H A S I L P E N E L I T I A N
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
334
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
335
PENDAHULUAN
Benzodiazepin adalah hipnotik yang paling banyak diresepkan
untuk pasien insomnia karena dapat menyebabkan kantuk
dengan cara memperpendek masa laten permulaan tidur.
Lorazepam, salah satu golongan benzodiazepin, pada dosis
terapi secara umum menekan aktivitas fisik, menurunkan
respon terhadap rangsangan emosi, dan bersifat menenang-
kan, namun lorazepam mempengaruhi distribusi dan lamanya
Rapid Eye Movement Sleep (REMS) dan Slow Waves Sleep (SWS)
1
.
Hampir semua benzodiazepin meningkatkan latensi REMS dan
memperpendek lamanya REMS
2,3
. Efek samping obat golongan
benzodiazepin sangat bervariasi akibat depresi fungsi susunan
saraf pusat. Efek samping yang muncul berhubungan dengan
dosis, sehingga pemberian lorazepam pada pasien berobat jalan
harus hati-hati karena dosis yang relatif rendah dapat menye-
babkan kantuk, berkurangnya kemampuan dalam pengambilan
keputusan dan berkurangnya ketrampilan motorik, kadang-
kadang sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengemudi,
kinerja dalam pekerjaan, dan hubungan personal
4
.
Penelitian yang untuk mengetahui fungsi tidur REM menduga
otak yang aktif pada tidur REM berfungsi untuk konsolidasi
memori, sintesis informasi baru atau yang diadaptasikan, atau
penempatan informasi ke dalam suatu kerangka asosiasi internal.
Penelitian pada binatang memperlihatkan bahwa tidur REM
meningkat setelah pelatihan (learning) dan bahwa kehilangan
tidur REM setelah pelatihan mengakibatkan penurunan retensi
5
.
Tidur REM mungkin membantu konsolidasi learning
2
. Meski-
pun belum diketahui fungsinya dengan pasti, manusia jelas
membutuhkan tidur REM maupun SWS karena setelah dilaku-
kan deprivasi terhadap tidur REM maupun SWS, subjek akan
meningkatkan jumlah maupun lamanya tidur REM atau SWS
pada malam recovery
5
.
Kualitas tidur yang baik umumnya menunjukkan Sleep Onset
Latency (SOL) yang tidak terlalu panjang dan Number of Stage
Shift (NSS) yang tidak terlalu sering. Selain itu jumlah SWS harus
cukup khususnya pada dua sampai empat jam pertama
6
, sedang-
kan episode tidur REM diharapkan menjadi sangat dominan
pada sepertiga bagian terakhir malam
1
.
Obat-obatan yang menginduksi tidur, seperti benzodiazepin,
antihistamin, antidepresan, dan barbiturat dapat menimbulkan
kekantukan di hari berikutnya (kekantukan di siang hari). Kekan-
tukan di siang hari juga berhubungan dengan kualitas dan konti-
nuitas tidur malam sebelumnya
7
. Kekantukan di hari berikutnya
disebabkan oleh waktu paruh eliminasi obat yang panjang dan
menurunnya kualitas tidur akibat pengaruh obat-obatan terhadap
distribusi dan lamanya SWS dan REM. Survai di beberapa negara
seperti Perancis, Inggris, Jerman, dan Itali menunjukkan 20%
subyek mengalami kekantukan di siang hari.
Kewaspadaan berasal dari kemampuan otak untuk memper-
tahankan keadaan jaga dan konsentrasi, sedangkan kekantukan
dihasilkan oleh kegagalan mempertahankan kewaspadaan di
siang hari
8
. Kapasitas okupasional dan kualitas hidup domestik
jelas berkurang pada orang yang merasa mengantuk dibanding
dengan yang kewaspadaannya baik
9
. Kekantukan siang hari
yang patologis juga dapat membahayakan kehidupan pasien
(misal saat mengendarai mobil), sehingga sangat penting untuk
mengembangkan pengertian tentang penyebab yang mendasari
kekantukan siang hari
10
.
Dengan makin meningkatnya keluhan insomnia (di Amerika
meningkat dari 27% menjadi 30%)
11,12
diperlukan obat alter-
natif di samping obat yang sudah ada. Selain itu akibat yang dapat
ditimbulkan baik oleh insomnia maupun oleh obat untuk mengatasi
insomnia juga merupakan alasan dibutuhkannya obat alternatif.
Obat alternatif diharapkan dapat meningkatkan kualitas tidur,
dengan efek samping minimal dan mudah didapat oleh masyarakat.
Obat alternatif yang masih banyak dimanfaatkan oleh penduduk
Indonesia adalah obat asli Indonesia yang berasal dari tumbuhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Coriandri
fructus (ketumbar) sebagai obat tidur, dengan melihat efeknya
terhadap distribusi tidur REM selama tidur malam hari.
BAHAN DAN CARA
Bahan yang diuji adalah Coriandri fructus (ketumbar) dikering-
kan menggunakan oven, selanjutnya dibuat serbuk. Kemudian
ditimbang sebanyak 3 gram dan dimasukkan ke dalam kapsul.
Obat pembanding menggunakan Lorazepam (2 mg).
Dalam penelitian ini digunakan peralatan : 1 set DG Discovery
dari Medelec beserta kelengkapannya. DG Discovery adalah
alat perekam gelombang listrik tubuh manusia, khususnya
gelombang otak. Dalam penelitian ini yang direkam hanya tiga
macam gelombang, yaitu Electroencephalogram (EEG) seban-
yak satu pasang (dua channel), Electro-oculogram (EOG) seban-
yak satu pasang (dua channel), dan Electromyogram (EMG)
sebanyak sepasang (dua channel). Hasil rekaman disimpan
dalam optical disc.
Cara Kerja
Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah single
subject research atau rancangan sama subjek (McGuigan,
1990) pada 11 orang subjek. Penelitian ini membandingkan
antara Coriandri fructus, Lorazepam dan kontrol. Data yang
terkumpul disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang
nantinya dibahas secara kuantitatif.
Pengukuran Parameter Penelitian
1) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam pertama tidur.
2) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam kedua tidur.
3) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam terakhir tidur;
Metode Penarikan Sampel
Pada penelitian ini subyek dipilih menggunakan teknik purposive
sampling (Shaughnessy & Zechmeister, 1994), berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
Kriteria inklusi subyek yaitu pria sehat, umur 20-25 tahun,
bebas obat termasuk obat yang diresepkan oleh dokter, mem-
punyai kebiasaan tidur paling sedikit 7 jam sehari, mulai sekitar
jam 21.00-22.00.
Kriteria eksklusi adalah penyakit fisik, merokok, penyakit alergi
misalnya rhinitis alergika, dermatitis, dan asma, sering terbangun
di malam hari, memiliki kebiasaan tidur siang, dan peminum alkohol.
Subyek yang memenuhi syarat dan bersedia terlibat sebagai
subjek penelitian diminta mengisi Lembar Persetujuan Uji Klinik.
Besar sampel diketahui berdasarkan rumus
13
:
n = 3* (Z
+ Z
)
2
* SD
2
/
2
Jumlah subyek yang diperlukan untuk mendeteksi perbedaan
yang bermakna secara klinis sebesar 20 % antar perlakuan,
dengan tingkat kebermaknaan (
) 0,05, dan tingkat kepastian
(1-
) 80%, simpangan baku untuk setiap observasi 15%, adalah
sebanyak 11 orang.
Prosedur Pengumpulan Data
Data diperoleh dari hasil perekaman gelombang aktivitas otak
dan otot, serta gerakan bola mata melalui polisomnografi sepan-
jang malam pada 33 kali tidur masing-masing selama 7,5 jam oleh
11 orang subyek. Setiap subjek tidur tiga kali yang disebabkan oleh
tiga obat yang berbeda, tidur pertama disebabkan Lorazepam,
tidur ke dua oleh plasebo, dan tidur ke tiga oleh Coriandri fructus.
Periode wash out setelah meminum Lorazepam adalah empat
sampai lima hari.
Persiapan Subjek
Subyek harus melakukan beberapa persiapan sebelum peneli-
tian tidur dilakukan, sesuai petunjuk. Petunjuk dimaksudkan
agar ada kesamaan pada setiap kali tidur guna mengurangi
bias. Persiapan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu tiga hari
sebelum penelitian dan pada hari dilakukannya penelitian.
Metode Analisis
Metode analisis data menggunakan one-way of variance.
Perbandingan antara Coriandri fructus dengan plasebo dan
lorazepam dianalisis menggunakan metode Tukey dengan asumsi
data memiliki distribusi normal dan memiliki variasi yang sama.
Seluruh perhitungan statistik dalam penelitian ini menggunakan
program Statistical Program for Social Science 10.0.1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil pemeriksaan fisik seluruh subyek dinyatakan sehat.
Data hasil pemeriksaan laboratorium darah subyek yang
diperoleh sebelum penelitian tidur malam menunjukkan bahwa
seluruh subjek mempunyai fungsi hati dan ginjal, serta jumlah
sel darah dan trombosit yang normal.
Tiga hari sebelum subyek menjalani polisomnografi sepanjang
malam, ia diharapkan tidur dan bangun pada waktu yang sama.
Catatan harian tidur dan jaga tiga hari menjelang penelitian tidur
malam menunjukkan rata-rata lamanya tidur yang hampir sama.
Dari kesebelas orang sampel tidak terdapat perbedaan yang
bermakna antara lama tidur, sehingga dapat dianggap variasi
pada polisomnografi sepanjang malam masing-masing sampel
bukan karena pengaruh dari lama tidur sampel tiga hari sebelumnya.
Tiga Parameter Distribusi REMS per 2,5 Jam Tidur.
Grafik 1 Tabel 1, dan Grafik 2 memperlihatkan tiga parameter
distribusi REMS per 2,5 jam tidur. Walaupun diharapkan REMS
dominan pada 2,5 jam terakhir tidur, namun agar gambaran ke-
seluruhan efek Coriandri fructus dibandingkan dengan lorazepam
terhadap distribusi REMS terlihat dengan jelas maka REMS pada
2,5 jam pertama tidur dan pada 2,5 jam kedua tidur juga ditampilkan.
Lorazepam terutama menekan REM pada 2,5 jam pertama
tidur dan pada 2,5 jam terakhir tidur (Grafik 1 dan 2). Rata-rata
REMS pada 2,5 jam pertama tidur selama Overnight Polysom-
nography pada subyek yang tidur diinduksi plasebo adalah
7,9±7,596 menit. Sedangkan pada subjek yang tidur diinduksi
lorazepam adalah 1,7 ± 3,068 menit dan pada subjek yang tidur
diinduksi Coriandri fructus adalah 7,9 ± 8,035 menit. Hasil ANOVA
untuk REMS pada 2,5 jam pertama tidur p=0,055. (Grafik 1)
Efek terhadap
Distribusi
(REM)
dibandingkan dengan Lorazepam
Lili Indrawati
Dosen Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta
Rapid Eye Movement
Coriandri fructus
H A S I L P E N E L I T I A N
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
334
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
335
PENDAHULUAN
Benzodiazepin adalah hipnotik yang paling banyak diresepkan
untuk pasien insomnia karena dapat menyebabkan kantuk
dengan cara memperpendek masa laten permulaan tidur.
Lorazepam, salah satu golongan benzodiazepin, pada dosis
terapi secara umum menekan aktivitas fisik, menurunkan
respon terhadap rangsangan emosi, dan bersifat menenang-
kan, namun lorazepam mempengaruhi distribusi dan lamanya
Rapid Eye Movement Sleep (REMS) dan Slow Waves Sleep (SWS)
1
.
Hampir semua benzodiazepin meningkatkan latensi REMS dan
memperpendek lamanya REMS
2,3
. Efek samping obat golongan
benzodiazepin sangat bervariasi akibat depresi fungsi susunan
saraf pusat. Efek samping yang muncul berhubungan dengan
dosis, sehingga pemberian lorazepam pada pasien berobat jalan
harus hati-hati karena dosis yang relatif rendah dapat menye-
babkan kantuk, berkurangnya kemampuan dalam pengambilan
keputusan dan berkurangnya ketrampilan motorik, kadang-
kadang sangat berpengaruh terhadap kemampuan mengemudi,
kinerja dalam pekerjaan, dan hubungan personal
4
.
Penelitian yang untuk mengetahui fungsi tidur REM menduga
otak yang aktif pada tidur REM berfungsi untuk konsolidasi
memori, sintesis informasi baru atau yang diadaptasikan, atau
penempatan informasi ke dalam suatu kerangka asosiasi internal.
Penelitian pada binatang memperlihatkan bahwa tidur REM
meningkat setelah pelatihan (learning) dan bahwa kehilangan
tidur REM setelah pelatihan mengakibatkan penurunan retensi
5
.
Tidur REM mungkin membantu konsolidasi learning
2
. Meski-
pun belum diketahui fungsinya dengan pasti, manusia jelas
membutuhkan tidur REM maupun SWS karena setelah dilaku-
kan deprivasi terhadap tidur REM maupun SWS, subjek akan
meningkatkan jumlah maupun lamanya tidur REM atau SWS
pada malam recovery
5
.
Kualitas tidur yang baik umumnya menunjukkan Sleep Onset
Latency (SOL) yang tidak terlalu panjang dan Number of Stage
Shift (NSS) yang tidak terlalu sering. Selain itu jumlah SWS harus
cukup khususnya pada dua sampai empat jam pertama
6
, sedang-
kan episode tidur REM diharapkan menjadi sangat dominan
pada sepertiga bagian terakhir malam
1
.
Obat-obatan yang menginduksi tidur, seperti benzodiazepin,
antihistamin, antidepresan, dan barbiturat dapat menimbulkan
kekantukan di hari berikutnya (kekantukan di siang hari). Kekan-
tukan di siang hari juga berhubungan dengan kualitas dan konti-
nuitas tidur malam sebelumnya
7
. Kekantukan di hari berikutnya
disebabkan oleh waktu paruh eliminasi obat yang panjang dan
menurunnya kualitas tidur akibat pengaruh obat-obatan terhadap
distribusi dan lamanya SWS dan REM. Survai di beberapa negara
seperti Perancis, Inggris, Jerman, dan Itali menunjukkan 20%
subyek mengalami kekantukan di siang hari.
Kewaspadaan berasal dari kemampuan otak untuk memper-
tahankan keadaan jaga dan konsentrasi, sedangkan kekantukan
dihasilkan oleh kegagalan mempertahankan kewaspadaan di
siang hari
8
. Kapasitas okupasional dan kualitas hidup domestik
jelas berkurang pada orang yang merasa mengantuk dibanding
dengan yang kewaspadaannya baik
9
. Kekantukan siang hari
yang patologis juga dapat membahayakan kehidupan pasien
(misal saat mengendarai mobil), sehingga sangat penting untuk
mengembangkan pengertian tentang penyebab yang mendasari
kekantukan siang hari
10
.
Dengan makin meningkatnya keluhan insomnia (di Amerika
meningkat dari 27% menjadi 30%)
11,12
diperlukan obat alter-
natif di samping obat yang sudah ada. Selain itu akibat yang dapat
ditimbulkan baik oleh insomnia maupun oleh obat untuk mengatasi
insomnia juga merupakan alasan dibutuhkannya obat alternatif.
Obat alternatif diharapkan dapat meningkatkan kualitas tidur,
dengan efek samping minimal dan mudah didapat oleh masyarakat.
Obat alternatif yang masih banyak dimanfaatkan oleh penduduk
Indonesia adalah obat asli Indonesia yang berasal dari tumbuhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat Coriandri
fructus (ketumbar) sebagai obat tidur, dengan melihat efeknya
terhadap distribusi tidur REM selama tidur malam hari.
BAHAN DAN CARA
Bahan yang diuji adalah Coriandri fructus (ketumbar) dikering-
kan menggunakan oven, selanjutnya dibuat serbuk. Kemudian
ditimbang sebanyak 3 gram dan dimasukkan ke dalam kapsul.
Obat pembanding menggunakan Lorazepam (2 mg).
Dalam penelitian ini digunakan peralatan : 1 set DG Discovery
dari Medelec beserta kelengkapannya. DG Discovery adalah
alat perekam gelombang listrik tubuh manusia, khususnya
gelombang otak. Dalam penelitian ini yang direkam hanya tiga
macam gelombang, yaitu Electroencephalogram (EEG) seban-
yak satu pasang (dua channel), Electro-oculogram (EOG) seban-
yak satu pasang (dua channel), dan Electromyogram (EMG)
sebanyak sepasang (dua channel). Hasil rekaman disimpan
dalam optical disc.
Cara Kerja
Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah single
subject research atau rancangan sama subjek (McGuigan,
1990) pada 11 orang subjek. Penelitian ini membandingkan
antara Coriandri fructus, Lorazepam dan kontrol. Data yang
terkumpul disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang
nantinya dibahas secara kuantitatif.
Pengukuran Parameter Penelitian
1) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam pertama tidur.
2) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam kedua tidur.
3) Jumlah (dalam menit) episode REMS pada 2,5 jam terakhir tidur;
Metode Penarikan Sampel
Pada penelitian ini subyek dipilih menggunakan teknik purposive
sampling (Shaughnessy & Zechmeister, 1994), berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
Kriteria inklusi subyek yaitu pria sehat, umur 20-25 tahun,
bebas obat termasuk obat yang diresepkan oleh dokter, mem-
punyai kebiasaan tidur paling sedikit 7 jam sehari, mulai sekitar
jam 21.00-22.00.
Kriteria eksklusi adalah penyakit fisik, merokok, penyakit alergi
misalnya rhinitis alergika, dermatitis, dan asma, sering terbangun
di malam hari, memiliki kebiasaan tidur siang, dan peminum alkohol.
Subyek yang memenuhi syarat dan bersedia terlibat sebagai
subjek penelitian diminta mengisi Lembar Persetujuan Uji Klinik.
Besar sampel diketahui berdasarkan rumus
13
:
n = 3* (Z
+ Z
)
2
* SD
2
/
2
Jumlah subyek yang diperlukan untuk mendeteksi perbedaan
yang bermakna secara klinis sebesar 20 % antar perlakuan,
dengan tingkat kebermaknaan (
) 0,05, dan tingkat kepastian
(1-
) 80%, simpangan baku untuk setiap observasi 15%, adalah
sebanyak 11 orang.
Prosedur Pengumpulan Data
Data diperoleh dari hasil perekaman gelombang aktivitas otak
dan otot, serta gerakan bola mata melalui polisomnografi sepan-
jang malam pada 33 kali tidur masing-masing selama 7,5 jam oleh
11 orang subyek. Setiap subjek tidur tiga kali yang disebabkan oleh
tiga obat yang berbeda, tidur pertama disebabkan Lorazepam,
tidur ke dua oleh plasebo, dan tidur ke tiga oleh Coriandri fructus.
Periode wash out setelah meminum Lorazepam adalah empat
sampai lima hari.
Persiapan Subjek
Subyek harus melakukan beberapa persiapan sebelum peneli-
tian tidur dilakukan, sesuai petunjuk. Petunjuk dimaksudkan
agar ada kesamaan pada setiap kali tidur guna mengurangi
bias. Persiapan tersebut dibagi menjadi dua, yaitu tiga hari
sebelum penelitian dan pada hari dilakukannya penelitian.
Metode Analisis
Metode analisis data menggunakan one-way of variance.
Perbandingan antara Coriandri fructus dengan plasebo dan
lorazepam dianalisis menggunakan metode Tukey dengan asumsi
data memiliki distribusi normal dan memiliki variasi yang sama.
Seluruh perhitungan statistik dalam penelitian ini menggunakan
program Statistical Program for Social Science 10.0.1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil pemeriksaan fisik seluruh subyek dinyatakan sehat.
Data hasil pemeriksaan laboratorium darah subyek yang
diperoleh sebelum penelitian tidur malam menunjukkan bahwa
seluruh subjek mempunyai fungsi hati dan ginjal, serta jumlah
sel darah dan trombosit yang normal.
Tiga hari sebelum subyek menjalani polisomnografi sepanjang
malam, ia diharapkan tidur dan bangun pada waktu yang sama.
Catatan harian tidur dan jaga tiga hari menjelang penelitian tidur
malam menunjukkan rata-rata lamanya tidur yang hampir sama.
Dari kesebelas orang sampel tidak terdapat perbedaan yang
bermakna antara lama tidur, sehingga dapat dianggap variasi
pada polisomnografi sepanjang malam masing-masing sampel
bukan karena pengaruh dari lama tidur sampel tiga hari sebelumnya.
Tiga Parameter Distribusi REMS per 2,5 Jam Tidur.
Grafik 1 Tabel 1, dan Grafik 2 memperlihatkan tiga parameter
distribusi REMS per 2,5 jam tidur. Walaupun diharapkan REMS
dominan pada 2,5 jam terakhir tidur, namun agar gambaran ke-
seluruhan efek Coriandri fructus dibandingkan dengan lorazepam
terhadap distribusi REMS terlihat dengan jelas maka REMS pada
2,5 jam pertama tidur dan pada 2,5 jam kedua tidur juga ditampilkan.
Lorazepam terutama menekan REM pada 2,5 jam pertama
tidur dan pada 2,5 jam terakhir tidur (Grafik 1 dan 2). Rata-rata
REMS pada 2,5 jam pertama tidur selama Overnight Polysom-
nography pada subyek yang tidur diinduksi plasebo adalah
7,9±7,596 menit. Sedangkan pada subjek yang tidur diinduksi
lorazepam adalah 1,7 ± 3,068 menit dan pada subjek yang tidur
diinduksi Coriandri fructus adalah 7,9 ± 8,035 menit. Hasil ANOVA
untuk REMS pada 2,5 jam pertama tidur p=0,055. (Grafik 1)
Efek terhadap
Distribusi
(REM)
dibandingkan dengan Lorazepam
Lili Indrawati
Dosen Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta
Rapid Eye Movement
Coriandri fructus
H A S I L P E N E L I T I A N
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
336
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
337
Rata-rata REMS pada 2,5 jam terakhir tidur selama Overnight
Polysomnography pada subyek yang tidur diinduksi plasebo
adalah 39,6±25,59 menit. Sedangkan rata-rata REMS pada 2,5
jam terakhir tidur selama Overnight Polysomnography pada subyek
yang tidur diinduksi lorazepam adalah 34 ± 20,69 menit dan pada
subjek yang tidur diinduksi Coriandri fructus 38,7 ± 20,38 menit.
Hasil ANOVA untuk REMS pada 2,5 jam terakhir tidur p=0,823.
Grafik 2. REMS pada 2,5 jam terakhir tidur selama Overnight Polysomnography
pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus.
Tabel 1. REMS pada 2,5 jam kedua tidur selama Overnight Polysomnography
pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus.
Hasil ANOVA untuk REMS pada 2,5 jam kedua tidur p = 0,55
Grafik 1. REMS pada 2,5 jam pertama tidur selama Overnight Polysomnogra-
phy pada subyek yang tidur diinduksi lorazepam, plasebo, dan Coriandri fructus.
PENDAHULUAN
Istilah Neurogenic Bladder tidak mengacu pada suatu diagnosis
spesifik ataupun menunjukkan etiologinya ; melainkan lebih me-
nunjukkan suatu gangguan fungsi urologi akibat kelainan neurologik.
Banyak penyebab dapat mendasari timbulnya Neurogenic Bladder
sehingga mutlak dilakukan pemeriksaan yang teliti sebelum
diagnosis ditegakkan. Penyebab tersering adalah gangguan medula
spinalis; trauma merupakan penyebab akut serta memberikan
manifestasi klasik. Dalam kesempatan ini dibahas Neurogenic
Bladder akibat cedera spinal.
EPIDEMOLOGI
Salah satu penelitian pertama prevalensi Neurogenic Bladder di
Asia adalah sebuah survai oleh APCAB (Asia Pacific Continence
Advisory Board) pada tahun 1998 yang mencakup 7875 laki-laki
dan perempuan (sekitar 70% perempuan) dari 11 negara (termasuk
499 dari Indonesia) ; didapatkan bahwa prevalensi Neurogenic
Bladder secara umum pada orang Asia adalah sekitar 50,6%.
ANATOMI
1. Kandung Kemih
Kandung kemih dibentuk oleh anyaman serat otot polos. Lapisan
paling dalam terdiri dari serat-serat yang berjalan longitudinal,
lapisan tengah serat-serat sirkuler, sedangkan lapisan paling
luar oleh serat-serat longitudinal kembali.
2. Bladder Neck
Otot detrusor melanjutkan perjalanannya ke arah uretra mem-
bentuk suatu "pipa" yang disebut bladder neck.
3. Sfingter uretra
Sfringter uretra dibentuk oleh serat-serat otot lurik. Peranannya
ialah untuk menahan miksi untuk sementara waktu atau segera
menghentikan proses miksi bila dikehendaki
4. Trigonum
Daerah ini merupakan kelanjutan otot ureter dan tak mempunyai
peranan dalam proses miksi. Fungsinya adalah memperlancar
arus urin dari ureter ke arah kandung kemih.
5. Hubungan ureter-vesika
Struktur ini merupakan katup yang membuka saat pengisian
kandung kemih dan menutup saat kontraksi otot detrusor.
PERSARAFAN MOTORIK
Terdapat 3 macam persarafan motorik katup yang mengatur otot-
otot kandung kemih yaitu detrusor, sfingter uretra dan trigonum.
PERSARAFAN SENSORIK
Serabut-serabut sensorik mengikuti serabut-serabut motorik dalam
perjalanannya menuju ke medula spinalis setinggi sakral 2-3-4
(somatik dan parasimpatik) dan torakal 11- lumbal 2 (simpatik).
Sensorik kandung kemih terdiri dari dua jenis : eksteroseptif
mukosa dan proprioseptif otot detrusor (stretch receptor)
FISIOLOGI MIKSI
Kandung kemih adalah organ penampung urin; di samping itu
berfungsi pula mengatur pengeluarannya. Proses miksi dimulai
oleh tekanan intramural otot detrusor. Tekanan ini dahulu dianggap
semata-mata akibat persarafan; akan tetapi bukti-bukti menun-
jukkan bahwa tekanan intramural otot detrusor lebih ditentukan
oleh keadaan fisik kandung kemih (berisi penuh atau tidak). Jika
kandung kemih terisi, karena sifatnya ia mampu mengembang;
sementara itu tekanan intravesika tetap, sehingga sesuai dengan
hukum Laplace, tekanan intramural otot detrusor akan meningkat.
Peningkatan ini sampai titik tertentu akan merangsang stretch
receptor. Timbullah impuls ke arah pusat refleks miksi di medula
spinalis S 2-3-4. Dalam keadaan normal impuls tidak akan
segera terjawab. Impuls diteruskan ke pusat-pusat yang lebih tinggi,
yakni inti-inti dalam talamus yang bertindak sebagai relay untuk
girus sentral-belakang, tempat keinginan untuk miksi disadari.
Selain ke arah kortikal, impuls juga dikirim ke daerah-daerah lain
yang berkaitan, seperti ganglia basal, serebelum, pons serta
hipotalamus. Daerah-daerah ini masing-masing mempengaruhi
pusat refleks miksi, baik bersifat inhibisi maupun aktivasi. Berarti
proses miski belum terlaksana bila belum ada perintah dari pusat-
pusat lebih tinggi tersebut. Walaupun refleks miksi terutama diatur
oleh susunan saraf otonom, miksi adalah proses yang dapat
ditunda atau dihentikan mendadak, dapat diatur oleh kemauan.
Jika pusat-pusat mengijinkan miksi terlaksana maka impuls aktivasi
akan disalurkan secara desenden melalui berkas-berkas parasim-
patik splanknikus. Miksi dimulai oleh kontraksi detrusor, diikuti
oleh pembukaan bladder neck dan relaksasi sfingter uretra.
Diketahui pula bahwa kontraksi otot detrusor secara reflektoris
mengakibatkan inhibisi impuls tonik ke arah sfingter uretra sehingga
sfingter uretra menjadi kendur. Sebaliknya, kontraksi tonik sfingter
uretra secara reflektoris akan menghambat kontraksi otot detrusor.
Di samping itu kontraksi otot detrusor akan menambah rangsangan
terhadap stretch receptor sehingga menambah kekuatan kontraksi
otot detrusor, Jadi, suatu proses miksi normal secara keseluruhan
berlangsung sekunder terhadap kontraksi otot detrusor.
Secara kuantitatif Lorazepam lebih menekan REM pada 2,5
jam pertama tidur dan pada 2,5 jam terakhir tidur, dibanding-
kan kontrol maupun Coriandri fructus (Grafik 1 dan 2). Hal ini
merupakan efek tidak baik lorazepam terhadap distribusi
REMS, karena tidur REM biasanya terdistribusi pada sepertiga
akhir malam (Coble et al., 1974). Namun demikian tidak ada
perbedaan bermakna antara ketiga kelompok pada penguku-
ran parameter yang berhubungan dengan REMS.
SIMPULAN
Lorazepam berpengaruh buruk pada distribusi REMS. Distribusi
REMS pada tidur yang diinduksi Coriandri fructus tidak terlihat
berbeda dibandingkan kontrol. Dengan demikian tidur yang
diinduksi lorazepam lebih rendah kualitasnya bila dibandingkan
dengan kontrol dan tidur yang diiduksi Coriandri fructus.
DAFTAR PUSTAKA
Carskadon MA, Dement W.C. Normal Human Sleep: An Overview. Dalam:
Principles and Practice of Sleep Medicine. Kryger MH, Roth T, Dement
WC. (eds), 2
nd
ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994.
Hobbs WR, Rall TW, Verdoorn TA. Hypnotics and Sedatives: Ethanol.
Dalam: Goodman & Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics.
Hardman JG, Gilman GA, Limbird LE. (eds). 9
th
ed. McGraw-Hill. 1996.
Nishino S, Mignot E, Dement WC. Sedative-Hypnotics. Dalam Textbook of
Psychopharmacology. Schatzberg AF, Nemeroff CB. (eds). 2
nd
ed. The
American Psychiatric Press, Inc. Washington DC, London, England. 1998.
Trevor JA, Way WL. Sedative-Hypnotic Drugs. Dalam: Basic & Clinical
Pharmacology. Katzung BG (ed.) 7
th
ed. Appleton & Lange, Stamford,
Connecticutt. 1998.
Bonnet MH. Sleep Deprivation. Dalam: Principles and Practice of Sleep
Medicine. Kryger MH, Roth T, Dement WC. (eds). 2
nd
ed. Philadelphia: WB.
Saunders Co. 1994.
Gaillard JM. Benzodiazepines and GABA-ergic Transmission. Dalam:
Principles and Practice of Sleep Medicine Kryger MH, Roth T, Dement WC
(eds). 2
nd
ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994.
Roth T, Roehrs TA, Carskadon MA, Dement W.C. Daytime Sleepiness and
Alertness. Dalam: Principles and Practice of Sleep Medicine. Kryger MH,
Roth T, Dement WC. (eds), 2
nd
ed. Philadelphia: WB. Saunders Co. 1994.
Kotagal S, Pianosi P. Sleep disorders in children and adolescents. BMJ
2006;332:828-832 .
Homann CN, Wenzel K, Suppan K, Ivanic G, Kriechbaum N, Crevenna R,
Ott E. Sleep attack in patients taking dopamine agonists: review. BMJ
2002;324: 1483-7.
Wegelin J, McNamara P, Durso R, Brown A, McLaren D. Correlates of
excessive daytime sleepiness in Parkinson's disease. Parkinsonism and
Related Disorder 2005; 11: 441-448.
Mendelson W. Pharmacology and Clinical Use of Sedative Drugs for
Insomnia. Paper presented at General Pharmacology and Therapeutics
in Sleep. 9
th
Annual APPS Meeting. Nashville, Tennessee. 1995.
Lamberg L. World Health Organization targets Insomnia. JAMA 1997; 278
(20): 1652.
Pope JE, Bellamy N. Sample Size Calculation in Scleroderma: A
Rational Approach to Choosing Outcome Measurements in Scleroderma
Trials. Clinical and Investigation Medicine 1995;18(1): 1-10.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Penatalaksanaan
Rehabilitasi
Syarief Hasan Lutfie
Rumah Sakit Amanda, Bekasi, Jawa Barat
Neurogenic Bladder
Sampel
Perlakuan
Lorazepam Kontrol Coriandri fructus
A
32.5
35.5
47.5
B
25.5
14.5
14.5
C
46.5
56.5
13.5
D
10
23
8
E
17
45.5
20.5
F
35.5
22
35
G
8
25
20
H
14
0
6.5
I
48.5
37
20
J
69
27.5
3.5
K
17
12.5
49
Rata-rata 29.41
27.18 21.64
Standar deviasi
19.15
15.89
15.70