background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
257
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
258
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Istilah HIV (Human Immunodeficiency Virus) pertama kali di-
gunakan sejak tahun 1986
(1)
sebagai penyebab AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrome) yaitu sindrom akibat penurunan
sistem kekebalan tubuh
(2)
. Nama HIV pertama kali diusulkan
oleh Luc Montagnier dari Perancis. HIV awalnya bernama LAV
(lymphadenopathy-associated virus)
(3,4)
, kemudian Robert Gallo
dari Amerika Serikat memberi nama HTLV-III (human T lympho-
tropic virus type III)
(5)
.
HIV termasuk dalam familia retrovirus, subfamilia lentiviridae.
Virion bulat, berdiameter 80-100 nm, core silindris, dan memiliki
amplop. Genom yaitu RNA beruntai tunggal, lurus, positive-sense,
berukuran 9-10 kb
(6)
. Memiliki glikoprotein pada amplop, enzim
transkriptase terkandung di dalam virion, dan protease digunakan
untuk memproduksi virus infeksius
(7)
.
Gambar 1. Struktur HIV
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:HIV_Viron.png
Dua tipe HIV yang menginfeksi manusia yaitu HIV-1 dan HIV-2.
Tipe HIV-1 lebih virulen dan mudah menular sedanglan HIV-2
umumnya masih terisolasi di Afrika Barat
(8,9).
Diduga HIV pada
manusia berasal dari infeksi silang SIV (Simian Immunodeficiency
Virus) di Afrika Barat dan Tengah
(10)
.
HIV menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia dengan
menggunakan dua reseptor, yaitu reseptor non-CD4 untuk fusi
virus dengan membran dan reseptor CD4 yang diekspresi pada
makrofag dan limfosit
(7)
.
MAKSUD, TUJUAN, DAN KEGUNAAN PENELITIAN
Maksud penelitian ini untuk mempelajari deteksi RNA HIV
penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)
menggunakan perangkat diagnostik Cobas Amplicor® Roche.
Tujuannya untuk mengetahui kemampuan sistem Cobas Ampli-
cor dalam mendeteksi keberadaan HIV dalam sampel. Kegunaan
penelitian ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik Cobas
Amplicor sebagai salah satu cara deteksi dini infeksi HIV.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan: reagen HIV-1 lysis, HIV-1 quantitation standard, HIV-1
spesimen diluents, NHP (Negative Human Plasma), HIV-1 negative
control, HIV-1 Low (+) control, HIV-1 High (+) control, HIV-1 Master
Mix, HIV-1 Mn2+, HIV-1 microwell plate, detanuration solution,
hybridization buffer, AV-HRP (Avidin-Horseradish Peroxidase Conju-
gate), substrat A, substrat B, stop reagen, dan wash concentrate.
Cara Kerja: pengujian sampel menggunakan perangkat diagnostik
Cobas Amplicor. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel,
persiapan reagen, isolasi asam nukleat, persiapan kontrol, ampli-
fikasi, hibridisasi, dan deteksi.
HASIL DAN DISKUSI
Cobas Amplicor adalah suatu teknologi canggih dan sensitif
untuk menghitung jumlah materi genetik virus HIV di dalam darah.
Cobas Amplicor yang akurat dan sensitif memiliki kemampuan
deteksi secara konsisten, spesifisitas yang tinggi, dan reprodusi-
bilitasnya baik
(11)
.
Tahap awal pemeriksaan HIV dengan Cobas Amplicor adalah
preparasi spesimen sesuai prosedur standar. RNA HIV-1 diisolasi
dari plasma sel yang dilisis menggunakan reagen working HIV-1
lysis diikuti presipitasi RNA dengan alkohol. RNA yang sudah
terisolasi ditambahi HIV-1 specimen diluents, stabil selama 2 jam
atau disimpan pada suhu -210 C
(12)
. Isolasi RNA dari setiap sampel
dimasukkan ke dalam tabung microamp yang sudah mengandung
working master mix untuk memasuki tahap amplifikasi.
Gambar 3. Cobas Amplicor System (1) lokasi thermal cycler heating/
cooling blocks, (2) pipet otomatis, (3) incubator, (4) tempat pencucian,
dan (5) fotometer.
Sumber : DiDomenico dkk, 1996
Perbanyakan dilakukan dengan membentuk cDNA dari RNA
target. Hasil amplifikasi akan
(13,14)
didenaturasi dengan menggu-
nakan detanuration solution untuk memasuki tahap hibridisasi.
Amplikon akan berikatan dengan probe SK102 dan CP35 dalam
MWP (Micro Well Plate). Keberhasilan suatu hibridasasi ditentukan
oleh deteksi dengan penambahan AV-HRP (Avidin-Horseradish
Peroxidase Conjugate) dan TMB (Tetramethylbenzidine). Proses
amplifikasi, hibridisasi, dan deteksi dilakukan oleh Cobas Amplicor
System secara otomatis.
Gambar 4. Sistematik mekanisme kerja Cobas Amplicor System.
Sumber : DiDomenico dkk, 1996
Prinsip kerja Cobas Amplicor berdasarkan pada amplifkasi meng-
gunakan teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction)
(11).
Prinsip
kerja PCR adalah menghasilkan kopi berlipat ganda dari sekuen
nukleotida organisme target yang dapat mendeteksi target orga-
nisme dalam jumlah sangat rendah dengan spesifisitas tinggi
(15)
.
Dalam prosesnya asam nukleat virus yang ada di dalam darah
sampel akan digandakan berulang-ulang sehingga didapat jutaan
kopi. Amplikon yang didapatkan akan direaksikan dengan reagen
spesifik sehingga dapat dihitung jumlah partikel virus HIV dalam
setiap mililiter darah yang diperiksa. Hasil pemeriksaan dilaporkan
dalam copies/mL atau dalam perhitungan matematika logaritma (Log).
Tabel Nilai Log pada Pasien :
Aplikasi Cobas Amplicor System dalam
Deteksi Dini Infeksi HIV
(Human Immunodeficiency Virus)
Sinta Sasika Novel
1
, Runingsih
2
1. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran,Bandung,Indonesia
2. Staf Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian aplikasi Cobas Amplicor System dalam Deteksi Dini Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dimaksud-
kan untuk mempelajari deteksi RNA HIV penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) menggunakan
perangkat diagnostik Cobas Amplicor® Roche. Tujuan penelitian ini adalah menilai kemampuan sistem Cobas
Amplicor untuk mendeteksi keberadaan HIV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk penguji tingkat
akurasi teknik Cobas Amplicor sebagai salah satu cara deteksi dini infeksi HIV. Hasil dari 18 pasien adalah 3 pasien
negatif, 8 pasien positif low, dan 7 pasien positif high. Nilai Log dari 3 pasien negatif: pasien 1 (2.744), pasien 8
(2.924), pasien 17 (1.996); 8 pasien positif low: pasien 2 (4.088), pasien 3 (3.526), pasien 4 (4.639), pasien 5 (4.459),
pasien 6 (4.078), pasien 7 (3.719), pasien 15 (4.152), pasien 18 (3.064); 7 pasien positif high: pasien 9 (5.441), pasien
10 (6.198), pasien 11 (5.128), pasien 12 (5.608), pasien 13 (5.825), pasien 14 (5.074), pasien 16 (6.157).
Kata kunci : AIDS, Cobas Amplicor System, HIV, Log, RNA.
Pasien Kode Pasien HIV-RNA
LOG
Hasil
Copies/mL
Kontrol (-)
-
644
2.809
Negatif
Kontrol L(+)
-
5,378
3.731
Positif low
Kontrol H(+)
-
422,372
5.626
Positif high
Pasien 1
HE009061
555
2.744
Negatif
Pasien 2
HE009062
12,232
4.088
Positif low
Pasien 3
HE009063
3,357
3.526
Positif low
Pasien 4
HE009064
43,522
4.639
Positif low
Pasien 5
HE009065
28,783
4.459
Positif low
Pasien 6
HE009066
11,970
4.078
Positif low
Pasien 7
HE009067
5,236
3.719
Positif low
Pasien 8
HE009068
840
2.924
Negatif
Pasien 9
HE009069
276,089
5.441
Positif high
Pasien 10
HE080541
1,576,687
6.198
Positif high
Pasien 11
HE080542
134,167
5.128
Positif high
Pasien 12
HE080543
405,858
5.608
Positif high
Pasien 13
HE080544
667,949
5.825
Positif high
Pasien 14
HE080545
118,514
5.074
Positif high
Pasien 15
HE080546
14,186
4.152
Positif low
Pasien 16
HE080547
1,434,057
6.157
Positif high
Pasien 17
HE080548
99
1.996
Negatif
Pasien 18
HE080549
1,158
3.064
Positif low
Gambar 2. Infeksi HIV ke dalam
sel makrofag (1) virus menempel
pada membran sel dengan adanya
reseptor CD4 dan non-CD4, (2)
virus melalukan fusi dengan mem-
brane sel inang serta mengeluar-
kan asam nukleat, (3) asam nukleat
virus menyisip pada DNA sel inang,
(4) terbentuk mRNA dan mRNA
membentuk protein, (5) perakitan
virion, dan (6) virus baru terbentuk.
Sumber : http://aidsinfo.nih.gov
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
257
HASIL PENELITIAN
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
258
HASIL PENELITIAN
PENDAHULUAN
Istilah HIV (Human Immunodeficiency Virus) pertama kali di-
gunakan sejak tahun 1986
(1)
sebagai penyebab AIDS (Acquired
Immune Deficiency Syndrome) yaitu sindrom akibat penurunan
sistem kekebalan tubuh
(2)
. Nama HIV pertama kali diusulkan
oleh Luc Montagnier dari Perancis. HIV awalnya bernama LAV
(lymphadenopathy-associated virus)
(3,4)
, kemudian Robert Gallo
dari Amerika Serikat memberi nama HTLV-III (human T lympho-
tropic virus type III)
(5)
.
HIV termasuk dalam familia retrovirus, subfamilia lentiviridae.
Virion bulat, berdiameter 80-100 nm, core silindris, dan memiliki
amplop. Genom yaitu RNA beruntai tunggal, lurus, positive-sense,
berukuran 9-10 kb
(6)
. Memiliki glikoprotein pada amplop, enzim
transkriptase terkandung di dalam virion, dan protease digunakan
untuk memproduksi virus infeksius
(7)
.
Gambar 1. Struktur HIV
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:HIV_Viron.png
Dua tipe HIV yang menginfeksi manusia yaitu HIV-1 dan HIV-2.
Tipe HIV-1 lebih virulen dan mudah menular sedanglan HIV-2
umumnya masih terisolasi di Afrika Barat
(8,9).
Diduga HIV pada
manusia berasal dari infeksi silang SIV (Simian Immunodeficiency
Virus) di Afrika Barat dan Tengah
(10)
.
HIV menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia dengan
menggunakan dua reseptor, yaitu reseptor non-CD4 untuk fusi
virus dengan membran dan reseptor CD4 yang diekspresi pada
makrofag dan limfosit
(7)
.
MAKSUD, TUJUAN, DAN KEGUNAAN PENELITIAN
Maksud penelitian ini untuk mempelajari deteksi RNA HIV
penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)
menggunakan perangkat diagnostik Cobas Amplicor® Roche.
Tujuannya untuk mengetahui kemampuan sistem Cobas Ampli-
cor dalam mendeteksi keberadaan HIV dalam sampel. Kegunaan
penelitian ini adalah untuk penguji tingkat akurasi teknik Cobas
Amplicor sebagai salah satu cara deteksi dini infeksi HIV.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan: reagen HIV-1 lysis, HIV-1 quantitation standard, HIV-1
spesimen diluents, NHP (Negative Human Plasma), HIV-1 negative
control, HIV-1 Low (+) control, HIV-1 High (+) control, HIV-1 Master
Mix, HIV-1 Mn2+, HIV-1 microwell plate, detanuration solution,
hybridization buffer, AV-HRP (Avidin-Horseradish Peroxidase Conju-
gate), substrat A, substrat B, stop reagen, dan wash concentrate.
Cara Kerja: pengujian sampel menggunakan perangkat diagnostik
Cobas Amplicor. Penelitian dimulai dengan pengambilan sampel,
persiapan reagen, isolasi asam nukleat, persiapan kontrol, ampli-
fikasi, hibridisasi, dan deteksi.
HASIL DAN DISKUSI
Cobas Amplicor adalah suatu teknologi canggih dan sensitif
untuk menghitung jumlah materi genetik virus HIV di dalam darah.
Cobas Amplicor yang akurat dan sensitif memiliki kemampuan
deteksi secara konsisten, spesifisitas yang tinggi, dan reprodusi-
bilitasnya baik
(11)
.
Tahap awal pemeriksaan HIV dengan Cobas Amplicor adalah
preparasi spesimen sesuai prosedur standar. RNA HIV-1 diisolasi
dari plasma sel yang dilisis menggunakan reagen working HIV-1
lysis diikuti presipitasi RNA dengan alkohol. RNA yang sudah
terisolasi ditambahi HIV-1 specimen diluents, stabil selama 2 jam
atau disimpan pada suhu -210 C
(12)
. Isolasi RNA dari setiap sampel
dimasukkan ke dalam tabung microamp yang sudah mengandung
working master mix untuk memasuki tahap amplifikasi.
Gambar 3. Cobas Amplicor System (1) lokasi thermal cycler heating/
cooling blocks, (2) pipet otomatis, (3) incubator, (4) tempat pencucian,
dan (5) fotometer.
Sumber : DiDomenico dkk, 1996
Perbanyakan dilakukan dengan membentuk cDNA dari RNA
target. Hasil amplifikasi akan
(13,14)
didenaturasi dengan menggu-
nakan detanuration solution untuk memasuki tahap hibridisasi.
Amplikon akan berikatan dengan probe SK102 dan CP35 dalam
MWP (Micro Well Plate). Keberhasilan suatu hibridasasi ditentukan
oleh deteksi dengan penambahan AV-HRP (Avidin-Horseradish
Peroxidase Conjugate) dan TMB (Tetramethylbenzidine). Proses
amplifikasi, hibridisasi, dan deteksi dilakukan oleh Cobas Amplicor
System secara otomatis.
Gambar 4. Sistematik mekanisme kerja Cobas Amplicor System.
Sumber : DiDomenico dkk, 1996
Prinsip kerja Cobas Amplicor berdasarkan pada amplifkasi meng-
gunakan teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction)
(11).
Prinsip
kerja PCR adalah menghasilkan kopi berlipat ganda dari sekuen
nukleotida organisme target yang dapat mendeteksi target orga-
nisme dalam jumlah sangat rendah dengan spesifisitas tinggi
(15)
.
Dalam prosesnya asam nukleat virus yang ada di dalam darah
sampel akan digandakan berulang-ulang sehingga didapat jutaan
kopi. Amplikon yang didapatkan akan direaksikan dengan reagen
spesifik sehingga dapat dihitung jumlah partikel virus HIV dalam
setiap mililiter darah yang diperiksa. Hasil pemeriksaan dilaporkan
dalam copies/mL atau dalam perhitungan matematika logaritma (Log).
Tabel Nilai Log pada Pasien :
Aplikasi Cobas Amplicor System dalam
Deteksi Dini Infeksi HIV
(Human Immunodeficiency Virus)
Sinta Sasika Novel
1
, Runingsih
2
1. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran,Bandung,Indonesia
2. Staf Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian aplikasi Cobas Amplicor System dalam Deteksi Dini Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dimaksud-
kan untuk mempelajari deteksi RNA HIV penyebab AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) menggunakan
perangkat diagnostik Cobas Amplicor® Roche. Tujuan penelitian ini adalah menilai kemampuan sistem Cobas
Amplicor untuk mendeteksi keberadaan HIV dalam sampel. Kegunaan penelitian ini adalah untuk penguji tingkat
akurasi teknik Cobas Amplicor sebagai salah satu cara deteksi dini infeksi HIV. Hasil dari 18 pasien adalah 3 pasien
negatif, 8 pasien positif low, dan 7 pasien positif high. Nilai Log dari 3 pasien negatif: pasien 1 (2.744), pasien 8
(2.924), pasien 17 (1.996); 8 pasien positif low: pasien 2 (4.088), pasien 3 (3.526), pasien 4 (4.639), pasien 5 (4.459),
pasien 6 (4.078), pasien 7 (3.719), pasien 15 (4.152), pasien 18 (3.064); 7 pasien positif high: pasien 9 (5.441), pasien
10 (6.198), pasien 11 (5.128), pasien 12 (5.608), pasien 13 (5.825), pasien 14 (5.074), pasien 16 (6.157).
Kata kunci : AIDS, Cobas Amplicor System, HIV, Log, RNA.
Pasien Kode Pasien HIV-RNA
LOG
Hasil
Copies/mL
Kontrol (-)
-
644
2.809
Negatif
Kontrol L(+)
-
5,378
3.731
Positif low
Kontrol H(+)
-
422,372
5.626
Positif high
Pasien 1
HE009061
555
2.744
Negatif
Pasien 2
HE009062
12,232
4.088
Positif low
Pasien 3
HE009063
3,357
3.526
Positif low
Pasien 4
HE009064
43,522
4.639
Positif low
Pasien 5
HE009065
28,783
4.459
Positif low
Pasien 6
HE009066
11,970
4.078
Positif low
Pasien 7
HE009067
5,236
3.719
Positif low
Pasien 8
HE009068
840
2.924
Negatif
Pasien 9
HE009069
276,089
5.441
Positif high
Pasien 10
HE080541
1,576,687
6.198
Positif high
Pasien 11
HE080542
134,167
5.128
Positif high
Pasien 12
HE080543
405,858
5.608
Positif high
Pasien 13
HE080544
667,949
5.825
Positif high
Pasien 14
HE080545
118,514
5.074
Positif high
Pasien 15
HE080546
14,186
4.152
Positif low
Pasien 16
HE080547
1,434,057
6.157
Positif high
Pasien 17
HE080548
99
1.996
Negatif
Pasien 18
HE080549
1,158
3.064
Positif low
Gambar 2. Infeksi HIV ke dalam
sel makrofag (1) virus menempel
pada membran sel dengan adanya
reseptor CD4 dan non-CD4, (2)
virus melalukan fusi dengan mem-
brane sel inang serta mengeluar-
kan asam nukleat, (3) asam nukleat
virus menyisip pada DNA sel inang,
(4) terbentuk mRNA dan mRNA
membentuk protein, (5) perakitan
virion, dan (6) virus baru terbentuk.
Sumber : http://aidsinfo.nih.gov
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
259
HASIL PENELITIAN
Penentuan pasien negatif atau positif dilihat dari nilai HIV-RNA
(copies/mL). Pada pemeriksaan ini, pasien negatif HIV bila nilai
HIV-RNAnya di bawah 1,100 copies/mL; pasien positif L(+) nilai
HIV-RNAnya 1,100-9,700 copies/mL; dan pasien positif H(+) nilai
HIV-RNAnya 76,000-750,000 copies/mL. Dari data di atas di-
peroleh 3 pasien negatif, 8 pasien positif low, dan 7 pasien
positif high.
SIMPULAN
1. Cobas Amplicor System dapat mendeteksi infeksi HIV.
2. Hasil Cobas Amplicor System apabila melebihi nilai ambang
positif maka spesimen dinyatakan positif low atau high ter-
infeksi HIV sesuai dengan nilai HIV-RNA copies/mL.
3. Cobas Amplicor System dapat digunakan untuk deteksi dini
infeksi HIV dan memantau pengobatan pasien HIV dengan
memeriksa jumlah materi genetik virus di dalam darah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Coffin J, Haase A, Levy JA, dkk. What to call the AIDS virus?. Nature 1986; 321: 1-10.
2. Dybul M, Fauci AS, Bartlett JG, Kaplan JE, Pau AK, and the Panel on Clinical Practices for
Treatment of HIV. Guidelines for using antiretroviral agents among HIV-infected adults and
adolescents. Ann Intern Med. 2002; 137: 381-433.
3. Barre-Sinoussi F, Chermann JC, Rey F, dkk. Isolation of a T-lymphotropic retrovirus from a
patient at risk for acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Science. 1989; 220: 868-871.
4. Crystal S, Akincigil A., Sambamoorthi U, dkk. The diverse older HIV-positipopulation: a national
profile of economic circumstances, social support, and quality of life. AIDS 2003; 33: S76-S83.
5. Popovic M, Sarngadharan MG, Read E, dan Gallo RC. Detection, isolation, and continuous
production of cytopathic retroviruses (HTLV-III) from patients with AIDS and pre-AIDS. Science
1984; 224: 497-500.
6. Hallfors DD, Iritani BJ, Miller WC, Bauer DJ. Sexual and drug behavior patterns and HIV and
STD racial disparities: the need for new direction. Am. J. Publ. Health 2007; 97(1): 125-32.
7. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi Kedokteran Jilid 2. Diterjemahkan oleh : Nani
Widorini. Jakarta: Salemba Medika, 2005.
8. Reeves JD, Doms RW. Human immunodeficiency virus type 2. Gen Virol. 2002; 83: 1253-65.
9. Kahn JO, Walker BD. Acute Human Immunodeficiency Virus type 1 infection. N Engl J Med.
1998; 331: 33-9.
10. Gao F, Bailes E, Robertson DL, dkk. Origin of HIV-1 in the chimpanzee Pantroglodytes
troglodytes. Nature 1999; 397: 436-41.
11. DiDomenico N, Link H, Knobbi R, Caratsch T, Weschler W, Loewy ZG, Rosenstraus M. Cobas
AmplicorTM: fully automated RNA and DNA amplification and detection system for routine
diagnostic PCR. Clin. Chem. 1996; 42(12): 1915-23.
12. Mulder J, McKinney N, Christopherson C, Sninsky J, Greenfield L, Kwok S. Rapid and simple
PCR assay for quantitation of human immunodeficiency virus type 1 RNA in plasma:
application to acute retroviral infection. J Clin Microbiol. 1994; 32: 292-300.
13. Kellogg DE, Sninsky JJ, Kwok S. Quantitation of HIV-1 proviral DNA relative to cellular DNA by
the polymerase chain reaction. Anal Biochem. 1990; 189: 202-208.
14. Nuovo GJ, Gallery F, MacConnel P, Becker I, Bloch W. An improved technique for the in situ
detection of DNA after polymerase chain reaction amplification. Am J Pathol. 1991; 139: 1239-1244.
15. Bugawan TL, AppleR, ErlichHA.A method for typing polymorphism at the HLA-A locus using
PCR amplification and immobilized oligonucleotide probes. Tissue Antigens 1994; 44: 137-47.
cdk.red
aks
i@
yah
oo
.c
o.id