CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
177
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
178
TINJAUAN PUSTAKA
periodik dilepaskan ke dalam peredaran darah. Sel punca memiliki
kemampuan bermigrasi menuju daerah yang mengalami kerusakan
yaitu melalui pusat pengaturan jalur SDF-1/CXCR4.
(5)
SDF-1
(Stromal Derived Factor-1) merupakan molekul yang terdapat di
permukaan sel stroma dalam sumsum tulang dan merupakan
ligand dari CXCR4 yang terdapat di permukaan sel punca. SDF-1
menjadi pusat koordinasi migrasi sel punca dan berbagai
kemokin yang dilepaskan pada saat terjadi kerusakan jaringan,
berefek melalui modulasi jalur SDF-1/CXCR4. Oleh karena itu
jalur SDF-1/CXCR4 merupakan jalur terpenting pada proses
migrasi sel punca menuju ke jaringan yang mengalami iskemi.
(6,7)
Dalam keadaan homeostatik, sel punca secara dorman berada di
dalam kompartemen sumsum tulang. SDF-1 secara terus menerus
terekspresi pada bagian stroma sumsum tulang sehingga
memediasi perlekatan sel punca dalam sumsum tulang. Suasana
hipoksi di dalam sumsum tulang turut menjaga kestabilan ikatan
antara molekul SDF-1 dan CXCR4.
(6,7)
Pada saat mengalami
iskemi, jaringan melepaskan SDF-1 dan menstimulasi mobilisasi
sel punca.
(6,7)
Lebih lanjut, agen yang berefek memblokir CXCR4
maupun memutus rantai molekul SDF-1 memiliki efek memobi-
lisasi sel punca sehingga sel punca dilepaskan ke dalam sirkulasi
darah dalam jumlah banyak. GCSF (Granulocyte Colony Stimu-
lating Factor) dan agen baru yang masih dalam tarap penelitian
yaitu AMD3100, dapat memobilisasi sel punca antara lain
melalui hambatan pada jalur SDF-1/CXCR4.
(8)
Terapi sel punca pada infark miokard
Aplikasi sel punca dewasa dalam terapi penyakit jantung infark
dilaporkan pertama kali pada tahun 2001 oleh grup di Jerman.
(9)
Dalam publikasi tersebut dilaporkan seorang laki-laki 46 tahun
yang mengalami infark miokard karena oklusi pembuluh darah
arteri koroner kiri. Pasien ini diterapi angioplasty dengan kateter
transluminal dan pemasangan sten 6 hari setelah infark, pasien
ini mendapatkan terapi sel punca yang diambil dari sumsum
tulangnya dan disuntikkan ke dalam arteri jantung yang mengalami
oklusi. 10 minggu setelah terapi sel, dilaporkan bahwa daerah
infark telah mengecil dengan fraksi ejeksi, cardiac index, dan
volume sekuncup meningkat sebesar 20-30%.
(9)
Publikasi di atas
membuka suatu wawasan baru dan menstimulasi para peneliti
dan klinisi untuk mulai melakukan terapi sel punca pada pengo-
batan penyakit jantung infark.
Beberapa strategi yang akhir-akhir ini banyak dilaporkan dalam
terapi sel punca untuk terapi jantung regeneratif dijelaskan secara
singkat sebagai berikut:
1. Sel punca yang diisolasi secara langsung dengan aspirasi
sumsum tulang. Cara ini adalah cara yang paling awal di-
gunakan dalam perkembangan terapi sel punca pada infark
jantung. Hingga kini metode ini masih banyak digunakan
dengan pertimbangan bahwa dalam aspirat sumsum tulang
terdapat populasi sel punca tipe stroma atau yang dikenal
dengan tipe sel punca mesenkimal yang dapat berdiferen-
siasi lebih lanjut menjadi sel jantung.
(9,10,11)
Namun prosedur invasif ini kurang disukai dan kini beberapa
pusat kesehatan telah mengembangkan prosedur isolasi sel
punca dari darah perifer.
2. Sel punca yang diisolasi dengan alat apheresis dari darah
perifer
setelah
dimobilisasi
dengan
menggunakan
GCSF
(Granulocyte Colony Stimulating Factor).
(12,13)
Pada umumnya mobilisasi dilakukan dengan menggunakan
GCSF 5-15 ąg/ kgBB/ hari selama 5 hari.
(12,13)
Alat apheresis
dapat memisahkan sel berinti tunggal yang merupakan
populasi dengan kandungan sel punca di dalamnya.
Kekurangan
metode
mobilisasi
GCSF
adalah
adanya
kelompok
individu
yang
poorly mobilized, umumnya kelompok individu
dengan usia di atas 60 tahun.
(12,13,14)
Hal-hal lain yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan GCSF antara lain terdapatnya
keadaan hiperkoagulabilitas darah secara transien dan
kemungkinan
terjadinya
trombositopeni.
(14,15)
Prosedur ini
dapat dilakukan dengan atau tanpa seleksi populasi sel punca
tertentu, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa
seleksi sel CD34+ dan/atau CD133+ memberikan hasil yang
lebih baik daripada tanpa seleksi.
(16)
Molekul penanda
CD34/CD133 merupakan penanda sel punca yang dapat
berdiferensiasi
menjadi
sel
progenitor
endotelial
(endothelial
progenitor
cell)
yang terutama dibutuhkan dalam proses
regenerasi pembuluh darah yang baru.
(17,18)
3. Sel punca yang diisolasi dari darah perifer tanpa mobilisasi
disusul dengan proses kultur ex-vivo.
(19,20)
Keuntungan prosedur ini adalah tidak menggunakan GCSF
sehingga
selain
menekan
biaya
pengobatan
juga
meng-
hindari efek samping agen tersebut. Kultur ex-vivo dilakukan
untuk memperbanyak jumlah sel progenitor endotelial
sehingga siap membentuk pembuluh darah baru sesaat
disuntikkan
ke
daerah
infark.
(19,20)
Metode Transplantasi Sel Punca
Pada awalnya transplantasi sel punca dilakukan dengan cara
menginjeksi langsung sel punca secara epicardial pada bagian
jantung yang mengalami infark melalui operasi bedah toraks.
(21)
Keuntungan metode ini adalah daerah otot jantung yang
mengalami infark dapat dikonfirmasi dengan jelas berdasarkan
karakter penampilan dan kontraktilitas yang dapat dilihat langsung
secara visual. Namun, teknik ini terkadang tidak mungkin dilakukan,
terutama pada pasien dengan kondisi yang tidak dapat men-
toleransi pengaruh anestesi ataupun tindakan bedah itu sendiri.
Oleh karena itu mulai dipikirkan metode lain dengan meng-
gunakan kateter.
Dalam metode ini, diperlukan fluoroscopy atau alat pencitraan
lainnya (misalnya angiografi). Sel punca kemudian didistribusi-
kan menuju jaringan yang membutuhkan melalui kateter. Trans-
plantasi melalui kateter dapat dilakukan dengan injeksi langsung
PENDAHULUAN
Penyakit jantung iskemik hingga kini masih merupakan masalah
dalam dunia medis di seluruh dunia. Di negara-negara maju
revaskularisasi dapat lebih cepat dikerjakan dengan fasilitas yang
jauh lebih memadai dibandingkan dengan negara-negara ber-
kembang. Meskipun demikian, angka jumlah gagal jantung di
Amerika Serikat masih tetap tinggi yaitu sekitar 5 juta orang dan
setiap tahun terdapat sekitar 400.000 kasus gagal jantung baru,
dengan penyebab terbanyak adalah infark miokard.
(1)
Hal ini
menunjukkan terapi yang dilakukan masih memiliki banyak
keterbatasan dalam mencegah terjadinya remodeling ventrikel.
Semakin meningkatnya jumlah penduduk usia tua akan menye-
babkan penyakit infark miokard menjadi masalah yang penting
pada beberapa dekade mendatang. Keterbatasan terapi saat ini
telah membawa para peneliti dunia medis untuk menemukan
suatu metode untuk mengusahakan terjadinya regenerasi dan
perbaikan otot jantung yang telah mengalami kerusakan.
Penyakit infark jantung
Infark jantung ditandai dengan hilangnya sejumlah sel jantung
(cardiomyocytes) menyusul terjadinya penurunan mendadak perfusi
darah pada otot jantung.
(2)
Pada umumnya keadaan ini di-
sebabkan karena sumbatan plak atherosklerotik atau trombus
dalam pem buluh darah arteri koroner. Kematian sel jantung
akan men stimulasi dilepaskannya sitokin pro-inflammatory oleh
sel di sekitar jaringan yang rusak dan akan merekrut sel makro-
faga dan leukosit lainnya sehingga terjadi inflamasi lokal.
(2)
Dalam beberapa minggu menyusul terjadinya proses inflamasi,
sel fibroblast yang resisten terhadap iskemi akan menggantikan
sel jantung yang mati membentuk jaringan fibrosis yang ber-
akibat terjadinya penurunan fungsi jantung. Sebagai usaha untuk
mengkompensasi penurunan fungsi jantung, jaringan ventrikel
akan berubah yaitu mengalami hipertrofi dan perubahan matriks
sehingga terjadi proses remodeling (Gambar 1).
(2,3)
Gambar 1. Proses kerusakan sel pada infark miokard yang berakibat terjadinya
remodeling dan target dari perbaikan jaringan dengan menggunakan terapi sel
(3)
Sebetulnya, dalam individu hidup terdapat mekanisme mengatasi
kerusakan otot jantung melalui mitosis sel jantung sehat dan
migrasi sel punca yang berasal dari sumsum tulang menuju
jaringan yang rusak. Namun, seringkali sistem perbaikan jaringan ini
kurang optimal sehingga peranannya kurang dapat diandalkan.
Dalam satu dekade terakhir telah dikembangkan terapi sel untuk
membantu proses regenerasi sel jantung yang mengalami
infark.
(4)
Konsep terapi sel pada pengobatan jantung regeneratif
adalah bahwa sel dari bagian tubuh yang masih sehat, diisolasi
dan diimplantasikan ke bagian jantung yang rusak dengan tujuan
memperbaiki jaringan rusak tersebut.
(2)
Berdasarkan pengetahuan
mengenai biologi dan sifat sel punca, maka sel punca menjadi
salah satu kandidat yang banyak mendapat perhatian saat ini.
Sel Punca dan proses pengaturan migrasinya
Sel punca merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk
memperbaharui diri dan berdiferensiasi menjadi sel lain dengan
fungsi yang lebih spesifik. Pada keadaan normal, sel punca orang
dewasa banyak terdapat di dalam sumsum tulang dan secara
The Secrets of Stem Cell Therapy
for Myocardial Infarction
Caroline T. Sardjono, Frisca, Eric Prawiro, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra
Stem Cell Division, Stem Cell and Cancer Institute, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Terapi sel punca telah menarik banyak perhatian dunia medis dalam dekade terakhir ini. Keterbatasan terapi
konvensional untuk mencegah terjadinya proses remodeling setelah infark miokard membawa para klinisi dan
peneliti dunia untuk mengembangkan terapi sel punca untuk terapi jantung regeneratif. Pengetahuan dalam
mekanisme terjadinya homing sel punca serta kemampuannya dalam regenerasi sel jantung yang rusak sangat
diperlukan untuk dapat menentukan metode yang akan digunakan. Lebih lanjut lagi, berbagai kompleksitas
metode yang dapat digunakan dalam terapi sel punca meliputi metode pengambilan sel, proses lanjutan, dan cara
pemberiannya secara klinis, memerlukan kerjasama sinergis antara klinisi dan laboratorium pemrosesan sel.
Kata Kunci: Sel punca, infark miokard, terapi sel
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
177
TINJAUAN PUSTAKA
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
178
TINJAUAN PUSTAKA
periodik dilepaskan ke dalam peredaran darah. Sel punca memiliki
kemampuan bermigrasi menuju daerah yang mengalami kerusakan
yaitu melalui pusat pengaturan jalur SDF-1/CXCR4.
(5)
SDF-1
(Stromal Derived Factor-1) merupakan molekul yang terdapat di
permukaan sel stroma dalam sumsum tulang dan merupakan
ligand dari CXCR4 yang terdapat di permukaan sel punca. SDF-1
menjadi pusat koordinasi migrasi sel punca dan berbagai
kemokin yang dilepaskan pada saat terjadi kerusakan jaringan,
berefek melalui modulasi jalur SDF-1/CXCR4. Oleh karena itu
jalur SDF-1/CXCR4 merupakan jalur terpenting pada proses
migrasi sel punca menuju ke jaringan yang mengalami iskemi.
(6,7)
Dalam keadaan homeostatik, sel punca secara dorman berada di
dalam kompartemen sumsum tulang. SDF-1 secara terus menerus
terekspresi pada bagian stroma sumsum tulang sehingga
memediasi perlekatan sel punca dalam sumsum tulang. Suasana
hipoksi di dalam sumsum tulang turut menjaga kestabilan ikatan
antara molekul SDF-1 dan CXCR4.
(6,7)
Pada saat mengalami
iskemi, jaringan melepaskan SDF-1 dan menstimulasi mobilisasi
sel punca.
(6,7)
Lebih lanjut, agen yang berefek memblokir CXCR4
maupun memutus rantai molekul SDF-1 memiliki efek memobi-
lisasi sel punca sehingga sel punca dilepaskan ke dalam sirkulasi
darah dalam jumlah banyak. GCSF (Granulocyte Colony Stimu-
lating Factor) dan agen baru yang masih dalam tarap penelitian
yaitu AMD3100, dapat memobilisasi sel punca antara lain
melalui hambatan pada jalur SDF-1/CXCR4.
(8)
Terapi sel punca pada infark miokard
Aplikasi sel punca dewasa dalam terapi penyakit jantung infark
dilaporkan pertama kali pada tahun 2001 oleh grup di Jerman.
(9)
Dalam publikasi tersebut dilaporkan seorang laki-laki 46 tahun
yang mengalami infark miokard karena oklusi pembuluh darah
arteri koroner kiri. Pasien ini diterapi angioplasty dengan kateter
transluminal dan pemasangan sten 6 hari setelah infark, pasien
ini mendapatkan terapi sel punca yang diambil dari sumsum
tulangnya dan disuntikkan ke dalam arteri jantung yang mengalami
oklusi. 10 minggu setelah terapi sel, dilaporkan bahwa daerah
infark telah mengecil dengan fraksi ejeksi, cardiac index, dan
volume sekuncup meningkat sebesar 20-30%.
(9)
Publikasi di atas
membuka suatu wawasan baru dan menstimulasi para peneliti
dan klinisi untuk mulai melakukan terapi sel punca pada pengo-
batan penyakit jantung infark.
Beberapa strategi yang akhir-akhir ini banyak dilaporkan dalam
terapi sel punca untuk terapi jantung regeneratif dijelaskan secara
singkat sebagai berikut:
1. Sel punca yang diisolasi secara langsung dengan aspirasi
sumsum tulang. Cara ini adalah cara yang paling awal di-
gunakan dalam perkembangan terapi sel punca pada infark
jantung. Hingga kini metode ini masih banyak digunakan
dengan pertimbangan bahwa dalam aspirat sumsum tulang
terdapat populasi sel punca tipe stroma atau yang dikenal
dengan tipe sel punca mesenkimal yang dapat berdiferen-
siasi lebih lanjut menjadi sel jantung.
(9,10,11)
Namun prosedur invasif ini kurang disukai dan kini beberapa
pusat kesehatan telah mengembangkan prosedur isolasi sel
punca dari darah perifer.
2. Sel punca yang diisolasi dengan alat apheresis dari darah
perifer
setelah
dimobilisasi
dengan
menggunakan
GCSF
(Granulocyte Colony Stimulating Factor).
(12,13)
Pada umumnya mobilisasi dilakukan dengan menggunakan
GCSF 5-15 ąg/ kgBB/ hari selama 5 hari.
(12,13)
Alat apheresis
dapat memisahkan sel berinti tunggal yang merupakan
populasi dengan kandungan sel punca di dalamnya.
Kekurangan
metode
mobilisasi
GCSF
adalah
adanya
kelompok
individu
yang
poorly mobilized, umumnya kelompok individu
dengan usia di atas 60 tahun.
(12,13,14)
Hal-hal lain yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan GCSF antara lain terdapatnya
keadaan hiperkoagulabilitas darah secara transien dan
kemungkinan
terjadinya
trombositopeni.
(14,15)
Prosedur ini
dapat dilakukan dengan atau tanpa seleksi populasi sel punca
tertentu, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa
seleksi sel CD34+ dan/atau CD133+ memberikan hasil yang
lebih baik daripada tanpa seleksi.
(16)
Molekul penanda
CD34/CD133 merupakan penanda sel punca yang dapat
berdiferensiasi
menjadi
sel
progenitor
endotelial
(endothelial
progenitor
cell)
yang terutama dibutuhkan dalam proses
regenerasi pembuluh darah yang baru.
(17,18)
3. Sel punca yang diisolasi dari darah perifer tanpa mobilisasi
disusul dengan proses kultur ex-vivo.
(19,20)
Keuntungan prosedur ini adalah tidak menggunakan GCSF
sehingga
selain
menekan
biaya
pengobatan
juga
meng-
hindari efek samping agen tersebut. Kultur ex-vivo dilakukan
untuk memperbanyak jumlah sel progenitor endotelial
sehingga siap membentuk pembuluh darah baru sesaat
disuntikkan
ke
daerah
infark.
(19,20)
Metode Transplantasi Sel Punca
Pada awalnya transplantasi sel punca dilakukan dengan cara
menginjeksi langsung sel punca secara epicardial pada bagian
jantung yang mengalami infark melalui operasi bedah toraks.
(21)
Keuntungan metode ini adalah daerah otot jantung yang
mengalami infark dapat dikonfirmasi dengan jelas berdasarkan
karakter penampilan dan kontraktilitas yang dapat dilihat langsung
secara visual. Namun, teknik ini terkadang tidak mungkin dilakukan,
terutama pada pasien dengan kondisi yang tidak dapat men-
toleransi pengaruh anestesi ataupun tindakan bedah itu sendiri.
Oleh karena itu mulai dipikirkan metode lain dengan meng-
gunakan kateter.
Dalam metode ini, diperlukan fluoroscopy atau alat pencitraan
lainnya (misalnya angiografi). Sel punca kemudian didistribusi-
kan menuju jaringan yang membutuhkan melalui kateter. Trans-
plantasi melalui kateter dapat dilakukan dengan injeksi langsung
PENDAHULUAN
Penyakit jantung iskemik hingga kini masih merupakan masalah
dalam dunia medis di seluruh dunia. Di negara-negara maju
revaskularisasi dapat lebih cepat dikerjakan dengan fasilitas yang
jauh lebih memadai dibandingkan dengan negara-negara ber-
kembang. Meskipun demikian, angka jumlah gagal jantung di
Amerika Serikat masih tetap tinggi yaitu sekitar 5 juta orang dan
setiap tahun terdapat sekitar 400.000 kasus gagal jantung baru,
dengan penyebab terbanyak adalah infark miokard.
(1)
Hal ini
menunjukkan terapi yang dilakukan masih memiliki banyak
keterbatasan dalam mencegah terjadinya remodeling ventrikel.
Semakin meningkatnya jumlah penduduk usia tua akan menye-
babkan penyakit infark miokard menjadi masalah yang penting
pada beberapa dekade mendatang. Keterbatasan terapi saat ini
telah membawa para peneliti dunia medis untuk menemukan
suatu metode untuk mengusahakan terjadinya regenerasi dan
perbaikan otot jantung yang telah mengalami kerusakan.
Penyakit infark jantung
Infark jantung ditandai dengan hilangnya sejumlah sel jantung
(cardiomyocytes) menyusul terjadinya penurunan mendadak perfusi
darah pada otot jantung.
(2)
Pada umumnya keadaan ini di-
sebabkan karena sumbatan plak atherosklerotik atau trombus
dalam pem buluh darah arteri koroner. Kematian sel jantung
akan men stimulasi dilepaskannya sitokin pro-inflammatory oleh
sel di sekitar jaringan yang rusak dan akan merekrut sel makro-
faga dan leukosit lainnya sehingga terjadi inflamasi lokal.
(2)
Dalam beberapa minggu menyusul terjadinya proses inflamasi,
sel fibroblast yang resisten terhadap iskemi akan menggantikan
sel jantung yang mati membentuk jaringan fibrosis yang ber-
akibat terjadinya penurunan fungsi jantung. Sebagai usaha untuk
mengkompensasi penurunan fungsi jantung, jaringan ventrikel
akan berubah yaitu mengalami hipertrofi dan perubahan matriks
sehingga terjadi proses remodeling (Gambar 1).
(2,3)
Gambar 1. Proses kerusakan sel pada infark miokard yang berakibat terjadinya
remodeling dan target dari perbaikan jaringan dengan menggunakan terapi sel
(3)
Sebetulnya, dalam individu hidup terdapat mekanisme mengatasi
kerusakan otot jantung melalui mitosis sel jantung sehat dan
migrasi sel punca yang berasal dari sumsum tulang menuju
jaringan yang rusak. Namun, seringkali sistem perbaikan jaringan ini
kurang optimal sehingga peranannya kurang dapat diandalkan.
Dalam satu dekade terakhir telah dikembangkan terapi sel untuk
membantu proses regenerasi sel jantung yang mengalami
infark.
(4)
Konsep terapi sel pada pengobatan jantung regeneratif
adalah bahwa sel dari bagian tubuh yang masih sehat, diisolasi
dan diimplantasikan ke bagian jantung yang rusak dengan tujuan
memperbaiki jaringan rusak tersebut.
(2)
Berdasarkan pengetahuan
mengenai biologi dan sifat sel punca, maka sel punca menjadi
salah satu kandidat yang banyak mendapat perhatian saat ini.
Sel Punca dan proses pengaturan migrasinya
Sel punca merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk
memperbaharui diri dan berdiferensiasi menjadi sel lain dengan
fungsi yang lebih spesifik. Pada keadaan normal, sel punca orang
dewasa banyak terdapat di dalam sumsum tulang dan secara
The Secrets of Stem Cell Therapy
for Myocardial Infarction
Caroline T. Sardjono, Frisca, Eric Prawiro, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra
Stem Cell Division, Stem Cell and Cancer Institute, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Terapi sel punca telah menarik banyak perhatian dunia medis dalam dekade terakhir ini. Keterbatasan terapi
konvensional untuk mencegah terjadinya proses remodeling setelah infark miokard membawa para klinisi dan
peneliti dunia untuk mengembangkan terapi sel punca untuk terapi jantung regeneratif. Pengetahuan dalam
mekanisme terjadinya homing sel punca serta kemampuannya dalam regenerasi sel jantung yang rusak sangat
diperlukan untuk dapat menentukan metode yang akan digunakan. Lebih lanjut lagi, berbagai kompleksitas
metode yang dapat digunakan dalam terapi sel punca meliputi metode pengambilan sel, proses lanjutan, dan cara
pemberiannya secara klinis, memerlukan kerjasama sinergis antara klinisi dan laboratorium pemrosesan sel.
Kata Kunci: Sel punca, infark miokard, terapi sel
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
179
TINJAUAN PUSTAKA
intramiokardial via transepicardial, transendocardial, dan trans-
coronary melalui pembuluh darah vena. Teknologi kateter yang
digunakan saat ini memungkinkan kateter berfungsi ganda yaitu
sebagai mapping catheters dan injection catheters. Prinsip kerja
mapping catheters yaitu dengan pembacaan tegangan elektro-
mekanik yang dilepaskan ke dalam endocardium oleh 2 elek-
troda di ujung kateter. Hasilnya memungkinkan kita untuk
mengetahui rekonstruksi daerah pemetaan otot jantung yang
infark secara 3 dimensi dan berwarna. Selain itu, dapat pula
untuk menentukan dengan pasti posisi ujung kateter dalam otot
jantung yang infark. Pada saat fungsi pemetaan sudah selesai,
sel punca dapat ditransplantasikan melalui injection catheters.
(21)
Rute lain yang dapat digunakan untuk transplantasi sel punca
yaitu melalui percutaneous intracoronary injection. Pemeriksaan
setelah transplantasi sel punca diperlukan untuk mengetahui
efektifitas / keberhasilan terapi tersebut. Dalam hal ini, pemerik-
saan histologis jaringan biopsi jantung dapat mendeteksi proses
regenerasi yang terjadi setelah transplantasi sel maupun status
diferensiasi sel yang ditransplantasikan. Namun kebanyakan
pasien tidak bersedia menjalani metode yang invasif ini. Oleh
karena itu, berbagai metode pencitraan (imaging) dikembangkan
untuk menggantikan biopsi. Melalui pencitraan jantung dapat
dinilai fungsi dan volume ventrikel, perfusi darah, serta metabo-
lisme otot jantung. Alat pencitraan jantung yang dapat
digunakan antara lain echocardiography, radiofluoroscopy,
cineangiography, Magnetic Resonance Imaging (MRI), Single
Photon Emission Computed Tomography (SPECT), Positron
Emission Tomography (PET), dan 3-Dimensional electromechani-
cal mapping and Navigation system (NOGA).
(21)
Pemilihan alat
tergantung dari banyak faktor, antara lain resolusi yang dibutuhkan,
keamanan pasien, waktu pemberian, kemudahan pengoperasian,
dan biaya.
PENDEKATAN LAIN dalam taraf ekperimental pada hewan
dan tahap awal uji klinik:
1. Transplantasi sel skeletal myoblast
Sel
skeletal myoblast dapat diisolasi dari jaringan otot lurik
tubuh untuk digunakan dalam terapi jantung regeneratif.
Pemilihan tipe sel ini berdasarkan sifatnya yang resisten
terhadap iskemi dan kemampuan regenerasi setelah terjadi
kerusakan.
(22)
Penelitian pada manusia saat ini masih dalam
proses
trial, yang sempat terhenti tahun 2007 karena tidak
didapatkan efikasi yang optimal.
(23)
Faktor utama yang
berperan dalam keterbatasan efikasinya adalah pada
kegagalan integrasi sistem konduksi antara sel yang baru
dengan
cardiomyocytes yang tersisa sehingga meningkatkan
risiko
aritmi.
(23)
Lebih lanjut, sel myoblast otot skelet tidak
memiliki kemampuan ekstravasasi ke daerah iskemi,
sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan obstruksi di
bagian distal pembuluh darah pada pemberian intra koroner.
(24)
2. Sel punca endogen pada jantung
Sel punca yang secara endogen terdapat pada jantung pertama
kali dikemukakan sebagai hasil pengamatan pada penderita
infark miokard akut yang mengalami peningkatan jumlah sel
cardiomyocyte imatur dengan kemampuan mitosis pada
bagian
infarct border zone.
(25)
Berdasarkan informasi
tersebut, saat ini berlangsung beberapa penelitian dengan 2
macam cara yaitu cara pertama adalah dengan mengkultur
secara
ex-vivo sel cardiomyocyte imatur tersebut; cara ke dua
adalah dengan menstimulasi sel progenitor cardiomyocyte
yang terdapat di dalam jantung untuk berproliferasi, bermigrasi,
dan berdiferensiasi pada daerah yang mengalami infark.
(25,26)
3. Penggunaan sel punca embrionik
Sel punca embrionik diperoleh dari isolasi inner cell mass dar
embrio stadium blastosit. Sel punca embrionik memiliki
plastisitas yang lebih tinggi dibandingkan sel punca dewasa
karena kemampuannya untuk membentuk sel/jaringan yang
berasal dari lapisan ektoderm, mesodermis, dan endodermis.
(27)
Kekhawatiran terbentuknya teratoma pada penggunaan
tipe sel punca embrionik dilaporkan dapat diatasi dengan
metode proses diferensiasi menjadi sel matur sebelum
transplantasi. Pada terapi infark miokard penggunaan sel
punca embrionik masih dalam taraf hewan coba, namun
pada terapi kerusakan saraf spinal sel punca embrionik telah
mencapai tahap uji klinik pada manusia.
(28)
Penutup
Terapi sel memiliki potensi sangat tinggi dalam terapi jantung
infark miokard. Beberapa metode telah dikembangkan dalam
terapi jantung regeneratif, termasuk berbagai metode dan
strategi pemilihan tipe sel (Gambar 2). Hingga kini masih belum
diketahui secara pasti tipe sel yang memberikan hasil terbaik
namun pemilihan metode perlu dilandasi pertimbangan ber-
bagai aspek termasuk keadaan pasien. Lebih lanjut, pemilihan
metode yang terbaik perlu disesuaikan dengan fasilitas yang ter-
sedia di masing-masing pusat kesehatan dan sarana laboratorium.
Hal ini hanya dapat dicapai melalui kerjasama erat antara klinisi
dan para laborat yang saling menunjang perkembangan terapi
sel khususnya dalam pengobatan penyakit infark jantung.
Gambar 2. Strategi untuk sukses dalam terapi sel pada pengobatan penyakit
infark jantung perlu mempertimbangkan berbagai aspek termasuk pemilihan
tipe sel, saat terapi, dan status pasien.
(29)
DAFTAR PUSTAKA:
Rincian daftar pustaka ada pada redaksi.