS
yang pernah melahirkan pervaginam, pernah sukses par-
tus percobaan dan inpartu spontan serta yang mempunyai
skor pelvik (Bishop Score) di atas 6. Partus percobaan hanya
sedikit meningkatkan ruptur uteri dibandingkan SS elektif,
sebaliknya angka morbiditas ibu berupa demam, transfusi
darah dan risiko histerektomi jauh lebih rendah.
CARA PERSALINAN DI SMF OBSTETRI DAN
GINEKOLOGI RSUP SANGLAH (2001 DAN 2006)
Tabel 1 : Jumlah Persalinan Pervaginam dan Seksio
Sesarea di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah,
Denpasar Bali, 2001 dan 2006.
Jumlah Persalinan
2001
2006
Jumlah
%
Jumlah
%
Persalinan Normal
6022
77,73
3683
65,44
SC Data
1341
22,27
1273
34,56
TOTAL
7363
100,00
4956
100,00
Tabel 2 : Jumlah Ibu Partus Primigravida di SMF Obstetri
dan Ginekologi RSUP Sanglah, Denpasar Bali, 2001 dan
2006.
Paritas
2001
2006
Jumlah
%
Jumlah
%
Primigravida
244
18,23
335
26,30
Non Primigravida
7119
81,77
4621
73,70
TOTAL
7363
100,00
4956
100,00
Tabel 3 : Indikasi Operasi Seksio Sesarea di SMF Obstetri
dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Bali, 2001 dan
2006
No
Indikasi SC
2001
2006
Jumlah
%
Jumlah
%
01
Fetal Distress/ KTG Pathologis
232 17,3
267 21,13
02
Distosia e.c Power
40
3
22
1,7
03
Distosia e.c Passage & Passenger
133
9,9
96
7,55
04
LMR (Previous CS)
99
7,4
136
10,7
05
APB
151 11,2
137
10,8
Placenta Previa
134
126
Solutio Placenta
5
4
06
Prolaps Tali Pusat
12
7
07
Pre Eklampsia
64
4,7
62
4,9
PE Berat
49
44
PE Ringan
7
9
Eklampsia
8
9
08
Partus Kasep
84
6,3
50
3,9
09
KPD > 12 Jam (Gagal Drip/Febris)
228
17
166
13
10
On Request (Sosial,Infertil,Primitua)
31
2,5
64
5
11
Malpresentasi & Malposisi
212 15,8
188
14,8
12
Multi Fetus
26
2
31
2,4
Gemelli
26
30
Triplet
-
1
13
Bad Obstetric History
13
1
5
0,4
14
Komplikasi
13
1
14
1,1
Jantung
7
5
Asthma
2
4
Sindrom Nefrotik
1
2
Kondiloma Akuminata (STD)
1
0
HNP
2
3
15
Oligohidramnion
10 0,73
23
1,8
16
Impending Uterine Rupture
5 0,35
12
1
TOTAL
1341
100
1273
100
Gra k 1 : Gra k jumlah Persalinan Pervaginam dan Seksio
Sesarea di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah,
Denpasar Bali, Periode tahun 2001 dan 2006.
7.000
6.000
6.022
2001
2002
1.341
1.273
3.683
5.000
Persalinan Normal
Seksion Sesarea
4.000
3.000
2.000
1.000
0
HASIL PENELITIAN
CDK Maret April DR.indd 98
CDK Maret April DR.indd 98
2/23/2010 4:14:36 AM
2/23/2010 4:14:36 AM
99
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
Gra k 2 : Gra k perbandingan prosentase Persalinan
Pervaginam dan SS pada tahun 2001 dan 2006.
Gra k 3 : Indikasi Operasi Seksio Sesarea (dalam
prosentase) di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah
Denpasar, Bali Periode tahun 2001 dan 2006, nomor sesuai
indikasi pada tabel 3
PEMBAHASAN
SEKSIO SESAREA karena BEKAS SEKSIO SESAREA
(PREVIOUS CESAREAN SECTION)
Dalam waktu 5 tahun, antara tahun 2001 dan tahun 2006
ada peningkatan signi kan SS (sekitar 45%) karena Previous
CS dari 7,4% (2001) menjadi 10,7% (2006).
Di Amerika Serikat sampai dengan tahun 1979 tidak banyak
laporan keberhasilan persalinan pervaginam pada pende-
rita bekas seksio sesaria, karena adanya kepercayaan bahwa
pernah seksio sesaria adalah kontraindikasi absolut untuk
melahirkan pervaginam (diktum EB Craigin : sekali seksio
sesaria selalu seksio sesaria). Terjadi kenaikan angka seksio
sesaria : sebelum tahun 1970 di bawah 5% naik tiga kali lipat
di tahun 1985 menjadi 15,2% dan mencapai puncaknya di
tahun 1988 sebesar 24,7% ; 48% di antaranya adalah seksio
sesaria ulangan.
5,10,11
Setelah The American College of Obstetricians and Gy-
necologist (1988) menganjurkan partus percobaan pada
penderita yang sebelumnya seksio sesaria dengan insisi
transversa, banyak ahli meneliti keberhasilan dan keaman-
an persalinan pervaginam pada bekas seksio sesaria. Ke-
untungannya : mempersingkat lama rawat inap, pemulihan
kesehatan ibu lebih cepat, biaya lebih murah, kesempatan
persalinan alamiah, dan risiko infeksi lebih kecil.
Pada dasarnya peningkatan seksio sesaria ulang pada
pasien bekas seksio sesaria adalah karena risiko ruptura
uteri pada parut uterus. Beberapa penelitian mendapat-
kan insiden ruptura uteri meningkat 4,3 8,8 % pada irisan
klasik sedangkan pada irisan segmen bawah rahim hanya
0,2 0,8 %.
Seiring kemajuan teknologi, tindakan seksio sesaria mem-
berikan hasil yang makin baik, dengan penyembuhan luka
operasi lebih sempurna dan menjadi lebih aman. Berangsur-
angsur diktum EB Craigin ditinggalkan dan ditinjau kembali
menjadi "sekali seksio tidak selalu diikuti seksio sesaria".
Persalinan percobaan pada kasus riwayat seksio sesaria se-
belumnya sering dilakukan, namun informasi keberhasilan
dan hasil akhirnya masih minim. Oleh karena itu, peneli-
tian ini mencoba mengevaluasi persalinan pada penderita
dengan riwayat seksio sesaria sebelumnya
Partus percobaan pasca seksio sesaria tidak diindikasikan
pada kasus dengan:
Insisi klasik pada seksio sebelumnya.
·
Seksio sesaria 3 kali.
·
Disertai kelainan letak.
·
Adanya ancaman ruptura uteri.
·
Plasenta previa.
·
Adanya kelainan kongenital.
·
Kehamilan ganda
·
Faktor kondisi sebelumnya yang dapat mempengaruhi ha-
sil akhir partus percobaan adalah:
Bekas seksio karena disproporsi kepala panggul.
1.
Bekas seksio karena letak sungsang.
2.
Persalinan pervaginam sebelumnya.
3.
Bekas seksio lebih dari satu kali.
4.
Pemakaian oksitosin.
5.
Lamanya inpartu dan pembukaan serviks pada seksio
6.
sebelumnya.
Tidak terdapat perbedaan bermakna pada morbiditas dan
mortalitas maternal antara seksio sesaria elektif dengan
partus percobaan paska seksio. Tindakan partus percobaan
pada bekas seksio sesaria harus memenuhi beberapa krite-
ria sebagai berikut:
2,7,8,9
Indikasi seksio sesaria yang lalu.
·
Seksio sesaria dilakukan segera, bila indikasinya pang-
·
Persalinan Normal
(%)
100%
2001
2006
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Seksion Sesarea
(%)
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10 11 12 13 14 15 16
300
250
200
150
100
2001
2006
50
0
HASIL PENELITIAN
CDK Maret April DR.indd 99
CDK Maret April DR.indd 99
2/23/2010 4:14:37 AM
2/23/2010 4:14:37 AM
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
100
gul sempit atau kehamilan dengan kelainan letak, ke-
tuban pecah dini, kepala tinggi, dan adanya ancaman
ruptura uteri.
Irisan seksio membujur
·
(corpore) merupakan kontraindi-
kasi partus percobaan.
Observasi ketat dengan kemungkinan
·
response time
seksio sesaria dalam waktu 30 menit.
Gawat janin dan nyeri perut bagian bawah merupakan
·
indikasi penting untuk segera melakukan seksio se-
saria.
Karena alasan monitoring yang belum maksimal maka di
RSUP Sanglah sebagai RS pendidikan tidak dilakukan in-
duksi persalinan terhadap kehamilan pada bekas seksio dan
kehamilan letak sungsang. Ada kecenderungan dokter spe-
sialis di RS Swasta lebih cepat memutuskan SS dengan ber-
bagai alasan dan pengalamannya. Di RSUP Sanglah setelah
menjadi Perjan sejak tahun 2000, dan dokter spesialis diberi
kesempatan melayani pasien VIP; terdapat peningkatan ke-
putusan SS. Keputusan tindakan SS lebih cepat dibanding-
kan dengan protokol standar.
1,3
SEKSIO SESAREA ON REQUEST
Hidup di jaman modern ditandai oleh sesuatu yang serba
cepat dan instan. Segala sesuatu yang diperoleh lebih ce-
pat akan memberi keuntungan yang lebih; "modern" iden-
tik dengan serba cepat atau instan. Kesibukan tugas dan
kewajiban membebani setiap orang untuk bekerja dan
mengambil keputusan lebih cepat. Mengapa menantikan
persalinan bayi harus berjam-jam bahkan berhari-hari? Me-
ngapa tidak memilih seksio sesarea sebagai cara persali-
nan yang paling modern dan paling cepat? Karena wanita
hidup di era serba cepat dan penuh perencanaan, mereka
akan memilih waktu yang tepat untuk ulang tahun kelahiran
bayinya, yaitu dengan seksio sesarea. Di samping itu seksio
sesarea lebih nyaman, bebas nyeri, lebih cepat dibanding-
kan cara persalinan lainnya.
Antara tahun 2001 dan tahun 2006 ada peningkatan 100%
CS on request: 2,5% pada tahun 2001 menjadi 5% pada ta-
hun 2006.
Melindungi otot-otot dasar panggul sering dipakai sebagai
alasan memilih seksio sesarea antara lain oleh ahli kebidan-
an perempuan di London; mereka percaya bahwa persali-
nan bayi akan merusak dasar panggul, dan seksio sesarea
bisa secara efektif mencegah inkontinensia, mencegah
prolaps, dan mencegah disfungsi seksual. Di samping itu,
trauma pada persalinan sebelumnya menyebabkan ibu-ibu
memilih seksio sesarea sebagai alternatif paling menye-
nangkan untuk persalinan bayinya.
2,8,9,
Tingginya angka SS on request saat ini tidak dapat di-
anggap lagi "tabu" ; asumsi SS merupakan kegagalan ANC
tidak lagi sepenuhnya benar. Tingginya angka SS juga da-
pat karena pemilihan tempat persalinan, misalnya:
Terletak di kota besar
1.
Pasien berasal dari kalangan strata ekonomi yang cu-
2.
kup
Tingkat pendidikan ibu yang melahirkan di RS peneli-
3.
tian ini cukup baik.
Ibu melahirkan pada umumnya berasal dari strata eko-
4.
nomi mampu.
Ada beberapa faktor nonmedis yang mempengaruhi pemi-
lihan SS ibu yang melahirkan, yang pada penelitian ini di-
sebutkan sebagai "fenomena sosial" dalam pemilihan SS,
yaitu :
5,7,8,9,10
Keadaan ekonomi
1.
Makin tinggi tingkat ekonomi ibu melahirkan, makin tidak
ada masalah pendanaan dalam SS. Ibu melahirkan dengan
SC banyak berasal dari strata ekonomi mampu. Keadaan ini
dapat dimengerti karena biaya untuk SS jelas lebih tinggi
atau mahal daripada proses kelahiran tanpa operasi..
Keadaan masyarakat sekitarnya
2.
Termasuk masyarakat perkotaan atau pedesaan. Ibu mela-
hirkan di kota lebih memilih nyaman, bebas dari rasa sakit,
cepat, dan bila perlu tetap terjaga estetika kewanitaannya.
Fenomena ini ada, dan mulai berkembang terutama pada
ibu dari kalangan sosio-ekonomi yang baik.
Selain lingkungan perkotaan, beberapa etnis tertentu juga
memanfaatkan kemajuan di bidang kedokteran ini sebagai
sarana untuk menjalankan adat istiadatnya. Misalkan : pe-
milihan hari lahir, bahkan jam lahir yang sama sekali terlepas
dari indikasi medis.
Psikologi ibu melahirkan
3.
Tak dapat dipungkiri, makin tinggi strata ekonomi ibu mela-
hirkan, makin ingin nyaman ibu tersebut dalam melahirkan.
Ibu yang berasal dari sosio ekonomi baik, umumnya kurang
bisa mentoleransi rasa nyeri alamiah saat akan melahirkan
(inpartu). Keadaan ini menambah atau menyumbang ting-
ginya angka SS
Gravida
4.
Jumlah kehamilan bisa masuk indikasi medis maupun so-
sial, sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Pada kasus pa-
sangan suami istri yang sudah lama menikah dan lama tidak
mempunyai anak, janin mempunyai nilai sosial yang tinggi.
Sedangkan pada riwayat obstetri yang jelek, jumlah ke-
hamilan jelas memiliki nilai indikasi medis yang tinggi .
SIMPULAN
Beberapa peneliti telah membuktikan adanya kemungkinan
menurunkan angka persalinan sesarea secara bermakna di
institusi kesehatan tanpa meningkatkan morbiditas atau
mortalitas perinatal. Program untuk mengurangi persalinan
sesarea yang tidak diperlukan umumnya difokuskan pada
upaya pendidikan dan pengawasan sesama kolega, men-
HASIL PENELITIAN
CDK Maret April DR.indd 100
CDK Maret April DR.indd 100
2/23/2010 4:14:37 AM
2/23/2010 4:14:37 AM
101
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
dorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat
persalinan sesarea transversal, dan membatasi persalinan
sesarea atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang
memenuhi kriteria yang ditentukan secara ketat.
Apabila seorang ibu menginginkan tindakan seksio sesarea
untuk melahirkan bayinya, hendaknya dilakukan konseling
yang memadai. Keinginan ibu bukanlah merupakan indikasi
untuk seksio sesarea, oleh karena itu alasan yang lebih spe-
si k harus digali dan didiskusikan. Apabila gagal menemu-
kan alasan yang tepat untuk seksio sesarea tersebut, hen-
daknya dipertimbangkan keuntungan dan risiko tindakan
seksio itu dibandingkan persalinan pervaginam.
Pada akhirnya, semuanya kembali pada hubungan antara
dokter dan pasien. Dokter tetaplah harus berprinsip yang
terbaik bagi kesehatan dan kesembuhan pasien, demikian
pula pasien berhak mendapatkan haknya. Jika seorang
dokter sudah beritikad baik, tetapi pasien tetap memaksa
SS dengan berbagai alasan (infertilitas, kesakitan, adat, so-
sial, dll) tanpa indikasi medis, seyogyanya seorang dokter
bertindak dan berpikir bijaksana dalam menyikapi kondisi
ini. Dokter tetaplah manusia, yang juga memiliki faktor psi-
kososial dalam menentukan suatu tindakan.
DAFTAR BACAAN
Suwardewa TGD, Seksio Sesarea On Request : Pendidikan Kedokteran
1.
Berkelanjutan (PKB) II Obsgin. Denpasar, Divisi Fetomaternal Bagian ./SMF
Obstetri Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah, 2005.
Royal Collage Obsteric Gynecology, Cesarean Section Clinical Guideline,
2.
London, 2004
Karkata K, Meningkatkan Keselamatan Operasi Bedah Sesar. Denpasar,
3.
Divisi Fetomaternal Bagian ./SMF Obstetri Ginekologi FK UNUD/RS San-
glah, 2005.
Caesarean Sections, Parliamentary Of ce Science and Technology, No 184,
4.
London, Oktober 2004.
Arulkumaran S,Devendra K, Should Doctors Perform an Elective Caesar-
5.
ean Section On Request?. Ann.Acad.Med.Sing 2003; 23(5).
Sedana KP, Keberhasilan Persalinan Pervaginam Pada Kehamilan Aterm
6.
Bekas Seksio Sesaria Dengan Ketuban Pecah Dini. Denpasar, SMF Obstetri
Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah, 2004.
Gondo HK, Fenomena Sosial Operasi Seksio Sesarea di Salah Satu Rumah
7.
Sakit Swasta Besar Surabaya Periode 1 Januari 2000 31 Desember 2005.
Dexa Media 2006;19(2): 72-79.
Royal College of Obstetricians and Gynaecologits (RCOG) Clinical Effec-
8.
tiveness Support Unit, The National Sentinel Caesarean Section Audit Re-
port. London: RCOG Press, 2001.
Petrou S, Henderson J, Glazener C, Economic aspect of caesarean section
9.
and alternative mode of delivery. Oxford, National Perinatal Epidemiology
Unit, Institute of Health Sciences, University of Oxford, 2000.
Robson S, Mooloy D,Tippett C, Elective Caesarean Section at Maternal
10.
Request, Obstetricians nd themselves somewhere between a rock and a
fairly indurated place. O&G Austral.J. Med. 2004;6(3) : 186 189.
Bettes BA, Coleman V, Zinber, et all. Cesarean delivery on maternal re-
11.
quest, Obstetrian gynecologist knowledge, perception, and practice pat-
terns. Am. Coll. .Obstetr. Gynecol. 2007;109
HASIL PENELITIAN
CDK Maret April DR.indd 101
CDK Maret April DR.indd 101
2/23/2010 4:14:38 AM
2/23/2010 4:14:38 AM